Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Dengan gaji yang tiap bulan dia dapat Kuroko memang mampu menyewa orang untuk setiap tiga kali dalam seminggu berkunjung dan membersihkan rumah yang dia tinggalkan setelah hidup bersama Kagami. Namun merupakan kewajiban sendiri bagi lelaki bersurai biru muda itu untuk setidaknya datang sekedar untuk membersihkan atau menata apa yang bisa dia tata di rumah peninggalan orang tuanya—tak jarang pula dia menginap satu atau dua malam dengan Kagami di hari libur kalau-kalau dia merasa bosan.
Tapi kali ini alasannya berbeda, dia terbaring di kamarnya, di rumahnya sendiri, bukan karena bosan atau penat dengan kegiatan sehari-hari. Nyatanya dirinya dan Kagami memang sudah resmi berpisah beberapa jam yang lalu. Kuroko mendesah pelan dengan tangan kiri yang sengaja dia letakkan di atas dahinya yang sedikit berkeringat. Baru saja dia selesai membersihkan kamarnya yang tidak berdebu tebal—sepertinya baru dibersihkan oleh wanita paruh baya yang dia sewa kemarin—dan Kuroko sudah cukup kelelahan. Sepertinya dia harus mengikuti saran Aomine untuk tidak mengajar esok hari, dia sudah terlalu lelah. Jujur dia merasa bisa mati kapan saja.
Kuroko menarik selimut dan mulai memejamkan mata yang satu menit kemudian kembali terbuka. Mengapa saat dia memejamkan mata bayangan ketika dia meninggalkan rumah Kagami tadi berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Bagaimana Kagami terdiam di pinggir kasur saat dia memasukkan pakaiannya dengan susah payah, atau Kagami yang tidak berkata apa-apa saat dia menyeret koper di hadapan lelaki itu, dan Kagami yang menolak pelukan perpisahannya.
Satu desahan meluncur, dia baru ingat dia meninggalkan beberapa lembar pakaian kotor dan peralatan mandinya di rumah Kagami. Kemudian dia tersenyum miring, hal itu tidak penting lagi. Kagami pasti akan membuangnya.
Kemudian semua kenangan yang mereka lalui ikut berputar di kepalanya. Saat-saat tahun baru, hari kelahiran dan hari jadi mereka, semua kenangan yang mereka bangun selama ini. Kuroko mengumpat dalam isakan yang tak tahu kapan dimulai.
Biarlah dia menangis karena Kagami, untuk yang terakhir kali.
-o-o-o-
Sebulan berlalu sejak kepergian Kise ke negeri Paman Sam dalam penggarapan film layar lebar pertamanya. Aomine tidak menyangka kalau kekasihnya yang sebatas pengetahuannya hanyalah seorang model majalah kini mulai merambah menjadi seorang aktor. Kabar miring tentang hubungan mereka yang meruak karena tindakan bodoh Aomine mendatangi kantor agensi Kise sudah dihapus di semua situs hari itu juga. Terima kasih kepada agensi nomor satu di Jepang itu. Tentu mereka mampu melindungi anak-anak mereka dengan baik sebab memiliki banyak link di mana-mana.
Sejak hari itupun tak ada koneksi berarti di antara Aomine dan Kise. Semua seolah kembali ke jalur yang seharusnya dalam satu hari. Hari dimana lelaki pirang itu menemukan berita tentang hubungan mereka di internet, detik itu juga dia dengan gencar menghubungi Aomine hingga akhirnya polisi itu baru terhubung dengannya di malam hari waktu Jepang. Pembicaraan mereka tidak panjang, hanya sekedar minta maaf karena tidak memberi kabar dan memberitahukan kekasihnya itu kalau dia sedang melakukan pekerjaan di Amerika selama satu bulan atau lebih.
Aomine pun kembali ke sikap awalnya yang seolah tak peduli. Bahkan dia tidak mengucap maaf, namun dalam hati dia berharap kalau Kise sudah mengerti maksud yang ingin dia sampaikan lewat tindakan nekatnya kala itu.
Hingga hari ini tak ada kabar dari Kise, tapi Aomine merasa tak perlu menghubunginya. Toh, mereka dari dulu sudah seperti ini. Mungkin saat kekasihnya yang berisik itu kembali dia baru akan memberikan beberapa perubahan, seperti memberlakukan morning and goodnight kiss, sarapan atau makan malam bersama dan menambah intensitas bercinta. Polisi itu menyeringai membuat kasir convenience store di hadapannya merinding saat menerima sejumlah uang yang diulurkannya.
