Miss Office Girl Tajir Season II

Summary : 'OMG.' Batin Naruto merana, mengingat kertas laknat yang diterimanya tadi pagi. Ia nyaris tak percaya kalo saja ia tak mengkonfirmasi pada petugas yang bersangkutan. Kaki Naruto seperti tak menapak tanah begitu mendengar jawaban 'Iya' dari petugas yang diteleponnya. Dan sekarang Itachi bilang, 'tak mau tahu?' ItafemNaru, SasufemNaru.

DISCLAIMER : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto

Genre : Romance dan Friendship

Rating : T

WARNING : FEMNaru, OOC, Bertebaran typo, hasil SKS, tak sesuai EYD, bikin kepala pening, gaje and many mores.

Pair : ItafemNaru, SasufemNaru, KisafemNaru

Author Note :

Syukurlah ternyata masih banyak yang menunggu kelanjutan fic gaje ini. Kirain udah ditinggal dan nggak mau nengok lagi. Maafkan Ai yang lelet updatenya, cos Ai nyicil ngerjainnya. Tiap hari paling banyak 6 halaman. Yah, sekalian juga untuk proses editing, biar typo-typo tak ada lagi. Jika pun ada, nggak begitu ngaruh dengan keseluruhan isi cerita. Ai nggak mau ngulang kesalahan yang sama untuk ke sekian kalinya. Belajar banyak dari fandom sebelah.

Don't Like Don't Read

Chapter 1

Hari Senin adalah hari yang buruk bagi Nara Shikamaru. Semua hal yang buruk yang pernah menimpanya, selalu terjadi di hari Senin. Oleh karena itu, Shika tak pernah menyukai hari Senin dan selalu berharap hari Senin segera berakhir atau lebih baik lagi tak pernah ada.

Lebay? Ah, enggak juga. Fakta membuktikan hipotesa si jenius pewaris klan Nara ini. Ia pernah terserang penyakit cacar air di hari Senin, membuatnya jadi bahan ejekan sekelasnya. Ia menghancurkan moge-nya yang harganya fantastis di hari Senin. Ia pernah mencium pacar pertamanya di hari Senin. Oke, secara teknis itu adalah hal yang baik. Hanya saja, gadis impiannya waktu ia berumur tujuh tahun itu, tak menerima pesona Shika, dan langsung meninjunya hingga gigi depannya perlu diperbaiki oleh seorang dokter gigi yang sadis. Di hari Senin juga.

Selain Senin, beberapa tahun terakhir ini, Shika juga sangat jengkel dengan setiap makhluk hidup berjenis kelamin perempuan yang berambut pirang. Segala keruwetan hidupnya dan penyebab sakit kepalanya ini berpusat pada si pirang. Kenapa? Karena saat ini, Shika sedang bermasalah dengan tiga wanita berbahaya yang semuanya berambut pirang. Tsk, menyebalkan. This is troublesome.

Pirang pertama itu mantan pacarnya yakni Yamanaka Ino seorang model sekaligus aktris. Hubungan keduanya sangatlah buruk. Sampai detik ini pun, mereka masih saling memaki dan menyindir ketika keduanya bertemu. Bahkan pernah di satu kesempatan, Shika terpeleset menampar si pirang berotak licik itu, yang tak pernah disesali Shika hingga kini.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Penjelasannya panjang. Semua itu berawal dari perpisahan mereka yang kata Ino di media massa, "Kami berpisah baik-baik." Huh, Shika ingin mendengus jijik di depan mantannya. Itu Bulshit.

Kenyataannya, perpisahan Shika dengan Ino tidaklah baik-baik saja, seperti yang digembar-gemborkan Ino. Mana ada hal seperti itu? Logikanya, kalo memang masih baik-baik saja, kenapa harus pisah? Pisah, itu tandanya hubungan mereka sedang tidak baik. Iya, kan? Dan, seperti itulah kenyataannya yang menimpa Shika-Ino.

Si Munafik no 1 itu, memang jago berakting, bukan hanya di depan kamera, tetapi juga di dunia nyata. Ia selalu tampil dengan kesan ia gadis baik-baik. Padahal itu tak lebih dari sebuah pencitraan.

Gadis itu sama busuknya dengan pelacur jalanan, bahkan lebih rendah lagi. Tak sedikit dari pelacur itu, yang menjual diri karena kepepet masalah ekonomi. Sedang Ino? Shika mau tertawa keras-keras. Dia melemparkan dirinya ke pelukan Sasuke hanya demi karirnya.

Menjijikkan?

Ya, itu sangat menjijikkan. Itulah penyebab utama mereka putus. Tidak, Shika tidak menyalahkan Sasuke. Bukan Sasuke yang menggoda Ino kok, tetapi sebaliknya. Si licik itu tak perduli, meski Shika kekasihnya itu sahabat baik Sasuke, dan Sasuke bukanlah pria single di peredaran, melainkan sudah punya tunangan. Tapi, ia masih saja mencoba melakukan firlting pada Sasuke juga.

