.
This is SASUHINA story with slight NARUHINA!
.
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
I own nothing but the storyline neither I earn anything from this story.
Alternative universe, out of character, grammatical and typos ARE WARNED!
.
.
.
.
"Berapa lama mereka akan menetap disini, Kak?" tanya Hinata selagi menapakkan langkahnya mengikuti Neji, membawa tubuh mereka menuju ruang singasana. Merupakan sesuatu yang diluar batasannya untuk mengimbangi langkah cepat Neji, Hinata perlu bergegas mengikuti di belakangnya.
"Tiga bulan, mungkin? Kita perlu menunggu kehadiran seluruh perwakilan dari tujuh kerajaan. Termasuk juga untuk mendapat persetujuan dari masing-masing pihak. Prosesnya akan sangat panjang dan menjemukan," Neji mengambil nafas setelah jawaban panjang yang ia utarakan penuh degan nada jengkelnya, "tapi semua akan baik-baik saja, kunjungan mereka kemari bisa dipersingkat jika perundingan ini berjalan mulus tanpa ada adu kepala," lanjutnya tanpa sedikitpun memperlambat lanagkah. "Pertama-tama yang kita perlukan adalah kehadiran Raja dan Pangeran Uzumaki."
"Demi Tuhan, aku harap mereka tak akan pernah tiba," air wajah Hinata mendadak berubah mendengar dua kata terakhir yang Neji ucapkan.
Neji memperlambat langkahnya dan memutar kepala untuk melihat wajah jengkel Hinata. "Begitu bencinya kau terhadap calon suamimu? Apa yang menjadi masalah? Kau benar-benar terlihat tidak menginginkan pertemuan dengan tunanganmu itu."
"Jangan berpura-pura tidak mengetahuinya, Kak. Kau jelas menyadari kenyataan bahwa aku memang tak tertarik kepada pria itu."
Membebaskan tawa kecilnya, pandangan Neji kembali lurus mengikuti lorong utama sebelum memasuki ruang singasana, tak menghiraukan bungkukan pelayan dan pengawal yang sepanjang jalan dilewatinya.
"Kau tetap berkewajiban untuk menuruti aturan. Kau harus tetap menghormatinya saat mereka disini. Jangan membuat ayah kecewa," gumam Neji tanpa melirik ke lawan bicaranya.
"Itulah intinya. Kau tahu aku tak mernah melakukan apapun yang tidak boleh aku lakukan."
Mereka berhenti tepat di hadapan dua pintu kembar super besar dan tinggi dengan berbagai lekak-lekuk ukiran terpatri. Neji berbalik menghadap Hinata dan menaruh kedua telapak tangannya di bahu Sang Adik sebelum mendaratkan bibirnya tepat di kening Hinata.
"Jangan merisaukan hal ini. Aku akan memastikan Naruto memperlakukanmu dengan baik. Aku juga akan mengawasimu, memastikanmu dalam keadaan yang baik sampai pernikahanmu nanti."
Hinata menghembuskan napas panjang namun pelan dan menganggukkan kepala. Dalam hatinya, ia meragukan perkataan Neji, ia tak yakin kakaknya itu akan benar-benar masuk dalam urusan pernikahannya. Semua hal yang Neji ketahui adalah tentang kerajaan, kepemimpinan dan kekuasaan untuk memegang kendali militer mereka. "Aku memang tidak memiliki pilihan lain, kan?"
"Hampir seluruh bangsawan seperti kita terlahir tanpa pilihan. Kita hanya berhak atas apa yang kita terima," Neji menyeringai, tangannya perlahan mengangkat dagu Hinata. "Tetaplah terlihat berwibawa meskipun kau seorang wanita, kita akan menghadapi musuh kita."
Hinata tak pernah mengerti mengapa kerajaan Miroku akhirnya memutuskan untuk meluruskan perselisihan dengan kerajaannya. Namun Neji sendiri terlihat tak terlalu mendukung pemikiran tentang kerjasama yang akan terjadi antara dua kerajaan ini. Meskipun begitu, Hinata tetap memiliki harapan agar kedua kerajaan ini dapat meluruskan hubungannya dan memberikan kedamaian kepada masing-masing pihak.
Saat pengawal membuka pintu besar itu, Hinata dengan jelas dapat melihat jajaran kursi di seberang sana. Hampir semua kursi terisi oleh menteri-menteri dengan Raja dan Ratu menduduki singasana yang tepat berada di tengah-tengah jajaran itu. Hanya dua kursi kosong, keduanya mengapit singasana Raja dan Ratu, milik Neji dan Hinata.
"Putra dan Putriku," Sang Ratu berdiri, membuka kedua tangannya dan berjalan meraih Neji terlebih dahulu yang memang berdiri beberapa langkah dari Hinata.
