MIANHAE

Chapter 1

"Akhirnya, aku berhasil menemukannya." Pria berambut pirang dengan tubuh yang menjulang tinggi itu membeku di tempatnya. Tangan kanannya masih menggenggam ponsel dan menempelkannya ke telinga. Tidak perlu otak secerdas Einstein untuk mencerna kalimat yang disampai seorang wanita di ujung telepon itu. Pria itu tahu―sangat tahu akan maksudnya, namun ia terlalu terkejut dengan kenyataan yang ia dengar.

"Kris?" Wanita di ujung telepon itu kembali bersuara, karena tidak mendapat respons. Nada bicaranya terdengar sedikit panik. "Kau masih disana kan? Kau baik-baik saja?"

Pria berambut pirang bernama Kris itu pun segera menyadarkan diri. "A-ah, iya. Aku baik-baik saja," balasnya cepat. "K-kau yakin itu dia?" tanya Kris memastikannya sekali lagi.

"Ya, Kris. Aku yakin, 1000%. Aku tak pernah merasa seyakin ini," balas wanita itu mantap.
Kris terdiam sejenak―lagi. Ia merenung. Seharusnya, kabar ini adalah kabar paling membahagiakan untuknya―melebihi kabar bahwa ia memenangkan tender atau bahkan berhasil menyelesaikan proyek besar bernial jutaan dollar. Seharusnya, ia senang karena ia akan segera bertemu orang yang selama ini ia cari. Namun entah kenapa, ada hal yang mengganjal di hatinya. Ada perasaan takut. Trauma itu kembali menghampirinya.

"Kris?"

"Ah, maaf, Ara. Aku kebanyakan melamun," balas Kris. "Jadi kau menemukan dia dimana? Tokyo? Osaka? Beijing? Hongkong?" tanya Kris penasaran. Ia bersikap seolah ia bersemangat dengan semua ini, padahal masih ada rasa aneh yang menghantuinya. Ia bertingkah seolah semua yang ada dalam dirinya baik-baik saja.

"Di tempat yang tak akan pernah kau duga, Kris."

"Huh?" Kris mengernyitkan keningnya. Ia heran―sekaligus bingung.

"Seoul."

.

Wanita berparas cantik dengan rambut dicat merah menyala yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih itu menghela nafas panjang. Ia baru saja mengakhiri panggilannya dengan sahabat, sekaligus bosnya. Ia baru saja menyampaikan kabar penting untuknya.

Wanita itu―Yoo Ara tahu jika Kris tidak baik-baik saja. Ara tahu jika Kris sangat terobsesi untuk mengetahui keberadaan orang yang dicarinya selama ini. Namun Ara juga tahu bahwa Kris memiliki trauma yang sangat besar pada orang tersebut. Ara juga tahu betapa Kris melewatkan 7 tahun dalam hidupnya dengan sangat berat―menjalani terapi untuk menyembuhkan traumanya.

Kris rela menghadapi ketakutannya itu lagi hanya untuk sebuah alasan yang tidak Ara ketahui.
Ara memang berteman dengan Kris sejak lama. Namun ada banyak hal yang sesungguhnya masih ditutup-tutupi Kris darinya―terutama untuk alasan yang satu ini.

Meski begitu, Ara rela berjuang mati-matian demi membantu Kris. Ara hanya tak ingin Kris mengalami penyesalan tiada akhir selama sisa hidupnya.

Ara menurunkan kaca jendela mobil yang sedang ia tumpangi. Matanya yang tertutupi kacamata itu diam-diam sedang memperhatikan seorang pemuda yang baru saja berjalan keluar dari Kyunghee University―pemuda yang selama ini dicari Kris. "Kuharap kau bisa bekerja sama―mengembalikan Kris kami seperti sedia kala."

.

"Kris." Sebuah suara berat langsung menyapa Kris saat pria jangkung itu menginjakkan kaki di rumah keluarganya yang mewah dan besar di kawasan Manhattan.

Kris menghentikan langkahnya dan mencari sumber suara yang berasal dari ruang tengah. Didapatina sang ayah yang sedang membaca buku―entah apalah judulnya. Kris segera menghampiri ayahnya dan duduk berseberangan dari ayahnya. "Ya, Ayah?"

