Hola Minna…

Semoga gak ada bosennya ya dengan fic saya yang gaje, ancur, berantakan, gak beres dan sebagainya ini. Sekali lagi maaf malah bikin fic baru, saya lagi kena WB dadakan. Gak ada imajinasi sama sekali buat nerusin fic yang ada. Kayaknya butuh Spongebob nih!

.

DISCLAIMER : TITE KUBO

.

RATE : T

.

Series From the 'Blind Heart'

.

WARNING : OOCness(parah, banget, kelewatan, gak ketolongan), AU, Misstypo(eksis mulu, gak mau absen!), Gaje, Ide pasaran, Mudah ketebak, Membosankan!

.

Attention : Fic ini hanyalah fiksi belaka, apalagi terdapat kesamaan di dalam fic ini di fic lain atau cerita lain dalam bentuk apapun, itu sama sekali tidak disengaja. Mohon maaf kalau terjadi kekeliruan dalam pembuatan fic ini. Semua yang ada di sini cuma fiksi yang iseng.

.

.

.

Di padang rumput yang luas itu, ada sosok Kaien yang menatap lembut ke arah Rukia. Tersenyum ramah seperti biasa dalam ingatan Rukia. Kedua tangan Kaien terjulur ke depan seperti ingin memeluk. Wajahnya terlihat damai dan begitu bahagia.

Tapi entah kenapa kaki Rukia melangkah begitu ragu ke sana.

Karena Rukia begitu lama memperhatikan wajah Kaien yang tampak bahagia itu, perlahan-lahan, kedua tangan Kaien turun ke bawah dan senyum bahagianya memudar. Wajahnya berganti menjadi sendu sekali. Matanya terlihat sedih memandang ke arah Rukia. Seolah-olah dia telah tersakiti. Tapi kemudian, di balik wajah sedihnya itu, bibirnya tetap tersenyum lembut.

"Aku tetap bahagia dengan semua pilihanmu. Karena itu, jangan meragukan perasaan seseorang yang selalu setia mencintaimu."

Rukia diam.

"Tapi… aku mencintai Kaien-Nii… dan Kaien-Nii juga mencintaiku… kan?" tanya Rukia ragu.

"Takdir sudah merubah semuanya. Kau akan menyadari satu hal penting yang selama ini tertutup rapat. Perlahan-lahan… dia akan menunjukkan semuanya padamu. Jadi kau harus menyadarinya. Terutama perasaanmu sendiri."

Rukia tak percaya dirinya bercakap-cakap seperti ini dengan sosok Kaien.

Tiba-tiba langit berwarna gelap. Sosok Kaien menghilang. Rukia terkejut. Dia tidak pernah menyukai suasana gelap ini. Rukia tidak suka!

Begitu berbalik, Rukia terkejut karena menemukan seseorang berdiri membelakanginya. Seseorang yang hanya disinari oleh cahaya putih. Rukia mengenali warna rambutnya yang mencolok itu.

"Ichigo?" gumam Rukia.

Perlahan sosok yang dikenalinya sebagai Ichigo itu berbalik. Tapi wajahnya menangis. Dia terlihat sedih dan terluka ketika berhadapan dengan Rukia. Walaupun begitu, dirinya tetap tersenyum seperti orang bodoh. Wajah bodoh yang selalu ditunjukkannya pada Rukia ketika Rukia sedih akan sesuatu dan takut akan phobia-nya.

"Ichigo…?" panggil Rukia lagi.

Kaki mungilnya tidak ragu untuk mendekat ke arah Ichigo. Dia berjalan pelan mencoba mendekati sosok yang terlihat menyedihkan itu.

"Aku akan melakukan semuanya untukmu."

Setelah mengatakan hal itu, Ichigo kemudian tiba-tiba menghilang.

Suasana seram itu berganti dengan kegelapan yang kini dilihat Rukia. Berapa kali pun matanya berusaha terbuka, kegelapan itu tetap ada dan tidak segera pergi.

"PERGI! PERGI! PERGI!" pekik Rukia seraya menghentak-hentakkan tangannya ke sisi kasurnya. Matanya sudah basah. Dirinya menangis.

"Rukia? Rukia?!"

Rukia merasa seseorang memeluknya dengan erat. Mengelus puncak kepalanya mencoba menenangkannya. Tapi Rukia tetap menangis tersedu-sedu.

Dirinya baru menyadari bahwa selama ini… dirinya sudah buta.

Meskipun sudah lama dia menyadarinya, tapi kali ini Rukia seakan tidak terima dengan keadaannya, apalagi setelah mimpi yang dilaluinya tadi. Begitu sulit menjadi orang yang tegar dengan keterbatasan yang dimilikinya.

"Ada apa Rukia? Kau bermimpi buruk?" suara pelan itu terdengar juga ke telinganya.

