DISCLAIMER : MASASHI KISIMOTO
Pairing : Narusaku
Rated : T
Genre : Friendship, romance maybe
Warning : OOC, OC, AU, TYPO, MAINSTREAM THEME etc.
Story by me seriello
DONT LIKE DONT READ MINNA BUT I HOPE U READ THIS AND LIKE IT:V
.
.
.
.
"Gila! Ini benar-benar gila, Tenten! Aku tak percaya sungguh, Namikaze Naruto itu ternyata bisa mengerjakan soal Fisika. aku tidak mengerti kenapa bocah itu bertingkah seakan-akan dia bodoh?"
Sakura terus-terusan bercerita tiada henti saat menyusuri koridor menuju kelas dari kantin dengan sahabatnya. Sedangkan Tenten mendengarkannya dengan wajah heran.
Naruto itu pintar?
Sungguh?
Sudah menjadi rahasia umum pemuda pirang yang nakal nya kelewatan itu adalah pemuda yang payah dalam segala hal.
Sejak kelas 1 SMA dia tak pernah mendapat nilai diatas rata-rata bahkan kalau saja ayah nya itu bukan orang yang berjasa dalam hal mengumbang dana, jelas dia akan dikeluarkan sejak dulu.
Semua nya jelas tau seperti apa keseharian pemuda yang sangat menyukai gitar akustik itu, dia selalu datang terlambat, dia suka bolos pelajaran termasuk pelajaran olahraga, dia juga suka tak bayar makan di kantin, suka berkelahi, tergabung dengan gang berbahaya yang membernya misterius-selalu memakai topeng, selalu menentang guru-guru yang menegurnya, tidak pernah mengerjakan PR, jangan kan mengerjakan, membawa buku pelajaran hari ini saja tidak. Tas nya kosong, dan jika dijabarkan lagi maka akan banyak sekali list dari kenakalan pria bernama Naruto itu.
Jelas saja Tenten tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Itu tidak mungkin Sakura." Tenten menggelengkan kepala nya kuat-kuat menentang apa yang masuk ke pendengarannya tadi.
"Aku juga berfikir hal yang sama, tapi kemarin aku liat sendiri, Tenten! Sekarang aku tau kenapa dia bisa masuk sekolah ini padahal tes masuk itu sulit, sebelumnya aku kira dia bisa lolos hanya karena koneksi orang tua,tapi kalau di pikir-pikir lagi, ibu ku kan tidak mungkin mau menerima suap juga. Jadi ini alasannya? Dia benar-benar bisa mengerjakan tes nya." Mata Sakura berbinar-binar mengetahui fakta yang mencengangkan ini sedangkan Tenten masih tak percaya dengan pendengarannya.
"Hei!" Ino yang muncul dari samping kiri koridor membuat Sakura dan Tenten terkejut.
"Ahh kau ini! Bikin kaget saja." Sakura memukul lengan Ino sedangkan yang di pukul mengelusnya sambil meringis.
"Kalian ini ngobrolin apa sih? Kalian bahkan meningalkan ku di kantin." Ino berpout ria, surai pirang panjang nya itu di kuncir tinggi dengan sebuah penjepit rambut menghiasi sisi kanan kepalanya.
"Kau lama dikantin jadi kami tinggal." Jawab Sakura mencibir Ino yang tadi di kantin sibuk bergosip dengan murid kelas lain.
"Ishh, jadi kalian membicarakan apa tadi?" Tanya Ino sambil berjalan menyamping, menghadap Sakura dan Tenten dari sebelah kiri dengan senyuman lebar ala diri nya.
"Itu! Naruto! Dia ternyata pintar tau." Jawab Sakura semangat, entah kenapa dia sangat semangat menceritakan fakta baru itu, Ino mengernyit.
"Loh? Kalian baru tau? Naruto itu kan juara umum waktu SMP sejak kelas 1, dia itu populer tau." Jelas Ino sambil memainkn ujung rambutnya yang panjang. Sakura dan Tenten berhenti sejenak dari rutinitas menyusuri koridornya.
Sedetik kemudian.
"APA?!!!" Teriakan kompak dari Sakura dan Tenten itu menggelegar di sepanjang koridor membuat Ino menutup telinganya.