Tubuh tegap itu melangkah keluar dari toko 24 jam dan berniat menyusuri trotoar menuju kantornya saat siluet Kagami dan Himuro tertangkap dari sudut matanya. Kakak beradik itu sedang menghabiskan makan siang di luar restoran depan convenience store tempatnya membeli rokok. Jelas di matanya bagaimana Kagami menghapus noda saus di ujung bibir Himuro dan membuatnya ingin muntah melihat romansa di tengah teriknya matahari itu.
Sebelum kepalanya semakin pusing dia membakar ujung rokoknya dan menghisap kuat-kuat. Asap yang dia hembuskan membumbung di udara membuat beberapa orang yang anti mengipaskan tangan di hadapan wajah bermaksud menyinggung Aomine. Namun lelaki berseragam lengkap itu hanya mendengus dan lanjut menelusuri trotoar sepanjang dua puluh meter dari kantornya. Dia muak melihat lelaki berambut merah gradasi itu tertawa tanpa tahu penderitaan sahabatnya yang entah seperti apa keadaannya sekarang.
Terakhir kali dia mengunjungi Kuroko adalah dua minggu lalu, guru Sejarah itu terlihat baik-baik saja dari luar. Namun Aomine tahu masih ada sedikit kesedihan yang tersisa di sana.
Baru sekitar lima meter dia melangkah, dari kejauhan dia bisa melihat Kuroko berjalan dalam balutan setelan formalnya ke arah Kagami dan Himuro berada. Aomine mengumpat dan dengan terburu menyeberangi jalan tanpa menoleh terlebih dahulu. Dia tidak mau kalau sahabatnya itu mendapati mantan kekasihnya bersama orang lain, bermesraan. Aomine hanya harus sampai lebih dulu di hadapan Kuroko sebelum lelaki pendek itu menangkap pemandangan di depan restoran, dan akhirnya dia berhasil walau dengan sedikit berlari.
"Aomine-kun itu polisi, seharusnya tidak melanggar aturan."
Aomine mendengus tidak peduli dengan teguran Kuroko karena dia menyeberangi jalan tidak di tempat yang seharusnya, terlebih tanpa menoleh ke kiri atau ke kanan dahulu.
"Justru karena aku polisi jadi aku bebas melakukan apa yang kumau."
Kuroko tersenyum mendengar jawaban khas sahabatnya. "Jadi, apa yang seorang guru lakukan di sini?" Tanya Aomine.
"Aku sudah selesai hari ini, kebetulan temanku mengajakku makan di restoran depan kantor Aomine-kun tadi."
Polisi itu mengangguk paham, dalam hati mengumpat mengapa kantornya harus berdekatan dengan area restoran. "Lalu kenapa kau tidak mengajakku sekalian?"
"Aku kira Aomine-kun sedang sibuk."
Sambil menghela napas kuat Aomine membuang rokoknya yang masih tersisa setengah melihat air wajah lelaki di hadapannya. Kuroko bukan perokok dan peminum seperti dirinya. Minuman bersoda pun dia tidak akan mau, low alcohol tolerance istilahnya. "Aku tidak sibuk sekarang. Jadi, bagaimana dengan segelas vanilla shake, Tetsu?"
Kuroko tersenyum setelah mengikuti arah tatapan Aomine pada restoran tempat mereka berdiri saat ini. "Asal Aomine-kun yang bayar." Jawabnya mengundang tawa dari sahabatnya.
Dari tempatnya berdiri Aomine bisa melihat Kagami bangkit dari kursi yang didudukinya. Sepertinya lelaki itu sudah menyelesaikan acara makan siangnya, sedikit banyak dia bersyukur Kuroko sudah memasuki retoran di hadapannya lebih dulu. Sebelum sahabatnya itu curiga dia pun masuk dan memesan secangkir kopi.
-o-o-o-
Kuroko melepaskan sepatunya dan melangkah gontai menuju kamar, pundaknya terasa berat karena menanggung terlalu banyak kebohongan.
Bohong kalau dia tidak tahu ada Himuro dan Kagami siang tadi, namun dia menghargai usaha sahabatnya untuk menghindarkannya dari kemungkinan sakit hati walau sebenarnya sudah terlanjur.
