Chapter 2

My Love, My Family

Kedua -

By

Deushiikyungie

Cast :: Jaejoong/Kibum/Siwon/Heecul/chibi Jongdae/chibi Joonmyun/chibi, yang lain entar nyusul ._./

Disclaimer :: para pemain milik diri mereka masing-masing dan keluarga mereka. Author Cuma meminjam nama mereka. Kecuali untuk Kyungsoo sama JongDae sah jadi oppa saia dan jaejoong umma saia *digampar*

Genre :: Family, Hurt/Comfort, Brothership, lilt Romance

Summary :: kau pergi dengan paksa, dan aku hanya bisa terdiam melihat mu yang pergi menjauh. Ingin menahan mu dan ku tau aku tak akan mampu. Hanya janji ku pada ia yang ku hormati untuk menemukan mu lagi. Akankah kita bisa bersama-sama lagi... saeng?

Warning :: TYPO. Parent's GS! Jaejoong, Kibum, YAOI BoysxBoys ( di chap yang akan datang-datang-datang), OOC, gaje, Drama! Crak pair, mybe ._.

a/n :: jeogmal mianhe, di chap satu ada kesalahan. Gomawo udah di ingetin. Salah author yg gk cermat. u_u

tidak suka? Jangan maksa baca n_n

Happy riding, moga gak bosen -,-'

-DBSKEXOSJ-

Pintu itu perlahan menutup akibat angin yang berhembus, entah datang dari mana. Hujan perlahan reda, malam pun mulai menampakkan kuasannya.. bocah namja yang tadi berteriak memanggil sang eomma dengan suaranya yang melengking, sekarang terdiam menatap sang eomma yang pingsan, lelah, tak ada tenaga lagi bagi yeoja itu untuk… bahkan bernafas pun ia sulit.

.

.

.

Jongdae sudah berusaha membangunkan Jaejoong dengan cara menekan-nekan bagian wajah Jaejoong. Tapi tak ada reaksi apa-apa. Sang ibu tetap diam tak bergeming, membuatnya semakin takut dan kembali menangis. "Hiks... eomma... hiks... hiks.."

'Kring kring kring~'

Sebuah suara telepon masuk, mengusik tangisan bocah namja yang ketakutan itu. Mendengar suara telepon yang tak berhenti berdering, ia pun dengan sisa kekuatan, berusaha berdiri dan berjalan kearah meja yang tak jauh darinya dan sang eomma. Karena tidak bisa menjangkau ganggang telepon yang terletak di atas meja, ia pun menarik sebuah kursi lalu menaikinya, kemudian suar telepon berhenti pertanda ada yang mengangkatnya.

"Hiks, yeobo..hiks, ceyo.." sapanya masih terisak. Beberapa saat tidak ada suara belasan dari seberang telepon, kemudian, "Yeoboseyo… Jongdae? Wae? Kenapa kamu menangis? Eomma mu mana?" tanya suara diseberang telepon itu akhirnya.

Merasa tau dan kenal dengan suara yang saat ini bicara dengannya, ia pun menangis kembali, "Huaaaa! Eomma, eomma!." Tak kala orang yang di seberang telepon pun panik, "Yak. Jongdae-ah. Kenapa malah nangis? Ada apa dengan eomma mu?" tanyanya lagi, dengan nada khawatir yang sangat ketara.

"Hiks, ahjuma... eomma tiba-tiba caja tidul dilantai. Aku ingin bangunkan eomma, tapi eomma gak bangun-bangun. Huaaa! Dae takut ahjuma!" terangnya sambil terisak.

"Tidur dilantai? Omoo! Eomma mu pingsan Jongdae-ah!. Tunggu ahjuma, ahjuma akan kerumahmu. Dan Dae-ei, kamu bisa mengambil selimut kan?,", "Celimut? Tuk apa ahjuma?", "Eomma mu pasti kedinginan, selimuti dia pakai selimut biar eomma mu tidak kedinginan. Arra?". Butuh beberapa waktu sampai bocah itu mengerti denagn apa yang diperintahkan orang diseberang sana. "Allaceo, ahjuma." Dan sambungan telepon pun putus. Suasana sunyi pun langsung menguasai suasana rumah itu.