Untung saja koridor sedang sepi, hanya ada mereka bertiga. kalau tidak, mungkin Sakura dan Tenten akan kena semprot protesan dari murid lain.
"Aduh biasa aja dong." Ino mengorek lubang telinga nya sambil mendengus kesal,aduh telinganya berdengung.
"Kau tidak bercanda kan Ino?" Sakura menatap Ino tajam tak percaya dengan yang ia dengar.
"Sungguh aku tidak berbohong forehead. Kau ini meragukan kemampuan mencari gosip ku ya? Ya walaupun kebenaran tentang Naruto itu bukan gosip tapi fakta. tapi awal aku tau ini semua kan dari gosip dulu. Dia itu terkenal tau. Memang nya kau tidak pernah berhadapan dengannya di olimpiade atau semacamnya?" Tanya Ino sambil kembali melanjutkan langkah kaki nya yang kemudian disusul Sakura dan Tenten di belakang nya.
"Tidak tuh." Jawab Sakura sambil menerawang ingatan lama saat dirinya masih SMP, seingatnya dia tidak pernah bertemu dengan pemuda bernama Namikaze Naruto sebagai sesama peserta olimpiade.
"Ya mana mungkin kau hapal dengan peserta, kan peserta olimpiade itu banyak forehead, tapi kalau tidak salah, dia juga pernah ikut olimpiade kok. Dia itu andalan sekolah tau, banyak gadis suka padanya. Pokoknya dia itu populer." Terang Ino yang sukses membuat Sakura dan Tenten sweatdrop.
"Kau tau dari mana?" Tanya Tenten kali ini yang mulai penasaran juga dengan sosok Naruto yang sebenarnya.
"Aku kan sekolah di SMP putri, dari situlah bakat gosip ku bermula sebenarnya." Cerita nya dengan semangat sedangkan Sakura dan Tenten kembali sweatdrop mendengar dia bangga mempunyai 'bakat' bergosip.
"Anak-anak di SMP ku selalu membicarakan dia. Naruto, Naruto, Naruto Terus saja Naruto! Sampai akhirnya ya aku penasaran siapa sih dia. Ku akui dia itu tampan tapi saat itu bukan karena ketampanan nya yang bikin heboh tapi karena kepintarannya. Aku bahagia sekali saat tau Naruto juga ternyata masuk sekolah ini. Aku kan ingin tau dia seperti apa tapi ternyata saat masuk SMA dia malah berubah, bahkan aku sempat berfikir bahwa itu semua cuman rumor tapi melihat fakta di sekolah SMP nya yang mencatat banyak prestasi dari nya cukup meyakinkan aku bahwa itu semua fakta. Aku juga bingung kenapa dia berubah." Terang Ino sambil menggendikan bahu heran. Sedangkan Sakura dan Tenten spechless mendengar penuturan Ino yang tak kalah mencengangkan dari fakta kemarin.
"Aku yakin pasti ada sesuatu yang membuatnya berubah begitu." Sakura menggaruk dagu nya sambil memikirkan sesuatu penyebab Naruto berubah.
"Tunggu dulu, apa kalian berfikir sama seperti ku?" Tanya tenten yang membuat Ino dan Sakura saling tatap.
"Ya ku rasa ini pasti berkaitan dengan keluarga nya, kau tau kan Namikaze Corp sedang memimpin pasaran sekarang, properti nya, asuransi nya, bahkan bank yang dikelola oleh mereka maju pesat dan juga sekarang ku dengar Namikaze sedang mencoba menambah peruntungan bisnis mereka dengan Shimura Corp dibidang otomotif, itu arti nya keluarga mereka tidak mungkin mau melepas kesuksesan begitu saja kan? Dan kemungkinan Naruto itu dipaksa mau tidak mau untuk meneruskan bisnis keluarga itu sedangkan kita tau sendiri sepertinya Naruto menginginkan menjadi seorang musisi, soalnya dia selalu kemana-mana bawa gitar kesayangannya itu,benar kan?" Terang Sakura panjang lebar yang kemudian dijawab dengan anggukan cepat dari Tenten dan Ino.
"Iya benar! Aku juga berfikir seperti itu sejak tau perubahan Naruto,sepertinya keluarga nya memaksa dia untuk melanjutkan bisnis keluarga, tapi seharusnya tidak usah sampai berpura-pura bodoh kan?" Ino menggaruk pelipis nya, bingung dengan jalan pikiran Naruto yang sulit sekali ditebak itu.
