Disclaimer
Aldnoah Zero Written By: Gen Urobuchi, Katsuhiko Takayama
Studio: A-1 Pictures + TROYCA
Warning: Contain BL, Medieval era (maybe), typo, OOC, Don't Like, Don't Read! ;)
Summary: [Omegaverse] Slaine tersenyum; mungkin terkadang, soulmate, pasangan hidup dan orang yang dicintai tidak selalu sama. (Ω)Slaine. (α)Inaho. (α)Klancain. (β)Harklight.
Notes: Alpha, beta dan Omega adalah secondary gender (gender kedua selain male dan female)
Alpha (20%): pihak dominan yang paling kuat dengan kedudukan yang paling tinggi. Kebanyakan dari mereka selalu dapat memiliki profesi high class karena berbakat.
Beta (70%): pihak yang berada dibawah alpha, namun lebih kuat dibanding omega. Sub/wakil dari alpha, namun bisa pula menggantikan kedudukan omega. Beta tidak terpengaruh oleh feromon omega. (kategori jenis manusia biasa pada umumnya)
Omega (10%): memiliki kedudukan yang paling rendah, baik itu female omega ataupun male omega. Mereka terkadang dianggap langka sehingga banyak dicari dan berharga karena memiliki persentasi yang besar untuk melahirkan alpha dibanding beta. Male omega dapat dibuahi.
In heat: masa subur/saat hasrat biologis menjadi-jadi hingga sampai berada diluar control.
Feromon: bau khas dari omega yang dihasilkan oleh masing-masing individu, biasanya akan lebih kuat baunya jika mendekati masa heat.
Bonding: ikatan antara alpha dan omega.
XoXo-XoXo-XoXo
Seal One's Fate © Kiriya Alstroemeir
XoXo-XoXo-XoXo
2.
Setelah seminggu lebih, akhirnya sosok itu membukakan pintunya pada Harklight yang berdiri di depan pintu kamarnya. Itu artinya heat-nya sudah berakhir, meskipun heat tidak berpengaruh banyak pada beta. Tapi tentu saja, siapa yang mau menampakkan sisi menyedihkannya kepada orang yang disukai. Jika ini adalah tentang cinta, kau akan selalu berusaha menunjukkan sisi terbaik—terindah kepadanya. Seakan berkata; betapa indahnya aku yang mencintaimu.
"Saat itu buruk sekali," Slaine menghela napas, "Hampir bersikap barbar pada orang yang bahkan tidak ku kenal."
Harklight merapikan kerah kemeja sang tuan muda, "Patut disyukuri, tampaknya dia bukan alpha dari kalangan rendahan. Jika tidak, saya tidak tahu, apa yang akan terjadi pada anda. Terlebih lagi, bagaimana bisa anda meninggalkan pesta tanpa memberitahu siapapun. Klancain-sama sangat khawatir pada anda."
"Aku hanya mencari angin segar—aku bosan berada disana."
"Setidaknya anda bisa memberi tahu saya, saya bisa menemani anda."
"Ya, maafkan aku," Slaine memeluk pemuda itu, menyandarkan kepalanya secara perlahan pada bahunya yang tegap dan mendapati aroma sandalwood darinya. "Aku senang kau datang tepat waktu."
Harklight tidak balas memeluknya.
Meskipun Harklight ingin.
XoXo-XoXo-XoXo
Tempat yang sering Inaho kunjungi di pusat kota Vers ini adalah perpustakaannya. Buku-buku disana banyak dan menarik, meskipun teks beserta kalimat yang dipakai cukup sulit untuk dipahami.
Pemandangan di sudut luar benteng wilayah Vers bukan sesuatu yang bisa dinikmati, kecuali kalau dia ingin menghirup debu atau menatap pasir dari tanah tandus disana saat terik matahari masih terasa. Hanya sebagian wilayah yang ditumbuhi tanaman hijau, yaitu di dalam benteng. Wilayah itupun merupakan buatan tangan. Sangat berbeda dengan tempat asal Inaho, Earth. Dimana kebanyakan hal yang terlihat adalah pepohonan dan pemandangan yang asri. Dari rumput liar —hingga bunga yang dihinggapi kupu-kupu, laut biru dan pegunungan yang menghijau.
Setidaknya, perpustakaan selalu sama dimanapun. Dipenuhi buku dan sumber ilmu pengetahuan.
