Day Off: Second Day

.

.

.

.

.


Jimin terbangun dari tidur lelapnya setelah mendengar ponselnya berdering tiada henti. Dengan mata yang masih setengah terpejam, Jimin mengambil ponselnya yang tergeletak tak jauh dari bantalnya. Matanya mengerjap ketika cahaya dari layar ponselnya menyapa indra penglihatannya. Masih jam tujuh pagi–kurang lebih begitu yang terpampang di ponselnya– dan sudah ada orang kurang kerjaan yang meneleponnya sepagi ini.

Incoming call

Kim Taehyung

Ralat. Sudah ada orang kurang kerjaan bernama Kim Taehyung yang meneleponnya sepagi ini.

"Ha–"

"JIMIIIIN!" teriakan penuh semangat Taehyung membuat Jimin menjauhkan ponselnya dari telinganya. Sumpah demi apapun teriakan Taehyung dari seberang telepon bukanlah hal yang ingin didengarnya ketika baru bangun tidur.

"Bisakah kau tidak berteriak, Tae? Ini masih pagi." Gerutu Jimin. Teriakan menggelegar Taehyung benar-benar membangunkannya.

"Suaraku ini seksi tahu, tidak akan membuat telinga orang lain sakit walaupun aku berteriak. Lain cerita kalau kau yang teriak, itu baru membuat telinga orang lain sakit."

"Ya sudah kututup teleponnya."

"Hei, hei, kalau ulang tahun tidak boleh marah-marah. Sahabatmu ini merasa bersalah karena tidak bisa mengucapkan selamat ulangtahun kepadamu tepat saat pergantian hari, kalau kau mau tahu. Harusnya kau berterimakasih karena sahabatmu ini mau bangun pagi-pagi hanya untuk meng–"

"Iya, aku sudah tahu. Kumaafkan."

"Jangan memotong perkataanku, Park Chimchim. By the way happy birthday you jerk. Aku pasti yang pertama mengucapkannya kan? Haha."

"Thanks. Tapi kau orang kedua yang mengucapkannya, tuan Alien."

"Siapa orang pertama yang mengucapkannya lebih dulu dariku? Tidak mungkin pacar siputmu itu kan?"

"Sayangnya memang pacar siputku yang pertama kali mengucapkannya."

"Tolong katakan kau sedang berbohong, Chim."

"Aku tidak sedang berbohong, Tae."

"Tolong katakan kau sedang menahan tawa dan kau sedang berbohong."

"Aku memang sedang menahan tawa, tapi aku tidak sedang berbohong."

"Tolong katakan kau sedang menghibur dirimu sendiri karena Yoongi hyung melupakan ulangtahunmu."

"Sembarangan!"

"Aish! Jadi aku kalah cepat dari pacar siputmu itu?! Tak kusangka Min Siput itu yang pertama mengucapkannya. Kukira dia akan sibuk di studio dan nyaris melupakan ulang tahunmu seperti tahun lalu."

"Tidak usah diingatkan, Tae. Kali ini Yoongi ingat ulang tahunku kok."

Itu benar, tahun lalu Yoongi terlalu sibuk dengan pekerjaannya sampai nyaris melupakan ulangtahun Jimin. Ia hanya mengirimkan pesan singkat berisi ucapan selamat ulangtahun dan permintaan maaf karena hampir melupakan ulangtahun Jimin tepat satu menit sebelum pergantian tanggal 13 Oktober menjadi 14 Oktober. Mengingatnya hanya merusak mood Jimin di pagi hari.

"Tunggu, aku tidak salah dengar kan? Kau memanggilnya Yoongi?"

"Namanya kan memang Yoongi, sudah pastilah aku memanggilnya Yoongi. Tidak mungkin kupanggil Hoseok kan?" ledek Jimin dengan penuh penekanan ketika menyebutkan nama Hoseok.

"Hahaha lucu sekali, Jimin. Serius, maksudku kau memanggilnya Yoongi saja? tanpa hyung ?"

"Kau dengar sendiri barusan."

"Sejak kapan?"

"Sejak hari ini. Ah, maksudku sejak dini hari tadi."

"Sepertinya sesuatu yang baik terjadi."

"Hm, ya. Begitulah."

"Aku akan mampir ke apartemen kalian. Hitung-hitung sekalian berangkat kerja. Kau berhutang cerita padaku, Park Chimchim."

"Akan kuceritakan nanti."

