Wonwoo menghela nafasnya kasar, pagi ini cuacanya sangat tidak mendukung, hujan terus-menerus mengguyuri kota, seakan tak ada niat untuk berhenti walau hanya sejenak
Dan itu membuatnya menjadi orang yang paling malas untuk beraktifitas saat ini, baginya tidur adalah satu-satunya aktifitas yang bisa dilakukannya sekarang.
Yah sebelum gedoran pintu apartemennya menghancurkan segalanya.
"Jeon wonwoo!!" Teriak suara seseorang di sertai gedoran yang keras
"Wonwoo-ya buka pintunya!" Kali ini wonwoo yakin orang tersebut tidak hanya menggedor tapi juga menendang pintu apartemennya
Sebelum pintu tersebut hancur dengan berat hati wonwoo beranjak dari atas kasurnya lalu berjalan gontai.
"Kenapa lama sekali hah!"
"Kau pikir disini tidak dingin?!"
"Kau tidak bisa di hubungi dari semalam dan aku khawatir bodoh!"
"Kenapa wajahmu kusut seperti itu?" Cerocos wanita bersurai pirang bernama jeonghan tersebut masuk kedalam apartemen wonwoo asal.
"Maaf han, aku lelah sekali tadi malam, bahkan menghubungimu saja tidak sanggup" sesal wonwoo sambil mengenggam tangan jeonghan yang dingin "sudah berapa lama kau berdiri disutu han-ah? Tanganmu dingin sekali" "kira-kira sejak satu jam tadi" Racau jeonghan menggigil
"Pakailah ini untuk menghangatkan tubuhmu, aku akan kedapur untuk membuat teh hangat" Wonwoo melempar sebuah selimut tipis pada jeonghan lalu berjalan menuju dapur
Jeonghan menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang baru saja di lemparkan wonwoo padanya lalu berjalan kearah dapur mengikuti wonwoo. Wanita itu berdiri di depan meja dapur matanya tak lepas dari tubuh wonwoo, dia bisa melihat dengan jelas bercak-bercak merah yang mulai memudar di tenguk wonwoo. Jeonghan bingung harus bagaimana wanita itu hanya melamun menatap lurus ke arah dapur apartemen wonwoo, sebelum akhirnya wonwoo menyadarkannya dengan menempelkan secangkir teh hangat dipipi jeonghan lalu berjalan meninggalkan wanita berambut pirang itu yang merutuk kesal atas tindkkannya tadi menuju ruang tamu yang hanya dipisahkan oleh sekat dinding tipis.
Wonwoo berbaring di atas sofa diikuti jeonghan yang duduk di sampingnya, jeonghan mengambil tasnya mencari-cari sesuatu.
"Ini" ucap jeonghan seraya menyerahkan sebuah ampolp yang cukup tebal kearah wonwoo
"Apa?" Wonwoo mengambil amplop tersebut lalu merubah posisinya menjadi duduk "gaji pertamamu" tutur jeonghan santai sambil menyesap teh hangatnya 'hah~ panasss'
"Banyak sekali?" Wonwoo membuka amplop putih tadi lalu menghitung jumlah dari isi amplop tersebut. "Benarkah? Padahal itu sudah kupotong, apa perlu kupotong lagi?"
Canda jeonghan tersenyum miring menatap wonwoo, matanya naik turun menggoda wanita berambut hitam tersebut "andwae!" Jerit wonwoo yang hanya dibalas kekehan dari jeonghan.
Wonwoo menatap jeonghan yang sedang tertawa, wanita itu tertawa dengan lepas tanpa beban, wonwoo selalu merasa bersalah setiap kali melihat jeonghan tapi wanita itu bersikap seakan tidak ada hal yang terjadi di antara mereka. Jeonghan yang merasa di tatap berhenti tertawa lalu menatap wonwoo bingung, spontan wonwoo memeluk jeonghan erat lalu menangis di pelukannya.
