.
.
.
Hino Kahoko ( February, 27th)
.
.
.
18 Februari
.
Kahoko menghela napas lega, diregangkannya tubuhnya yang kaku. Ia melihat keluar jendela ruang musik di lantai tiga dengan tatapan menerawang. Diletakkannya biola merah kesayangannya di atas grand piano hitam di tengah ruangan itu. Ia berjalan menuju jendela dan membukanya, dihirupnya udara musim dingin Yokohama. Ia tersenyum kecil saat angin dingin menerpa wajah dan tubuhnya. Rambut merahnya yang kini sepanjang pinggang menari ditiup angin. Tak terasa lima tahun sudah berlalu sejak hari itu, hari dimana ia menyadari cinta terpendamnya pada seorang Tsukimori Len.
"Hino-chan, sedang apa kau? Ayo kita pulang sekarang", Kahoko membalikkan badannya dan melihat Mori Manami berjalan melintasi ruangan.
"Mori-san"
"Apa kau latihan lagi? Bukankah sudah kukatakan sebelumnya, jangan memaksakan diri, Hino-chan?"
"Ah, aku sama sekali tidak memaksakan diri, kok. Aku hanya latihan sedikit"
"Sedikit?", Mori menaikkan sebelah alisnya, "Apakah 4 jam terlalu sedikit bagimu?", Kahoko tertawa gugup. "Haa... kau pasti sudah ketularan dia, latihan selama itu"
"Aha ha ha... Mori-san aku bukannya ketularan, tapi aku gugup. Itu saja, bukan karena pengaruh dia, kok"
"Tenang saja, semua pasti baik – baik saja. Aku yakin, kau pasti lulus, jangan khawatir. Dan konser amal itu pun pasti akan berhasil, kau terlalu mencemaskan hal yang tak perlu kau cemaskan, Hino-chan"
Kahoko menghela napas berat, "Kau membuatku semakin gugup saja, Mori-san"
"Maaf, deh... Sebaiknya kita pulang saja sekarang, sudah mulai gelap"
"Iya, kau duluan saja aku mau merapikan barang – barangku dulu"
"Kau yakin?", Kahoko mengangguk dan tersenyum, "Baiklah kalau begitu, ah iya, Tsuchiura-kun sudah menunggumu di luar. Dia menyuruhmu menunggunya di lapangan. Tadi latihannya masih belum selesai, makanya dia menyuruhku memberitahumu"
"Terima kasih, Mori-san", Manami melambai dan menutup pintu dibelakangnya. Tak lama kemudian, Kahoko keluar dari ruangan musik tempatnya berlatih selama 4 jam. Kotak biola berwarna merah berada di tangan kirinya dan tangan kanannya menenteng sebuah tas tangan besar bergambar bunga sakura. Ia menghela napas lega setelah berhasil menuju lapangan olahraga Universitas Seiso. Matanya menangkap sesosok tubuh yang tak asing lagi. Sosok itu sedang berbicara dengan seseorang yang mirip dengannya juga. Kedua orang itu menoleh bersamaan saat mendengar nama mereka dipanggil oleh gadis yang dulu hatinya mereka perebutkan.
"Tsuchiura-kun! Hihara-senpai!"
"Yo! Hino, lama sekali kau"
"KAHO-CHAAAN!"
"Gomen ne... aku keasyikan latihan jadi lupa waktu"
"Sudah mulai gelap, sebaiknya kita pulang"
"Un"
"Yosh!"
"Hino, kau sudah menyiapkan lagu yang akan kau mainkan untuk ujian nanti?", tanya Ryotaro saat mereka sudah berada di luar pagar Universitas Seiso.
"Uhm... sudah tapi... entahlah, aku merasa masih banyak yang kurang"
"Memangnya kau main lagu apa nanti Kaho-chan?"
"Eh... Tchaikovsky, Valse-Scherzo, Op. 34, bagaimana dengan kalian?"
"Nanti aku main Horn Concerto-nya Mozart, kalau kau Tsuchiura-kun?"
"Moonlight Sonata, Beethoven"
"Lho? Kukira kau main karya Lizst lagi"
"Ah, tidak... aku hanya mencoba hal lain. Oh ya, pacarmu yang menyebalkan itu tidak datang ke konser amal nanti 'kan?"
Kahoko memerah mendengar Ryotaro menyebut kekasihnya. "Ehm... dia sibuk dengan konsernya sendiri, jadi pasti tidak bisa datang, meski ibunya sendiri yang meminta"
"Tapi 'kan sudah berapa tahun kalian tidak bertemu, lima tahun bukan?", sela Kazuki. Kahoko hanya tersenyum kecil membenarkan. Sudah lima tahun ini mereka berpacaran jarak jauh. Selama itu pula, mereka berhubungan melalui e-mail maupun telepon yang kerap dilakukannya saat malam hari atau bahkan tengah malam. Ia tak pernah mengeluh sedikitpun padanya, karena mereka tahu, inilah resiko menjalin hubungan jarak jauh. Semenjak ia meninggalkan Jepang menuju Austria, mereka sudah siap menghadapi segala konsekuensinya. Termasuk tidak bertatap muka secara langsung selama beberapa tahun.
"Benar sekali, sudah lima tahun tidak pernah bertemu dia secara langsung lagi. Aku penasaran bagaimana wajahnya sekarang, katanya bertemu dengan orang aslinya jauh berbeda dari fotonya", Kahoko terkikik geli mendengar Ryotaro berkata seperti itu, Kazuki tersenyum lebar, ia menyikut lengan Ryotaro.
"Jangan – jangan kau kangen ya, sama Tsukimori-kun?" Ryotaro merah padam mendengar gurauan kakak tingkatnya.
"SENPAI! ! !"
.
-o::o::o-
.
Lagu The Power milik Kanon terdengar dari benda kecil berwarna hitam dengan garis biru di sisinya, dengan cepat Kahoko mengambil ponsel kesayangannya yang tergeletak di atas meja belajarnya dan membukanya. Dengan hati berdebar ia menjawab telepon yang sudah dinantinya sejak pagi hari.
"Halo, Len", sapanya.
"Selamat malam, Kahoko", Kahoko tersenyum saat mendengar suara dan melihat wajahnya yang tenang. "Bagaimana latihanmu? Apakah sensei memberimu tugas baru?"
"Tidak, tidak ada tugas dari Zaoyinu-sensei. Tapi ia menyuruhku untuk mengajar dan mengawasi murid – murid SMA dan SMP Seiso"
"Begitu ya?", Kahoko terkikik geli mendengar kekasihnya yang hemat berbicara itu mengomentari dengan bosannya. "Apa?"
"Tidak, tidak ada apa – apa, tumben kau meneleponku jam 8 malam, biasanya kau 'kan meneleponku di atas jam 10. Ada apa Len?"
Len tersenyum, "Memangnya aku tidak boleh menelepon pacarku sendiri?", Kahoko tersipu mendengarnya. Ia rindu melihat senyumnya sama seperti Len merindukan senyumnya. "Aku senang bisa melihatmu tersipu seperti itu walaupun tidak secara langsung. Untung aku membeli ponsel itu untukmu, jadi kalau aku rindu padamu aku akan meneleponmu dan aku bisa melihat dan mendengarmu disaat yang bersamaan"
Wajah Kahoko yang sudah merah kini merah padam, memang benar, ponsel itu adalah ponsel yang diberikan Len pada Kahoko seminggu setelah ia kembali ke Austria. Ia beranggapan untuk membelikan ponsel yang memiliki fitur video call, sehingga mereka dapat menelepon sambil bertatap muka. Len terkekeh pelan saat melihat Kahoko yang terperangah. "Aku juga merindukanmu", bisik Kahoko pelan. Di layar ponselnya, Len tersenyum lembut sambil menjawab dengan suara yang lembut pula.
"Dan aku juga mencintaimu", lama mereka hanya saling menatap masing – masing melalui layar ponsel. Mereka tersenyum satu sama lain dan menikmati waktu yang jarang mereka miliki untuk menatap dan memperhatikan satu sama lainnya. Biasanya mereka hanya membicarakan hal – hal penting saja karena biasanya Len akan menelepon di atas jam 10, dan Len tidak akan menelepon lebih dari satu jam karena ia tidak ingin Kahoko sakit karena tidur terlalu larut. Karena kini mereka memiliki banyak waktu, mereka bingung apa yang ingin mereka bicarakan. Mereka lebih memilih diam dan menatap masing – masing, canggung untuk membuka percakapan.
"Kau sudah makan siang?"
"Kau sudah makan malam?", tanya keduanya bersamaan. Mereka mengerjap sekali dan tersenyum canggung.
"Sudah, kalau kau?"
"Sudah, kalau kau?", Mereka mengerjap dua kali sebelum tertawa bersama.
"Aneh sekali kita ini. Kenapa kita bicaranya bersamaan?"
"Aku setuju denganmu Kahoko, benar – benar aneh"
"Bagaimana Wina? Apakah lebih dingin dari tahun lalu?"
"Lumayan, bagaimana di sana?"
"Mm, cukup dingin meskipun salju sudah mulai berkurang"
"Salju di sini masih banyak, mungkin kalau kau di sini kau malah tidak ingin musim dingin berakhir"
"Tentu saja, aku 'kan senang dengan musim dingin"
"Aku tahu itu, tapi sebenarnya, memangnya apa yang kau sukai dari musim dingin?"
"Eh... itu..."
"Katakan padaku, Kahoko", pintanya dengan senyum lembutnya.
"Ukh...", Kahoko tidak bisa menolak permintaannya kalau ia sudah meminta seperti itu. Len tidak pernah meminta apapun padanya dan hal itu cukup menggodanya. "Baiklah... tapi... janji ya jangan tertawa atau mengejekku", pintanya dengan wajah memerah malu. Len tersenyum menyemangati.
"Janji"
Kahoko menarik napas dalam sebelum berkata dengan lirih, "Sebenarnya aku menyukai musim dingin karena..."
"Karena...?"
"... karena mengingatkanku padamu"
Len terdiam sejenak, ia kemudian tersenyum miring, "Karena aku dingin pada semua orang?"
"Bukan! Bukan dalam arti negatif tapi..."
"Tapi?"
