"Hmm, oke-oke. Akan kubantu kau." Kataku memberi jawaban atas permohonannya. Gadis itu langsung tersenyum senang, lalu memberiku secarik kertas.

"He? Apa ini?" Tanyaku sambil melihat kepada secarik kertas yang dia berikan.

"Tadi aku menemukannya di sela-sela air mancur. Aku berusaha membacanya, tapi aku masih tidak mengerti apa artinya..." Jawabnya lagi. Aku pun membuka secarik kertas itu dan...

-OoO-

.

Disclaimer :

Vocaloid by Crypton Future Media, Yamaha Music, INTERNET Co. Ltd., AH-Software, B-Plats, 1st Place Co. Ltd., PowerFX, Zero-G, et cetera.

.

Warning :

Possible typo(s) and misstypo(s), OOC-OOT-OOG, rather mainstream mysteries, et cetera.

.

-OoO-

'168'

Pesan macam apa ini? Aku pun mengerenyitkan alisku.

"T-tidak usah dijawab sekarang juga tidak apa-apa. Aku akan menunggu sampai kau memberi jawaban…" Kata gadis itu seakan membaca pikiranku. Entah kenapa, saat aku membaca kertas itu, pikiranku mulai melayang sampai akhirnya yang kulihat hanyalah hitam.

.

.

.

"Unggh..." Aku terbangun dan mendapati diriku sendiri sedang terbaring di UKS. Lalu aku pun bangun dari posisi tidurku. Aku pun mencari sebuah jam dinding yang biasanya melekat dengan erat di dinding ruangan.

Jam dua kurang lima belas menit.

Aku ini pingsan atau koma, 'sih? Kenapa lama sekali pingsannya?

Aku pun beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke kelas dengan langkah gontai. Tumben tidak ada orang di UKS. Bukankah biasanya ada satu penjaga UKS setiap hari?

Ah, tidak penting aku memikirkan hal seperti itu.

SREEEEK!

Aku membuka pintu kelas. Anehnya, semua teman sekelasku seolah menghilang. Hanya barang bawaan mereka yang masih berada pada tempatnya. Pertamanya aku hanya melongo, bingung dengan apa yang terjadi. Tapi sedetik kemudian aku hanya tertawa getir menyadari kebodohanku.

Kenapa aku bisa lupa ya? Pada jam terakhir mereka semua ada di ruang seni. Aku pun langsung mengambil peralatan lukis milikku dari dalam tas dan langsung beranjak ke ruang seni.

-OoO-

"Sumimasen, sensei!" Kataku sambil membuka pintu ruang seni. Dan saat aku membuka pintunya, Aku mendapati beberapa orang menatapku dengan pandangan 'kau-tidak-apa-apa-?'. Tak terkecuali murid baru itu.

Ya, dia. Gadis yang bernama IA itu menatapku dengan tatapan seperti yang sudah kusebutkan. Tapi, tatapannya seolah menyiratkan sesuatu yang belum aku ketahui selama ini.

"Yohio-san! Kenapa kau terlambat?" Tanya guru kesenian berambut merah jambu tersebut-Megurine Luka-sensei.

Tiba-tiba Yuuma selaku ketua kelas mendekati Megurine-sensei dan membicarakan sesuatu yang tidak dapat kudengar. Kulihat Megurine-sensei hanya diam. Seraya Yuuma kembali, Megurine-sensei mempersilahkanku untuk duduk seraya mengatakan, "Duduklah. Tapi jangan paksakan dirimu kalau kau tidak mampu."

Aku pun langsung mencari tempat duduk yang kosong untuk kutempati. Dan, mataku langsung menangkap sebuah bangku kosong di pojok kanan sebelah... Hah... Dengan lemas aku pun menuju ke sebuah bangku di sebelah murid baru tersebut. Untungnya di sana sudah disediakan kanvas. Aku pun mulai mengeluarkan alat melukisku dan bersiap menorehkan sapuan cat air ke kanvas tersebut.

.

.

.

Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit. Aku mulai menyelesaikan lukisanku. Tapi, pikiranku mulai terganggu karena seseorang terus memperhatikanku. Dan aku berani bertaruh kalau dialah yang memperhatikanku.

"Apa kau sudah menyelesaikan gambarmu dari tadi?" Tanyaku tanpa mengalihkan perhatianku dari lukisan yang sedang kubuat.