Rukia kemudian berhenti menangis. Mengeratkan pelukan yang diterimanya itu dan mengaitkan kedua tangannya melingkar di pinggang seseorang yang memeluknya kini. Menyandarkan kepalanya di dada hangatnya. Setelah berusaha menenangkan diri, sekarang dirinya sudah merasa lebih baik. Pelukan inilah yang menenangkannya.

"Rukia?"

"Aku… sudah tidak apa-apa Kaien-Nii…"

"Apapun yang kau mimpikan, aku janji tidak akan kau ingat lagi. Karena itu, kau jangan takut lagi. Kau sudah lebih baik?"

Rukia mengangguk dalam pelukan hangat itu. Pelukan ini jauh lebih hangat dari biasanya.

"Kalau begitu, aku akan minta Yuzu menemanimu membersihkan diri. Kaa-chan dan Oyaji sudah menunggu di bawah untuk sarapan bersama."

Rukia kembali mengangguk. Setelah berkata demikian, sosok yang dikenalinya sebagai Kaien ini, melepaskan pelukannya lalu mengusap pipinya yang basah karena air mata. Tak lama kemudian, Rukia mendengar suara pintu yang terbuka dan tertutup.

Menjadi lemah di saat seperti ini memang paling dibenci Rukia.

Dia merasa jadi beban dan pengecut.

Benar-benar menyebalkan.

.

.

*KIN*

.

.

Yuzu membantu Rukia untuk memudahkannya dalam membersihkan diri. Yah seperti mandi dan berganti pakaian. Sebelum ini, terkadang Masaki juga sering membantu Rukia selama Rukia berada di rumah sakit. Kalau tidak ada yang sempat, biasanya memang perawat wanita di sana. Rukia memang tidak punya keluarga lain selain kakak kandungnya yang sering sibuk itu. Untungnya Rukia mengenal baik keluarga Kurosaki yang selalu membantunya kapan saja itu. Rukia jadi merasa tidak benar-benar sendirian.

"Onii-chan! Rukia-chan sudah siap!" pekik Yuzu seraya menuntun Rukia untuk melewati anak-anak tangga itu. Sebenarnya bisa saja Rukia ditempatkan di kamar Yuzu atau Karin di lantai bawah, tapi Rukia tidak keberatan jika dia tinggal sementara di kamar itu. Lagipula, menurut Ichigo, mungkin saja mendiang Kaien akan senang kalau gadis yang seharusnya menjadi calon tunangannya itu menempati kamarnya.

"Maaf Yuzu, jadi merepotkanmu," ujar Rukia.

"Tidak apa-apa. Lagipula aku tidak begitu repot. Aku terbiasa bangun pagi dan membantu Kaa-chan menyiapkan semuanya. Jadi tugas pagiku tidak begitu banyak," jelas Yuzu dengan suara riang.

Memang Rukia terbiasa akrab dengan Yuzu. Mereka seperti sepasang sahabat karib saja.

Begitu tiba di lantai bawah, Karin tiba-tiba muncul dari arah pintu ruang keluarga.

"Aku duluan, Yuzu," kata Karin sambil lalu.

"Mou! Karin-chan! Tunggu sebentar!" rengek Yuzu.

Mendengar kata-kata itu, Rukia merasa sedikit tidak enak. Apakah Karin bermaksud meninggalkannya karena Yuzu membantu Rukia tadi? Karena lama jadi Karin mau meninggalkan Yuzu? Apa mereka sudah terlambat—

"Oh, terima kasih Yuzu, sudah membantu Rukia."

"Onii-chan! Kalau begitu jaga Rukia baik-baik ya, aku berangkat dulu. Sepertinya Karin sudah benar-benar duluan."

"Kalau begitu hati-hati."

Rukia merasa sebelah tangannya yang dituntun oleh Yuzu itu terlepas perlahan dan berganti dengan sebuah tangan besar yang menggenggam tangan mungil Rukia. Tangan itu begitu hangat dan membuat Rukia merasa nyaman sekali.

"Kau mau sarapan dulu?" tanyanya ramah.

"Kaien-Nii bisa terlambat bekerja juga kalau ikut menungguku makan," ujar Rukia tak enak.

"Tidak apa-apa. Ayo, Kaa-chan sudah menunggu."

Sungguh Rukia mulai merasa tak enak sekarang. Sebelumnya, keluarga Kurosaki sudah kerepotan dengan dirinya di rumah sakit beberapa waktu lalu. Dan itu tidak sebentar. Sekarang pun Rukia merasa dirinya bertambah merepotkan dengan kekurangannya ini. Keluarga ini terlalu baik untuknya. Ditambah lagi dirinya begitu egois ingin berada di dekat tunangannya selama mungkin yang dia bisa. Bagaimana sekarang ini…

Begitu tiba di ruang makan, Ichigo atau Kaien yang dikenal Rukia sekarang, mendudukkan tubuh mungilnya di atas sebuah kursi. Sepertinya ini kursi makan. Mendorongnya pelan dan mulai memperkenalkan apa saja sarapan yang ada di atas meja ini. Masaki juga ikut merekomendasikan masakannya.

