.
.
.
Sasuke merasa gemas dan menyentuh helai merah muda di sampingnya. Ia terkesiap saat tangannya menembus kepala Sakura. Meraih udara kosong. Senyum sedih kembali terpahat di bibir dan matanya yang menyiratkan rasa sakit yang mendalam.
Sakura tak pernah tahu dan sadar Sasuke menghilang dari sampingnya. Ia terlalu larut dalam keasyikannya tanpa mempedulikan sekitar. Sampai ia mendengar pintu depan terbuka dan Itachi muncul dari balik pintu.
Sakura segera menaruh laptop Sasuke di kamarnya dan bergegas menuju Itachi. Menyambutnya.
Tanpa di sadari keduanya, Sasuke menatap dari balik dinding dengan mata kelamnya yang tidak menyiratkan kehidupan.
.
.
.
Disclaimer : Naruto's belong to Masashi Kishimoto. This fiction is mine.
Genre : Angst & Drama
Rate : T
Pair : SasuSaku & ItaSaku
Warning : Alternative Universe, Out Of Characters, Typo(s), Gak Jelas, etc. Umur karakter:
Sakura Haruno : 14 tahun
Sasuke Uchiha : 14 tahun
Itachi Uchiha : 22 tahun
Summary :
Aku ingin percaya jika ia memanglah nyata. Tapi kenyataan malah mengolokku dan melemparku ke dalam fakta bahwa ia akan meninggalkanku setelah cinta yang ia sematkan kuat di hatiku. Tapi secara teknis, akulah yang meninggalkannya dalam kebisuan.
Let Me In
By
Uchiha Cesa
Kediaman Itachi Uchiha, 18.00 p.m
.
"Tadaima."
Satu kata pengganti ucapan 'Selamat Sore' Itachi berikan pada Sakura yang semangat menyambutnya di ruang depan.
Tersenyum sekilas pada Sakura yang kelihatan bingung dengan kata Itachi tadi, Itachi memasuki rumahnya sambil melepaskan mantel hitamnya dan menyangkutkannya di bambu bercabang yang tingginya dua meter yang terletak di dekat tangga yang menuju kamar pribadinya.
Sakura mengekori Itachi di belakang. Tidak tahu harus berbuat apa, tepatnya. Itachi menoleh ke belakang dan mendapati Sakura yang mendongak dengan kedua alis terangkat.
"Kau kenapa, Sakura?" tanya Itachi dengan nada datar. Teringat suatu hal penting, Itachi bertanya, "Kau sudah makan?"
Sakura mengangguk dengan semangat. "Sudah."
Gadis pink itu seakan ingin berucap sesuatu. Terlihat dari gerakan bibirnya yang terbuka, namun kembali tertutup. Itachi mengangkat sebelah alisnya. Heran.
Memutuskan untuk tidak mempermasalahkan tingkah gadis di depannya ini, Itachi pun menepuk pelan puncak kepala Sakura. "Baguslah. Aku ingin istirahat di kamarku, Sakura. Apa kau ingin mengikutiku ke dalam kamar?"
Mendengar nada yang sedikit jahil dari pemuda berkuncir yang ia sukai di depannya ini membuat Sakura menelan ludahnya gugup. "E-eh? T-Tidak, Itachi-nii... Bukan seperti itu." Ucap Sakura terbata-bata. Tidak ingin Itachi salah paham dengan tingkahnya yang mengikuti dari belakang.
Itachi tersenyum lembut kemudian berujar, "Ya sudah. Sebaiknya kau beristirahat saja. Kau pasti lelah." Setelah mengatakan itu, Itachi berbalik menuju kamarnya setelah mendapat anggukan lagi dari Sakura.
Sakura memandang punggung tegap Itachi dengan tatapan memuja. Pemuda di depannya itu benar-benar menawan hati. 'Lihat itu, Sakura! Rambutnya terlihat lembut sekali...' Inner Sakura mulai menggerogoti otaknya. Sakura mengatupkan kedua tangan di depan dadanya . Kepala Sakura meneleng ke kanan sedikit dan senyum merekah di wajahnya.
Sakura tersadar akan sesuatu. Ia melepaskan tautan tangannya dan menyentuh rambut merah muda sebahunya. Kemudian menghela napas panjang, Sakura merengut sebal. Iri dengan rambut yang dimiliki pujaan hatinya yang indah sepanjang setengah punggung pemuda itu.
