Ternyata tanggapan untuk The Days ini gak terlalu buruk. Jadi, Misa update sekarang aja ya? Thanks banget buat yang udah review di chapter 1 : Chibimillo, Nagisa Popsicle, dan Ratnalaurentina. Makasiiiihh banget.

Jadi, karena saya baik hati, tidak sombong, rajin menabung, dan suka menjaga adik *digampar rame-rame*, saya akan melanjutakn fanfic ini. Semoga sesuai dengan harapan readers semuanya. :)

Disclaimer : FMA punya pemilik sapi sebelah *plak* yang bernama Arakawa-sensei. Roy Mustang tetap suami saya. *digoreng kremes*

enjoy your salep!


The Days Chapter 2

Keesokan paginya, keadaan semakin runyam.

Kantor Kolonel Roy Mustang kehilangan separuh personilnya. Havoc tidak muncul, begitu juga dengan Roy. Riza yang biasanya rajin, hari ini bahkan tidak kelihatan selembar rambut pun.

Breda, Fuery, dan Falman hanya bisa menanggapi kejadian ini dengan satu kesimpulan : Tim solid mereka akan hancur sebentar lagi.

Fuery terlihat memperbaiki sebuah radio tahun 1845an sambil sesekali menandatangani paperwork yang tertumpuk rapi di pojok mejanya. Falman membaca paperwork bagiannya dengan teliti, kali ini ia menambah pekerjaannya dengan mengerjakan paperwork milik Riza. Breda masih sibuk menginvestigasi kasus yang seharusnya menjadi urusan si Kolonel Mustang.

Tok tok.

"Masuk."

Edward dan Alphonse Elric memasuki ruang kantor menyedihkan itu.

"Selamat pagi, semuanya." Sapa Ed pelan.

Sapaan Ed dibalas langsung oleh Fuery, Falman, dan Breda.

"Ed, Kolonel mana?" Tanya Fuery dari balik radio.

Ed menjatuhkan dirinya di atas meja Roy, "Dia sedang kacau. Aku bahkan tidak tahu harus berkata apa. Ia menghabiskan 7 botol vodka semalam."

"Apa!" Falman berpaling dari paperworknya, "tujuh botol? Kolonel benar-benar minum sebanyak itu?"

"Ya Officer Falman, Kolonel minum sebanyak itu." Jawab Al.

Hening sejenak. Tidak ada yang dapat menyuarakan pendapatnya.

Breda memijit pelipisnya, "Aku tidak percaya Havoc berani melakukan perbuatan itu pada Kolonel."

"Ini masalah hati, apapun bisa terjadi." Balas Ed sarkastik.

"Yang aku tidak pahami ada Letnan Hawkeye." Ujar Al.

Semuanya menghadap ke Al.

"Apa maksudmu, Al?" Tanya Ed.

"Well, kita semua tahu kan kalau Kolonel mencintai Letnan Hawkeye. Begitu juga sebaliknya," Al menarik nafas, "kalau memang begitu adanya, kenapa Letnan Hawkeye mau berkencan dengan Letnan Havoc?"

"Walaupun sebetulnya, aku tidak bisa bilang kejadian kemarin sebagai berkencan." Sambung Al lagi, "kita kan melihat mereka bersama dalam satu mobil. Itu kan tidak selalu berarti kencan, kan?"

Seisi ruang kantor langsung hening. Memikirkan ucapan Alphonse barusan.

He's got the point.

"Hmm, aku tidak begitu mengerti. Bisa tolong jelaskan apa yang terjadi sebenarnya?" Fuery berdiri dari mejanya dan mendekati Al.

"Ehem," Breda berdeham, "kemarin Kolonel menangkap basah Letnan Hawkeye sedang bersama Havoc. Kolonel cemburu, ia kesal, dan... Yah, kau tahu selanjutnya."

Breda menghela nafas, "Untuk saat itu sarung tangan ignition-nya sedang basah karena hujan. Kalau tidak, aku yakin sekarang Havoc sudah di rumah sakit dengan luka bakar parah."

Mulut Fuery membulat membentuk 'O'.

"Seperti yang anda lihat, Sersan Fuery, para artis kita tidak hadir hari ini." Ed mengucapkan kata penutup.

"Pantas saja Kolonel sampai minum tujuh botol." Fuery menggaruk tengkuknya.