"Tapi... karena mirip dengan sifatmu, meskipun awalnya kau dingin dan cuek padaku, tapi kau membuka hatimu untukku. Aku suka musim dingin, karena aku bisa menikmati indahnya salju, dunia seakan hanya berwarna putih, damai, tenang, lembut, meskipun hawanya dingin tapi hatiku terasa hangat melihat dan merasakan dinginnya. Semua itu mengingatkanku padamu, karena meskipun kau dingin dan cuek, tapi sebenarnya kau peduli. Kau juga selalu terlihat tenang dalam menghadapi berbagai masalah, aku masih ingat kejadian lima tahun lalu saat seleksi kedua... Aku... sampai sekarang aku juga masih menyesali kenapa aku tidak menyadarinya saat itu juga? Sungguh bodoh aku ini. Kau tidak akan pernah meninggalkan biolamu tergeletak begitu saja. Aku terlambat menyadarinya dan akhirnya kau malah tidak bisa tampil dan malah berada diperingkat terakhir. Saat itu kau juga tidak memperdulikan hal itu dan kau malah dengan mudahnya melupakan kejadian itu. Padahal itu bukan salahmu, tapi kau malah meminta maaf itu 'kan tidak benar sama sekali! Kau sebenarnya juga memiliki kelembutan, hatimu benar – benar baik, lembut dan hangat, penuh dengan cinta dan perasaan yang kau pendam selama ini dan perasaan itu tumbuh semakin dalam dan kuat bahkan tanpa kau sadari. Aku ingat saat aku pertama kali melihatmu, kupikir 'dia sebenarnya tampan, tapi sayang sekali sifatnya jelek dan kasar'", Kahoko tertawa kecil mengingat pikiran itu sempat terlintas dibenaknya, ia juga sempat tidak menyukai pria yang sekarang menjadi kekasihnya itu.
"Tapi begitu aku mendengar Ave Maria-mu untuk yang pertama kali, aku merasakan kalau perasaanmu begitu lembut, hangat, dan membuatku merasa sangat damai dan tenang... Aku... tak kusadari sebelumnya, mungkin itu juga yang membuatku jatuh cinta padamu untuk yang pertama. Musikmu yang menyimpan perasaanmu, meskipun kau jarang memainkan musik dengan perasaan, tapi begitu perasaanmu tersalurkan melalui musik... Kau membuatku terhanyut dalam perasaanmu, itulah yang aku sukai dari musim dingin, karena banyak mengingatkanku padamu", air mata yang tak terasa menggenang di pelupuk matanya menetes.
"Kahoko...", panggil Len cemas.
"Ma—maaf Len, aku... ah, jangan khawatir bukan apa – apa kok"
"...panas"
"Eh?"
"Musim panas, aku suka musim panas"
"Huh?"
"Aku suka musim panas, juga musim semi"
"Kenapa?"
Len tersenyum lembut pada Kahoko, "Musim gugur juga suka, tapi aku tidak terlalu suka musim dingin"
"Kenapa?"
"Tapi sepertinya aku lebih suka musim semi"
"Apa maksudmu, Len?"
Len menatap mata Kahoko lekat – lekat sambil tersenyum lembut padanya, senyum yang selalu disukai Kahoko, "Musim panas karena mengingatkanku padamu, banyak. Musim gugur karena saat itu aku mulai menyadari kalau aku mencintaimu", Wajah Kahoko memerah mendengar hal itu. Len tersenyum memahami dan kembali berkata dengan lembutnya, "Aku tidak terlalu suka musim dingin karena di musim dingin lima tahun lalu aku harus meninggalkanmu untuk mengejar cita – citaku sendiri. Awal musim semi, aku bisa mengatakan isi hatiku yang sesungguhnya padamu. Apa yang selama itu kupendam. Perasaanku yang sesungguhnya padamu"
"Benarkah? Hanya karena itu kau lebih menyukai musim semi?"
"Tidak juga, alasanku yang sesungguhnya mengapa aku lebih menyukai musim semi adalah..." Len kembali terdiam sejenak, senyumnya semakin melembut saat berbicara lagi.
"Karena di musim semi, aku bertemu denganmu"
.
-o::o::o-
.
23 Februari
.
"Baiklah, latihan hari ini kita cukupkan sampai di sini"
"Arigatou"
Zaoyinu-san memandang tajam ke arah jari – jari tangan Kahoko yang masih memegang biola. Alisnya mengerut saat berkata dengan suaranya yang dalam, "Kudengar kau diajak Hamai Misa dalam konser amalnya mendatang, benar begitu?"
"Eh? Iya"
"Bagaimana kau bisa tampil kalau kau terlalu mengkhawatirkan ujianmu? Bukankah waktu untuk ujian hampir bersamaan dengan konser itu?"
"Benar, sensei"
"Kau yakin bisa mengatasinya?"
"Iya"
"Kalau begitu kau harus menambah latihanmu"
"A—APA? ! Kenapa sensei?"
"Ujian bahasa Jermanmu kali ini akan cukup sulit, mengingat ujian kali ini adalah ujian kelulusanmu, selain itu permainan pianomu juga harus di asah. Tchaikovsky-mu masih kurang bagus, perbaiki lagi. Aku tidak ingin nilai – nilaimu jatuh karena sibuk berlatih untuk konser. Aku akan menambah jadwal latihanmu denganku mulai besok. Sampai bertemu besok, Hino", Kahoko menatap punggung Zaoyinu-san yang menghilang di balik pintu ruang musik.
"APA – APAAN ITU TADI? ! DASAR SENSEI VAMPIR! ! DRAKULA! ! ! KETERLALUAN! ! ! MASA' JADWAL LATIHANKU MASIH DITAMBAH JUGA? ! ! !",kata Kahoko sambil berjalan menghentak – hentakan kakinya.
"Lho, Kaho-chan sedang apa kau marah – marah sendiri"
Kahoko membalikkan badannya dan melihat Amou Nami yang berdiri tak jauh darinya. "Oh, Hai Nami-san"
"Ada apa? Kau kelihatan kesal sekali, apa ada masalah dengan Zaoyinu-sensei?"
"Eh, tahu dari mana?"
"He he he... ada deh... Oh ya bagaimana dengan persiapan ujian sekaligus konser amalmu?"
"Uuukh... baik? Kurasa, bagaimana denganmu?"
"Cukuplah, jurusan jurnalisme kan tidak serumit jurusan musik"
"Enaknya... aku jadi iri"
"Hei, kenapa tidak kau minta Tsukimori-kun saja untuk membantu persiapan ujianmu?"
"EEEEH? !"
"Tentu saja, kenapa tidak? Aku yakin Tsukimori-kun pasti mau membantumu"
"Mm... sebenarnya aku memang sudah minta diajari Len, tapi hanya untuk teori dan bahasa Jerman. Kalau biola aku jarang minta diajari Len, kecuali dia sendiri yang menyuruh. Kau 'kan tahu sendiri kalau Len sibuk dan perbedaan waktu antara Jepang dan Austria 'kan 8 jam"
"Iya, iya, aku tahu. Omong – omong apa nanti dia akan datang?"
"Tentu saja dia tidak bisa datang. Saat kutanyakan apakah dia akan pulang, dia bilang dia sedang menangani urusan yang sangat penting. Jadi tidak bisa pulang nanti", Jelas Kahoko. Nami menganggukkan kepala.
"Tapi kalian kan tidak pernah bertemu lagi sejak lima tahun lalu! Apa kalian tidak rindu?"
"Tentu saja aku merindukannya, tapi kami 'kan selalu bertemu setiap kali kami menelepon"
"Ah, iya benar juga. Tapi maksudku 'kan bertemu secara langsung. Eh, sekarang kau mau kemana Kaho-chan?", balas Nami.
"Eh... sebentar lagi aku mau latihan dengan yang lainnya di concert hall, aku akan menemui mereka di sana"
"Oh, iya bicara tentang pakaian, apa yang akan kau kenakan saat konser nanti?"
"Eeh... tidak tahu ya. Memangnya ada apa?"
Nami tersenyum lebar, "Bagus kalau begitu. Kita harus shopping besok"
"Huh?"
"Yup! Shopping! Mori-san juga harus diajak, kalau begitu"
"Eh? ! Tidak usah, tidak perlu"
"Memangnya kau punya baju?"
"Yah... kalau itu..."
"Nah, kalau begitu besok kita shopping. Ketemunya nanti di depan Hachiko ya jam 9 pagi, dan jangan telat"
"Tapi... Nami-chan..."
"Nah, sampai jumpa besok, Kaho-chan...", Nami meninggalkan Kahoko sambil melambaikan tangannya.
.
-o::o::o-
.
"Kahoko-san, bibi ingin kau memainkan lagu ini"
"Eh? Lagu?", tanya Kahoko bingung pada Hamai Misa yang menyodorkan sebuah partitur musik pdanya. Diambilnya kertas itu tanpa ragu, dibaca lembaran – lembaran partitur itu dengan cermat. "Aku belum pernah mendengar lagu ini sebelumnya. Memangnya ini karya siapa bibi?"
Pertanyaan Kahoko hanya dijawab oleh senyum Misa-san. "Apakah kau bisa menghapalkan lagu ini untuk konser amal kita nanti, Kahoko-san? Atau kau terlalu sibuk menghapalkan lagu – lagu kita yang lainnya sehingga tidak bisa menghapalkannya?"
"Tidak, bibi, tentu saja bisa, lagipula Mozart sudah kuhapal, juga lagu – lagu kita yang lain. Aku bisa kok memainkan lagu ini, hanya saja karena aku belum pernah mendengar lagu ini sebelumnya, jadi—"
"Tidak apa – apa, tidak apa – apa, coba saja, dulu, Kahoko-san", sela Misa-san. Kahoko tersenyum kecil.
"Baiklah, aku akan coba memainkannya", Kahoko mengambil biolanya dari dalam kotaknya. Diletakkannya biola itu di bahunya, tangan kanannya memosisikan bow tepat di atas senar – senar biola yang mengilat terkena cahaya lampu panggung. Kahoko menarik napas dalam sebelum akhirnya menarik bownya. Nada – nada indah mengalir dari biola merah mahogani kesayangannya itu. Hamai Misa memejamkan matanya, membiarkan nada – nada yang mengalun indahnya melingkupinya.
Nada – nada yang riang penuh cinta pun perlahan berubah menjadi alunan sedih dan dalam, melodi tinggi seperti meneriakkan kesedihan yang ditulis oleh komposer. Kahoko menurunkan biolanya segera setelah nada minor tertinggi habis, ia menangis tersedu – sedu. "Ma—maaf, bibi, aku... terbawa suasana", lirihnya dengan suara tertahan. Misa-san mendekati Kahoko dengan senyum sedih. Dipeluknya tubuh gadis yang dicintai anak semata wayangnya itu lembut.
