End of Holiday
Imja-do..
Minseok memandang keluar jendela rumah pamannya yang berada di Imja-do. Pikirannya menerawang, entah kemana. Ia tidak menyadari bibinya, Seo Joohyun terus memperhatikannya. Bibinya menepuk lembut pundak Minseok, membuat lamunan Minseok buyar.
"Ada apa Min? Sepertinya kau sedang banyak pikiran." tanya Joohyun. "Tidak bi, hanya sedang menghitung hari, ternyata beberapa hari lagi aku dan si kembar harus kembali ke sekolah." jawab Minseok. "Kembali ke sekolah ya... Memang kamu tidak sedang, Min? Apa Sehun masih mengganggumu dan kembar?" tanya bibinya yang kini mulai memainkan rambut Minseok. Minseok menggeleng. "Baguslah kalau begitu. Hmm.. rambutmu sudah panjang, Min. Tidak mau digunting? Dulu kau tidak betah jika rambutmu sudah sebatas bahu. Sekarang malah rambutmu sudah sepunggung." "Tidak usah bi.." jawab Minseok. 'Sehun melarangku untuk memotong rambut' lanjutnya dalam hati.
Bibinya hanya tersenyum. Kini ia malah mulai menata rambut Minseok. "Rambutmu indah, Min. Seperti ibumu, rambut Jinwoo juga. Ahh.. bibi ingat, bibi sering menata rambut ibumu jika sedang waktu senggang. Sambil menunggu ayah dan pamanmu pulang."
"Bibi, maaf... Karena kami, bibi dan paman yang harusnya bisa hidup tenang di Busan sekarang malah harus pindah kesini." Minseok menunduk, ia menahan tangis. "Semuanya itu takdir, Min. Bibi dan paman memang buta tentang dunia sihir. Tapi, bibi percaya satu hal, dimanapun ibumu berada, hidup atau mati, ia pasti tidak mau melihat anaknya hidup dalam ketakutan dan rasa bersalah seperti ini. Ibumu telah membuat keputusan di masa mudanya, dan sayangnya hal itu ditentang oleh keluarganya hingga berakibat seperti ini. Apa ibumu menyesal membuat keputusan untuk menikahi ayahmu dan melahirkan 3 orang anak yang adorable seperti kalian? Bibi rasa tidak. Ibumu malah akan menyesal kalau kalian tidak hidup dengan baik." ceramah Joohyun panjang-lebar. Minseok menganggukkan kepalanya. Joohyun mengecup dahi Minseok, "Bibi tinggal, oke? Bibi mau mengantarkan makan siang untuk paman dulu. Jinwoo sedang ada di kamarnya, ia sedang menelpon sahabatnya, Yixing. Jongdae juga ada di kamarnya, sedang membersihkan sapu terbangnya." ujar Joohyun. Minseok mengangguk.
.
Guangzhou, The Wu's Mansion
"Tidaak, siapa yang tetarik dengannya?"
"Tentu saja, kau tuan Oh."
"Ck, yang benar saja Wu. Aku? menyukai wanita itu? Cih, lebih baik Luhan. Setidaknya dia tidak sekaku si gendut itu. Sesekali kau harus mencoba untuk mengerjai Ravenclaw itu." jawab Sehun.
Yifan memukul kepala Sehun. "Panggil aku kakak, brat. Kau yakin hanya mengerjai Minseok untuk bersenang-senang? Daan.. aku bingung, kenapa Minseok tidak melawan sama-sekali.." ujar Yifan.
"Bukan urusanmu, kakak. Sudah, kau urusi saja Xi wanita itu. Lama-lama kelakuannya mengganggu." ujar Sehun dengan nada yang mengejek.
"Sial! Hei tuan Oh, Xi wanita itu kan jodohmu. Kenapa harus aku yang mengurus. Cih, menjijikkan. Bukannya tadi kau bilang lebih baik Xi wanita itu daripada Minseok?"
"Kau pikir aku setuju? Bukankah Xi itu berpacaran dengan Shim? Anak guru Astronomi itu. Dan Wu, jika aku disuruh memilih antara keduanya, aku memilih Xi daripada si Ravenclaw gendut itu. Melihat si gendut itu terlalu lama di hadapanku saja sudah membuat mataku sakit."