"Baiklah kalau begitu. Ngomong-ngomong aku sudah menghabiskan keberuntunganku untuk hadiah ulangtahunmu, jadi sebaiknya ceritamu bisa membayar keberuntungan yang sudah kuhabiskan."

"Aku jamin ceritaku bisa membayarnya dua kali lipat, Tae."

"Bagus. Oke, sudah dulu ya, Bye. Jangan lupa nanti aku akan mampir ke apartemen kalian."

Dan percakapan via telepon itu diputus sepihak oleh Taehyung. Mungkin kalau bukan sahabatnya, Jimin akan memaki-maki Taehyung karena sudah mengganggu tidurnya, meneriakinya di telepon, dan memutus panggilan telepon secara sepihak.

Jimin meletakkan ponselnya di samping bantal dan membalik posisinya. Terkejut ketika mendapati Yoongi sudah terbangun dan menyangga kepalanya dengan tangan kirinya.

"Pagi." Suara berat khas orang baru bangun tidur Yoongi menyapa Jimin.

"Pagi, sejak kapan kau bangun?"

Yoongi mengubah posisinya yang semula berbaring menjadi duduk dengan punggung bersandar di kepala ranjang .

"Sejak sahabatmu itu berteriak di telepon mungkin? Sepertinya aku harus menjadikan teriakannya sebagai alarm. Cukup manjur untuk membangunkan tidur pulasku." Seperti biasa, Yoongi akan menjadi uring-uringan kalau tidurnya terganggu.

Jimin mendekat pada Yoongi dan meletakkan kepalanya di atas pahanya, mencoba menyamankan posisinya sementara Yoongi memainkan rambutnya. Jimin memejamkan matanya ketika dirasanya tangan Yoongi mengelus surai abu-abunya. Jimin sangat menyukai sentuhan Yoongi yang seperti ini.

"Jadi hari ini kita akan kedatangan tamu?" Yoongi akhirnya buka suara.

"Yah, begitulah. Taehyung bilang dia akan mampir ke sini." Jeda sejenak sebelum Jimin melanjutkan, "Ngomong-ngomong kau mau kubuatkan apa untuk sarapan pagi ini?" lanjutnya.

Yoongi berpikir sebentar, tiba-tiba sebuah ide jahil terlintas di kepalanya.

"Kau." Jawab Yoongi enteng.

"Hah?"

Melihat Jimin yang lengah, dengan gerakan cepat Yoongi menjatuhkan Jimin di atas tempat tidur dan mencium bibir Jimin, melumatnya. Ciuman itu perlahan turun ke leher Jimin, meninggalkan sebuah jejak bercak kemerahan di sana. Yoongi menunjukkan seringainya ketika Jimin menatapnya dengan tatapan terkejut.

"Bagaimana kalau kau saja yang jadi sarapanku pagi ini, Jiminie?"

Seketika Jimin mendorong tubuh Yoongi yang semula berada di atas tubuhnya hingga jatuh dari tempat tidur. Tak lupa melemparinya juga dengan bantal dan guling.

"DASAR OM-OM MESUM!"

Jimin buru-buru keluar dari kamar dan meninggalkan Yoongi. Yoongi sendiri hanya bisa meringis sambil tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Jimin. Setidaknya ia sudah mendapatkan morning kiss-nya kan? Yoongi lalu berdiri dan menyusul Jimin yang sudah lebih dulu keluar dari kamar. Ia mendapati Jimin di dapur tengah menenggak segelas air. Yoongi langsung menghampirinya dan memeluknya dari belakang.

"Mengataiku om-om mesum, tapi kau sendiri mau-mau saja ditiduri om-om mesum sepertiku. Oh, bukan hanya ditiduri. Kau bahkan tinggal denganku, dengan om-om mesum."

Jimin meringis kesal. Kalah telak.

"Kalau ulangtahun tidak boleh marah, sayang." Goda Yoongi.

Jimin berbalik menghadap Yoongi, menunjukkan senyum manisnya sambil menginjak kaki Yoongi. "Aku tidak marah kok, Yoongi sayang." Ujarnya penuh penekanan baik dalam kata-katanya maupun injakannya pada kaki Yoongi.

"Aduh! Iya, iya, aku tidak meledekmu lagi. Sakit! Berhenti menginjak kakiku, Jim!"