"Tidak apa – apa, musikmu sangat menyentuh, Kahoko-san. Indah sekali"
"Terima kasih, bibi"
"Kau tahu apa judul lagu ini, Kahoko-san?"
"Tidak... memangnya apa bi?"
"Die Liebe, die sich vereinigt"
Kahoko tersenyum kecil, "Die Liebe, die sich vereinigt? Indah sekali..."
"Memang indah"
"Tapi, bi sepertinya ada yang kurang... Apakah seharusnya lagu ini duet?"
"Hm? Lagu ini memang untuk duet, Kahoko-san. Tapi tidak apa – apa, kau mainkan bagian solomu saja"
"Baiklah, terserah apa kata bibi saja"
"Maaf kami terlambat, Hamai-san", Misa-san dan Kahoko berbalik menghadap suara itu. Ryotaro, Aoi, Kazuki, Keiichi, Shouko, dan Azuma berjalan mendekati panggung.
"Oh, minna-san! Selamat datang, terima kasih sudah datang latihan hari ini lagi"
"Tidak, Hamai-san, seharusnya kami yang berterimakasih pada anda karena sudah mengundang kami sebagai bagian dalam konser amal anda mendatang", ujar Azuma dengan senyumnya.
"Benar sekali yang dikatakan Yunoki seharusnya kami yang berterimakasih pada anda Hamai-san", ujar Kazuki mengiyakan Azuma dengan riang.
"Aku sudah tidak sabar lagi... untuk bermain bersama kalian lagi...", tambah Keiichi dengan senyum mengantuknya.
"Aku j—juga, su—sudah l—lama ya, se—senpai", ujar Shouko malu – malu.
"Iya, benar sekali, Shouko-chan", balas Kahoko riang.
"Ah, minna, sebenarnya masih ada seseorang lagi yang harus kita tunggu. Dia baru bisa datang latihan hari ini", ujar Misa-san. Mereka bertujuh memandang Misa-san bingung.
"Siapa lagi yang harus kita tunggu, Hamai-san?", tanya Ryotaro.
"Bukankah para peserta concours sudah ada di sini?", tambah Aoi.
'Apakah Len yang...? Tidak, tidak mungkin Len datang', pikir Kahoko setengah berharap dalam hati.
"Ah, dia bukan peserta concours, dia...", saat Misa-san hendak memberitahu mereka, tiba – tiba seorang pria masuk dari belakang panggung.
"Maaf, terlambat bibi. Ada masalah kecil tadi", ujar pria itu. Kahoko dan Aoi membelalakkan matanya saat melihat pria dihadapan mereka.
"Etou-kun!", seru keduanya bersamaan. Kiriya menoleh memandang mereka dan tersenyum usil.
"Hoo, ada Aoi-san dan Kahoko-san, rupanya. Apa kabar?"
"Kalian saling kenal?", tanya Kazuki tidak percaya.
"Ah, aku lupa. Perkenalkan namaku Etou Kiriya. Dulu aku satu tempat les dengan Len-san dan Aoi-san. Salam kenal"
"Nah, karena kita sudah lengkap, bagaimana kalau kita, mulai latihan sekarang?", ujar Misa-san. Sesi latihan berjalan dengan baik. Mereka berlatih Emperor Concerto No. 5 in E-flat Major dan Für Elise milik Beethoven di bawah pengawasan Hamai Misa. Kiriya dengan mudahnya berteman dengan peserta concours yang lain, Kazuki, Azuma dan Keiichi memuji permainan Kiriya. Kahoko yang melirik ke arahnya dengan cepat memalingkan wajah saat Kiriya memandangnya dengan senyum usilnya. Kahoko merasa senang karena setelah sekian lama akhirnya mereka semua dapat berkumpul kembali dan bermain bersama lagi.
"Terima kasih atas kerja samanya minna-san", ujar Hamai Misa saat latihan akhirnya berakhir. "Kahoko-san, kau yakin tidak ingin pulang bersamaku?", tawarnya sekali lagi.
"Ah, tidak perlu, bibi. Lagipula saya ada urusan yang harus diurus sekarang juga", tolaknya halus. Misa-san mengerti, ia mengangguk sekali dan memeluk Kahoko.
"Kalau begitu, bibi pulang dulu, Kahoko-san, minna-san. Besok kita latihan di jam yang sama di tempat ini juga. Sampai jumpa", setelah berkata seperti itu, ia pun masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya. Mobil itu pun meninggalkan mereka menuju kediaman Tsukimori.
"Kalau begitu sampai jumpa, minna-san, Kazuki dan aku akan pulang sekarang", ujar Azuma. Tiba – tiba terdengar lagu My Kind of Perfect milik David Archuleta, Kiriya dengan segera mengambil ponselnya dari saku celananya. Di ketuknya layarnya sekali dan ditempelkannya ke telinganya.
"Ya... Sebentar lagi aku pulang... Huh? ! Dia nggak ada? ... Ya, ya, nanti aku mampir... Masih sakit? Tu—tunggu dulu! Sa—sabar ya, aku ke sana!", Mereka menatap Kiriya bingung saat mendengar nada cemas Kiriya. Ia berbalik dan pamit dengan tergesa – gesa. "Kalau begitu sampai jumpa besok", ia pun berlari menuju sepeda motor merah yang terparkir tak jauh dari pintu keluar, meninggalkan mereka yang keheranan.
"Memangnya ada apa dengan si Etou itu?", tanya Ryotaro.
"Entahlah", jawab Kahoko.
.
-o::o::o-
.
"Eh... jadi begitu? Konsermu yang kemarin lusa berjalan baik? Syukurlah", jawab Kahoko riang sambil mendorong kereta barangnya. Ia memilih sayuran segar untuk makan malam hari ini, swalayan malam itu tidak terlalu penuh, sehingga ia dengan mudahnya dapat berbelanja seleluasanya.
"Begitulah, dimana kau sekarang?", tanya Len dari seberang telepon.
"Eh... aku? Aku ada di swalayan, biasa, belanja bahan – bahan untuk makan malam", ujar Kahoko sambil menimbang dua kaleng sarden di kedua tangannya, ponselnya dijepitnya dengan bahu ke telinga.
"Apa makan malamnya hari ini?", tanya Len dengan nada tertarik. Seakan ia berkata ia tidak sabar ingin pulang dan mencicipi makanan masakannya. Kahoko tersenyum saat ia mendengar pertanyaannya, Len selalu menanyakan pertanyaan itu saat ia hendak memasak.
"Malam ini aku masak kari, rencananya besok aku mau bikin sushi. Besok malam kakak laki – lakiku datang bersama istrinya, jadi rumah kami akan penuh. Kakak perempuanku juga datang dengan keluarganya, ibuku memintaku memasak untuk mereka. Jadi mungkin aku akan masak shabu – shabu, mungkin aku harus masak teriyaki dan steak ya? Bagaimana menurutmu, Len?"
Len tertawa saat mendengar Kahoko berkata seperti itu, "Hm, sepertinya enak. Aku yakin masakanmu pasti lezat. Lagipula masakan apapun yang kau masak, aku yakin mereka akan memakannya dengan senang hati. Karena kau memasaknya dengan cinta"
Kahoko tersipu mendengarnya, "Aw... Danke Len, kau ada dimana sekarang?", saat Len tidak juga menjawabnya, ia memanggilnya dengan cemas, "Len? Ada apa?"
"Tidak ada apa – apa"
"Lalu kau dimana sekarang?"
"Rumah sakit", tubuh Kahoko bergetar saat mendengarnya.
"Ka—kau kenapa?", tanyanya dengan suara cemas.
"Tidak apa – apa, bukan aku yang sakit. Aku menjenguk seseorang di sini", saat didengarnya penjelasan Len, tubuhnya merileks. Napasnya yang sempat tertahan, dihembuskannya perlahan dengan lega.
"LEEEEEN! ! ! Jangan membuatku cemas! Kau nyaris membuatku sakit jantung!", Len tertawa kecil saat mendengar Kahoko.
"Maaf, Kahoko"
"Dasar! Aku tidak habis pikir, Len!", Kahoko melayangkan pandang ke arah perlengkapan wanita. Matanya menangkap sebuah siluet pria yang berdiri membelakanginya. Disipitkannya mata ambernya, 'Itu kan Etou-kun, sedang apa dia di sana?', pikirnya bingung. "Eh, Len, sudah dulu ya? Nanti malam kita sambung lagi. Dan jangan lupa nanti bantu aku mempelajari bahasa Jerman. Bye Len". Dengan cepat ditutupnya sambungan telepon itu. Kahoko mendorong keretanya hingga di dekat Kiriya.
"Apa yang kau cari di sini Etou-kun?"
"HUWAAAA! ! !", Kiriya terlunjak kaget, ia menoleh dan memandang Kahoko yang juga terkejut. "Kahoko! Apa – apaan sih?"
"Eh? Maaf?"
"Sedang apa kau di sini? Oh, belanja makan malam?", ujarnya lagi saat melihat trolly Kahoko yang penuh.
"Iya, kau sendiri sedang apa? Berdiri di depan rak pembalut wanita?", Kiriya memerah saat mendengar pertanyaan Kahoko.
"Eh... itu... begini..."
"Jangan – jangan kau...", ujar Kahoko curiga.
"BUKAN! KAHOKO! ! JANGAN SALAH PAHAM! ! !"
"Aha ha ha... tenang saja, aku tidak berpikiran macam – macam, kok. Lalu apa yang kau lakukan? Keranjangmu kosong melompong begitu. Kau niat beli atau tidak?"
"Niat... Hei karena kau cewek juga, aku boleh tanya sesuatu?"
"Tentu kurasa... HEI! Kau mengejekku? ! Enak saja! Memangnya selama ini aku laki – laki?", protes Kahoko. Kiriya tertawa terbahak – bahak.
"AHA HA HA HA... Maaf, maaf... bukan itu maksudku. Aku tahu kau itu cewek, bukan cowok! Makanya aku mau tanya sesuatu"
"Iya deh, iya, memangnya kau ingin bertanya apa?", Kiriya menatap dalam mata Kahoko.
"Kahoko-san", wajah Kahoko memerah malu saat ditatap seperti itu oleh Kiriya. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Kahoko, ia berbisik ditelinganya dengan suara lirih. "Biasanya kau pakai benda ini merk apa?"
"APA? !"
"Hei, aku juga malu tahu!", tukas kiriya dengan wajah memerah.
"Memangnya kau mau beli untuk siapa?"
"Cewekku, kenapa? Cemburu?", godanya.