Mengerti dengan apa yang diperintahkan orang ditelepon tadi, Jongdae pun mulai melangkahkan kaki mungilnya kedalam kamar sang eomma. Sangat sulit membawa -menarik- sebuah kain selimut dari dalam kamar menuju ketempat eommanya yang tengah tertidur –pingsan- di ruang tamu. Diselimutinya tubuh itu. Setelah itu di elusnya lembut wajah cantik yang sekarang pusat pasi dan sedikit memerah karena dingin. "Eomma… panath. Pipi eomma panath…" gumamnya berulang-ulang sambil menatap datar tubuh tak berdaya dihadapannya.

Selang waktu berlalu, suara mobil memasuki perkarangan rumah. Dengan tergesa-gesa seorang yeoja berkulit putih, keluar dari mobil dan langsung masuk kedalam rumah. Betapa terkejutnya ia saat mendapati tubuh yang sangat dikenalnya tengah pingsan dilantai dan seorang bocah bermata sipit menatapnya nanar.

"Omona! Ya tuhan. Apa yang terjadi?", ia pun mengahmpiri tubuh itu. "Jaejoong-unnie apa yang terjadi padamu? Jongdae, apa yang terjadi pada eomma mu? Kenapa dia bisa pingsan seperti ini?." Ditanya seperti itu, membuat Jongdae sedikit takut, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya lemah. "Eomma, eomma panash. Pipi eomma panash ahjuma" katanya pelan. Masih memegang pipi sang eomma.

Tiba-tiba masuk seorang namja tampan bertubuh tinggi dan ekspesinya tak jauh beda dari yeoja tadi. "Kibum-ah, Apa yang terjadi padanya?" tanyanya cepat saat sudah sampai di dekat 2 yeoja itu. "Aku tidak tau oppa, badannya panas. Siwon oppa, kita harus membawa Jaejoong-unnie kerumah sakit, aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya" terang yeoja yang dipanggil Kibum itu sambil memeriksa kondisi Jaejoong. "Baiklah, kita noona kerumah sakit. Lalu Jongdae?" tanya namja bernama Siwon itu, menatap khawatir bocah namja yang masih terisak menatap eomma nya. "Kita juga akan membawanya."

.

.

.

-DBSKEXOSJ-

.

.

.

At Tohoshinki Houspital

Didepan salah satu kamar rumah sakit, terlihat seorang yeoja dan namja dewasa serta seorang bocah namja. Mereka tengah menunggu kabar dari dokter yang berada dalam kamar dengan nomer 216 itu. Dipangkuan namja itu tertidur seorang bocah namja, jelas sekali raut wajah lelah, sedih, terlukis diwajah mungilnya. Disebelahnya seorang yeoja cantik yang kini tampak lelah. Terlukis jelas raut sedih dan khawatir di wajah cantiknya. Digenggam erat tangan sang suami.

"Oppa, apa yang sebenarnya terjadi pada Jae-unnie? Kenapa dia bisa pingsan seperti tadi?" tanyanya lirih.

"Aku tidak tau, Kibum-ah. Aku benar-benar kaget saat melihat kondisinya seperti tadi." Jawab Siwon pada istrinya, bernama Kibum, lengkapnya Choi Kibum. Dipandangnya wajah lelah dan khawatir sang istri, "Gwenchanayo changi?," tanyanya lembut.

"Hmm… gwenchana." Balasnya.

Tak lama setelah itu, pintu kamar rawat terbuka, seorang dokter keluar lalu menghampiri sepasang suami istri itu dan Jongdae yang masih tertidur. "Bagaimana keadaan Jaejoong-unnie, dok?" tanya Kibum langsung.

"Keadaan Jaejoong-shii baik-baik saja. Saat ini ia mengalami demam, tapi panasnya akan turun, kira-kira sampai besok siang karena saat ini tubuhnya terlihat sangat lelah. Hanya saja… Jaejoong-shii seperti baru saja mengalami depresi berat dan tertekan. Apakah anda berdua tau apa sebabnya" jelas Dr. Park.