Yoongi buru-buru menarik kakinya ketika Jimin melonggarkan injakannya. Kekasihnya itu memang imut-imut menggemaskan, Yoongi sendiri sangat suka menggoda Jimin hanya untuk melihat reaksi menggemaskan Jimin. Tapi Yoongi masih sayang nyawa untuk tidak menggoda anak itu sampai kelewat kesal. Melihat Taehyung yang pernah menjadi korban kekesalan Park Jimin sudah lebih dari cukup bagi Yoongi untuk tidak membuat anak itu kesal.

Coba bayangkan bagaimana rasanya jika seseorang menyiksamu dengan wajah penuh senyuman tak peduli kau sudah berteriak-teriak minta ampun, kurang lebih begitulah Park Jimin kalau kau coba-coba memancing emosinya.

"Kau mau kopi atau teh?" tanya Jimin.

"Kopi saja."

Yoongi duduk di kursinya sambil menunggu Jimin yang sedang menyiapkan sarapan. Sebenarnya situasi seperti ini bukan hal yang baru lagi sejak Jimin memutuskan tinggal bersama Yoongi. Tetapi entah kenapa hari itu rasanya berbeda. Terasa lebih spesial mungkin? Yoongi melirik jari manisnya sekilas, dan tidak dapat menyembunyikan senyumannya.

"Jangan senyum-senyum sendiri seperti itu, kau membuatku takut."

Suara Jimin membuat Yoongi menengadahkan kepalanya. Sepiring sandwich dan secangkir kopi sudah tersaji di hadapannya. Mau tak mau membuat Yoongi kembali tersenyum lebar.

"Thanks."

Jimin mengangguk sebagai balasannya.

"Jadi bisa beri tahu aku kenapa kau tiba-tiba senyum-senyum sendiri seperti itu?" tanya Jimin sambil menyeruput teh manisnya.

"Tidak apa-apa. Hanya senang saja bisa sarapan denganmu."

Jimin hampir tersedak mendengar penuturan Yoongi barusan.

"Ehem, bukannya kita sudah biasa ya sarapan bersama seperti ini?" Tanya Jimin lagi.

Yoongi meraih tangan kanan Jimin. Menggenggamnya dengan erat. "Kali ini berbeda." Kata Yoongi. Menatap lurus mata Jimin lalu melanjutkan, "Pagi ini aku sarapan dengan orang yang baru saja kulamar."

Pipi chubby Jimin merona hebat. Ia menunduk malu-malu. Darimana orang realistis seperti Min Yoongi mempelajari kata-kata manis seperti ini?

"Kau baru membeli buku seribu satu cara taklukan si dia ya?" Jimin bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari cangkir tehnya. Tanpa melepaskan tangannya dari genggaman Yoongi.

"Jimin, tolong jangan rusak upaya romantisku."

Jimin mengangkat wajahnya yang masih merona untuk menatap Yoongi. "Habisnya tumben sekali. Memanggilku dengan panggilan sayang saja jarang."

"Romantis memang bukan gayaku, tapi bukan berarti aku tidak bisa romantis kan?"

"Iya sih, tapi kan–"

Ucapan Jimin terhenti ketika Yoongi bergerak maju dari kursinya dan mengunci bibir Jimin dengan sebuah ciuman singkat. Kembali ke posisi duduknya, Yoongi melepaskan genggamannya pada tangan Jimin.

"Sudah, cepat habiskan sarapanmu."

Jimin menurut. Ia mengerucutkan bibirnya dan mulai menghabiskan sandwichnya. Entah kenapa Yoongi jadi kelihatan seperti ayahnya sekarang.

.

.

Tingtong.

Suara bel apartemen Yoongi ditekan. Ia beranjak ke pintu apartemen dan mengintip dari celah kecil yang berada di tengah pintunya. Terlihat sosok Taehyung tengah berdiri dengan paper bag warna hitam di tangan kanannya. Yoongi segera membukakan pintu apartemennya.

"Wah kau ternyata benar-benar cuti hyung."

"Memangnya ada yang salah kalau aku mengambil cuti?"

"Tidak sih. Ngomong-ngomong mana Jimin?" tanya Taehyung sambil melepas sepatunya.

"Ada di dapur." Jawab Yoongi.

"Oh? Taehyung kau sudah datang rupanya." Kata Jimin yang baru muncul dari dapur. Panjang umur sekali.

"Jiminie~ selamat ulang tahun~" Taehyung langsung merangkul sahabatnya itu, melupakan sepatunya yang masih tergeletak berantakan.

"Yah, Kim Taehyung! Sepatumu!" omel Yoongi.