Setelah Itachi menghilang di balik pintu kamarnya, Sakura beralih menuju kamar Sasuke. Ah! Ia hampir lupa dengan keberadaan satu lagi pemuda tampan di rumah itu. Dengan semangat Sakura membuka kenop pintu Sasuke, dan benar saja, Sasuke memang sedang duduk di ranjang ukuran king size miliknya.
"Sasuke, melamunkan apa?" Seru Sakura yang langsung berdiri di depan Sasuke dengan sikap mengagetkannya. Namun Sasuke hanya memasang wajah datar. Tidak terpengaruh dengan keberadaan Sakura di depannya.
Mendengus seraya membuang mukanya ke arah lain, Sasuke bergumam pelan, "Hn."
"Haaah... Kenapa kau tidak menyambut Itachi-nii, Sasuke? Adik macam apa itu?" Nada menyindir tersirat di dalam kata-kata gadis manis beriris emerald itu.
"Bukan urusanmu."
Mendengar ucapan dingin itu, Sakura memandang Sasuke tajam. Kembali kesal dengan pemuda pucat yang membuatnya merasa malu, marah dan jengkel dalam waktu sehari itu.
"Tidak perlu dingin seperti itu bisa, kan? Huh!"
Setelah berkata seperti itu, Sakura segera berlalu dari hadapan Sasuke. Enggan menatap pemuda itu, ia pun melenggang pergi menuju pintu kamar Sasuke.
Tapi detik berikutnya kakinya tertahan di tempat karena Sasuke tiba-tiba bicara padanya, "Jangan beritahu Itachi-nii kalau aku ada di sini." Ucapnya dengan suara datar.
Sakura berbalik dan matanya langsung bersiborok dengan Sasuke yang berada setengah meter darinya. 'Sejak kapan dia berada dekat denganku?' Pikirnya. Sakura membuka mulutnya hendak bertanya, "Kenapa?" tantangnya. Sedikit rasa penasaran terdengar dari gelombang suara barusan.
"Aku ingin memberi kejutan padanya. Tapi aku menunggu saat yang tepat." Jawab Sasuke. Masih dengan nada datarnya. Bahkan raut wajahnya pucat tanpa ekspresi. Entah kenapa Sakura merasa sedikit takut dengan pemuda di hadapannya ini. Dilihat dari sisi manapun Sasuke itu tampan. Tapi sebagian kecil dari diri Sakura merasa ketakutan dengan makhluk pucat yang berjarak setengah meter darinya ini.
Mengelap bibirnya yang terasa kering dengan lidahnya, Sakura menyetujuinya, "B-baiklah. Aku tidak akan memberitahunya." Sakura merasa tertekan dengan pandangan onyx yang mengarah padanya. Iris hitam nan kelam milik Sasuke seakan tidak mempunya emosi apapun di dalamnya.
Menyerah untuk terus berlama-lama di dekat Sasuke, Sakura pun berlalu pergi meninggalkan Sasuke yang masih terpaku di tempatnya tadi.
.
.
.
Ruang keluarga Itachi Uchiha, 19.00 p.m
.
Suasana di sana tidak berbeda dari sebelumnya. Suara TV masih bergema memenuhi rumah yang ukurannya lumayan besar yang di tempati pemuda tampan berumur 22 tahun itu. Terlihat si pemilik rumah duduk santai di sofa besar sambil memainkan ponselnya. TV itu ia biarkan saja menyala tanpa ditontonnya. Sepertinya menyeramkan juga membiarkan ruang yang agak besar itu hening.
Sakura baru saja keluar dari kamar mandi. Sekarang gadis yang memiliki rambut sebahu berwarna sama dengan namanya itu sudah memakai piyama teddy bear berwarna ungu. Membuat tubuhnya yang mungil terlihat manis dan imut. Ia mengalungkan handuk hijaunya di bahu untuk mengeringkan rambutnya yang basah dan terlihat masih menempel di pelipisnya. Manik emeraldnya mendapati Itachi yang sedang duduk santai di sofanya membuatnya melangkahkan kaki mendekati pemuda itu.
"Itachi-nii." Panggil Sakura pelan.
"Aa.. Sakura. Tidurmu nyenyak?" Tanya Itachi berbasa-basi.
Gadis itu tidak segera menjawab. Sakura mengambil waktu untuk duduk di samping Itachi dan menoleh memandang lelaki yang masih menatapnya. Menunggu jawaban.