Tapi, ya sudahlah. Shika tidak cinta mati ini padanya. Baginya, Ino tak lebih dari partner in bedroom. Jadi, tak masalah jika ia harus melepas Ino dari sisinya kapan pun. Hanya harga dirinya yang terluka. Itulah masalah utama memburuknya hubungan Shika-Ino hingga detik ini.

Si pirang kedua menjengkelkan lainnya itu Temari. Office girl yang merangkap jabatan sebagai teman Naruto ini, sekaligus yang lagi diPDKT-in Shika, dari kemarin entah mengapa selalu menghindarinya. Ia bersikap, seolah-olah Shika ini wabah penyakit menular. Mereka sampai hari ini masih bermain petak umpet, seperti sebuah lagu picisan 'Aku di sini, Kau ada di sana.' Entah sampai kapan permainan ini akan berakhir, Shika pun tak tahu.

Dan pirang yang ketiga, tidak lain dan tidak bukan rekan kerjanya sendiri. Semenjak bertemu dengan si pirang ini, hidupnya tidak lagi sama. Dia mampu membuat hidup nya yang damai jadi jungkir balik, dalam artian buruk. Dia lah the most big trouble yang akan dengan senang hati dihindarinya.

Pagi ini, di hari Senin ini, Shika datang ke kantor dengan wajah cemberut. Mukanya ditekuk berlipat-lipat, memperlihatkan wajah angkernya. Sepanjang perjalanan, Shika menggerutu segala hal, dan menghardik orang-orang yang bisa ia jadikan tong sampah penampung amarahnya.

Moodnya yang sejak awal sudah buruk bertambah sangat buruk di hari ini, hingga tak ada satu pun, bahkan diantara CS-nya yang sudi melewatkan waktu untuk jalan bersamanya. Mereka lebih memilih memutar arah, daripada harus berjalan beriringan dengan Shika. Kenapa? Karena mereka tak mau jadi korban semburan Shika.

Sepanjang perjalanan ke kantor, ia berdoa dan berharap dengan sepenuh hati, agar tak bersua dengan salah satu atau ketiga pirang itu sekaligus, di hari yang menurutnya paling sial untuk Shika. Senin dan si Pirang? Itu bukanlah kombinasi yang bagus. Pasti hari ini akan berakhir sangat-sangat buruk jika kedua unsur ini bertemu. Itu yang ada di benak Shika.

Mungkin Shika memang tak pernah diijinkan Tuhan untuk berdamai dengan hari Senin. Doanya tidak dikabulkan. Baru juga ia usai berdoa, ia sudah bertemu muka dengan salah satu Pirang yang ingin dihindarinya hari ini. "Pagi, Shika!" Sapa si Pirang ketiga riang, yang di telinga Shika seperti alunan lagu dari neraka.

Shika mendecih dan mengumpat nasib sialnya pagi ini dalam hati, sebelum membalas sapaan Naruto, "Pagi!" dengan nada dingin. Gadis itu sama sekali tak terpengaruh nada dingin Shika dan memilih melenggang pergi begitu saja, masuk ke ruang kerjanya. Ia sama sekali tak perduli dengan Shika yang udah mencak-mencak hanya karena melihat rambut pirang keemasannya.

Shika memutar bola matanya dan cepat-cepat masuk ke ruangannya juga, melarikan diri dari segala jenis kesialan yang mungkin terjadi di hari Senin ini. Brakkk! Ia menutup pintu sekuat tenaga, seolah itu si pirang, menghasilkan suara berdebam kencang, membuat siapapun yang lewat terlonjak kaget dan mengelus dada, karena serangan jantung mendadak.

...*****...

Ctaaak... Ctaaak...Ctaaak

Terdengar suara tuts dari deretan huruf-huruf dari keyboard, yang ditekan seirama, memenuhi seluruh penjuru ruangan. Jari-jari Naruto menari-nari dengan lincah di atas keyboard. Baris demi baris kalimat muncul di layar. Ia sibuk dengan layar laptopnya, hingga tak menyadari kehadiran sesosok pria tampan, berambut coklat tua nyaris hitam diikat ke atas seperti nanas, di sebelahnya.

Tamu tak diundang tersebut, dengan seenak udelnya merapatkan kursinya dengan kursi Naruto hingga tiada lagi jarak diantara mereka, tanpa permisi. Ia lalu dengan kurang ajarnya pula, merebahkan kepala nanasnya di bahu gadis cantik itu, menjadikannya bantal yang akan mengantarkannya ke alam mimpi.

Naruto masih berkonsentrasi penuh dengan pekerjaannya, sama sekali tak terganggu dengan beban di pundak kanannya. Ia baru menyadari ada yang salah dengan dirinya, ketika ia merasakan bahu kanannya terasa berat dan kaku. Bahunya seperti ditindih sesuatu, sehingga sulit digerakkan sesuka hatinya. Ia pun menoleh ke samping untuk mengetahui benda apa itu.

