Copyright © 2015 by Happyeolyoo
All rights reserved
.
.
Flower Queen
Genre : Drama, Romance
Rate : T+
Pairing : HunHan as Maincast. With other Exo Members as well.
Chapter : 2/3
Warning : Genderswitch. Miss typo(s).
Disclaimers : Saya hanya meminjam nama dari mereka untuk menemukan inspirasi dan membaginya dalam bentuk karya sastra. Ini hanya sebuah fanfiction dari fans untuk fans dengan kemampuan menulis yang sedikit melebihi ambang batas wajar. Hargai kerja keras author dengan mengklik tombol review dan tulis beberapa tanggapan. Muak dengan cast atau plot cerita? Just click a close button on your web browser, guys. Wanna chitchat? Click on PM button. Don't bash any cast or other, please.
Summary : Selama setahun belakangan, Oh Sehun rutin mendapat rangkaian bunga cantik dengan selipan surat cinta dari seorang cewek yang menyebut dirinya sebagai Flower Queen. Sehun dan Flower Queen itu akhirnya dipertemukan dalam suatu kesempatan, namun Oh Sehun tidak bisa bertingkah tegas demi memberi sebuah kejelasan. Lantas, salah satu dari mereka memutuskan untuk mengucapkan selamat tinggal.
BGM : Tears by Girls Generation
Wow. Sehun berhasil mencerna kalimat cewek itu dengan amat mudah, membandingkan dengan isi surat rahasianya dan dia bisa menyimpulkan sesuatu. Bahwa gadis itu mungkin hanya mengganti susunan kalimatnya saja, namun istilah yang digunakannya tetap sama. Entah mendapat kepercayaan diri dari mana, Sehun mulai merasa yakin jika perkataan Jongin memang benar.
"Oh," Sehun mengangguk-angguk. "Siapa namamu?"
"Eh?" Luhan mengerjap sekali. "A-aku .., namaku .., Xi Luhan."
Sehun melukis seuntai senyuman menawan penuh main-main. "Senang sekali berkenalan denganmu," ujarnya bersahabat. "Kukira kau sudah tahu namaku?"
Sehun memergoki perubahan raut wajah Luhan; gadis itu merona hebat dan tatapannya berubah menjadi lebih gelisah. Pandangan gadis itu menari-nari tidak tentu arah; persis seperti seorang pembohong yang sedang mencoba mencari kebohongan lain karena dia nyaris tertangkap. Sehun mengenali gestur yang seperti itu.
Ya. Luhan adalah cewek misterius itu.
"M-mana mungkin," Luhan menemukan lidahnya dan berucap terbata-bata. Pandangannya mencoba menatap manik mata Sehun tetapi kekuatannya serasa hilang ditelan udara. "K-kita baru pertama kali .., berkenalan."
"Tetapi kau selalu menulis namaku di surat itu, 'kan?" Sehun memberanikan diri untuk mengucapkannya. Radarnya sebagai cowok sudah menunjuk Xi Luhan sebagai pelaku utama atas pengiriman bunga serta surat itu. Dan sudah sepantasnya dia harus yakin dengan dugaannya.
Apalagi setelah melihat Luhan melototkan mata setelah mendengar kalimatnya.
"Aku benar, 'kan?" Sehun tersenyum puas ketika mendapati raut tegang di wajah manis Luhan. "Jika kau adalah cewek yang mengirimiku bunga dan surat selama setahun belakangan?"
Gawat. Luhan sudah tertangkap basah. Dia tidak bisa kabur karena Sehun terus memojokkannya dengan praduga brilian seperti itu. Tidak ada jalan keluar selain mengungkapkan semuanya. Entah dia akan mendapat hal baik atau buruk, itu semua termasuk resiko yang harus ditanggungnya demi mendapatkan seorang pangeran bunga.
Ya. Luhan harus jujur.
"K-kalau iya, kenapa?" Luhan mendongak dan melempar tatapan yang jauh lebih tegas.
"Kukira kau tidak perlu melakukannya," Sehun menjawabnya dengan nada ringan; seolah itu adalah peringatan keras. Dalam benak, dia sendiri sedang mencoba menenangkan perasaannya sendiri. "Bukankah jujur lebih menyenangkan?"
Luhan mengerjap sekali saat kekacauan hebat melanda bawah sadarnya yang mulai linglung. "K-kurasa aku harus segera p-pergi."
"Mau kemana?" Sehun mencekal salah satu pundak Luhan hingga nyaris membuat gadis itu jatuh terjungkal dan melempar kotak yang ada di genggamannya. "Jangan main kabur. Aku ingin minta kejelasan," ujarnya dan tahu-tahu dia sudah berdiri menjulang tepat di hadapan Luhan.