"Depresi, tertekan? Ka- kami tidak tau. Kami baru saja tiba di rumahnya dan langsung mendapatinya tengah pingsan dilantai," Kibum tampak kaget dan semakin khawatir "Apa yang terjadi padanya?"

"Apa… itu dapat mengganggu kandungannya dok?" tanya Siwon ragu-ragu. Ia juga khawatir pada sahabatnya, Jaejoong. Kibum menatap sendu Dr. Park. "Tentu saja Siwon-shii. Depresi yang dialami sang ibu sangat mempengaruhi dan mengganggu pertumbuhan janin dalam kandungannya." Jelas Dr. Park. Menjelaskan kondisi sang pasien yang dulu juga pernah di tanganinya. "Saya harap kondisi batinnya tidak seburuk waktu saat jaejoong-shii hamil anak pertamanya." Ujar Dr. Park, menatap lembut bocah namja dalam pelukan Siwon.

"Jaejoongie-unnie…."

"Mianhe, saya tidak bisa-lama-lama. Saya harus menangani pasien lain. Jadi, Kibum-shii, bisakah anda sedikit menghiburnya? Atau bertanya padanya tentang apa yang membuat ia seperti ini. Mungkin dengan begitu beban yang ditanggungnya akan sedikit berkurang. Anda taukan, kedaan ini sama seperti 4 tahun yang lalu. Hanya orang terdekatnya lah yang dibutuhkan Jaejoong-shii saat ini."

Setelah mengatakan itu, Dr. Park pun berlalu meninggalkan Kibum dan Siwon. Kejadian 4 tahun yang lalu, kejadian yang tak akan pernah bisa dilupakan oleh seorang Kim Kibum. Kejadian dimana ia harus bisa menahan sakit melihat orang yang sudah dianggapnya sebagai kakak kandungnya sendiri, hampir kehilanggan sesosok bayi mungil yang tak berdosa. Siwon memandang istrinya sendu. Dan mengusap pelan punggung yeoja itu.

"Aku harus melakukannya. Aku harus tau apa yang membuat Jae-unnie seperti ini, aku harus bisa bicara dengannya…"

"Aku tau kau sangat menghawatirkannya dan ingin menolongnya. Tapi kau juga harus perhatikan kesehatanmu. Kau baru sembuh dari penyakitmu dan sehun juga membutuhkanmu, Kibum-ah" ujar Siwon, memberikan pengertian.

"Aku tahu…" ujarnya sendu. Teringat ia akan bayinya di rumah yang masih berumur 2 minggu.

.

.

.

-DBSKEXOSJ-

.

.

.

Pagi hari yang cerah, suasana langit tampak cerah setelah hujan badai yang tak berhenti hingga malam menjelang. Suara-suara burung pun mulai berkicau di dahan-dahan pohon yang tumbuh di perkarangan rumah sakit. Didalam sebuah kamar rawat, tangah terbaring tubuh seorang yeoja dengan wajah putih pucat akibat demam yang belum turun. Yeoja itu sudah bangun dari tidurnya, sekarang menatap kosong langit-langit putih kamar itu. Tatapan pilu, sulit diartikan. Suasana sunyi, hingga terdengar suara pintu putih itu terbuka dan masuklah seorang yeoja manis menghampiri yeoja yang terbaring lemah itu.

"Selamat pagi Jae-unnie… kau sudah bangun? Gwencanayo?" sapa dan tanyanya pada Jaejoong. Tak lupa senyumnya yang membuat ia terlihat cantik. Jaejoong tidak membalas, ia hanya menatap kosong langit-langit kamar. Lelah, ia terlalu lelah untuk mengeluarkan suara, walaupun sedikit. Yeoja itu mengerti, lalu diletakkannya rantang yang dibawannya keatas meja nakas disamping tempat tidur. Ditariknya sebuah kursi dan duduk dihadapan tubuh lemah itu. Di elusnya lembut rambut hitam Jaejoong.