"Jangan marah-marah begitu. Kau akan cepat tua, hyung. Tidak lucu jika kau disangka kakeknya Jimin kalau kalian sedang jalan berdua." Taehyung melepaskan rangkulannya dari Jimin. "Oh ya, ini hadiahmu." Katanya seraya menyerahkan paper bag hitam yang dibawanya.

Jimin menerima paper bag tersebut dengan berseri-seri. "Wah, thanks Tae."

Taehyung menggosok hidungnya menggunakan jari telunjuk seperti tokoh jagoan di film kartun yang sering ia tonton. "Hehe, jadi mana pelukan untuk sahabatmu ini?" katanya sambil merentangkan tangan.

Jimin memeluk Taehyung, melupakan eksistensi Min Yoongi yang kini tengah memutar bola matanya menyaksikan adegan berpelukan antara dua sahabat sehidup belum semati.

"Kalau mau jadi Teletubbies jangan di sini." Ada yang cemburu rupanya.

"Jadi inikah balasan yang kudapat setelah mendekatkan kalian? Kau tega, hyung." Ujar Taehyung sok dramatis dengan nada meledek. Kapan lagi bisa membuat Min Yoongi cemburu seperti ini? Kesempatan langka ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin.

Seketika Jimin melepaskan pelukannya dari Taehyung dan langsung menghampiri Yoongi. Sedikit berjinjit untuk mengecup pipi kiri dan kanannya bergantian, serta tidak lupa pula bibirnya.

Jimin menangkup wajah Yoongi dengan kedua tangan kecilnya. "Yoongi-ya, jangan cemburu lagi, oke?"

Jimin lalu meninggalkan kedua lelaki Daegu itu mematung kaget di dekat pintu. Kalau Yoongi saja kaget bagaimana Taehyung? Berani sumpah ini pertama kalinya ia melihat Jimin mencium Yoongi. Ia tidak akan kaget kalau Yoongi yang mencium Jimin, yah, sepupunya itu kan memang dominan. Tapi ini Jimin. Chimchim. Park Jimin. Sahabatnya yang mudah sekali tersipu malu. Yang dipuji sedikit saja mukanya sudah merona merah seperti kepiting rebus. Yang kalau sudah menari di atas panggung suka sok pamer abs tapi begitu turun panggung akan berteriak 'Uwaah, aku malu sekali tadi! Taehyungie tolong sembunyikan aku...'. Kalau tahu Park Jimin ternyata diam-diam agresif seharusnya tadi ia merekamnya untuk koleksi pribadinya. Eh?

"CHIMCHIM!" jerit Taehyung histeris.

"Tidak usah teriak-teriak, Kim Taehyung. Sudah, sana duduk di sofa. Aku akan membantu Jimin di dapur" Kata Yoongi kalem.

Taehyung berdecih. "Mentang-mentang sudah dicium. Jangan sok keren kau om-om mesum."

Taehyung mendudukkan dirinya di sofa depan televisi. Tangannya bergerak memencet tombol remote, mencari saluran televisi yang acaranya enak ditonton. Sesekali melirik pasangan yang tengah menyibukkan diri di dapur. Senang rasanya melihat sang kakak sepupu dan sahabatnya begitu saling melengkapi.

"Hei, Jimin. Buka hadiah dariku dong." Kata Taehyung saat Jimin memberikannya sekaleng minuman bersoda. Di belakangnya ada Yoongi yang membawa setoples kue kering.

"Memangnya tidak apa-apa kalau kubuka sekarang?"

Taehyung meneguk minumannya terlebih dahulu sebelum menjawab "Tidak apa-apa. Ayo cepat buka hadiahnya!"

'Sebenarnya yang berulangtahun itu kau atau Jimin sih?' batin Yoongi.

Jimin mengambil paperbag hitam yang sebelumnya ia letakkan di sofa ke pangkuannya. Di dalamnya terdapat sebuah kotak warna hitam dengan pita hitam sebagai hiasannya. Melirik sekilas ke arah Taehyung yang sudah menganggukan kepalanya, memberi isyarat kalau Jimin harus membuka hadiahnya sekarang juga, lalu melirik ke arah Yoongi yang memberinya tatapan sudah buka saja hadiahnya biar sahabatmu senang.

Kotak dibuka, di dalamnya ada sebuah sweatshirt dengan aksen rajut merah-biru di bagian leher dan pergelangan tanganyang terlipat rapi. Jimin melotot kaget melihat hadiah yang diberikan Taehyung. Mereka pernah sekali melihatnya di pusat perbelanjaan, dan Jimin masih ingat kalau Taehyung akan menabung untuk membeli sweatshirt itu karena harganya mahal.