Falman melipat tangan di dada, "Kolonel terlihat lebih syok dari saat kematian mendiang Brigjen Hughes. Saat itu ia tidak minum sebanyak ini."

"Kau lupa saat itu Letnan Hawkeye menempelkan rifle di pelipis Kolonel jika beliau berani minum lebih dari sebotol." Jawab Breda.

"Dan sekarang tidak ada Sang Letnan beserta rifle atau baretta atau tokalev atau apapun itu namanya." Ed berdiri dari meja Mustang.

"Ehm, aku akan ke rumah Letnan Hawkeye hari ini. Aku sudah janji akan mengantarkan kertas-kertas ini ke apartemennya setelah jam kantor nanti." Fuery menempelkan jari di dagunya.

Al memegang kedua pundak Fuery, "Sersan! Bisakah aku, eh, kami minta tolong?" Fuery mengangguk, "tolong tanyakan apa yang terjadi antara dirinya, Kolonel, dan Letnan Havoc."

Fuery mengedip dua kali. Ia mengangguk lagi, "Baiklah, Al."

"Kalau begitu, aku juga akan menemui Havoc." Ucap Breda.

"Baiklah, tolong ya, semuanya!" Seru Ed semangat.

Sore datang dengan cepat. Jam telah menunjukkan pukul 17.00, waktunya pulang. Sesuai janjinya pada Roy, Ed stand by di HQ untuk membantu menyelesaikan setumpuk paperwork. Alphonse juga membantu dengan mendistribusi dan mengambil paperwork yang sedang dikerjakan.

Fuery membereskan beberapa lusin kertas di atas mejanya. Edward menepuk bahu Fuery, "Sersan, apa itu yang akan diberikan untuk Letnan Hawkeye?"

"Iya, kebetulan ia punya sekitar... Hmm... 50 kertas untuk ditandatangani."

"Haaahh... Tidak di kantor, tidak di rumah, masih saja bekerja keras."

"Itulah Letnan Hawkeye."

Setelah mengepak kertasnya di dalam sebuah map, Fuery berpamitan pada Falman, Breda, Ed, dan Al.

"Kalau begitu, aku pergi dulu ya."

Ia keluar dari ruangan dan berjalan ke gedung apartemen Riza.


Tok tok tok.

"Letnan? Saya membawakan paperwork anda."

Tok tok tok.

"Letnan? Apa anda dirumah?"

Tok tok tok.

Jam 6 sore, Kain Fuery sampai di pintu apartemen Riza Hawkeye. Ia sudah mengetuk pintu beberapa kali, namun yang empunya rumah belum membukakan pintu.

"Letnan Hawkeye? Apa anda di rumah?"

Hmm... Apa di sedang keluar ya? Atau mungkin sedang tidur? Tapi, biasanya kalau pun sedang tidur, di akan tahu kalau ada tamu.

Tok tok tok.

"Letnan?"

Cklik! Eh? Pintunya tidak dikunci?

"Le-Letnan, saya masuk ya?" Fuery membuka pintu apartemen Riza.

Sepi, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Black Hayate tidak ada di atas keranjang tempat tidurnya.

"Letnan Hawkeye? Anda di rumah?" Tanya Fuery pada udara kosong di depannya.

"Guk! Guk! Guk!"

"Black Hayate?"

Brak!

Ada suara jatuh dari kamar tidak jauh dari tempat Fuery berdiri.

"Letnan!" Fuery menjatuhkan map berisi paperwork di tangannya dan berlari ke sumber suara.

Riza Hawkeye sedang terduduk di bawah jendela kamarnya. Matanya terpejam. Wajahnya pucat, tubuhnya terkulai lemas.

Disampingnya, Black Hayate menggonggong kecil berusaha membangunkan pemiliknya.

"LETNAN!"

Riza masih terdiam. Matanya tetap terpejam dan tidak mau membuka.


Chapter 2, empel dem dem dem...

Nah, nah, naahhh.. Bagaimana pendapat Minna-sama semuanya? Gajekah? Anehkah? saran dan kripik, eh, kritik maksud Misa, selalu diterima. Langsung saja di ripiuw, jangan malu-malu...

Yoroshiku nee~ minna-sama :)

Salam hangat,

^MisaChan^