Ichigo menggenggamkan sebuah sendok di tangan kanan Rukia dan mendekatkan mangkuk nasi yang mudah dijangkau oleh Rukia juga. Ichigo bahkan memilihkan lauk yang kira-kira disukai Rukia.

Lama sekali Rukia diam dalam posisi memegang sendoknya itu. Perasaan tak enak ini membuatnya merasa bersalah sekali. Padahal keluarga Kurosaki bukan siapa-siapanya. Tapi dia begini lancing membuat mereka repot dan menyebabkannya—

"Rukia? Kenapa tidak dimakan? Ada yang salah?"

Saat di rumah sakit, bergantian Masaki dan Yuzu yang menyuapkannya makan karena penglihatan yang terganggu ini. Sering juga ketika Byakuya pulang dari kantor dia akan melihat adiknya dan menyuapinya juga. Karena Ichigo tidak bisa sering-sering datang. Walaupun menurut Rukia, sosok tunangannya itu selalu ada di sisinya setiap kali dirinya membutuhkannya.

"Oh, aku… sebenarnya…"

"Mau kusuapi?"

"Tidak apa-apa, Kaien-Nii, aku bisa sendiri kok."

Rukia bermaksud menyendokkan nasi ke mangkuknya. Dia memang berhasil menyendok mangkuknya, tapi tangannya menyenggol gelas yang berada di dekatnya. Akibatnya Rukia mendengar suara pecahan di bawah kakinya.

"Rukia, kau tidak apa-apa? Kau melamun," ujar Ichigo. Sambil memeriksa kaki Rukia yang berada di bawah meja makan itu.

"Tidak apa-apa. Bawa saja Rukia ke tempat lain. Biar Kaa-chan yang membereskannya."

Ichigo kembali menuntun Rukia ke tempat lain.

Ichigo merasa ada yang aneh dengan Rukia hari ini. Entah kenapa sepertinya sikap Rukia sedikit aneh dari biasanya. Dia juga terlihat agak pendiam. Apakah soal mimpinya tadi? Kalau benar begitu… apakah mimpinya benar-benar buruk sekali?

Mereka tiba di ruang keluarga. Ichigo pelan-pelan mendudukkan Rukia di sofa. Ichigo juga sudah mengambilkan kembali sarapan Rukia untuk segera dimakan gadis cantik ini.

"Ada apa? Kau terlihat aneh, Rukia."

"Kaien-Nii… kenapa aku merasa… kalau aku… membuat keluargamu repot?"

Ichigo terbelalak mendengar kata-kata itu. Jadi bukan mimpi tadi yang membuat Rukia begini aneh.

"Siapa yang mengatakan itu?"

"Aku hanya merasa saja. Karena kekuranganku ini aku jadi—"

Ichigo menggenggam erat kedua telapak tangan Rukia yang berada di pangkuannya. Mencoba menatap lembut ke arah gadis berambut sehitam malam ini, meski kedua ungu kelabu itu tidak bisa melihatnya sekarang.

"Tidak ada yang kerepotan Rukia. Kalau pun ada, mereka pasti sudah lama meninggalkanmu sendiri kan? Semuanya membantumu karena mereka senang. Bukankah Kaa-chan sudah mengatakannya kalau kau sekarang juga bagian dari keluarga ini? Dalam satu keluarga, harus saling tolong menolong kan? Jangan berpikiran sempit begitu. Kau sama sekali tidak merepotkan. Justru kami senang bisa membantumu kapan saja."

Kata-kata itu begitu menenangkan untuk Rukia. Dirinya merasa lega bukan main. Memang seperti inilah sosok tunangan yang dikenalnya itu.

"Terima kasih, Kaien-Nii."

"Kalau kau ingin berterima kasih sekarang, ayo sarapan dulu. Buka mulutmu."

Tanpa sungkan dan ragu lagi, Rukia membuka lebar mulutnya membiarkan Ichigo menyuapkan satu sendok nasi penuh ke dalam mulutnya.

"Bagaimana rasanya?" tanya Ichigo penasaran.

Rukia menyudahi satu suapan itu. Setelah menelannya dengan sempurna, senyum mengembang di wajahnya.

"Sangat enak. Jauh berbeda dari makanan di rumah sakit," jawab Rukia dengan nada riang.

"Tentu saja, masakan Kaa-chan kan nomor satu!"

Rukia terdiam sejenak.

