VIXX COUPLE
Romance –Fantasy –Romance
Cast: Hakyeon and Taekwoon (Leo)
Hakyeon masih setia memandang pria itu dengan pandangan menusuk lengkap dengan tangan yang menangkup di dadanya "keluarlah sebelum ku panggil polisi" ucap-nya
Entah tak terhitung sudah berapa kali Hakyeon mengatakan hal yang yang berbau perintah untuk menyuruh pria yang dengan se-enak jidatnya itu sedang memakan bubur buatan-nya –dan parahnya lagi adalah jatah bubur yang harusnya dimakan Hakyeon dengan nikmat –dia tak terlihat perduli sama sekali dengan semua yang keluar dari mulut Hakyeon, entah itu permintaan, perintah, bahkan makian –orang itu tetap tak perduli.
"diamlah, aku sedang makan 'busur' ini"
"itu bubur, dasar gila"
Hakyeon tetap menatap pria itu dengan tatapan paling menusuk yang bisa dikeluarkannya –ini pertama kalinya Hakyeon menyesali mata bulat indah –menurutnya, matanya benar benar tak bisa membuat tatapan menusuk yang cukup untuk membuat orang ini pergi. "selesaikan itu, dan segera pergi dari sini" ucap Hakyeon final, pria itu pikir tak ada gunanya untuk menyuruh pria dihadapannya pergi, toh dia hanya akan menulikan telinga dan membuat Hakyeon makin emosi
"hey" langkah Hakyeon terhenti saat mendengar pria itu memanggilnya. Pria itu menyodorkan mangkuk kosong pada Hakyeon dan dengan angkuh-nya berucap "buatkan aku lagi"
Hakyeon berharap tak pernah ada yang nama-nya polisi di dunia ini, maka dengan begitu dia akan dengan leluasa memutilasi pria di depannya. Dia tidak tahu malu atau memang gila ? bagaimana bisa dia meminta bubur lagi ?
Hakyeon maju dengan langkah yang dihentakkan kesal, mengambil mangkuk itu dan membanting kelantai"ke-lu-ar !" ucapnya penuh penekanan
Orang itu menyeringai "tidak akan" lanjutnya sengit
Hakyeon menutup mata menahan emosi "aku tak akan membuatkan bubur lagi untuku-mu jadi keluarlah sebelum aku benar benar memanggil polisi" ucap Hakyeon dan segera berlalu menuju kamar-nya, tak lama berjalan hingga Hakyeon merasa kaki-nya tak menapak tanah –ok, ini cukup gila, bagaiamana bisa dia tak minginjak tanah. Hakyeon berteriak, takut dengan apa yang sedang terjadi pada dirinya
Perlahan namun pasti tubuh Hakyeon seolah bergerak mundur dan berhenti tepat di depan wajah orang itu –orang gila yang ditolongnya yang sedang menatapnya menyeringai "buatkan aku bubur sebelum aku berbuat lebih dari ini" ucapnya
Dan saat itu juga, sekujut tubuh Hakyeon seakan membatu, otaknya berusaha mencerna semua yang sedang terjadi sekarang, entah mengapa semuanya seolah menjadi masuk akal sekarang –Hakyeon pernah punya pikiran bahwa orang yang ditolong-nya ini bukanlah orang biasa dan,.. semuanya terjawab sekarang, dilihat dari apa yang sedang terjadi sekarang menjelaskan siapa orang yang ditolong-nya sekarang –meskipun tak begitu yakin, tapi satu yang Hakyeon tahu, orang ini bukanlah manusia.
.
.
.
.
.
Hakyeon duduk diam dilantai dengan wajah ditekuk dan kaki yang disilangkan –persis seperti orang yang kedapatan mencuri dan sedang manjalani proses introgasi. Dalam hati Hakyeon mengutuk hal yang dilakukannya sekarang, dia tak bersalah sama sekali tapi kenapa dia harus melakukan ini ?