"T-Taehyung. Ini, ini kan–"

"Sudah kubilang kan kalau aku menghabiskan keberuntunganku untuk hadiahmu. Jadi apa kau keberatan untuk memberikan sahabatmu ini satu pelukan lagi?" Taehyung merentangkan tangannya lebar-lebar.

Namun bukan pelukan yang didapat, justru lemparan bantal yang mendarat di wajahnya. Pelakunya? Sudah pasti lelaki berkulit pucat bernama lengkap Min Yoongi yang kini merangkul posesif Jiminnya yang tepat berada di sampingnya.

"Tidak untuk kedua kalinya, bocah. Peluk saja bantal itu."

"Kau bilang kau ingin membelinya untukmu!" sela Jimin. Masih terlalu kaget karena Taehyung menghadiahinya barang yang sebenarnya merupakan barang incaran Taehyung sendiri.

"Hei, aku tidak pernah bilang aku ingin beli untukku. Aku bilang aku akan menabung untuk membelinya. Nah sekarang kau harus mencobanya. Ayo coba pakai, aku ingin lihat!" pinta Taehyung.

"Baiklah, akan kupakai. Tunggu di sini, aku akan ganti baju di kamar." Kata Jimin.

Kedua anak seumuran itu terlalu larut dalam perasaan suka cita, hingga tidak menyadari Min Yoongi tengah menyeringai nakal ketika Jimin menutup pintu kamar mereka.

Tidak perlu waktu lama bagi Jimin untuk berganti pakaian. Ia keluar dari kamarnya dengan menggunakan sweatshirt pemberian Taehyung. Entah karena ukurannya yang kebesaran atau badan Jimin yang ehem mungil, Jimin terlihat tenggelam di balik sweatshirt tersebut. Terutama pada bagian tangannya.

Taehyung bersorak kegirangan melihat Jimin memakai hadiahnya. Tak henti-hentinya memuji Jimin terlihat sangat imut dengan sweaterpaws-nya. Tak lupa membanggakan dirinya di depan Yoongi karena sudah berhasil mencarikan pacar yang imut-imut menggemaskan seperti Jimin untuk Yoongi. Sementara Yoongi hanya mengangguk saja, mengakui kalau Jimin memang menggemaskan. Mengejek reaksi Taehyung yang dianggap terlalu kekanakan.

(padahal diam-diam Yoongi memotret Jimin menggunakan ponselnya).

"Oh? Jimin, ada apa dengan lehermu?" tanya Yoongi tiba-tiba. Membuat Taehyung mau tak mau ikut memperhatikan leher Jimin.

"K-kenapa apanya?" Jimin balik bertanya. Diucapkan dengan kaku, tangan kirinya semakin erat memegangi lehernya. Leher bekas dicumbu Min Yoongi lebih tepatnya.

"Kau terus memegangi lehermu seperti itu, apa kau sakit?" Yoongi kembali bertanya, pura-pura perhatian padahal sedang menggoda Jimin.

'Om-om tua ini!' maki Jimin dalam hati. "Ah, t-tidak apa-apa kok... haha. Sudah kan? Aku bisa ganti baju lagi kan?"

"Hmm..."

Bukan Kim Taehyung namanya kalau langsung percaya begitu saja. Jadi Taehyung menarik tangan Jimin dengan cepat. Bercak kemerahan yang masih melekat di kulit leher itu pun terekspos.

"Sudah kuduga." Taehyung manggut-manggut paham. "Kepolosanmu sudah direbut paksa oleh om-om mesum."

"Yah!" seruan protes Jimin terdengar diikuti suara tawa terbahak Yoongi.

"Itukah yang ingin kau ceritakan padaku, Jim? Pantas saja tadi kau pakai turtleneck." Taehyung bertanya sambil menaikturunkan alisnya. Tunggu, kenapa Taehyung jadi seperti om-om mesum juga?!

"Bukan! Tentu saja bukan itu!" seru Jimin sambil menutup wajahnya. Ah, malu sekali rasanya bercak merah itu dilihat oleh sahabatnya sendiri. Ia buru-buru masuk ke kamar dan mengganti bajunya lagi.

"Jadi kalian habis berapa ronde hyung?" Taehyung bertanya pada Yoongi.

"Kami tidak melakukan apa-apa. Aku hanya iseng menandainya."

Taehyung facepalm di tempat. Tidak sampai lima menit Jimin sudah keluar dari kamar, kembali menggunakan turtleneck-nya. Ia duduk di samping Yoongi.

