Chapter 2 update!

Pertama, author mau balas review sebelumnya! Author minta Lenka temenin author untuk balas review!

Lenka: Kenapa aku? Kenapa author pakai nama depanku sebagai pen name?

Author: Karena author suka chara kamu. Sekarang balas review!

BLh:

Lenka: Semua pairing fav?

Author: Untung suka pairingnya. Untuk pairing KaiMei, aku juga kurang suka. Tapi, aku lebih gak suka lagi kalau Kaito sama Luka. Lenka, kau dan Rinto termasuk pairing fav loh!

Lenka:Urusai!*blushing*

Zeita Hikari:

Author: Semoga gak ada typo! Makasih udah mau review ya! :3

Lenka: Sekarang declamair!

Declamair: Vocaloid milik Crypton dan Yamaha! Saya hanya author dibawah umur yang meminjam chara ini!

Happy reading!

Normal P.O.V

Sementara itu, Gumiya yang sedikit terganggu karena Gakupo yang mondar-mandir, akhirnya memutuskan untuk berhenti membaca. Saat Gumiya menoleh ke samping, ia menemukan lubang kecil di kayu itu. Saat melihat kedalam lubang itu, terlihat suasana pemandian wanita. Gumiya langsung memalingkan wajah dengan wajah merah dan berjalan menuju tempat Len untuk ikut berendam.

Len menoleh kearah Gumiya yang ikut berendam disampingnya. Len melihat wajah Gumiya yang merah padam.

" Kenapa wajahmu merah?" tanya Len sambil mengernyitkan dahi. Gumiya hanya diam.

Len makin bingung karena Gumiya tak menjawab pertanyaanya. Tak lama terdengar teriakan riang Gakupo.

" WOOOHOOOO! AKHIRNYA AKU MENEMUKANNYA! LUBANG MENUJU 'SURGA'!~" teriak Gakupo, anggota VocaUtau yang lain diam.

" Gawat…" gumam Gumiya. Len yang mendengar menoleh kearahnya.

" Apanya yang gawat?" tanya Len. Gumiya menoleh kearahnya.

" Sebenarnya, tadi aku sempat melihat melalui lubang itu… Mungkin, Gakupo-jii tak menemukannya karena terhalang tubuhku," jelas Gumiya. Len hanya manggut-manggut.

Len keluar dari pemandian dan mengambil handuk.

" GAKUPO-JII!~ AKU IKUT!~~~" teriak Len yang segera berlari menuju tempat Gakupo.

" Cepat Len!" ucap Gakupo. Mereka berdua mengintip dengan hikmat.

Gumiya yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala. Rinto menoleh ke Gumiya.

" Kau yang menemukan duluan, kenapa tak ikut mereka?" tanya Rinto sambil menunjuk Len dan Gakupo. Gumiya menggeleng.

"Nanti saja. Kalau sudah menikah. Sekarang aku masih bawah umur," ucap Gumiya.

"Kau yakin?" tanya Rinto dengan senyum jahil.

" Yap, lagipula wanita bukan untuk dipermainkan, tapi untuk dijaga," jelas Gumiya. Rinto mengedipkan matanya sejenak.

" Kupikir, semua anak VocaUtau itu pervert. Ternyata kau tidak ya?" ucap Rinto tak percaya.

" Hey! Aku juga kau bilang pervert?" tanya Mikuo.

" Maaf, aku lupa denganmu dan Kaito," ucap Rinto sambil nyengir.

" Aku sih sependapat dengan Gumiya. Tapi, kalau Kaito alasannya lain," ucap Mikuo. Rinto memandang dengan bingung.

" Kaito itu polos. Jadi, walaupun ia ikut mengintip, Kaito tak akan mengerti apa maksudnya," jelas Gumiya. Rinto hanya diam.

" Sudah hampir 17 tahun masih tak mengerti?" tanya Rinto. Mikuo dan Gumiya mengangguk serentak. Rinto hanya menggeleng tak percaya.