Tapi... oh tolong jangan tanyakan itu, karna hal itu hanya akan membuatnya kembali teringat pada kejadian dimana tubuhnya di jungkir balikkan dengan tak berpri kemanusiaan oleh orang yang sedang duduk menikmati bubur tepat di depannya. Hakyeon pusing –itu pasti, takut –jangan ditanya, dia bahkan tak pernah setakut itu selama hidupnya. Bahkan hanya untuk mengangkat wajah melihat pria itu Hakyeon benar benar tak berani sama sekali
"kaki-ku keram" cicit Hakyeon takut, tapi sungguh kaki-nya benar benar sangat keram setelah duduk bersila hampir sejam seperti ini
"diam ! biarkan aku menikmati 'butur'-ku"
"bubur ! setidak-nya cobalah ing-"
"kubilang diam, atau kau akan mendapatkan yang lebih parah dibanding tadi"
Dan kata kata itu membuat bibir Hakyeon bungkam seketika, Hakyeon benar benar akan memaki pria ini jika saja dia tak mengingat apa yang bisa dilakukannya –bahkan kepala Hakyeon masih terasa pusing meskipun ini hampir sejam berlalu sejak pria itu memperlakukannya bak yoyo
Berbeda Hakyeon berbeda pula pria di depan-nya. Dia tetap fokus pada bubur –meskipun sebenarnya dia bahkan tak begitu ingat nama makanan itu– ditangan-nya hingga suapan terakhir masuk ke mulutnya. Pria itu menatap Hakyeon sengit "hey" panggilnya
Hakyeon yang mendengarnya mengangkat wajah pelan "kenapa" tanya-nya "kau tak akan minta di buatkan bubur lagi kan ?" pertanyaan itulah yang seketika terlintas di kepala Hakyeon –mengingat kata 'hey' yang didengarnya pertama kali adalah kalimat pembuka untuk kalimat selanjutnya yang berisikan permintaan –atau mungkin paksaan baginya untuk membuat bubur
"tidak, aku akan minta itu lain kali, perutku sudah cukup kenyang" ucap pria itu enteng. Dia berdiri dari duduknya dan memandang sekeliling rumah meneliti setiap suduh rumah sederhana Hakyeon dengan pandangan sengit, entah apa yang sedang dipikirkan-nya sekarang "aku akan tinggal disini" ucap-nya dengan nada sombong yang sungguh –demi celana dalam dary yang bersih tanpa kotoran benar benar terasa sangat, sangat menusuk telinga, kalimat yang jelas jelas bernada perintah itu terdengar sangat tak tahu malu ditelinga Hakyeon.
Hakyeon bangkit dan menunjuk tepat dihadapan wajah pria itu –mengabaikan kejadian beberapa saat yang lalu "GILA ! KAU GILA ! BAGIAMANA BISA KAU MINTA TINGGAL DIS –akkkhhh"
Hakyeon memekik saat sekali lagi tangan-nya digenggam dengan luar bisa kuatnya oleh pria didepannya "aku tak minta tinggal disini –aku bilang 'aku akan tinggal disini', dari segi apapun kalimatku barusan adalah perintah bukan permintaan"
"SIAPA KAU BERANI MEMERINTAHKU GILA" Hakyeon tetap berteriak dengan sesuka hatinya mengabikan fakta bahwa orang didepannya bisa saja berbuat macam macam –ehm, buka dalam artian 'itu' – padanya.
"aku ?"
"IYA KAU ! DASAR –Akkkhh LEPAS TANGAKU DASAR GILA !"
"Hades, One of Big Three Gods and the King of Under World"
"LALU AP –Whaaat ?"
Pria itu menyeringai menatap Hakyeon dengan pandangan menusuk dan tangan yang masih tetap menggenggam tangan Hakyeon dengan kasarnya "Hades, you idiot"
.
.
.
.
.
.
