Hari libur kembali terjadi, namun Ayah pergi untuk beberapa hari ke luar kota. Hm, diperdiksi bakal sampai seminggu beliau di luar kota. Semntara aku berada di rumah serta menikmati hari liburku ini.

Ah, membosankan kalau berada di tempatku kuliah.

Tapi kalau disana ada jaringan Internet, mungkin aku bakal betah. Betah sekali, dan tidak akan pulang ke rumah, walaupun Ibu bakalan kesepian di sana. Hey, ini kehidupan normalku.

Dan beberapa waktu lalu berubah menjadi sebuah kehidupan yang entah tidak bisa dikatakan bagus atau jelek.

Yah, kehidupan yang bisa dikatakan bagus atau jelek.

.

.

.

Sebuah kehidupan dimana kau dan Ibumu melakukan hal terlarang. Berhubungan sex.

Naruto © Masashi Kishimoto

My Mom by Shinn Kazumiya

AU, OOC, incest, Mom and Son, Typo, dan berbagai macam hal yang ada disini. Full Lemon! Lime! NTR!

Kushina x Naruto

Well, aku disini. Berada di ruang tamu yang bergabung dengan dapur serta meja makan. Namaku Naruto Namikaze, anak dari Minato Namikaze serta Kushina Namikaze. Dan ini kehidupanku.

Aku sekarang sedang minum air putih sembari menonton acara di pagi hari. Walaupun sangat membosankan. Aku sesekali melirik Ibu yang sedang memasak di dapur, pakaiannya sungguh menggoda, sama seperti waktu itu.

Kaos putih tanpa lengan, tidak memakai bra dan mencetak tonjolan yang membuat lelaki terangsang, serta sebuah celana dalam berwarna hitam dengan renda disana. Memampakkan aura seksi yang dimilikinya.

Oh, kamisama, kuatkan hambamu ini. Godaan luar biasa besar berada di depan, dan kau harus menahan hasrat untuk memasukkan penis kedalam lubang anusnya.

Gila.

"Naruto, kemarilah!"

Merasa dipanggil, aku berjalan ke dapur, tempat dimana Ibu sedang memasak. Ah, aku bisa mencium baru citrus yang menguar dari tubuh Ibu. Menggoda sih, tapi aku masih bisa menahannya.

"Ada apa? Apa ada sesuatu yang bisa kubantu?"

"Kemarilah!" Aku disuruh mendekatinya. Bibirnya yang seksi itu tersenyum, matanya mulai sayu, serta rona merah mulai keluar menjalar ke kedua pipinya. Wah, ini! "Berdirilah disini, dan diamlah!"

Aku menurut saja saat dia menyuruhku berdiri tepat di depan meja makan keluarga. Tanpa disangka! Aku sendiri terkejut sekarang, karena Kushina Uzumaki—Ibuku sendiri, sedang berjongkok tepat di depan selakangan yang kubalut dengan sebuah boxer.

Aku tidak memakai celana dalam loh.

"Tidak ada Minato. Nah, panggil saja Kushina ya?" ia mengerlingkan matanya genit, aku harus tenang, ini ujian. "Nah, sampai dimana kita." Kushina mulai mengelus lembut gundukan yang menonjol di depannya.

Oh, sial. Dia langsung menurunkan boxer yang kupakai, penis besar milikku langsung muncul tepat di depan matanya. "Ku-kushina? A-apa yang kau lakukan!? Bagaimana kalau Ayah memergoki kita!?"

"Itu sih tidak akan terjadi, Ayahmu sebentar lagi berangkat ke luar kota." Kushina mulai mengocok penisku, agh! Sial, dia semakin hebat dalam merangsangku. "Hm, kalau dipikir-pikir, punyamu memang lebih besar daripada punya Minato."

"Aaa... ahhh!" aku mendesah saat Kushina mulai menjilati penis besarku dengan lidahnya yang basah. Ia memasukkan penis tersebut kedalam mulutnya. Kushina sangat pintar melakukan Bl*wjob. "Ku-kushina..." Kushina menyeringai, kemudian mempercepat kocokan di dalam mulutnya tersebut.

Tiba-tiba, pintu masuk ke ruangan itu terbuka, dan menampilkan Ayah yang sudah bersiap untuk pergi ke luar kota. "Selamat pagi, Naruto. Kemana Ibumu?" oh tidak, ini tantangan!

"Emm, se-sepertinya dia sedang keluar untuk membeli beberpa keperlu—aduh!" sial, Kushina menggigit ujung penisku. Aku juga bisa melihat kalau dia menyeringai dengan wajah menggodanya.

"Kau tidak apa-apa kan Naruto?"