Dua kancing teratas kemeja biru gelap itu dia biarkan terbuka saat terbaring di atas tempat tidur yang dingin. Kuroko tidak merasa harus mandi dan mengganti pakaiannya seperti biasa, dalam hati dia mengumpat mengapa hanya karena melihat mereka berdua dari kejauhan mampu merusak mood-nya. Sepertinya dia memang harus berterima kasih pada Aomine, karena jika dia tak ada mau tidak mau Kuroko harus lewat di dekat Kagami tadi siang untuk bisa sampai di stasiun terdekat.
Jauh sebelum hari ini dia sudah berjanji pada diri sendiri untuk menerima kenyataan, namun baru melihat mereka berdua dari kejauhan saja efeknya sudah separah ini. Bagaimana kalau dia lagi-lagi harus menyaksikan mereka bermesraan? Kuroko bangkit dari tempat tidur dan melucuti bajunya satu persatu. Dia harus mendinginkan kepala.
Persetan dengan masa lalu. Kagami bukan miliknya lagi.
Namun masih tersisa tiga langkah sebelum dia benar-benar mencapai kamar mandi ponselnya bergetar secara berlebihan—efek diletakkan di atas meja. Kuroko menelan ludah melihat nama pemanggilnya.
Kagami Taiga is calling.
Kuroko meremas ponselnya terlalu kuat tanpa takut akan rusak, bimbang harus menjawabnya atau tidak. Ujung jarinya agak bergetar saat menekan tombol 'answer'.
"Halo?"
Ingin rasanya Kuroko melempar ponsel itu jauh-jauh kemudian dia akan bersembunyi di dalam bak kamar mandi, sungguh di luar kendalinya suaranya bergetar kesepian saat menjawab.
Selama lima detik tak ada jawaban membuat lelaki itu menjauhkan ponsel dari telinga, memeriksa kalau-kalau panggilan dari Kagami sudah terputus. Dan nyatanya masih tersambung.
"Ya, Kuroko—"
Tubuh kurus Kuroko bergetar mendengar suara berat yang dalam hati dia rindukan. Jeda dua detik membuat jantung Kuroko berdebar tidak karuan. "Aku—mau minta tolong?" Lanjut Kagami dalam keraguan membuat Kuroko terkekeh tanpa suara. Tidak sadar betapa dia merindukan kegugupan dalam suara Kagami.
"Tentu, Kagami-kun." Kuroko tersenyum dengan mata yang berair. Baru beberapa menit yang lalu dia mengumpat dan meyakinkan diri kalau Kagami bukan miliknya lagi. Tapi, lelaki itu malah menghubunginya—walau dengan tujuan yang lain.
Tak ada jawaban dari Kagami membuat Kuroko berinisiatif mengakhiri situasi awkward yang diam-diam dia benci "Apa yang bisa kubantu?" tanyanya.
"Ano—apa kau ingat dimana aku meletakkan berkas-berkas pentingku?"
Kuroko tersenyum lebar hingga matanya menyipit mengakibatkan setetes air mata jatuh, lelaki itu tidak sepenuhnya berubah. Dia masih sangat ceroboh dan sering melupakan dimana dia meletakkan barang-barang pentingnya. "Sekarang Kagami-kun ada di rumah?"
"Iya, aku sudah lelah mencarinya kemana-mana."
Setetes air mata lagi-lagi jatuh di pipi putih Kuroko, mengapa mereka tiba-tiba bisa berbicara seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya. Sambil memejamkan mata, Kuroko mengambil napas pelan. "Buka lemari pakaian—" Instruksinya.
Terdengar suara langkah Kagami disusul bunyi khas lemari yang terbuka, "Lalu?"
Selanjutnya Kagami mengikuti instruksi dari mantan kekasihnya, menyingkirkan beberapa lembar baju yang digantung di dalam lemari, tepat di bawahnya ditutupi sehelai selimut tipis dia menemukan sebuah koper kecil berwarna hitam.
"Ah! Ketemu!" Seru Kagami mengundang tawa kecil dari seberang. "Terima kasih, Kuroko. Kau memang bisa diandalkan!" Serunya dengan ringan, tanpa beban. Tidak tahu kalau kalimat yang dia ucapkan sukses membuat orang yang mendengarnya tersenyum dalam derai air mata.
Keheningan membuat Kagami mengerutkan alis bercabangnya, butuh beberapa detik sampai dia sadar dengan keadaan—keadaan mereka yang sebenarnya. Tiba-tiba saja suasana mendadak canggung, lagi.