Sementara itu, dipemandian wanita. Miku sedang berendam, Rin menggosok punggung Lenka, Luka berendam, Meiko berendam disamping Luka, dan Gumi melanjutkan sketsa gambar Gumiya.

Meiko yang melihat Gumi sibuk dipojok pemandian segera bangun dan menghampiri Gumi.

" Menggambar siapa?" tanya Meiko. Gumi menoleh.

" Ah… G-Gumiya…" jawab Gumi malu-malu dengan wajah merah padam. Tapi, jawaban dari Gumi terdengar jelas di seluruh pemandian itu.

" Jadi, Gumi naksir Gumiya?~" goda Rin.

" E-etto…" Gumi tak bisa menjawabnya karena gugup, tapi wajahnya yang merah sempurnalah yang menjawabnya.

"CIIIEEE~~~" teriak Rin dan Miku bersamaan.

Dipemandian pria, Gakupo dan Len yang menguping pembicaraan itu segera menoleh kearah Gumiya yang berendam sambil menengadahkan kepalahnya keatas. Kacamata bingkai merahnya diletakkan diatas kepala. Gakupo dan Len berpandangan dan saling melempar senyum licik.

" Gumiya~~~" panggil Gakupo dan Len bersamaan dengan nada err… Manja? Entahlah. Tapi, Gumiya yang mendengarnya hanya bisa menggidik ngeri.

" Gumi menyukaimu, loh~" ucap Len. Gumiya yang semula tegang, raut wajahnya berubah. Gumiya menaikkan sebelah alisnya.

" Bukan,Len. Tapi, mencintainya~" ralat Gakupo dengan senyum licik. Terlihat sedikit rona dipipi Gumiya.

" AWW~~ Kalau, Gumi melihatnya pasti akan tersipu~~" goda Gakupo yang melihat rona dipipi Gumiya.

"Bukan urusanmu!" ucap Gumiya ketus dan kembali menengadahkan kepalanya.

Selama 2 jam mereka berendam. Setelah berendam, mereka menikmati makan malam. Pada jam 7 malam, mereka semua berkumpul di kamar Rinto dan Lenka, karena Rinto meminta semuanya datang kekamarnya.

" Jadi, untuk apa kami disini?" tanya Meiko menaikkan alisnya.

" Untuk bermain," jawab Rinto dengan senyum yang sulit diartikan. Semuanya memandang bingung Rinto, kecuali Len yang sudah mengetahui rencananya.

" Main?" ulang Rin dan Miku bersamaan.

" Truth or Dare," ucap Len melanjutkan kata-kata Rinto. Semuanya terlihat kaget. Karena jika memainkan ini, semua aibnya akan terbuka.

" A-anu…" Gumi hendak berkata, namun diputus oleh Rinto yang sudah membacakan peraturan mainnya.

" Aturannya, orang yang sudah kena putaran botol ini tidak akan bermain lagi setelah ia selesai memutar botol dan memberikan pertanyaan atau tantangan pada orang berikutnya. Seterusnya begitu sampai semuanya kebagian menjadi korban." Jelas Rinto.

" Siapa yang putar pertama?" tanya Luka.

" Rinto," ucap Len.

Lalu mereka semua duduk melingkar, dengan posisi selang duduknya, Mikuo,Miku,Len,Rin,Luka,Gakupo,Meiko,Kaito,Gumi,Gumiya,Lenka,Rinto, dan kembali ke Mikuo. Rinto bersiap memutar botol. Botol pun berputar, dan berhenti di… Rin.

" Truth or Dare?" tanya Rinto. Rin berpikir.

Rin tak mau melakukan tantangan, karena pasti akan merugikannya. Jadi, jujur saja.

"Truth," jawab Rin yakin. Rinto sedikit menyeringai.

" Ok. Kau anggap Len itu siapa? Teman? Sahabat? Atau, kekasih?" tanya Rinto dengan senyum licik. Len hanya blushing, begitupun Rin.