"Siapa juga yang cemburu! Kenapa tidak kau tanyakan saja padanya?"
"Haaa... susah! Kalau dia sedang 'itu' biasanya dia tidak bisa bangun dari tempat tidur. Dia selalu kesakitan. Bicara saja dia susah. Tadi dia telepon, minta dibelikan"
"Oh, yang tadi... Makanya dia memintamu untuk membelikannya ya?"
"Begitulah, jadi kau bisa membantuku kan?"
"Tentu", ujar Kahoko sambil melihat – lihat rak itu. "Aku tidak tahu kau sudah punya pacar, Etou-kun. Sejak kapan?"
"Eh... natal kemarin tiga tahun. Tapi kami sudah lama saling mengenal sejak kecil. Aku selalu menjaganya sejak dulu"
"Wah... benarkah? Aku tidak tahu"
"Kalau kau mau lain kali akan kukenalkan. Mungkin setelah konser amal nanti"
"Baiklah, janji ya? Aku tidak sabar ingin bertemu dengannya. Ah, ini merk yang biasa ku pakai", ujar Kahoko sambil menyerahkan tiga bungkus pembalut wanita. Kiriya dengan kikuk mengambilnya.
"Ehm... Thanks, tapi buat apa sebanyak ini?"
"Tentu saja harus beli banyak. Kan harus diganti minimal dua kali"
"Memangnya harus? Lagipula bisa sebanyak apa?"
"Pokoknya banyak, aku juga tidak bisa memberitahumu sedetail itu", tukasnya dengan wajah memerah. Kahoko mendorong trolly barangnya menuju kasir dan diikuti oleh Kiriya.
"Woi, thanks bantuannya", ujar Kiriya saat ia mengantar Kahoko pulang dengan Kawasaki ninja merahnya.
"Sama – sama. Terima kasih juga sudah mengantarku pulang, Etou-kun"
"Tidak masalah", tiba – tiba ponsel Kiriya kembali berbunyi, ia mengambil ponsel di saku celananya dan mengetuk layar ponselnya. Ditempelkannya ponselnya di telinganya, "Ya, ada apa?"
"Kiriya-kuuuun lama banget siiiih?"
"Eh, go—gomen. Sebentar lagi aku ke sana, kok"
"Cepat ya? Aku tunggu, abaikan saja jam besuknya"
"Ya, aku tahu kok. Tunggu aku, sebentar lagi aku sampai"
"Oke, bye"
"Aa"
"Apa maksudnya jam besuk?", tanya Kahoko saat Kiriya memasukkan ponselnya ke sakunya lagi.
"Mm... dia lagi dirawat di rumah sakit"
"Kenapa? Dia sakit apa, kalau aku boleh tahu?"
Kiriya tersenyum masam, "Sejak kecil dia memang sakit – sakitan,selain itu, dia juga punya penyakit jantung bawaan. Dia sampai harus pindah ke Jerman demi pengobatannya", jelas Kiriya.
"Maaf, aku tidak tahu"
"Tidak apa – apa. Kondisinya sekarang sudah jauh lebih baik meskipun dia masih belum bisa dioperasi. Sebaiknya aku segera ke rumah sakit, dia pasti sudah menungguku"
"Ya, kalau begitu sampai besok"
Setelah motor merah yang dikendarai Kiriya menghilang di balik tikungan, Kahoko memasuki rumahnya sambil tersenyum, sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan Kiriya, dan setelah bertemu ia dapat mengetahui sisi lain dari pria berambut marun itu.
"Kahoko... kenapa sih kau ini tidak menjawab teleponku?", ujar Len gemas.
"Maaf, maaf, aku menggetarkan ponselku tadi, aku lupa menonaktifkan lagi", Len menghela napas berat.
"Kau ini...benar – benar... jangan membuatku cemas Kahoko... Aku hampir saja menelepon keluargamu hanya untuk menanyakan kabarmu. Kau ingin membuatku sakit jantung apa?"
Kahoko terkikik geli mendengar kekasihnya merajuk, "Baiklah, baiklah, aku kan sudah meminta maaf. Kau ini seperti anak kecil saja, Len, merajuk begitu"
"Aku tidak merajuk!", sengitnya, "Siapa bilang aku merajuk?"
"Kau itu, Len... aku 'kan sudah meminta maaf", balas Kahoko sabar. Di layar ponsel, Len memijat pelipisnya dan menghela napas berat sekali lagi. Kahoko tersenyum kecil melihat tingkahnya. "Maafkan aku Len, aku janji lain kali tidak akan membuatmu khawatir lagi"
"Percuma"
"Huh?"
"Percuma kau menjanjikanku seperti itu, Kahoko. Kau memang selalu membuatku khawatir, bukan cuma kali ini, tetapi sejak aku mengenalmu, kau sudah membuatku mengkhawatirkan dirimu, sampai sekarang", Len menunjukkan senyum miringnya.
"Benarkah? Kalau kau benar – benar mengkhawatirkanku, kau harus membantuku belajar malam ini sampai pagi, Tsukimori Len"
"Nicht ich das immer Helfen Ihnen wenn brauchten Sie mich? Meine Liebe, Hino kahoko? (Don't I always helping you when you needed me? Hino Kahoko, my love?)", ujar Len dalam bahasa Jerman yang fasih. Kahoko tertawa kecil.
"Oh, gerade verschlossen und helfen mir mit meinem Deutsch Sie? (Oh, just shut up and help me with my German will you?)"
.
-o::o::o-
.
25 Februari
.
Nami mengetuk – ngetukan jari – jarinya di atas meja dengan tidak sabar, sesekali ia melirik jam tangannya yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Ia melemparkan pandang ke jalanan di depan kafe tempatnya berada sekarang, berharap matanya akan menangkap seorang gadis berambut merah berlari ke arahnya.
"Cukup sudah! Habis kesabaranku menunggu di sini! Sebaiknya aku jemput dia dulu", ujar Nami sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Hei, sudahlah, Amou-san, Kaho-chan kan sudah bilang dia mungkin terlambat datang", ujar Mio mencoba menenangkan gadis berambut coklat itu.
"Tapi masa' terlambat sampai 45 menit sih Takato-san?"
"Ah, sudahlah, kau 'kan tahu Kahoko sedang ada urusan keluarga di rumah. Dia pasti juga keasyikan latihan untuk persiapan ujiannya dan persiapan konser besok malam", ujar Nao tenang sambil menyeruput moccacinonya.
"Pasti dia sudah ketularan pacarnya yang gila biola itu! Ini semua gara – gara si Tsukimori Len itu! Awas saja kalau nanti baju yang bagus – bagus sudah habis... Si Pangeran Es Batu itu tidak akan pernah lagi mendapatkan foto – foto kekasihnya lagi dariku!", runtuk Nami.
"Ah, itu Kaho-senpai", Shouko yang sejak tadi diam mengalihkan perhatian ketiga gadis itu. Saat ketiganya menoleh, mereka tidak mendapati Kahoko seorang diri. Di sampingnya, seorang gadis yang seumuran dengannya dan berambut coklat melambai pada mereka dengan antusias.
"Maaf telat... Anak – anak masih semangat mempelajari lagu baru, jadinya mereka masih belum mau pulang. Untung saja ada Mori-san, jadi aku tertolong", jelas Kahoko saat dilihatnya Nami menatapnya dengan kesal.
"Lagipula itu semua bukan salah Hino-chan, kok, itu semua gara – gara Zaoyinu-sensei yang menugasi Kahoko untuk mengajar murid – muridnya yang masih kelas 1 SD. Guru itu benar – benar menyebalkan", bela Manami. Nami menghela napas panjang.
"Baiklah, Kaho-chan. Kali ini kau ku maafkan, tapi lain kali jangan kau lakukan lagi, mengerti?"
"Sudah, sudah bagaimana kalau kita pergi sekarang saja?", usul Mio.
"Benar, seperti yang kau katakan, 'sebelum baju – baju yang bagus habis dibeli orang", tambah Nao.
.
-o::o::o-
.
"Kaho-chaaaaan... Gaun ini cantik sekali... coba dipakai sana",suruh Mio sambil menyodorkan gaun pendek selutut berwarna hijau tosca dengan manik – manik yang menghiasi bagian dada sebelah kiri membentuk bunga. Kahoko menghela napas panjang, ia mengambil baju keenam yang dicobanya dan kembali ke kamar ganti. Tak lama kemudian, Kahoko keluar dari kamar ganti. Ia memandang ragu ke arah teman – temannya.
"Entahlah, minna, sepertinya baju ini kurang cocok denganku", Nami yang sedari tadi sibuk mengambil foto pakaian yang mereka kenakan pun menghela napas cepat.
"Ya, memang bagus, sih... Warnanya juga cocok dengan warna kulitmu. Tapi benar, aku juga kurang yakin dengan pilihanmu, Takato-san. Ada yang salah..."
"Apa yang salah dengan pilihanku? Gaunnya manis kok", sungut Mio tidak setuju.
"Iya memang sih, manis... tapi ada yang salah", timpal Manami.
"Sudahlah Mio, aku juga merasa gaun itu kurang cocok dengan Kaho", tambah Nao.
"Ukh... ya sudah, lalu kita mau bagaimana? Dari tadi belum ketemu juga gaun yang tepat untuk Kaho-chan. Padahal ini kan sudah butik keempat yang kita datangi...", keluh Mio.
"Sudahlah, minna, tidak apa – apa. Aku bisa mencari sendiri lain kali, kok"
"Tapi kapan kau akan mencarinya senpai? Bukannya sudah tidak ada waktu lagi?", tanya Shouko.
"Tenang saja, jangan buru – buru menyerah. Kita coba cari sekali lagi saja, bagaimana?", tawar Nami.
"Ya, aku setuju denganmu Amou-san. Pokoknya kita tidak boleh pulang sebelum mendapatkan gaun yang tepat untuk Kaho-chan", seru Mio penuh semangat. Mereka pun kembali melihat – lihat gaun yang dijual di butik itu. Kahoko mencari gaun dengan malas, kepalanya sudah pusing melihat berbagai macam gaun di hadapannya.
'Ah, yang ini manis, tapi bagian dadanya terlalu pendek... Yang ini roknya terlalu pendek... Yang ini warnanya terlalu mencolok... Yang ini modelnya kurang cocok denganku...', pikirnya sambil terus melihat – lihat. 'Memangnya untuk apa juga aku capek – capek dandan, lagipula Len tidak bisa datang dan melihatku... Kira – kira apa yang akan dipilihnya kalau dia disini denganku? Pasti dia akan mengiyakan semua pakaian ini tanpa melihatnya lebih dulu', pikirnya geli. Tiba – tiba matanya menangkap sebuah gaun berwarna putih. 'Mungkin aku tahu', pikirnya senang. Kahoko mengambil gaun itu dan membawanya ke kamar ganti.
