Surai merah darah itu bergoyang mengikuti gerakan si empunya.
DUG.
DUG.
DUG.
Gema suara pantulan bola basket memenuhi seluruh sudut gymnasium klub basket Rakuzan yang sudah sepi. Gema suara yang senada dengan irama detak jantung Akashi Seijuurou.
BRUSK.
Hanya dalam beberapa detik saja, bola yang dipantulkan tadi dilempar, melambung di udara, dan masuk melintasi bundaran ring dengan mulusnya. Dan lemparan itu mengakhiri latihan basket Seijuurou hari itu. Ia berjalan menuju bench dimana ia meletakkan tasnya. Tangan kanannya terjulur mengambil sebotol air mineral, sedangkan tangan kirinya mengecek jam yang tertera di ponselnya. Rupanya ini sudah terlalu larut.
Seijuurou merapikan bola-bola basket yang habis digunakannya. Entah kenapa tiba-tiba saja bayangan Mayuzumi Chihiro terlintas di pikirannya. Siapa sangka, hari ini Seijuurou diam-diam terus mengamati permainan Chihiro. Dasar permainannya memang bagus, namun yang membuat Seijuurou tertarik untuk memperhatikannya adalah kemiripannya dengan kenalan lamanya di Teikou. Seringai Seijuurou sedikit terkembang. Bagaimana seandainya jika Chihiro akan menjadi bayangan barunya? Ralat, bukan 'akan', tapi dalam kamus Seijuurou selalu ada kata 'pasti'.
Berbicara tentang Mayuzumi, kini giliran Mayuzumi Yui yang teringat oleh Seijuurou ketika ia baru saja berjalan hendak keluar gym. Apakah gadis itu juga menyukai basket, mengingat ia dan Chihiro adalah saudara. Seijuurou kembali membuka ingatannya ke beberapa waktu yang lalu.
Tunggu sebentar. Kenapa ia harus memikirkan gadis yang membencinya? Kenapa dirinya harus terikat pada gadis yang tidak akan memikirkannya? Dan detik itu pula, sosok yang sedang dipikirkan Seijuurou melintas beberapa meter di depannya tepat setelah tangan kanannya membuka pintu gym. Kedua heterokrom Seijuurou terpaku sejenak memandang gadis yang sedang berjalan santai itu. Meski Mayuzumi Yui tidak menyadari keberadaan Seijuurou kala itu.
Dan sejenak kedua heterokrom itu tenggelam dalam manik keperakan sang gadis secara tidak sadar.
冬の花
Seijuurou masih belum berkedip sama sekali. Langkahnya terus mengikuti langkah gadis itu entah sejak kapan, mungkin sejak tatapan mereka bertemu secara sepihak.
Sebentar, bukan itu masalahnya. Pertanyaannya adalah kenapa seorang Akashi Seijuurou mau repot-repot membuntuti Yui? Entahlah, hanya Seijuurou dan Tuhan yang tahu. Situasi ini tentu mengingatkan Seijuurou dengan ucapan Yui dulu.
"Aku tidak menyuruhmu mengenalku dan aku tidak sudi kau mengenalku dengan cara menstalkerku!"
Seringai Seijuurou tanpa sadar terkembang.
Mayuzumi Yui masih belum menyadari Seijuurou yang sedari tadi mengekor di belakangnya. Sebuah ponsel tergenggam di tangan kanan dan ditempelkan di telinga, gadis itu sedang menelepon seseorang. Beberapa percakapan sempat ditangkap pendengaran Seijuurou, dan beberapa lainnya tidak jelas dibawa angin. Dari pembicaraan gadis itu, Seijuurou menyimpulkan gadis itu sedang menelepon kawan lamanya.
"Kau sepertinya masih belum banyak berubah, Kuroko-kun."
Kedua alis Seijuurou terangkat. Apa yang dimaksud gadis itu adalah Kuroko Tetsuya? Tapi, bukankah gadis itu memang pernah menyebut nama Tetsuya sebelumnya?
"Mou, sudah kubilang kan, meski kami kembar bukan berarti aku bisa telepati. Kau sama saja dengannya."
Apa katanya? Dia kembar?
.
.
.
FUYU NO HANA (Winter Flowers)
By Kazusaki Kuga
Kuroko no Basuke is not mine and always belong Tadatoshi Fujimaki-sensei
Pairing : Akashi Seijuurou & Mayuzumi Yui (OC)
The Rate is T~M but the first is just T
And the picture is not mine too
Happy reading and don't forget to leave a review
Teehee
.
.
.