"Eng, sudah. Memangnya kenapa?" Jawab gadis itu bertanya balik. Aku hanya memutar bola mataku.

"Tidak... Hanya saja aku agak jengah diperhatikan seperti itu..." Jawabku seadanya sambil terus bermain dengan kuas dan cat. Bisa kulihat dari ekor mataku kalau dia hanya mengangguk-anggukan kepalanya.

"Omong-omong, apa yang sedang kau gambar tersebut?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan. Aku pun berhenti sejenak sambil mengistirahatkan kepalaku dengan menynderkannya pada kedua tanganku.

"Ini... Yah, hanya gambar abstrak yang tidak jelas apa bentuknya." Jawabku sambil menatap gadis itu. Lalu pandanganku beralih ke sebuah gambar-lebih tepatnya, gambar yang dia buat.

"Gambarmu boleh juga..." Kataku memuji. Lalu aku terdiam sejenak, memperhatikan gambar itu lebih dalam. Gambar sebuah taman yang asri dengan air mancur di sisi kirinya. Hmm... Aku sepertinya pernah melihat tempat itu. Tapi di mana ya? Tiba-tiba saja kepalaku terasa sangat pening. Aku pun langsung memegang kepalaku dengan tangan kiriku yang masih bebas.

"H-hei, kau kenapa?" Tanya IA panik. Aku berusaha mengangguk. Tapi saat aku melihat kembali gambar tersebut, aku mendapati sebuah papan bertuliskan sesuatu. Sebuah garis di bagian kirinya. Tapi...

"AGH!"

Rasa peningnya malah makin menjadi-jadi. Aku pun menundukkan kepalaku sejenak sambil terus memegangi kepalaku. Beberapa saat kemudian, aku mengangkat kepalaku pelan-pelan. Kulihat gambar abstrak yang sedang kukerjakan tadi, dan seseorang yang memperhatikan lukisanku dari belakang. Entah kenapa aku merasa gambarku yang ini agak sedikit aneh, karena gambarku entah kenapa membentuk tiga buah huruf kanji. Yaitu kanji dari angka satu, enam, dan delapan. He? Satu enam delapan?

"Yohio-san, kau yakin bisa melanjutkan?" Tanya Megurine-sensei dari belakang. Aku pun langsung menoleh ke belakang dan mengangguk pelan.

"Lagipula ini sudah selesai." Jawabku singkat. Megurine-sensei hanya tersenyum tipis melihat lukisan yang kubuat.

"Menggambar abstrak seperti biasa ya?" Gumam guru berambut pink itu pelan, tapi masih bisa didengar olehku. Tiba-tiba rasa pening tadi kembali menyergap kepalaku, tapi kali ini lebih parah. Pandanganku mulai buram, lalu semuanya berubah menjadi hitam.

-OoO-

Aku perlahan membuka mataku dan mendapati diriku berada di sebuah koridor besar berwarna putih dengan sebuah pintu besar di ujungnya. Hei, apa aku kembali ke tempat ini? Aku pun langsung berjalan mendekati pintu tersebut dan bergegas membuka pintu tersebut. Tapi, saat aku hendak memutar kenop pintu tersebut, aku mendengar sebuah suara yang entah dari mana asalnya.

"Apa kau sudah tahu nama tempat ini?" Kata suara misterius itu. Aku pun terperanjat kaget dan langsung menoleh ke belakangku. Dan yang kudapati adalah... Nihil. Tidak ada siapapun di belakang. Aku pun langsung menelan rasa ketakutanku ini dan duduk di samping. Berusaha mencari maksud dari secarik kertas yang diberikan gadis bersayap itu.

Apa hubungannya angka asal-asalan itu dengan nama tempat? Aku pun mulai menerka-nerka apa nama taman di balik pintu besar ini. Aku mulai memejamkan mataku sejenak. Berusaha mengaitkan satu hal dengan yang lainnya.

Lalu aku teringat akan lukisan yang dibuat oleh IA tadi. Sebuah taman, dengan sebuah air mancur, dan papan nama taman tersebut... Tunggu! Ini hanya kebetulan kan?

Aku pun mencoba mengingat kembali apa tulisan di papan di lukisan tersebut. Sebuah garis... Satu... Ichi...