"Nyenyak, kok, Itachi-nii." Sakura melempar senyum lembut pada pemuda yang membalas singkat senyumnya.
"Baguslah." Itachi kemudian meletakkan ponselnya di atas meja dan kembali bertanya pada Sakura, "Kau mau jalan-jalan kemana? Mumpung jauh-jauh datang ke Jepang, kan?"
Bola mata emerald itu bergerak gelisah. "Aku tidak tahu mau kemana, Itachi-nii." Ucapnya pelan. "Apa Itachi-nii bisa merekomendasikan tempat menarik di Tokyo ini?" Tanyanya.
Jujur saja, Sakura tidak terlalu tertarik untuk jalan-jalan di sini. Tujuan awalnya datang ke sini memang untuk menemui Itachi dan mengungkapkan perasaannya. Apapun jawaban Itachi nanti, Sakura sudah siap dengan segala kemungkinan serta resikonya.
Itachi menggigit jempol kanannya dan sepasang bola onyx yang identik dengan Sasuke melirik ke arah kiri. Ekspresinya terlihat sedang berpikir keras mengingat-ingat tempat wisata di Tokyo. "Bagaimana kalau ke Tokyo Tower? Atau..." Itachi melirik Sakura dan mendapati emerald itu memandang Itachi, tertarik dengan ucapannya, "Ueno Park. Tempat itu di kelilingi bunga Sakura yang cantik. Apa kau ingin melihatnya?" Saran Itachi sambil melepaskan jempolnya.
"Kedengarannya menarik, Itachi-nii." Respon Sakura semangat. Tapi raut semangatnya mulai memudar digantikan dengan sekelebat pikiran yang mengganggunya. "Tapi, aku hanya kenal Itachi-nii di sini. Apa Itachi-nii bisa menemaniku jalan-jalan? Apa Itachi-nii tidak sibuk?" Tentu saja ia bohong soal hanya kenal Itachi di sini. Pemuda berkulit pucat yang mengaku statusnya sebagai adik dari Itachi Uchiha ini sudah berkenalan dengannya tadi siang.
Itachi dapat melihat Sakura menggigit bibir bawahnya dan melempar tatapan berharap serta cemas padanya, membuatnya tersenyum kecil. "Kau tenang saja. Setiap Sabtu dan Minggu aku libur. Jadi aku bisa menemanimu jalan-jalan."
Seketika itu juga senyum cerah mengembang di bibir Sakura. Ia melompat dari tempat duduknya dan menggenggam tangan Itachi. Berterima kasih pada Itachi yang mau meluangkan waktu untuknya. Ah, pemuda yang baik hati.
"Terima kasih, Itachi-nii! Kau memang yang terbaik!" Ucap Sakura riang. Cengiran lebar masih melekat di wajahnya.
Itachi tersenyum melihat Sakura yang terlihat senang sekali dengan ajakannya. Lagipula ia juga butuh refreshing dari pekerjaan kantor yang membenaninya selama lima hari dalam seminggu itu.
'Akhirnya... Aku kencan juga dengan Itachi-nii... Bahagianya~' Batin Sakura riang. Ia membayangkan hari-harinya nanti yang pastinya akan mengasyikkan. 'Aku harus cari baju yang manis nih!'
"Sama-sama, Sakura. Tapi ini masih hari Selasa. Kau harus bersabar untuk beberapa hari lagi," ujar Itachi mengingatkan Sakura yang sepertinya sudah terbang ke alam khayalannya.
Sakura menoleh dengan semangat pada Itachi, "Tidak masalah. Aku sabar menunggu, kok, Itachi-nii!" sahutnya semangat yang dibalas senyuman hangat dari Itachi.
Wajah Sakura memerah melihat senyuman menenangkan seperti itu dari pemuda yang disukainya. Segera ia menunduk pada Itachi, "Kalau begitu aku ke kamar duluan, Itachi-nii." pamit Sakura sebelum berlalu dengan cepat masuk ke kamar yang akan ditempatinya selama liburan ini.
.
.
.
Sakura membongkar lemari pakaian yang berisi beberapa lembar pakaiannya. Memilih mana yang akan membalut tubuhnya dan membuatnya manis di hadapan cinta pertamanya. Saking semangatnya, Sakura tidak menyadari Sasuke yang menembus pintu kamarnya tanpa repot-repot membukanya.