Aroma ini, sebenarnya Inaho mengenalinya, meskipun hanya tercium samar. Netra mereka bertemu pandang, dan Slaine tampak berusaha mengenali Inaho. Sementara Inaho langsung mengingatnya begitu saja.
"Kau… kita pernah bertemu kan?"
Slaine menghampirinya dengan pandangan menilik, berusaha mengingat pemuda yang memakai kemeja putih berdasi hitam dengan cardigan hitam tanpa lengan di depannya. Aroma citrus menyegarkan yang tercium terasa familiar, namun ingatannya terasa samar.
"Ya. Kalau kau ingat, aku adalah Inaho Kaizuka."
"O—oh, ya. Aku ingat sekarang," Slaine berdehem pelan, dengan rona malu. "Maaf atas sikapku waktu itu. Sangat memalukan."
"Bukan masalah—bukan berarti aku sering bertemu omega atau apa. Tapi kakakku juga omega, jadi aku mengerti tentang hal itu."
Meskipun tentu saja, jika alpha dan omega sedarah tidak terpengaruh dalam godaan feromon.
"Oh, oke? Boleh aku duduk di sini?"
Inaho mengangguk pelan, buku yang baru dibacanya sekitar seratus tujuh puluh halaman mulai terabaikan karena eksistensi Slaine di kursi yang berseberangan dengannya.
"Namaku Slaine Saazbaum Troyard," Slaine memperkenalkan diri sebagai bagian dari sopan santun. "Aku belum pernah melihatmu sebelumnya, Inaho-san. Kau turis atau pendatang?"
"Pendatang. Aku dan kakakku bekerja disini mulai dua hari yang lalu. Bagian Kedutaan besar."
Slaine mengangguk sebagai tanda mengerti, "Jadi Vers sedang menjalin hubungan diplomatik dengan…?"
"Earth."
"Wilayah yang terkenal dengan laut dan pegunungannya itu?"
Pemuda alpha itu mengangguk, "Ya."
"Keren. Aku ingin tahu tempat itu lebih banyak. Kau tahu sendiri, di Vers tidak ada laut. Diluar sana hanya ada gurun sejauh mata memandang. Hutan juga hanya ada di wilayah timur, dan itupun tidak banyak."
Inaho tentunya belum sepenuhnya mengetahui tentang Vers. Dia belum ada waktu untuk hal itu, karena tujuan utamanya adalah bekerja, bukannya wisata. Meskipun dia sudah mengingat banyak tempat dan poin penting dari tempat ini.
Yang paling terkenal tentang Vers adalah benteng kokohnya yang melindungi seluruh wilayah Vers dalam bentuk lingkaran dengan empat pintu gerbang ditiap sisinya, East, West, South dan North. Gerbang yang dapat dilalui transportasi dan kereta api hanyalah gerbang North. Sedangkan gerbang yang terdekat dari sini adalah gerbang West, barat—dimana begitu keluar gerbang hanya ada gurun pasir sepanjang bermil-mil jauhnya. Inaho melewati gerbang North saat datang kesini dengan kereta api, dan sungguh, pemandangan diluar cukup membosankan karena hanya ada pasir gurun sepanjang perjalanan mereka dari wilayah perbatasan Earth menuju Vers.
Inaho kemudian meraih sakunya, menyerahkan sesuatu di atas meja untuk Slaine.
"Milikmu, aku kembalikan."
Sapu tangan putih dengan sulaman nama berwarna keemasan tertangkap netra Slaine.
"Oh ya, benar. Aku menyerahkannya padamu waktu itu." Slaine berusaha melancarkan suaranya dengan berdehem. Itu adalah sebagian hal yang sebenarnya tidak ingin dia ingat, "Tidak ada masalah dengan tanganmu?"
"Sudah sembuh." Inaho mengangkat tangannya untuk diperlihatkan. Bekas luka gigitannya sendiri nyaris menghilang meskipun ada sedikit guratan disana.
"Uhh—tapi itu jelas tampak seperti luka yang menyakitkan. Bagaimana kalau secangkir teh dan panekuk—sebagai permintaan maaf?"
"Boleh kopi?"
"Tentu."
