.

.

.

.

.

Author : CrazeeBaek

Cast : Jung Jemi [OC'S] [YOU], Park Chanyeol [EXO], Krystal Jung [F(X)]

Other : Find by yourself.

Genre : Guess? ._.

Rating : G/ PG-13.

Lenght : Chaptered.

GOD, I STILL WANT TO LIFE

Jemi Pov

Aku sedang berjalan menuju sekolah. Gerimis turun hari ini.

"Aku benci pergi ke sekolah membawa payung sambil memegang tas sekolah yang berat dan tas yang satu lagi" Umpatku

Selagi aku mengumpat seperti ini, lututku tiba-tiba jatuh dan aku terjatuh di jalanan sempit berkerikil. Aku baru berjalan sekitar 100 meter dari rumahku. Daguku terantuk sangat keras. Aku menyentuhnya dengan pelan dan mendapatkan jemariku penuh dengan darah.

"Aw!" Ringisku pelan

"Gwenchanayo?" Tanya seseorang dari depanku. Yang dapat kulakukan hanya menangis. Aku tidak mampu berkata sepatah katapun. Dia segera memungut Tas-tasku dan Payungku lalu mengangkatku menuju mobilnya.

"Aku akan mengantarkanmu pulang" Katanya tanpa melihat wajahku. Bersyukur, ada seseorang yang membantuku di jalanan sempit seperti ini.

"Wajahmu terluka" Katanya panik.

Dia mengeledah tas sekolahnya dan segera mengelap mukaku yang penuh darah dengan handuk. Ada pasir di lukaku.

"Kurasa ini pekerjaan dokter" Katanya. Dia langsung mengambil kotak P3K dan memplaster lukaku. Lalu menjalankan mobilnya.

Aku mendapat dua jahitan tanpa anastesi. Ini terjadi karena kekikukkanku, jadi aku berusaha menahan sakit dengan menggertakan gigiku.

Selagi aku melihat daguku yang nyeri di cermin, aku berpikir kenapa aku tidak menggunakan tanganku untuk menahan badanku ketika jatuh. Apakah ini karena kemampuan atletikku yang buruk? Tapi aku gembira karena lukanya ada di bawah dagu. Jika bekas lukanya ada di tempat dimana semua orang bisa melihatnya maka masa depan pernikahanku akan suram.

'Ceklek' Aku menoleh. Mendapati seseorang yang tadi menolongku masuk.

"Hey!" Sapanya. Aku hanya tersenyum dan dia duduk di samping tepi tempat tidurku.

"Gomawo!" Aku tersenyum padanya.

"Tidak usah terlalu dipikirkan" Katanya sambil tersenyum, manis sekali!

"Byun Baekhyun" Dia mengulurkan tangannya padaku. Aku tersenyum kikuk

"Jung Jemi" Aku membalas uluran tangannya

"Apa itu sakit?" Dia memandangi lukaku. Aku menggeleng

"Ini tidak sakit. Tapi yang paling penting. Maafkan aku, karna menolongku kau jadi membolos hari ini" Dia memakai seragam sekolah, pasti dia juga anak sekolahan, sama sepertiku.

"Tak apa" Dia tersenyum kearahku. Kenapa dia begitu baik? Bahkan kepada orang yang tidak dikenalnya.

Hening. Kami bergelut pada pikiran masing-masing.

"Kau ingin pulang?" Tanyanya. Aku mengangguk

"Kalau kau mau aku bisa mengantarmu" Aku mengangguk lalu bangkit dari kasurku.

Dia membantuku berjalan. Kami seperti sepasang kekasih. Dia benar-benar seperti ingin melindungiku. Aku melihat tangannya yang merangkul pinggangku. Seulas senyuman terukir diwajahku. Sekali lagi, terimakasih Byun Baekhyun!

Nilai olahragaku sejauh ini:
Tingkat 9 = B
Tingkat 10 = C
Tingkat 11 = D

Betapa menyedihkan! Kurang berusahakah? Sebelumnya aku berharap circuit training yang kujalani selama libur musim panas akan sedikit membantu, tapi ternyata tidak. Aku tidak menjalaninya dalam jangka waktu yang cukup lama. Jadi kurasa hasilnya tidak begitu mengejutkan.

Sore ini sinar mentari yang mulai hilang dan angin sepoi-sepoi masuk menembus gorden kuning berenda di jendela dapur. Aku sedang menangis.

"Mengapa hanya aku yang tidak jago di atletik?"