Kwakkk kwakkk kwakkk.

Suasananya hening. Tidak ada teriakan histeris keluar dari bibir ranum Naruto. Hanya pupil Naruto yang melebar, tandanya si empunya terkejut, mendapati seorang Shikamaru sudah bertengger dengan manisnya di atas bahunya. Naruto mengerjabkan bulu matanya, sedikit bingung. Otaknya meloading dan menganalisa apa yang tengah dan sedang terjadi di sini.

"Mmm, pantas saja bahunya kram. Gara-gara orang ini toh?" Dumelnya setelah melewati proses analisis. Dalam hati ia heran. 'Sejak kapan Shika ada di sini? Perasaan tadi aku sendiriaan.'

Naruto menunggu 5 menit. Ia berharap Shika tahu sopan santun, bangun dari tidur siangnya sendiri setelah aksinya terpergok Naruto, lalu segera mengenyahkan kepala nanasnya dari bahunya. Tapi harapan, tinggallah harapan. Shikamaru tetap saja tidur, malah sekarang disertai suara mendengkur pula.

Dahi Naruto berkedut-kedut jengkel. Ia menepuk-nepuk lengan atas Shika sedikit kasar, membangunkan si pangeran tidur dari tidur cantiknya. "Oy Shik, bangun!" teriaknya. Shika tak merespon. Ia justru menyamankan diri, mencari posisi yang paling enak diantara leher dan bahu Naruto.

Sudut-sudut kemarahan bertebaran menghiasi wajah cantik Naruto. 'Apa-apaan sih orang ini? Memangnya dia ini siapa? Suami bukan. Kekasih bukan. Seenaknya saja menjadikan aku sandaran. Emang aku ini bantal, apa?' Pikirnya luar biasa jengkel.

Karena penolakan halus tak digubris, Naruto bertindak lebih kasar. Ia memberinya cubitan maut yang sensasinya seperti gigitan semut kecil di sepanjang lengan Shika. Tapi cara ini pun, tidak manjur juga. Shika sama sekali tak menggubrisnya. Dengkuran jeleknya masih saja terdengar jelas.

Kekesalan Naruto bertambah besar. Ia berganti strategi. Kini, tangan kirinya yang bebas mengguncang-guncang tubuh Shika dengan brutal. Tapi Shika, tetap tak bangun juga. Naruto beralih cara lainnya. Ia melirik kamus Jepang-Inggris setebal 5 cm di sampingnya. Kelihatannya itu bisa dijadikan senjata pamungkas yang sempurna. Naruto berancang-ancang mau nabok si kepala nanas dengan kamus.

"Please, jangan lakuin itu! Biarkanlah aku berbaring sejenak. Aku ngantuk sekali. Hoahmmm... nyam...nyam..." kata Shika masih sambil memenjamkan matanya.

"Enak aja." Tukas Naruto tak terima. Ia menggerak-gerakkan bahunya biar Shika tak merasa nyaman. "Kalo ngantuk, tidur aja sana di sofa. Kau pikir aku ini kasur?

Shika tak merespon. Ia memilih memeluk lengan Naruto erat-erat, layaknya memeluk guling kesayangannya. Kepalanya didorong masuk lebih dalam hingga rambutnya kini menggelitik saraf-saraf di sepanjang pipi dan leher leher Naruto. Pipinya dengan manisnya menempel di tulang rusuk Naruto yang bagian atas.

Kali ini kesabaran Naruto habis sudah. Wajahnya merah padam. Dalam anime, mungkin kepalanya sudah mengeluarkan asap putih. Tangannya dikepalkan bersiap dengan bogem mentah yang dengan senang hati dilayangkan pada nanas cungkring yang satu ini.

Jarak bogemannya sudah tinggal 5 cm lagi menghantam hidung mancung Shika, tapi sesuatu membuat tangannya berhenti. Ada rasa iba menggelayutinya, menyaksikan wajah kelelahan Shika dengan gurat-gurat kelelahan memenuhi wajah tampannya. Kantong mata di bawah kelopak mata jadi saksi nyata, menandakan si pemilik marga Nara ini, sedang menderita insomnia belakangan ini.

Shika kurang tidur? Agak aneh memang dengarnya. Pasalnya, semua orang juga tahu siapa itu Nara Shikamaru? Selain jenius, ia itu terkenal dengan predikatnya sebagai raja tidur. Dia sanggup tidur dimana saja, tak harus di atas ranjang, dengan fasilitas seminim apapun. Ia bahkan sanggup tidur beralaskan rumput dan beratapkan langit. Tapi sekarang ia menderita kurang tidur? Oh, WOW. Itu pasti sesuatu banget.

Hahhh... Naruto menghembuskan nafasnya perlahan amat sangat perlahan, karena tak ingin membangunkan Shika. "Kau beruntung memiliki teman yang baik hati seperti aku. Kali ini, kau ku biarkan. Lain kali? Jangan harap." Gumamnya.