Suasana café yang dimasuki begitu lengang, lonceng di pintu yang berbunyi ketika dibuka membuahkan senyuman ramah dari pelayan. Dua kursi kosong di pojok, dengan meja bernomor tujuh menjadi tujuan. Tampak strategis karena berada dekat dengan kaca juga piano klasik tua.
Bunga mawar biru yang ada pada vas meja nomor tujuh juga menjadi daya tarik utama bagi Slaine. Setelah duduk, menu diserahkan. Pelayan memberi waktu untuk memilih pesanan sebelum berlalu menyambut pelanggan lain yang baru masuk.
"Kau dan dia memiliki aroma yang sama."
"Huh? Maksudmu?"
"Aroma omega-mu sama dengan bunga mawar itu, makanya saat di taman, aku terlambat menyadarinya."
"O—oh." Slaine merasa sungkan untuk mengingat waktu itu kembali, "Aku memang menyukai mawar biru. Kalau kutebak, kau menyukai jeruk, kan?"
"Jeruk?"
"Ya, karena aku mendapati aroma citrus darimu. Jarang ada yang memakai wewangian dari aroma buah, biasanya bunga atau kayu lebih banyak disini. Dibandingkan dibuat parfum, tentu penduduk disini lebih memilih untuk menikmati buahnya langsung."
Inaho mengerti, Vers memang terlihat cukup tandus pada wilayah luarnya. Namun jika itu adalah tentang teknologi, tampaknya mereka berada pada tingkat yang lebih tinggi di banding Earth. Selebihnya, para penghuni langit terlihat lebih jelas di sini.
"Meskipun ya, karakteristikmu tampak tidak cocok dengan citrus. Kau tampak introvert."
"Kakakku yang menyukainya. Jadi aroma kami tak jauh berbeda."
Teh chamomile dan pancake. Americano dan panekuk berada di meja bersama mawar biru. Menu tidak sepenuhnya terabaikan, hanya saja obrolan tampaknya lebih menyenangkan dibanding menikmati santap siang. Pembicaraan remeh bercampur teori Albert Einstein itu di dominasi oleh Slaine dengan koreksi dari Inaho.
Astronomi menjadi terdengar menyenangkan, dan sejarah tidak lagi membosankan ketika membahas hal itu dengan Inaho.
Mereka bisa jadi teman yang baik.
Alpha dan omega yang berteman baik?
Yaa—mungkin Slaine dan Inaho bisa, menjadi teman baik.
XoXo-XoXo-XoXo
Jaket yang dipakai Slaine cukup tebal, meskipun begitu, dingin di Vers tetap terasa menembus tulang. Bahkan langit malam tanpa salju sekepingpun. Tidak pernah ada salju disini. Slaine tidak yakin dia bisa menghadapi dingin lebih daripada ini. Jika dia terdampar di wilayah yang dipenuhi es, Slaine yakin dia akan mati dalam hitungan jam karena hipotermia.
"Slaine-san."
"Ya?" manik teal itu beralih dari kebun botani yang didominasi mawar pada sosok yang berjalan disampingnya. Klancain tampak menatapnya dengan serius kali ini.
"Kau harus mengatakannya, kalau kau merasa kedinginan." Syal merah yang dipakai Klancain pada awalnya beralih tempat, mengalihkan kehangatannya pada leher Slaine. "Lihat, bahkan wajahmu terasa dingin, dan hidungmu memerah."
Pipinya disentuh oleh tangan Klancain. Perbedaan suhu itu membuat Slaine mendapat kehangatan darinya.
"Tapi aku menikmati keduanya, Klancain-san. Pemandangannya, dan dinginnya juga," Senyum tipis tertera di wajah Slaine.
"Karena kau bilang menyukai bunga mawar biru, jadi aku mencari tempat yang memiliki taman seperti ini."
"Terima kasih."
"Bukan hal yang sulit, kau tahu sendiri kalau Botanical Garden di wilayah kita tidak banyak. "
"Iya, benar. Setidaknya Klancain-san sudah berusaha membuatku merasa nyaman."
Klancain menggaruk pipinya pelan dengan telunjuknya, "Aku senang kau merasa begitu. Bahkan kalau nanti kita menik—maksudku… bisa melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih tinggi. Kau bisa memiliki taman mawarmu… sendiri. Aku akan berusaha keras tentang hal itu."
