A/N:Awalnya update Fic ini setelah UTS. Tapi apa daya rasa untuk ngepost ni Fic semakin besar. Bahkan sampai masuk dalam dunia mimpi.. he he he

Dan untuk yang nunggu Fic, yang lain harap bersabar.. karna akan di update setelah saya selesai UTS..


Balasan Review :

: Maaf kalau pendek.

Kurama No Kyuubi141 : Maaf kalau membingungkan.

Mussashi : Pairnya ikutin jalan ceerita aja.

Kurama nii-sama : Naruto pasti punya teman.

Luka : setting Fic ini tahun 2036. Masa depan. Dimana ada perang dunia ke3.


Disclaimer: Saya tidak akan pernah mengakui kepemilikan Naruto

Rate: T

Pair: Belum ada.

Genre: Fantasi, Adventure dan untuk Genre lain bakalan nyusul.

Warning: Typo, ooc, oc, bahasa yang aneh, abal-abal, banyak kekurangan di sana-sini, alur yang terlampau cepat, sistim SKS (Sistim kebut semalam). Dan untuk Naruto disini sangat OOC.


Orang-orang disekitar sungai geger. Sesosok mayat manusia ditemukan mengambang di sungai. Mayat itu segera mereka galah ke pinggir. Banyak orang beteriak. Mayat itu tidak punya kepala lagi. Juga tidak punya dua tangan dan kakinya. Hanya tingga tubuh bagian atas saja. Persis seni Torso, dalam dunia seni pahat. Baunya busuk, dan jika dilihat dia hampir mengurai.

Para Polisi segera memenuhi tempat itu. Memberi batasan jarak, para dokter kemudian datang, dan segera membawa mayat tak lengkap itu. Berbagai spekulasipun terjadi. Ada yang mengatakan dia korban mutilasi dari seorang psikopat gila. Ada yang mengatakan dia anggota mafia yang berhianat. Tapi, dari sekian spekulasi yang ada, hanya kematian yang disebabkan oleh seorang Hollowlah yang paling banyak dibicarakan.

Begitu asiknya semua orang dengan spekulasinya masing-masing, ketika Naruto lewat. Awalnya dia hanya inggin lewat saja, tidak berniat untuk ikut campur. Tapi, rasa penasarannya muncul, ketika ada salah seorang warga yang mengatakan pembunuhan ini adalah perbuatan seorang Hollow.

Hollow? Jangan-jangan? Tidak mungkin.

Menautkan alisnya, binggung. Naruto berjalan mendekati seorang warga, yang sepertinya sedang asik bicara dengan teman disampingnya. Berjalan, pikirannya dipenuhi oleh berbagai pertanyaan.

"Bisakah anda menjamin bahwa memang Hollow yang membunuhnya?" sengat Naruto tajam.

Kedua waraga itu terkejut dengan kedatangan seorang pemuda (gembel), yang tiba-tiba menanyai mereka. "Memang, dari anehnya cara pelaku, melakukan pembunuhan. Bisa dipastikan ini hasil perbuatan mahluk itu" kata salah satu dari mereka, dan lansung mendapatkan anggukan oleh orang disampingnya.

"Bagus! Bisakah anda memberikan bukti yang vaild kepada saya" balas Naruto. "Bukti dari hasil pengamatan anda, bukan bukti dari presebsi yang anda dengar dari orang lain"

Terdiam. Kedua warga itu dapat segera menerka, mereka sedang berhadapan dengan orang yang kebetulan sekali sedang bangkit nafsu berdebatnya. Dan dari kesimpulan sesaat, mata mereka dapat menangkap. Bahwa pemuda ini bukan dari kelas gembel biasa. Dibalik sosoknya yang compang camping dan tak terawat. Tersembunyi apa yang namanya kecerdasan, keramahan, dan sedikit keangkuhan. Dan dengan menggelengkan kepala mereka secara berjamaah. Mereka mengikuti naluri mereka.

Tidak akan pernah berdebat dengan pemuda ini.