Tangan kiri Yui menggeser pintu kelas diiringi sebuah helaan nafas meluncur dari kedua bibirnya. Begitu seisi kelas terekspos, kedua manik abunya memantau. Tidak ada anak manusia satupun yang terpantul di pupilnya. Tentu saja. Siapa yang mau ke sekolah ketika pelajaran baru akan dimulai satu jam kemudian. Salahkan Chihiro yang seenak jidatnya memajukan waktu pada jam kamarnya. Yui baru menyadari waktu yang sebenarnya ketika membuka pesan dari Kuroko dalam perjalanan menuju Rakuzan.
Si putri bungsu Mayuzumi berjalan gontai menuju bangkunya. Dalam hatinya ia bertanya-tanya. Apa yang bisa dilakukan selama satu jam di kelas? Sendirian pula. Yui menghempaskan pantatnya di kursi yang biasa ia duduki dan melempar pandangannya keluar jendela. Dan ketika itu suara pintu kelas yang digeser diterima indra pendengaran Yui. Kepala bersurai abu yang dibiarkan tergerai menutupi punggung itu spontan berputar menoleh ke arah pintu kelas, memenuhi rasa penasarannya soal siapa yang akan menemaninya di kelas satu jam kemudian.
Oh, sial!
Satu umpatan tersebut reflek digumamkan batin Yui ketika bola matanya bertemu dengan sepasang scarlet-gold. Kepalanya berputar lebih cepat menoleh kembali ke luar jendela. Di depan pintu yang baru saja dibuka berdiri seorang remaja pria bersurai merah yang sangat khas. Di saat seperti ini kenapa harus Akashi Seijuurou yang akan menemaninya satu jam ke depan? Menemani? Tidak, Yui tidak akan menyebutkan kata itu.
Langkah kaki teratur bekas pijakan Seijuurou terus memenuhi telinga Yui. Dan Yui terus menunjukkan sikap tidak peduli. Sebenarnya ia tahu, sebenanya ia bisa merasakan. Bahwa heterokrom si empunya terus menatapnya, memandangnya, melihatnya, mengawasinya di tiap langkahnya menuju tempat duduknya. Hingga si putra tunggal Akashi tersebut menyamankan posisi duduknya di kursi yang berjarak dua bangku dari Yui, matanya tetap tidak lepas dari Yui.
Hingga lima menit berlalu.
Tujuh menit.
Sembilan menit.
Sebelas menit.
Dan pada menit keduabelas Yui berdiri sambil menggebrak mejanya sendiri. Ia menoleh cepat ke arah Seijuurou. Balas menatap tak kalah tajamnya dengan pandangan si mahkota merah. Wajah Seijuurou memang terlihat datar, tapi ada sedikit rasa heran tersirat di kedua bola matanya ketika Yui bersikap mengagetkan barusan.
"Berhenti menatapku seperti itu!" Yui berteriak. "Kau mau membunuhku?"
Sebelah alis Seijuurou mengerut sedikit. "Kenapa aku mau membunuhmu?"
Kedua alis Yui lebih mengerut. "Tatapan matamu yang begitu menusuk itu menggangguku."
Kini kedua alis Seijuurou mengerut. "Kau pikir aku bisa membunuhmu hanya dengan menatapmu?"
Yui diam, meresapi tusukan dari tatapan satu-satunya manusia di kelas itu selain dirinya. Atau jangan-jangan Akashi Seijuurou adalah jelmaan setan? Kini bibir Yui ikut mengerut, melirik ke arah lain tatkala heran dengan pertanyaannya sendiri.
"Aku manusia."
Dua kata itu sukses membuat Yui terkesiap. Matanya berkedip berulang kali. "H-hah?"
"Aku manusia," ulang Seijuurou.
Yui mencerna dua kata yang diulang dua kali tersebut. Dan barulah gadis itu menyadari ketika bola matanya yang habis melirik kesana kemari itu bertemu heterokrom Seijuurou. Dan Yui terkesiap untuk kedua kalinya.
Namun, pemandangan selanjutnya justru membuat Yui melebarkan kedua bola matanya.
"Fufu... apa-apaan ekspresimu itu?"
Jika ada gadis lain yang melihat ekspresi langka dari wajah Seijuurou yang sedang tertawa kecil seperti saat ini, gadis itu pasti akan berfangirling ria bahkan mimisan di tempat. Tapi hal tersebut tidak berlaku bagi seorang Mayuzumi Yui. Bahkan meskipun Seijuurou harus melempar cium padanya Yui tidak akan terpengaruh. Mengerikan malah.
Seijuurou berhenti tersenyum ketika menyadari muka Yui memerah, entah terpana melihat ekspresinya atau karena menahan amarah.