Kenapa ingatannya berputar saat duduk di bangku SD dulu?

Saat itu Ichigo dan Rukia saling membuka bekal bersama karena mereka sering satu kelas. Sialnya Kaien yang lebih tua dari mereka memang selalu berlainan kelas. Rukia membawa bekal yang dimasakan oleh pembantu rumah mereka. Sedangkan Ichigo dengan masakan khas rumahan yang dibuat oleh ibunya.

Rukia begitu cemberut saat melihat kotak bekal Ichigo yang disusun begitu indah dan rapi dengan desain kartun yang sangat lucu. Meskipun masakannya sederhana, tapi tetap saja kelihatannya indah. Jauh berbeda dari Rukia yang masakannya terlihat mahal dan mewah tapi susunannya biasa saja.

"Kau mau mencoba masakan ibuku?" tawar Ichigo saat itu sambil menyodorkan kotak bekalnya.

"Boleh?" tanya Rukia.

"Tentu saja. Kau boleh makan semuanya kalau mau. Nanti aku akan meminta Kaa-chan membuatnya lagi."

Tentu saja mata besar Rukia berbinar cerah mendapati sekotak penuh bekal lucu itu untuknya. Tanpa ragu, dia langsung melahap masakan rumahan itu.

"Bagaimana?" tanya Ichigo kecil dengan raut wajah penasaran.

"Enak sekali!"

"Tentu saja, masakan Kaa-chan kan nomor satu!"

Memang mereka mengenal sejak lahir, tapi kalau sudah menyangkut tentang ibu dan masakannya, sikap Ichigo memang berubah lain daripada biasanya.

Benarkah suara ini… suara…

"Rukia? Kau melamun lagi? Kenapa? Tidak enak?"

Rukia kembali tersadar dari lamunannya. Astaga, ingatannya benar-benar payah di saat seperti ini.

"Tidak. Aku hanya terlalu senang saat ini. Bersama Kaien-Nii yang aku sukai."

Pedih memang.

Melihat gadis yang kau cintai begitu senang bersama orang yang dia cintai dan bukan dirimu. Tapi kau tepat berdiri di hadapannya tanpa pernah mengakui apapun. Dan kau menipunya dengan senyum polos itu demi kebahagiaannya.

"Aku juga."

.

.

*KIN*

.

.

"Halo—"

"Kau lambat sekali bodoh! Aku sudah menunggu setengah jam lebih! Untung saja Karin sedang tidak memerlukan ponselnya!"

Ichigo terkejut karena telponnya diangkat persis pada deringan pertama.

Ini sudah berlalu tiga hari sejak Rukia berada di kediaman Kurosaki. Byakuya sering berkunjung. Dia datang pada siang hari pada jam istirahat kantor dan pada saat pulang kantor. Byakuya memang tidak bisa merawat adiknya secara rutin di rumah karena tumpukan pekerjaan yang tak pernah usai. Tapi Rukia tahu kalau kakaknya sangat mengkhawatirkan dan menyayanginya. Meskipun begitu, Masaki dan Isshin selalu memberikan pengertian kalau Byakuya tidak seharusnya merasa sungkan dengan orang yang sudah dikenalnya sejak kecil. Mereka selalu menganggap Rukia maupun Byakuya keluarga, jadi sudah seharusnya Byakuya seperti itu juga pada keluarga Kurosaki.

Dan selama ini, Ichigo berusaha semaksimal mungkin menjadi Kaien dan Ichigo dalam waktu bersamaan demi Rukia. Pagi hingga sore hari menjelang Rukia tidur, Ichigo berada dalam posisi Kaien. Dan malam hari, Ichigo kembali menjadi dirinya sendiri, di dalam ponsel. Karin sudah diminta Rukia untuk mengajarinya mengangkat ponselnya karena Ichigo sudah janji akan menghubunginya setiap malam.

Sebenarnya Rukia memang punya ponsel, tapi sejak kecelakaan itu, ponselnya jadi rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi. Byakuya sudah menyarankan agar Rukia juga diberi ponsel. Tapi Rukia menolaknya. Karena untuk saat ini, Rukia tidak begitu memerlukan ponsel. Apalagi kenyataan kalau dirinya yang buta ini tidak mungkin bisa menggunakan ponsel lagi.

Ichigo tersenyum tipis mendengarkan setiap ocehan yang dilontarkan oleh Rukia. Ichigo senang gadis cantik-nya sudah kembali ceria seperti biasa. Rukia banyak bercerita tentang dirinya dan Kaien selama berada di rumah Kurosaki. Rukia berkata, kalau Kaien sering membawakannya bunga mawar putih kesukaan ketika pulang bekerja. Menyuapinya makan. Mengajaknya berjalan-jalan menikmati sore hari di sekitar taman dan membacakannya buku novel yang disukai oleh Rukia.