Tiba-tiba aku teringat lagi dengan gambar abstrak yang secara misterius membentuk huruf kanji dari angka satu, enam, dan delapan. Apalagi gambar itu sangat berwarna-warni. Hmm... Apa hubungannya taman tersebut dengan warna-warni lukisanku dan angka '168' di secarik kertas tersebut?

"Irohachi? Ah, sepertinya itu kurang tepat." Gumamku sambil menerka-nerka nama taman tersebut.

"Ichirokuhachi, Irokuhachi, Irohachi..." Lalu satu nama muncul di kepala. Pada saat itu aku merasa sangat bodoh karena tidak tahu lebih awal. Lalu aku pun langsung berdiri dan berniat membuka pintu tersebut. Lalu sebuah suara kembali masuk ke indra pendengaranku.

"Apa kau sudah tahu nama tempat ini?" Pertanyaan dari suara tersebut sama seperti saat aku mencoba membuka pintu tadi. Tanpa rasa ragu, aku pun memutar kenop pintu tersebut dan masuk ke taman tersebut.

Saat pintu kubuka, mataku langsung disambut dengan keasrian taman ini dan suara air mancur yang menyala. Tak lupa dengan sosok gadis bersayap yang tengah duduk di pinggiran air mancur tersebut. Seakan mengetahui keberadaanku, sosok gadis itupun langsung menoleh ke tempat di mana aku berdiri.

"Jadi, bagaimana?" Tanyanya penasaran. Aku pun hanya berjalan mendekati dia.

"Apakah ada sejenis papan di sekitar sini?" Jawabku bertanya balik.

"Untuk apa?"

"Untuk memberi nama taman ini."

Gadis itupun langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke sudut taman. Aku pun langsung mengikutinya. Dan benar, di sana ada sebuah papan kosong yang terbuat dari kayu. Aku pun langsung berjongkok di depan papan tersebut sambil mengusap-usap papan kayu tersebut. Kurasakan papan ini seperti pernah dipahat sebelumnya entah oleh siapa, dan entah mengapa nama yang terpahat pada papan ini sama dengan nama yang kutebak. Aku pun langsung berdiri dan mencari sebuah batu runcing dan sebuah batu besar untuk mengukir nama tempat ini. Gadis bersayap itupun hanya diam di tempatnya, sepertinya memperhatikan setiap gerakanku.

Akhirnya aku berhasil menemukan batuan yang kucari. Aku pun langsung kembali ke tempat gadis bersayap itu berdiri dan langsung berjongkok di depan batu tersebut.

"Batuan tersebut untuk apa?" Tanyanya penasaran.

"Untuk menamai tempat ini. Oh ya, kita berdua yang akan menamakannya, jadi tolong aku." Jawabku sambil mulai bersiap memahat. Sepertinya dia terlihat kebingungan awalnya, tapi dia mulai menggenggam tangan kiriku. Jadi kubiarkan dia memegang pahatnya dan aku menggerakkan tangannya, sedangkan aku memegang pemukul pahat tersebut.

Tangan kiriku mulai memandu tangannya sesuai dengan pahatan yang sebelumnya dan memahat papan tersebut lebih dalam. Setelah beberapa lama, papan itu mulai membentuk pahatan kata 'Iroha' dengan huruf hiragana.

"Fyuh... Selesai. Nama taman ini adalah 'Iroha'!" Kataku sambil mengusap keringatku. Lalu kulihat gadis bersayap itu tersenyum. Sepasang sayapnya yang putih itupun mengembang. Tapi tak lama kedua sayap itu kembali menutup kala gadis itu memegangi kepalanya dengan kedua tangannya sambil terduduk.

"H-hoi?! Daijobu ka?!" Tanyaku panik. Tapi aku tidak berani mendekat, karena ada sebuah cahaya putih yang mulai menyelimuti gadis bersayap tersebut dan membuatnya terangkat sedikit. Aku pun hanya bisa menganga melihat pemandangan mencengangkan ini.

Setelah beberapa lama, cahaya yang menyelimuti dia mulai menghilang dan dia pun perlahan mulai berpijak di tanah lagi.

"K-kau... Tidak apa-apa?" Tanyaku takut-takut. Dia hanya membuka matanya dan berkata, "Aku ingat sekarang..."