" A-anu… Apa tak bisa ganti pertanyaan?" tanya Rin gugup. Rinto menggeleng."Aku pilih yang ketiga." Jawab Rin pasrah.

Len hanya diam. Rin memejamkan matanya.

" Baiklah, kekasih. Cinta mu terbalas Len. Rin segera putar botolnya dan berikan pertanyaan atau tantangan pada orang berikutnya, baru kau boleh keluar dari permainan. Tapi, jangan keluar dari kamar," perintah Rinto.

Rin sedikit blushing mendengar kalimat pertama Rinto. Dengan gugup, Rin memutar botolnya, berhenti di…Lenka.

"Lenka, Truth or Dare?" tanya Rin dengan senyum manis. Lenka menundukkan kepala.

"Truth…" jawab Lenka pelan.

" Siapa orang yang paling kau benci? Apa alasannya?" tanya Rin. Lenka langsung memandang Rin dan menjawab dengan tegas.

" Rinto. Karena sudah seenaknya memanggil nama kecilku dan memintaku 'ini itu'." Jawab Lenka tegas dan cukup keras.

Rinto hanya memasang wajah tak terima dari jawaban Lenka. Sedangkan anggota VocaUtau lainnya menahan tawa.

Rin pun mneyerahkan botol pada Lenka. Rin duduk disofa kecil dikamar tersebut. Lenka langsung memutar botol. Botol perputar pelan dan mengarah pada…Miku.

"Truth or Dare?" tanya Lenka.

" Dare!" jawab Miku lantang.

" Umm… Cium pipi pacarmu selama 5 detik," ucap Lenka.

Miku tersenyum senang dan dengan senang hati mencium pipi Mikuo. Mikuo dan Miku merona tipis.

" Terimakasih Lenka atas Dare-nya!" ucap Miku senang. Lenka keluar dari lingkaran dan duduk dipinggir kasurnya.

Miku mengambil botol dan memutarnya dengan cepat. Botol berputar dan berhenti pada… Gumiya.

"Truth or Dare?" tanya Miku.

" Truth," jawab Gumiya kalem.

Miku berpikir sebentar untuk Truth-nya. Karena kejadian dipemandian tadi, Miku mendapat ide untuk Truth-nya.

" Siapa orang yang kau suka?" tanya Miku tersenyum mengerikan.

Gumi tertunduk mendengar pertanyaan itu. Takut mendengar jawabannya.

" Gumi Megane," jawab Gumiya dengan wajah datar. Gumi langsung menoleh dengan wajah kaget.

"CIIIEEEE~~~~~ GUMI~~~~" teriak Rin dan Miku dengan hebohnya. Gumi blushing berat.

Gumiya hanya diam dan mengambil botol. Miku keluar lingkaran dan duduk di kursi disebelah sofa yang ditempati Rin. Gumiya memutar botolnya. Berhenti di…Gumi.

" Truth or Dare?" tanya Gumiya menoleh kearah Gumi yang menunduk sambil blushing.

Miku dan Rin hanya cekikikan. Gumi menghela nafas pelan.

" Truth…" jawab Gumi pelan.

" Jawab pernyataanku tadi!" perintah Gumiya. Gumi menatap bingung.

" Gumi-chan! Jawab pernyataan Megpoid-san!" perintah Miku. Gumi yang baru mnengerti maksudnya, blushing.

"Jadi?" Gumiya bertanya lagi sambil menaikkan sebelah alisnya dan menyunggingkan sedikit senyum.

" Mau!" jawab Gumi dengan wajah merah, semerah tomat.

" KYAAAA~~~~ GUMI JADIAN!~~~~~" pekik Rin dan Miku bersamaan dengan wajah yang kelewat senang.

Gumiya segera keluar lingkaran dan duduk dipinggir kasur Rinto. Gumi memutar botol dengan wajah yang masih merah. Botol memutar dengan pelan,hingga berhenti pada…Len.

'Saatnya balas dendam pada Rin!' batin Gumi."Truth or Dare?" tanya Gumi dengan wajah datar namun menyimpan rencana.