"Hei, minna bagaimana kalau yang ini?", tanya Kahoko sesaat setelah ia berganti pakaian.
"Oh Kaho-chaaaan... gaun itu cocok sekali untukmu...", pekik Mio kegirangan. Gaun itu memang indah dan terlihat sangat pas di tubuhnya. Gaun off-shoulder spagetthi-strap itu berwarna putih dengan siluet gold di bagian bawahnya, payet berwarna senada pun menghiasi bagian dada sebelah kanan membentuk corak bunga lily, bahan sutranya jatuh, membalut tubuh indah Kahoko dengan panjang 5 cm di atas mata kaki. Nami memotret Kahoko dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Kaho-chan gaun itu adalah gaun terindah yang pernah kulihat! Gaun itu cocok sekali denganmu! ! Aku yakin gaun itu pasti akan membuat seorang Tsukimori Len bertekuk lutut padamu! ! !", ujar Nami sambil tersenyum lebar. Kahoko tesenyum kecut mendengarnya.
'Mungkin kau benar. Andai saja Len bisa datang, Nami-san'
.
-o::o::o-
.
27 Februari
.
Kahoko bangun dengan secercah senyuman pagi itu. Hari ini, adalah hari ulang tahunnya yang ke-22, ia meraih ponsel hitam pemberian Len yang tergeletak di dekat kepalanya. Saat ia membuka mail boxnya, ia mendapati 15 pesan baru. Kahoko duduk di kasurnya dan membaca pesan itu satu persatu. Semua pesan itu berasal dari Misa-san dan Tsukimori-san, orang tua kekasihnya, Mio, Nao, Nami, Ryotaro, Mizue, Kazuki, Aoi, Azuma, Kanazawa-sensei, Shinobu, Kiriya, Keiichi, Shouko, dan Manami. Mereka semua mengucapkan selamat ulang tahun pada Kahoko. Kahoko tersenyum bahagia, akan tetapi keningnya mengerut sebal saat membaca pesan yang ditinggalkan Len padanya dua hari yang lalu saat ia sudah tidur.
Sender : Len
Time : February, 25th 20XX 2:25 AM
Topic : (Sorry)
Maaf, Kahoko aku tidak bisa meneleponmu lagi sekarang. Ada urusan penting yang harus kukerjakan. Glück, Kahoko, bedauere ich wirklich, dass ich Sie Morgen nicht nennen konnte. Aber ich wünsche Sie Glück, Liebe (Good luck, Kahoko, I'm really sorry that I couldn't call you tomorrow. But I wish you good luck, love)
Tak ada pesan baru dari Len. Tak ada ucapan selamat darinya. Kahoko menghembuskan napas kesal, ia hanya mengucapkan semoga berhasil untuk konser mereka nanti.
'Memangnya hanya dengan ucapan semoga berhasil saja aku sudah senang?', pikirnya kesal. 'Apa sih urusan yang lebih penting jadi dia lebih memilih mementingkan urusan itu daripada ulang tahunku? Dia tidak pernah melupakan ulang tahunku sebelumnya!'
'Lagipula, ia benar – benar menyebalkan sekali tadi malam. Kenapa dia tiba – tiba tidak mau meneleponku pakai video call lagi? Tiga hari yang lalu dia malah tidak meneleponku sama sekali, teleponku juga tidak dijawabnya. Apalagi mail yang kukirimkan tidak dibalasnya. Dan kemarin malam dia malah telepon dan minta maaf karena ada urusan penting. Apa Len sudah mulai bosan denganku?' , ia kembali teringat pada percakapan mereka tadi malam.
"Maaf tidak bisa meneleponmu sebelumnya, Kahoko"
"Tidak apa – apa, kok, Len. Pasti kau sedang sibuk ya?"
"Aa"
"Ah, iya besok aku—"
"Kahoko"
"Ya, Len?"
"Aku masih ada urusan, nanti lagi kita sambung"
"Uhm... baiklah, kalau begitu. Jya Len"
"Jya"
Perasaan sedih menyergapnya saat ia mengingat kembali pembicaraan mereka tadi malam. Telepon tadi malam berlangsung sangat singkat. Ia bisa memahami kalau Len sibuk, tapi yang tak bisa dipahaminya adalah nada bicara Len yang kembali dingin padanya. Seperti saat pertama kali mereka bertemu di depan kelasnya lima tahun yang lalu. Kembali seperti orang asing lagi. Tanpa disadarinya air mata yang mengalir di pipinya semakin deras.
.
-o::o::o-
.
Kahoko mematut dirinya di cermin untuk kesekian kalinya. Ia tersenyum kecil setelah sebelumnya ia menghela napas dalam. 'Tenang... tenang... jangan khawatir... semua akan baik – baik saja...' Ia mengambil ponsel pemberian Len dan membuka mail box-nya.
Masih tidak ada pesan dari Len.
Ia menghela napas berat perlahan, sedih kembali menyergap dirinya. "Len... doushite?", bisiknya lirih. Air mata kembali menggenangi matanya. "Jangan menangis, jangan menangis! Setidaknya Len memberikan semangat kan? Len pasti lupa karena banyak urusan, pasti itu... Dan bukannya dia sudah tidak mencintaiku lagi... kan?"
"Kaho-chan sudah... Astaga! Kau cantik sekali, Kaho-chan...", pekik Nami saat ia memasuki ruang ganti perempuan. Kahoko membalikkan badannya dan melihat Nami yang telah selesai memotret dirinya.
"Nami-san... kenapa tidak mengetuk pintu dulu, sih?"
"Sudah, kok... tapi kaunya saja yang tidak mendengar. Wah, kau benar – benar cantik sekali, Kaho-chan. Tsukimori-kun benar – benar akan terpana melihatmu", Kahoko tersenyum kecil.
"Terima kasih, Nami-san, lagipula ini kan hadiah dari kalian semua, tentu saja cantik", jawabnya sambil tersenyum. Gaun itu memang dibeli oleh Nami, Manami, Mio, Nao, dan Shouko dua hari yang lalu saat mereka mencari gaun untuk Kahoko dan Shouko. Mereka membelikan gaun itu sebagai hadiah ulang tahun untuknya. "Lalu ada apa mencariku, Nami-san?"
"Ah, iya sebentar lagi acaranya akan dimulai"
"Baiklah, aku sudah siap juga, kok. Oh, iya, apa yang kau lakukan disini, Nami-san? Bukankah kau seharusnya ada di bangku penonton?"
"Memang sih, tapi kan masih belum mulai", pintu di belakang mereka terbuka dan masuklah seorang gadis berambut cyan dengan gaun berwarna hijau zambrud.
"Senpai"
"Shouko-chan, ada apa?", tanya Nami.
"Iie, nandemonai. Senpai, Misa-san memintaku untuk memberikan ini padamu", ujar Shouko sambil menyerahkan sebuah kotak beludru berwarna merah pada Kahoko.
"Apa ini Shouko-chan?", tanya Kahoko bingung sambil menerima kotak itu.
"Itu hadiah ulang tahun dari Misa-san, beliau bilang maaf tidak bisa menyerahkan secara langsung. Beliau sibuk menyambut tamu – tamu beliau"
"Begitu, ya? Terima kasih, Shouko-chan"
"Coba buka, Kaho-chan", Kahoko terkejut saat mendapati isi kotak itu. Sebuah kalung emas dengan liontin zambrud berbentuk clover berdaun empat dan secarik kertas. "Astaga! Indah sekali hadiahnya, Kaho-chan! Coba kau pakai!", pekik Nami kegirangan. Kahoko mengambil kertas tersebut dan membukanya dengan tangan bergetar. Dibacanya isi kertas itu perlahan.
Kahoko-san,
Selamat ulang tahun yang ke-22, bibi senang sekali bisa memberimu hadiah yang tak seberapa ini. Ketahuilah Kahoko-san, kalau kalung ini adalah pemberian ibuku. Kalung ini adalah kalung keberuntungan milik keluargaku dan sudah diturunkan dari generasi ke generasi kepada anak perempuan mereka. Dan sekarang kalung ini kuberikan padamu karena aku tidak memiliki anak perempuan. Aku berharap agar hubunganmu dengan Len akan bertahan lama dan berjalan lancar. Aku sungguh ingin melihat hari dimana kau dan Len-ku akan bersatu.
Kumohon terimalah hadiahku, Kahoko-san, bibi sangat menyayangimu sudah seperti anak bibi sendiri. Bibi akan sangat bahagia jika kau mau memakainya saat konser nanti.
Salam sayang,
Tsukimori Misa.
"Kaho-chan, kupasangkan ya? Ya? Ya?", pinta Nami menggebu – gebu. Kahoko yang masih tersentuh akan hadiah dan surat Misa-san pun hanya bisa mengangguk.
'Oh bibi! Andai saja kau tahu bagaimana hubunganku sekarang dengan Len... Aku takut kehilangannya!'
.
-o::o::o-
.
"Kahoko, semoga berhasil, Sayang", ujar Hino-san, ibunya sambil memeluk anak bungsunya.
"Arigatou kaa-chan", balasnya.
"Ah, kakak – kakakmu sudah ada di bangku penonton. Kami akan mendukungmu, Kahoko. Berjuanglah dan perdengarkanlah hatimu pada kami, Kahoko", tambah ibunya.
"Ganbatte ne, Kaho-chan"
"Un, ganbatte Kaho"
"Arigatou, Mio, Nao", balas Kahoko sambil memeluk keduanya erat.
"Ukh... aku benci tuxedo..."
"Tapi kau kan Cuma mengenakan kemeja dan vest, Kazuki-kun"
"Tapi kan tetap saja, Mana-chan...", rengek Kazuki.
"Sudah, sudah... lagipula kan pakainya Cuma sebentar, Hihara", Kazuki hanya merengut mendengar perkataan Azuma.
"Baru pakai itu saja kau sudah mengeluh, bagaimana nantinya kalau kau menikah senpai?", tegur Ryotaro dengan cengiran lebarnya. Wajah Kazuki memerah begitu mendengar kata – kata menikah.
"EKH! ? MENI—MENI—MENIKAAAH? ? ! ! !", semua orang yang berada dalam ruangan itu pun tertawa.