Ia kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Sekarang kecepatan mengetiknya berkurang, mengingat ia melakukannya hanya dengan satu tangan saja. Ingat tangan kanannya sedang disewakan Naruto kepada Shika sebagai guling.

Sejam kemudian...

"Beraat..." Keluh Naruto, sedikit oleng, tak sanggup lagi menahan beban di pundaknya.

Naruto menggoyang-goyangkan bahu Shika, sambil menahan rasa kesemutan yang menjalar, menyerang organ tubuhnya di bagian atas. "Oy, Shik bangun. Katamu Cuma sebentar. Udah sejam lebih, nih. Pundakku kebas, nih. Kau pindah di sofa, gih!" kata Naruto dengan nada lumayan tinggi. Shika masih bernafas teratur, tak terganggu nada tinggi Naruto, apalagi guncangan lemah itu.

"Iiih, ni orang. Gimana, sih? Nggak bangun-banggun juga." Dumel Naruto gemas. Naruto yang kesal, tanpa pikir panjang mengambil beberapa buku yang terserak di atas meja, susah payah. Buku itu hantamkannya kuat-kuat ke wajah Shika, beberapa kali. Masih tidak ada respon. Kepala Shika masih kokoh, menempel di pundak Naruto layaknya dilem alteco.

Karena buku nggak ngaruh, Naruto mengambil kamus yang tadi tak jadi digunakan Naruto sebagai senjata. Tanpa belas kasihan, kamus tebal itu mendarat dengan cantik di wajah, kepala, dan punggung Shika. Tapi, dasar kebo, Shika masih juga tidur dengan lelapnya, sama sekali tak merasakan pukulan paling keras yang bisa Naruto kerahkan.

Hah hah hah...

Naruto tersengal-sengal. Tangan kirinya sudah kelelahan, memukul-mukul tubuh kekar Shika. "Auww auww..." Erangnya dengan air mata pedih keluar dari kelopak matanya, ketika Shika membetulkan posisi tidurnya, masih bergelung diantara ceruk leher dan pundak Naruto. Rupanya Shika tanpa sengaja menyentuh bagian tubuh Naruto yang kram, menimbulkan rasa sakit yang luar biasa, menggelenyar, dan menyebar ke seluruh tubuh Naruto.

"Shik... please, bangun dong! Pegel, nih." Ratap Naruto diantara erangan sisa-sisa rasa kesemutan yang tertinggal di bagian pundak hingga tulang rusuknya jika tubuhnya digerakkan sedikit saja.

Mata Naruto melirik pintu pantry. "Benar kata Sasori, kau tak akan bisa ku dapatkan kalau aku tidak menyakitimu. Please, help me!" teriak Naruto berharap bantuan pada siapapun orang di luar sana. Ia janji, ia akan mentraktir siapapun orang itu yang bisa menyingkirkan kebo ini dari pundaknya. Ia sudah tak sanggup bertahan lebih lama lagi.

'Oh, Tuhan. Tolong kirimkan aku Dewa penolong pada hambamu yang imut ini.' Doa Naruto rada narsis. Karena kesal bercampur putus asa, akhirnya Naruto yang kelelahan ikut tidur juga di samping Shikamaru. Kepalanya ikut ia rebahkan, menyandar pada ujung kepala Shikamaru.

Posisi mereka, jika dilihat dari sudut pandang orang luar, terlihat sedikit mencurigakan. Posisinya itu bisa menimbulkan dugaan yang bukan-bukan pada hubungan keduanya dan rasa cemburu yang menyengat, jika orang luar yang melihat itu, kebetulan ada hati pada salah satu dari keduanya. Seperti sesosok pria berambut panjang berwarna raven dan diikat di bagian tengkuk.

Dia berdiri tertegun di depan pintu menyaksikan dua orang itu tidur dengan saling menyandar satu sama lainnya. Wajahnya memang masih terlihat datar, tapi sorot matanya tak bisa berbohong. Matanya menatap bengis pada pria yang telah dengan kurang ajarnya menyender pada pundak gadis pujaan hatinya. Mata itu, adalah mata yang menjanjikan neraka untuk pria pemalas yang jadi rekan kerjanya.

Betapa kesalnya dia, melihat pemandangan menyesakkan ini tersaji tepat di depan matanya. Rahangnya mengeras dengan gigi bergemeletuk, menahan emosi yang hendak meluap. Dia menyesali langkah kakinya yang membawanya ke ruangan keparat ini.

Niat mulianya untuk mencairkan hubungannya dengan Naruto, yang sempat mendingin setelah pembicaraan mereka tentang pesta Valentine sebulan yang lalu, berakhir menyakitkan. Kebaikannya dibalas dengan keburukan. "Dare, you." Desisnya dingin.