" Dare!" ucap Len. Gumi menyeringai.

" Cium Rin-chan! Tepat dibibir!" ucap Gumi. Len langsung membelalakan matanya mendengar Dare yang menurutnya bagai surga.

Len langsung bangkit dan berjalan ketempat Rin yang blushing. Len mengangkat dagu Rin. Dan menciumnya.

" So sweet~~" ucap Miku dengan tambahan ekspresi blling-bling.

Tak lama Len melepas ciumannya. Dan kembali duduk. Gumi keluar lingkaran dan duduk dengan canggung disebelah Gumiya, dipinggir kasur Rinto. Len pun memutar botol itu. Botol pun berhenti di… Luka.

"Truth or Dare?" tanya Len sambil sedikit menyeringai.

" Truth," jawab Luka kalem.

" Baiklah, kenapa kau selalu menolak pernyataan cinta Gakupo dan kenapa kau begitu membencinya?" tanya Len sambil menyeringai lebar.

Luka hanya terperanjat setelah mendengar pertanyaan itu.

" Sebenarnya, aku tidak begitu membencinya. Hanya kurang nyaman saja akan kelakuannya." jawab Luka dengan sedikit rona. Len menyeringai lebar karena pertanyaannya dijawab sesuai dugaannya.

Semua hanya diam mencerna kata-kata Luka. Len keluar lingkaran dan duduk disebelah Rin. Luka bersiap memutar botol. Dan botol berhenti pada… Kaito.

"Truth or Dare?" tanya Luka.

" Dare!" jawab Kaito semangat.

" Ok, jauhi es krim selama 2 hari di onsen ini," ucap Luka. Kaito menganga.

Bagaimana mungkin Kaito yang seorang penggila es krim sejati, harus menjauhi es krim selama 2 hari? Apa yang akan dikatakan Kaito?

" Baiklah! Asal bukan menjauhi Meiko, aku akan terima!" ucap Kaito. Meiko yang disebelahnya menjitak Kaito pelan. Sungguh jawaban yang diluar dugaan…

Luka keluar lingkaran. Kaito memutar botol,dan mengarah pada…Mikuo.

" Truth or Dare?" tanya Kaito. Mikuo terdiam.

" Dare," jawab Mikuo.

" Rinto, boleh tidak mengajukan pertanyaan sekaligus dare?" tanya Kaito pada Rinto. Rinto mengangguk sebagai tanda setuju.

" Yosh! Kau lebih memilih jauhi Miku atau Negi selama 1 hari?" tanya Kaito.

" Lebih baik jauhi Negi, daripada dijauhi oleh Miku…" ucap Mikuo sedikit blushing.

" Baiklah, semua Negi mu harus di musnahkan!" ucap Kaito beranjak pergi dan duduk di sofa besar disebrang sofa Rin dan Len.

Mikuo memutar botol lagi. Mengarah pada… Gakupo. Gakupo sedikit bergidik merasakan hawa tak enak.

" Truth or Dare?" tanya Mikuo datar namun ada unsur dark.

" Umm… Dare…" jawab Gakupo ragu.

" Jauhi Luka-sensei selama menginap di onsen ini!" ucap Mikuo. Gakupo melotot.

" WHAT THE HELL? " teriak Gakupo dengan lebaynya. Kemudian mneangis ala air terjun.

Mikuo tanpa memperdulikan Gakupo, langsung duduk dipinggir sofa disebelah kursi yang duduki Miku. Gakupo memutar botol dengan lemas. Botol berhenti pada… Meiko.

Sekarang peserta yang bermain hanya Gakupo, Meiko dan Rinto. Artinya setelah Meiko, ia tak akan memutar botol dan langsung mengajukan tantangan atau pertanyaan pada Rinto.

"Truth or Dare?" tanya Gakupo yang masih berduka.

" Dare!" ucap Meiko yang memang menyukai tantangan.

" Hah… Cium Kaito, dipipi…" ucap Gakupo. Meiko ingin membantah tapi, mengurungkan niatnya setelah tau Kaito hanya memandangnya innocent.