"Hei."
Suara baritone dingin yang Sakura kenal membuat Sakura kaget dan sukses membuat kepala bermahkota pink itu menabrak daun lemari. Sakura tidak melihat daun pintu yang berada dekat dengan sisi wajahnya, sehingga saat ia dengan cepat ingin menoleh ke belakang, daun pintu lemari itu sukses mencium jidatnya yang lebar dan mencetak warna merah pucat di sana.
Dengusan mengejek dari Sasuke membuat Sakura mendelik kesal. Sakura lalu menyentuh dahinya yang berasa nyut-nyutan sakit dan mengusap lembut untuk meringankan rasa sakitnya.
"Kenapa kau itu selalu mengagetkanku, Sasuke? Apa kau kurang kerjaan?" Geram Sakura. Masih menatap sebal pemuda yang kentara sekali mengubah ekspresinya dari senyum mengejek menjadi sangat dingin.
Sasuke mengambil waktu sejenak untuk sekedar menaruh pantatnya di ranjang dan mengalihkan atensinya dari Sakura. "Aku memang kurang kerjaan." Ucapnya datar. Tanpa emosi yang berarti membuat perempatan siku-siku di dahi Sakura mulai tampak.
Sakura sebenarnya ingin membalas kata-kata Sasuke. Namun lidahnya terasa kelu saat dilihatnya Sasuke terlihat tenang sekali memandang lurus ke arahnya. 'Kenapa lagi dia?' Pikir Sakura.
Merasa risih diperhatikan seperti itu, Sakura bertanya pada lelaki yang memandangnya dengan tatapan hampa, "Apa? Ada yang aneh padaku?" Sembari bertanya, ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak kanannya.
"Tidak." Sahut Sasuke singkat.
Dengusan keras keluar dari Sakura. Tak habis pikir dengan sikap pemuda yang seenaknya masuk ke kamarnya tanpa ketok pintu dulu. Memang benar sih ini rumahnya. Tapi kan bagaimanapun kamar yang dimasukinya seenak jidat itu kamar perempuan yang notabenenya berbeda gender dengannya.
Memilih untuk mendiamkan Sasuke, Sakura berbalik memunggungi Sasuke untuk kembali merapikan bajunya yang dari tadi ia bongkar.
.
.
Hening.
.
.
"Kau menyukai Itachi-nii?" Pertanyaan tiba-tiba dari Sasuke membuat jantung Sakura tersentak. Wajahnya terasa panas dan jantungnya berdetak cepat membuatnya sedikit sakit di bagian dada. Pertanyaan sensitif bagi kebanyakan kaum hawa itu bisa begitu mudah lolos dari bibir pucat milik Sasuke.
Sakura berusaha menutupi rona merah di pipinya dengan berusaha bersikap tenang dan melingkarkan kedua lengannya di depan dada. "Kurasa itu bukan urusanmu, Sasuke." Ucap Sakura angkuh. Berlagak tenang padahal jantungnya masih berdentum keras.
Sasuke tersenyum miring seakan meremehkan Sakura. "Itachi-nii adalah kakak kandungku. Jika ada perempuan yang mendekatinya, itu juga urusanku."
Skak mat!
Sakura tak bisa membalas kata-kata Sasuke. Sasuke benar. Bagaimanapun pemuda pucat itu ingin yang terbaik untuk kakaknya. Maka dari itu, Sakura hanya diam saja. Tidak ada tatapan kesal atau apapun dari emerald Sakura. Ia memilih untuk menunduk dan menyembunyikan helai lembut merah mudanya menutupi wajahnya yang mulai muram.
Bukan bermaksud bernostalgia pada saat-saat Sakura membaca cerita di situs favoritnya di internet, tapi entah kenapa kata-kata itu seakan menohoknya dengan keras.
"Untuk membuat orang yang kau sukai balik menyukaimu, dekati orang terdekatnya. Contohnya dekati saja ibu atau saudaranya. Karena apabila kau sudah berhasil mengambil hati mereka, kau juga bisa dengan mudah mendekati dia dan menghabiskan banyak waktu sampai ia balik menyukaimu juga. Dukungan dari keluarganya pada hubungan kalian juga akan berpengaruh baik pada kesehatan batinmu."
Kepala Sakura seakan mendapat siraman air sejuk yang datang entah dari mana. Dan detik berikutnya kedua sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman. 'Misi pertama : ambil hati Sasuke.'