Itachi mendekati Shika-Naru. Ia menjumput beberapa helai rambut pirangnya dan menciumnya penuh perasaan. 'Jadi begitu ya, Princes. Sepertinya cara halus dan lembut tak cocok denganmu. Baiklah, kalau itu maumu.' Batin pria itu menyunggingkan seringai mengerikan.

"Tunggulah aku, Princes. Kau akan segera tahu siapa AKU yang sesungguhnya." Bisik Itachi menyapa gendang telinga Naruto, sebelum meninggalkan Naruto yang masih lelap dibuai mimpi.

Berkat interaksinya dengan Naruto beberapa bulan ini, ia menyadari sesuatu. Naruto itu bebal, menolak dengan tegas segala perhatian dan pendekatan Itachi dan hanya menyerahkan seluruh cintanya untuk Kisame-si-cowok-monster-sialan itu. Itu artinya, Itachi tak bisa bersikap lembut untuk mendapatkannya.

Hanya ada satu cara untuk mendapatkan Naruto seutuhnya, yaitu dengan menjadi Itachi yang biasanya. Itachi yang pemaksa. Itachi yang agresif. Bahkan menjadi Itachi yang kejam dan tak kenal belas kasihan, jika Naruto masih bersikap keras kepala, menolaknya. 'Akan ku potong sayapmu itu, Princes. Dan kau tak akan pernah bisa pergi kemanapun selain ke tempatku.' Janji Itachi dalam hati.

Sepeninggal Itachi, muncullah Temari yang baru selesai membereskan ruang rapat. Ia berniat membenahi barang-barangnya di pantry sebelum pulang. Matanya berserobok, menatap langsung duo ShikaNaru yang masih tidur dengan posisi saling menyender. Ada sentakan rasa cemburu menghujam dadanya, menyaksikan kemesraan dua orang itu.

Air mata kesedihan menetes di pipinya, mengalir menganak sungai, dalam diam. Ia tak mengira masih bisa merasakan rasa sakit hati, setelah Shika begitu dalam menyakitinya, melukai harga dirinya, dan menghancurkan kepercayaannya.

Bukankah tekadnya sudah bulat, untuk melupakan semua kenangan indah kebersamaannya dengan Shika? Bukankah ia sudah berjanji dalam hati, tak akan lagi menengok pada Shika, apapun yang terjadi? Lalu kenapa sekarang ia masih merasakan pilunya akibat patah hati?

Dua sejoli itu masih asyik dengan dunia mimpinya. Mereka sama sekali tak merasakan kehadiran Temari yang dunia terkendalinya kembali porak poranda. Gadis malang itu menangis dalam diam, yang membuat wajahnya semakin terlihat menyedihkan. Merasa jadi obat nyamuk, Temari memutuskan pergi dan menunda tujuannya semula. Ia tak ingin menyiksa batinnya dengan menyaksikan kemesraan mereka.

Baru saja ia membuka pintu, eh Sasuke sang presdir nyelonong masuk. Ia datang ke pantry dengan alasan minta laporan sekaligus dibuatkan kopi oleh Naruto, modus biar bisa dekat dengan Naruto. Ia sudah membulatkan tekat untuk tidak mengibarkan bendera putih, dan tetap PDKT dengan Naruto, sebelum gadis itu memutuskan akan memberikan pada siapa hatinya.

Ia pun tak kalah kagetnya dengan Temari, menyaksikan kedekatan Shika-Naru. 'Sejak kapan mereka dekat?' batinnya tak percaya. Bedanya dia dengan Temari, kalo Temari lebih memilih diam dan mundur secara teratur, kalo Sasuke memilih berteriak meraung-raung, meluapkan kemarahannnya.

"Apa-apaan ini?" teriak Sasuke geram yang sedang dilanda cemburu buta. Lagi-lagi ia ketinggalan kereta, ada pria lain yang lebih dulu mendekati Naruto. Kemarin-kemarin Gaara, lalu Itachi, dan sekarang Shika? Ia tak terima dengan semua ini. Lalu kapan gilirannya? Ini tak bisa dibiarkan. Ia harus berbuat sesuatu, sebelum semaunya terlambat. Naruto harus jadi miliknya.

Kelopak mata Naruto perlahan membuka. Teriakan Sasuke berhasil menembus dunia mimpinya, membangunkan gadis itu dengan cara yang kasar. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, mengusir sisa-sisa pengaruh dunia mimpi. Pandangannya yang awalnya buram ini mulai jelas. Iris matanya menangkap bayangan Sasuke dan Temari yang berdiri tak jauh dari dirinya.

"Kalian? Syukurlah kalian di sini. Tolonglah aku. Tolong singkirkan makhluk ini dari bahuku. Aku sudah tak kuat lagi, hiks." Pintanya melas.

"Apa yang terjadi?"

"Panjang ceritanya. Oh, cepatlah tolong aku. Aku... Gyaa..." teriak Naruto membuat Sasuke refleks melepaskan tangannya dari punggung Naruto. Shika sendiri sudah tepar di atas lantai karena disentak dengan paksa oleh Sasuke setelah usahanya membangunkannya gagal baca menghajar babak belur Shika. Temari yang iba, membetulkan posisi Shika.