"... Dulu taman ini penuh dengan bunga krisan yang merupakan lambang kehidupan dari sebuah keluarga terhormat. Tapi, pada suatu hari seluruh bunga itu gugur, kecuali sebuah bunga krisan yang masih kecil. Aku, di sini, bertugas menjaga agar bunga krisan yang paling kecil itu tidak gugur lagi." Lanjutnya menjelaskan panjang lebar. Aku pun hanya tercengang mendengarkan penjelasan gadis bersayap tersebut. Apa maksudnya ini? Aku sama sekali tidak mengerti.

"H-hei... Kalau boleh tahu, tadi itu kau berbicara tentang siapa?" Tanyaku yang sudah sangat penasaran dengan taman dan gadis bersayap ini. Dia tidak menjawab, melainkan hanya menudingkan jari telunjuknya ke arahku.

Jadi, tadi dia membicarakanku? Keluargaku?

Aku hanya bisa terdiam, belum bisa menerima kenyataan bahwa aku mempunyai keluarga dulu. Tapi apa maksudnya bunga krisan yang masih hidup tersebut?

"B-berarti... Keluargaku-"

"Ya, mereka dibantai oleh sekelompok perampok."

Aku membelalakkan mataku kembali, walaupun sebenarnya bukan itu yan ingin aku tanyakan.

"M-maksudku... Margaku..." Aku mulai bertanya. Rasa penasaran, marah, sedih, dan cemas.

"Oh iya... Tapi bisakah kau bantu aku mencari tahu siapa namaku? Nanti kau akan kuberitahu margamu." Kata gadis itu dengan wajah serius bercampur dengan memohon. Aku pun mulai bimbang. Di antara penasaran dengan apa yang terjadi dengan keluargaku dan penasaran kalau hal ini benar-benar nyata. Karena termakan oleh rasa penasaranku tentang keluargaku, aku pun langsung meneriwa permintaan dari gadis bersayap tersebut.

"Dulu, orang-orang memanggilku dengan panggilan 'feel my feeling I feeled'..."

Aku mengerenyitkan alisku. Nama yang sangat aneh...

"... Tapi kata kedua orang tuaku, namaku sebenarnya sangat pendek. Bisakah kau mencari tahu nama asliku?" Tanya gadis bersayap itu. Aku pun memasang pose berpikir sebentar, lalu mengangguk pelan. Firasatku bilang bahwa ini akan sangat memakan waktu.

"Arigatou gozaimasu!" Gadis bersayap itupun menundukkan kepalanya sambil tersenyum. Tiba-tiba goncangan hebat mendatangi tanah yang sedang kupijak. Otomatis aku dan gadis bersayap itupun langsung mengendalikan keseimbangan tubuh kami masing-masing.

"Hei! Apa yang terjadi?!" Tanyaku panik.

"Ti-tidak tahu... Hal ini belum pernah terjadi!" Jawabnya tak kalah panik dariku.

"Kau datang dari alam lain kah?!" Tanyanya panik. Bersamaan dengan pertanyaannya, goncangan tersebut semakin besar sehingga membuatku kehilangan keseimbanganku.

"Bisa dibilang begitu!" Jawabku setengah berteriak.

"Kau datang ke sini dalam keadaan tak sadar di sana?!" Tanyanya lagi. Aku hanya membalas dengan anggukan.

"Bisa jadi seseorang ingin membangunkan-"

KREK! KRAAAAAKKKK!

Tiba-tiba tanah tempatku terjatuh langsung ambles sehingga aku pun langsung terjatuh ke dalam lubang tersebut.

"TOLOOOOOOOOONG!"

Aku terus berteiak, walaupun rasanya tidak mungkin dia akan menolongku.

To Be Continued...

-OoO-

A/N :

Akhirnya update juga fic ini... Asli, saya harus putar otak biar misteri sama fantasinya kerasa dua-duanya.

Jadi, bagaimanakah chapter ini? Jelekkah? Atau bagus? Silahkan utarakan pemikiran kalian di kotak review terdekat!

Oh ya, ada yang mau nebak siapa identitas sang gadis bersayap itu? Oke, saya kasih clue-nya ya!

Clue : Feel my feeling I feeled

Itulah clue yang bisa saya kasih saat ini. Bagi yang suah read, budayakan review ya!

Mind to Review?