"Ryotaro, kau ini usil sekali, sih. Masa' dengan senpaimu sendiri kau goda juga?", ujar Sakimoto Mizue sambil tertawa kecil. Ryotaro dan Mizue kembali bepacaran sekitar 3 tahun yang lalu, dan kini hubungan mereka sangat baik. Lebih baik dari saat mereka pertama kali berpacaran.
"Hino-san... ada yang ingin kuperkenalkan padamu...", seru Aoi sambil berjalan mendekati Kahoko. Di belakangnya berjalan seorang anak perempuan dan Kiriya yang merengut kesal.
"Kaji-kun, Etou-kun", sapanya.
"Kenalkan, Hino-san, namanya Yuri. Dia sudah lama sekali ingin bertemu denganmu", ujar Aoi sambil mendorong gadis itu ke depannya. Gadis itu bertubuh mungil, rambut baby bluenya sepanjang pinggang dengan hiasan bandana berwarna pink, kulitnya putih sedikit pucat, mengingatkannya pada boneka porselen. Kahoko menebak umurnya masih 14 tahun. Wajahnya sedikit merona saat menatap matanya.
"Yo—yoroshi—ku, Kahoko-san", ujarnya pelan. Kahoko terperangah mendengar suaranya, suara kecilnya sangat merdu.
"Ehm... yoroshiku Yuri-chan", panggilnya ragu.
"Dia ini anak cewek yang kuceritakan padamu sebelumnya, Kahoko", sela Kiriya.
"Ah! Jadi dia pacarmu, ya?", wajah gadis itu, Yuri memerah.
"Ki—Kiriya-kun bilang..."
"NANI? ! ETOU-KUN! ?"
"Lho, ada apa? Memangnya bukan ya?", tanya Kahoko bingung.
"Ano... bukan kok, Kahoko-san! Ki—Kiriya-kun dan aku... A—Aoi-kun ka—kami tidak...", ujar gadis itu sambil tergagap – gagap. Wajahnya semakin memerah.
"Hoe... pacarnya Etou-kun?", tanya Kazuki dengan senyum khasnya.
"Etou-kun! Kau—"
"Becanda, becanda..."
"Nggak lucu tahu!", pekik Yuri kesal. Semua orang yang ada di belakang panggung menoleh saat mendengar suaranya. Yuri tiba – tiba sadar dengan perhatian yang didapatnya dan kemudian menunduk malu. "Sumi-sumimas-sen"
"Warui... warui...", ujar Kiriya sambil mengelus kepalanya lembut. Aoi mendelik padanya.
"Kau ini keterlaluan Etou-kun", gumam Aoi.
"Hn? Eifersüchtig (Jealous)?", tanya Kiriya pada Aoi, wajahnya sedikit merona saat mendengar pertanyaannya.
"Minna ganbatt—are? Hamai-san?", Ousaki Shinobu yang baru datang terkejut saat mendapati Yuri berada di belakang panggung bersama yang lainnya.
"Ousaki-senpai? Siapa yang bernama Hamai di sini?", tanya Kazuki bingung.
"Ah, dia ini keponakan Tsukimori Misa-san. Aku lupa bilang", kata Kiriya acuh.
"APA? ! KEPONAKAN KATAMU?", seru mereka bersamaan. Yuri bersembunyi di balik punggung Aoi saat mereka menatapnya. Kiriya ganti mendelik padanya.
"Berarti kau sepupunya Tsukimori-kun?", tanya Nami.
"Ya"
"Ou—Ousaki-san...", tegur Hana pelan.
"Eh, di mana senpai mengenalnya?", tanya Manami.
Shinobu tersenyum, "Dulu, Kaji-kun dan Etou-kun satu tempat les denganku dan Tsukimori-kun. Kami pernah beberapa kali bertemu dengan Hamai-san. Dan saat aku di Jerman aku sempat menjenguknya. Dia banyak sekali bertanya padaku tentang kalian dan terlebih tentang Hino-san"
"Ousaki-san...", tegur Yuri sekali lagi. Ia semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Aoi, tangan kecilnya menggenggam tuxedo Aoi erat – erat. Kiriya membelalakkan matanya kesal sedangkan Aoi hanya tersenyum lebar.
"Minna-san, maaf menunggu. Yuri Sayang kau sudah datang rupanya? Mana pamanmu?", tanya Misa-san yang baru memasuki ruangan.
"Onkel (paman) tadi masih berbicara dengan Herr Kaji (Kaji-san), ayah Aoi-kun", jawab Hana dengan logat Jerman yang kental.
"Ousaki-kun kau juga sudah datang"
"Terima kasih sudah mengundangku, Tsukimori-san"
"Sama – sama, bibi senang Yuri jadi ada temannya. Minna sebaiknya kita bersiap – siap sekarang"
"Kalau begitu, Yuri permisi dulu, Tante (bibi). Sebaiknya Yuri bergegas kembali pada Onkel sekarang"
"Baiklah, Ousaki-kun, saya titip Yuri dulu"
"Jangan khawatir, saya akan menjaganya baik – baik, Tsukimori-san", Aoi dan Kiriya mendelik pada Shinobu. Mereka tahu kalau sebenarnya maksud Shinobu baik tapi... tetap saja melihat mata Yuri yang berbinar itu membuat mereka kesal.
"Tentu saja, Tante, jangan khawatir, Ousaki-san pasti akan menjagaku, kok", sekarang gantian Yuri yang ditatap keduanya kesal. "Eh, apa? Aoi-kun? Kiriya-kun?"
"Iie, nandemonai" "Betsuni", jawab Aoi dan Kiriya bersamaan.
"Glück jeder, Tante, Kahoko-san (Good luck everyone. Tante, Kahoko-san)"
"Matte, Yuri. Kau belum memberikanku ciuman keberuntungan"
"E—EH? De—demo, Kiriya-kun..."
"Boku mo"
"A—Aoi-kun...", wajahnya semakin memerah. Kahoko dan yang lainnya di ruangan itu terbeliak. Mereka memang tanpa sadar mengamati tingkah Aoi dan Kiriya sebelumnya. Mereka seperti dua orang anak yang berebut mainan kesukaan.
'Wah, wah ternyata sekarang yang jadi rebutan sepupunya Tsukimori, ya', pikir Ryotaro geli.
"Eng... tapi kan banyak orang... aku malu..."
"Nggak apa cuekin aja"
"Ng... bu—bungkuk sedikit, ya", pintanya dengan wajah merah. Keduanya membungkukan badannya. Yuri dengan cepat mengecup pipi keduanya. "Ga—ganbatte", pekiknya sambil berlari keluar.
"Ganbatte, minna-san", ujar Shinobu sambil berbalik dan mengejar Yuri.
"Psst, Kaho-chan, bagaimana pendapatmu?", bisik Mio.
"Sepertinya mereka menyukainya"
"Bukan hanya menyukai, sepertinya. Kau lihat cara mereka saling mendelik tadi tidak?", timpal Nami.
"Sepertinya ada penerusnya Hino-chan", tambah Manami. Kahoko hanya bisa tertawa bingung.
.
-o::o::o-
.
"Oh, itu mereka", gumam Kanazawa Hiroto saat melihat Shinobu dan Yuri berjalan mendekat.
"Maaf terlambat, Onkel. Belum mulai kan?"
"Belum, sini duduk sama Onkel", Yuri pun duduk di sebelah pamannya.
"Ousaki, bagaimana mereka?"
"Mereka sepertinya baik – baik saja. Tenang saja mereka pasti berhasil, kok"
"Hmph! Aku ingin tahu bagaimana hasil latihannya yang sebentar itu", ujar Zaoyinu-sensei.
"Kahoko-san pasti bisa, kok sensei. Onii-sama kan sudah membantu latihannya", jawab Yuri.
"Lho? Kanayan? Kau datang juga rupanya", seru Nami dari belakang mereka. Mereka membalikkan badan dan melihat Nami, Manami, Mizue, Mio, Nao, dan Sasaki duduk tepat di belakang mereka.
"Tentu saja aku datang dan bukan Cuma aku saja, tapi seluruh guru – guru di Seiso juga diundang"
"Benar, termasuk Herr Akihiko", sahut Yuri.
"Eh? Kira-richijou? Mana?", tanya Nami. Tiba – tiba cahaya lampu di ruangan itu meredup. Tak lama kemudian, keluarlah Misa-san dan membungkukkan badannya, memberi hormat pada penontonnya. Mereka semua terhanyut saat Misa-san memainkan pianonya.
"Das ist so schön (It's so beautiful)", bisik Yuri.
Setelah selesai memainkan dua sonata piano seorang diri, Misa-san berkolaborasi dengan masing – masing mereka. Pertama dengan Aoi, Keiichi, Azuma, Kiriya, Shouko, Kazuki, dan terakhir dengan Kahoko. Sedangkan Ryotaro memainkan piano seorang diri. Selain duet, mereka juga melakukan trio, quartet, dan sektet. Dan terakhir mereka kecuali Misa-san memainkan Für Elise. Nada – nada indah milik Beethoven membuat mereka terbuai. Hingga tibalah saat yang ditunggu oleh Zaoyinu-sensei. Permainan biola solo milik Kahoko sebagai penutup.
"Entah kenapa aku jadi tegang sendiri, nih", gumam Nami saat mereka memberi hormat pada penonton.
"Ya, aku juga tegang... Tapi aku yakin, Hino-chan pasti bisa memainkannya dengan sangat indah", jawab Manami yakin. "Lagipula aku sudah pernah dengar permainannya. Dan permainannya sangat sempurna, kok", bela Manami.
"Kaho-chan... ganbatte", gumam Mio.
Yuri memandang Kahoko dengan cemas, gadis yang lebih tua darinya itu berdiri di atas panggung seorang diri. Ia terlihat sangat cantik mengenakan gaun putih itu. Ia tahu bibinya memberinya kalung milik keluarganya untuknya. Dan kalung yang melingkar di leher jenjangnya itu menambah kecantikan dan keanggunannya, seakan kalung itu memang sengaja dibuat untuknya. Ia memandang gadis berambut merah itu dengan tatapan memuja di matanya. Betapa ia bahagia, kakaknya mendapatkan gadis seperti Kahoko. Ia sangat mencintai kakak sepupu yang sangat jarang ditemuinya itu. Ia pun akan mencintai orang yang sangat dicintai oleh kakaknya.