"maafkan aku han"
"sungguh aku minta maaf"
"Semua ini salahku"
"Maafkan aku" tangis wonwoo pecah dalam pelukan jeonghan, wonwoo menangis dengan kencang sambil terus mengucapkan kata maaf dan menyalahkan dirinya sendiri terus menerus.
Wanita pirang itu hanya mengelus punggung wonwoo sayang, punggung wanita itu bergetar, jeonghan tahu ini bukan salah wonwoo, wanita itu tak sepatutnya menanggung beban atas hal yang tidak di perbuatnya. "Ini bukan salahmu" jeonghan melepaskan wonwoo dari pelukannya, lalu menangkup pipi tirus wonwoo "kau tahu tidak ada orang yang mau memiliki ayah seorang penipu dan adik pecandu seperti ini" ucap jeonghan, jari-jari lentiknya menghapus bulir air mata yang mengalir dipipi wonwoo "kau bisa saja kabur dari semua ini, tapi apa yang kau lakukan? Kau justru bertahan disini, mempertanggung jawabkan semua kesalahan yang tidak kau perbuat"
"Aku saja tidak yakin bisa tegar seperti dirimu" jeonghan mengusap kepala wonwoo sayang, walaupun hanya teman dan usia mereka hanya terpaut satu tahun, jeonghan sudah menganggap wonwoo seperti adiknya sendiri walaupun yah jika boleh jujur jeonghan sempat membenci wonwoo, tapi jika dipikir wonwoo tidak bersalah justru wanita tersebut adalah korbannya. "Sudah jangan menangis lagi, kau sangat jelek ketika menangis" Canda jeonghan menghibur lalu memeluk wonwoo, mengusap punggung wanita itu penuh sayang.
jika boleh jujur sesungguhnya wonwoo malu pada jeonghan. Ayahnya sudah menipu ayah jeonghan, ayahnya berhutang pada renternir atas nama ayah jeonghan, dan pada ayah jeonghan ayahnya berkata bahwa uang-uang itu akan diinvestasikan dan hasilnya untuk masa depan anak-anak mereka, karena ayah mereka adalah teman dekat ayah jeonghan percaya begitu saja tapi kenyataannya ayah wonwoo memakai semua uang itu hingga habis untuk berjudi,mabuk dan berzina.
Karna hal tersebut ayah jeonghanlah yang harus bertanggung jawab, usaha mereka hampir saja bangkrut tapi beruntung bibi jeonghan yang kaya dengan cepat mengambil usaha tersebut, ya usaha panti pijat dan tempat hiburan yang sekarang menjadi tempat wonwoo bekerja.
Mungkin usaha mereka bisa di selamatkan tapi tidak dengan ayah jeonghan, pria malang tersebut harus mati di tangan para preman suruhan sang renternir, sesungguhnya ayah jeonghan adalah orang yang baik hanya saja caranya mendapatkan uang melalui jalan yang salah,bahkan putrinya jeonghan saja di sekolahkan di sekolah yang bagus bersama dengan wonwoo karna jeonghan menganggap wonwoo saudaranya oleh karna itu ayah jeonghan juga menganggap wonwoo sebagai putrinya, bagi pria itu kebahagiaan putrinya adalah segalanya yang merupakan titipan dari ibu jeonghan yang amat pria itu cintai yang telah meninggal. Berbeda dengan ayah wonwoo yang biadab, ayahnya pengangguran, bisanya hanya berselingkuh dengan banyak wanita, berjudi dan mabuk-mabukan. Bagi ayahnya menipu adalah salah satu dari sekian banyaknya jalan mendapatkan uang
Tapi yang paling parah dari semua masalahnya ialah adiknya yang dipercayainya dan yang paling disayanginya adalah pecandu obat-obatan terlarang, wonwoo tidak tahu kurang apa dia dalam merawat dan mendidik adiknya itu sampai-sampai ia kecolongan dan adiknya menjadi pecandu. Meskipun begitu wonwoo tetap menyayangi adiknya, wonwoo bekerja untuk mendapatkan uang agar ia dapat mempertanggung jawabkan perbuatan yang sudah dilakukannya ayahnya kepada ayah jeonghan dan untuk biaya rehabilitasi adiknya, karna bagi wonwoo adiknya adalah satu-satunya keluarga yang dimilikinya saat ini -yang memiliki hubungan darah-.