Kedua warga ini bersiap-siap akan pergi, meninggalkan sang pemuda. Tapi, langkah mereka kalah cepat, karena pemuda itu telah meninggalkan mereka. Dan menghilang diantara kerumunan manusia yang lewat.

.

.

.

.

.

Awan hitam menggantung di langit. Seakan menyiratkan kepada alam bahwa hujan akan turun. Tapi, entah mengapa hingga saat ini. Hujan belum turun.

Melangkahkan kakinya disekitar pertokoan. Naruto terus melangkah tanpa halangan, matanya bergerak liar melihat deretan toko yang berjajar rapi. Banyak toko yang berderetan disini. Mulai dari toko makanan, toko pakaian, sepatu dan lain-lain. Tapi semua dilewatinya. Hingga pada akhirnya dia berhenti di suatu toko kecil.

Toko bunga.

Memasuki toko tersebut. Hal yang pertama kali di lihatnya adalah, deretan bunga yang berjajar dengan rapi menghiasi setiap sudut ruangan. Bergerak. Dia berjalan kearah kasir, seraya tangannya dimasukan kedalam saku celana, mengambil uang receh yang ada.

Para pengunjung yang kebeulan wanita semua, memandanginya dengan tatapan merendahkan.

"Padahal tampan, tapi sayang gelandangan"

"Percuma saja dia mamiliki wajah yang mendukung"

"Ya"

Mengacuhkan mereka. Naruto terus berjalan mendekati kasir. Menulikan pendengarannya. Seakan dia tidak mendengar apapun. Sementara itu, para pengunjung toko itu, yang kebetulan wanita semua terus memperhatikannya dengan tatapan merendahkan. Oh... nadai kata mereka tau siapa sebenarnya dia.

"Selamat datang" ucap penjaga toko ramah "Mau beli bunga apa?"

Memandang penjaga toko itu sejenak. "Dua tangkai bunga lily putih" ucapnya singkat.

Kasir itu menautkan dua alisnya binggung? Namun dia tetap menyiapkan pesanan pemuda di depannya. Seraya kepalanya dipenuhi berbagai pertanyaan.

"Ini pesanannya" ucap kasir tersebut seraya menyerahkan bunga tersebut.

"Apa segeni cukup?" ucap Naruto, seraya memberikan beberapa uang receh.

"Ya" ucap kasir tersebut, seraya menghitung uang receh yang sudah diterimanya. "Untuk aoa kau membeli bunga ini?"

"Apakau mau menghadiri pemakaman?"

"Ya, tapi bukan menghadiri" ucap Naruto "Lebih tepatnya pergi menziarahi, makam kedua orang tuaku"

.

.

.

.

.

Awan hitam, semakin pekat menggantung di langit. Angin kencang menerbangkan daun-daun gugur yang beterbangan. Berkali-kali terdengar guntur menggelegar. Berusaha menunjukkan eksetensisnya di atas langit.

Disalah satu sudut komplek pemakaman. Terlihat seorang pria yang berusia sekitar 30th. Dengan luka garis melintang diwajahnya. Pria tersebut menatap sedih dua makam didepannya. Dan dua makam itu bertuliskan.

Namikaze Minato.

Namikaze - Uzumaki Kushina.

"Maafkan saya" ucapnya seraya menatap dua makam didepannya. "Sebagai kepala pelayan, dikeluarga anda. Saya sampai saat ini belum bisa menemukan tuan muda"

"Saya. Oh... salah, bahkan kami semua akan berusaha mencari Naruto-sama" tiba-tiba matanya dipenuhi dengan semangat juang. "Sampai ketemu"

"Karna kami sangat setia, kepada Tuan dan Nyonya. Sebagai rasa terimakasih kami" menghela nafas sebentar. "Atas, kebaikan Tuan dan Nyonya. Menyelamatkan hidup kami dari kelamnya perang. Hidup kami"

"Para pelayanmu"

"Maka biarkan kami membayar kebaikan anda. Dengan kesetiaan kami"

Masih berdiri disana. Berdo'a sebentar, sebelum akhirnya meninggalkan dua makam tersebut. Namun tiba-tiba pria itu menghentikan langkahnya. Dan menoleh sekilas kebelakang.