"Xi itu terlalu bodoh untuk memperhatikan Jongin. Dia malah sibuk mengejar-ngejar cinta Jongdae. Padahal Shim itu jelas-jelas menyukainya, dan Jongdae adalah matchmakernya. Mengataiku bodoh. Padahal dia yang lebih bodoh." gerutu Yifan.
"Ck, kalian berdua menggosip seperti wanita saja." ujar Baekhyun yang baru keluar dari kamarnya.
"Oh ya kak, aku dengar si Jung tertua itu sudah ditawarkan untuk menjadi Auror di kementrian Sihir London, bukan Beijing. Semoga tidak sampai terdengar oleh mama dan papa. Matilah kita kalau mama dan papa tahu, kak."
"Tidak, si Jung tertua itu tidak akan menjadi Auror, baik di London atau di Beijing. Kupastikan itu nona Baekhyun." ujar Sehun.
"Cih, sok sekali gayamu, Oh. Pelajaran meramal saja nyaris tidak lulus. Ini malah mencoba-coba untuk meramal masa depan milik si Jung tertua itu."
"Mau taruhan, nona?" tantang Sehun.
"Tidak, terima kasih. Kak, aku pergi ke rumah Kyungsoo dulu. Bye" pamit Baekhyun.
Setelah memastikan Baekhyun pergi, Yifan langsung menarik Sehun. "Ada hubungan apa antara dirimu dan Minseok?" tanya Yifan.
Sehun hanya menjawabnya dengan sebuah smirk.
.
Gangnam, Seoul. The Kim's Mansion.
Baekhyun terlihat sedang membersihkan bajunya dari bubuk floo. Di hadapannya sudah ada kedua anak gadis Kim, Joonmyeon dan Kyungsoo.
"Hei.. Jadi, kemana tujuan kita?" tanya Baekhyun.
"Kita ke Yamanashi, Jepang. Ada acara peluncuran koleksi terbaru brand 'Jinx', kudengar brand itu bagus. Terkesan vintage dan gothic jika dipakai di dunia muggle. Tapi, terlihat bagus untuk dipakai di dunia sihir." jelas Joonmyeon panjang lebar.
"Lalu? Kita berangkat dengan apa?" tanya Baekhyun.
"Itu, papa sudah menyiapkan portkey untuk kita." ujar Kyungsoo sambil menunjuk sebuah tas yang sudah diubah menjadi portkey oleh ayahnya.
.
Hanam-si. The Hong's Mansion
"Taehyun, cepat bersiap-siap. Hari ini kita ke rumah keluarga Kang."
"Untuk apa, bu?"
"Jangan banyak tanya. Cepat ganti pakaian dan berdandan yang cantik. Ini acara spesial. Jangan mengenakan bahan beludru, kenakan satin. Aku tidak mau bubuk floo mengotori bajumu."
'Haruskah kalian bersikap sedingin itu padaku?' ujar Taehyun dalam hati. Ia melangkah ke kamarnya. Mencari baju berbahan satin terbaik yang ia punya. Pilihannya jatuh kepada gaun satin panjang berwarna biru tua dengan model u can see. Untuk menambah kesan mewah dan sopan, ia menambahkan selendang sutra berwarna sama untuk menutupi bagian atas baju yang sedikit terbuka dan menyematkan bros berbentuk bunga lily perak, agar selendang yang dipakainya tidak jatuh. Taehyun mematut dirinya di cermin, ia memoleskan make-up tipis untuk menutupi kulit pucatnya.
Dari pantulan cermin, Taehyun melihat ibunya, Lee Soohyuk sedang memasuki kamarnya. Ibunya langsung mengambil sisir dari tangan Taehyun dan mulai menata rambut anak gadisnya itu. Setelah selesai, pasangan ibu-anak itu sama-sama menatap cermin. 'Kau akan menjadi istri yang cantik, nak. Seungyoon beruntung mendapatkanmu.' bisik ibunya.
.
Busan. The Kang's Mansion
"Kakak.. Kak Seungyoon.. Kak, bangun.." Ujar adik Seungyoon, Seulgi sambil menggoyang-goyangkan tubuh kakaknya.
"Berisiik!"