Wonwoo melepaskan pelukan mereka, menarik nafas panjang dan dalam lalu mengusap wajahnya yang basah dengan bajunya sementara jeonghan merasa jijik melihat tingkah jorok wonwoo "kau jorok sekali" jeonghan mendepak jidat wonwoo yang di balas dengan dengusan gadis itu "kau ini kejam sekali sih-, aku heran kenapa pak kepala polisi itu mau saja berkencan denganmu"
"Karna aku cantik" jawab jeonghan penuh percaya diri, wonwoo hanya menggelengkan kepala melihat tingkah temannya tersebut.
"Aku sungguh tidak tahu jika tamumu itu mingyu" jeonghan secara tiba-tiba berbicara tentang orang yang wonwoo mendengar namanya saja dia muak.
"Kau percayakan jika aku tahu hal itu dari awal aku pasti akan menggantikanmu dengan orang lain?" Lanjutnya lalu menatap wonwoo serius "ya aku percaya" jawab wonwoo singkat.
"Dia memesan atas nama asistennya, kalau tidak salah Seokmin namanya"
"Seokmin?" Ulang wonwoo
"Ya apa kau kenal?" Tanya jeonghan dan di jawab gelengan dari wonwoo.
"Maafkan aku won"
"Sudahlah lupakan saja han, anggap saja kita impas" wonwoo tersenyum manis kearah jeonghan
"Lagipula aku mendapatkan uang dua kali lebih banyak dengan begitu aku bisa makan enak beberapa minggu kedepan" tambahnya sambil terkekeh geli sementara jeonghan sweatdrop melihat perubahan wonwoo yang tiba-tiba
"Juga dia hot dan yah memuaskanku"
"Dasar mesum" cibir jeonghan
"Yak! Kau yang mengajari aku begini"
balas wonwoo tak mau kalah "jadi berapa kali lagi aku harus bekerja hingga semuanya lunas?" Wonwoo menatap jeonghan serius yang ditatap balas menatap serius juga.
"Yah jika kau bekerja untuk pelayanan khusus maka cukup 5 kali pertemuan tapi jika yang biasa butuh waktu 5 bulan untuk melunasinya"
"Wah apa kau menguranginya? Seingatku 10 kali pertemuan pelayanan khusus dan 10 bulan pelayanan biasa"
"Yah kuberikan diskon khusus hanya untuk wonwoo cantik" genit jeonghan menoel dagu wonwoo "kau baik sekali jeonghan-ah" "apa bibimu tidak akan marah?" Tanya wonwoo, wanita itu semakin tidak enak hati pada jeonghan. Jeonghan menggeleng pelan "meringankan beban teman bukan masalahkan? Aku yakin jika kau berada diposisiku dan aku diposisimu kau pasti akan melakukan hal yang sama" ucap jeonghan tulus disertai senyum menawannya. "Kata siapa? Kau percaya diri sekali" ejek wonwoo "sial, kau menyebalkan sekali jeon" rajuk jeonghan "arra,arra, kalau begitu tidak jadi kuberikan diskonnya" sambungnya sambil memainkan handphonenya yang daritadi bergetar karna banyaknya pesan masuk.
"Astaga aku hanya bercanda jeonghan-_-"
"Terserah makan saja candaanmu, aku ingin pergi berkencan dulu dengan pak kepala polisiku dulu"
"Kau jahat sekali!"
"Kau juga" jeonghan memeletkan lidahnya lalu berdiri menuju kamar mandi sembari menenteng tas make up yang selalu di bawanya kemana-mana karna baginya itu adalah harta terbesarnya.
"Ah ya minki bilang salah satu pelayannya izin selama satu minggu jadi dia bertanya bisakah kau menggantikannya, itupun jika kau mau" jeonghan berhenti lalu menoleh kearah wonwoo seraya mengajukan penawaran dari sepupunya
"Ya?"