"Kuroko—"
"Ah! Masih ada yang bisa kubantu, Kagami-kun?" Potong Kuroko saat tahu kemana arah pembicaraan mereka akan berlabuh. Di seberang Kagami tersenyum miring, sedikit merasa bersalah karena tidak memahami situasi dari awal.
Bukan salahnya kalau dia tiba-tiba terbawa situasi, dan atmosfir yang sama saat mereka masih bersama muncul entah dari mana. Membuat Kagami mau tidak mau harus mengakui bahwa dia merindukan lekaki bertubuh pendek itu. Jujur saja saat dia kebingungan dimana dia meletakkan berkas penting yang dia butuhkan untuk keperluan kependudukan yang ada di pikirannya hanyalah Kuroko.
"Tidak—"
Secepat Kagami menjawab secepat itu pula Kuroko merespon, "Baiklah, aku juga punya sesuatu yang harus dikerja—"
"Tetsuya!"
Kuroko yang kaget hampir menjatuhkan ponselnya. Kagami baru saja membentaknya dengan nama belakangnya, lelaki itu memang belum berubah—masih menggunakan nama belakang di saat-saat serius. "Ya, Kagami-kun?" Jawabnya setelah mampu menguasai diri.
Saat mendengar helaan napas dari seberang Kuroko dengan kontras menahan napas, takut mendengar kelanjutan kalimat dari Kagami. "Kau—baik-baik saja kan?"
For the God sake! Bagaimana bisa seorang Kuroko Tetsuya merasa baik-baik saja setelah diputuskan secara sepihak oleh kekasih sembilan tahunnya yang bahkan tidak peduli saat dia diopname selama seminggu di rumah sakit. Ingin rasanya Kuroko berteriak dia tidak baik-baik saja, namun seperti biasa dia tutupi dengan kebohongan.
"Ya, aku sudah sehat sekarang."
Kagami mendengus di ujung telepon, "Aku tahu kau sehat, maksudku bukan itu—"
"Aku sangat baik-baik saja, jadi selamat malam."
Kedua tangan Kuroko mendadak berkeringat dingin sesaat setelah dia mematikan sambungan telepon itu secara sepihak. Dia bahkan tidak peduli kalau dia mengucapkan salam yang benar atau tidak—mengingat di luar matahari belum terbenam sepenuhnya.
"Kuso!" Umpat Kuroko sebelum membanting pintu kamar mandi dan meredam isakannya di bawah hujaman air.
-o-o-o-
Bandara Narita terlihat ramai seperti biasa, bahkan sudah lebih dari dua kali Aomine tak sengaja menubruk orang yang juga ikut berdesakan dengannya. Kalau menurut information board yang terpajang di atas kepalanya saat ini, kurang dari lima menit pesawat yang ditumpangi Kise akan mendarat.
Aomine mendengus saat jantungnya berdetak tak karuan, pasalnya saat terakhir mereke bertemu adalah lebih dari satu bulan yang lalu. Waktu itupun mereka bisa dibilang berselisih paham, hingga akhirnya dia harus menelan buah dari ketidakpedulian kepada kekasihnya. Untuk itu mulai hari Ini Aomine berniat untuk menebus semua kesalahannya, dimulai dari secara diam-diam meminta kontak manajer Kise hingga akhirnya dia mengetahui jadwal kepulangan sang kekasih—bermaksud memberikan kejutan tentunya.
Pandangan Aomine tidak hentinya terfokus pada dua hal, information board dan arrival gate. Sangat jelas terpampang di papan itu kalau pesawat yang ditumpangi Kise sudah mendarat sepuluh menit yang lalu. Namun rambut pirang mencolok kekasihnya belum terlihat dari gerbang kedatangan. Polisi itu terkekeh geli begitu menyadari dirinya yang bertingkah seperti remaja yang baru jatuh cinta, tentu saja butuh waktu bagi Kise untuk menangani urusan bagage dan sebagainya.
Hingga akhirnya lima menit kemudian terdengar kegaduhan dari arah arrival gate yang sukses membuat Aomine mengembangkan senyum lebarnya. Kegaduhan itu berasal dari beberapa fans yang mendapat senyuman serta lambaian penuh antusias dari lelaki berambut pirang yang datang dari gerbang kedatangan dengan pengawalan yang tidak ketat.
Senyuman Aomine sukses berubah jadi seringai menggoda saat iris madu itu terpaut dengan matanya. Ada kilat terkejut, tidak percaya, sekaligus bahagia dan haru di sana. Sekuat tenaga polisi itu menahan diri agar tidak meloncati pagar yang membatasi dirinya dan sang kekasih kemudian meleburnya dalam pelukan hangat.