"Gwencanayo?" tanyanya lembut. Hening, Jaejoong kembali tidak menjawab pertanyaan itu. Tiba-tiba sebulir air mata kembali keluar dari mata indah itu. Sontak yeoja itu kaget. Diusapnya lembut air mata yang mengalir perlahan itu.

"Hiks… hiks..," hanya suara isakan yang mampu dikeluarkannya, membuat yeoja dihadapannya semakin khawatir. "Uljima… uljima… aku disini, uljima, Jae-unnie" ucapnya menenangkan Jaejoong. Merasa Yeoja yang lebih tua darinya itu sudah tenang Kibum kembali bertanya. "Apa yang sebenarnya terjadi padamu, unnie? Kenapa kau bisa pingsan seperti tadi malam, huh? Ceritakanlah," ujarnya pelan, masih membelai rambut coklat itu, "Kau percaya padaku, kan?" sambil menggenggam lemut jemari yang pucat itu.

Hening. Suasana kembali sunyi. Tak terdengar suara isakan perih itu dan suara burung diluar sana. Hanya deru nafas mereka yang memenuhi suasana kamar itu.

"Kibummie…" lirihnya, akhirnya. "Nae?", tanya Kibum sabar menunggu Jaejoong bicara. "Mereka… mereka membawa bayi ku," ucapnya pelan. "Nugu?". "Mereka, Jung. Keluarga oppa… mereka datang dan…" Heechul tak kuat melanjutkannya. "Uljima, pelan-pelan" ujar Kibum yang dengan sabar menunggu Heechul menyelesaikan kalimatnya. Kibum sempat sedikit kaget mendengar nama keluarga Yunho. Keluarga yang dulu sangat menentang hubungan dua orang yang sangat disayanginya itu. Yunho dan Jaejoong. Membuat mereka harus hidup penuh bayang-bayang ketakutan. Takut bahwa suatu saat mereka berpisah dengan cara yang menyakitkan. Dan sepertinya yang ditakutkan itu telah terjadi. Takdir sudah menentukan, seakan tuhan tidak menyukai dan memberkati keluarga kecil Jung Yunho beserta istrinya, Jaejoong.

Tapi siapa yang tau kedepannya bagaimana? Who knows?

Kibum tau, ia tau tentang semua yang terjadi pada Yunho dan Jaejoong. Sesungguhnya Kibum sangat mendukung hubungan 2 orang itu. Mereka saling mencintai. Bahkan rela melakukan apaun dan membantu mereka hingga sampai saat ini. Kibum sudah menggangap Yunho dan Jaejoong seperti kakak kandungnya sendiri. Beserta suami yang senantiasa menemaninya. Choi Siwon.

Melihat keadaan sang kakak yang sangat disayanginya seperti ini, tak kala membuat hatinya perih, sakit, dan sedih. Kibum masih menunggu Jaejoong melanjutkan ceritanya, walaupun itu menyakitkan.

"….Mereka memintaku untuk tidak berhubungan lagi dengan Yunho oppa dan bayi ku," air mata itu kembali tumpah, tak sanggup lagi berbicara. Kibum pun langsung memeluk tubuh itu. Ia mengerti, sangat mengerti dengan apa yang dikatakan Jaejoong. Kali ini dibiarkannya sang unnie menangis, menangis menumpahkan semua bebannya.

.

.

.

-DBSKEXOSJ-

.

.

.

Sudah 2 hari berlalu semenjak malam yang menyakitkan yang dilalui Jaejoong, sekarang ia masih terbaring di rumah sakit karena kesehatanya kembali menurun. Sedangkan Kibum juga masih harus tetap di rumah sakit, karena penyakit anemia kembali kambuh. Jadilah ia menginap dirumah sakit.

Kibum sekarang tengah terbaring di kasur di salah satu rumah sakit. Tatapannya kosong dan fikirannya masih memikirkan sang kakak yang sangat disayangnya, Jaejoong. Hari perlahan mulai beranjak siang dan suasan tenang itu terganggu oleh suara pintu yang dibuka, memperlihatkan seorang yeoja cantik yang terlihat elegan dengan senyumnya yang menawan. Ia tersenyum lembut ketika pandangan mereka bertemu.