Kahoko memandang penonton dihadapannya, ia melihat ayah-ibunya, kakak – kakaknya dan keluarganya, ia melihat ayah kekasihnya dan sepupu yang tak pernah Len ceritakan padanya, Kira-richiijou, Kanazawa-sensei, Ousaki-senpai, Zaoyinu-sensei dan guru – gurunya saat SMA. Ia juga melihat dosen – dosennya berada di baris yang sama. Teman – temannya dilihatnya berada di belakang tempat duduk keluarganya dan keluarga Tsukimori. Ia menarik napas dalam dan tersenyum kecil sambil menempatkan biolanya dalam posisi siap bermain.
'Meskipun Len mungkin tidak melihatku, tidak mendengarku, tidak bersamaku, aku yakin, hatinya akan selalu bersamaku. Bagaimanapun juga, aku akan mempercayainya... selalu... selamanya...'
"Apa ia akan bisa?", gumam Yuri sambil mendekap kedua tangannya di depan dadanya. Tsukimori-san, pamannya berpaling dan memeluk pundak keponakan perempuannya.
"Ia pasti bisa. Percayalah", Yuri mengangguk dan berdoa dalam hatinya.
'Machen Sie es bitte arbeitet (Please make it works...)'
Alunan nada indah dan manis memenuhi telinga penonton, mereka menutup kedua matanya dan membiarkan musik itu mengalir dalam tubuh dan pikiran mereka. Nada – nada itu seakan hidup, menghipnotis para penontonnya. Kahoko mengingat Len sambil terus bermain, senyum manis terkembang di wajahnya.
.
-o::o::o-
.
Misa-san dan yang lainnya yang berada di belakang panggung ikut terhanyut dalam alunan melodi. Nada – nada riang penuh cinta perlahan menjadi nada sedih yang menyayat hati. Misa-san dan Shouko meneteskan air mata mendengar tangisan biola Kahoko. Yuri mendengar beberapa penonton ikut menangis bersama hati Kahoko. Ia terlalu tegang untuk menangis. Ia mengedarkan pandang ke sekeliling panggung dan sekeliling bangku penonton. Seakan mencari sesuatu atau seseorang.
'Oh, lieber Gott ... bitte... Das ist fast die Zeit... (Oh, dear God... please... It's almost the time...)'
.
-o::o::o-
.
Tanpa mereka sadari pintu belakang panggung terbuka dan tertutup dengan perlahan. Ryotaro membalikkan setengah badannya dan melihat orang tersebut. Matanya sedikit terbeliak, tapi kemudian ia dengan cepat menguasai dirinya kembali.
"Oh, kau rupanya", sapa Ryotaro sambil menyeringai lebar.
.
-o::o::o-
.
Kahoko terus memejamkan matanya, ia mengingat saat – saat penuh keraguan dan saat – saat di mana ia merasa sedih. Kembali ia teringat akan Len. Len, apakah benar dia sudah merasa bosan dengannya? Sehingga ia bersikap seakan Kahoko adalah orang asing baginya? Seperti saat mereka bertemu untuk yang pertama kalinya? Mengapa perubahan itu terjadi sangat cepat? Sedetik yang lalu ia masih mengucapkan cinta padanya, dan sedetik kemudian ia seakan menjaga jarak darinya. Seakan ia memiliki rahasia yang disembunyikannya darinya. Sebutir kristal bening jatuh diatas senar emas biolanya yang masih menangis. Tangisan hatinya.
.
-o::o::o-
.
"Sudah lama sekali, ya?", tanya Azuma.
"Ya, memang sudah lama", jawab pria yang baru saja memasuki ruangan itu.
"Sekarang permainannya sudah membaik bukan?", ujar Ryotaro lagi.
"Ya, memang"
"Sebentar lagi bukankah sudah selesai? Lagunya maksudku...", ujar Keiichi lambat – lambat.
"Ya"
"Lalu apa yang akan kau lakukan?", tanya Kazuki. Pria itu tidak menjawab pertanyaannya. Ia hanya memandang gadis berambut merah yang berada di tengah – tengah panggung. Hatinya ikut miris saat mendengar tangisan biola gadis itu. Ia membuka sebuah kotak dan mengeluarkan sebuah benda dari dalamnya. Sebuah biola sewarna emas. Ia melangkahkan kakinya menuju panggung, menuju musik yang semakin melembut dan melemah, menuju gadis itu, menuju hatinya berada. Kahoko.
.
-o::o::o-
.
Yuri menahan napasnya begitu ia melihat pria tersebut berjalan memasuki panggung. Penonton di sekelilingnya bergumam, gumaman riuh rendah muncul seiring kehadiran pria tersebut. Yuri menangis dalam senyumnya. Tangisan kelegaan.
'Dank-Güte... Danke, Gott... (Thank Goodness... Thank you, God...)'
"Apa? Bukankah... Dia..."
"Hei, apa yang dilakukannya disini?"
"Astaga, ternyata dia juga berpartisipasi?"
"Tidak mungkin... tapi... itu benar – benar dia...", gumam Nami.
.
-o::o::o-
.
Kahoko membuka matanya saat ia mendengar suara lain. Nada. Suara yang sangat familiar. Suara biola. Ia melihat ke arah asal biola itu dan terperanjat saat mendapati pria yang berdiri tak jauh darinya. Tangannya yang gemetar, tidak membuatnya berhenti melarikan jari – jarinya di atas leher biolanya. Pria itu memandangnya dengan tatapan penuh cinta, senyum yang selalu dimimpikan olehnya kini hadir di depan matanya. Senyum yang lembut, senyum yang amat dicintainya. Mata pria itu seakan berkata : 'teruslah bermain, sekarang aku ada disini denganmu. Bermainlah denganku. Bernyanyilah untukku. Kita nyanyikan cinta kita bersama'
Pria yang selama ini dicintainya, kini hadir dihadapannya. Tsukimori Len tersenyum dengan lembut dan terus menatap Kahoko lekat sambil terus bermain.
.
-o::o::o-
.
"Akhirnya lagu ini mulai juga. Cukup lama aku menunggu"
"Apa maksud anda, sensei?", tanya Yuri tidak mengerti.
"Lagu yang di mainkan oleh Hino adalah lagu yang seharusnya sebuah duet. Makanya lagu ini tidak akan sempurna jika tidak ada yang memainkan bagian yang lainnya"
.
-o::o::o-
.
"Akhirnya, sempurna sudah lagu ini..."
"Apa maksudmu, Keiichi-kun?", tanya Shouko pada kekasihnya.
"Apa kau tidak mengerti Shouko? Lagu ini... sebenarnya adalah perasaan mereka. Hati mereka yang telah terpisah sekian lama... Kini bersatu kembali... Akhirnya cinta mereka sempurna sudah..."
"Cinta mereka... sempurna?", ulang Shouko.
"Akhirnya dia main juga, apa perlu selama itu? Sampai Hino menangis?", tanya Ryotaro.
"Bukan, tapi ia menunggu. Ia menunggu saat yang tepat kapan seharusnya ia masuk ke dalam hatinya lagi. Bukankah begitu?", ujar Azuma.
"Syukurlah, Kaho-chan", gumam Kazuki sambil tersenyum kecil.
.
-o::o::o-
.
"Lagu ini, aku masih ingat kalau aku pernah melihat Tsukimori-kun sedang menulis sesuatu. Saat itu ia berkata padaku sedang menulis lagu. Aku tidak pernah mendengarnya tapi hanya dengan melihat partitur miliknya aku langsung tahu, lagu yang ia tulis pasti akan terdengar sangat indah. Dan memang benar, lagu ini memang indah sekali"
"Ousaki...-san?", gumam Yuri. Ia kembali memandang kakak dan kekasihnya diatas panggung. Ia tersenyum dan memeluk lengan pamannya. "Onkel", panggilnya.
"Ja, liebe (Yes, love)?"
"Ich denke, dass die Hochzeit eher gehalten werden sollte (I think the wedding should be held sooner)"
.
-o::o::o-
.
Nada – nada yang dinyanyikan biola kembali menjadi nada ceria penuh cinta. Kahoko dan Len berulang kali melempar senyum pada yang lain. Mereka terlalu terhanyut oleh permainan mereka sehingga melupakan segala persoalan yang pernah terjadi. Kahoko melupakan segera resah dan gelisahnya setelah ia melihat Len dihadapannya, tersenyum padanya, bermain bersamanya. Ia merasa utuh, Len kembali berada disisinya. Ia di sini bersamanya. Ia tidak memperdulikan apapun lagi, kecuali Len. Dan hati mereka yang akhirnya menyatu kembali. Sama seperti lagu yang mereka mainkan sekarang.
Lagu itu akhirnya selesai dengan nada manis mengambang di udara. Perlahan, Kahoko membuka kedua matanya dan matanya bertatapan dengan Len sedetik, saling tersenyum. Zaoyinu-sensei berdiri dari tempat duduknya dan menepuk tangannya, seulas senyum merekah di wajahnya. Shinobu terperangah, gurunya yang selama ini terkenal akan kepelitannya untuk bertepuk tangan dan tersenyum, kini bertepuk tangan dengan kerasnya sambil tersenyum. Ia pun ikut bangkit dan bertepuk tangan. Yuri tidak tahu apa yang terjadi, tetapi semua penonton hampir secara bersamaan bangkit dari kursi mereka masing – masing dan bertepuk tangan dengan keras. Ia menangis haru dan ikut bangkit dari tempat duduknya.
'Ich bin für Sie so glücklich... onii-sama (I'm so happy for you... onii-sama)'
.
-o::o::o-
.
"Apa... yang terjadi...", gumam Kahoko sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Len berjalan ke arahnya dan mengambil biola dan bow yang masih dipegang Kahoko. Kahoko menatapnya bingung saat dilihatnya Len memberikan biola mereka pada Kazuki dan Aoi. Len kembali berjalan dan berhenti di sampingnya. Sambil terus menggenggam tangan Kahoko, ia berkata dengan lembut.
"Ada apa? Ayo beri hormat pada mereka"
Kahoko terbeliak, ia sudah lama mendengar suaranya dari telepon, tetapi baru kali ini ia mendengar suaranya secara langsung. Ia masih ingat tangan dingin Len saat ia memegang tangannya dulu. Ia sudah lupa betapa lembutnya suaranya saat ia berbicara hanya padanya. Benarkah baru tadi malam ia mendengar suaranya? Rasanya seakan sudah satu abad tidak mendengarnya. Mereka membungkuk pada penonton yang masih terus saja bertepuk tangan-standing ovation-. Kahoko menatap Len dengan tatapan yang bingung bercampur bahagia.
"Apa yang kau lakukan disini Len?", tanyanya dengan suara lirih.