Rasa nya sejak masuk SMA dia mulai tertutup, tidak pernah membahas keluarga dan hal pribadi lainnya padahal rumor saat SMP bilang Naruto itu anak yang terbuka, senang bercerita bahkan hal pribadi seputar keluarga nya, atau mungkin sekarang dia hanya terbuka dengan teman-teman dekat nya? seperti keluarga Nara, Uchiha, Sabaku, Inuzuka, dan Shimura yang selalu ada di sekitar nya?
"Ku pikir itu cukup masuk akal tau, kalau dia bodoh, dan selama bersekolah itu nol tak ada kemampuan apa-apa, mana mungkin kan keluarga nya tetap memaksa dia untuk meneruskan bisnis keluarga? Meskipun Naruto adalah pewaris sah, pasti orangtuanya pun berfikir dua kali soal ini. Mereka pasti berfikir bukannya sukses malah rugi karena Naruto bodoh." Ino dan Tenten kembali menganggukan kepala nya paham, perkiraan Sakura ada benarnya. Kalau bodoh mana mungkin keluarga nya tetap memaksa dia kan? Seperti nya memang begitu.
"Stttt jangan berisik,ada orangnya." Ino menyenggol pinggang Sakura sambil memperhatikan siluet seorang pemuda pirang dari ujung lorong menuju kearah mereka dengan teman-teman nya.
Suaranya yang berisik cukup membuat mereka yakin bahwa itu Naruto.
"Eh Shikamaru, kau suka rasa mint kan?" Suara Naruto yang cempreng itu mampu terdengar sampai ditempat Sakura dan teman-temannya berdiri, padahal jaraknya masih jauh.
"Hm." Shikamaru hanya menanggapi nya dengan deheman ambigu.
"Kau tau? Temari, kakak Gaara ini mengusulkan menu baru di restoran. Sebuah parfait rasa mint buahahahahha aku tidak bisa membayangkan seperti apa rasa nya. Kakak Gaara itu benar-benar menyukai mu seperti nya." Naruto tertawa terbahak-bahak.
"Benarkah?" Shikamaru mengernyit mendengarnya.
"Iya, kakak ku mengusulkan rasa itu dan sekarang sedang di kembangkan. Mungkin akan mulai ditambahkan ke menu secara permanen mulai minggu depan. Dia membuat itu gara-gara kau bilang tidak suka parfait yang manis seperti rasa pada umum nya." Terang Gaara sambil menggaruk pelipisnya bingung dengan kelakuan sang kakak.
"Ya ampun." Sai menggelengkan kepala nya heran sebagai tanggapan tingkah gila kakak sang sahabat.
"Aku tak mau mencoba nya sungguh meskipun itu gratis. Bayangkan parfait dengan rasa pait,kau akan merasa seperti menelan pasta gigi,siapa yang akan membeli nya? mungkin hanya Shikamaru saja." Gurau Naruto sambil tertawa, dia nampak memegangi perutnya.
"Sepertinya kakak mu itu akan berusaha keras menyandang status sebagai keluarga Nara." Canda Sasuke sambil menepuk lengan Gaara.
Mereka melewati Sakura, ino dan Tenten begitu saja layaknya tak ada orang disana.
"Ino, kau tak apa?" Sakura memperhatikan Ino yang nampak murung setelah rombongan Naruto Cs berlalu ditelan simpangan koridor dibelakang mereka.
"Aku tidak apa-apa." Jawab Ino enteng sambil kembali melangkah.
"Alah aku tau kau menyukai Shikamaru." Sakura menyenggol bahu Ino dengan bahunya sedangkan Ino hanya tersenyum miris.
"Aku hanya mengagumi nya forehead. Lagipula mana mungkin aku memilikinya sedangkan kita kan tidak dekat lagipula kau tidak tuli kan? Mereka bilang kakak Gaara menyukai nya. Kakak nya pasti sering bersama mereka, Besar kemungkinan kakak nya bisa mendapatkan Shikamaru dengan mudah tau." Ino mempoutkan bibirnya sambil sesekali membuang pandangan kearah lain.