"Tapi Jemi, kau kan jago di mata pelajaran lain, benarkan?" kata Baekhyun sambil memandang ke bawah.

"Di masa depan, kamu dapat memanfaatkan kemampuanmu di mata pelajaran kesukaanmu. Bahasa Inggrismu sangat bagus. Jadi kenapa kamu tidak mencoba dan menjadi ahli Bahasa Inggris? Bahasa Inggris adalah bahasa internasional jadi aku yakin akan sangat berguna nantinya. Tidak masalah jika nilai olahragamu hanya D.."
Air mataku telah barhenti. Baekhyun telah membantuku sadar bahwa aku masih punya harapan.

"Terimakasih" Aku memeluknya. Dia hanya tersenyum

Baru saja 1 minggu aku kenal dengannya. Tapi ntah kenapa dia begitu perhatian padaku. Dan bahkan memutuskan untuk bersekolah di sekolah yang sama denganku. Aku jadi merasa tidak enak dengannya. Tapi dia selalu berkata 'Tidak usah dipikirkan'. Dan itu semakin membuatku merasa bersalah. Aku berjalan sangat pelan ketika kami ke sekolah setiap pagi, tapi dia selalu ada di sampingku. Bahkan ketika kami melewati jembatan dia mengambil tasku dan berkata 'Jemi, lebih baik kau berpegang pegangannya ketika naik'

'Sekarang aku menjadi semakin cengeng. Dan badanku tidak mau bergerak sesuai keinginanku. Apakah aku semakin gugup karena aku malas mengerjakan PR yang hanya dapat kuselesaikan jika aku menghabiskan lima jam setiap hari? Bukan, bukan karena itu. Ada sesuatu yang salah dengan badanku. Aku takut!
Aku punya perasaan yang membuat jantungku serasa diremas. Aku ingin berolahraga lebih sering. Aku ingin berlari dengan sekuat tenagaku. Aku ingin belajar. Aku ingin menulis dengan rapi.

Ayo! Semangat Jung Jemi'

Appa telah pulang dari luar negeri.

Secara perlahan suasana hati liburan musim panasku mulai memudar.
Setelah menyelesaikan makan malam, ketika aku mau naik ke atas, appa berkata, "Jemi, ayo kemari dan ayo duduk sebentar di sini." Appa terlihat sangat serius. Aku mulai tegang dan berpikir apa yang akan diberitahukannya padaku.

"Jemi" kata Appa

"Akhir-akhir ini ketika kamu berjalan badanmu condong ke depan dan kamu ke depan dan kamu bergoyang ke kiri dan kanan. Apakah kamu memperhatikannya? Appa telah memperhatikannya selama beberapa waktu dan appa mulai khawatir karenanya. Mungkin kita sebaiknya pergi ke rumah sakit untuk memeriksanya."

"Rumah sakit mana?" tanyaku setelah terdiam beberapa saat.

"Appa akan mencari rumah sakit yang dapat memberikan pemeriksaan menyeluruh. Biar Appa saja yang urus. Oke?"

Air mataku mulai jatuh tak terhentikan. Aku sangat ingin bilang, "Terima kasih banyak, Pa. Maafkan aku yang telah membuatmu khawatir." Tapi tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku.

Aku terduduk termenung di bangku taman sekolah.

Sejak appa menyarankanku pergi ke rumah sakit, aku bertanya-tanya apakah benar-benar ada yang tidak beres dengan diriku. Apakah karena kemampuan atletikku yang begitu buruk? Apakah karena aku begadang? Apakah karena aku makan yang tidak teratur?

Aku tidak bisa menahan tangis ketika aku menanyakan diriku sendiri semua pertanyaan ini. Aku menangis cukup lama, mataku sakit.

"Jemi-ssi" Aku menoleh. Mendapati Baekhyun sudah duduk disampingku

"Ne?" Aku mengusap air mataku. Aku tidak mau terlihat lemah didepan Baekhyun.

"Kau menanggis? Kenapa?" Tanyanya khawatir

"Aku tak apa" Aku tersenyum kearahnya. Memastikannya bahwa tidak terjadi apa-apa

"Ceritalah" Dia memegang tanganku. Aku menggeleng pelan

"Baiklah" Dia memelukku. Sungguh aku ingin berteriak didepan orang ini "Berhentilah memberikan perhatian padaku" tapi ntah kenapa lidahku terlalu kelu bahkan untuk mengucapkan sudahlah

'Teng teng' Bel berbunyi. Baekhyun melepaskan pelukannya padaku lalu menatapku.