Tidakkah Rukia tahu kalau semua yang 'Kaien-nya' lakukan itu adalah perbuatan Ichigo?

Biarlah.

Ichigo tidak memikirkan apapun. Asalkan bisa mendengar suara seceria ini, apapun akan Ichigo lakukan. Tidak peduli bagaimana, tidak peduli apapun yang terjadi. Ichigo tidak akan membiarkan gadis mungil-nya ini menangis lagi. Tidak untuk ke sekian kalinya.

"Jadi, kapan kau pulang?" tanya Rukia di akhir ceritanya.

Ini sudah kedua kalinya Rukia menanyakan kapan Ichigo akan pulang. Dan di setiap pertanyaan itu, Ichigo akan terdiam cukup lama.

Bagaimana caranya Ichigo pulang jika dirinya sudah ada di rumahnya sendiri?

"Kau tidak mau menjawabnya lagi?" sungut Rukia.

"Rukia, kau tahu benar kalau kampus-ku banyak—"

"Kau menyebalkan. Jadi kau mau mengejekku karena tidak pernah kuliah lagi dan tidak tahu tumpukan tugasmu seperti apa?" gerutu Rukia.

"Bukan begitu. Tapi… waktunya tidak tepat."

"Jadi kapan waktu yang tepat itu?"

Kapan waktu yang tepat… Ichigo juga tidak tahu.

"Memangnya kau tidak merindukan aku?" lanjut Rukia.

Ichigo kembali terdiam. Kenapa gadis ini selalu mengatakan hal-hal yang bahkan tidak pernah diinginkan oleh Ichigo sekarang ini?

"Aku merindukanmu…" sambung Rukia lagi dengan nada lirih.

Hal-hal yang tidak diinginkan Ichigo.

Saat Rukia mengatakan kalau dirinya…

"Hahahaha… candaanmu sungguh lucu. Aku juga merindukan tampang bodohmu kok," balas Ichigo dengan nada bercanda.

"Enak saja! Tampangku tidak bodoh!" balas Rukia.

"Iya, iya. Tampangmu memang tidak bodoh tapi jelek."

"Aku memang jelek, tapi tidak menyebalkan sepertimu!"

"Baiklah. Ini sudah malam, tidurlah. Aku akan mematikan teleponnya ya."

"Ichigo, tunggu."

Tolonglah Rukia… kalau kau seperti ini… ini benar-benar akan menyakitinya.

"Aku merindukanmu… bukan bercanda. Aku benar-benar merindukanmu. Jadi cepatlah pulang. Aku akan menunggumu. Kau boleh menutup teleponnya. Selamat malam, Ichigo."

Ichigo kembali terdiam cukup lama dengan ponsel yang masih berada di telinganya. Punggungnya bersandar penuh pada sandaran ranjangnya. Perasaan apa yang sebenarnya dirasakan Rukia padanya? Kenapa selalu membuat Ichigo bingung seperti ini.

Sikapnya pada Kaien sungguh berbeda pada Ichigo. Tapi ketulusannya selalu sama seperti ini. Bahkan, kasih sayang yang diberikan oleh Rukia selalu sama untuk Kaien dan Ichigo. Hanya… Ichigo tidak tahu, seberapa besar Rukia sebenarnya mencintai Kaien. Benarkah di dalam hatinya hanya ada Kaien seorang? Apakah—

Astaga Ichigo… apa yang kau pikirkan?

Agak lama Ichigo termenung di dalam kamarnya yang gelap karena tak ada nyala satu lampu pun kecuali cahaya rembulan yang menerobos masuk dalam kaca jendelanya.

Tubuhnya bergerak perlahan kemudian menuju pintu kamarnya. Membukanya pelan dan berjalan sepelan mungkin menuju pintu yang persis ada di depan pintu kamarnya. Kembali membuka sepelan mungkin pintu yang berada di hadapannya kini.

Kini Ichigo tepat berada di sisi tempat tidurnya.

Rukia memeluk ponsel yang berada di atas perutnya itu dengan kedua tangannya. Senyum damai di wajahnya yang selalu menghiasi tidurnya.

"Katakan Rukia… aku harus bagaimana? Aku juga… merindukanmu…" bisik Ichigo.

Yah, Ichigo merindukan Rukia.

Merindukan Rukia yang melihat sosok Kurosaki Ichigo.

.

.

*KIN*

.

.

"Nah sudah selesai," ujar Yuzu setelah merapikan rambut pendek Rukia.

"Terima kasih Yuzu."

"Sama-sama, ayo kita turun, Onii-chan pasti sudah menunggu di bawah."

Rukia tersenyum lebar saat merasa Yuzu sudah membantunya berdiri dan menggandeng tangannya untuk menuntunnya berjalan. Mereka persis seperti saudara kandung sungguhan. Yuzu juga sering mengajak Rukia bicara kalau dia sudah pulang sekolah. Ada banyak yang diceritakan oleh Yuzu padanya.