"Aominecchi—"
Senyuman Kise Ryouta adalah salah satu hal yang membuatnya menjadi lelaki paling tampan di mata Aomine Daiki, dan juga di mata banyak penggemarnya. Aomine bahkan tidak punya alasan untuk tidak membalas senyuman haru dari kekasihnya itu, saat ini yang ada di otaknya hanyalah keinginannya untuk memeluk lelaki yang berada tepat di hadapannya. Namun dia terlalu menyayanginya, dia sadar mereka ada di muka umum. Kehadirannya di bandara menjemput Kise sudah pasti akan muncul di beberapa media beberapa jam mendatang, untuk itu dia harus bisa menahan diri.
Cukup lama mereka saling menatap dengan jarak yang cukup dekat sampai akhirnya Kise yang tidak tahan menghambur ke pelukan Aomine. Bukan cuma manajer ataupun rombongan agensinya dan beberapa orang yang kebetulan menyaksikan terkejut, bahkan Aomine orang yang hampir terjatuh menerima pelukan tiba-tiba dari Kise juga terkejut bukan main.
"Kise?"
Aomine tertegun saat merasakan pundaknya menghangat dan basah. Tatapannya melembut dan satu senyuman tulus terpatri di wajah gelapnya, sebelah tangannya dia angkat untuk melingkari punggung lebar Kise sedang yang satunya lagi dia gunakan untuk membelai lembut surai pirang kekasihnya.
Isakan halus terdengar di tengah hiruk pikuk Narita membuat beberapa orang yang menyaksikan tidak merasa punya kuasa untuk memisahkan dua insan yang merengkuh satu sama lain itu. Mereka yang awalnya datang bersama Kise memutuskan untuk meninggalkannya berdua setelah mendapat kode dari manajer Kise yang baik hati.
"Kau tidak mau menjadi tontona gratis kan, Kise?" Suara berat Aomine menyadarkan Kise, dengan kasar dia menggosokkan wajahnya di permukaan kemeja Aomine, sukses membuat lelaki itu berjengit namun masih memaklumi.
Kise melepaskan pelukannya namun masih menjaga jarak dekat di antara tubuh mereka. "Aku rindu, Aominecchi." Jujurnya dengan wajah yang memerah, entah karena malu atau karena dia gosokkan terlalu kasar di pundak Aomine tadi.
Aomine terkekeh "Aku juga, Baka. Jadi jangan pergi tanpa pamit seperti itu lagi." Kise memajukan bibirnya, hendak mengadu argumen namun kalah cepat oleh lelaki di hadapannya.
"Iya, aku tahu aku yang salah. Aku minta maaf karena tidak memperdulikanmu selama ini, tapi kau tahu—" Aomine mengambil napas sejenak "—aku selalu mencintaimu. Jadi jangan pernah mencoba meninggalkanku lagi, mengerti?"
Air wajah Aomine mendadak panik melihat Kise yang diharapkan tersenyum dengan wajah memerah mendengar penuturannya malah kembali menangis terisak di hadapannya. "Oi! Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?" Polisi itu mencoba melihat wajah yang sedang ditutupi dengan kedua tangan oleh pemiliknya.
"AHOminecchi!"
"HAH?"
Bukannya menjawab, Kise malah melenggang pergi sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan meninggalkan Aomine yang mencoba mengejarnya di tengah lautan manusia. "Oi Kise! Tunggu!"
Tepat sebelum Kise memasuki sebuah taksi tangan Aomine berhasil meraihnya. "Kau kenapa?" Tanyanya mencoba lembut walau napasnya jelas terengah. Kise masih menundukkan wajahnya dengan sebelah tangan yang digenggam kuat oleh Aomine sedang yang sebelah lagi memegang pintu taksi yang terbuka.
"Kau ini tidak peka sekali. Aku terlalu bahagia sampai menangis! AHO!"
Aomine mengerjapkan matanya beberapa kali, masih memproses jawaban super cepat dari Kise. Barulah beberapa detik setelahnya dia menyeringai dan menyusul Kise ke dalam taksi yang masih terbuka—beruntung dia tidak menggunakan mobilnya saat ke bandara tadi.
Ah, bukankah dia belum memberikan welcome kiss? Sepertinya hal itu bisa menunggu sampai mereka tiba di rumah.