"Penjelasan apa?" Luhan bertanya dengan nada takut-takut.
"Kenapa kau mengirimiku bunga?"
Arah pandang Luhan langsung beralih ke arah lain begitu kalimat tersebut selesai diucapkan. Rona merah menghampiri dan jantungnya berdentum-dentum tanpa kendali yang bisa diandalkan. Secara naluriah, dua kakinya yang bergetar mulai mengambil langkah mundur. Tetapi Sehun berusaha untuk terus mendekatinya. Cengkeraman jari Luhan mengerat pada sisi-sisi kotak bunga itu, hampir menciptakan bekas cakaran nyata di sana.
"Ayo katakan."
"Luhan! Apa yang kaulakukan?! Cepat kemari dan bantu aku!"
Tuhan, terimakasih! Dewi batin Luhan menjerit dan terjungkal dalam posisinya; diikuti oleh pergerakan gesit dari raganya yang dikungkung Sehun. Dalam hati, dia berjanji akan pergi ke gereja pada akhir minggu nanti untuk sekedar berterima kasih. Gadis itu melesat menjauh, sempat melempar cengiran penuh permintaan maaf, lantas akhirnya berlari menghampiri orang yang memanggilnya.
Sehun yang ditinggalkan dengan cara seperti itu, kini mendesah tidak terima sambil menggelengkan kepala.
OoO
Sehun membanting tasnya ke atas meja, disusul dengan bantingan pantatnya lantas diikuti oleh kedua tangannya yang langsung bertelekan pada sisi meja. Rautnya dipenuhi gurat bete kentara yang tidak bisa disembunyikan; kemarahan berkobar dalam sorot matanya yang tajam. Kim Jongin yang duduk di sebelahnya mengeryit tidak mengerti sekaligus ngeri begitu mendapati Sehun di kelas ini. Pemuda berkulit tan itu langsung menegakkan punggungnya yang sempat melengkung dan menguap sebelum melontarkan pertanyaan.
"Ada apa?" Jongin menarik salah satu bukunya dengan tidak bersemangat. Dia sempat melirik jam dinding dan menemukan fakta bahwa jam kuliah akan dimulai sekitar sepuluh menit lagi. "Rencanaku berjalan buruk, ya?"
Sehun menggeleng sambil memejamkan mata, gerakan tangannya yang akan menulis sesuatu pada notenya terhenti begitu saja manakala mengingat apa yang baru menimpanya. "Dia benar-benar cewek bunga itu," ujarnya kalem.
Jongin nyengir lebar mendengarnya. "Jadi, dia untukku?"
"Enak saja!" Sehun menyahut dengan nada amat ketus. Amarahnya kembali berkobar semakin besar dan kilatan apinya nyaris menyambar hingga membakar Jongin. Tangannya terkepal kuat-kuat seolah dia sedang menahan gejolak tak kasat mata yang bisa dikeluarkan oleh kuku-kukunya. "Sepertinya dia ingin kabur."
"Jelas saja jika dia ingin kabur," Jongin membuang pandangan, mendesah kecewa karena tidak berhasil mendapatkan izin dari Sehun untuk memacari Flower Queen bermata rusa itu. "Menurutmu, untuk apa dia terus mengirimu bunga selama setahun belakangan tanpa identitas itu? Ternyata, kau lebih bego dari yang kupikirkan, Hun."
Sehun nyaris melayangkan satu pukulan dari kepalan tangannya. "Diamlah, Kkamjong. Aku perlu berpikir untuk menyusun strategi."
"Untuk apa?" Jongin menguap lebar dan tangannya menepuk-nepuk bibirnya yang tebal. "Memaksanya untuk mengaku? Untuk apa? Demi Tuhan, percuma kalau dia cuma mengaku tanpa punya ketertarikan untuk jadi cewekmu."
"Hah?" Sehun menatap wajah malas Jongin lekat-lekat. "Jadi maksudmu; Xi Luhan itu cuman ingin jadi penggemarku. Begitu?"
"Oh, namanya Xi Luhan, ya," Jongin bergumam sangat pelan. Lalu perhatiannya kembali terserap pada masalah yang membalut Sehun. Dahinya langsung mengeryit jijik manakala menyadari kata penggemar yang menyelip di kalimat yang baru didengarnya. "Kalau begini bermasalah, cuman tinggal satu jawaban yang diperlukan untuk menyelesaikan semuanya."
Sehun tampak amat berminat. "Apa itu?"
"Kau tertarik atau tidak dengan Luhan?"