Slaine tertegun begitu mendengar ucapan Klancain. Ya tentu saja, jenjang yang lebih tinggi. Perkenalan, bertunangan, menikah. Itu adalah tahap yang akan mereka lalui. Semuanya sudah diatur sedemikian rupa.
Hanya saja, jika ini adalah tentang perasaan, siapa yang bisa mengaturnya?
Slaine meraih tangan pemuda disampingnya, membagi kehangatan milik Klancain pada tangannya yang terasa membeku.
"Taman mawar… kupikir aku akan menyukainya."
Sambil menyamakan langkah, mereka pulang bergandengan tangan malam itu melewati alun-alun kota yang mulai sepi.
Musim dingin telah sampai pada musim semi.
XoXo-XoXo-XoXo
"Jika aku menikah dengan Klancain-san, apa kau akan tetap bersamaku, Harklight?"
Pemuda itu menuangkan teh pada cangkir keramik kosong di depan Slaine, geraknya yang tampak terdiam sesaat tertangkap oleh netra Slaine.
Slaine bertopang dagu, "Jawablah."
"Jika Slaine-sama meminta, jika Saazbaum-sama mengizinkan, tentunya itu juga akan jadi keinginan saya."
"Sejujurnya aku tidak tahu, apa harus senang atau sedih karena perkataanmu itu," tangannya meraih tangkai cangkirnya yang berwarna keemasan.
"Ahh… mungkin aku harus senang. Hanya kau yang membuat teh seenak ini selain ibu. Teh buatanmu yang paling aku sukai."
Harklight tersenyum tipis, ada saat dimana dia berpikir, dapat bersamanya saja sudah cukup. Meskipun senyum, tawa dan bahagianya karena orang lain. Meskipun dia hanya bisa mencintai tanpa memiliki. Dia akan berbahagia untuk Slaine.
Karena semenyedihkan apapun ceritanya, cinta selalu saja terasa indah. Meskipun mencintai adalah hal yang menyakitkan dan melelahkan.
XoXo-XoXo-XoXo
"Ini kebetulan sekali, kan, Inaho-san? Kita bertemu lagi. Apa yang sedang kau lakukan di kantor pemerintahan?"
"Kebetulan tidak terjadi sampai tiga kali, Slaine."
"Kau bermaksud menyebut ini sebagai takdir?" Slaine tersenyum lebar.
"Mungkin saja," Inaho menyahutnya dengan datar. Slaine sudah terbiasa dengan ekspresinya hingga tidak mempermasalahkannya. Tentu saja terkadang Slaine kesal dengan wajah itu dengan pemikiran, apa tidak ada ekspresi lain yang dimiliki pemuda ini? Dia akan terlihat lebih tampan seandainya lebih ekspresif. Senyum tipis misalnya. Membuat lengkungan di bibir bukan hal yang sulit.
"Aku baru saja mengurus beberapa dokumen, disini. Kau sendiri?"
"Hehe, aku juga. Aku tidak sesantai kelihatannya kok. Ngomong-ngomong, tugasmu sudah selesai, Inaho-san?"
"Ya."
"Mau minum teh bersama? Di café kemarin?"
"Bagaimana kalau kopi?"
"Ok, kali ini kau yang traktir?"
Masih dengan tempat yang sama dengan nuansa yang sama pula, cozy dan homy. Meja tujuh masih dihiasi vas bunga berisi mawar biru. Meja itu sekali lagi menjadi tempt obrolan mereka. Meskipun meja delapan masih kosong dan menampilkan mawar merah yang merekah.
"Karena selama ini hanya bisa pergi di wilayah Vers saja, mendegar cerita tentang Earth terdengar menakjubkan. Disini tidak ada laut, tanaman langka, dan penuh hal yang membosankan lainnya."
"Langit disini lebih indah, asal kau tahu."
"Benarkah?"
"Ya, kau bisa melihat bulan dan bintang dengan lebih jelas disini."
"Oh. Aku tidak memperhatikan langit dengan begitu serius, kupikir. Aku punya banyak hal lain yang harus kukerjakan. Belajar piano, memanah, dialektika, aritmatika—begitulah."
"Itu perbedaan mendasar antara bangsawan dan rakyat biasa sepertiku."
"Memangnya kau pikir aku meminta, terlahir sebagai bangsawan dan omega?"