"Tidak ada yang tidak mungkin bodoh! Kau lupa pasal Naruto? Kita semua tau hampir tidak mungkin dia pintar tapi nyata nya dia pintar luar biasa bahkan kau sendiri yang bilang dia juara umum di SMP nya jadi soal perasaan mu ke Shikamaru itu bukan tidak mungkin bisa mendapat balasan juga." Sakura yang berada di tengah memeluk bahu Ino dan Tenten dari samping sedangkan Ino hanya tertawa menanggapi nya.
"Kau juga, kau suka Sasuke kan?" Kali ini Tenten yang menyenggol pinggang Sakura dengan siku nya.
"Ahh aku hanya kagum karena kepintarannya, itu saja. Selebihnya aku belum menemukan pria yang masuk kategori idaman ku sebagai pacar." Jawab Sakura sambil mengangkat kedua kaki nya ke udara, bertumpu pada kedua bahu sahabatnya untuk berjalan.
"Berat bodoh!" Ino memukul bahu Sakura dengan tangan kiri nya.
"Aku yakin kau akan menyukai Naruto." Tenten bersuara kembali sambil mengerling kearah Sakura.
"Sembarang saja kau ini." Sakura menatap tak suka sedangkan Ino dan Tenten hanya tertawa.
"Yakin nih? Padahal saat tadi kau bercerita tentang dia, kau itu excited sekali." Godaan Tenten membuat semburat merah muncul dikedua pipi nya.
"Apaan sih kalian ini." Sakura memukul kepala Ino dan Tenten bergantian setelah mendengar mereka menggoda nya sambil berkata 'cie'.
"Dari pada memikirkan tentang perasaan, aku lebih tertarik tentang kenapa dia berubah, itu saja. Aku harus tau jawaban nya. Sungguh, Naruto itu membuatku penasaran." Ucap Sakura berapi-api.
"Ya itu sih aku juga mau tau." Jawab Ino yang kemudian disambut anggukan setuju dari Tenten.
"Lebih baik kita bertiga mencoba mencari tau sama-sama saja." Saran Sakura itu mendapat sambutan anggukan mengiyakan dari dua gadis disamping kiri kanannya.
Ah benar-benar Namikaze Naruto itu punya rahasia yang membuat mereka penasaran.
.
.
.
.
"Namikaze-san!"
Seruan yang ditujukan untuk pemuda yang duduk di pojok dekat jendela itu berasal dari seorang guru berambut hitam panjang.
Dia tengah berdiri di depan kelas sambil bersedekap dada menyenderkan pinggulnya pada meja guru dibelakangnya.
Sebelumnya pemuda bermarga Namikaze itu nampak berisik sekali dengan seorang pemuda lainnya yang bermarga Inuzuka.
Entah apa yang di bicarakan oleh mereka berdua, yang jelas mereka tertawa terbahak-bahak seakan-akan tak ada guru didepan nya, pantas saja kalau guru wanita beriris merah itu nampak kesal bukan main.
"Nampak nya kau sudah cukup 'pintar' untuk mengabaikan pelajaran ku, bisa kah sekarang kau berdiri disini untuk mengerjakan soal ini di depan?" Ucap nya lagi begitu Naruto menoleh kepada nya setelah wanita ini menyerukan marga nya.
Desas desus itu kini bermunculan dari para siswa lainnya yang mulai berbisik-bisik menimbulkan suara berisik.
'Mampus'
kata itu yang tertangkap oleh gendang telinga Naruto dari seorang pemuda berambut mangkok yang tempat duduk nya tidak jauh dari nya sambil menepuk jidatnya.
"Maju nih bu?" Tanya nya yang mampu membuat semua nya jawdrop. Ya, pemuda ini tampak sekali tidak perduli dengan aura membunuh dari salah seorang guru killer.
"Ya tentu saja, aku kan sudah bilang begitu tadi." Jawab Kurenai-guru Fisika disini yang masih mencoba mempertahankan wajah kalem nya.
Naruto lantas mendorong bangku nya kebelakang kemudian berdiri dengan santai, memasukan kedua tangan ke dalam saku celana seragam berwarna hijau lumut itu dan melenggang ke arah depan kelas.
"Jelaskan kepada semua nya bagaimana cara menyelesaikan soal ini." Kurenai menunjuk ke papan tulis dimana disana tertulis satu soal yang belum di pecahkan bersama karena terinterupsi dengan kebisingan yang berasal dari Naruto.