-o-o-o-
Himuro mengintip Kagami yang terlihat uring-uringan sejak dia kembali dari rumahnya kemarin malam. Lelaki itu tidak hentinya mengumpat pada ponselnya yang tergeletak di atas meja kaca. Hari ini Kagami sedang off shift harusnya dia terlihat lebih rileks dan menikmati sedikit kesempatan di tengah padatnya jadwal, bukannya tegang dan terkesan sensitif seperti itu. Dalam diam dia menghampiri adiknya yang kini bersandar sepenuhnya pada single sofa di ruangan itu.
"Taiga—" Panggilnya lembut seperti biasa.
Kagami mendongak mendapati Himuro yang berdiri di belakang sofa yang didudukinya, menatap tepat ke arah matanya. "Ada masalah?" Kagami lantas tidak langsung menjawab malah menarik wajah tampan di atasnya untuk mendekat dan mendaratkan lumatan kasar di atas bibir tipisnya.
Lama mereka hanyut sampai akhirnya lelaki bersurai gradasi itu memutuskan kontak di antara mereka. Himuro memilih diam dan memeluk leher Kagami dari belakang. Memaksa kepala yang tadi mendongak itu untuk kembali menunduk. "Tatsuya, aku—"
"Kau merindukannya?" Potong Himuro cepat namun lembut dan tidak mendesak.
"Dia tidak menjawab teleponku dari tadi malam."
Himuro tersenyum di balik bahu lebar Kagami, "Lalu? Apa kau khawatir? Bukankah kau yang memilih untuk meninggalkannya?"
Gigi Kagami bergemelatuk, memang benar dia yang memaksa Kuroko untuk mengakhiri hubungan mereka. Namun jujur dia merasa khawatir waktu lelaki itu sakit dan dia tidak di sana mendampinginya, dia juga tidak bisa menerima begitu saja kedekatan antara Kuroko dan Aomine apalagi dia sempat menyaksikan mereka berdua bermesraan.
Dan satu hal lagi yang sebenarnya sangat tak ingin Kagami akui, yaitu kebiasaan buruknya dengan Himuro. Jauh di dalam hatinya dia merasa bersalah melihat Kuroko yang begitu tulus mencintainya, namun secara sadar dia khianati karena kebiasaannya yang menjijikkan itu.
Kini dia harus menelan rasa sesal yang perlahan menggerogoti hatinya. Bagaimanapun mereka sudah selama itu hidup bersama, sangat sayang memang kalau harus berakhir karena masalah yang tak pernah didiskusiakn jalan keluarnya terlebih dahulu.
Perlahan Kagami bangkit membuat pelukan Himuro melonggar hingga akhirnya terlepas jua. Sudah sebulan ini dia tidak melihat Kuroko, dan baru mendengar suaranya saja nyatanya Kagami harus mengaku dia kalah. Untuk itu dia bertekad, dia akan mencari kebenarannya sendiri.
Apakah dia yang memaksa keadaan, ataukah dia yang dipaksa oleh keadaan.
-o-o-o-
Kuroko Tetsuya, guru Sejarah Jepang di SMA Seirin melemparkan senyum ramahnya pada beberapa siswi yang kebetulan melintas. Hari ini jadwalnya hanya sampai pukul satu siang, untuk itu dia memutuskan untuk meminta izin pulang lebih dulu dan bergegas mengisi perutnya yang tidak sempat dia isi dari tadi pagi.
Salahkan mantan kekasihnya yang memborbardir dirinya dengan berpuluh-puluh panggilan. Hingga akhirnya dia tidak tahan dan memutuskan untuk menonaktifkan ponselnya di pukul satu pagi. Karenanyalah dia jadi terlambat bangun dan tak sempat menikmati sarapan selain segelas sus vanilla.
Baru saja dia akan meninggalkan pagar utama SMA Seirin saat yang bersangkutan sudah berdiri dengan napas terengah, seolah menghadang jalannya.
Adalah Kagami Taiga dalam setelan sehari-harinya yang biasa, baju kaos hitam dan celana jeans hitam—tidak banyak berubah sebetulnya. Justru Kuroko mengharapkan dalam satu bulan lebih mereka berpisah setidaknya ada perubahan mencolok seperti rambut Kagami yang tumbuh lebih panjang dari Murasakibara, salah satu sahabat baiknya dari Teiko. Atau tubuhnya yang tiba-tiba membengkak karena berat yang juga meningkat.
