Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

WARNING! Typo(s), ooc, gaje, penempatan tanda baca yang tidak sesuai dan banyak sekali kesalahan-kesalahan lainnya.

Terimakasih banyak untuk Review, Favorit dan Follow-nya.


CHAPTER 2 : Move On (?)

Seminggu setelah peristiwa itu, Ino merasa bahwa kehidupannya kembali normal. Tak nampak keberadaan Sasuke yang setiap saat mengusiknya, namun timbul pertanyaan juga dalam benaknya, dimana pemuda itu sekarang?

Apakah dia baik-baik saja? apakah dia benar-benar patah hati karena penolakan darinya seminggu yang lalu?

Arghhhhttt! Ino terlihat kesal, terlihat dengan bagaimana ia meremas kertas-kertas yang harusnya ia gunakan untuk menulis laporan pada Hokage itu. Gadis Yamanaka itu mendengus kesal hingga akhirnya ia mengacak surai pirang platina miliknya. Mengapa ia harus peduli dengan keadaan Sasuke, mengapa ia harus khawatir dengan kealfaan pemuda Uchiha itu?

Gadis itu lagi-lagi menghela napasnya panjang, sepertinya ia memerlukan cokelat panas meskipun cuaca di luar sedang panas.

"Ini tak akan berhasil." Keluhnya. Beranjak dari kursinya ia kemudian berjalan keluar ruang kerjanya, melewati beberapa pegawai Divisi Interogasi Konoha ia tak memberikan ekspresi berarti kecuali hanya diam dan menatap lurus ke depan.

"Yamanaka-san, eee… anda mau kemana?" panggil salah satu pegawai

"Aku akan keluar sebentar." Jawab Ino singkat, tak memandang pegawainya yang sepertinya cukup mengerti dengan kelakuan atasan baru mereka itu, gadis klan Yamanaka itu keluar dari gedung yang terletak tak jauh dari Hokage Tower itu dan berjalan menuju salah satu kedai cokelat favoritnya untuk menghabiskan waktu saat ia sedang merasakan beban besar yang seakan menindih tubuhnya.

Berlebihan? Namun pada kenyataannya ia harus memakai topeng keceriannya itu untuk menutupi beban hidup yang menyiksanya. Ia baru berusia 20 tahun dan harus memegang tanggung jawab yang besar sebagai pemimpin klan sekaligus Ketua Divisi Interogasi Konoha.

"Ino-chan!" sapa Hinata pada Ino.

"Hinata-chan . . .!" Ino menyunggingkan senyumannya dan berjalan menuju Istri Hokage ke-7 itu, "Hai, Boruto-kun!" sapanya pada bayi berusia 1 tahun itu, jemari panjangnya mencubit pipi gembul si kecil itu gemas.

Bayi itu tersenyum dan memegangi jemari lentik milik Ino, "Aww~ kau lucu sekali!"

"Kau mau kemana? Bukankah ini masih jam kerjamu?"

Geez~ mungkin maksud Hinata tidak seperti itu, namun Ino menangkap hal ini lain. Apakah wanita cantik ini sedang mengingatkannya untuk kembali bekerja dibanding harus berjalan-jalan di luar kantor seperti ini?

Ino mengerucutkan bibirnya, "Aku sedang suntuk di kantor Hinata-sama!" jawab Ino seenaknya, ia kemudian merentangkan keduatangannya untuk menyambut tangan mungil Boruto yang menginginkan untuk ia gendong.

"Kau mau ikut Ino Oba-chan?" tanya Hinata pada putranya kemudian menyerahkan bayi dengan warna rambut pirang menyala itu pada gendongan Ino.

"Hei jagoan!" pekik Ino ceria ketika Boruto sudah berada pada dekapannya yang kemudian disambut dengan celotehan-celotehan riang bayi itu, "Kalian mau kemana?" tanya Ino dengan memainkan jemari mungil milik Boruto.

"Mungkin tempat yang sama seperti tempat yang ingin kau tuju," Hinata menyunggingkan senyum ramahnya, "Sepertinya kau sedang terbebani oleh sesuatu, Ino-chan! Apa ini ada hubungannya dengan Sasuke-san dan peristiwa seminggu yang lalu?"

Sasuke? ahhh~ mengapa Nyonya Hokage ini tiba-tiba membawa-bawa nama pemuda itu?