Setelah menuruni tangga, kini mereka akan bersiap menuju ruang makan.

"Oh astaga, aku lupa mencabut charger ponsel-ku. Tunggu sebentar ya, aku tidak akan lama," ujar Yuzu.

"Tidak apa-apa. Aku sudah cukup hapal ke pintu dapur. Kau pergilah."

"Maaf ya, aku benar-benar akan segera kembali."

Setelah merasa Yuzu melepaskan tangannya dari gandengan Rukia, kini kaki mungilnya melangkah pelan. Cukup lurus saja kan? Tangannya meraba dinding di sekitarnya untuk membantunya berjalan. Kalau Rukia menemukan pembatas ruangan berarti di sebelahnya adalah ruang makan.

"Tolong, Nak. Pikirkan perasaanmu sendiri. Jangan menyiksa dirimu seperti ini. Ini benar-benar tidak adil untukmu. Ibu mengerti betapa menderitanya dirimu sekarang ini. Ibu mohon, berhentilah. Semua akan baik-baik saja cepat atau lambat. Seperti Ibu yang sekarang sudah menerima segalanya. Rukia juga pasti begitu."

Rukia berhenti melangkah ketika mendengar sederet kalimat dari suara itu. Itu… bukankah itu suara Masaki? Kenapa dia berbicara seperti itu? Kenapa Rukia disebut-sebut.

Apa yang harus diterima Rukia? Kenapa jadi…

.

.

*KIN*

.

.

"Ichigo."

Pagi ini setelah Ichigo selesai menyiapkan dirinya untuk pergi ke kampus, Masaki mencegatnya tepat di pintu ruang makan. Belum ada Karin, ayahnya maupun Yuzu. Ah ya, seingat Ichigo, Yuzu baru saja masuk ke dalam kamar Kaien untuk membantu Rukia mandi.

"Kaa-chan, ada apa wajahnya serius begitu?" tanya Ichigo dengan bercanda.

"Jangan memasang wajah seperti itu. Semalam Ibu melihatmu masuk ke dalam kamar Kaien."

Ichigo cukup terkejut. Dia tidak mengira ibunya akan melihat…

"Apa yang Ibu lihat?" tanya Ichigo santai.

"Ini benar-benar berat kan? Kalau berat berhenti saja. Ibu sudah merelakan semuanya. Kau tidak perlu memaksa dirimu sejauh ini."

Ichigo diam tidak merespon. Apa yang bisa dikatakannya? Dia tidak bisa mengatakan apapun.

"Tolong, Nak. Pikirkan perasaanmu sendiri. Jangan menyiksa dirimu seperti ini. Ini benar-benar tidak adil untukmu. Ibu mengerti betapa menderitanya dirimu sekarang ini. Ibu mohon, berhentilah. Semua akan baik-baik saja cepat atau lambat. Seperti Ibu yang sekarang sudah menerima segalanya. Rukia juga pasti begitu."

"Kenapa tidak masuk ke dalam? Aku akan menuntunmu, Rukia."

Ichigo dan Masaki sama terkejutnya ketika mendengar suara Karin dari balik pintu itu.

Ichigo semakin terbelalak saat melihat wajah aneh dari Rukia. Apa Rukia…

"Rukia? Sejak kapan kau di sana?" tanya Ichigo dengan suara sedikit cemas.

"Baru… saja," lirih Rukia. Apa tidak ada apa-apanya ini?

"Kau sendirian saja?" tanya suara Masaki.

"Yuzu ke kamarnya sebentar. Aku diminta menunggunya di depan pintu."

"Kalau begitu duduklah, Karin… ajak Rukia duduk Ibu sudah menyiapkan semuanya."

Ichigo segera mengambil alih Rukia dan meminta Karin untuk pergi duluan. Masaki sudah berbalik kembali menuju dapur. Ichigo memegang kedua bahu Rukia dengan lembut dan mencoba menatap ungu kelabu yang menunduk itu. Wajah Rukia terlihat tidak baik.

"Kau… mendengar sesuatu?" tanya Ichigo.

"Mendengar apa? Aku baru saja tiba saat Karin menemukanku," jawab Rukia dengan nada yang kembali riang.

Ichigo berharap tidak ada yang salah dengan ini. Benar-benar berharap.

Rukia bersikap biasa seolah yang dia dengar itu adalah sesuatu yang tidak perlu dia cari tahu. Mungkin itu adalah masalah keluarga. Rukia tidak perlu mendengar yang tidak perlu dia pikirkan.