Aku menatap gugup Ayah yang berdiri dengan wajah khawatir. Ia berusaha mendekati diriku, namun aku mengangkat tangan kananku untuk mengisyaratkan kepada Ayah kalau aku baik-baik saja.

"Oke, aku akan berangkat. Setidaknya untuk beberapa hari—5 hari mungkin. Maaf, aku tidak bisa berkumpul denganmu."

"Tidak masalah Ayah," ujarku yang mencoba tersenyum kepada Ayah.

Beliau pun pergi sambil menenteng tas kerja miliknya. "Baik, aku berangkat!"

"Ya, hati-hati ayah!"

Ayah pun pergi dari hadapanku. Aku langsung menatap ke bawah, disana Kushina terus-terusan melahap penis besarku. Akh! Ini gila, aku hampir ketahuan!

"Bagaimana Naru? Tegang? Atau bertambah tegang?" Kushina tersenyum menggoda sambil menatapku dengan penisku yang berada di pipinya. Ia mengerucutkan bibirnya imut. "Kau tahu, aku sangat ketagihan dengan punyamu yang satu ini. Besar dan hangat," Ujar Kushina dengan nada menggoda.

"Ck, cepat selesaikan. Kita belum sarapan—aakh! Hey, ja-jangan diremas!"

"Hm! Kau berani memerintah diriku ternyata." Dengan gesit, Kushina berdiri dari tempatnya berjongkok. Aku bisa mencium bau citrus yang menguar dari tubuhnya. Sial, aku terangsang hanya karena bau citrus tersebut. "Nah, bagaimana kalau kita melanjutkan kegiatan ini?"

Aku tersenyum, kemudian mencium bibir seksinya. Salah satu tanganku memasukki kaos putihnya, aku meremas dada besarnya itu sembari memilin puting susu miliknya. Kushina mendesah di dalam ciuman kita.

Aku mendorong tubuhnya untuk bersandar ke meja dapur yang berada di belakangnya sambil mengangkat salah satu kaki jenjangnya. Dia terus menciumku, tidak ketinggalan juga lidahnya. Kita berdua memainkan lidah sambil bertukar saliva.

"Hmmp! Hmmh!"

Penisku yang tegang pun mulai menusuk bagian luar celana dalam Kushina. Aku bisa merasakan kalau celana dalamnya sudah basah akan cairan miliknya, rangsangan serta kegiatannya tadi membuat Kushina sangat terangsang.

Beberapa saat kemudian, Kushina menarik wajahnya, ia menatapku dengan pandangan menggoda, lidahnya membasahi bibir seksinya. "Menu utama?" Aku mengangguk, kemudian dia melepas pakaiannya hingga telanjang bulat. Kemudian Kushina berbalik membelakangiku. "Ayo, masukkan penismu Naruto. Masukkan di lubang mana saja," ujarnya sambil tertawa menggoda.

Penisku pun mulai ku arahkan ke lubang vagina miliknya. Ia juga menggigit bibir bawahnya untuk menahan desahan yang akan keluar akibat tusukkanku. "Aku masukkan."

Sekali hentak, aku memasukkan penis besarku ke dalam lubang senggama itu. Ia seperti akan berteriak saat penisku memasukki liang hangat ini, dan penisku merasakan bagimana hangatnya vagina milik Kushina.

"Si-sial, ini lebih enak daripada yang kemarin."

Aku mulai bergerak keluar masuk ke dalam lubang vagina Kushina. "Ahh, Naru... Naru..." aku melihat Kushina mendesah memanggil namaku sambil kedua tangannya mencengkram sisi meja yang berada di dapur itu.

Kedua tanganku pun tidak mau kalah, mereka meremas kedua payudara Kushina, dan memaksanya untuk menyandarkan punggungnya di dada bidangku. "Bagaimana rasanya?"

"Ini... ahh, kau ... ahh, kau hebat! Le-lebih cepaat!"

"As you wish, Kushina."

Aku pun menuruti permintaannya dengan mempecepat gerakan pinggulku. Semakin hangat dan licin. Bisa-bisa aku terus menancapkan penisku disini, tapi kalau Ayah tidak ada.

Yah, kalau tidak ada Ayah.

"Na-naru... Akuhh... akuhh...!"

"Keluarkan Kushina."

Aku terus mempercepat gerakan pinggulku, erangan Kushina bertambah keras saat aku memelintir puting susunya. Aku merasakan sebuah cairan yang membasahi penisku. Oh, ternyata Kushina sudah orgasme.

"Hm, keluar duluan ternyata."