"Baiklah, cepat ceritakan. Kau sudah menjamin ceritamu bisa membayar dua kali lipat keberuntungan yang sudah kuhabiskan. Aku sudah tidak sabar dengan ceritamu."

Jimin menunduk malu-malu, bingung harus memulai ceritanya darimana. Duduknya semakin merapat pada Yoongi.

"Semalamakudilamaryoongi." Ujar Jimin cepat seolah dirinya sedang ngerap. Begitu-begitu Jimin memang bisa ngerap walaupun tidak sebagus Yoongi.

"Semalam apa?" ulang Taehyung.

"Semalam aku melamar Jimin." Yoongi yang akhirnya buka suara setelah Jimin menatapnya dengan tatapan memelas 'please, hyung saja yang bilang'.

"Oh, jadi hyung melam–WHAT?! MELAMAR?!" entah sudah keberapa kalinya Taehyung beteriak kaget.

Yoongi dan Jimin serempak menunjukkan jari manis mereka yang kini sudah dihiasi sebuah cincin tanda pengikat hubungan kedua orang itu.

"Oh my god, tolong cubit aku atau jitak aku." kemudian Yoongi dengan senang hati menjitak kepala Taehyung lumayan keras membuat pemiliknya meringis menahan sakit.

"Sudah sadar?" tanya Yoongi cuek, tidak merasa bersalah sedikitpun dengan jitakannya.

"Ugh, ya. Terima kasih atas jitakannya. Aku tak menyangka Yoongi hyung sudah berpikir sampai sejauh itu."

"Bawaan usia mungkin?" Yoongi menambahkan, "Kau tahu aku sudah terlalu tua untuk hubungan main-main." Tangannya semakin mengeratkan rangkulannya pada pundak Jimin membuat yang lebih muda menyandarkan kepalanya di bahu Yoongi.

Melihatnya membuat Taehyung merasa lega. Selama ini ia hanya bisa melihat bagaimana Jimin berusaha mengimbangi karakter Yoongi dengan tidak banyak menuntut ataupun mengekang. Tapi kali ini ia bisa melihat kesungguhan Yoongi dalam menjaga Jimin. Taehyung lega karena sahabatnya dan sepupunya berada di tangan yang tepat.

"Hyung, jaga sahabatku baik-baik. Kalau kau berani membuatnya menangis aku tidak akan ragu mengajak Jungkook untuk memutilasimu hidup-hidup. Kau tahu kan anak itu tidak akan pernah memberi ampun kepada siapapun yang membuat hyung-nya menangis?"

"Heh, aku sudah tahu. Tanpa kau suruh pun sudah pasti akan kulakukan." Kata Yoongi seraya menarik Jimin ke dalam pelukannya.

Taehyung tersenyum puas mendengar jawaban Yoongi.

.

.

"Hyung, terima kasih untuk tumpangannya."

"Sampaikan salamku dan Jimin untuk Jin hyung."

Pintu mobil ditutup, meninggalkan Yoongi dan Jimin di dalam mobil. Awake Cafe, kafe milik Kim Seokjin yang tak lain adalah kakaknya Taehyung. Di sinilah mereka berada. Mengantar Taehyung ke tempatnya bekerja.

"Yoongi."

"Ya, ada apa Jimin?"

"Mau menemaniku nonton ke toko buku?"

Yoongi mengacak pelan rambut Jimin. "Anything for you, dear."

"Astaga aku sampai merinding mendengarnya." Kata Jimin sambil menepis tangan Yoongi.

"Mau beli komik lagi?"

Jimin mengangguk semangat. "Aku mau beli yang sudah dibundel. Ingin melengkapi koleksiku."

Yoongi mulai mengemudikan mobilnya. Berbeda dengan kemarin, suasana di mobil kali ini lebih hidup. Mereka lebih banyak mengobrol, tak jarang saling melempar lelucon. Sesekali Jimin ikut bernyanyi kalau ada lagu yang ia sukai diputar di radio.

Tiba-tiba Yoongi membesarkan volume tape mobil. Setahu Jimin, lagu yang sekarang mengalun ini bukanlah tipikal lagu yang disukai Yoongi.

"Kau suka lagu ini?"

"Coba dengarkan lirik lagunya baik-baik."

Ditanya apa dijawabnya yang lain. Ish, dasar Min Yoongi. Memangnya ada apa dengan lirik lagunya? Kurang lebih itulah yang ada di pikiran Jimin saat ini. Ia mencoba mendengarkan lagunya dengan cermat.