"Jam olahraga telah dimulai" Katanya

Aku membulatkan mataku. Olahraga?

Baekhyun tampak bingung dengan ekspresiku yang bisa dikatakan berlebihan

"Wae?" Tanyanya. Aku menggeleng

"Kau tidak bawa baju olahraga?"

"Aku bawa kok" Aku memasang senyum palsu

"Ya. Kalau begitu hanya aku yang tidak membawa baju olahraga" Dia tampak kecewa. Maafkan aku Byun Baekhyun.

"Kalau begitu aku akan bilang ke . Kau cepatlah mengganti baju" Aku mengangguk dan diapun meninggalkanku.

Hari ini sesuatu yang sangat membuat frustasi terjadi.

Selama olah raga, aku tukar baju dan pergi ke lapangan.

"Hari ini kita akan berlari di halaman sejauh 1 km. Lalu kita akan latihan mengoper bola basket" Kata

Jantungku berdebar. Lari, mengoper bola. Aku tidak dapat melakukan keduanya.

"Jemi, apa yang akan kamu lakukan?"

Aku menundukkan kepalaku dan melanjutkan "Hmm.. Kamu bisa belajar di kelas dengan Baekhyun"

Mendengar ini, aku mendengar ucapan teman-teman sekelasku.

"Aww ruang kelas~ beruntungnya."

Aku dipenuhi kemarahan.

"Jika kau begitu menyenangi ruang kelas. Aku akan bertukar tempat denganmu. Bahkan jika hanya sehari, aku ingin bertukar badan. Lalu kau mungkin akan mengerti perasaan orang yang tidak dapat melakukan apapun yang mereka mau." Batinku

Setiap kali aku berjalan, dalam setiap langkah yang kuambil, aku dapat merasakan badanku yang goyah, ini membuatku merasa lemah, aku merasa terhina dan sengsara karena tidak mampu melakukan apa yang orang lain bisa lakukan. Jung Jemi kau benar-benar menyedihkan.

Baekhyun Pov

Aku melihat Jemi masuk. Dia terlihat goyah, sebenarnya apa yang terjadi dengannya? Aku sungguh khawatir dengan keadaanya. Tapi kenapa dia begitu tertutup?

"Jemi.." Aku memulai pembicaraan

"Ne?" Dia berjalan kearahku lalu duduk disampingku

"Jalanmu terlihat tidak seimbang" Dia tersenyum

"Sepertinya Iya. Aku sedang sakit. Ntah kenapa akhir-akhir ini kesehatanku berkurang" Pungkasnya

"Apa kau sudah ke dokter?"

"Appaku sedang mencari Rumah sakit yang tepat. Tinggal menunggu waktu saja aku akan segera berobat. Kau tenang saja Baekhyun. Aku akan baik-baik saja kok" Dia tersenyum. Manis, pikirku.

Kami menghabiskan waktu olahraga berdua dikelas. Kami bercanda bersama. Aku senang dia tertawa karenaku.

"Jemi. Kumohon teruslah tertawa" Ucapku dalam hati

"Berhenti dekat-dekat dengan Baekhyun" Telingaku mendengar seorang namja sedang berbicara digudang saat aku melewatinya

"Apa urusannya denganmu? Kita sudah tidak ada hubungan lagi. Kau terlalu basi. Sekarang pergilah dan temui Krystal. Dia sudah menunggumu, Chanyeol-ah" Itu suara Jemi. Akupun mendekat kearah gudang.

"Tapi Jemi-"

"Apa? Hah?!" Jemi terdengar sangat marah

"Dulu kau berselingkuh dengan Krystal dan mencampakkanku. Kau sendiri yang berkata pada Yoora kalau kita telah putus. Padahal saat itu kita belum putus. Tapi apa boleh buat? Sekarang berhentilah mengatur hidupku karena sekarang kau sudah bukan siapa-siapaku lagi" Bentak Jemi pada namja yang bernama Chanyeol. Lalu terdengar derap langkah, sepertinya Jemi akan keluar. Aku segera bersembunyi disamping, dan benar-benar dapat kulihat Jemi meneteskan air mata sambil berjalan gontai. Dia menanggis, sejurus kemudia dia menghusap airmatanya.

"Kau Yeoja kuat Jemi-ah. Semangat!" Dia menyemangati dirinya sendiri. Ntah kenapa aku merasa beban dan penderitaan Yeoja itu banyak sekali

To Be Continued

.

.

.

.

.

Review?