"Ibu," Neji memberikan kecupan ringan di pipi wanita paruh baya itu sebelum mengambil posisinya di samping kanan Raja sedangkan Ratu kini menyambut Hinata dan memberinya ciuman di pipi bersama pelukannya.
"Kau terlihat pucat, Sayang. Kau yakin baik-baik saja?"
Hinata memberi anggukan pelan dilanjutkan senyuman kecil, "Aku baik-baik saja, Ibu," lanjutnya sambil melepaskan pelukan Sang Ibu. Hinata mengirim tatapan hormat dan sedikit menundukkan kepalanya kepada Raja sebelum bergerak ke tempatnya di samping singasana Sang Ibu.
"Ayah, jika semua ini tak berjalan sesuai rencana, jangan katakan aku tak pernah memperingatkanmu," Neji berkata kepada Raja dengan rahang menguat.
"Putraku, aku memang mendengar bahwa Raja mereka masih sangat muda. Namun aku yakin ia memiliki pemikiran cukup dewasa untuk tak bermain-main dengan kita," jawab Sang Ayah dengan wibawa dan keyakinan penuh dalam suaranya.
Hinata mengetahui benar bagaimana sifat ayahnya. Seperti Neji, ia tahu ayahnya tak terlalu menyukai ide perdamaian ini, namun Hinata tak pernah menyuarakan apa-apa tentang hal itu. Seperti yang mereka katakan, politik bukanlah altar untuk kakinya jejaki. Hinata memikirkan tentang perseteruan Miroku dengan Hyuuga, setelah sekian lama kebencian tanpa keuntungan itu berlangsung, akhirnya seseorang berdiri melakukan hal yang benar untuk menghapuskannya.
Neji mengangkat tangan dan menyapukan jari-jari ke sela rambutnya, "aku penasaran pemimpin seperti apa dia?"
Tak lama setelah itu, pintu kembali terbuka, suara terompet kembali terdengar menyambut hadirnya rombongan dengan wajah baru. Para menteri dan kepala pengawal bangkit dan melakukan kontak antara lutut kiri dengan lantai ruangan, kepala mereka tertunduk memberi penghormatan. Neji dan Hinata hanya berdiri dari singasananya sedangkan Raja dan Ratu masih dalam posisi yang sama.
Tiga orang berada di paling depan memimpin orang-orang di belakangnya dan Hinata cukup terkejut melihat sesosok wanita dengan kostum pengelana yang elegan, yang Hinata pikir merupakan pemimpin mereka, berdiri diantara dua orang. Hinata pernah mendengar bahwa Raja Miroku yang baru merupakan seorang wanita, namun yang membuatnya tercengang adalah bahwa Sang Raja—Ratu—terlihat masih sangat belia, bahkan mungkin lebih muda dari kakaknya.
Sang Ratu terlihat begitu berwibawa namun tak melepaskan sisi feminimnya sebagai seorang wanita. Hinata mempertanyakan bagaimana pemimpin sepertinya dapat menjadi pemimpin yang disegani? Namun sekali lagi, Hinata mengetahuinya dengan pasti, bahwa tak ada seorangpun yang berhak menilai seorang hanya dengan tiga detik tatapan.
Ratu Miroku diikuti beberapa pengawal di belakangnya dan dua orang di sisi kanan kirinya. Kedua orang yang ada di sisi-sisinya mengenakan kostum yang agak berbeda dengan yang lainnya, Hinata menebak mereka adalah pemimpin pasukannya. Keduanya berseragam lengkap, salah satu dari mereka juga terlihat masih muda, namun ialah yang memiliki mata paling tajam.
"Yang Mulia," sapa Ratu Miroku setelah berhenti di hadapan Raja dan Ratu Hyuuga. Ia perlahan membungkukkan sedikit badannya dan menundukkan kepalanya diikuti dengan gerakan orang-orang di belakangnya yang segera memberi hormat dengan cara yang sama seperti para menteri Hyuuga memberi penghormatan atas kedatangan mereka.
"Tegakkan tubuhmu, Ratu dari Miroku," balas ayah Hinata dengan suara penuh harga diri.
"Cukup memanggilku Shion, Yang Mulia," Shion kembali pada postur tegapnya. Setelah itu seua pengikutnya bersama dengan menteri Hyuuga kembali berdiri.
"Memang benar. Namun kau seorang pemimpin, itu artinya kau harus bertingkah seperti seharusnya pemimpin bertingkah, apa aku salah? Aku yakin ayahmu mengajari hal itu."