" Ok!" ucap Meiko yang berjalan kearah Kaito yang bingung.

Meiko pun segera menarik wajah Kaito dan mencium pipi kiri Kaito. Kaito langsung blushing.

Meiko kembali duduk bersama Rinto. Gakupo langsung pundung dipojok kamar. Meiko langsung mengajukan pertanyaan.

"Truth or Dare?" tanya Meiko yang sedikit blushing.

" Dare," jawab Rinto.

" Pilih 2 tempat dimana kau akan cium Lenka," jelas Meiko, alasan Meiko memilih Lenka, karena tahu Lenka membenci Rinto. Rinto pun berdiri.

Lenka yang merasa namanya disebut segera menoleh. Dan mendapati Rinto yang berjalan kearahnya.

" Lenka…" panggil Rinto. Lenka hanya diam memandang.

Rinto langsung mencium pipi kanan Lenka dan mencium tangan kanannya. Lenka sedikit blushing, meski ingin menghajar Rinto.

" Baik, kalian boleh kembali kekamar kalian. Permainan selesai. Oh ya, besok kumpul di ruang tengah, aku mau mengajak kalian ketaman bunga," ucap Rinto dengan senyum tipis.

" Darimana kau tahu taman bunga itu? Kau kan baru disini?" tanya Mikuo bingung.

" Aku sering kesana untuk menemui sahabat kecilku," jawab Rinto.

" Ya sudah, kami pamit!" ucap Len menyeret Rin keluar kamar.

Yang lain pun mengikuti Len dan Rin keluar kamar. Hingga dikamar tersisa Lenka dan Rinto.

"Hei, kau serius tak suka kupanggil nama kecil?" Tanya Rinto duduk dipinggir kasurnya.

"Ya, karena hanya 'dia' saja yang pernah memanggilku dengan –chan," ucap Lenka.

" Ya sudah. Besok tolong bangunkan aku jam 4 pagi ya. Kau selalu bangun pagi-pagi kan?" pinta Rinto. Lenka bingung.

" Darimana kau tahu?" tanya Lenka. Rinto hanya mengangkat bahu dan tidur dikasurnya sambil membelakangi Lenka.

Lenka mengikuti Rinto untuk tidur. Tapi, tahu dari mana Rinto kalau Lenka seorang yang selalu bangun dipagi-pagi buta?

Lenka tak bisa tidur karena memikirkannya. Hingga akhirnya ia tidur pulas.

Kira-kira jam 03.43, Lenka bangun karena memimpikan janji yang dibuatnya. Lenka berpikir sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk membangunkan Rinto.

Lenka bangun dari tempat tidurnya dan berjalan kesamping tempat tidur Rinto. Membuka sedikit selimut yang menutupi wajah Rinto.

'Manis juga kalau tidur…' pikir Lenka. Langsung menggelengkan kepalanya setelah menyadari yang dipikirkannya.

Lenka menyentuh bahu Rinto dan menggoncangkan pelan.

" Kagamine-kun, bangun," ucap Lenka membangunkan.

Rinto membuka matanya sedikit dan duduk.

" Lenka-chan?" panggil Rinto yang masih setengah sadar.

" Ah, maaf. Aku memanggilmu dengan nama depan tadi!" Ucap Rinto yang baru menyadari apa yang dikatakannya. Lenka menggeleng pelan.

" Tak apa jika kau lebih suka memanggil begitu," ucap Lenka tersenyum lembut.

" Baiklah, Lenka-chan," balas Rinto. Lalu mengambil hp nya dan mengirim sms pada semua anggota VocaUtau untuk mengunjungi kamarnya.

Tak lama, pintu kamar Rinto diketuk perlahan.

"Buka. Tak dikunci," ucap Rinto.

Pintu terbuka, dan masuklah Mikuo,Len, Gakupo, dan Kaito.

" Loh, kukira Gumiya sudah datang?" ucap Len.