"Aku tidak tahu harus menjawab apa pertanyaanmu itu Hinata-chan! hufft~ ayo kita masuk!" sergah Ino ketika keduanya kini tiba di sebuah toko yang menjual makanan serba cokelat, Ino benar-benar tak dapat menyembunyikan rasa senangnya, tanpa menunggu Hinata yang tersenyum penuh arti dibelakangnya, ia membawa sosok bayi mungil itu untuk memasuki kedai favoritnya.

"Aku mau Chocolate Truffle, Choco Lava dan... air putih dingin." Ino menyunggingkan senyuman manisnya pada sosok yang telah ia kenal betul karena sangat seringnya ia datang ke kedai ini untuk melepas rasa tertekannya, "Hinata-chan… kau mau pesan apa?"

"Aku mau susu cokelat saja, Ino-chan." sahut Hinata dari salah satu meja yang telah mereka pilih untuk menghabiskan waktu mereka, "Kau dengar apa istri Hokage kita, Sei-kun? Tolong siapkan untuk kami!"

"Aku mengerti nona muda." Pemuda berperawakan tinggi itu menyunggingkan senyuman manisnya seolah menebar pesona pada sosok cantik putri keluarga Yamanaka itu tanpa ia ketahui bahwa ada seseorang yang benar-benar menyita seluruh hati dan pikiran gadis itu, "Boruto-kun, ayo kita duduk di sana." Ajak Ino pada putra Hinata dan Naruto yang kemudian disambut dengan tepukan tangan ceria sang bocah Uzumaki.

"Sepertinya kau sangat senang digendong Ino Oba-chan, Boruto-kun…" senyum Hinata pada sang putra begitu Ino mengambil tempat duduk dihadapannya, "Dia sangat menyukaimu, Ino-chan."

Mendengar pujian itu otomatis membuat pemimpin klan Yamanaka itu tertawa bangga, "Tentu saja dia menyukaiku karena bibinya ini sangat cantik." tutur Ino bangga membuat Hinata ikut tertawa kecil dengan pernyataan sahabatnya itu.

"Katakan padaku, Ino-chan! Apa kau benar-benar menolak Sasuke-san?" Hinata bertanya pada sosok cantik di depannya yang kini tengah memainkan jemari mungil bocah lelaki jabrik yang berada di dekapannya, "Terimakasih." Ucapnya ketika seorang pelayan meletakkan pesanan mereka di meja, menunggu hingga pelayan itu selesai dan pergi, Ino akhirnya menghela napas panjang, "Aku hanya takut, Hinata-chan."

Hinata memandang sahabatnya iba, ia tahu benar bagaimana perasaan gadis yang telah ditinggal selama-lamanya oleh ayahnya ini, ia mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Ino, hangat, "Kau masih menyukai Sasuke-san, bukan? Kau masih menaruh rasa cintamu padanya, bukan? seharusnya itu sudah cukup untuk membuatmu yakin bahwa Sasuke-san benar-benar serius dengan apa yang sudah ia katakan saat itu."

"Tapi aku bukanlah seorang Yamanaka Ino yang lemah seperti dulu, seorang Yamanaka yang akan meneteskan air mata dengan mudahnya karena seorang Uchiha Sasuke. Aku bukanlah gadis lemah seperti dulu lagi, Hinata-chan."

Ya! Tentu saja ia bukan gadis yang akan menangisi kisah cintanya seperti dulu, kini ia sudah tumbuh menjadi pribadi matang dan dewasa, jangan harap menemukan sosok Yamanaka Ino yang berisik dan kekanakan seperti dulu. Pengalaman yang menjadikannya tumbuh menjadi pribadi tenang dan mampu mengendalikan emosi dirinya seperti saat ini, namun pada kenyataannya saat ini ia harus dihadapkan dengan kisahnya di masa lalu yang membawanya pada ketakutan-ketakutannya serta…

Kebahagiaan.

SasuIno…

"Kau mau menyerah begitu saja, Teme?" Naruto memperhatikan sahabatnya yang tegah menenggak sake dari botol yang entah sudah keberapa kalinya itu, Hokag muda itu miris memandang sahabatnya yang terlihat tertekan seperti itu hanya karena seorang wanita, hal yang tidak akan pernah ia lihat pada sosok Sasuke yang dulu, tapi ia lega dengan begitu membuktikan bahwa Sasuke kini sudah menjadi sosok yang lebih baik lagi jika dibandingkan dengan dirinya yang dulu, sosok angkuh, dingin dan tak bersahabat.