Pertanyaan Jongin terlalu blakblakan dan tentu saja Sehun kesulitan untuk menjawabnya. Yang benar saja, dia baru berkenalan dengan Luhan lantas dia sudah ditodong pertanyaan seperti itu. Sehun berhak untuk merasa bingung. Tetapi sisi hatinya yang dominan menjerit-jeritkan kata suka dengan lantang. Tetapi, sekiranya egonya terlalu malu untuk berucap jujur.
"Semuanya sih terserah kau," Jongin mendesah tidak mau peduli begitu dia merasa lelah karena tak kunjung mendapat jawaban. "Kalau kau suka, kejarlah. Kalau tidak, ya sudah. Biarkan dia pergi; karena aku yakin, jika kau tidak menghampirinya lagi, Luhan akan berasumsi jika kau sudah melayangkan penolakan."
OoO
"Sepertinya aku ditolak."
Luhan berujar sedih sekaligus kecewa ketika pandangannya menembus kaca bening yang menjadi pintu masuk toko bunga milik keluarganya. Jemarinya tertekuk, bersembunyi dengan begitu baik di balik saku celemek plastiknya yang berwarna kuning cerah. Rambutnya bergoyang dipermainkan angin.
Nyaris sama seperti perasaannya yang benar-benar telah dipermainkan oleh harapan. Sudah seminggu lebih setelah kejadian memalukan di kampus Yonsei; ketika Sehun memergoki identitasnya. Luhan sudah tidak punya muka untuk bertemu dengan Sehun lagi karena waktu itu dia malah memilih kabur dari pada menjawab apa yang dipertanyakan Sehun. Jelas saja Luhan memilih kabur, jantungnya nyaris copot dari tempatnya. Sehingga dia memilih untuk cari aman dengan lari.
Pada hari pertama, dia berharap jika Sehun akan memakluminya. Tetapi setelah berpikir berulang kali dan sempat berdiskusi secara telepati dengan bunga-bunganya yang mekar, Luhan menyadari jika dia harus menghentikan semua perasaannya sebelum benar-benar sakit hati. Sehun tidak kemari dan bukankah itu hal bagus? Jika Sehun kemari, hanya ada satu hal yang mungkin dilakukannya; beli bunga.
Tidak mungkin jika Sehun bisa menyukai cewek bunga yang lusuh sepertinya. Di kampusnya, banyak sekali cewek-cewek cantik yang memiliki kulit cemerlang dan bau seharum bunga-bunganya di sini. Sialnya, Luhan sama sekali jauh dari pedrikat itu.
Luhan terlalu kerdil, mungil, tidak cantik, kumal, kurang sosialisasi, dan apa pun kekurangan lainnya. Kenapa dia terlahir seperti kurcaci? Hanya Jesus yang tahu dan Luhan tidak berhak untuk merutuk karena postur tubuhnya. Lagi pula, salahnya sendiri karena tidak pintar merawat diri.
Salahnya sendiri.
Luhan berbalik dan pergi menghampiri kotak bunganya, mengambil sebuah alat penyemprot bunga dan mulai menekan-nekan tuasnya hingga liquid bening bertebaran menghinggapi kelopak primrosenya. Pandangannya meredup ketika benaknya menggumamkan arti dari bunganya; Jepang yang mengaitkannyadengan patah hati.
Napas berat meluncur dari mulutnya, perlahan-lahan pandangannya mengabur akibat kesenduan tidak berlandas yang dirasakannya. Memang seharusnya Luhan tidak berhak patah hati. Tetapi kenapa dadanya terasa sesak sekali? Pundaknya jatuh seolah telah menyerah mengangkat beban cinta itu. Luhan tidak sanggup lagi.
Tangan-tangannya memutuskan untuk mengambil beberapa tangkai primrose lalu beralih ke kotak lain, menuju kotak penyimpanan sweet pea biru berembun kemudian memilih beberapa di antaranya. Jemarinya bergerak begitu gesit hingga tangkai-tangkai hijau yang sudah dibersihkan itu melilit satu sama lain seperti sebuah keliman rambut, jumlahnya ada empat keliman dan diikat oleh sebuah pita biru gelap. Dia membungkus bunganya dengan plastik tipis tanpa corak, mengikatnya dan memandanginya sejenak.
Primrose dan sweet pea.
Putus asa dan ucapkan selamat tinggal.
OoO
"Sialan benar cewek itu,"
Tanpa disadarinya, Sehun meremas kertas mungil yang terselip di antara sekumpulan bunga-bunga cantik yang digenggam tangannya yang lain. Binar matanya nyaris terbakar oleh kemarahan, merah menyala seakan dia mampu merubah sorotnya menjadi sinar laser. Urat di sekitar leher serta pelipisnya menyembul, menunjukkan jika amarahnya tidak main-main.