"Kenapa teriak?" protes Sasuke.

"S-Sory, refleks. Bahuku kram."

"Sekarang bisa cerita?" pinta Sasuke tegas. Ia duduk di samping Naruto, menyeret kursi yang diduduki Shikamaru, untuk memberi ruang pada Naruto. Ia memberi isyarat pada Naruto untuk membalikkan badannya. Tangan kekarnya dengan hati-hati melemaskan otot-otot bahu Naruto yang kram.

"Aku tak tahu bagaimana cerita awalnya, tiba-tiba saja Shika datang dan tidur di bahuku."

"Dan kau membiarkannya saja?" tanya Temari tidak percaya. Ia sakit hati, merasa dikhianati teman yang beberapa bulan ini dekat dengannya.

Naruto merengut. "Tentu saja tidak. Aku terlalu konsentrasi bekerja sampai tak menyadarinya kehadirannya. Pas nyadar, tahu-tahu pundakku sudah berat."

"Tinggal bangunin aja, apa susahnya." (Sasuke)

"Apa susahnya? Gampang sekali kau ngomong. Kau pikir aku tak cukup berusaha? Dia itu sudah ku guncang-guncang, ku cubiti, ku lempari buku, kamus dan barang-barang lain, tapi tetap saja dia tak mau bangun. Aku bahkan sudah teriak-teriak sampai serak, minta pertolongan, namun tak ada yang muncul membantuku. Akhirnya aku ketiduran karena lelah." Jelas Naruto merasa keenakan dengan pijitan Sasuke.

Gadis polos itu sama sekali tak menyadari tangan Sasuke sudah menari-nari dimana-mana di sepanjang punggungnya, mencari-cari titik-titik sensitif Naruto, memuaskan khayalan mesumnya. "Hn." Gumam Sasuke.

"Kalian mau apa kemari?"

"Oh, aku mau membereskan barang-barangku. Sebentar lagi shiftku selesai." Jawab Temari. Ada perasaan lega menyusup hatinya, setelah tahu antara Naruto dan Shika tidak memiliki hubungan apa-apa.

"Minta laporan. Besok, kau mau ke Osaka, kan? Errr, sekalian minta dibuatin kopi."

"Oh, itu laporannya sudah selesai. Aku letakkan di map hijau. Kalo kopi, bisakah Temari saja yang buat? Tanganku masih kesemutan."

"Hn." Gumam Sasuke. Dengan dagunya, ia memberi isyarat pada Temari untuk membuatkannya kopi.

Sasuke lalu terlibat perbincangan ringan dengan Naruto sambil menunggu kopinya siap. Setelah kopinya selesai dibuat Temari, Sasuke pamitan kembali ke ruangannya, karena ia tak punya alasan lagi berada di ruang itu.

"Aku kembali ke ruanganku. Tolong urus Shika, ya Tem. Kasihan kalo ia dibiarkan tidur di lantai. Nanti sakit."

Temari menganggukan kepala, mengiyakan. Ia melupakan janjinya untuk menjauh dari Shika. Ia tak tega melihat Shika, pria yang amat dicintainya tidur di lantai nan dingin dengan wajah babak belur habis dihajar Sasuke seperti itu. Ia menarik kepala Shika di atas pangkuannya dan mengusap wajahnya lembut.

Temari sama sekali tak sadar kalo itu adalah sebuah jebakan. Sebenarnya ia sudah bangun dari tidur cantiknya ketika Sasuke berteriak seperti cewek yang lagi PMS. Saat itu ia dengan cepat menyusun rencana untuk bisa berbicara dengan Temari dan menanyakan alasan kenapa gadis itu menghindarinya.

"Akhirnya kita bisa berdua ya, Deer." Gumam Shika dengan seulas senyum licik di wajahnya. Ia mengabaikan sentakan rasa bersalah dan iba, melihat gadis pujaannya pucat pasi.

Tubuh Temari tersentak. Pupilnya melebar. "K-kau sudah bangun?"

"Dari tadi." Jawab Shika malas, tangannya dengan sigap memerangkap Temari di bawah tubuhnya sehingga gadis itu tak bisa kemana-mana lagi. "Jadi bisa kau jelaskan kenapa kau menjauhiku beberapa hari ini?" tanyanya.

"T-tidak ada apa-apa. I-itu hanya perasaanmu saja."

"Hmm, jadi nggak mau ngaku, ya?" gumam Shika dengan nada berbahaya yang tak bisa disalah artikan lagi maknanya. Tangannya meraba rok Temari, mencoba membuka kaitannya.

Temari terkesiap, panik. Wajahnya yang pucat bertambah pucat. "Hentikan! Dasar mesum." Maki Temari menendang-nendang kaki Shika, mencoba membebaskan diri dari tindihan si manusia rusa itu.