"Ottokhe Jinesimnika , Kibum-ah? Kau tau, kau membuatku khawatir lagi, umm?" ujarnya lembut. Ditariknya salah satu kursi lalu ia duduk dihadapan Kibum yang kini memandangnya antara kaget dan senang.

"Heechul unnie!… aku baik-baik saja. Kapan unnie pulang? Kenapa tidak memberitahuku kalau kau akan pulang?" tanya Kibum sedikit semangat. Perasaan yang meresahkannya tadi tiba-tiba saja hilang, Hilang karena kehadiran seorang kakak yang sangat dirindukannya. Persaaan itu sekarang tergantikan dengan rasa senang. Ia senang karena kakak satu-satunya yang ia punya telah kembali setelah lebih 2 tahun ia pergi. Sekarang ia datang disaat ia sangat membutuhkan sang kakak.

"Nae, aku pulang Bummie… hmm sekitar jam 9 pagi tadi. Kau tau, sesampainya aku di Korea aku langsung kerumah mu dan Siwon. Aku ingin melihat keopankan-keponakan ku yang tampan. Tapi aku tidak menyangka, aku malah bertemu eomma dan appa disana. Ku tanya kenapa mereka disana mereka bilang ingin menjaga cucu-cucu mereka." Jelas Heechul santai, masih menatap sang adik dengan tatapan lembutnya.

"Darimana unnie tau kalau aku ada dirumah sakit?" tanya Kibum. "Siwon-ah yang memberitahuku, dan mengenai Jaejoong…" kata-kata Heechul berhenti. "Unnie… Jaejoong unnie, dia, dia," Kibum kembali sedih. Ia teringat lagi dengan semua cerita Jaejoong padanya. Tubuhnya mulai bergetar pelan.

"Kibum-ah, aku sudah tau. Siwon dan Dr. Park sudah menceritakan semuanya padaku. Tenanglah, Jae pasti baik-baik saja" ujarnya menenangkan.

"Tapi unnie, aku khawatir. Aku khawatir dengan kondisi Jae unnie. Bagaimana kalau dia stress dan itu –itu sangat mempengaruhi calon bayi yang ada dalam kandungannya….bahkan ini masih dua bulan unnie...", perlahan kibum mulai terisak. "Aku sangat menyayanginya, unnie…" lirihnya.

Melihat sang adik yang terlihat tersiksa seperti itu, membuat Heechul khawatir dan sedih. Diusapnya pelan kepala Kibum, menenangkannya.

"Uljima. Unnie mengerti Kibum-ah. Kau sangat menyayanginya. Aku juga, Jae sudah aku anggap adikku ku sendiri. Kita semua menyayanyinya. Jaejoong akan baik-baik saja. Kau harus tenang Kibum-ah, kau harus kuat, kau juga harus memperhatikan kondisimu sendiri. Dan dua putra tampan mu- ah! ya aku juga tadi sempat melihat sehunnie... aish, kenapa kau dan Siwon bisa punya putra imut-imut seperti mereka?" uajr Heechul tak lupa membayangkan dua keponakannya yang imut-imut seperti ibunya. Gemas.

"Yaa unnie. Tentu saja mereka tampan dan imut. Mereka kan anak ku. Tapi... bagaimana dengan Jae unnie…? Dia, dia membutuhkanku. Harus ada seseorang yang mendampinginya saat ini…"

"Unnie dan Hangeng ge yang akan menjaga Jae . Jadi tenaglah. Kalau kondisimu kembali drop seperrti ini, bagaimana kau akan menjaga Jae eoh? Pikirkan dulu kondisi tubuh mu dan sehun juga. Bayi mungil itu sangat membutuhkan mu kibummie... jangan lupakan itu" ujar Heechul panjang lebar mengingatkan. Ia tak henti mengusap lembut kepala Kibum. Menenagkan saeng yang sangat disayanginya.