Ayah Kris―Wu Yunho menurunkan bukunya dan bertatapan dengan putra bungsunya itu. "Kau akan berlibur ke Seoul, Nak?"

GULP!

Kris menelan ludahnya dengan susah payah. Jemari kakinya yang masih terbungkus sepatu tak bisa berhenti bergerak. Ia gugup dan gelisah. Ia tak menduga bahwa ayahnya akan mendengar berita ini secepat ini. Seharusnya, ia tak boleh meragukan kemampuan ayahnya. Meski ayahnya sudah tak aktif di perusahaan mereka, namun pria itu masih punya banyak mata-mata untuk mengawasi segalanya―termasuk anak-anaknya. "Ehm benar, Ayah." Kris harus menjawabnya dengan jujur dan tegas―setidaknya itulah petuah dari ayahnya untuk dirinya.

"Kau yakin akan pergi ke sana?" tanya Yunho. Raut wajahnya itu menunjukkan kecemasan.

Kris menatap manik mata ayahnya. Sebagai seorang anak, Kris tahu bahwa ayahnya mengkhawatirkan keadaannya. "Ya, Ayah," jawab Kris. "Aku sudah yakin untuk pergi ke sana," lanjutnya mantap.

"Untuk apa, Kris? Untuk apa?" Suara Yunho melemah. "Kau sudah punya segala yang kau inginkan disini. Ada Ayah, ada Hyungmu, ada Rachel. Kami semua ada disini untukmu, Kris," ucap Yunho dengan suara bergetar. "Apakah ini masih karena bocah itu, eh?" tanya Yunho agak murka.

"Ayah."

"Apa kau masih mencari lelaki yang sudah membuangmu dan tidak menganggapmu sebagai manusia?" Suara Yunho kembali meninggi.

"Cukup, Yah. Cukup," mohon Kris. Ia ingin menangis―namun ditahannya. "Aku lelah terus-terusan hidup dalam ketakutan seperti ini. Aku lelah Yah, lelah," ungkap Kris jujur. Kris menatap lekat-lekat ayahnya. Kris berlutut di hadapan ayahnya sambil mengenggam tangan pria itu. "Ayah, ijinkan aku kembali lagi ke Seoul. Untuk yang terakhir kalinya."

Yunho tak kuasa melihat anaknya.

"Ini demi masa depanku, masa depan Rachel dan juga Sehun."

.

"Kau yakin akan pergi ke Seoul, Hyung?" Kim Joonmyeon memperhatikan Kris―atasan sekaligus pria yang dianggap sebagai kakak laki-lakinya itu―dengan seksama.

Kris masih sibuk menandatangani berkas-berkas yang baru saja dibawa Joonmyeon ke ruangannya. "Ya," balas Kris singkat.

Joonmyeon terdiam. Meskipun ia baru mengenal Kris semenjak menjadi asisten pria itu, namun ia cukup tahu dengan masa lalu Kris. Yunho memang sengaja memilihkan asisten yang mampu menerima keadaan Kris dan memahami masa lalunya. Jadi ia cukup terkejut dengan kabar bahwa Kris akan kembali ke Seoul. Aneh dan janggal. "Apa kau sudah bersiap-siap?" tanya Joonmyeon berbasa-basi.

Kris mendesah pelan. "Secara batin?" gumamnya. "Belum, Joonmyeon. Belum." Ia memejamkan kedua mata elangnya. Bayangan masa lalunya seolah kembali terputar di otaknya setiap kali ia memejamkan matanya. Maka dari itu, Kris jarang tidur, karena ia takut akan bayang masa lalu yang siap menyerangnya saat tidur.

Joonmyeon menatap Kris dengan prihatin. "Aku yakin kau pasti bisa melakukan ini semua, Hyung. Pasti," ucap Joonmyeon menenangkan. Ia memang tak tahu, apa yang akan Kris lakukan di Seoul dan apa alasannya. Namun ia hanya berusaha meyakinkan bahwa Hyungnya itu pasti bisa melewati segalanya.

Kris membuka matanya. "Terima kasih, Joonmyeon."

.

Kris sudah berada di bandara dan sedang menunggu panggilan untuk keberangkatan pesawatnya menuju Seoul. Selama menunggu, Kris cukup disibukkan dengan beberapa e-mail yang dikirimkan Joonmyeon untuknya. Asistennya itu memang harus mengirimkan beberapa pekerjaan kantor untuknya. Bagaimanapun juga, perusahaan keluarganya harus tetap berjalan dan ia tak boleh lepas tanggung jawab. Lagipula, ia juga tak tahu seberapa lama ia akan tinggal di Seoul.