"Hmm jawaban nya nol bu." Jawab Naruto santai sedangkan Sakura yang duduk dimeja depan dekat pintu masuk jelas terkejut, soal yang terpampang di papan tulis adalah soal yang sama persis dengan yang Naruto kerja kan kemarin, dirumah dia bisa mengerjakannya dengan benar kenapa disini malah sebalik nya?
Benar-benar seperti nya Naruto ingin menutupi jati diri nya.
"ku rasa dia memang ingin terlihat bodoh." Ino berbisik pelan pada telinga kanan Sakura sedangkan Sakura hanya bisa menelan ludah melihat tingkah bocah pirang itu.
"Coba jelas kan kenapa hasil nya nol?" Tanya Kurenai sambil menghampiri Naruto guna memberikan spidol kepada pemuda pirang itu.
Tentu Naruto menerima nya dengan senang hati masih dengan gaya nyelenehnya-menerima dengan enteng tanpa beban serta cengiran misterius yang entah apa arti nya.
Dia lantas melangkahkan kaki nya lebih dekat ke papan tulis dan mulai menggoreskan tinta spidol itu ke permukaan papan yang putih.
Naruto lantas membuat sebuah lingkaran dengan ukuran sedang kemudian berbalik menghadap teman-teman nya yang tengah memperhatikannya dengan seksama.
"Kenapa nol? Kemarin aku diajari oleh seorang gadis cantik bermarga Haruno, dan dia tidak bisa pergi dari pikiran ku jadi pelajaran yang dia ajarkan pada ku tak ada yang masuk ke dalam otak, malah sekarang aku terus-terusan memikirkan nya. Kau tau lambang keluarga Haruno? Lingkaran kan? Nah ku definisikan angka nol ini sebagai Haruno. Jadi apapun yang ada dipikiran ku hanya lah Haruno." Terangnya yang sukses membuat semua yang hadir tercengang, tak terkecuali Sakura yang marga nya disebut-sebut.
'Apa-apaan ini?' gerutu Sakura dalam hati.
"Yang benar saja Namikaze-san, ku pikir kau menginterupsi kegiatan belajar mengajarku karena kau sudah pintar? Sekarang kau malah menggoda anak gadis kepala sekolah? Berani sekali kau ini." Kurenai nampak kesal, pemuda ini yang selalu bisa membuatnya naik darah, tidak. Bukan hanya dia tapi guru lainnya pun seperti nya berfikiran hal yang sama.
"Aku hanya mencoba berkata jujur, sensei." Naruto menggendikan bahu nya cuek masih dengan cengiran khas nya. Diliriknya kini Sakura yang menundukan kepala nya malu dan itu sukses membuat dirinya menyeringai.
Bad boy sekali pemuda ini.
"Apapun itu kau tetap harus dihukum! Setelah ini kau harus membersihkan gudang olahraga sampai bersih." Titah Kurenai sambil menatap tajam murid menyebalkannya ini, yang ditatap hanya tertawa meremehkan kemudian dia melenggang kembali ke bangku nya.
"Ok tenang saja sensei, semua nya pasti beres kok." Jawabnya sambil mengangkat tangan kanan nya, jempol dan telunjuknya melengkung membentuk tanda 'ok' disana tanpa menoleh pada Kurenai sedikit pun.
"Ish anak ini!" Gerutu Kurenai sambil meremas spidol ditangannya.
"Jangan begitu sensei, kau bisa mematahkan spidol yang ada di tangan mu itu. Aku tak mau jika nanti aku ditagih iuran kelas lagi untuk membeli properti kelas yang rusak." Kelakarnya sambil kembali mendudukan diri di bangku sebelah Kiba yang kemudian disusul gelak tawa dari teman kelasnya.
Kurenai lantas membenahi posisi berdiri nya dan berdehem kecil untuk menenangkan suasana.
.
.
.
.
"Naruto! Tunggu!"
Sakura setengah berlari mengejar pemuda pirang yang berjalan didepan nya dengan santai tanpa menoleh sedikitpun pada nya.
"Tungguin dong! Kau ini tuli atau bagaimana?" Sakura menarik lengan baju Naruto dan itu sukses membuat mereka berdua saling berhadapan sekarang.