"Oh, ya... " kemudian pria itu kembali tersenyum. "Namikaze crop tadi pagi habis menang tender. Tuan"

Setelah itu. Pria tersebut pergi meninggalkan komplek pemakaman.

.

.

.

.

.

Dua jam. Setelah kepergian pemuda tadi. Dua makam tersebut kembali dikunjungi. Kali ini, bukan orang lain yang mengunjungi dua makam itu. Tapi, orang yang mengunjungi makam kali ini. Adalah orang yang paling diharapkan untuk datang oleh penghuni makam itu sendiri. Dia adalah...

Anak mereka... Namikaze Naruto.

Memandang ke dua makam orang tuanya. Naruto melihat rangkaian bunga di atas pusaran orang tuanya. Sekilas senyuman terkembang diwajahnya. Atas perbuatan tersebut. hanya ada satu orang yang akan melakukan ini. Dia adalah sang kepala keluarga Namikaze. Iruka umino. Orang yang sudah dianggap sebagai pamannya sendiri.

"Tou-san, kaa-san. Apa kabar?"

"..."

"Aku datang lagi, sama seperti tahun sebelumnya" menghela nafas berat sentar. "Banyak hal yang terjadi selama dua tahun terakir"

"Dan seperti tahun-tahun sebelumnya. Naru membawa dua tangkai bunga lily" meletakkan bunga tersebut diatas pusaran kedua orang tuanya.

"Tapi, dari sekian hal yang terjadi selama dua tahun terakir. Tidak ada yang istimewa" kembali diam memikirkan kalimat selanjutnya. "Kecuali, ya... para Hollow yang tergabung dalam organisasi yang bernama Akatsuki. Semakin menunjukkan taringnya"

Tes...

Tes.

Tes...

Tes...

Tes...

Mengadahkan kepalanya keatas. Naruto hujan yang turun dengan lebat.

'Hujan?'

Air matanya mengalir deras, sederas turunnya hujan. Sekilas jika dilihat dia seperti tidak menangis, karena hujan menutupinya. Tapi, akan lain jadinya jika kita memperhatikannya lebih seksama.

"Kalian tau?" memandang kedua makam orang tuanya. "Sejak kepergian kaa-san dan tou-san aku selalu sendiri"

Diam sejenak, kemudian Naruto menutup matanya, mengingat semua kenangan indah bersama kedua orang tuanya. Manja? Dia, memang manja dulunya, dengan berbagai pandangan polos mengenai dunia. Tapi, perang perlahan mengubah semuanya. Awalnya dia yakin akan bertemu kembali dengan kedua orang tuanya, bahkan ketika tubuhnya di otak-atik untuk sebuah eksperimentpun.

Namun ketika dia mendapati kabar kematian kedua orang tuanya. Dia seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Stress. Dan akhirnya membuatnya berteiak-teriak tak jelas.

"Tuhan kenapa Kau ambil mereka dariku?"

Para perwira tentara lainnya. Khawatir dengan kondisinya akhirnya, dia dikirim ke sanatorium rumah sakit jiwa. Tidak membunuhnya, dikarenakan kekuatan yang dia miliki.

"Tuhan kenapa Kau ambil mereka dariku?"

Sesampainya dia di rumah sakit jiwa. Dia, tetap berteriak-teriak hal yang sama. Bahkan ketika para dokter dan pisikiater akan memeriksanya. Dia meludahi semua yang datang. Dan melontarkan mereka semua dengan kekuatannya. Hingga untuk membuatnya tenang, para dokter. Terpaksa menembaknya dengan senapan yang telah diberi obat bius.

Tak lama kemudian, di sanatorium itu dia bertemu kawan. Pria tua itu sama seperti dirinya bekas seorang perwira perang. Namun sepertinya pangkat perwira itu adalah seorang Major. Tidak seperti dirinya yang hanya seorang penembak jitu.