"Hei, Kris!"

Kris terkejut ketika ada seseorang yang menyebut namanya. Ia sempat berpikir bahwa 'Kris' yang dimaksud bukanlah dirinya. Namun, ia cukup kenal dengan suara itu. Suara Hyungnya yang tinggi itu. Ia mencoba mencari-cari sosok Hyungnya.

Wu Changmin―pria yang 2 cm lebih tinggi dari Kris itu sedang berlari mendekati Kris. "Bagaimana bisa kau pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan padaku eh?" omel Changmin ketika sudah berdiri di samping adiknya. Untuk saat seperti ini, Changmin terlihat sangat mirip dengan ibu Wu bersaudara yang telah meninggal―Wu Jaejoong.

Kris bangkit dari duduknya, lalu tertawa pelan. Ia menepuk pundak kakak laki-lakinya itu. "Maafkan aku, Hyung. Kau sedang di Kanada saat itu, jadi aku tak berani mengganggumu," ucap Kris menjelaskan.
Changmin menggerutu pelan―persis ibunya. "Dan kau pergi ke Seoul? Untuk apa, Kris?" Pertanyaan itu lagi.

Dan Kris membencinya. Kalau saja Changmin bukan saudara kandungnya, mungkin ia sudah menyumpal mulut pria dengan gelar food monster itu dengan puluhan burger. Kris menghela nafas berat. Seharusnya, Changmin tahu alasan Kris pergi ke Seoul. "Untuk alasan yang sama dengan yang kubicarakan padamu waktu itu, Hyung," jelas Kris.

Changmin menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. "Kau memang adikku yang paling menyebalkan, Kris," gumam Changmin.

"Itulah kenapa aku menjadi adikmu, Hyung." Kris menyengir.

Dan keduanya pun tertawa bersama. Setidaknya, perbincangan itu cukup untuk menjadi perpisahan indah bagi kakak-beradik yang sudah lama tak bertemu itu.

.

Kris sudah duduk dengan nyaman di kursinya. Ia merasa lega, karena pesawat yang ia tumpangi berhasil take off dengan baik. Cuaca saat itu juga sangat baik, sehingga penerbangan bisa dikatakan akan sangat lancar. Kris hanya tinggal menyerahkan segalanya pada pilot dan co pilot pesawat tersebut.

Kris mengambil dompetnya yang terletak di saku belakang celananya. Dompet itu memang terlihat biasa saja―mengingat bahwa Kris adalah CEO dari Wu Corporation. Namun dompet itu merupakan dompet yang spesial bagi Kris. Dompet itu adalah pemberian Sehun―orang yang sangat dicintainya. Sehun memberikan dompet itu sejak 8 tahun yang lalu. Namun, Kris masih menyimpan dan menggunakan dompet itu hingga saat ini.

Kris membuka dompetnya. Bukan uang cash atau kartu-kartu kredit yang tertata rapi yang menarik perhatiannya, melainkan sebuah foto. Foto yang menunjukkan wajah bahagia seorang Oh Sehun. Pria manis itu sedang tersenyum, sementara kedua matanya menyipit. Kris merindukan pria yang ditatapnya dalam foto itu. Sangat rindu.

Tak terasa, Kris meneteskan air matanya. "Aku akan segera mewujudkan keinginanmu, Sayang."

.

"Selamat datang di Korea Selatan, Wu Yifan." Ara menyambut kedatangan Kris dengan senyum ramahnya.

Kris tersenyum, lalu memeluk tubuh sahabat lamanya itu. "Sudah berapa lama kita tak bertemu, Ara?" tanya Kris sambil menghirup aroma tubuh wanita itu―masih sama seperti terakhir kali mereka bertemu.
Ara tertawa pelan dan melepaskan pelukan Kris. "Entahlah, Tuan Sok Sibuk," balas Ara bergurau.

"Lagipula, ini salahmu juga yang menyuruhku berkelana menjalankan misi rahasiamu itu," gerutu Ara tertawa sambil mengacak rambut Ara. "Ini misi rahasia terpenting dan terakhir dalam hidupku, Ara. Setelah itu, tak ada lagi yang rahasia," ucap Kris.