"Ada apa sih? Ini belum waktu nya belajar kan? Kita belajar di rumah saja." Jawab Naruto sambil menurunkan tangan Sakura yang tadi mencengkeram lengan kemeja seragamnya.
"Kenapa kau melakukan itu? Kenapa kau menjawab secara asal? Bukan kah soal tadi sama seperti yang kemarin kau kerjakan? Kau bisa menyelesaikannya!" Sakura geram tak paham dengan jalan pikiran pemuda dengan iris blue shappire itu.
"Memang apa yang kau harap kan? Aku mengerjakan soal dengan baik dan benar? Begitu?" Tanya Naruto sambil menyenderkan punggungnya pada tembok koridor yang sepi, awal nya dia akan bergegas ke gudang olahraga, membersihkan nya kemudian lekas pergi keatap sekolah untuk bersantai seperti biasa tapi ternyata putri keluarga Haruno ini malah menghambatnya.
"Bukan, bukan itu yang aku mau, yang aku mau adalah kau menjelaskan pada ku kenapa kau menutupi jati diri mu?" Naruto memutar bola mata nya bosan, gadis ini keras kepala ternyata.
"Bukannya kemarin aku sudah bilang ya? Kau tak akan paham soal ini jadi lebih baik kau tidak usah ikut campur urusan ku sakura-chan." Naruto menarik lengan Sakura mendekat, setengah berbisik mengatakan itu berharap suaranya tak menarik Perhatian murid lain yang bisa jadi muncul secara tiba-tiba di koridor ini.
"Kecilkan suara mu." Ucap nya lagi masih sambil memegang lengan Sakura mendekat guna saling menempelkan dada satu sama lain.
"Hei! Jika ingin bermesraan jangan disini." Ucap seorang pria berambut perak yang melewati mereka begitu saja.
"Cih, kakashi-sensei selalu saja begitu, lagi pula aku tak akan berani macam-macam dengan putri kepala sekolah secara terang-terangan begini tapi kalau gelap-gelapan ya tidak tau, ya minimal ku ajak dia ke hotel bintang lima supaya di restui." Ucap Naruto asal.
PLETAK!
Sakura memukul kepala Naruto dengan bogeman mentah nya. Kemudian ia lekas membungkukan badan memberi penghormatan.
"Maaf kan tingkah anak kurang ajar ini sensei." Ucap Sakura dengan senyum kelewat dipaksakan sedangkan disampingnya Naruto tengah mengelus kepala sambil cemberut, melihatnya membuat Kakashi tertawa dibalik masker nya.
"Anak muda jaman sekarang seperti nya tidak sabaran sampai menunggu kelulusan." Sindirnya sambil berlalu begitu saja.
"Apa-apaan sih kau ini Naruto! Didepan semua orang kau suka sekali menggoda ku, tapi saat kita berdua begini kau bertingkah cuek sekali!" Sakura segera menegur Naruto setelah sosok Kakashi menghilang dipersimpangan, dia tidak mengerti dengan tingkah Naruto yang sangat sulit diartikan.
"Oh jadi kau ingin aku selalu menggoda mu? Ku pikir kau hanya ingin Sasuke yang menggoda mu, kau kan fansgirl garis kerasnya." Ucap Naruto santai sambil mengeluarkan tangan kiri nya dan menatap kuku-kuku jari nya. Pipi Sakura malah merona sekarang.
"Apa-apaan sih Baka! Kau malah mengalihkan pembicaraan, cepat jawab pertanyaan ku!" Sakura menahan lengan Naruto dengan cepat begitu tau pemuda itu hendak beranjak dari posisi nya.
"Sudah lah Sakura-chan, aku kan sudah bilang kau tak tau apa yang sebenarnya terjadi, lebih baik kau tak usah ikut campur." Naruto kembali melepas pegangan Sakura di lengannya.
"Ya justru itu aku tanya kenapa kau melakukan itu? Hidup mu ini sudah sempurna, kau terlahir dari keluarga kaya raya, kau tampan, kau pintar, kau bisa jadi seorang idola yang punya banyak fans sana sini seperti Sasuke misalnya, tapi kenapa kau malah bertingkah sebaliknya? Disaat semua orang bersusah payah mencoba menjadi pintar kenapa kau malah berusaha menjadi bodoh?" Sakura menjadikan jari-jari tangan kirinya sebagai hitungan kelebihan Naruto.