" Dia tak ikut. Katanya bisa sendiri," balas Rinto.

" Ayo dimulai!" ucap Gakupo.

" Memang mau ngapain?" tanya Lenka.

"Mau membuat karya dari bunga. Rinto katanya pandai merangkai bunga," jelas Mikuo.

Lenka hanya mengangguk sambil tiduran dikasurnya dengan kepala memperhatikan para pria belajar merangkai bunga.

" Kau bisa buat apa saja?" tanya Gakupo.

" Mahkota, gelang, kalung, rangkaian bunga, dan cincin," jawab Rinto.

"Ajarkan kami semuanya!" ucap Len semangat.

"Boleh, kecuali cincin," jawab Rinto.

"Kenapa?" tanya Len.

"Karena aku gak mau kalian memberikan cincin, yang sebenarnya aku ajarkan. Kalau mau, berusaha sendiri!" jelas Rinto.

"Pelit~~" ucap Len dan Gakupo bersamaan.

Sementara Kaito hanya ngorok kembali disofa besar yang berada dikamar itu. Lenka hanya memperhatikan saja.

Untuk sementara, kita tinggalkan keadaan ramai dikamar Rinto dan Lenka. Sekarang kita lihat keadaan dikamar Gumiya dan Gumi.

Terlihat Gumi yang masih tertidur pulas diatas ranjangnya, sementara Gumiya sudah bangun akibat sms dari Len. Gumiya sedang membaca novel.

Tak lama setelah selesai membaca novel, mata Gumiya tertuju pada buku sketsa Gumi yang berada dimeja sebelah kasur Gumi.

Gumiya berjalan menuju meja tersebut dan membuka buku sketsa Gumi.

Halaman pertama, menampikan gambar Miku yang kedua, adalah gambar seluruh anggota VocaSong. Begitulah seterusnya, hanya gambar anggota VocaSong.

Hingga akhirnya, Gumiya membuka halaman pertengahan dari sketsa tersebut. Terlihat gambar dirinya yang sedang belajar dikelas sambil memasukan pensil kedalam mulut.

'Kapan ia menggambarnya?' pikir Gumiya sambil melihat Gumi.

Lalu Gumiya membalik lagi, kali ini gambar dirinya yang sedang membaca buku dibawah pohon sambil mendengarkan earphone.

'Ini saat istirahat kemarin. Dari mana ia melihatnya?'pikir Gumiya makin bingung.

Gumiya membalik halaman lagi. Kali ini gambar dirinya yang sedang membaca novel, tadi siang.

Lalu membalik lagi, kali ini gambar dirinya yang tertidur.

'Jadi, itu yang dikerjakannya sampai tidur larut?' pikir Gumiya.

Saat membalik lagi, halaman kosong. Gumiya pun meletakkan kembali buku Gumi dan mengguncangkan pundak Gumi untuk membangunkannya.

"Megane-san, Megane-san," panggil Gumiya sambil mengguncang pundak Gumi pelan.

Perlahan Gumi membuka matanya.

"M-Megpoid-kun…" ucap Gumi sedikit kaget.

"Gumiya. Jangan panggil marga dong," ucap Gumiya yang duduk disebelah Gumi yang baru bangun.

"Baiklah, membangunkanku sepagi ini?" Tanya Gumi.

" Aku mau mengajakmu keliling tempat ini. Tak masalah kan?" tanya Gumiya dengan sedikit senyum. Gumi blushing.

"B-baiklah…"jawab Gumi sambil menunduk dan segera kekamar mandi untuk bersiap.

Sementara itu, kamar Rinto sedikit ribut karena semua anggota VocaUtau dan lenka berada disana. Rinto yang sibuk mengajari Len,Gakupo,Mikuo, dan Kaito. (Walaupun Kaito tidur sih… -.-)

"Sudah semua, sekarang kalian siap-siap. Nanti kumpul diruang tengah," perintah Rinto.

" BUH! Ajarkan cara buat cincin dong!" rengek Len dengan wajah sok imut.