"Tidak akan. Sebelum kau cerita aku tak akan berhenti."

"Dasar kau brengsek. Tak cukupkah kau menyakitiku? Aku memang miskin, tapi aku juga punya harga diri. Ku mohon, hik.. ku mohon hik, berhenti mempermainkanku." Kata Temari sambil terisak-isak, berurai air mata. Sorot matanya memancarkan keputus asaan, cemas dengan kesuciannya yang akan terenggut, karena tangan Shika sudah mencapai bagian tubuhnya yang privat.

"Sss..., jangan nangis." Shika menarik tangannya dan membelai rambut Temari, menenangkan gadis itu yang sedang dilanda ketakutan. "Tolong katakan padaku, apa ada perkataanku yang menyakitimu yang membuatmu membenciku. Aku tahu aku ini idiot dan tak peka. Tapi, niatku tulus Temari. Aku..."

"Tulus? Tulus kau bilang? Hah, jangan membuatku tertawa."

Jleeb..

Jantung Shika seperti tertikam sebilah pisau tepat mengenai jantungnya, mendengar nada sakit hati yang kentara dari gadis pujaan hatinya itu. Sakit, sakit sekali rasanya. Hatinya terluka, tapi ia sadar, Temari pasti lebih sakit lagi. Otaknya bertanya-tanya dalam hati, kebodohan apa yang telah dilakukannya, hingga membuat Temari begitu sakit hati?

"Kau pikir aku tak tahu. Kau anggap aku ini mainan, tantangan untuk ditakhlukan lalu kau lempar aku ke jalan seperti sampah." Teriak Temari histeris. Matanya merah, meluapkan segala emosi terpendamnya pada orang yang telah membuat hidupnya merana beberapa bulan ini.

Mata Shika terbelalak. 'Jangan-jangan dia dengar percakapannya dengan Kiba. Pantas-pantas saja ia membenciku. Aku memang brengsek.' Batinnya. Shika menarik nafas. "Aku akui itu memang niat awalku. Kau tahu sendiri aku brengsek, bajingan yang tak pernah bisa membiarkan wanita cantik yang lewat di depanku dianggurin. Aku ingin menikmati tubuh molek mereka hingga mainanku rusak. Baru ku lepaskan."

Temari memberontak hebat. Ia tak mau dan tak sudi jadi mainan rusak. Cukup, cukup sekali hidupnya berantakan dengan pengkhianatan sang ayah. Ia tak mau ikut-ikutan terpuruk seperti sang ibu yang gagal move on hingga kini.

Shika mengeratkan pelukannya, bersikeras tak mau melepas Temari. "Tapi... manusia juga bisa berubah, Tem. Aku tak tahan melihatmu menjauhiku. Rasanya hidupku tak sama lagi. Aku tak bisa lagi menikmati hidupku seperti dulu, bersenang-senang dengan semua wanita-wanita cantik di atas ranjang, aku bahkan tak bisa tidur nyenyak, tanpa senyum ceriamu."

Temari terdiam, tak lagi memberontak. Matanya menatap tajam Shika, mengira-ngira apa maksud manusia tukang tidur itu. Mungkinkah.. mungkinkah dia.. berniat... 'Tidak, itu tidak mungkin.' tepisnya cepat, meski hatinya berharap demikian.

"Kau memang tak cantik, selalu membuatku repot, dan menjengkelkan. Tapi, hanya kamu seorang yang bisa mengguncang hidupku. Karena itu, ku mohon biarkan aku jadi satu-satunya laki-laki yang akan terus merepotkanmu, membuatmu jengkel, dan menjadi bantal kesayanganku."

Temari mengedipkan bulu matanya, ngehank. Sebenarnya ni orang mau ngomong apa sih? Mau muji apa menghina? Dan lagi maksudnya apa coba, bilang Temari mengguncang hidupnya? Ia mau balas dendam padanya nih ceritanya? Tapi kenapa terakhirnya, ia bilang mau menjadikan dia bantal? Kalo maksudnya mau menggoda Temari, kok bahasanya.. eoh nggak ada romantis-romantisnya sih?

Shika mendengus jengkel, menyaksikan kelemotan taraf berfikirnya Temari. Tapi, tak apalah. Ia yakin gen geniusnya akan membuat anak-anak Temari kelak tidak akan lemot seperti ibunya. 'Gen Nara kan selalu jadi dominan.' Batinnya nggak nyambung dan narsis.

Bibirnya mengulum senyum bahagia. Bayangan dia, Temari, dan anak-anaknya menikmati sarapan bersama membuat hatinya menghangat. 'Nara Temari? Tak buruk juga.' pikirnya. Menurutnya nama itu jauh lebih baik dari nama Sakuragi Temari.

"Temari, besok kau ada waktu kosong?"

"Kau mau apa?"

"Aku mau mengajakmu ke suatu tempat."