Slaine menumpu pipinya dengan tangan. Cangkir tehnya sudah kosong, dan kopi Cappucinno milik Inaho sudah kehilangan dinginnya es.
"Terlebih lagi tentang beban, tanggung jawab dan perjodohan. Kebebasan bukan sesuatu yang akan dapat aku miliki meskipun aku begitu menginginkannya. Kadang aku berharap dilahirkan dikalangan menengah saja—"
Mempermasalahkan kasta dan status sosial selalu berakhir dengan curhatan hati dan keluhan. Pada setiap sisi, bangsawan dan rakyat biasa tampak saling iri satu sama lain. Mereka tidak bersyukur tentang apa yang mereka miliki. Hanya sebagian yang melakukannya.
Inaho masih mendengarkan curhatan omega itu hingga dia selesai menuangkan isi hatinya. Tentu saja, yang dia lakukan hanya mendengarkan saja sambil menikmati kopinya.
"Kau masih punya banyak waktu, tuan muda?"
"Huh? Ada sih—kenapa?"
"Langit malam inipun masih tetap indah."
Pemuda bersurai hitam kecoklatan itu melambaikan tangan pada pelayan, membayar dengan cepat sebelum matanya memberikan isyarat agar Slaine mengikutinya, meskipun si pirang platina belum mengiyakan. Slaine mengerti yang dimaksud Inaho meskipun pemuda itu tidak banyak bicara padanya.
Dia mengetahui, pemuda yang berjalan di depannya itu lebih muda darinya. Mereka sudah berbagi banyak hal yang diceritakan dalam rentang waktu yang singkat ini, dalam sekian kali pertemuan yang kebetulan bagi Slaine—atau mungkin ditakdirkan? Karena Inaho berkata kebetulan tidak terjadi sampai tiga kali.
Vers adalah tempat yang cukup kering jika boleh disebut. Hanya ada sedikit sungai yang masih memiliki air, ada beberapa danau dengan keadaan yang semakin mengering tiap tahunnya, tidak ada laut, selebihnya adalah wilayah gurun pasir. Hujan juga jarang turun disini, sehingga untuk menumbuhkan tanaman, lebih memakai penggunaan rumah kaca. Meskipun sekarang, siang tidak terlalu panas karena pemerintah Vers terus berupaya untuk membuat wilayahnya menjadi lebih baik dan nyaman. Namun tetap saja, malam di Vers selalu dingin.
Malam ini pun sama seperti malam sebelumnya. Dingin.
Tapi langkah cepat Inaho yang diikutinya membuat rasa dingin kalah. Diiringi dengan rasa ingin tahunya tentang apa yang ingin pemilik surai brunet itu tunjukkan.
Mereka sampai di ujung perbatasan kota setelah melewati alun-alun dan benteng gerbang barat. Memberikan laporan kepada posko penjaga untuk keluar sebentar. Begitu mencapai luar gerbang, sejauh mata memandang ke depan hanya ada gurun pasir, Slaine sendiri sudah bosan memandang gurun. Mau bagaimana lagi, dia sudah hidup di kota ini selama sembilan belas tahun, dan mungkin saja selamanya, hingga hembusan napasnya yang terakhir.
Inaho masih berada di depannya, menunjukkan punggung yang tertutup long coat berwarna kecoklatan yang tebal. Sekian detik kemudian berbalik dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Netra delimanya bertemu pandang dengan Slaine, tangannya di rentangkan.
"Lihatlah, ke atas."
Dia melihat langit dan mendapati ribuan gemerlap bintang di atas kepalanya. Di tempat yang tandus dimana sejauh mata memandang hanya ada gurun, Slaine menemukan keindahan. Pada langit yang dihiasi taburan bintang-bintang.
Mereka—bintang-bintang itu— selalu ada setiap malam, sebanyak itu.
Slaine tidak pernah memikirkan hal itu selama ini.
Pada akhirnya mereka duduk pada pasir, karena hanya itulah yang terhampar pada luar gerbang perbatasan kota. Wilayah yang dikepung pasir.
"Mereka selalu ada di atas sana."
Slaine mengangguk. Menatap langit tidak pernah semengagumkan ini sebelumnya. Ya—tentu saja dia pernah melihat bintang, namun tidak seperti ini. Tidak pernah menyaksikan langit berbintang seluas dan selapang ini.
"Meskipun cahayanya adalah masa lalu."