Hinata menyadari genggaman salah satu pengawal Ratu Shion, salah satu yang terlihat lebih muda itu, menguat di pangkal pedang yang ia gantungkan di sisi tubuhnya meski dengan kepala masih tertunduk saat Sang Ayah mengatakan hal itu. Hinata yakin, jika saja pedang itu terbuat dari kaca, tak perlu waktu lama untuk tangan besar pria itu menghancurkannya.
"Ayahku telah mengajarkanku untuk menghormati yang lebih tua, Yang Mulia," jawab Ratu Shion tenang dengan senyum kecilnya.
"Bisa kulihat hal itu," Sang Raja mengangguk. "Ini putraku Neji dan putriku Hinata."
Shion memberikan gerakan menunduk pelan terhadap keduanya. Neji masih dalam posisinya, berdiri dengan dagu yang masih terangkat sedangkan Hinata membalas Shion dengan membungkukkan tubuhnya.
"Perkenalkan panglima dari Miroku, Juugo Tenbin dan Sasuke Uchiha," ujarnya dengan penjelasan menengokkan kepalanya pelan ke kanan dan ke kiri saat memperkenalkan keduanya.
Panglima muda yang berada di sisi kanan Shion yang telah diperkenalkan sebagai Sasuke mengangkat kepalanya sedikit dan mengirim tatapan terhadap Raja dan Ratu Hyuuga sebelum melempar tatapan ke arah Hinata. Hinata yang sejak tadi memang diam-diam menelitinya terkejut dengan pertemuan mata mereka, dengan cepat Hinata menggerakkan otot bola matanya sehingga pandangannya turun ke lantai.
"Bisa kulihat kau membawa pasukanmu," Neji tiba-tiba menyela dengan nada bicara alakadarnya, kakinya melangkah turun dari altar singasana mendekati Shion.
Tak seincipun kaki Shion mencoba bergerak menjauh, "prinsip pencegahan selalu berlaku, bukan begitu?" senyumnya.
"Jadi dari awal kau meragukan kesuksesan perundingan ini?" Neji kembali mengambil langkah mendekat, namun Sasuke maju menghalanginya sebelum Neji benar-benar meraih Sang Ratu.
"Sasuke, mundurlah," titah Shion dengan tatapan mata masih beradu dengan mata Neji.
Mematuhi perintah Sang Ratu, Sasuke mengurungkan apapun niatannya melangkah maju dan kembali ke posisinya semula.
"Aku datang kemari untuk alasan perdamaian," ucapan Shion begitu jelas dan cukup untuk didengar seluruh pasang telinga di ruangan itu. "Percayalah, hanya itu alasanku. Orang-orang yang memiliki pemikiran sebaliknya lebih baik menahan diri selama mengikuti prosesnya."
Hinata menyadari rahang kakaknya yang mengencang dan kepalannya yang ia simpan di sisi tubuhnya menguat, mungkin menahan emosi.
"Neji, cukup," suara Sang Ayah menghancurkan suasana dingin yang kedua bangsawan itu ciptakan, "Ratu Shion dan pasukannya adalah tamu kita sekarang," Raja bangkit dari singasananya. "Pelayanku akan menyediakan semua yang kau perlukan disini. Aku juga memastikan pasukanmu mendapat tempat tinggal yang layak. Beristirahatlah, dan pastikan kau hadir dalam jamuan makan malam sebelum perundingan."
"Terima kasih, Yang Mulia," Shion memberi penghormatan terakhir sebelum berbalik melangkah keluar dari ruangan itu. Kedua panglima Miroku mulai mengikuti gerakan Ratu mereka.
"Wow," suara Neji menghentikan mereka bahkan sebelum mereka benar-benar mengambil langkah, "kau benar-benar masih sangat muda untuk menjadi panglima, aku terkesan," ucapan Neji sangat jelas menjurus kepada Sasuke, seringaian menghiasi wajah bangsawannya. Meskipun ia mengatakannya, namun tak sedikitpun nada terkesan terdengar pada kalimatnya.
"Neji, kubilang cukup!" potong ayahnya.
Neji mengangguk, ia mengambil satu detik waktunya untuk menatap Shion sebelum kembali memandang Sasuke, "kau sebaiknya terus memasang mata pada Ratumu."
"Aku masih lebih dari sanggup untuk melindungi diriku sendiri, Pangeran Neji," Shion menyerongkan tubuhnya sehingga putaran kepalanya cukup untuk menangkap sosok Neji.
"Aku hanya memberi saran, Yang Mulia."
Dengan itu, Shion kembali melanjutkan langkahnya keluar ruangan. Hinata diam berdiri melihat kerumunan Miroku mulai bergerak mengikuti Ratunya. Matanya kembali mengintai, mencuri gambaran Sasuke yang lagi-lagi, secara kebetulan kembali melemparnya tatapan tajam, membuat Hinata terkejut dalam diamnya.