Ara terdiam. Wanita itu menatap Kris lekat-lekat. Kris selalu suka bermain kata-kata. Dan Ara yakin bahwa apa yang disampaikan Kris itu memiliki makna yang sangat berharga. Misi rahasia terpenting dan terakhir? Oke, Ara akan memikirkan hal ini lagi nanti.

"Hei, ternyata kau tetap terlihat cantik dengan warna merah ya?" puji Kris saat ia menyadari bahwa Ara mengecat rambutnya dengan warna merah menyala. "Apakah selama kembali ke Korea, kau menyamar menjadi personil girlband?" ledek Kris.

"Yak! Diam kau, Naga Bodoh!"

.

"Zeus? Apakah tidak terlalu mencolok?" Kris menatap tak suka pada brosur yang ditunjukkan Ara padanya.

Ara baru saja mengatakan pada Kris bahwa ia telah membelikan sebuah apartemen mewah dan baru di Zeus Apartments―salah satu apartemen mewah yang berada di kawasan Seoul. "Mencolok apanya?" tanya Ara heran. Ia mengambil brosur itu dari tangan Kris. "Zeus adalah apartemen idaman semua orang, Kris. Lokasinya strategis, pemandangan kota Seoul yang indah dan fasilitas kelas atas yang tiada duanya. Apanya yang kurang, Kris?" Ara menjelaskan fitur-fitur Zeus sambil menunjukkannya pada kertas brosur.

Kris menghela nafas. "Bukan begitu, Ara. Maksudku, apakah orang-orang di Zeus tidak akan bertanya-tanya, kenapa aku membeli dan tinggal di Zeus?" jelas Kris. "Bisa saja, mereka akan menyebarluaskan berita keberadaanku di Seoul kepada media dan headline di seluruh surat kabar, majalah dan portal berita akan membahas 'kenapa seorang Kris Wu tinggal di Seoul?'"

Ara melongo. Ia menjitak pelan kepala Kris. "Sejak kapan kau berubah menjadi narsis seperti ini, Wu Yifan?" tanya Ara geram. "Dengar Kris, Hyungmu memegang 73% saham di Zeus. Kau bisa bayangkan bahwa itu sudah cukup untuk membungkam mereka hm?"

"Hah? Changmin Hyung memegang saham sebesar itu di Zeus? Kenapa dia tak pernah bercerita padaku," ucap Kris heran sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Selain bodoh, kau benar-benar ketinggalan berita, Kris," gumam Ara. "Sebenarnya, apa yang kau lakukan di Amerika sana? Bermain golf? Pergi ke kasino? Menghabiskan malam dengan gadis-gadis cantik?" sindir Ara.

Kris berdecak pelan. Tentu saja, ia tak melakukan hal-hal semacam itu untuk menghabiskan waktunya. Ia hanya terfokus pada pekerjaannya dan kehidupan keluarganya―terutama Rachel. "Baiklah, baiklah. Aku mengikutimu saja," balasnya pasrah.

Ara tersenyum puas.

"O-oh ya, Ara."

"Ya?"

"Kau punya fotonya yang terbaru?" Kris bertanya dengan gugup. Segala sesuatu yang berkaitan dengan orang itu selalu membuatnya gugup, cemas dan khawatir.

Ara memperhatikan Kris untuk beberapa detik. "Tentu saja," balasnya lirih.

"Bolehkah aku melihatnya?" tanya Kris takut. Sejujurnya, ia pun masih berusaha mengumpulkan keberaniannya.

Ara mendesah pelan. "Baiklah." Ia pun merogoh tasnya yang berwarna hitam dan mengambil beberapa lembar foto yang dicetaknya kemarin. "Ini Kris." Dengan perasaan ragu, Ara menyerahkan foto-foto tersebut pada Kris.

Tangan Kris bergetar.

Ara terus memperhatikan Kris. Ia tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Kris.

Kris mulai melihat foto-foto yang diberikan Ara. Perasaan takut dan gugup itu hilang seketika, saat Kris melihat sosok dalam foto tersebut tersenyum dengan hangat―walau tidak menghadap ke arah kamera.

Itu adalah senyuman malaikat.

.