Hakyeon menatap lekat buku sejarah milik-nya dengan alis berkerut yang sangat kentara. Bingung, tak percaya, dan berbagai macam hal lain jelas tergambar dari wajah Hakyeon saat ini. Pria korea ber kewarganegaraan amerika itu tak henti henti nya membolak balik buku sejarahnya dengan cepat –menelik setiap kata yang tetera diatas kertas buku dengan sampul 'Greek Mythology' itu dengan cepat
'Hades, god of the under world and the brother of Zeus and poseidon'
Kalimat itu terus berseliweran seenaknya di pikiran Hakyeon, membuat otak pintarnya panas seketika. Hades ?. Hakyeon menghela napas berat dan mengacak rambutnya kasar melampiaskan betapa pusing-nya dia sekarang. Sebenar-nya apa salah yang telah dibuatnya ? Hakyeon benar benar merasa dia bahkan terlampau baik untuk bisa ditimpa masalah yang tak masuk akal seperti ini. Lihatlah, apa kau pernah dihadapkan dengan orang gila yang tiba tiba jatuh tepat dihadapanmu, tidur diranjang-mu , makan bubur buatan-mu lalu berkata kalau dia adalah Hades, salah satu dari tiga dewa besar dan penguasa dari dunia bawah ? Hell ya ! bahkan mimpi dalam mimpi pun seseorang tak akan mendapatkan hal yang sama dengan yang didapatkan Hakyeon sekarang.
Hakyeon melangkah keluar dari dalam kamar, memandang kosong pria yang sedang duduk di sofa ruang tamunya sambil tetap memandangi sekeliling rumah Hakyeon, pria itu benar benar meneliti semuanya tanpa terlewat sedikitpun "Hades" panggil Hakyeon
"Leo, itu namaku"
Hakyeon menatap sengit pria itu "tadi kau bilang kau Hades, sekarang kenapa kau malah bilang kalau nama-mu Leo ?"
"manusia biasa memanggilku seperti itu, dan kupikir akan lebih baik memperkenalkan diriku dengan nama itu dibanding dengan namaku yang sesungguh-nya"
Hakyeon mendecih , antara marah, kesal sekaligus jengkel saat mendengar kalimat pria yang adalah Hades alias Leo itu. Apa dia benar benar menganggap yang dilakukan-nya tadi adalah perkenalan ? mencengkram tangan lawan bicara sambil menatapnya dengan pandangan menusuk lalu menyebutkan nama, belajar dari mana perkenalan seperti itu ?
"what ever, yang pasti kau tak boleh tinggal disini, bukankah kau dewa ? kenapa tidak tinggal saja di olimpus sana"
Leo berdiri memandang Hakyeon dengan wajah datar "apa kau benar membaca buku tadi ?" tanya-nya dan dijawab anggukkan oleh Hakyeon. Leo membuang napas "kalau kau membacanya, kau pasti tahu aku tak tinggal di olimpus bodoh"
Hakyeon menatap Leo, dan sedetik kemudian membawa arah pandangan-nya pada buku sejarah ditangan-nya sekali lagi, mencari sebentar hingga menemukan kalimat 'Hades lived in under world and become the king of that world, he is banish by his own brother, Zeus and Poseidon and stay there forever'
Hakyeon terbatuk kecil lalu menggaruk tengkuknya "itu tak sengaja terlewat"
Leo mendecih "pada dasar-nya kau memang sudah bodoh" kalimat kasar dan menusuk itu tak begitu terasa lagi bagi Hakyeon sekarang –mengingat dari saat membuka mulut hingga sekarang sembilan puluh koma sembilan sembilan persen kalimat Leo bernada sama; kasar, menusuk, dan penuh celaan –ah dan jangan lupakan bagaimana datarnya wajah orang itu saat mengucapkan kalimat-nya
"aku akan tinggal disini. Aku tak menerima bantahan untuk itu, dan" Leo menunjuk kamar –ranjang lebih tepatnya "benda kotak itu menjadi milik-ku sekarang" lanjut-nya dan segera berjalan menuju kamar Hakyeon –tapi mungkin mulai sekarang tempat paling nyaman menurut Hakyeon itu akan menjadi milik Leo sepenuhnya
Hakyeon manyun. Sungguh dia sangat menyayangi kamarnya dan sekarang lihatlah, orang –ah dia dewa, dewa sialan itu dengan se enaknya mengkalaim kamar Hakyeon sebagai miliknya. Ayolah, Hakyeon benar benar ingin protes, dewa gila itu belum genap dua puluh empat jam disini dan dia telah dengan se enaknya merebut semua miliknya –bubur jatahnya dan terlebih kamarnya, sekali lagi KAMAR-NYA ! itu tempat Hakyeon tidur, istirahat, dan bermain –ok yang terakhir terdengar aneh untuk ukuran dewasa sepertinya. Tapi apa yang bisa diperbuatnya, lawan-nya itu dewa, terlebih lagi itu Hades –seingat Hakyeon dari buku yang dibacanya tadi, Hades itu kejam dan mengerikan, bahkan dalam mimpi-pun Hakyeon tak berniat macam macam dengan-nya
Hakyeon sebenarnya bisa saja pindah kekamar orang tuanya dulu, tapi.. ayolah siapa yang akan tidur dikamar tanpa penghangat ditengah musim gugur yang dingin-nya menusuk ketulang? bunuh Hakyeon sekalian jika dia memang harus melakukan itu
"dewa gila"
"katakan itu lagi, dan kurobek mulutmu"
Dan Hakyeon pun bungkam
.