"Aku kemari ingin berpartisipasi dalam konser amal ini dan juga karena aku ingin bertemu denganmu", Kahoko merona mendengarnya. "Dan karena ada sesuatu yang harus kuberitahukan padamu. Sesuatu yang penting"
"Apa itu? Sebaiknya kita bicarakan ditempat lain saja, Len"
"Tidak. Aku harus melakukannya disini, saat ini, sekarang juga", ujar Len tegas.
"Tapi ini... masih diatas panggung, Len", Len hanya tersenyum simpul. Ryotaro tiba – tiba datang menghampiri mereka sambil menyerahkan sebuah mikrofon kecil pada Len.
"Nih, kau lupa. Ganbaro sa, Tsukimori", ujarnya dengan suara pelan. Wajah Len sedikit memerah begitu mendengarnya. Ia menggumamkan terima kasih pada Ryotaro dan menyematkan benda itu di atas jaket jasnya. Ryotaro mengedip penuh arti pada Kahoko saat ia berbalik kembali menuju belakang panggung. "Sebelumnya, selamat Hino". Kahoko tersenyum kecil berterimakasih pada Ryotaro dengan bingung. Memangnya selamat karena apa?
"Kahoko", panggil Len. Kahoko berbalik dan menatap Len dengan tatapan bingung. Dalam hati ia bertanya mengapa suara Len jadi terdengar juga lewat speaker?
'Mungkin yang diberikan Tsuchiura-kun tadi itu microfon saku. Tapi untuk apa?', pikirnya bingung.
"Aku tahu kalau aku sudah membuatmu terkejut dengan kedatanganku yang tiba – tiba. Dan aku juga minta maaf kalau aku tidak bisa menghubungimu beberapa hari yang lalu", sambung Len.
"Tidak apa – apa, aku bisa mengerti kalau kau sibuk saat itu", jawab Kahoko. 'Lho? Kenapa tiba – tiba suaraku juga jadi keras?', pikirnya sambil menunduk memandangi gaunnya. Di sana ia melihat benda kecil berwarna hitam yang serupa dengan benda yang diberikan Ryotaro pada Len. Microfon mini. 'Yang benar saja! ? Sejak kapan benda ini ada di situ! ?'
Len tersenyum melihat tingkah Kahoko yang kebingungan. "Kahoko", panggil Len lagi.
"Ya Len?"
"Selamat ulang tahun, maaf aku baru mengucapkannya padamu. Konserku baru selesai kemarin malam di Italia. Saat kau meneleponku kemarin malam aku baru sampai di bandara, dan saat itu pesawat hampir lepas landas, makanya aku harus buru – buru boarding dan mematikan ponselku"
"Kalau begitu kau baru datang?", tanya Kahoko yang dijawab dengan senyum kecil dari Len. Ia menatap Len dari ujung rambut sampai ujung kaki. Len memakai kaus polo warna putih yang ditutupi dengan jaket jas berwarna hitam, jeans biru dongker dan sepatu kulit warna hitam menutupi kakinya. Senyum yang merekah diwajahnya menutupi kelelahan diwajahnya sehingga sulit untuk mengetahuinya, matanya yang menyiratkan kegembiraan membuatnya semakin nyata dan semakin tampan.
"Kahoko, ada hal yang ingin kukatakan sebelumnya"
"Apa itu, Len?"
"Tahun ini aku tidak akan memberimu hadiah apa pun", jawab Len dengan wajah serius yang langsung dihujani sorakan kekecewaan dari para penontonnya, termasuk teman – teman mereka.
"Payah kau Tsukimori-kun! !", Len terkekeh mendengar Kazuki berteriak lewat speaker. Rupanya ia mengambil mikroron milik MC yang kebetulan berada tepat di sebelahnya.
"Eh, tidak apa – apa. Memang sebaiknya daripada kau membelikanku hadiah sebaiknya kau tabung saja. Lagipula dengan adanya kau disini, aku tidak membutuhkan hadiah apapun", balas Kahoko pelan sambil tersipu yang diiringi jutaan 'ooh' dan 'aah' serta tak lupa siulan dari teman - teman mereka, termasuk Kanazawa-sensei. Len tertawa kecil. Kemudian ia berdeham dua kali sebelum memanggil Kahoko.
"Hino Kahoko", panggil Len. Kahoko terbeliak saat melihat Len berlutut dengan satu kaki di depannya. Semua orang yang berada di dalam ruangan menjerit histeris saat mereka menyadari apa yang akan dilakukan Len. Wajah Kahoko memerah saat ia memandang wajahnya yang sedikit merona. Len memberinya salah satu senyum terbaiknya dan menggenggam sebelah tangannya.
"Aku tahu selama ini aku sudah membuatmu menderita karena menungguku. Aku dan keegoisanku, yang selama ini membuat kita terpisah. Aku minta maaf kalau aku selalu membuatmu marah, kesal dan sedih karena kepergianku. Tapi Kahoko, aku ingin kau tahu betapa aku mencintaimu. Sejak pertama kali aku bertemu denganmu dan kau tersenyum padaku, aku tahu kalau hatiku mulai terpikat padamu. Saat kita berdua memainkan ave maria, tanpa kusadari, di hatiku, hati yang keras dan beku ini mulai tumbuh sebuah perasaan yang tak pernah kualami sebelumnya. Dan tanpa kusadari, setiap kali bertemu denganmu, perasaan itu semakin besar dan membuat hatiku yang beku sedikit demi sedikit mencair. Kahoko, aku mulai menyadari kalau aku mencintaimu di saat yang paling tidak tepat. Kau ingat, saat kau memintaku memainkan Ave Maria bersamamu sepulangnya kita dari sekolah di taman malam itu? Saat itulah, aku menyadari perasaanku padamu", ia menarik napas dalam sebelum akhirnya melanjutkan, "Bahwa selama ini perasaanku itu adalah cinta"
Para penonton yang sempat terdiam saat Len berbicara kini kembali riuh. Wajah Kahoko yang sudah memerah karena mendengar pernyataan Len sebelumnya kini semakin memerah. Len melanjutkan bicaranya saat penontonnya kembali tenang.
"Hino Kahoko, aku ingin menebus semua kesalahan yang pernah kubuat sebelumnya padamu. Aku tidak ingin berpisah darimu lagi, aku ingin bersama denganmu selamanya, Kahoko. Karena itu, Hino Kahoko", Kahoko menahan napasnya saat Len kembali menarik napas dalam – dalam. Ia menarik keluar sebuah kotak beludru merah kecil dari kantung dalam jaket jasnya dan membukanya. Sebuah cincin platina bertahta berlian di dalamnya membuat napas Kahoko tercekat di tenggorokannya.
"Maukah kau menikah denganku, Hino Kahoko?"
.
-o::o::o-
.
Kahoko terbeliak lebar, ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Len memintanya untuk menikah dengannya. Apakah ia tidak salah dengar? Len mencintainya. Itu sudah pasti, Kahoko dapat merasakan betapa besar cintanya pada Kahoko hanya dengan menatap ke dalam mata topaznya. Kahoko mencintainya. Ia sangat mencintainya. Tidak ada keraguan dalam dirinya kalau ia mencintainya. Sudah lama ia menginginkan Len berada di sisinya. Selalu. Selamanya. Ia bahagia mendengar Len melamarnya di hadapan banyak orang. Dibutuhkan keberanian yang besar untuk melakukannya, dan Len melakukannya dengan sangat baik dan tenang. Tangannya yang menggenggam tangan Kahoko tidak gemetar sama sekali. Mata topaznya pun sangat tenang dan senyumnya pun sama sekali tidak gemetar.
Kahoko ingin sekali menjawab 'ya' padanya. Berteriak kalau perlu. Tapi tenggorokannya serasa tercekat. Matanya terasa sangat panas, begitu juga dengan wajahnya. Jantungnya melompat tak karuan di rongga dadanya. Kenapa dadanya terasa sesak dan ia mendengar suara aneh keluar dari tenggorokannya dan bukannya menjawab 'ya' pada Len?
.
-o::o::o-
.
Len menatap Kahoko yang terisak, ia terus menjaga kontak mata dengan gadis yang sangat dicintainya itu. Dari mata amber itu mulai bergulir setetes demi setetes air mata. Kahoko menutup mulutnya dengan tangannya yang lain. Len berdiri cepat dan menangkap pinggang Kahoko saat ia hampir jatuh terduduk.
"Kahoko kau—"
"Ya", ujar Kahoko lirih dengan suara parau.
"Huh?"
"... ku... cin... ai... mu...", bisik Kahoko sambil sesegukan.
"Kahoko?", panggil Len sambil menatap dalam mata Kahoko.
"Y—ya, ak—aku mencin—tai mu, Le—Len...", ujarnya pelan dan rendah. Meski begitu, Len dapat mendengarnya dengan jelas. Ia terbeliak dan memeluknya lebih erat, menyusupkan kepalanya di bahu Kahoko dan berbisik.
"Aku mencintaimu, Kahoko. Aku mencintaimu. Katakan padaku, sekali lagi. Jawab pertanyaanku, Kahoko. Maukah kau menikah denganku dan menghabiskan seluruh hidupmu denganku?" Tangis Kahoko meledak, ia mendekap Len erat dan menyusupkan kepalanya di dada Len.
"Ya, Len. Ya... Aku mencintaimu..."
Semua orang yang ada dalam gedung itu bersorak untuk mereka dan tepuk tangan kembali membahana dengan lebih keras dari sebelumnya. Keluarga dan kedua orang tua mereka tersenyum bahagia untuk anak – anak mereka. Yuri menangis bahagia melihat keduanya akhirnya bersatu. Misa-san yang berada di belakang panggung menangis haru bersama Shouko, begitu pula Hino-san, ibu Kahoko dan kakaknya yang juga menangis haru.
Len merenggangkan pelukannya dan menatap mata Kahoko dalam – dalam. Ia begitu bahagia Kahoko menerima lamarannya. Matanya dipenuhi oleh air mata yang tidak mengalir, ia hanya tersenyum. Lega karena semua bebannya telah terangkat oleh tangan – tangan tak kasat mata. Kahoko pun sangat bahagia, ia terus menangis karena bahagia meski begitu ia tetap memberikan Len senyumnya yang paling disukainya. Len mengangkat dagunya dan membungkuk untuk mencium Kahoko untuk yang pertama kalinya.
.
.
.
::-o-xx- February, 27th -xx-o::
.
.
.
Die Liebe, die sich vereinigt (The love that unites)
.
.