Jongin yang berdiri tepat di belakangnya, berhenti mengunyah permen karet begitu menyadari perubahan ekspresi Sehun setelah membaca surat cinta dari cewek bunga itu. Lebih-lebih setelah mendengar umpatan Sehun. "Ada apa?"
"Dia cewek keparat," Sehun membanting pintu lokernya, berjalan menjauh dari sana dengan menenteng bunga segar sambil memasang raut kesal. "Menyukaiku setahun lebih, merecokiku dengan bunga dan surat beginian," tangannya mengangkat surat yang sudah nyaris remuk di tangannya. "Dan kabur setelah aku menemukan identitasnya?"
"Huh?" Jongin menatap tidak mengerti. "Memangnya, kau belum menemuinya?"
"Kalau dia benar-benar suka padaku, dia yang akan datang padaku," Sehun mendengus. "Bukan malah mengirim bunga dan surat yang isinya nyaris membuatku muntah."
Jongin merebut gumpalan kertas dari tangan Sehun, cepat-cepat membuka lipatannya. Matanya membola manakala selesai membaca seret kata yang tertulis di sana. Wow, perutnya sendiri mulai merasa mulas setelah mengerti akan maksud dari surat ini.
Lima detik setelahnya, Jongin melempar tatapan sengit. "Kan aku sudah bilang, kau harus menemuinya untuk memberi kejelasan!"
"Kejelasan apa lagi yang dia butuhkan?" Sehun sudah terlanjur dongkol. Tanpa sengaja, pandangannya menemukan sebuah kotak sampah abu-abu tua dan tanpa perintah langsung dari otak, dua tungkai panjangnya berjalan ke sana. "Sekiranya, dia punya otak untuk berpikir sendiri agar datang padaku. Bukan aku yang menemuinya. Demi Tuhan, dia yang suka duluan padaku!"
"Cewek lebih mendahulukan harga diri ketimbang perasaan dan otak," Jongin menggumamkan sesuatu yang dia tahu tentang cewek. "Mungkin, dia lebih mengutamakan harga diri sehingga memutuskan untuk diam selama setahun dan tidak menemuimu lagi setelah kau tahu perasaan—hei! Apa yang kau lakukan?!"
"Membuangnya," Sehun baru akan melempar bunga di tangannya ke tempat sampah, tetapi Jongin sempat menggenggam pergelangan tangannya. "Kau mau menyimpannya?"
"Hah?"
"Tidak usah deh," Sehun melempar bunga itu dan kelopaknya yang cantik membentur dasar tempat sampah itu. "Bunga dari cewek begituan tidak usah disimpan lagi. Bikin muak."
Setelahnya, Sehun pergi dari situ tanpa mau peduli pada perasaan sang pemberi.
Luhan yang berdiri tak jauh dari sana, sedang menyembunyikan tubuh kurcacinya di ujung tembok dan matanya berair seperti akan mengucurkan air mata.
TBC
Wow. Terimakasih buat kalian-kalian yang udah baca chap pembuka tanggal 24 kemarin, yaa. Seneng deh kalian aktif buat kasih review /deep bow/ ini udah lanjut, fast update nggak sih? Hohoho terimakasih juga buat semuanya yang udah kasih pujian biar guenya cepet update /ketawa/ makasih juga buat author-author ffn lain yang udah klik fav/follow doang tanpa ketik komentar /oops/ makasih juga buat siders yang bener-bener siders di luar sana. Well, gue tunggu tobat lo semua, guys /smirk/
Ada yang tanya, kenapa sih kalo Luhan gs, kerjaannya selalu jadi florist atau nggak gitu desainer? (O.O) Eh, oh? Aku sih nggak pernah baca Luhannya yang jadi florist, tapi kalo desainer sih kayaknya pernah. Hmm jadi jawabannya ya akunya sendiri nggak tahu kenapa Luhan selalu dikaitkan/? dengan pekerjaan yang cewek banget/? kayak florist atau desainer. Tapi kalo menurut pandangan aku, dan based on ff ini lho ya, Luhannya cocok aja kalo dia jadi cewek bunga yang tergila-gila mau jadi ratu bunga. Bayangin aja deh, seberapa imutnya Lulu kalo pake flower crown trus pake dress. Atau kalo nggak gitu, Luhan yang lagi cemas gegara bunga-bunganya. Uuhg imut banget :3
Duh, gue jadi banyak omong deh. Well. See you in next chap~
Xoxo.