"Kak, Master memanggilmu. Kau harus bangun, nanti aku dihukum lagi.." ujar adiknya itu.
"Aaahh.. Pergi sana, squib sialan!" Teriak Seungyoon. Ia melempar adiknya itu dengan bantal. Moodnya hancur saat itu juga. Ia masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka sebelum turun untuk menemui ayahnya.
Ketika ia turun, ia melihat adiknya bersama para peri rumah lain sedang membersihkan ruangan. Ia melihat ayahnya sedang mengawasi pekerjaan peri-peri rumah itu.
"Ada apa?"
"Kau, bersiap-siaplah. Tiga jam lagi kita akan kedatangan tamu."
"Siapa?"
"Keluarga Hong. Dengan anak gadisnya, Taehyun. Dia satu grade denganmu. Asrama Slytherin. Kau mengenalnya?"
Seungyoon hanya menggeleng. Ia memang bukan orang yang peduli pada sekitarnya. Tapi, ia pernah mendengar nama Taehyun. Seungyoon berusaha mengingat-ingat nama yang terdengar lumayan familiar itu. Hingga akhirnya ia menyerah dan lebih memilih untuk bersiap-siap.
Seungyoon keluar dari kamarnya ketika Seulgi kembali memanggilnya. Ia langsung menemui ayahnya di ruang perpustakaan. Disana, terlihat ayahnya sedang berbincang dengan tiga sosok yang tidak ia kenal. Pandangan matanya tertuju pada gadis muda bergaun biru tua yang terlihat canggung berada di tengah-tengah para orang tua. 'Ah.. pasti itu Taehyun, pikirnya.'
Seungyoon menghampiri ayahnya. Ia lalu memberi salam pada ketiga orang yang ia yakini sebagai keluarga Hong itu. Setelah itu, ia langsung mengambil posisi tepat di sebelah ayahnya. Pembicaraan yang tertunda antara kedua keluarga itu kembali berlanjut. Seungyoon dan Taehyun yang tidak tertarik dengan segala pembicaraan mengenai pernikahan hanya memberi tanggapan sekedarnya. Sadar akan tanggapan dari Seunghoon dan Taehyun yang setengah-setengah, Seunghyun, ayah Taehyun menyuruh Seungyoon untuk mengajak Taehyun berkeliling mansion. Sebagai anak yang baik, Seungyoon menuruti ucapa ayahnya dan mengajak Taehyun keluar ruangan.
Setelah diluar ruangan, Seungyoon mengajak Taehyun menuju lobby utama rumahnya.
"Dengar, Hong. Aku tidak peduli kau ingin berkeliling kemana. Aku ingin pergi ke kamar. Satu jam lagi kutunggu kau di ruangan ini." ujar Seungyoon dingin. Setelah itu, Seungyoon langsung meninggalkan Taehyun sendirian di ruangan itu.
Taehyun menghela napasnya. Ketakutannya terbukti. Ya, ia takut dengan sikap dingin yang akan diterimanya nanti. Ia tidak mau menjadi mayat hidup, dan ia tidak mau anaknya nanti bernasib sama sepertinya. Ia takut anaknya akan menjadi boneka hidup, ia takut ketika anaknya besar nanti, anaknya akan menyadari kalu cinta yang ia dapatkan dari kedua orangtuanya hanya sebuah formalitas.
"Kak Seungyoon baik. Kak Seungyoon bukan orang jahat." ujar sebuah suara. Taehyun kaget dan sontak melihat ke sekeliling, mencari sumber suara itu. Tatapan melembut setelah menemukan sesosok gadis cantik dari balik patung.
"Kau tau darimana Seungyoon bukan orang jahat, hmm?" tanya Taehyun.
"Kak Seungyoon benci Seulgi. Seulgi buat ibu mati. Ibu mati gara-gara Seulgi. Semua salah Seulgi." bisik suara yang semakin lama semakin mengecil karena ketakutan itu.
"Bisa kau tampakkan dirimu, Seulgi. Aku tidak memukul, kok." bujuk Taehyun.
Terlihat dengan jelas, gadis bermata kecil dengan single eyelids dan kulit yang putih pucat.