"Ini kunci apartemenmu, Kris." Ara menyerahkan kunci apartemen Kris, setelah keduanya melihat-lihat keadaan apartemen baru yang mewah itu.

Kris tersenyum. "Terima kasih, Ara," balasnya tulus.

"Aku harus pergi dulu, Kris," pamit Ara. "Jagalah dirimu baik-baik. Jika ada apa-apa, kau bisa menghubungiku, okay?" kata Ara.

Kris mengangguk paham.

"Annyeong."

"Annyeong, Ara." Kris pun menutup pintu apartemennya, setelah Ara pergi keluar. Kris menghela nafas panjang. Seluruh perjuangannya selama ini akan segera terbayar. Ia sudah berjalan cukup jauh dan akan segera mencapai garis finish yang diimpikannya. Dan setelah ia mencapai garis itu, Kris tak akan lagi berjalan sejauh ini. Ia hanya ingin hidup dengan damai dan tenang.

Kris berjalan menuju kamar tidur utama yang akan menjadi kamarnya sekarang. Apartemennya itu terdiri dari beberapa kamar. Kris sempat berpikir bahwa apartemen yang dipilihkan Ara untuknya terlalu berlebihan. Namun setelah dipikir lagi, sepertinya apartemen ini cukup untuk mendukung misinya.
Kris mengambil ponselnya dan menekan beberapa tombol. "Halo, Ayah? Aku sudah tiba di Seoul dengan selamat."

.

Kris melambatkan laju mobil Ferrarri milik Ara. Sesungguhnya, Kris malas mengemudikan mobil Ara yang terlalu mencolok. Ia lebih menyukai mobil-mobil pribadinya―Rolls Royce atau Audi. Namun, berhubung hanya mobil itulah yang tersisa di garasi mobil Ara, maka Kris yang akan memakainya selama ia berada di Seoul. Lagipula ia juga malas untuk bepergian dengan transportasi umum.

Kris menghentikan mobilnya di salah satu lapangan parkir yang dimiliki oleh Kyunghee University. Lapangan parkir yang berada di kawasan jurusan seni. Kris menurunkan kaca jendela mobilnya dan memperhatikan mahasiswa-mahasiswa yang berlalu lalang di sekitarnya. Ia memperhatikan mereka dan berusaha mencari orang itu―pemilik senyuman malaikat.

Kris memutuskan untuk turun dari mobilnya. Setelah memastikan bahwa ia sudah mengunci mobilnya, Kris pun berjalan mendekat ke gedung utama jurusan seni. Seperti yang Ara katakan, si pemilik senyuman malaikat itu kuliah di Kyunghee University jurusan seni. Kris berharap jika hari itu juga, ia bisa bertemu dengan orang yang dicarinya sejak lama ini. Dan jika ia tak bisa bertemu hari itu, mungkin Kris akan mencobanya lagi di hari-hari esoknya.

Langkah kaki Kris terhenti ketika ia melihat seorang pemuda yang berjalan mendekat ke arahnya.

Sepertinya pemuda itu tak menyadari keberadaan Kris, karena matanya tertuju pada buku yang sedang dibacanya. Tanpa melihat wajahnya pun, Kris tahu bahwa pemuda itu adalah orang yang dicarinya. Postur dan gestur tubuhnya sudah menjelaskannya dengan baik.

Tubuh Kris bergetar pelan. Rasa gugup itu kembali menjalari dirinya. Matanya tak bisa beralih dari sosok yang semakin dekat dengannya itu.

Entah merasa diperhatikan atau apa, pemuda itu berhenti tepat di hadapan Kris. Kepalanya terdongak. Matanya membulat ketika ia menatap mata elang milik Kris. Tubuh pemuda itu juga bergetar. "K-kau?"

TBC

Hayoloh! Maaf dipotong gitu aja wkwk. Udah bisa nebak belum, itu yang lagi dicariin Kris siapa? Aku sengaja nggak ngasih clue apapun, biar kalian nebak-nebak aja hehe.

Sebenernya, ini bukan chapter 1 yang aku rencanain. Karena awalnya, aku mau bikin chapter 1 yang nyeritain masa lalu Kris. Tapi aku nggak dapet feelnya dan ngeganti plotnya -_-v Lagian, aku lebih suka ngasih teka-teki buat readers wkwk. /nyengir gaje/ /ditimpuk/

with love,

rappicasso