Sang pemuda Uchiha menghela napas panjang, "Lalu aku harus apa? Memaksanya dan kembali menjadi diriku yang dulu?" Ia menoleh pada sahabatnya yang kini juga menenggak minuman yang sama dengannya, sedikit tidak bertanggung jawab memang karena ia minum-minum saat jam kerjanya, namun demi sang sahabat tentu saja Naruto tak menghiraukan itu semua, "Dan membuat usaha kalian membawaku pulang ke Konoha menjadi sia-sia."

Naruto terdiam. Ya! Sasuke memang benar hingga membuatnya tak tahu harus menjawab apa lagi, ia menepuk-nepuk pundak Sasuke seolah ingin menenangkan sahabatnya itu, "Kau masih bisa mendapatkan Ino-chan selama kau tetap berusaha, Teme! Ayolah! Mengapa kau menjadi payah seperti ini?"

Sial. Mentang-mentang ia sudah menjadi Hokage lantas ia seenaknya mengatainya 'payah' seperti ini?

"Siapa yang kau panggil payah, Dobe?" suara berat dan dingin Sasuke menusuk indera pendengaran sang Hokahe muda, ia pun menyunggingkan cengiran khas miliknya, "Hahaha, aku bercanda." Sang Hokage berkilah, padahal nyatanya memandang Sasuke yang bereaksi sedemikian rupa membuatnya merinding tertahan, "Ayolah Teme! Apakah kau akan diam dan menunggu hingga Sai melancarkan usahanya mendekati wanitamu?"

Sai? Pemuda pucat bak mayat hidup itu?

Sasuke memandang tidak suka pada Naruto, apa dia bercanda? Apa dia benar-benar serius dengan mengatakan bahwa Sai juga sedang mendekati Ino? Ino-nya?!

Orang yang sering digadang-gadang sangat mirip dengan dirinya itu juga sedang mendekati Ino?

Tidak! Ia tidak bisa membiarkannya begitu saja, bagaimanapun ia tidak akan mengalah dari pemuda yang didapuk menjadi penggantinya di tim 7 itu, tidak akan ia biarkan dirinya juga digantikan posisinya di hati putri Yamanaka Inoichi itu. Namun, apa yang harus ia lakukan sementara Ino semakin menjauh darinya?

Salahkan dirinya yang tidak berprinsip! Salahkan dirinya yang membiarkan perasaan cinta gadis itu luntur padanya, salahkan dia yang…

"Sasuke-kun!" pekik Karin, sepupu Uzumaki Naruto itu kini mengalungkan kedua tangannya pada leher Sasuke, "Aku merindukanmu."

Arghht! Mimpi apa dia semalam hingga harus berurusan dengan Karin kembali setelah sekian lama gadis berambut merah itu merepotkan Shikamaru?! Ia melepas pelukan tangan Karin dan memandang sosok di depannya takjub, ia nampak lebih cantik dengan rambutnya yang diikat seperti ini, sementara kacamata yang biasa menghiasi matanya enyah entah kemana.

"Kau takjub? Apa kau menyesal karena tidak memilihku sekarang?"

Geez~ konyol, "Dalam mimpimu!" sahut Sasuke dan sukses membuat wanita itu mengerucutkan bibirnya sebal, "Kau benar-benar menyebalkan."

"Memang." Jawab Sasuke singkat.

"Dimana Shikamaru, Karin-chan? tidakkah seharusnya ia kemari bersamamu?"

Sang wanita yang kini menyandang nama keluarga Nara itu mengalihkan pandangannya pada sang sepupu, "Ia sedang berbicara dengan pemuda pucat yang menjadi pengganti Sasuke-kun di tim kalian," ia menghela napas panjang kemudian mengambil tempat duduk di samping Sasuke, "Kau benar-benar akan menyerah? Aku kira ini adalah kesempatan terakhirmu untuk meyakinkan si pirang itu."

Sasuke tahu benar apa yang dimaksud mantan rekan setimnya di tim Taka itu, bahkan Karin kini memberikan dukungan untuknya meskipun sulit untuk dipercaya mengingat bagaimana perilakunya di masa lalu, "Entahlah."

"Bodoh," Karin menyeringai jahil, nyatanya ia tahu benar dengan apa yang berada di pikiran sahabatnya itu, "Si pucat akan merebutnya darimu jika kau tidak cepat-cepat mendekati si pirang!"