Alasannya karena jika banyak perubahan, Kuroko tidak akan mudah untuk jatuh lagi ke pelukan lelaki itu. Nyatanya semua tak berjalan sesuai dengan keinginan bodohnya, Kagami masih seperti yang dulu. Tatapannya yang tajam, rambutnya yang berdiri tegas di beberapa bagian namun terlihat lembut di saat yang bersamaan, atau bahunya yang lebar dan tubuh tingginya yang proporsional. Betapa Kuroko merindukan lelaki yang saat ini berjalan ke arahnya.
"Kuroko—"
Suara berat Kagami bergetar sampai ke hati Kuroko hingga dia tak sanggup berpindah walah sejengkal dari tempatnya berdiri. Sekuat tenaga dia menelan ludah yang terasa pahit. "Apa yang Kagami-kun lakukan disini?"
Kagami meneliti Kuroko dari ujung rambut sampai kaki, lelaki itu terlihat kehilangan berat badannya. "Apa kau makan dengan benar, Kuroko?" Tatapan Kagami sontak melembut saat melihat wajah putih di hadapannya berpaling. "Kau tahu, aku minta maaf tidak menjengukmu saat kau sakit."
"Kagami-kun tidak menjawab pertanyaanku."
Ingin rasanya Kuroko lari sebelum pertahanannya runtuh lagi di hadapan lelaki tinggi ini. Tapi dia tidak bisa, jangankan untuk melangkah, berbicara saja rasanya sangat sulit.
"Kuroko, aku minta maaf."
Mendengar kalimat yang sejujurnya dia tunggu selama ini mau tidak mau membuat Kuroko refleks menatap wajah Kagami yang sayangnya sedang ditundukkan. Tapi, tiba-tiba saja bayangan Kagami yang bercumbu dengan Himuro melintas di benaknya, melawan kenangan indah yang kembali datang di mimpinya semalam.
Tubuh Kuroko bergetar, "Untuk apa minta maaf, itu adalah pilihan Kagami-kun. Aku tak punya hak untuk memaksa."
Kedua tangan Kagami terkepal erat mendengar jawaban Kuroko, lagi-lagi lelaki ini bersikap terlalu baik padanya. Tidak bisakah dia meneriakkan semua kekesalannya di hadapan wajah Kagami. Sejujurnya dia berani datang kemari dan menemui Kuroko untuk pertama kalinya sejak mereka berpisah adalah untuk memastikan satu hal.
Memastikan kalau selama ini dialah yang memaksakan keadaan.
Sesungguhnya keadaan tidak pernah memaksanya untuk meninggalkan Kuroko, keadaan tidak pernah memaksanya untuk memulai sesuatu yang terlarang dengan Himuro, semua itu adalah pilihannya sendiri. Hasil dari pemikiran pendeknya.
"Kuroko—aku, rindu padamu." Aku Kagami pada akhirnya. Namun hatinya mencelos mendengar Kuroko mendengus menghina akan kejujurannya. Ah, bukankah Kagami juga yang berharap agar Kuroko menuangkan seluruh isi hatinya di depannya, saat ini juga. Tapi mengapa dia merasa keberaniannya perlahan terkikis karena dengusan dan tatapan tajam yang baru kali ini dilihatnya dari sosok Kuroko Tetsuya.
Lelaki itu menatap tepat ke arah mata Kagami, tidak peduli kalau tatapannya perlahan buram karena air mata. "Kau pikir aku tidak tahu apa yang selama ini kau lakukan dengan kakakmu itu?"
Mungkin benar ungkapan bahwa orang yang tidak pernah marah akan sangat mengejutkan kalau dia menunjukkan kemarahannya. Buktinya Kagami benar-benar merasa takut melihat raut wajah Kuroko yang sarat akan kebencian dan sakit hati walau dilanda air mata. Tapi di atas itu semua, fakta bahwa Kuroko yang ternyata sudah mengetahui rahasianya dengan Himuro membuatnya semakin tak mampu berkutik.
"Ap-apa? Kuroko—kau?" Kagami tergagap dengan mata yang membola.
Tanpa ada niat menghapus air mata yang banjir di wajahnya Kuroko memilih meluapkan semua isi hati yang dia pendam sendiri, tak peduli mereka sedang berada di tempat umum. "Ya. Aku tahu semuanya Kagami-kun. Aku tahu apa yang sering kau lakukan dengan Himuro-san."
Runtuh sudah dunia Kagami, dia tidak tahu harus berkata apa untuk menjawab kenyataan yang dipaparkan Kuroko.