"Apa kau pikir mengancam tamu seperti itu adalah tindakan yang bijak?" Hinata mulai bersuara saat ruangan itu hanya terisi oleh keluarga kerajaan Hyuuga.
"Tamu? Mereka musuh kita, Hinata. Dan bocah Shion itu, ya Tuhan, apa kau benar-benar berpikir dia cocok menjadi seorang Ratu?" balas Neji.
"Dalam menghadapi sesuatu terkadang berpikir lebih dibutuhkan ketimbang terus berbicara."
"Dengar, semua ini bukanlah apa-apa kecuali sebuah permainan. Tak sedikitpun aku dapat menerawang kesuksesan atas perundingan dengannya," nada bicara Neji mulai diselimuti keseriusan yang kental.
"Hinata, diamlah," potong Sang Ayah. "Kakakmu tahu betul apa yang ia lakukan. Kembali ke kamarmu. Raja dan Pangeran Uzumaki akan tiba sebentar lagi, aku tidak ingin kau mencampuri politik untuk beberapa waktu ini."
Hinata tertunduk, ia menggertakkan giginya saat mengangguk mengiyakan perkataan Sang Ayah, " Baik, Ayah."
Hyuuga juga merupakan kerajaannya, rumahnya. Namun tidak, disini, ia ada hanya untuk dijual kepada raja lain.
..
...
..
"Juugo, apa kau mendengarnya tadi? Kau benar-benar harus melihatnya, Kiba!" Sasuke mengumpat di hadapan teman-temannya, tangannya melempar belati dengan keras membuatnya jatuh dan menancap di tanah tepat disamping kaki Kiruma, mengakibatkan kuda itu berjingkrak terkejut
"Tenanglah," ucap Juugo tanpa mengambil gerakan menenangkan sebelum akhirnya menghilang di tengah kerumunan prajurit yang datang bersamanya.
"Kau bertemu dengan Pangeran?" Kiba bertanya sambil mengikat kudanya pada tiang yang telah disediakan di kandang yang telah Hyuuga sediakan untuk kuda-kuda para Miroku.
"Oh, tentu saja. Sunggu, dia babi terangkuh yang pernah kutemui," Sasuke menyerahkan tali kendali Kiruma kepada pengurus kuda sebelum menghadap Kiba.
"Apa dia salah satu lelaki dengan penyakit obesitas?" tanya Kiba.
"Uhh... tidak, sama sekali tidak. Dia... rata-rata," Sasuke menyilangkan kedua lengannya di atas dada dengan tatapan mata jauh menembus udara Hyuuga.
"Dan kini kau memanggilnya babi?"
Sasuke tak menjawab, pandangannya tak melepas langit tanpa awan di atasnya. Sangat biru, seakan dengan menatapnya cukup untuk memberinya rasa kenyang untuk hidup selamanya. Meskipun pertemuan dengan putra sulung Hyuuga tak membekaskan kesan baik terhadapnya, namun hatinya bekerja diluar normal mengingat sosok putri yang mereka miliki.
"Bagaimana mereka?" suara Kiba membawanya kembali menjejak bumi menghadapi situasi nyata. Sasuke menggeleng sebagai awal respon.
"Maksudmu keluarga kerajaan ini? Dengan Si Keras Kepala itu, aku yakin ini semua tidak akan mudah," jawabnya. Meskipun terdengar nada jengkel pada jawabannya tentang keluarga kerajaan, Sasuke menaruh sedikit rasa penasaran terhadap Purti Hyuuga. Sesuatu dalam dirinya meyakinkan bahwa gadis itu terlihat memiliki sifat yang berbeda dengan kakaknya.
"Sasuke!" panggilan Juugo memaksa Sasuke dan Kiba mengakhiri obrolan mereka. " Berikan perintah untuk membawa masuk dan mengatur barang-barang bawaan kita di ruangan yang telah disediakan, kemudian pastikan Ratu Shion benar-benar diperlakukan sebagaimana mestinya disini."
"Baiklah."
"Kalian harus ingat satu hal," suara Juugo kini tak hanya keluar untuk Sasuke dengar, namun untuk seluruh pasukan Miroku disana. "Kita berada di teritorial musuh. Meskipun Ratu tak memberi perintah untuk berjaga, kita harus tetap memberikan perhatian penuh. Cukup jelas?!"
..
to be continued...
..
Throwing a very big thank you for those whose reading, reviewing, favorite-ing or following this story. It's beyond my expectation really hheheyyy
How's this chapter? Your reviews, critics, suggests are (still and always) gladly welcomed.
Thanks and see ya in next chapter...