Beraninya istri Shikamaru ini menghinanya 'bodoh', namun di lain pihak ia merasa bahwa Karin benar, semua yang mengidolakannya kini telah berhasil 'Move On' dan hanya menyisakan Ino yang masih bertahan. Gadis pirang itu masih benar-benar berdiri sendiri tanpa ada seseorang yang menjadi sandarannya, masihkah gadis itu menaruh harapan padanya? Masihkah gadis itu mengharapkannya? Sementara Sakura dan Karin sudah berhasil melangkah dan mendapat kebahagiaan mereka masing-masing.

Srakk

Sasuke berdiri dari posisi duduknya, "Aku pergi."

"Mau kemana, Teme?"

Tak ada sahutan, pemuda berambut raven jabrik yang sedikit memanjang itu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kerja Naruto di Hokage Tower, meninggalkan sepasang saudara itu dalam kebingungan namun kemudian keduanya saling memandang dan tertawa penuh arti.

SasuIno…

Berbincang dengan istri Hokage Konoha ke-7 tadi nyata-nyata membuat Ino lega, seperti beban terangkat begitu saja dari kedua pundaknya. Ia berjalan gontai menuju ke tempat kerjanya kembali, di jalanan yang nampak ramai dengan lalu-lalang penduduk Konohagakure yang sedang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing, sesekali mereka menyapanya dan ia akan menjawabnya dengan riang meskipun jauh di dalam lubuk hatinya kini merasa sedih.

"Selamat siang cantik." Sapa pemuda itu, ia tersenyum hangat pada sosok gadis pirang yang nampak sekali terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba itu "Sai?!" Ino meninggikan suaranya dengan tangan memegangi dada, "Kau membuatku terkejut."

Bagaimana ia tidak terkejut jika tiba-tiba pemuda itu berdiri di hadapannya seperti ini, "Kau sibuk?"

"Aku harus segera kembali ke divisi sekarang, ada apa? Apakah ada yang kau ingin bicarakan denganku? Jika tidak, maka aku harus segera kembali ke kantor." gadis itu memandang serius pemuda berkulit pucat yang masih saja menyunggingkan senyumannya, "Aku ingin bicara padamu empat mata." Jawabnya, ia lantas berjalan di samping Ino, membuat gadis Yamanaka itu sedikit mengerutkan dahi, bingung dengan sikap sang pemuda yang tiba-tiba berubah serius seperti ini.

"Jangan membuatku takut, Sai!"

Lagi, ia tersenyum.

"Nampaknya kau sedang berbahagia…! Ada apa, huh?"

Ino terkikik geli mendapati ekspresi Sai yang seperti itu, ia benar-benar mirip Sasuke jika saja warna kulitnya tidak pucat. Sasuke? mengapa ia harus memikirkannya kembali? Nyata-nyata pemuda itu tidak serius dengan apa yang dikatakannya, dalam seminggu ini bahkan ia tidak menunjukkan batang hidungnya, apa yang sebenarnya ia harapkan dari pemuda Uchiha itu?

Mengharapkan bahwa ia akan datang di hadapannya? Mengharapkannya untuk mmemperistrinya? Berharap bahwa ia akan menjadi seorang Uchiha Ino dan melahirkan anak-anak untuk pemuda itu?

Ino menghela napasnya, sesekali ia merapikan surai rambut panjangnya yang tertiup angin, entah mengapa ia menuruti Sasuke untuk mengikat rambut panjangnya kembali, meninggalkan sedikit pony-nya untuk menutupi sebagian wajahnya. Apakah ini menjadi sebuah bukti bahwa ia benar-benar masih menaruh harapan dan hatinya pada pemuda yang sempat mengkhianati desanya itu? pemuda yang kini hanya memiliki sebelah tangan karena imbas pertempurannya dulu.

"Aku menyukaimu."

Huh?

Ino menghentikan langkah kakinya. Apa-apaan Sai ini, huh?

"Aku menyukaimu. Aku ingin berkencan denganmu dan menikah denganmu…"

"…"

1…

2…

3…

Tak ada sahutan dari gadis Yamanaka itu.

"Aku telah membicarakannya dengan Shikamaru, ia mengijinkanku untuk mendekatimu namun… ia juga bilang semuanya kembali padamu, ia akan mendukung apapun pilihanmu."