*KIN*

Rukia bohong kalau dia merasa baik-baik saja. Apa yang dia dengar berbeda sekali dengan apa yang dijelaskan oleh Masaki mengenai pekerjaan Kaien yang kian memberat. Masaki menjelaskan karena Rukia bertanya setelah Ichigo pergi mengenai namanya yang sempat didengarnya tadi. Tapi Rukia tidak mengatakan kalau dia mendengar semuanya. Rukia hanya mengatakan kalau dia mendengar namanya disebut.

Syukurnya Masaki tampak tidak curiga sedikit pun. Tapi biar bagaimana pun semua ini cukup ganjil.

"Hei, katanya kau mau tidur?"

Rukia tertegun sejenak. Dia lupa kalau setelah makan malam tadi, Kaien langsung mengantarnya masuk ke dalam kamar dan menungguinya seperti biasa sampai Rukia tertidur.

Rukia mencoba duduk di atas tempat tidurnya.

"Kaien-Nii bisa kemari sebentar?" kata Rukia sembari menepuk tempat kosong di sisi tempat tidurnya.

Tanpa banyak bicara, Ichigo atau Kaien menurut untuk duduk di tempat yang ditunjuk Rukia.

"Ada apa? Kau mau dibaca kan dongeng?"

Tiba-tiba tangan Rukia meraba udara di sekitarnya sampai akhirnya Rukia berhasil menyentuhkan tangannya ke lengan atas Ichigo. Begitu mendapatkan posisi yang tepat, Rukia segera mendekat dan mencoba memeluk Ichigo dengan erat. Menyandarkan kepalanya tepat di dada sang tunangan yang selama ini selalu dimimpikannya. Ichigo yang dihadapkan pada situasi mendadak ini tidak bisa berbuat apapun karena terlalu kaget.

"Rukia?"

"Okaa-san bilang… kalau pekerjaan Kaien-Nii bertambah berat. Okaa-san juga bilang kalau aku… harus mengerti keadaan Kaien-Nii yang sekarang. Apakah aku… menyusahkan Kaien-Nii?" lirih Rukia.

Ichigo tidak menyangka ibunya akan berkata demikian. Walaupun begitu, sepertinya ibunya juga tidak tega pada keadaan Rukia. Karena yang paling terpukul adalah Rukia jika dia tahu kenyataannya. Dia pasti akan merasa terluka kalau ternyata selama ini dia sudah dibohongi seperti ini.

"Semua baik-baik saja. Kau jangan khawatir ya."

"Kaien-Nii… aku… punya permintaan… apa kau mau mengabulkannya?"

"Apa yang kau inginkan?"

"Kau janji akan mengabulkannya?"

"Tentu."

"Tolong… cium aku."

Ichigo terbelalak lebar mendengar kata-kata Rukia. Itu… bagaimana mungkin Rukia meminta hal seperti itu padanya?

"Rukia—"

"Aku tahu ini permintaan yang memalukan. Aku tahu pasti Kaien-Nii sungkan melakukannya. Tapi… tapi… aku ingin membuat Kaien-Nii merasa lebih baik. Katanya… ciuman bisa membantu seseorang yang sedang sulit seperti Kaien-Nii. Hanya… satu kali ini saja."

Ichigo bimbang. Dia sungguh ingin menolak. Tapi dia tidak punya alasan untuk menolak sebuah ciuman dari tunangannya sendiri? Bukankah akan terdengar aneh kalau Ichigo menolaknya? Tapi dia juga tidak bisa menerimanya begitu saja. Ciuman ini… ciuman yang ditujukan untuk kakaknya sendiri. Bukan dirinya.

"Hanya satu kali saja, Kaien-Nii. Kau bilang kau janji akan mengabulkannya kan? Jangan membuatku… malu…" lirih Rukia.

Sebenarnya ini bukan permintaan yang sulit kan?

Ichigo mengangkat dagu Rukia yang sedari tadi memeluknya. Ungu kelabu yang redup itu tidak menampakkan cahayanya seperti biasa. Walau mereka saling berpandangan, Ichigo tahu kalau Rukia tidak bisa melihat wajahnya. Kalau pun Rukia membayangkannya, bukan wajah Ichigo yang ada di dalam ingatannya kini.

Jempolnya mengusap pelan bibir mungil yang terlihat berwarna pink pucat itu. Rukia tampak memejamkan matanya perlahan.

Apa yang sebaiknya Ichigo lakukan?

Benarkah dia sanggup melakukannya?

Bibir mereka sudah saling mendekat. Ichigo bahkan bisa merasakan hembusan napas Rukia yang terasa gugup. Sama seperti Rukia yang bisa merasakan hembusan napas Ichigo. Jika sekarang dilakukan, Ichigo yakin tidak bisa mengontrol dirinya dengan baik. Dia pasti… akan…

Cup.

Rukia membuka matanya lebar-lebar ketika merasakan sensasi basah di… dahinya?