"Meski kau tersenyum seperti itu aku tetap tidak akan memaafkanmu!"
Setelah sederet kalimat itu keluar dari mulut Yui, kakinya melangkah cepat keluar dari kelas. Meninggalkan Seijuurou yang diam-diam memegang kedua pipinya dengan sebelah tangannya.
Yui menutup pintu di belakangnya agak kasar namun masih ada rasa hati-hati. Sebenarnya ia bukannya tidak tahu kalau darahnya naik hingga kepala. Mukanya terasa panas. Entah kenapa melihat seorang Akashi Seijuurou yang terkenal dengan sifat angkuhnya tiba-tiba tersenyum terasa aneh di manik kelabunya.
Dan pikirannya sedikit teralihkan ketika melihat Sumino Anzu, gadis yang mengaku teman sejak kecil Teruhiko, berjongkok tak jauh dari kelas Yui. Di belakangnya, Teruhiko menggaruk tengkuknya yang terlihat tidak gatal. Manik orangenya sedikit berbinar begitu menangkap kedatangan Yui.
"Ah, Mayuzumi, apa kau menyadari keberadaan kami?" tanya Teruhiko dengan senyum kikuk namun tidak menghilangkan kesan ceria di wajahnya.
"Keberadaan kalian?" Yui tidak mengerti. "Ngomong-ngomong, apa yang dilakukan Anzu-sa... Huaa!
Tubuh ramping Yui terlonjak ke belakang begitu Anzu tiba-tiba menerkam bahunya bak harimau yang berhasil menerkam seekor rusa. Jemarinya mencengkeram pundak Yui dan iris violetnya berkilat menggebu-gebu.
"Na-nande...?" tanya Yui hati-hati.
"Katakan padaku," bahkan nafas Anzu terdengar seperti vampir yang haus darah.
"Hah?"
"Katakan padaku bagaimana kau bisa membuat Akashi-sama tersenyum seperti itu, Mayuzumi-chan?"
"-sama?!" Dan Yui terhenyak mendengar pertanyaan tersebut. Tanpa pikir panjang kepalanya menoleh dan menatap pria berambut orange yang senada dengan maniknya itu penuh tanda tanya. Sebuah helaan nafas kecil lolos sebelum penjelasan keluar dari mulut Teruhiko.
"Anzu adalah salah satu penggemar berat seorang Akashi Seijuurou yang terkenal kesempurnaannya di sekolah ini. Panggilan –sama diberikan para fansclubnya sebagai tanda mereka begitu menggemarinya, bagiku. Namun bagi mereka itu suatu kehormatan."
Yui mengernyit. "Bukankah itu terdengar seperti memperbudak?"
Bola mata Teruhiko membulat. "Kau benar! Akhirnya ada wanita yang sependapat denganku!"
Dan Yui memutar bola matanya bosan.
冬の花
"Apa, sih, istimewanya seorang brengsek seperti dia?"
Chihiro hampir saja mengeluarkan kembali makanannya lewat hidung. "Jangan tiba-tiba berkata jelek begitu ketika sedang makan malam!"
Yui hanya terus melahap makan malamnya dengan wajah kesal. "Apa itu berarti aku boleh mengatakannya ketika sarapan atau makan siang?"
"Tentu saja tidak, bodoh!" Jika saja Chihiro tidak ingat bagaimana rasanya dihantam kepala adiknya sendiri, mungkin garpu di tangannya sudah menancap di tangan Yui. "Apa maksudmu itu si Akashi?"
Yui hanya diam tak menggubris pertanyaan yang terlontar padanya.
.
.
.
Seijuurou menekan beberapa digit nomor di ponselnya. Setelah menekan tombol hijau, ditempelkannya di telinga kanan, dan tak lama kemudian nada sambung tertangkap oleh gendang telinganya.
Pik.
"Moshi moshi?"
"Ah, moshi moshi. Maaf, apa aku mengganggu makan malammu?"
"Iie, aku baru saja selesai. Ada apa Akashi-kun tiba-tiba meneleponku?"
Tidak basa-basi seperti biasa. Seijuurou beranjak berdiri dan berjalan meninggalkan ruang makan sambil tetap menjaga ponselnya tetap menempel di telinga. Ia tahu Kuroko masih menunggu di seberang sana. "Aku hanya ingin bertanya sedikit padamu."
"...Silahkan."
.
.
.
Chihiro mengendikkan bahu melihat sang adik yang tidak menunjukkan respon sama sekali atas pertanyaannya barusan. "Baiklah, itu bukan urusanku." Chihiro berdiri bermaksud membawa piring-piring kotor bekas makan malam ke dapur untuk dicuci.