"Aku pernah melihat kalian."
Empat kata yang meluncur dari mulut Kuroko menjawab semua kekalutan Kagami. Rupanya lelaki di hadapannya ini pernah melihatnya, namun diam seolah tidak tahu. Tiba-tiba saja Kagami ingin terjun dari Menara Tokyo setelah menyadari kebodohannya. Sungguh dia adalah orang paling jahat di dunia ini, dia yang tidak peka, tidak pernah memerhatikan perubahan sikap Kuroko saat ada Himuro di antara mereka.
Kuroko memang terkenal dengan wajah less expression-nya, namun Kagami sebagai kekasihnya harusnya mampu membaca sinyal tipis yang selama ini dipancarkan oleh Kuroko. Sungguh sangat terlambat jika akhirnya dia baru menyadari semua sekarang.
"Aku benar-benar minta maaf, kau boleh memukulku atau lakukan apapun yang kau mau padaku, tapi tolong maafkan aku. Dan—" Ucapan Kagami menggantung di udara. Dia menghela napas kuat melihat ekspresi Kuroko yang tidak sekeras tadi.
"—dan tolong beri aku kesempatan lagi."
Kepala biru muda itu tertunduk lagi, tak sanggup menatap manik krimson di hadapannya. Sungguh dia mendadak lemah karena kalimat terakhir dari Kagami. Pertahanan yang dia bangun selama lebih dari satu bulan itu memang sudah mengikis sejak dia melihat Himuro dan Kagami di area restoran kemarin, dan semakin memuncak saat lelaki itu menghubunginya lewat telepon.
Lama tak ada jawaban dari Kuroko membuat Kagami dilanda ketakutan akan penolakan. Dia tahu betul dia yang salah dan dengan tidak tahu malunya meminta rujuk. "Aku—berjanji tidak akan mengulanginya lagi, Kuroko. Aku benar-benar minta maaf."
Pada akhirnya Kagami merendahkan harga dirinya sebagai eorang lelaki dengan berlutut di hadapan mantan kekasihnya itu. Apapun akan dia lakukan jika itu berarti maaf dari Kuroko.
"Kagami-kun."
Suara Kuroko yang terdengar bimbang dan putus asa seolah memberi sinyal kegagalan pada Kagami. Namun jika bukan sekarang, kapan lagi dia bisa mendapatkan kesempatan seperti ini. Sebelum rasa benci Kuroko pada dirinya semakin menumpuk, dia akan memperbaiki semuanya.
Kedua tangan Kagami dia kepalkan kuat-kuat di atas lututnya, tidak peduli beberapa pasang mata sedang menatap mereka. Yang menjadi fokusnya hanyalah seorang Kuroko Tetsuya yang hampir menangis saat ikut berlutut dan memeluknya.
Ah, biarlah Kuroko mengalah lagi dan lagi.
Lagipula seorang Kagami Taiga yang membuang man's pride-nya adalah sesuatu yang menunjukkan keseriusan tersendiri mengingat lelaki itu adalah lelaki yang memiliki harga diri paling tinggi di antara lelaki yang pernah Kuroko temui.
Tangan kurus Kuroko perlahan melingkari leher Kagami dan mengistirahatkan dagunya di pundak lebar itu, "Lain kali tak akan ada kesempatan kedua, Taiga-kun." Kemudian dia tersenyum lebar merasakan tangan besar yang merengkuh punggung dan pinggulnya begitu erat, disusul bisikan terima kasih dan maaf yang tak terhitung jumlahnya.
Karena cinta tidak bisa dipaksakan, maka benci pun demikian.
FIN
Karena 31 Januari adalah ultah Kuroko, maka saya meMAKSA diri untuk menamatkan cerita ini. Jadi maafkan kalau endingnya terkesan MAKSA /buangaja
Anyway HAPPY BIRTHDAY TO OUR AWESOME PLAYER, KUROKO TETSUYA! Kagami cepetan lamar kek, elaaaah /dorr
Dan tentunya terima kasih yang tak terkira untuk kalian yg selalu mendukung cerita ini, saya betul2 minta maaf kalau saya ngaret update-nya. Saya kehilangan inspirasi ditambah tugas yg menggunung /curhatwoy Pokoknya terima kasih sudah mendukung saya selama ini, terima kasih sudah mau membaca dan mereview karya abal saya. Dan maafkan saya karena endingnya kurang memuaskan, saya akui hal ini T^T
Best Regard,
Kitsune Haru Hachi