Dan dari perwira gila itu dia mendengar. Cerita-cerita masa lalunya. Pada petermpuran besar pertama yang pecah, ketika Jepang melawan Korea Utara. Pria tua itu lari terbirit-birit, meninggalkan pasukannya yang diambang kekalahan, saking ketakutannya dia sampai kencing dicelana. - dan jiwanya rusak sejak saat itu.

Oleh pers dan pendapat umum, dia dicap sebagai pimpinan gadungan, pengecut, bermulut besar, dan gagah-gagahan ketika musuh tidak menanmpakkan batang hidungnya. Padahal dulu, dia yang mengusulkan, agar para remaja diwajibkan untuk ikut wajib militer. Tidak peduli apakah usia anak itu belum cukup, atau dia seorang anak tunggal. Sungguh melanggar aturan wajib militer.

Tapi, ketika dia terdesak oleh pasukan Korea Utara. Dia ketakutan, mukanya pucat. Seluruh tubuhnya gemetar. Pada letusan tank di pinggir kota, dan tembakan ratusan senjata semi- otomatis saling beradu. Dia jatuh pingsan, dan harus ditanggu menuju rumah sakit. Dan ketika bom dimuntahkan oleh pesawat musuh di pusat kota, dia meraung-raung. Mulutnya mengeluarkan busa. Dia dihinggapi histeria.

Terus berteriak. Dia sebenarnya sangat inggin lari, tapi secara bersamaan dia tak kuasa untuk bergerak. Terdiam di atas tempat tidurnya. Sampai akhirnya datanglah berita bahwa pasukan Korea Utara, hampir sampai di pusat kota. Pasukan Jepang semakin terdesak.

Berdiri. Kemudian dia menganti pakaian Major yang dipakainya dengan pakaian gelandangan. Tanpa menghiraukan sekelilingnya, dia lari sendirian, lari keselatan kota. Dan menghilang di telan hitamnya asap.

Sejak dia lari, berkas Major itu hidup mengembara di hutan-hutan. Rambutnya gonrong. Kain yang dipakainya ketika kabur telah lapuk dan akhirnya rusak, dimakan waktu. Dan tak ayal lagi, akhirnya dia memilih daun-daun lebar di hutan untuk menutupi tubuh telanjangnya.

Dengan tampang seperti ini, patroli-patroli kedua belah pihak - pihak kita, pihak musuh - yang bertemu dengannya, dia tidak diapa-apakan. Bahkan patroli musuh yang akhirnya tau siapa dia sebenarnya, memberinya rokok, dan makanan kaleng. Cepat-cepat di terimanya semua pemberian itu. Lalu dia menghilang kedalam hutan, dan berteriak-teriak seperti binatang hutan.

Kini perang telah lama selesai. Dia dicari dan dibawa ke rumah sakit jiwa. Disana dia bertemu dengan Naruto, bekas penembak jitu. Masing-masing terharu mendengar riwayat masing-masing. Saling merangkul, dan kemudian menangis tersedu-sedu. Sejak saat itulah mereka bersahabat kental. Dan diluar perkiraan semuanya, mereka memperlihatkan tanda-tanda berangsur-angsur membaik kembali.

Membuka kelopak matanya kembali. Naruto tersenyum simpul memikirkan masa lalunya di rumah sakit jiwa tersebut. Dan dibawah guyuran hujan, Naruto akhirnya menghilang dalam kilatan berwarna hitam.

.

.

.

.

.

Hujan telah reda. Tetes-tetes embun, sisa hasil hujan masih tersisa. Udara dingin, padahal matahari sudah mencapai puncaknya. Sesekali matanya yang tertutup terbuka, melihat anak-anak yang asik bermain di taman, bersama keluarganya. Mereka sepertinya tidak menghiraukan tanah becek sisa dari perbuatan hujan.

Dengan mata yang masih tertutup. Tiba-tiba, dirinya merasakan kehadiran dua individu yang mendekat. Naruto lansung meningkatkan tingkat kewaspadaannya, ketika dia mengetahui yang mendekatinya kali ini adalah dua orang Hollow.

"Namikaze Naruto" ucap salah satu diantara mereka. "Perkenalkan namaku Hiruzen Sarutobi. Kepala sekolah dari Konoha Academy"

"Lalu?" ucap Naruto. "Ada apa salah satu kepala sekolah, dari 5 Academy Hollow mendatangiku?"