"Kau tak akan mengerti." Jawab pemuda itu sambil membuang pandangan kearah lain mencoba menghindari kontak mata dengan emerald didepannya.
"Maka dari itu aku berusaha memahami mu, tapi aku tak menemukan celah sedikitpun yang bisa dijakan alasan atas perubahanmu. Apa kau tidak kasihan dengan orang tua mu, Naruto? Kau punya orang tua yang sangat baik dan mengkhawatirkan mu." Tatapan mata Sakura melembut kali ini, mungkin menghadapi pemuda seperti Naruto butuh kelembutan, terlebih Sakura tak tau masalah apa yang dihadapi pemuda itu. Menghadapinya dengan kekerasan lagi jelas bukan pilihan yang tepat.
Naruto menyeringai tipis, menegakan posisi tubuh nya kemudian menatap Sakura tajam.
Iris shappire nya berkilap menandakan suatu kebencian, nampak sekali bahwa ia sangat tidak suka ketika Sakura menyebut-nyebut perihal keluarga nya.
"Oh ya? Apa kau tau mereka? Kau tau banyak tentang orang tua ku? Sampai-sampai kau menilai mereka baik? Benarkah? Kenapa aku tidak yakin ya? Mereka lah penyebab aku begini! Keegoisan mereka membuat kakak ku terbunuh Sakura!"
.
.
.
.
TBC
.
.
.
tunggu dulu*
Naruto : kenapa? kenapa? KENAPA KARAKTERKU TERLALU SEMPURNA? udah ganteng, keren, kaya, pinter pula:V jarang2 loh ser aku sempurna kaya gini T.T *nangis terharu*
Seri : Naru lebay deh *tampol*
Sakura : kok disini karakter ku jadi gampang blushing kaya hinata sih? dihh ooc bnget sumpah *ngamuk*
Seri : eto Saku-chan soalnya aku bingung mau bikin karakter mu selain keras kepala dan 'kepo'an gimana lagi:"v yg aku pikirin itu tsundere jadi yaudah kaya gini deh jadi nya:"v berhubung Naru disini aku bikin layaknya Fvck boy yg suka 'ngerdus' jdi kaya nya sifat tsundere ini cocok:"v maaf klo banyak yg ga suka :"
Ino : apa bakal ada momen shikaino nanti?
Seri : mungkin iya. sebenernya niatan awal adalah bikin sakura dkk cuman sebagai pelantaran mecahin rahasia naruto sama geng misteriusnya itu cuman menurutku kaya nya ga lengkap klo ga ada momen pairnya:V btw disini ceritanya sakura dkk ga tau klo geng hebi itu temen2 naruto soalnya mereka make topeng semua kalo kiba sama naruto ga make.
Sakura : jadi bakal ada momen NaruSaku ShikaIno saling ehem2 gtu?
Seri : sperti nya iya:V
.
.
.
.
sepertinya ya kemampuan berfikirku menurun kaya apa yg babeh minato bilang ke naruto:v soalnya mampet abis nih otak buat ngelanjutin 2 fic ini padahal ada rangka nya tapi ga bisa dikembangin. maklum aku lagi patah hati karna kenyataan NaruSaku itu ga bakal canon :" kemaren2 aku nonton sad moment NaruSaku jadi nya gini:" ahh aku masih ga bisa terima keadaan apa lagi Shinachiku lebih ganteng dari pada Boruto T.T apa kah om MK masih tetep menutup mata soal pair ini?:" setiap nonton sad moment nya aku selalu nangis, maklum fansgirl garis keras:"V
apa sih kok jadi curhat? udhlah ya:"
RnR minna? mohon bantuannya untuk fic gaje ini sumpah aku bingung gimana motong scene yg bagus:"
gimana? konfliknya udh nyampe belum? penasaran ga?:v btw ada yg sempet mikir kaya apa yg sakura dkk jelasin diawal cerita soal kecurigaan mereka? atau kalian malah mencurigakan hal lain?:" tulis di review dong kecurigaan kalian:v
kira2 ada yg tau ga maksud naruto diakhir ini apa? terus kenapa? hayo bingung hayo:"V saya suka klo kalian bingung.ga:"v
17 mei 2019 - seriello