"Hm? Maksudnya?"
"Cahaya bintang berasal dari masa lalu. Karena informasi tidak bisa melewati kecepatan cahaya."
"Artinya?"
"Artinya, cahaya adalah sesuatu yang paling cepat di alam semesta, meskipun begitu perlu empat setengah tahun bagi cahaya bintang itu untuk sampai pada pengamat—kita manusia. Saat melihat cahaya bintang seperti sekarang, yang kita lihat itu sebenarnya adalah penampakan cahaya bintang empat setengah tahunyang lalu."
Slaine menepuk tangannya, "O—oh, astronomi terdengar begitu menakjubkan. Sepertinya aku perlu mencoba membaca buku tentang perbintangan lagi."
"Meskipun aku sudah menjelaskannya dengan lebih mudah?"
"Aku mengerti kok. Semua yang kita lihat di langit adalah masa lalu, begitu kan. Karena jarak mereka sangat—sangat jauh untuk sampai kemari. Seperti cahaya dari bintang."
"Semacam itu."
"Memangnya jarak bintang paling dekat ke sini berapa?"
"Proxima Centauri. 4,4 tahun cahaya. 1 tahun cahaya sekitar 10 triliun km."
Oke. Pusing.
"Heehh—aku sering melihat langit malam. Tapi kupikir, yang seindah ini belum pernah. Bahkan masa lalu juga bisa indah ya. Biasanya selalu menyedihkan."
"Itu tergantung bagaimana kau menanggapinya."
Slaine menarik napas dalam-dalam, matanya masih menatap konstelasi menuju horison yang tidak sepenuhnya dia tahu. Hanya bisa mengenali rasi bintang pari dan rasi bintang biduk. Selebihnya hanya bintang bertaburan yang tidak diketahuinya. Tentunya Inaho hapal mana saja Cassiopiea maupun centaurus. Tidak perlu dipertanyakan.
"Wah, lihat, lihat! Itu bintang jatuh!" Slaine refleks menepuk-nepuk bahu Inaho keras seraya mengarahkan telunjuknya. Hilangnya begitu cepat. Tapi iris Inaho sempat melihatnya.
"Mitosnya, jika kau mengucapkan permohonan pada bintang jatuh, maka harapanmu akan terkabul. Apa kau percaya itu Inaho-san?!"
"Itu bukan sesuatu yang ilmiah. Jika sugestimu kuat, mungkin saja sesuatu yang baik akan terjadi. Coba saja."
"Memohon pada bintang jatuh?"
"Jika ada lagi setelah ini."
Slaine tidak mempercayai mitos sebenarnya. Namun jika mencoba tidak merugikan. Kenapa tidak? Namun dia tidak menemukannya lagi setelahnya, dan bosan menunggu.
"Hei, Inaho-san, coba buka tangan kananmu."
"Kenapa?" meskipun Inaho belum mendapati jawabannya, dia membukakan telapak tangan kanannya untuk Slaine.
Slaine meletakkan beberapa tangkai tanaman ditangan pemuda itu, "Thyme. Tadi aku menemukannya tumbuh disana. Wangi sekali kan? Ini tanaman perennial lho, abadi seperti Edelweiss."
Inaho pernah membaca tentang Thyme, tanaman herba rempah berdaun oval kecil yang memang biasanya tumbuh di gurun pasir. Tapi ini pertama kalinya dia melihatnya langsung, juga mencium bau khasnya yang wangi.
"Thanks," Inaho memasukkannya ke saku jaketnya.
Kemudian setelah beberapa saat berlalu, Slaine mendapati pemuda kalem itu tampak berjongkok membelakangi tidak jauh darinya. Membuatnya heran, apa yang diperhatikan Inaho.
"Ini," Inaho menoleh seraya menjulurkan tangannya pada Slaine. Ada beberapa tangkai tanaman liar bernama Mugwort di tangan Inaho. Pemuda itu kemudian berucap kalem, "Berkhasiat untuk melancarkan siklus menstruasi."
Slaine menatapnya datar.
XoXo-XoXo-XoXo
"Aku akan mengantarmu pulang."
"Tidak perlu."
Inaho tidak mengatakannya, namun Itu hanya alasan agar memiliki waktu tambahan bersamanya.
Karena…?
Karena ini cukup menyenangkan baginya.