.
.
.
.
.
Sejam berlalu sejak perdebatan kecil yang mungkin saja berakibat robek-nya mulut Hakyeon –kata kata dewa gila itu masih saja terngiang dikepala "selain gila, ternyata dia juga maniak" cicit Hakyeon takut takut Leo di dalam kamar-nya mendengar apa yang dikatakannya barusan
Ngomong ngomong dewa itu belum keluar sama sekali dari dalam kamar sejak dia masuk kedalam kamar Hakyeon –yang telah resmi menjadi kamarnya itu. Hakyeon sebenarnya penasaran apa yang dilakukan-nya mengingat sedari tadi kamarnya tak berhenti menampakkan cahaya merah menyala. Hakyeon merinding membayangkan apa yang dilakukan dewa satu itu didalam –dia cukup ingat tak ada satu benda pun di kamar-nya yang kiranya bisa membuat cahaya merah mengerikan seperti itu, dan sudah pasti penghuni baru kamar-nya lah yang menjadi penyebab untuk itu semua.
Hakyeon mencoba tak perduli dan memilih segera menutup toko –Hakyeon tak pernah menutup tokonya pada pukul sembilan seperti sekarang, salahkan saja dewa gila itu yang membuatnya lupa akan toko kesayangan-nya, Hakyeon memutuskan duduk diruang tengah sambil menatap TV dengan pandangan berselera sekarang, ini juga sebenar-nya adalah pengalihan dari arah kamarnya yang mendadak ber aura mencekam karna perbuatan dewa gila itu, entah apa yang dilakukan-nya di dalam sana hingga berakibat pada suasana rumah yang mendadak mencekam seperti sekarang
"awas saja jika dia berani macam macam dengan kamarku" Hakyeon menatap ke arah kamarnya dengan kesal. Dia memang mengutuk Leo di dalam sana tapi... entah ini hanya perasaan-nya atau di dalam sana memang tak sedang dalam keadaan baik baik saja. Tidak, ini bukan soal kamarnya –yang di maksud Hakyeon tidak sedang dalam keadaan baik baik saja adalah Leo didalam sana. Hakyeon tak begitu yakin memang.. tapi telinga sempat menangkap suara rintihan dari dalam sana
"terserahlah dia mau apa didalam, toh dia itu dewa" ucapnya dan segera kearah dapur. Tangan Hakyeon dengan lincah mulai berkutat dengan gelas dan sendok, dia berniat membuat susu hangat mengingat cuaca malam ini yang mendadak berubah drastis –hujan lebat disertai angin dan petir yang menyambar menjadi latar cuaca malam ini, membuat suhu yang memang sudah dingin bertambah makin dingin.
Setelah selesai, Hakyeon segera membawa susu coklat itu ke sofa dan mulai menatap lekat TV dimana acara talk show yang menampilkan aktor Thomas Brodie Spenser –pemeran Newt dalam film Maze Runner yang sedang digandrungi-nya sekarang sedang diputar.
Sesekali Hakyeon tersenyum saat beberapa lelucon dibuat oleh pembawa acara atau saat Thomas menampakkan raut wajah lucu. Acara itu berakhir sekitar setengah jam dan dengan itu pula mata Hakyeon perlahan terasa berat dan berair, dia benar benar mengantuk sekarang.