"S-S-Ssai?"

"Euhm?"

Ino memandang pemuda di sampingnya, "Mengapa kau baru mengatakannya sekarang? Mengapa di saat aku kembali bimbang dengan pilihanku sendiri?" Ino mengambil napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya, apa-apaan ini?

Bagaimana bisa semua ini terjadi padanya dalam satu waktu?

"Kau masih menyukainya?" Sai menunjuk arah dimana Sasuke kini berjalan menuju tempat mereka berdiri, pemuda itu nampak semakin tampan dengan tempaan sinar matahari yang menempa wajahnya, tampan…

Sejenak Ino terlarut di dalam rasa kagumnya, namun ketika pemuda itu berada tepat di hadapannya, rasanya napasnya ikut berhenti dank ini ia mematung pada tempatnya berdiri.

Uchiha Sasuke dan Sai…

Kini ia berada di tengah-tengah pemuda yang sekilas mirip itu, Tuhan pasti sedang mengujinya, dosa apa yang telah ia perbuat hingga ia mendapat balasan seperti ini?

"Apakah kau sudah selesai bicara dengannya?" dingin. Sasuke bertanya pada sosok pucat yang memandangnya tak kalah dingin. Rasanya ia pernah mengalami ini sebelumnya, tapi ini adalah kenyataan! Mereka benar-benar memperebutkan dirinya. Ino tak bisa berekspresi apa-apa lagi, jika ia masih menjadi sosok di masa lalunya pastinya ia akan bersorak senang, namun kali ini ia benar-benar merasa tertekan dan bingung, "Kalian…"

"Apa yang kau inginkan, Uchiha? Jangan mendekatinya!"

"Apa urusanmu?"

Ya Tuhan… ampunilah segala dosa-dosanya jika ini adalah sebuah hukuman untuknya, Apa yang harus dia lakukan di saat seperti ini? untung saja sudah tidak banyak penduduk yang berlalu-lalang saat ini, jika tidak, maka sekali lagi ia akan menjadi perhatian dan bahan gosip ibu-ibu itu.

"Aku ingin bicara denganmu, jika itu masih tidak mampu meyakinkanmu untuk kita saling bicara maka putuskanlah sekarang! Pilih aku atau dia!" Sasuke menunjuk sosok di depannya, namun pemuda itu malah menyunggingkan senyum khas miliknya dan membuat Sasuke semakin ingin untuk menghajar wajah pemuda itu, "Katakan padaku Ino! Apakah kau lebih memilihnya daripada aku? Sementara aku benar-benar menginginkanmu, Apa karena kondisi fisikku yang tidak seperti dulu lagi hingga kau memilih untuk membalikkan langkahmu?"

Ino terpaku pada tempatnya berdiri, tanpa sadar air mata telah mengalir di kedua pipinya, bagaimana Sasuke bisa berkata seperti itu? Tidakkah ia juga memikirkan perasaannya?

Bagaimana ia harus bersikap jika yang ia tahu selama ini bahwa pemuda itu menaruh perasaannya pada Sakura? Apakah ia hanya pelarian dari rasa tertekan itu?

Ia takut jika jawaban itulah yang keluar dari mulutnya. Fisiknya? Ia sungguh tidak peduli! Ia benar-benar mencintainya, ia benar-benar tidak peduli dengan penampilannya bahkan jika ia kehilangan kedua tangannya, kehilangan kedua kakinya, ia tidak peduli!

"Aku benar-benar mencintaimu, bodoh!" teriak Yamanaka Ino.

Sungguh ia tidak peduli lagi, inilah yang benar-benar ia rasakan. Ia ingin mengatakannya dengan kencang bahwa ia mencintai Uchiha Sasuke. Ia tidak peduli lagi jika harus menghancurkan 'dinding' yang selama ini ia bangun untuk memperkuat jiwanya. Sungguh, ia sangat mencintai pemuda Uchiha ini.

Pun dengan Uchiha Sasuke, meskipun kedua kalinya dalam sehari ia dikatai 'bodoh' ia tidak peduli, terpenting untuknya ia telah mendengarkan apa yang ingin ia dengarkan selama ini, "Aku juga mencintaimu, Yamanaka Ino."

Bersambung…


Apa yang akan terjadi berikutnya? xD.

*Kibar bendera SasuIno FC dan Kapal Selam United tinggi-tinggi*

ENJOY ^^