Aku bisa mendengar deruan nafas yang dikeluarkan oleh Kushina. Sebuah deruan nafas yang membuatku terangsang. Aku kembali mendorong pinggulku maju mundur, penisku masih belum puas.

Kedua kaki jenjangnya itu ku angkat hingga vagina yang menyatu dengan penisku terlihat. Wajah Kushina langsung memerah saat aku melakukan hal tersebut. Aku sendiri menyeringai sembari memasukkan penisku ke dalam vagina miliknya.

"Na-naru... ahhh... ja-jangan begini..."

"Dan mau menghentikan kegiatan ini? Kushina, kau yang memulai loh."

Dia langsung diam sambil menggigit bibir bawahnya. Ah, dia terlalu imut layaknya anak sekolahan. Kedua tangan Kushina mengalung di leherku, wajahnya langsung menatapku dengan senyum manisnya.

Aku sendiri langsung mencium bibir seksinya. Kedua lidah kami kembali bersilat didalamnya. Ugh, ini sangat hebat, aku sendiri tidak menyangka kalau Kushina akan melakukan hal seperti ini.

"Keluarkan di dalam Naru-sayang." Nadanya sangat menggoda diriku. Salah satu tangannya mengelus pipiku. "Hamili Ibumu ini, Naruto."

"Baiklah, aku akan memberikannya."

Aku kembali mempercepat gerakkan pinggulku, vagina miliknya kembali berkedut ingin mengeluarkan cairan cinta miliknya, rasanya seperti penismu di apit oleh dinding lembut.

"A-aku keluarkan!"

Kushina langsung berteriak saat dirinya mencapai orgasme miliknya yang kedua kali, sementara aku menyemprotkan banyak sperma di dalam vagina miliknya. sepertinya sperma milikku memenuhi rahim Kushina.

Aku langsung meletakkan Kushina di atas meja, sembari mencabut penis besarku. Ah, sepertinya aku kelelahan. Kedua tanganku juga bertumpuh di ujung meja.

Aku tersenyum menatap Kushina yang duduk di atas meja itu, aliran sperma keluar dari vagina miliknya. Dengan cepat, aku mencium bibirnya untuk yang kesekian kalinya, ia juga membalas ciumanku barusan. Aku mengarahkan tanganku ke belakang kepalanya, kemudian menekan kepalanya untuk memperdalam ciuman kita.

Sepertinya aku tidak akan bosan berada di rumah.

Kami berdua pun menarik wajah masing-masing, wajah Kushina sekarang sudah merona seakan dirinya anak yang baru saja dewasa.

"Naruto..."

"Ya?"

"Aku mencintaimu."

Wat?

"Sepertinya aku mulai mencintaimu, Naruto. Kau memang anakku, tapi aku selalu menahan rasa malu jika berada di dekatmu."

Aku tidak bisa berkata apapun, dia benar-benar mengungkapkan perasaannya terhadapku. Ah sial, wajahku pasti terbakar sekarang. Aku melihat dia tertawa kecil saat melihat wajahku yang merona.

"Tidak diterima juga tidak masalah sih. Aku tidak akan memaksamu."

"Hm, a-aku akan menjadi kekasihmu, Kushina."

Wajah Kushina langsung merona hebat saat aku mengatakan hal tersebut. "Ba-baik, kita hanya akan menjadi kekasih di rumah saja. A-atau mungkin kita keluar untuk kencan."

Aku tersenyum menatap Kushina layaknya gadis Sekolah—tapi umurnya sudah mencapai kepala 4. Dia sangat seksi sekali, walaupun umurnya sudah hampir setengah abad.

\('-')/

Aku benci mengatakan ini, tapi beberapa bulan kemudian setelah kejadian aku berhubungan intim bersama Kushina, ada sebuah pertengkaran hebat antara Ayah dan Kushina.

Aku tidak peduli akan hal itu. Lagipula, ini urusan mereka, bukan urusanku. Untuk permasalahannya adalah, ayah mempunyai seorang simpanan. Aku sendiri memasang wajah poker face, tapi di dalam hati. Ini sih saling selingkuh.

"Oke Kushina. Kita lebih baik bercerai daripada bertengkar terus."

"Aku setuju!"

Nah, mungkin itu saja yang kudengar, lainnya? Aku masa bodoh, lagipula saat itu aku sedang berada di luar rumah. Lalu saat ku kembali, Ayah sudah tidak ada di rumah, meninggalkan Kushina yang duduk di sofa sambil menonton televisi dengan santainya.

"Oh, Naru, sudah kembali?"

"Ya? Ayah keluar dari rumah?"

Kushina mengangguk kecil, lalu kembali mengganti channel. "Hm, sekarang kita hanya berdua saja dirumah."