Sebuah seringai yang terlihat berbahaya menghiasi wajah Sakura. Sasuke yang menangkap perubahan ekspresi itu hanya menatap datar. Mau tidak mau ia harus mengatakan pada Sakura kebenaran tentang kakaknya.
Sakura mengangkat wajahnya dan menatap Sasuke dengan senyum lebar di wajahnya. Sakura rasa misinya akan sulit untuk dicoba. Tapi ia bertekad untuk membuktikan kata-kata yang sering dijumpainya di dalam buku ataupun cerita yang diposting di dunia maya.
"Sasu-"
Belum sempat Sakura menyelesaikan sapaanya, Sasuke sudah memotongnya. "Sakura," ucapnya pelan. "Ada yang harus kau tahu tentang kakakku."
Dan kata-kata yang meluncur dari bibir Sasuke selanjutnya membuat Sakura mengatupkan kedua telapak tangannya ke mulut dengan tatapan nanar tak percaya.
.
.
.
Pemuda tampan berambut emo itu berjalan mondar mandir di kamarnya. Oh, tidak bisa dibilang berjalan karena kakinya yang melayang tidak menapaki lantai. Pemuda itu hanyalah arwah yang keluar dari tubuhnya untuk menuntaskan hal yang belum ia selesaikan di dunia fana ini.
Iris onyxnya bergerak gelisah dan raut sedih nampak jelas di sana. Meskipun terbang tak tentu arah, rambutnya tidak bergerak mengikuti udara yang seharusnya bagi manusia, secara teknis rambut yang bergerak cepat berpindah-pindah tempat mengikuti pemiliknya akan ikut terbang atau bergerak karena udara di sekitarnya ikut bergerak diakibatkan benda padat yang mendorong udara di sekitarnya.
Tapi pemuda itu bukanlah manusia lagi.
Batinnya resah mendengar isakan perempuan yang samar-samar terdengar dari kamarnya. Hatinya miris. Gadis itu menangis karenanya. Gadis yang ia percaya dan ia kenal hanya dari cerita kakaknya saat kakaknya kuliah di Indonesia itu banyak memberinya pelajaran hidup. Gadis yang sudah ditinggal ibunya saat berusia dua tahun. Yang tetap ceria meski di sebut 'anak pembawa sial' karena membuat ibunya kecelakaan dan meninggal. Gadis yang tetap tegar meski teman-temannya selalu mengejeknya jidat lebar atau parahnya anak pembawa sial. Berusaha membuat semua orang di sekitarnya ceria meski dirinya sendiri kerepotan. Itu semua agar orang-orang mengakui keberadaannya.
Gadis yang ia kagumi.
Dan sekarang Sasuke-si pemuda tadi- membuatnya menangis terisak dan tertahan seperti suara sayup-sayup yang didengarnya. Sasuke sama sekali tidak bermaksud membuat gadis itu menangis. Ia bahkan terkejut melihat air mata Sakura lolos dari kelopak matanya tanpa isakan. Keluar dengan sendirinya. Sasuke memutuskan untuk meninggalkan Sakura di kamar. Ia tidak tega melihat tangis Sakura yang mulai pecah.
Memangnya seperti apa dan bagaimana sih caranya Sakura bisa menangis seperti itu? Ini dia flashbacknya...
.
.
.
Belum sempat Sakura menyelesaikan sapaanya, Sasuke sudah memotongnya. "Sakura," ucapnya pelan. "Ada yang harus kau tahu tentang kakakku."
Sakura merasakan atmosfir mulai berubah di sekitarnya. Mendadak perasaannya tak enak. 'Ada apa ini?'
Melihat Sakura yang terdiam menunggunya untuk bicara, Sasuke pun melanjutkan kata-katanya, "Saat aku berusia tiga tahun, ayah dan ibu bercerai. Kami ikut ayah karena ibu terbukti berselingkuh dengan teman lamanya." Ada nada kesal yang tersirat di setiap katanya.
Mata Sakura terbelalak tak percaya dengan pendengarannya. Namun ia tidak bersuara. Masih terpaku berdiri di tempatnya tadi. Itachi tidak pernah menceritakan perihal keluarganya padanya.
"Sejak itu Itachi-nii enggan untuk mengobrol dengan perempuan. Bahkan enggan menatap mereka. Ia menolak berkelompok dengan perempuan saat ia bersekolah dulu. Ia juga tidak pernah berteman dengan mereka."