"Tapi kau omega bangsawan. Lagipula sejauh yang kutahu, bersikap sopan santun adalah hal yang dijunjung tinggi di Vers."
"Sopan santun adalah hal yang cukup merepotkan bagi kaum bangsawan, Inaho-san. Aku akan lebih senang jika kau berkata mau mengantarku sebagai alasan agar kita lebih lama bersama…"
Dia kemudian berjalan beberapa langkah di depan Inaho, lalu menoleh sambil tersenyum kecil, "…bercanda kok."
Malam ini masih sedingin biasanya. Slaine masih merasakan hal itu sehingga sesekali dia menggosok tangannya menuju jalan arah pulang.
Seandainya saja, dia tidak akan menjadi milik orang lain beberapa pekan mendatang. Inaho tentu akan menawarkan tangannya untuk digenggam sepanjang jalan.
Dia mengetahui hal itu. Slaine Saazbaum Troyard, anak pertama bangsawan Count Saazbaum yang akan bertunangan dengan Count Klancain. Siapa yang tidak tahu berita itu.
Lagipula tangan miliknya tidak cukup hangat untuk dibagi.
Slaine berhenti sejenak, menunggu untuk menyamakan langkah dengan sang pendatang, "Apa kau sudah terbiasa disini? Siangnya panas dan malamnya selalu sedingin ini."
"Lumayan. Lebih ekstrim dibanding Earth memang."
"Uwah. Tanganmu dingin sekali!" Slaine berseru setelah menyentuhnya sekian detik. "Lebih dingin dariku. Inaho-san, jangan-jangan kau adalah vampire?"
"Kalau aku vampire. Maka kau adalah mangsa pertamaku."
Slaine berdecak, "Tapi kau tahu, orang yang memiliki tangan yang dingin, biasanya memiliki hati yang hangat. Sepertinya itu benar."
"Entahlah."
"Meskipun baru saling mengenal beberapa waktu, aku tahu itu. Hehe."
Oh, itu cengiran yang manis.
Hingga mencapai gerbang kediaman Saazbaum, tiap langkah mereka dan tangan itu berjarak satu sama lain.
Tidak jauh, namun tidak pantas untuk dijangkau.
Di tangan itu, pada jari manis, tidak lama lagi akan terpasang cincin disana. Membuktikan dia akan menjadi milik orang lain seiring waktu berlalu.
Inaho tahu hal itu dengan baik.
XoXo-XoXo-XoXo
Seal One's Fate II
[TBC]
XoXo-XoXo-XoXo
a/n:
1] Currently obsessed with Tsukiuta Stageplay. /penting/
2] Nama Klancain ternyata tidak tersedia di pilihan AZ Character ffn. Padahal dia penting dan ganteng. uwu
3] Tentang bintang, penjelasan omegaverse, cmiiw ya.
BlackCrows1001: kashikomarimashita destiny, rame tuh. Kalo yang sweet fluff Tadaima okaeri. Yha tinggal klik tag omegaverse di mrm atau mangago, pasti dapat :D
Amoebachan: Okeeehh, sipsip ;)
Wako P: karena ternyata penghuni fandom AZ banyak yang maso—mungkin aku juga punya bibit menjadi maso, jadi biar lebih nyess, bikin ff yang begini /nggakgitu/
Oke, penjelasan tentang omegaversenya sudah disediakan ya :) info lebih lengkap, ada di gugel ;)
Shin Hikki: mungkin ini memang harem slaine! karena semua castnya laki/?
Naekin rating sama susahnya kayak nurunin berat badan. /yha/ thanks jempolnyaa~
Capungterbang: itu nama jodohnya kaum elit semua lho. Yesh, Nao bukan bangsawan, bukan orang vers, dan mungkin bukan jodoh slaine /yha/ Jadi gelap yang dimaksud adalah tidak terlihat juntrungan maupun ujungnya kayak gimana—
Aiko S: Slaine kan emang bangsawan vers ya, cuman nasibnya ngenes. Tapi di pixiv Klancain x Slaine lumayan loh, walau kalah saing dengan Chruhteo x Slaine. Dedek Slaine ama Inaho? Hm… :')
Terima kasih kepada yang sudah menyempatkan membaca, mereview dan follfav :)
Kalteng—27/03/2017
-Kirea-
Mind to RnR? :)