Eyes that disappear when he smiles

But a guy who has a child-like smile

He's so lovable,

a cute guy who will whisper innocent words to me

"Lucu kan? Lirik lagunya menggambarkan dirimu sekali, Jimin."

"Ah, itu pasti kebetulan."

"Jangan-jangan penyanyinya adalah penggemar rahasiamu? Atau mungkin mantan pacarmu?" Yoongi menerka-nerka.

"Tidak mungkin, aku yakin itu hanya kebetulan saja."

Sesampainya di toko buku, Jimin langsung masuk ke bagian komik. Yoongi mengikutinya di belakang. Sudah hafal dengan kebiasaan Jimin tersebut. Pandangan mata Jimin tertuju pada komik Bajak Laut Topi Jerami* yang sudah dibundel. Komik kesukaannya.

"Hmm..."

Jimin terlihat serius saat memilih bundelan komik yang ingin ia beli. Saking seriusnya memilih, Jimin tidak sadar Yoongi sudah memotretnya dengan ponselnya. Bahkan ia tidak menyadari Yoongi tengah terkikik kecil karena gemas sekali dengan raut serius setengah kebingungan Jimin yang berhasil ia abadikan melalui kamera ponselnya.

"Hah..." Jimin menghela nafas panjang.

"Kenapa? Masih belum bisa memilih mana yang ingin dibeli?"

Jimin mengangguk lemas. Sebenarnya bisa saja ia membaca komik secara online, tak jarang Jimin juga membacanya secara online. Tetapi sebagai penggemar berat seri Bajak Laut Topi Jerami, Jimin bertekad untuk mengoleksi komiknya dan membaca cerita terbarunya langsung dari komiknya. Yoongi sih maklum saja dengan hobi Jimin yang satu itu.

"Memangnya kau belum baca yang volume berapa?"

"Banyak! Koleksiku masih banyak yang belum lengkap kalau kau mau tahu."

"Ya sudah, beli saja semua bundelnya. Dari yang paling pertama sampai yang paling baru dirilis. Beres kan?"

"Ngaco! Uangku cuma cukup untuk beli satu bundel tau!"

"Kalau begitu biar aku yang bayar. Anggap saja hadiah ulangtahun dariku."

"Tidak mau! Aku mau beli pakai uangku sendiri!"

Sayangnya Yoongi tidak menerima penolakan. Jadilah ia memanggil salah satu petugas untuk membantunya membawa beberapa bundel komik Bajak Laut Topi Jerami. Jimin sudah akan protes sebelum Yoongi memberinya tatapan penuh intimidasi.

'Tidak sekarang, kalau mau protes nanti saja.' kurang lebih itulah yang bisa diartikan oleh Jimin dari tatapan Yoongi.

.

.

Di apartemen, Jimin masih mogok bicara dengan Yoongi. Ia mogok bicara pada Yoongi sejak di toko buku tadi. Jimin Ngambek karena Yoongi membelikannya komik Bajak Laut Topi Jerami dari edisi pertama sampai edisi yang paling baru dirilis padahal Jimin ingin membelinya dengan uangnya sendiri. Terdengar konyol bukan? Tapi itulah yang terjadi.

Yoongi menghampiri Jimin yang sedang duduk di sofa. "Masih ngambek?"

'Menurut ngana?' jawab Jimin dalam hati. Jangan tanya Jimin tahu bahasa itu darimana.

"Jimin?"

"..." masih belum direspon.

"Sayang?"

Baiklah, Jimin menyerah. Pada dasarnya memang Jimin tidak bisa marah berlama-lama. Ia menggeser posisi duduknya menjadi lebih dekat dengan Yoongi. Kedua tangan kecilnya digenggam oleh tangan Yoongi.

"Ada apa sayang?"

"Kau itu, aku tahu kau sudah punya penghasilan sendiri. Tapi jangan habiskan uangmu untuk hal-hal remeh seperti itu. Kalau hanya membelikanku satu bundel komik saja mungkin aku tidak akan semarah ini. Yang kau beli itu banyak, Yoongi."

"Itukah yang membuatmu mendiamkanku?"

"Kau sendiri juga punya keperluan pribadi kan? Aku tidak mau merepotkanmu hanya untuk mengurusiku dan kebutuhan tak pentingku."

"Kau tidak perlu berpikir sejauh itu, sayang. Kalau untuk keperluan pribadiku, aku sudah mengaturnya sendiri. Kau tidak perlu khawatir."