Taehyun mendekati gadis itu. Tapi, gadis itu, Seulgi malah menjauh. Mengerti kebingungan Taehyun, Seulgi mulai angkat bicara, "Jangan dekat-dekat Seulgi. Nanti sial." "Seulgi, dekat atau tidak hasilnya akan sama. Aku memang sudah sial. Seulgi, kenapa tidak ke Hogwarts?" tanya Taehyun.
"Seulgi tidak bisa sihir."
"Aaah.. Seulgi squib? Seulgi sedang apa?"
"Bersih-bersih sama peri rumah lain. Kakak mau ikut?" tanya Seulgi.
Taehyun lalu mengikuti Seulgi. Selama mengikuti Seulgi, otaknya tertuju pada satu nama, Kwon Mino. Pria yang tidak pernah berhenti mengejarnya. Taehyun ingat beberapa kali ia mendengar keinginan Mino untuk memiliki adik perempuan. Well, tanpa bermaksud menguping pembicaraan Mino dan sahabat-sahabatnya. Salahkan omongan para Gryffindor itu yang terlalu besar. Tanpa terasa Taehyun sudah satu jam bersama Seulgi.
Mereka berdua mendengar langkah kaki dari kejauhan, Seulgi langsung berbisik 'itu kakak' dengan pelannya. Gadis itu langsung bergegas untuk sembunyi dibalik patung. Tapi, Taehyun menahan tangan gadis itu. Ia penasaran dengan reaksi Seungyoon.
Seungyoon terkejut melihat tangan Taehyun yang sedang mencegah adiknya untuk bersembunyi. Mukanya terlihat tidak senang, membuat Taehyun tersenyum puas. Ia mengetahui kelemahan Seungyoon.
Tangan Taehyun langsung ditarik paksa oleh Seungyoon. Lalu, Seungyoon mulai memaki-maki Taehyun.
"Kau! Jalang sialan!"
"Ha? Kenapa? Kau marah kalau adikmu squib? Kau malu?"
"Jangan ikut campur dengan urusanku, Hong!"
"Terserah! Tapi, kurasa lebih baik kau bebaskan adikmu. Aku tau orang yang akan merawatnya dengan baik. Adikmu pasti bahagia bersama keluarga orang itu." ujar Taehyun. Ia langsung meninggalkan Seungyoon yang masih emosi.
.
Fuji-Q Highland Amusement Park, Japan.
"AAAAAAAAHHH... AAAAAAAHH.. AAAAAAAAHH.. OPPAAAAA.. OPPAAA.." teriak Seunghoon ketika menaiki wahana roller coaster.
"Merlin.. Merlin.. Dumbledore.. Gryffindor.." racau Tao.
Mino tertawa-tawa melihat penderitaan kedua sahabatnya itu. Saat ini, trio muggleborn itu sedang asyik menikmati hampir semua wahana permainan di Fuji-Q Highland Amusement Park, salah satunya adalah roller coaster yang sedang mereka naiki. Setelah turun dari wahana yang super menegangkan itu, Seunghoon dan Tao terlihat pucat. Berbanding terbalik dengan Mino yang malah sibuk menertawai tingkah sahabatnya itu.
Setelah itu, mereka mencari makan. Mengabaikan wajah kedua sahabatnya yang masih pucat, Mino malah berujar, "Lain kali kita harus ajak Jongdae, Jongin dan Chanyeol naik wahana itu," Mino menunjuk roller coaster yang tadi mereka naiki. Keduanya, Seunghoon dan Tao sontak menggeleng, kapok untuk menaiki wahana itu lagi.
"Kenapa? Itu kan seru.. Apalagi ketika Kak Seunghoon teriak 'oppaaa.. oppaaa' hahaha.. memangnya Kak Seunghoon itu perempuan?"
"Yaah! itu refleks tau! Daripada aku meracau tidak jelas.. salah-salah nanti aku malah mengucap mantra untuk memberhentikan waktu." Seunghoon memukul kepala Mino. "Ayo ke hotel, acara ibuku akan mulai satu jam lagi." ujar Seunghoon.
Mino dan Tao memang sengaja pergi ke Jepang untuk menghadiri acara yang diadakan oleh ibu Seunghoon, Lee Chaerin. Sebenarnya Seunghoon juga mengundang Jongdae, Chanyeol dan Jongin untuk menghadiri acara itu. Sayang ketiganya tidak bisa hadir.