"Tak akan!" balas Rinto tegas.

Dengan perasaan kurang puas, Len keluar dari kamar Rinto diikuti Gakupo yang menyeret Kaito dan Mikuo yang pamit pada Rinto dan Lenka.

Kamar Rinto pun kembali menjadi sunyi. Rinto pun duduk dipinggir kasurnya.

"Sebaiknya kau mandi duluan," ucap Rinto.

Dengan segera Lenka bangkit dari tempat tidurnya dan berlari kekamar mandi sambil membawa pakaian gantinya.

"Cepat!" teriak Rinto pada Lenka.

"Iya! Bawel!" marah Lenka dari balik kamar mandi.

Rinto hanya terkikik karena rencananya untuk menjahili Lenka sedikit terlaksana dengan lancar.

Jam 06.23 pagi, semua anggota VocaUtau dan VocaSong sudah berada diruang tamu. Mereka bersiap ke kaki bukit yang berada tak jauh dari tempat mereka menginap.

Setibanya disana, mereka merasa sangat terpukau dengan berbagai bunga indah yang bertebaran disetiap sudut kebun.

Rin langsung menarik Len ketengah-tengah kebun dan mengajaknya memetik bunga. Len hanya bisa bersemu saat lengannya ditarik. Rin dan Len bermain dikebun bunga dengan riang. Hingga Len memberikan Rin kalung tipis yang Len buat dari tangkai-tangkai bunga yang dipetiknya. Meskipun Len tahu cara membuatya dari Rinto…

Luka hanya berjalan santai diikuti Gakupo yang menari-nari tak jelas dibelakang Luka. Luka berhenti disebuah pohon dipinggir taman sambil menyenderkan punggung dan duduk santai sambil membaca buku. Kalau Gakupo? Langsung merangkai bungai membelakangi Luka. Setelah jadi, Gakupo langsung menaruh mahkota bunga yang dibuatnya diatas kepala Luka yang terlihat kaget dan blushing.

Mikuo dan Miku hanya berjalan bersama sambil bergandengan tangan menuju sisi taman yang masih kosong, untuk berencana memberikan gelang bunga yang diajarkan Rinto pada Miku.

Gumi hanya menggandeng lengan Gumiya kebangku kayu yang terletak disisi taman tang lain. Mungkin sejak Truth or Dare semalam, mereka jadian.

Kalau Kaito, menggendong Meiko dengan sedikit paksaan dengan senyum bodoh yang terpasang diwajahnya, Meiko hanya blushing karena baru pertama kali ada pria yang nekat menggendongnya yang dijuluki 'Wanita setengah pria' ini.

Sementara Rinto hanya mengikuti Lenka yang berjalan menuju sebuah pohon tang berdiri ditengah taman itu.

Lenka berhenti dibalik pohon tersebut, dan terduduk dibawahnya.

'Disini, aku mengikat janji dengannya… Bagaimana Rinto bisa tahu taman ini?' pikir Lenka.

'When you grow up, would you marry me?'

Lagi-lagi janji dari dirinya yang membuat air mata Lenka hampir terjatuh. Tapi, Lenka menyeka air matanya, karena tak mau menangis ditempat ia mengikat janji.

"When you grow up, would you marry me?" ucap sebuah suara nyanyian dari balik pohon Lenka terduduk.

Lenka yang mendengarnya, segera membalikkan badannya dan menengok kebalik pohon. Terlihat, Rinto yang sedang bersandar sambil menutup matanya, menikmati angin yang bertiup.

" Rinto?" panggil Lenka. Rinto menoleh.

" Kau mendengarnya, ya?"tanya Rinto.

" Umm… Ya, kalau boleh tahu. Kau tahu lagu itu dari mana?" tanya Lenka. Karena lagu itu Lenka dan sahabatnya yang membuatnya sewaktu kecil.

" Hehe… Itu lagu ciptaanku dan kau dulu, kan?" tanya Rinto sambil tertawa kecil.

"M-Maksudmu?" tanya Lenka.