"Pokoknya aku akan ganti uangnya."

"Tidak."

"Min Yoongi–"

"Park Jimin, dengarkan aku. Aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Kalau apa yang kulakukan tadi membuatmu merasa begitu, aku minta maaf. Tapi aku benar-benar tidak merasa direpotkan."

"Aku ganti uangnya, kalau tidak aku akan marah!"

Jimin itu keras kepala. Kalau sudah begini Yoongi tidak punya pilihan selain menuruti Jimin. Turuti saja dulu, nanti kalau sudah lebih tenang baru dibicarakan lagi, pikir Yoongi.

"Kau haus? Mau kuambilkan minuman?" tawaran Yoongi dijawab dengan anggukan oleh Jimin.

Yoongi mengambil dua kaleng soda yang masih tersisa dari dalam kulkas. Satu langsung ia buka dan teguk habis. Satunya lagi ia berikan untuk Jimin.

"Punyamu mana?" tanya Jimin saat melihat Yoongi hanya membawa sekaleng soda.

"Sudah kuminum habis. Duduk di sini." Kata Yoongi sambil menepuk pahanya, mengisyaratkan Jimin untuk duduk di pangkuannya.

"Kenapa kau suka sekali memangkuku? Aku kan berat." Keluh Jimin lalu meminum sodanya, tapi tetap saja ia duduk di pangkuan Yoongi.

"Justru aku suka kalau duduk di pangkuanku. Kau kelihatan manis."

"Seharusnya aku senang dipuji manis olehmu, tapi kalau kau yang bilang begitu kenapa terdengar salah ya?"

Yoongi menyeringai, wajahnya ia dekatkan pada wajah Jimin "Salah? Apanya yang salah?"

"Y-ya, pokoknya salah! Jangan dekat-dekat!"

Bukannya menjauh, justru Yoongi malah semakin mendekat. Kali ini tangannya mulai bergerak nakal di atas paha Jimin.

"Apanya yang salah Jiminie?" bisik Yoongi tepat di telinga Jimin. Sialan, suara berat yang biasanya terdengar malas itu benar-benar terdengar seksi di telinga Jimin sekarang.

"Tolong jangan tiup telingaku, geli. Nanti minumannya tumpah." Jimin berusaha tidak terpancing oleh perlakuan Yoongi.

"Aku tidak akan berhenti sampai kau mengatakan apa yang salah sayang."

"Rasanya salah karena setiap kau memujiku manis pasti selalu berakhir di atas tempat tidur! Puas kau?"

Yoongi tersenyum nakal. Kalimat itulah yang ia tunggu keluar dari mulut Jimin. Jimin memang manis, tetapi melihat Jiminnya yang manis mengucapkan kata-kata kotor membuat Jimin terlihat berkali-kali lipat jauh lebih manis.

"Jiminie nakal. Kalau begitu aku akan menghukummu di tempat tidur supaya kau menjadi anak manis."

"A-apa?! Hei tunggu dulu! Y-yah! Turunkan aku! MIN YOONGIIIII!"

Tampaknya Min Yoongi akan menghabiskan cuti hari keduanya berdua saja dengan Jimin di dalam kamar mereka.

.

.

.

.

.

END


a/n:

* Bajak Laut Topi Jerami = One Piece.

Kalau di chapter sebelumnya udah ada hint tentang hubungannya Hoseok dan Taehyung, di chapter ini saya kasih hint untuk kemunculan Seokjin dan Jungkook. Terus lagu yang didengerin Yoongi sama Jimin di mobil itu lagunya Juniel – Pretty Boy. Lirik lagunya cocok banget buat Jimin haha.

Anyway, makasih banget untuk yang udah nyempetin baca Day Off dan kasih review di chapter sebelumnya. Glad that most of you like it ^^ Day Off selesai di chapter ini (dengan tidak jelasnya). Rencananya sih pengen ngelanjutin ceritanya Hoseok, Taehyung, Seokjin, dan Jungkook di side storynya Day Off (masih rencana, jangan ditagih :p). Namjoon? Sudah pasti bakal ditulis juga (walaupun namanya belum disebut di cerita), tapi kayaknya udah bisa ketebak ya bakal dipairing sama siapa haha.

This chapter specially written for meganehood yang udah nanyain kelanjutannya hahaha. Thank you for your patience and sorry this isnt any better than the previous chapter T_T btw ayo kita nistain abang lagi :p

Thank you for reading. Lastly, review please?