Mereka memasuki venue tempat diadakan acara peluncuran koleksi terbaru 'Jinx'. Jinx sendiri adalah nama clothing line milik ibu Seunghoon. Disana, ketiga pria itu sibuk memperhatikan sekeliling. Hingga pandangan mereka bertemu dengan tiga orang yang sangat familiar, Kyungsoo, Joonmyeon dan Baekhyun.
Seunghoon langsung menghampiri ketiga gadis yang tampak seperti orang kebingungan itu. Ia menyapa ketiganya, bermaksud menanyakan urusan mereka disini.
"Kim, Wu.. Apa yang sedang kalian lakukan disini?" tanya Seunghoon tanpa basa-basi. "Tentu saja melihat-lihat. Kami bermaksud membeli baju dari brand ini. Kau puas? Daan.. untuk apa kau kesini?" tanya Baekhyun balik. Nada suara Baekhyun terdengar kesal. "Aku? Tentu saja aku disini. Jinx itu brand clothing line milik ibuku. Kalian puas?" ujar Seunghoon, membuat Baekhyun terdiam.
"Aaah.. Dan, selamat datang bagi kedua anak Menteri Sihir Kim Yesung. Aku merasa sangat terhormat acara sederhana ibuku ini didatangi oleh kalian." ujar Seunghoon lagi dengan nada yang mengejek.
Seunghoon sebenarnya tidak memiliki masalah pribadi dengan Kyungsoo dan Joonmyeon. Tapi, sikap Kyungsoo dan Joonmyeon di sekolah yang membuat ia tidak menyukai kedua gadis itu. Di matanya, Joonmyeon terlalu menjaga image sempurna sebagai anak dari Menteri Sihir. Sedangkan Kyungsoo, gadis itu sebenarnya gadis yang cantik di mata Seunghoon. Tapi, gadis itu terlalu fokus pada rasa benci yang dimilikinya, hingga membuat wajah gadis itu, Kyungsoo lebih sering terlihat muram.
.
Haidian, Beijing. The Xi's Mansion
"TIDAK MAUUU! LEBIH BAIK AKU MATI DARIPADA MENIKAH DENGAN BOCAH SIALAN ITU!"
"Luhan, jaga bicaramu!" tegur Xi Liyin, ibunya.
"Aku tidak suka dengan bratty kid macam Sehun, bu. Dia itu sering membully sahabatku, Minseok dan kedua adiknya." Luhan tetap keras kepala.
"Makanya, kau harus bisa menjinakkan Sehun. Kau harus menuntunnya agar bisa menjadi pria yang lebih baik, Lu."
"TIDAK MAU! POKOKNYA AKU TIDAK MAU DIJODOHKAN DENGAN SEHUN. IBU PIKIR AKU PAWANG? AKU INI SEEKER TERBAIK DI HOGWARTS, BU. BUKAN PAWANG MANUSIA MACAM SEHUN! POKOKNYA BATALKAN PERTUNANGAN INI!"
"Baik kalau itu maumu.." ujar Liyin, tegas. Luhan mulai menyeringai. "Tapi, ada satu syarat.." ujar Liyin lagi. Seringai di bibir Luhan mulai memudar.
"Jika kau ingin membatalkan pertunanganmu dengan Sehun, kau harus membawa kekasihmu, atau orang yang ingin kau nikahi ke hadapanku. Terserah statusnya, entah Muggle-born, Half-blood atau Pure-blood. Ibu tidak peduli. Batas waktunya sampai upacara kelulusanmu-" ujar Liyin. Luhan terlihat ingin memotong omongan ibunya.
"Dan ini final, Luhan." putus Liyin.
Hogwarts, London.
Jongin terkagum-kagum melihat desain baru Hogwarts di London. Bukan, Hogwarts yang ini berbeda dengan sekolahnya, ini adalah Hogwarts yang asli. Karena ketika selesai perang besar, Hogwarts butuh sebuah tempat untuk belajar dan asrama bagi para murid-muridnya. Dengan kehancuran besar setelah peperangan, sulit untuk mengembalikan semuanya dalam waktu semalam. Hingga akhirnya, para guru Hogwarts yang tersisa saat itu menemukan sebuah sekolah sihir kecil tanpa nama di tengah gurun Taklamakan, Tiongkok. Dan, akhirnya kedua sekolah itu melakukan kerjasama. Itulah asal mula terbentuknya Hogwarts di wilayah Asia.