"Hangeng gege? Di juga ikut? Apa Luhan dan Yixing juga ikut bersama kalian? Apa mereka ada di rumah sekarang?" tanya Kibum tiba-tiba antusias setelah mendengar nama kakak ipar yang juga sudah lama tak bertemu. Teringat dua bocah namja yang manis. Keponakannya.

"Humm. Tentu saja mereka ikut. Tapi sekarang Han ge masih di China, ada urusan mendadak katannya, tau ah. Jadi sekarang tenangkan dirimu. Sebentar lagi umma dan sehun akan kemari"

"…arraseo, unnie. Gomawo…."

0

0

0

-DBSKEXOSJ-

0

0

0

Disebuah kamar yang terbilang luas, yang diisi penuh dengan berbagai macam mainan. Terlihat 2 orang bocah namja yang tengah berdiam diri tidak tau apa yang mau dilakukan. Diatas kasur terbaring sesosok bayi mungil, terlihat bosan dengan suasana sunyi di kamar itu. Membuat bibir mungilnya mengerucut, terlihat sangat lucu.

"Dae-ah, main yuk~ hyung bocan nih~" keluh bocah namja berkulit putih bernama Joonmyun, Choi Joonmyun. 2 tahun lebih tua dari bocah yang tengah melamun. Mendekati Jongdae yang tengah duduk sofa menghadap jendela, tepatnya ke sebuah taman kecil.

"Hmm…" respon Jongdae singkat.

"Jongdae-ah, wae? dari tadi hyung liat kau diam saja. Aku ajak main kamu gak mau….. Dae, liat apa sih?" tanya Joonmyun lagi. "Hmm, Myunnie hyung, aku hanya lelah, gak mau main cekarang. Aku gak lagi liat apa-apa kok" jawab Jongdae lemah. "Terus kamu lagi ngapain?", "Dae lagi mikirin eomma, Dae ingin ketemu eomma." Jawab nya sendu, berbalik menghadap sang hyung yang kini duduk di sebelahnya.

"Kata Kibum ahjuma, eomma lagi cakit. Dae kawatil hyung…" lanjutnya. Sejenak tak ada yang berbicara. Mereka sama-sama menatap kearah taman kecil berhiaskan beberapa bunga yang perlahan mulai mekar.

"Hiks… hiks…" tiba-tiba saja keheningan itu terganggu oleh suara isakan tangis. Jongdae pun membalikkan tubuhnya kearah sumber suara. Dilihatnya namja yang lebih tua darinya tengah terisak, menangis. "Myunie-hyung… kenapa nangith..?" tanyanya polos.

"Hiks, abisnya, kamu nangis, makannya hyung juga ikutan nangis… hiks", jawab Joomnyun polos. Jongdae pun meraba pipinya, basah. Ia menangis. Ia tidak tau kenapa tiba-tiba saja air matanya mengalir membasahi wajahnya, mungkin karena ia sangat menghawatirkan eommanya. "Sudahlah, hyung-ah. Aku udah gak nangish lagi" ucap Jongdae menenangkan. Tapi, tak lama setelah Jongdae bicara tiba-tiba terdengar suara tangisan yang membuat 2 bocah itu terdiam. Mereka saling pandang, tak mengerti.

"Hueee!….hueee….", ternyata yang menangis adalah si bayi mungil. Spontan Jongdae dan Joonmyun menghampiri saeng mereka.

"Sehunnie~ kenapa kamu menangish? Cup cup cup". Jongdae mencoba menenangkan bayi mungil yang di panggilnya sehunnie. Tidak hanya Jongdae, Joonmyun pun gelagapan menengakan saengnya. Ternyata tangisan Sehun terdengar sampai keluar kamar. Karena tiba-tiba saja pintu kamar itu di buka dengan tergesa-gesa, memperlihatkan sesosok yeoja dewasa. Ia terlihat cemas dan khawatir. Yeoja itu menghampiri Joonmyun, Jongdae dan bayi mungil yang masih menangis.