Aku tersenyum mendengarnya, lalu berjalan ke sofa untuk duduk di sana. "Nee, Kushina. Kau tidak memakai celana dalam kan? Dan hanya memakai kaos tanpa lengan serta rok mini."

Tiba-tiba Kushina bergerak ke atas pahaku, dia duduk sambil menjilati bibir bawahnya. Mata sayunya sangat seksi jika sedang menggodaku. "Untuk jaga-jaga jika kau memasukkan penis besarmu itu, Naru-sayang." Kedua tangan Kushina membuka resleting celana panjangku, dan mengambil penisku yang sudah tegang. "Ahh, sudah tegang ternyata. Kau terlalu bernafsu sayang..." Kushina mengangkat tubuhnya ke atas, kemudian dia menancapkan penisku di vagina miliknya. "Engghh! Sungguh keras!"

Aku dengan sigap memegang kedua paha putihnya, sembari mendorong masuk penisku ke dalam vagina tersebut. "Walaupun sudah beberapa kali melakukannya, tapi vagina-mu masih sempit."

"Penismu terlalu besar...aanhhh!" Kushina mendesah panjang saat penisku berhasil masuk ke dalam vagina miliknya. Kedua tanganku beralih ke belakang, dan meremas kedua bongkah pantat Kushina, sesekali aku menusuk lubang dibelakang dengan jari telunjukku.

"Keh, kau terlalu seksi, Kushina."

Kushina tersenyum, kemudian memompa penisku naik turun di dalam vagina-nya. Payudara besar Kushina memantul di dalam kaos miliknya, puting susunya juga tercetak disana, dan yang paling membuatku terangsang adalah.

Kedua bongkah payudara itu mengeluarkan cairan berwarna putih.

"Kau hamil!?"

Tanpa kuduga, Kushina langsung mencium bibirku dengan ganas, sepertinya dia sangat terangsang sekarang. "Yah, aku hamil! Dan ini adalah anakmu! Anakmu Naruto! Kau harus tahu itu." Kushina menyeringai sambil mengelap saliva yang keluar setelah menciumku barusan.

Aku sendiri senang dengan kehamilan Kushina. Ini anak kedua baginya, dan anak pertama bagiku. Aku tersenyum di dalam hati, semoga perempuan.

"Kau memikirkan kalau anak kita adalah perempuan kan? Sehingga kau bisa berbuat seperti ini."

"Hoho, kau bisa membaca pikiranku?"

Kushina mengalungkan kedua tangannya ke leherku, dia mencium hidung serta dahiku. "Kau bakal menjadi seorang Ayah, Naruto."

"Hm, tidak masalah. Aku juga sudah punya pekerjaan sendiri di kamar."

Kushina tersenyum, dan dia terus memompa vagina-nya hingga dia orgasme untuk yang pertama kalinya. "Ahhh! Naru..."

Aku yang sangat terangsang, langsung mengangkat tubuh mungil wanita tersebut untuk bersandar di sofa, kemudian aku mencabut penisku dari vagina miliknya, dan menancapkannya di bagian bawah lubang miliknya.

Dia mendesah keras saat penisku mulai merengsek masuk ke dalam lubang anus miliknya. sedikit-demi sedikit aku memompa keluar masuk penisku, ini bahkan lebih sempit daripada yang tadi.

Kushina terus mendesah, sementara aku mulai membuka kaos miliknya, dan menghisap salah satu payudaranya yang mengeluarkan cairan putih. Sesekali, aku meremas hingga mengeluarkan cairan.

Beberapa saat kemudian, aku merasakan ada sesuatu yang merangsak ingin keluar, dengan cepat aku mencabut penisku kemudian memasukkannya ke dalam vagina Kushina. Aku mengocoknya dengan cepat, dan menarik wajahku.

Erangan demi erangan keluar dari bibir seksi Kushina. Sampai pada akhirnya aku harus mengeluarkan sperma ke dalam vagina Kushina.

"A-aku keluar!"

Kushina mengerang keras saat aku menyemburkan sperma ke dalam vagina miliknya, dan saat itu bersamaan dengan dia mengeluarkan cairan orgasme miliknya.

Nafas kami berdua tidak beraturan. Ini yang kesekian kalinya aku berhubungan badan dengan Kushina, dan aku sangat menikmati ini.

Aku tertawa halus, kemudian memeluk Kushina. "Aku mulai mencintaimu, Ibu—Kushina."

"Ya, aku tahu itu!"

Aku tersenyum, kemudian mencium bibir seksinya dengan lembut.

\('-')/

End!

Dipublish ulang karena ada Chapter 3 nantinya.