Jongin berlari menyusuri lorong-lorong Hogwarts London, ia mencari ibunya dan principal Park yang sedang berada di ruangan kepala sekolah. Setelah tepat di hadapan patung gargoyle, ia langsung terdiam. Ia lupa password agar bisa naik ke atas. Jongin bolak-balik di hadapan ruangan kepala sekolah, ia bosan.
Merasa mendapat tepukan di bahu, Jongin sontak membalikkan badannya. Ia melihat sesosok pria tinggi dan berambut coklat di hadapannya. Pria itu menyodorkan tangannya.
"Aku Teddy Lupin. Guru Defense Against Dark Arts di Hogwarts."
"Aku Jongin, Shim Jongin. Murid kelas 5 di Hogwarts."
"Asia?" tanya pria yang bernama Teddy itu. Jongin mengangguk. "Wow.. Asrama apa? Apa kau bermain quidditch?" tanya pria itu. "Gryffindor. Ya, posisiku chaser." "Nanti asramamu harus melawan pemain-pemain quidditch terbaik sini. Yaah, meskipun mereka rata-rata keponakanku." ujar pria itu, santai. Jongin kaget, ia baru menyadari pria yang berdiri di hadapannya adalah anak dari Remus Lupin dan Nymphadora Tonks, salah satu pahlawan di perang Hogwarts berpuluh-puluh tahun yang lalu.
Tidak lama kemudian, Jongin melihat ibunya keluar dari ruang kepala sekolah. Ia menghampiri ibunya, sedangkan ibunya malah menyapa Teddy Lupin, pria yang tadi berbincang singkat dengannya.
"Ah, Teddy Lupin? Well, sampai bertemu di Hogwarts kawasan Asia"
"Ah.. sebuah kehormatan bagiku untuk mengunjungi Hogwarts disana. Dan ya, sampai bertemu disana Nyonya...?"
"Shim, Shim Taemin. Atau kalau di sekolah kau akan mengenalku sebagai guru Lee."
'Jongdae, Chanyeol, Mino, Seunghoon, Tao, dan Kak Luhan harus tau' pikir Jongin.
.
Incheon, The Kim's mansion.
Chanyeol mengelilingi mansion milik keluarga ibunya. Sebenarnya ia tidak berkeliling, hanya sedang mencari keberadaan ibunya. Akhirnya Chanyeol menemukan ibunya yang sedang berada di kamar bibinya, Jaejoong. Bibi Jaejoong adalah kakak ibunya, dan menurut kabar yang ia dengar dari keluarga Kim lain (kecuali Kim Heechul, sang guru transfigurasi dan ibunya), bibi Jaejoong itu tidak waras alias gila. Ketika ia menanyakan hal ini pada ibunya, sang ibu malah balik mengomelinya.
Oh ya, jangan kaget jika banyak menemukan nama keluarga Kim. Keluarga Kim sendiri adalah keluarga bangsawan tertua di wilayah Asia. Selain keluarga Kim, ada juga keluarga Park, Kang, Shim dan Oh. Kelima keluarga inilah yang merupakan keluarga bangsawan tertua di wilayah Korea, seperti keluarga Wu dan Xi dari China. Chanyeol sebagai pemilik darah bangsawan tertinggi dari ayah dan ibunya, tentu banyak diincar oleh para gadis-gadis untuk menjadikan salah satu dari mereka istri. Siapa yang bisa menolak pesona anak hasil keluarga Park dan Kim? Terlebih setelah kakak tertua ayahnya, Park Jungsoo memutuskan untuk mengabdi pada Hogwarts dengan menjadi kepala sekolah. Otomatis, ayahnya adalah pemilik sah semua aset milik keluarga Park.
Chanyeol menghampiri ibunya yang sedang terlibat pembicaraan serius dengan bibi Jaejoong. Sesekali ia mendengar kata 'Cruciatus', 'menghilangkan jejak', 'Obliviate' bahkan Chanyeol bersumpah ia mendengar nama Jongdae dan kedua kakaknya disebut. Ia akhirnya menyapa ibunya.