"Joonmyunnie, Jongdae-ah apa yang terjadi? Kenapa kalian menangis?" tanya wanita dewasa itu yang tak lain adalah Mrs.Kim, sekarang tengah mengendong baby Sehun yang masih menangis, "Cup cup cup Sehunnie… sudah jangan nagis lagi, ne…"

"Nggak ada apa-apa kok, halmoni" jawab Jongdae langsung.

"Kalau tidak apa-apa kenapa kalian menangis, changi?"

"Etoo… tadi Dae tiba-tiba saja air matanya turun. Aku pikir Dae menangis makanya aku ikutan nangis." Kali ini Joonmyun yang menjawab. Mrs.Kim menatap Jongdae lembut.

"Aku.. rindu eomma, halmoni. Dae ingin ketemu eomma". Akhirnya Jongdae mengatakan alasan penyebab mengapa ia menangis. Ia menunduk, menatap nanar kasur yang ditempatinya.

Haaa… sang halmoni hanya bisa menghela nafasnya. Sepertinya ia tau apa yang harus dilakukannya agar tidak melihat bocah manis itu yang terus bersedih. Ia tau. Ia tau bagaimana perasaan bocah namja bermata sipit itu sekarang. Ia menyayangi Jongdae seperti ia menyayangi kedua cucu nya, Joonmyun dan Sehun.

Sebenarnya keluarga Heechul, Kim, sudah mengganggap Jeajoong seperti keluarga mereka sendiri. Heechul dan Jaejoong sama-sama dibesarkan sejak mereka kecil. Jaejoong hidup dan tinggal dengan keluarga Kim semenjak kedua orang tuanya meninggal akibat perampokan sadis saat umurnya akan menginjak umur 7 tahun. Keluarga Kim mengalami malam yang tak akan pernah dilupakan. Beruntung saat itu Jaejoong langsung bersembunyi di bawah tempat tidurnya yang lumayan sempit, sehingga para perampok itu tidak menemukannya. Dan untunglah Jaejoong tidak melihat saat kedua orang tuanya meninggal dengan sadisnya.

Heechul ditemukan ketika pagi menjelang, saat para polisi beserta keluarga Kim, keluarga yang sangat mengenal baik dan memang memiliki hubungan dekat dengan keluarga Kim itu, yang mengetahui kejadian itu. Betapa bersyukurnya mereka, ternyata masih ada nyawa yang selamat dari perampokan itu. Ya, hanya Jaejoong, anak satu-satunya dari keluarga Kim yang selamat. Sedangkan kedua orang tuanya meninggal dengan luka tembak didada mereka. Sungguh menyedihkan. Karena ia tidak memiliki sanak family, ia diasuh oleh keluarga Kim. Keluaga yang sangat menyayanginya. Dan juga marga yang sama, tidak jadi membuat mereka berbeda. Heechul dan Jeajoong terlihat seperti dua gadis kembar waktu itu.

Jadi tidak heran kalau keluarga Kim sangat memperhatikan dan menyayangi Jeejoong beserta anak-anaknya. Apa lagi sekarang mereka hanya tinggal berdua, karena.. yah kalian sudah taukan, masalahnya.

Mrs.Kim membelai lembut kepala Jongdae dan tersenyum, "Kamu mau bertemu dengan eomma mu, Jongdae-ah?" tanyanya.

"Nae, aku mau.." jawab Jongdae.

"Baiklah kalau begitu. Jongdae-ah, joonmyun-ah bersiap-siap lah. Kita akan ke rumah sakit. Dan juga kita akan melihat eomma mu Joonmyunnie."

"Nae, halmoni"

Tbc...

Haihaihaihai~~~

Kayaknya nih cerita makin membosankan yah? Belon ada konflik kayaknya.

Oh ya boleh minta saran? Baiknya anaknya donghae oppya sapa ? member exo juga kok. Memang saya pengen member DBSK dan SJ jadi ortu trus member exo jadi anak ._. aneh ya? Biar namanya juga ff.

p.s :: kalo ada yang keliru mohon di beritahu.. saya masih amatiran #boww

Oce! Sekian. Sampai ketemu di chap tiga~

Please RnR juseyo...