Hakyeon yang memang telah mengantuk berat memilih berbaring disofa dengan dua selimut tebal sekarang. Pemuda itu pikir ruang tamu jauh lebih baik dibanding kamar orang tuanya yang layaknya freezer itu. Hakyeon mencoba tidur, tapi suara halilintar diluar seakan tak membiarkannya menutup mata barang sekejab, tak hanya itu. kamar Hakyeon pun menjadi salah satu faktor utamanya. Seperti yang telah Hakyeon bilang sebelumnya, kamarnya sekarang tampak begitu mengerikan dengan cahaya merah yang entah hanya perasaan Hakyeon atau memang semakin lama semakin terang –cahaya merah menyala itu tak indah sama sekali, bahkan cenderung mengerikan dimata Hakyeon
"sebenar-nya apa yang dilakukan-nya di dalam ?" Hakyeon bangkit dari sofa dan memandang kamarnya dengan pandangan bingung. Hakyeon menimang, antara mau dan tak mau untuk sekedar menegur dewa dalam kamar-nya itu. setidaknya dia harus tahu apa yang sedang dilakukann-nya didalam. Bukan bermaksud kepo atau apa, hanya saja apa yang dilakukan orang itu juga berdampak padanya –kegiatan yang entah apa sedang dilakukan-nya didalam menjadi penyebab utama Hakyeon tak bisa tidur hingga sekarang. Hakyeon menatap pintu kamarnya lekat sebelum berjalan lurus ke arah ruangan kesayangan-nya itu.
Hakyeon mengetuk-nya sekali dan tak ada jawaban dari sana "Leo" panggilnya dan masih tak ada jawaban sama sekali yang diterima telinga-nya "sebenar-nya ada apa didalam?"
Beberapa detik berlalu dengan Hakyeon yang terus mengetuk pintu berwarna coklat itu sambil terus me manggil manggil nama yang sama namun tetap saja tak ada jawaban yang diterima-nya. Tak lama berselang dan Hakyeon mendapatkan –mendengar sesuatu lebih tepatnya. Tapi itu bukanlah hal yang ingin di dengar Hakyeon sekarang, suara yang ditangkapnya adalah suara menggeram khas orang kesakitan
Hey –tunggu dulu. Kesakitan ?
Wajah Hakyeon mendadak panik saat pemikiran pemikiran tentang hal yang mungkin saja terjadi di dalam sana terlintas di otaknya. Hakyeon ingin membuka pintu, mencari tahu kebenaran akan semua yang terlintas di kepala-nya barusan tapi, tangan-nya seolah olah kaku saat mengingat orang didalamnya –Hades sempat mengancam akan membuat tangan Hakyeon menjadi beberapa bagian jika Hakyeon berani menganggunya di kamar. Hakyeon tetap pada pemikiran-nya, menimang sekali lagi apa yang harus dilakukan-nya
BRUUK
Dan suara itu memecah keheningan disekitar Hakyeon, suara gedebuk yang dengan sekali dengar saja Hakyeon tahu jika itu adalah suara tubuh yang terjatuh "ooohh.. persetan jika dia akan memotong motong tanganku"
Hakyeon masuk, mendobrak pintu itu dengan segenap kekuatan yang dimiliki-nya. Dan betapa terkejutnya Hakyeon saat mendapati Leo dengan keadaan terbaring di lantai, keadaan yang cukup mengenaskan dengan wajah pucat dan keringat yang membanjiri sekujur tubuhnya
"Leo hey" Hakyeon menelungkup wajah Leo sambil menguncangkan tubuh pria itu "tubuhnya.. akkkhhh..." Hakyeon meringis saat kulit tangan-nya bersentuhan langsung dengan kulit leher Leo. Panas, sangat panas
"Leo.. hey sadarlah, heyyy"
To Be Continued ~
Thank you verry much to all who has review this fanfiction ^^
I also apology for the previous chapter.. I do realize that there are a lot of typos there
Once again, thank you very much and..
See ya in the next chapter ^^