"Hanya ini yang bisa kuberikan. Aku sudah merasa lebih baik. Terima kasih sudah mengijinkanku menciummu," ujar Ichigo.

Rukia tampak menunduk sedih. Apakah tindakannya membuat Kaien merasa… tertekan?

Rukia jadi tampak seperti gadis murahan yang begitu mudah memberikan dirinya pada orang lain. Ini benar-benar memalukan.

"Rukia, ada apa?" tanya Ichigo panik saat melihat wajah Rukia yang sedih dan matanya yang memerah.

"T-tidak apa-apa, Kaien-Nii."

"Dengarkan aku, bukannya aku tidak mau melakukannya. Hanya saja… waktunya tidak tepat. Aku ingin melakukannya jika semuanya sudah lebih baik. Aku janji aku sendiri yang akan melakukannya tanpa kau minta. Aku tidak ingin… ciumanmu yang berharga ini kau berikan di saat aku merasa terpuruk. Ini terlalu berharga, Rukia."

Jawaban yang selalu menenangkan dari Kaien-Nii.

"Aku mengerti. Terima kasih, Kaien-Nii. Kalau boleh, aku ingin malam ini… Kaien-Nii menemaniku tidur. Boleh?"

"Bukan masalah."

Kalau hanya tidur, Ichigo sudah melakukan sejak Rukia berada di rumah sakit. Jadi ini bukan hal sulit. Mereka hanya berbaring di kasur dan menunggu sampai Rukia tertidur. Karena Rukia biasa memeluk sesuatu sebelum tidur.

Saat mereka sudah berbaring bersama dengan lengan Ichigo sebagai bantal Rukia dan kedua tangan mungilnya melingkar di sekitar leher dan dada Ichigo, gadis itu kembali berkata.

"Kenapa Karin tidak mengantarkan ponselnya untukku?"

"Karin?" ulang Ichigo.

"Iya, biasanya setiap malam Ichigo akan menelpon. Dia sudah janji padaku. Ah ya, bagaimana kalau Kaien-Nii saja yang menelpon Ichigo untukku?"

Bagaimana… mungkin…

"Aku tidak membawa ponsel Rukia."

"Kalau begitu aku bisa menunggu Kaien-Nii membawakan ponselnya."

"Ini sudah terlalu malam, lebih baik kau tidur. Mungkin Ichigo sibuk."

"Ichigo janji sesibuk apapun dia tetap akan menelponku…" rengek Rukia.

Ichigo tak punya pilihan.

"Sekarang kau tidurlah. Kalau memang Ichigo tidak sibuk, dia pasti akan menelpon Karin dan membawakan ponselnya kemari seperti pertama kali itu kan?"

Rukia mengangguk mengerti. Kaien kembali menyuruhnya tidur.

Tapi yang membuat Rukia sedikit heran, kenapa Kaien tahu kalau pertama kali Ichigo menelpon dia menelpon Karin dan membawa ponselnya kemari?

.

.

*KIN*

.

.

TBC

.

.

Holaa minna… aduh ternyata suka juga sama sekuel yang saya buat hehehe…

Entah kenapa saya merasa fic ini kok makin cengeng ya? Saya sebenernya mau ngasih perasaan sedih, tapi jadinya malah cengeng… maaf yaa…

Ok saya bales review…

Ichirukilover30 : Makasih udah review senpai… hehehe semoga aja yaa hehehe

Tiwie Okaza : Makasih udah review senpai… aduh panggillah Kin aja hehehe makasih semangatnya yaa ini udah saya lanjut hehehe

15 Hendrik Widyawati : Makasih udah review senpai… heheh iya ini udah saya lanjut hehehe

Darries : Makasih udah review senpai… hehehe makasih udah penasaran, iya ini udah lanjut kok hehehe

Jessi : Makasih udah review senpai… hhehe iya ini udah lanjut kok hehehe

Azura Kuchiki : Makasih udah review senpai… iyaa ini udah lanjuthehehe

Hanna Hoshiko : Makasih udah review senpai… hehehe iya ini udah lanjut

Riyuzaky L ichiruki : Makasih udah review senpai… hehehe iya ini udah lanjut kok hehhe

Naruchigo : Makasih udah review senpai… hehhe iya ini udah update hehe

Rini desu : Makasih udah review senpai… iyaa ini udah lanjut hehehe

Sarikia : Makasih udah review senpai… iya makasih ini udah update hehhe

DMC : Makasih udah review senpai… hehehe soal itu belum kepikiran hehehe

UL : Makasih udah review senpai… wah karena Only Time itu proyek berdua jadi sekarang belum ada kabarnya hehehe ditunggu aja ya.

Makasih yang udah baca apalagi review ehehhe

Mau lanjut? Bole review?

Jaa Nee!