"Bu.."
Ibunya terlonjak kaget. "A-a-ada apa, Yeol?"
"Tidak, hanya penasaran. Kenapa ibu serius begitu bicara dengan bibi. Memang ibu sedang bicara apa?"
"Tidak.. tidak ada yang serius kok."
"Bohong! Tadi aku dengar ibu bicara tentang Jung bersaudara. Mereka kan temanku bu. Terutama Jongdae. Ada apa dengan mereka? Apa maksudnya? Apa hubungannya dengan kematian Auror Jung Yunho dan Bibi Hyun-" tiba-tiba Chanyeol tidak sadarkan diri.
"Maafkan ibu, Yeol." bisik Junsu. "Lakukanlah, Junnie.." ujar Jaejoong.
"Obliviate."
.
Imja-do
"Kak, unforgivable curse itu apa? Jongdae tidak mau menjawab pertanyaanku." tanya Jinwoo yang memasuki kamar kakaknya tanpa permisi.
Minseok menoleh ke arah Jinwoo.
"Kaak.." rengek Jinwoo.
"Itu kutukan yang tidak termaafkan. Akibatnya bisa merugikan, bahkan menyebabkan kematian bagi orang yang terkena rapalan mantranya." jelas Minseok singkat.
"Aah.. Avada Kedavra itu masuk unforgivable curse kan? Mantra yang mengenai ayah waktu itu."
"Itu adalah mantra yang menyebabkan kematian bagi orang yang terkena matra itu. Ya, seperti ayah yang terkena mantra itu." "Terma kasih kaak.. aku mengerti sekarang. Aku mau menelpon Yixing lagi."
"Oh.. Jinwoo." panggil Minseok. "Ya kak?" "Jongdae dimana?" "Tadi kulihat dia ada di dekat pintu masuk hutan, kak. Sehabis membantu paman Yonghwa mengangkat ikan dia langsung kesana." jelas Jinwoo.
Minseok mengambil jaket dan bergegas menuju tempat yang dimaksud Jinwoo. Disana, ia menemukan Jongdae yang sibuk membaca sebuah buku tebal.
"Mempelajari animagus lagi?" tanya Minseok. Jongdae mengangguk. "Kau tidak mau bertemu ibu, kak?" Jongdae bertanya balik. "Tentu saja aku mau. Tapi, kau yakin ibu masih hidup?" "Masih.. Aku jamin itu." "Jangan bercanda, Dae.. Ibu terkena kutukan Cruciatus berkali-kali. Kalaupun masih hidup apa dia masih ingat kita?"
"Kalau itu aku tidak tahu. Kalau ibu masih hidup atau tidak aku tau. Ibu masih hidup. Ibu dikurung di Mansion Kim di Incheon. Ibunya Chanyeol ternyata adik ibu, kak. Bibi Junsu. Kakak ingat kan? Ibu pernah bercerita pada kakak tentang saudaranya yang masuk Gryffindor. Chanyeol sering bilang padaku kalau muka kakak dan Jinwoo kadang mengingatkannya pada bibi Jaejoong, kakak kesayangan ibunya. Terutama bibir plump dan mata rusa Jinwoo." jelas Jongdae.
"Lalu?"
"Saat aku coba memasuki pikiran Chanyeol. Sayangnya aku tidak bisa menemukan jejak ibu. Hanya pada batas pintu masuk mansion Kim dan beberapa hal random lain. Kurasa ada yang memodifikasi memori Chanyeol. Entah ibu atau ibunya Chanyeol sendiri."
"Kau menggunakan Legilimens pada sahabatmu sendiri? Kau gila, Dae."
"Kalau tidak begitu bagaimana kita bisa bertemu ibu? Chanyeol harapan kita satu-satunya. Hanya dia yang aku yakin pernah berinteraksi secara langsung dengan ibu. Dan kak, Occlumensmu terlalu kuat. Bahkan guru di Hogwarts tidak ada yang bisa membobolnya. Ada hal yang kakak sembunyikan. Iya kan? Semenjak kejadian yang melibatkan si ice prince itu. Occlumensmu semakin kuat dari hari ke hari."