"Kau tau, bahwa selama perang lebih banyak anak-anak dan remaja yang di jadikan Hollow" ucap Hiruzen. "Lalu. Kami, para Hollow yang sudah tua ini. Mendirikan sebuah Academy, agar para Hollow muda dapat belajar dan menjalani kehidupan normal. Terbebas dari efek psikologis perang dan eksperiment"

"Kau belum menjawab pertanyaanku" tanya Naruto, menatap tajam Hiruzen. "Apa tujuanmu mendatangi ku?"

Tersenyum. Hiruzen menatap pemuda didepannya dengan tatapan kagum. "Sederhana, hanya mengajakmu untuk ikut bersama kami"

"Maksudmu? Aku harus masuk sekolah? Academy?"

Hiruzen hanya menggangguk. "Kau bisa mendapatkan pendidikan, bukankah kau masih muda? Dan yang terpenting"

"Kau bisa mendapatka kehidupan normal"

Pupil mata Naruto melebar seketika, mendengar kalimat yang dikatakan orang didepannya. Impian keduanya. Mengngangguk kemudian mengiyakan ajakan tersebut.

"Bagus" kata Hiruze tersenyum ramah. "Tapi ada satu hal"

"Apa itu?"

"Kau harus memanggil ku dengan sebutan jii-san" diam beberapa saat, membiarkan Naruto paham. "Dan kau harus belajar tata bahasa yang baik. Karena bahasamu terlalu kasar"

Mendesah pasrah kemudian Naruto mengangguk mengiyakan. "Ya... kita tidak pernah tau"

.

.

.

.

.

Konoha Academy. Sebuah sekolah yang didirikan oleh Hiruzen Sarutobi. Seorang pengusaha sukses dibidang telekomunikasi. Tapi sayang banyak orang yang tidak tau bahwa. Sesungguhnya kakek berusia 68 th itu adalah seorang Hollow.

Dan dibanding sebuah sekolah. Konoha Academy lebih cocok dibilang sebuah desa. Bayangkan disana semua fasilitas sangat lengkap. Mulai dari sekolah SD, SMP, SMA, sampai peguruan tinggi. Tempat latihan tanding untuk para Hollow. Bahkan sampai taman. Pasar. Dan lain-lain.

Naruto hanya mentap kagum. Melihat deretan bangunan yang berjajar rapi disepanjang jalan. Matanya bergerak liar melihat banyak remaja seusianya. Yang dengan bebasnya menggunakan kekuatannya tanpa beban.

Berjalan mengikuti sang kepala sekolah. Akhirnya mereka berhenti di depan sebuah ruangan.

"Mari masuk" ucap Hiruzen, yang dijawab anggukan oleh Naruto.

[Di dalam ruangan]

Duduk dihadapan kepala sekolah yang sebentar lagi akan dipanggilnya dengan sebutan 'jii-san'. Naruto sibuk memperhatikan sekelilingnya, dan disamping sang kepala sekolah sudah berdiri dua orang, masing-masing dikiri dan dikanan.

"Lansung saja. Jii-san"

"Hahahaha..." Hiruzen tetawa. "Sepertinya kau tidak sabaran ya"

Namun bukannya ikut tertawa. Naruto hanya diam menatap kepala sekolah itu tanpa ekspresi. Dan entah kenapa membuat Hiruzen canggung sendiri.

"Ok... disampingku ada Kurenai Yuhi" ucap Hiruzen memperkenalkan seorang wanita disamping kanannya. "Kekuatan Hollownya adalah membaca kemampuan lawan."

"Dan disebelah kiriku adalah Hatake Kakashi" ucap Hiruzen. "Kemampuannya mengendalikan unsur petir, dan mengcopy kekuatan lawan. Cuma sayang hanya sampai 5 menit"

"Dan juga dia adalah wali kelasmu"

Naruto mengagguk mendengarkan penjelasan yang disampaikan. Sebagai mantan perwira perang kecepatannya dalam menyerap informasi jangan diremehkan lagi.