Sakura menahan napas mendengar cerita Sasuke. Tiba-tiba saja jantungnya berdenyut sakit. Oksigen bahkan seakan enggan masuk ke paru-parunya. Ia mengerti kalau Itachi pasti membenci perempuan setelah apa yang ibunya lakukan pada ayahnya. Mengkhianatinya.
"Aku yang saat itu baru berusia tiga tahun tidak mengerti apa-apa selain ayah dan ibu yang tidak pernah bertemu dan tinggal serumah lagi sampai sekarang." Sasuke memperhatikan raut wajah Sakura yang sangat terluka dengan ceritanya. "Ayah pernah membawa Itachi-nii ke psikiater. Dan Itachi-nii harus menjalani tahap penyembuhan kejiwaannya. Akhirnya sekarang ia bisa menerima dan bisa bergaul baik dengan perempuan."
Raut kelegaan terpancar di wajah Sakura yang tadinya mulai putus asa. Tapi cerita yang selanjutnya meluncur dari bibir Sasuke membuat angannya yang melambung tinggi terhempas begitu saja ke bawah.
"Tapi ada satu hal yang tak bisa ia ubah dari dulu..." Sasuke menggantungkan kalimatnya membuat Sakura kembali menahan napas. "Itachi-nii tidak bisa mencintai seorang perempuan dan malah menjalin hubungan percintaan dengan seorang pria."
Sasuke mengakhiri ceritanya yang membuat lutut Sakura bergetar dan detik selanjutnya tubuhnya merosot jatuh. Kedua telapak tangannya menutupi mulutnya untuk menahan isakan. Air mata lolos dari kelopak matanya. Menangis tanpa suara. Sasuke bahkan terkejut dengan reaksi Sakura yang tidak disangkanya.
"Saku-"
"Tinggalkan aku –hiks- sendiri, Sasuke." Potong Sakura.
Sesak. Hanya itu perasaan kedua insan yang saling bungkam. Perlahan isak tangis mulai terdengar dari Sakura. Ia masih menutup mulutnya dengan tangannya yang basah oleh airmata.
Sakura berharap pendengarannya menjadi tuli saat Sasuke menceritakan akhir dari kisahnya tadi. Namun semua sudah terlanjur. Arang sudah menjadi abu. Sakura hanya bisa menahan gelombang keputusasaan di dadanya. Ia benar-benar tidak mengantisipasi kemungkinan ini terjadi.
Dan Sasuke menghilang tanpa Sakura sadari, lagi.
.
.
.
TBC
A/N : Ano... bagaimana fic ini?
Alurnya terlalu cepat kah? Lambat kah? Abal kah? Deskripsinya susah dipahami kah? Jelek kah? Lebay kah? #woi...! banyak tanya!#bletakk
Ini ga ada ada chara bashing loh! Serius!
Aku sayang sama Mikoto Uchiha#peluk-peluk bundanya Sasuke XD
Itu hanya tuntutan plot fiksiku maaf klo ada yang kurang berkenan. #ojigi
Biar kuperjelas disini. Ayah dari Sasuke dan Itachi itu masih keluarga sama Kizashi. Keluarga jauh gitu deh. Makanya Sasuke bisa bahasa Indonesia karena di ajarin ayahnya. Hehehe XD #nyolot*plakk
Bales review:
Akina Kazumi : Iya.. Sasuke udah mati apa belum yah?#malahbaliknanya*plakk* Baca aja kelanjutannya XD
kaito akaba : Halo juga kaito-san :) Sasuke cuma roh. Tapi aku nggak bilang udah mati loh X3 hehe..#plakk
QRen : Mau ending SasuSaku yah? hehe.. nanti liat kelanjutannya :3 Pacar Itachi seorang cowo' loh!#heboh
Mireren : *nyodorin tissue* Jangan nangis :( ahaha.. ini udah update :) ASAP kan? XD
Akari Chiwa : Makasih masukannya :) Itu udah di jelasin Sasu kenal ama Saku dari cerita Itachi selama di Indonesia :D
hanazono yuri : Udah lanjut ini :D
Natsuyakiko32 : Belum meninggal deh kayaknya X3 #plakk Ini udah lanjut :D
Makasih ya semuanya yang udah baca, kasi komentar dan ngefave serta ngefollow ini fic abal XD kekeke..
So, gimme ur review please?