"Kemana? Kalo kau mengajakku ke hotel atau apartemenmu, aku tak sudi. Aku bukan cewek gampangan yang mau tidur denganmu dengan imbalan uang atau apapun." Tukas Temari kasar.

"Bukan. Aku ingin mengajakmu memilih cincin, lalu kita ke balai kota, trus ke gereja, dan..."

"Kau itu sebenarnya mau apa, sih?" tanya Temari makin bingung 'balai kota? Gereja? Yang benar aja?' tambahnya dalam hati.

"Is, kau itu merusak lamaranku yang indah dan romantis ini. Cobalah bersikap manis dan dengarkan bagaimana aku melemarmu." Gerutu Shika.

'Romantis? Dia benar-benar sudah gila.' Pikir Temari. "Kau pikir aku mau menikah denganmu?" goda Temari, meski hatinya senang sang pujaan hati melamarnya. Tak setiap hari dia dilamar seorang cowok tampan yang kaya raya.

"Kau harus mau, kalau pun tak mau aku akan membuatmu mau. Kalau perlu, aku akan menculikmu. Oh, yeah terima saja takdirmu itu. Kau itu tercipta hanya untuk Nara Shikamaru seorang."

Temari memutar bola matanya, sedikit ill feel. 'Dasar pemaksa.' Batinnya. Hari itu dihabiskan Temari dan Shika dengan membicarakan masa depan yang akan mereka. Mereka melupakan segala kepedihan di masa lalu dan hanya menatap masa depan saja.

Untuk pertama kalinya, Shika menyukai hari Senin. Ternyata hari Senin pun bisa membawa keberuntungan juga untuknya, seperti yang dialaminya hari ini. Meski ada beberapa insiden yang membuat tubuhnya biru lebam, tapi pada akhirnya berakhir indah. Happy ending. 'I like Monday,' pikirnya dengan senyum lebar di wajahnya.

...*****...

Naruto memasuki ruangannya. Dahinya berjengit. 'Kok gelap?' batinnya bingung. Ia meraba-raba sebuah saklar untuk menyalakan lampu. Usahanya belum membuahkan hasil, ketika sepasang tangan melingkari pinggangnya dan menariknya ke dalam pelukan seorang pria bertubuh jangkung di belakangnya.

Tubuh Naruto terperanjat. 'S-siapa?' tanyanya dalam hati. Otaknya panik, meronta-ronta panik dalam pelukan pria asing itu. Samar-samar ia mencium aftersave orang tersebut. 'Baunya familiar. Ini seperti milik...' pikir Naruto dengan cepat membalikkan badannya, untuk melihat apakah dugaannya benar.

Sebuah ciuman menyambut bibirnya, begitu ia membalikkan badan. Itu bukanlah ciuman singkat, tapi panas dan penuh gairah. Kreteek..kreteeek..kreteeek..., tubuh Naruto gemetaran menahan rasa takut. 'Apa yang akan dilakukan orang ini padanya? Dia tidak berniat... untuk...' tanyanya dalam hati, mencoba menepis pikirannya yang bukan-bukan. Tapi, tonjolan yang menyeruak, digesek-gesekkan dengan konstan ke perutnya, tak mungkin lagi bisa disalah artikan.

"Halo, princess. Apa kau merindukanku?" Sapanya dengan suara serak. Mata oniksnya berkilat penuh hasrat yang tentu saja tak begitu terlihat oleh Naruto karena keadaannya yang gelap gulita.

Naruto bersusah payah menelan ludahnya, yang mendadak tenggorokannya kering. "K-kau mau apa?" cicitnya tergagap. Naruto hanya bisa memaki-maki dirinya dalam hati, yang menampakkan rasa takutnya dengan kentara.

"Aku mau KAU." Ujarnya untuk terakhir kalinya sebelum memerangkap Naruto dan menggiringnya ke tempat yang sudah ia persiapkan sejak sebelum Naruto masuk. Naruto terkesiap, meronta-ronta mencoba melarikan diri, dengan tubuh gemetar ketakutan. Dengan terampil, pria itu melucuti pakaian Naruto. Penolakan Naruto sama sekali tak mengganggunya, justru sebaliknya membakar gairahnya untuk segera menyatukan tubuhnya dengan gadis pujaannya.

"Saatnya makan." Desis orang itu dengan suara seraknya, menindih tubuh telanjang Naruto.

Hanya ada suara erangan bergairah dari si pria, nafas yang terengah-engah, dan permohonan lirih minta dilepaskan dari si gadis yang terdengar sesudahnya. Derit suara sofa jadi alunan musik, menambah panasnya gairah yang membelenggu dua insan yang sedang bercinta. Kegelapan malam dan perabotan di ruangan itu jadi saksi mata perbuatan asusila itu.

TBC

Bagi yang nebak itu surat dari dokter, maaf anda masih belum tepat. Chapter ini menjawab kalo Naruto masih perawan. Anda bisa mencoba menebaknya lagi. Ada yang bisa nebak siapa pria yang menggagahi Naruto?