"Kau akan mulai sekolah besok" ucap Hiruzen. "Tapi, ada satu hal yang harus kau lakukan" sambungnya. Yang seketika membuat Naruto binggung.

"Apa itu?"

"Menjinakkan seorang Mutant Hollow" ucap Hiruzen dengan serius.

"Apa maksudmu?"

"Dari data yang diterima Kurenai" kemudian menatap pemuda bersurai pirang didepannya. "Aku tau bahwa kau adalah Hollow leves S" kemudian mengalihkan pandangannya menuju wanita berurai hitam disampingnya. "Jelaskan kemampuannya"

Kurenai mengangguk. "Namikaze Naruto. Kemampuan Memanipulasi Grafitasi. Memanipulasi Dimensi Ruang Waktu. Mengeluarkan Rantai Cakra. Mengendalikan Unsur Angin"

"Bagai mana kau bisa tau?" tanya Naruto, seinggatnya dia belum pernah diperiksa.

"Itu mudah" jawab Kurenai. "Cukup dengan menyentuhmu aku bisa tau kemampuanmu"

"Jadi apa jawabanmu?" tanya Hiruzen.

Mendesah pasrah dan sepertinya tidak mempunya pilihan lain, akhirnya Naruto menyetujui permintaan sang kepala sekolah.

.

.

.

.

.

Kembali berjalan, kali ini Naruto bukan berjalan di taman, atau di lingkungan indah Academy lainnya. Tapi, kali ini dia berjalan melintasi, sebuah lorong gelap, minim cahaya, dimana air menggenang sampai mata kaki.

Berjalan bersama Hiruzen dan Kakashi, Naruto hanya bisa diam mengikuti dua orang didepannya. Tanpa tau apa yang akan menantinya. Akhirnya, tiba juga dia diujung lorong. Disana ada sebuah penjara besar. Kosong. Namun ketika Naruto memperhatikan penjara itu lebih diteil, seketika dia terkejut dengan apa yang di lihat.

Disana. Ada seorang gadis yang burusia mungkin berkisar antara 15 - 16 th. Dengan rambut merah menyala yang panjang. Mengakai sundrees berwarna putih dan sepertinya sudah kusam. Namun yang membuat Naruto agak kaget adalah. Sembilan ekor yang melambai indah dibelakang gadis tersebut, dan juga telinga rubah yang ada diatas kepalanya menambah kesan lucu tersendiri.

Namun sepertinya kata lucu harus dicoret dari gadis ini. Ketika, Naruto melihat sorot mata gadis tersebut. Sebuah sorot mata yang haus akan membunuh. Khas binatang buas yang liar.

"Ggrrrrr..."

Geraman rendah terdengar jelas oleh Naruto dari mulut gadis itu.

"Jinakan dia Naruto" ucap Hiruzen, menatap pemuda didepannya.

"Apa untungnya nanti bagiku jii-san?" tanya Naruto.

"Kau akan tau nanti"

Naruto diam dan kembali melihat Mutant Hollow itu. Entah kenapa ini akan sulit.


Sekilas kekuatan Naruto
1. Memanipulasi Grafitasi : Sama kayak Rinnegan. Cuma beberapa tehnik saja yang diambil seperti.
Chibaku Tensei. Shinra Tensei. Bansho Tenin. Dan Menarik meteor.

2. Menanipulasi Dimensi Ruang Waktu : Kurang lebih sama seperti Hiraishin dan Kamui.

3. Rantai Cakra : Sama kayak punya Kushina.

4. Mengendalikan unsur angin : Kurang lebih sama kayak di canon, dan sedikit penambahan disana - sini.

Saya juga menerima. Baik itu kritik, saran, pertanyaan, maupun hinaan dan cacian. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca fic aneh ini dan jangan ragu menghina saya jika ada kejelekan dalam fic ini

Dan Dan seperti biasa, review please.

Karena Review kalianlah yang menjadi penyemangat bagi saya untuk melanjutkan Fic ini.

PS : Doa'a kan saya supaya lancar menghadapi UTS ^^V