"Ngomong-ngomong, Yui."
Merasa dipanggil, Yui menengadah memandang sang kakak.
"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan."
.
.
.
"Kau berteman dekat dengan Mayuzumi Yui, kan?" Seijuurou tidak berbasa-basi seperti yang Kuroko lakukan beberapa saat lalu.
"Hai'. Apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Aku hanya ingin bertanya, apa dia punya saudara kembar? Siapa?"
Beberapa saat tidak ada jawaban dari seberang. Namun Seijuurou bisa membayangkan wajah datar Kuroko yang tidak mungkin gelagapan hanya karena pertanyaan seperti ini.
"Kudengar kalian satu kelas, aku pikir kau sudah tahu, Akashi-kun... Ya, ada."
Heterokrom Seijuurou sedikit melebar mendengar jawaban terakhir.
"Namanya Mayuzumi Chihiro."
.
.
.
"Soal basketku."
Yui meletakkan piringnya di counter dan hendak membantu Chihiro ketika dua kata itu terlontar dari mulut si sulung.
"Kenapa? Ada peningkatan?" Yui bertanya antusias. "Atau ada sesuatu yang terjadi dengan klubmu?
"Geez... tidak, aku..."
.
.
.
"Jangan membohongiku Tetsuya, Mayuzumi Chihiro sudah kelas tiga dan itu artinya mereka terpaut selisih dua tahun, kan?"
"Maaf, Akashi-kun, sayangnya yang aku ucapkan bukan suatu kebohongan."
"Bagaimana bisa?"
Kuroko terdiam lagi.
"Tetsuya?"
"Aku tidak bisa membantumu lebih jauh dari ini, Akashi-kun. Sepertinya masalah sedang mendatangiku sekarang. Kau tanyakan saja pada orang yang bersangkutan. Jaa, konbanwa."
Pik.
Dan sambungan terputus. Seijuurou hanya menatap ponselnya dengan ekspresi yang sukar dijelaskan. Mayuzumi Yui dan Mayuzumi Chihiro adalah kembar? Jujur saja, ia masih belum yakin sepenuhnya jika belum mendengar secara langsung buktinya.
"Baiklah, akan kutanyakan saja pada si kakak."
.
.
.
"Aku keluar dari klub basket."
Yui terhenyak. "Hah? Serius? Kenapa tiba-tiba? Bukankah kau juga sangat menyukai basket?"
"Tenang dulu," Chihiro masih meneruskan kegiatan mencuci piringnya. "Kau lupa sekarang aku sudah kelas tiga? Aku harus fokus belajar untuk tes masuk perguruan tinggi. Aku tidak bisa menyia-nyiakan waktuku untuk basket yang sama sekali tidak bisa membuatku bermain di lapangan resmi."
Kini Yui terdiam. Rasa kecewa sedikit terlihat pada raut mukanya.
"Aku memang menyukai basket. Tapi aku tahu apa yang harusnya aku lakukan dengan yang tidak."
Yui hanya memberengut. "Baiklah."
Chihiro tersenyum. Ditepuknya kepala sang adik. "Arigatou. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan jika kau tidak mendukungku. Kau satu-satunya yang aku punya."
.
.
.
To Be Continue~
.
.
.
(A/N)
Dou...mo...
Setelah sekian lama nggak update rasanya takut untuk muncul lagi. *Huuu~~
Dan aku yakin chapter ini sedikit gaje, memang aneh sih. Chapter 2 adalah waktu WB untuk Kuga =_=
Oh iya, ini untuk balasan review. Maaf Kuga tidak bisa membalas satu-persatu lewat PM.
ShirShira : Terima kasih untuk sarannya
Himawari Natalia : Huaa... terima kasih /balas peluk. Maaf, disclaimernya udah dicantumin kok. Terima kasih sudah menunggu
Alfiona airen : Terima kasih, kalau Fio-san suka itu sudah cukup membantu ^^
UsagiRabbit : Terima kasih usulan dan semangatnya ^^
Rukiya san : Kyaa... terima kasih dukungannya :'3
Kuroshi Len : Terima kasih sudah menunggu. Iya, Yui dan Chihiro memang author bikin kembar. Soal mereka yang beda angkatan akan dijelaskan di chapter depan. Maaf membuat menunggu ._.
Akuro terojima : Terima kasih sudah mau menunggu ^^ Soal hubungan Yui dengan Kuroko & Ogiwara mungkin akan dijelaskan chapter depan kalau tidak depannya lagi. Hehe, maaf lama...
Maaf atas kekurangan dan kesalahan ketik karena Kuga belum sempat membacanya ulang ._. Mohon bantuannya,
Sayonara!