Minseok kaget mendengar ucapan Jongdae. "Bisakah kita tidak usah membahas itu? Dan, kumohon Dae, berhenti memasuki pikiranku."
"Apa bentuk animagusmu?" tanya Minseok, memecah keheningan.
"Kalajengking. Kakak?" tanya Jongdae.
"Sesuatu yang memiliki dua gigi besar di depan. Entah kelinci atau tupai." jawab Minseok.
Hening. Tidak ada pertanyaan-pertanyaan lagi. Jongdae kembali sibuk dengan buku Animagusnya dan Minseok sibuk memandangi laut. Hingga pada akhirnya Jongdae memecah keheningan.
"Sehun.. Apa yang kakak lakukan dengan Sehun di kamar kebutuhan?" tanya Jongdae tiba-tiba.
Minseok panik, "Sudah kubilang jangan memasuki pikiranku secara sembarangan Jongdae!"
Minseok langsung berlari meninggalkan Jongdae. Membuat adiknya itu penasaran dengan hal yang disembunyikan kakaknya. Jongdae mencatat dalam hati untuk selalu mengawasi kegiatan kakaknya selama di Hogwarts.
Minseok kembali memasuki kamarnya. Ia kemudian menutup matanya. Hingga akhirnya istirahanya terganggu karena gedoran keras di pintu serta pekikan adiknya, Jinwoo.
"Kakaaaak.. Maaf aku mengambil Daily Prophet kakak. Tapi kak, kakak dan Jongdae harus lihat ini. Ayo kak, keluar. Jongdae sudah disini juga." pekik Jinwoo dari luar kamar.
Dengan malas, Minseok langsung keluar kamar. Ya, dia memang belum sempat melihat Daily Prophet edisi terbaru miliknya. Bahkan melihat covernya saja belum. Ia penasaran dengan berita yang membuat adiknya seheboh itu.
Tanpa banyak bicara, Jinwoo langsung menyerahkan Daily Prophet itu ke tangan kakaknya. Di sampul depan koran itu, terpampang foto Luhan, sahabatnya dan.. Sehun. Berita itu sebenarnya biasa saja, hanya mengenai perjodohan yang dilakukan oleh dua keluarga bangsawan tertua di dunia sihir. Tapi, yang membuat segalanya menjadi heboh dan mengejutkan di mata Jinwoo adalah pelakunya. Sehun, orang yang tidak pernah berhenti mengganggu hidup dirinya dan kedua saudaranya. Lalu, Luhan, gadis cantik yang sering membela mereka. 'Dunia sihir sudah gila' begitu kira-kira isi pikiran Jinwoo.
Lain dengan Jinwoo, Jongdae sibuk memperhatikan perubahan wajah sang kakak, Minseok. Minseok terlihat lega, sekaligus tampak sakit hati di mata Jongdae. Tapi, dengan cepat ekspresi wajah Minseok berubah. Jongdae semakin curiga dengan sikap kakaknya itu.
Minseok lega, ia lega mendengar kabar perjodohan Luhan dan Sehun. Tapi, ia bingung, hatinya terasa sakit saat melihat tatapan penuh cinta Sehun ke Luhan yang tampak cantik dengan minidress bermotif floral. Ia mengembalikan koran itu ke tangan Jinwoo. "Kenapa terkejut, hm? Wajar kan mereka dijodohkan. Mereka sama-sama berasal dari keluarga bangsawan." tanya Minseok. "Wajar sih kak. Tapi... Ah, sudahlah. Semoga anak mereka nanti mewarisi sifat baik Kak Luhan." ujar Jinwoo.
'Anak, ya..' pikir Minseok. "Iya, Semoga.. Kakak mandi dulu. Kalian mandi sana, dan Jinwoo.. Jangan menelpon Yixing terus, kasihan bibi, membayar tagihan telepon yang membengkak setiap kita liburan." ujar Minseok yang langsung meninggalkan kedua adiknya itu.
"Kakak agak aneh. Ya kan, Dae?" tanya Jinwoo secara random. "Hmm.. Biarkan saja dulu, nanti kalau kakak siap, kakak pasti cerita." ujar Jongdae.