"When you grow up, would you marry me?" ucap Rinto menyanyikan lagunya sewaktu kecil sambil menggenggam kedua tangan Lenka. Lenka hanya diam shock, namun segera melanjutkan bagiannya.

"Of course! Yes,I will. I want to marry you too!" lanjut Lenka dengan beberapa air mata yang mengalir perlahan.

Rinto segera merengkuh Lenka dalam pelukannya. Lenka pun menangis cukup keras dalam pelukan Rinto.

"Kenapa kau tak memberitahuku sejak awal kalau kau sudah kembali?" teriak Lenka dalam dekapan Rinto.

Rinto hanya diam mengelus rambut Lenka.

" Gomen ne… Kupikir, kau masih ingat denganku,"ujar Rinto. Lenka masih terisak.

Setelah kejadian ditaman bunga,hubungan Lenka dan Rinto membaik. Sejak saat itu juga, Lenka sudah tidak menggunakan kacamatanya yang biasa digunakan untuk menyamar dari para siswa penggemar VocaSong.

Seusai sekolah, Len meminta seluruh anggota VocaSong dan VocaUtau datang kerumahnya, ada yang ingin disampaikan.

"Kenapa kau memita kami kesini?" tanya Mikuo. Len diam memilih kata yang tepat.

"Len akan pindah ke Amerika. Kaa-san bilang aku akan tinggal disini. Sebagaigantinya, Len akan menggantikanku di Amerika," jawab Rinto.

Seisi ruangan sunyi, tak ada yang bersuara. Perlahan terdengar isakkan tangis dari Rin.

"Hiks… Len-kun…akan..Hiks…pergi?" tanya Rin sambil terisak.

Lenka merengkuh Rin ntuk menenangkannya.

"Rin, kalau menangis, cantiknya hilang loh! Lagipula, aku akan pergi hanya 5 tahun," ucap Len berusaha menghibur.

"Ta-tapi.. 5 tahun kan.. hiks..lama…"Ucap Rin.

"Rin, aku juga dulu menunggu sahabatku lama. Bahkan, aku menunggunya selama 10 tahun. Sekarang, kau hanya menunggu Len kembali selama 5 tahun, kau harus kuat Rin.." ucap Lenka menghibur.

"Baiklah… aku akan menunggu Len. Tapi, jangan coba-coba pacaran dengan gadis asing diluar sana!" Ucap Rin sambil menggembungkan pipinya. Len tertawa kecil.

"Pasti, karena hanya Rin, Hime-chanku tersayang~" Ucap Len.

Rin pun menerima kepergian Len. Sementara yang lain hanya cuek bebek saja sambil pacaran.

"Lenka-chan, memang kau menungguku selama itu, ya?" tanya Rinto kurang yakin.

"Ya, aku menunggumu selama 10 , aku ingin melupakanmu, tapi tak bisa…" ucap Lenka putus asa.

"Setidaknya, aku ada disini sekarang." balas Rinto sambil nyengir kuda.

10 tahun kemudian. Dibandara, terlihat seorang pemuda berambut honey blond dikuncir ponytail membawa koper berjalan mengitari bandara.

"LEN-KUN!" teriak sebuah suara cempreng. Pemuda yang dipangil Len itu menoleh.

"Rin!" ucap Len lalu berpelukan dnegan seorang gadis berambut honey blond panjang sepunggung.

Dibelakang gadis itu terlihat banyak pemuda dan beberapa wanita dewasa yang menarik perhatian beberapa pengunjung.

"Len, besok Rinto dan Lenka menikah, loh!" ucap Gadis pirang panjang itu yang dipanggil Rin.

"Benarkah? Selamat ya!" ucap Len menyalami pemuda berambut pirang yang dijepit.

"Terimakasih." Balas sang pemuda senang.

Esoknya, janji yang dibuat oleh Rinto dan Lenka pada usia 7 tahun itu pun terlaksana, pada usia 26 tahun, kedua mengikat janji suci depan altar.

Owari~

Riview

Please!