"Dia akan membayarmu tenang saja"
"Baiklah aku setuju" teriak wonwoo penuh semangat, setidaknya hari ini hingga minggu depan ia memiliki pekerjaan lain selain bermalas-malasan di rumah.
"Nggh" pria bersurai gelap itu bergerak dari tidurnya kala merasakan udara dingin yang menusuk, dalam keadaan setengah sadar tangannya bergerak kesamping meraba-raba mencari sesuatu, lebih tepatnya mencari keberadaan manusia lainnya yang baru saja menghabiskan malam panas bersamanya tadi malam.
Pria itu lekas membuka matanya tatkala tidak merasakan apa-apa selain kasur disertai seprei yang lengket dan kusut, pria itu memaksakan dirinya bangun,merubah posisinya menjadi duduk bersandar pada dashboard ranjang tersebut.
'Kosong?'
'Kemana dia?'
'Sial aku kelepasan tadi malam'
'kau benar-benar bodoh'
'kau justru membuatnya lebih membenci dirimu mingyu bodoh' pikirnya sembari mencaci dirinya sendiri.
"Permisi?" Pria bersurai gelap dengan setelan pakaian kantoran yang rapi berdiri didepan meja resepsionis tersebut seraya memanggil sang resepsionis wanita yang berdiri membelakanginya
"Ya ada yang bisa saya bantu tuan?" Jawab wanita itu sopan membalikkan badannya
"Ya aku ingin menyerahkan kunci kamarku"
"Anda sudah selesai tuan dengan pelayanannya?" Tanya wanita itu disertai senyum manisnya
"Ya" jawab pria tersebut singkat
"Baiklah kalau begitu Terima kasih Tuan Kim Mingyu-ssi, terima kasih sudah memakai jasa dan pelayanan kami, jangan sungkan untuk datang lagi tuan"ucap wanita tersebut lalu membungkukkan tubuhnya penuh hormat sementara pria yang di panggil mingyu tadi melenggang berjalan pergi meninggalkan panti pijat tersebut.
"Jadi bagaimana? Menghabiskan malam dengan mantan kekasihmu?" Sosok pria tampan dengan rambut berwarna cokelat gelap tersebut menaik turunkan alisnya setelah melontarkan pertanyaan kepada pria lain yang duduk tepat di depannya.
"seokmin-ah dia bukan mantanku dan jujur tadi malam sangat menyenangkan dan menggairahkan" pria bersurai gelap tersebut menjawab pertanyaan pria yang di panggilnya seokmin tadi dengan malas. Pria yang di panggil seokmin tadi hanya menunjukkan wajah shocknya yang terlihat bodoh "jadi dia bukan mantanmu?" "Kau berbohong dan mengaku sebagai mantan kekasihnya? Yang benar saja kau ini kim mingyu" "kau tahu diluar sana banyak wanita yang rela mengantri untukmu" tutur seokmin tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan, pria berambut cokelat tersebut memang suka topik pembicaraan yang berbau-bau dan berhubungan dengan masalah pribadi pria bernama kim mingyu tersebut. "Bukan begitu kuda bodoh" mingyu kesal melihat tingkah berlebihan seokmin melemparkan pena yang tadi di pegangnya kearah seokmin tapi seokmin dengan gesit menghindar dari lemparan pena mingyu. "Tidak perlu mengataiku kuda, dasar hitam" "ya terserah" ucap mingyu seraya menatap layar ponselnya yang menampilkan sosok wanita berseragam dengan tambut hitam panjang membingkai wajah cantiknya lalu tersenyum-senyum sendiri membuat seokmin bergidik ngeri melihatnya "lalu bagaimana jika bukan begitu presdir kim hitam yang aneh"ejek seokmin melihat tingkah sahabat sekaligus sepupunya yang aneh semenjak pulang dari jepang tersebut.
"Aku tidak pernah mengatakan kata putus padanya seokmin-ah" "aku tidak akan sanggup jika berpisah darinya, kau tahu aku tidak mungkin meninggalkan wanita yang sangat aku cintai" tutur mingyu sedih, sementara seokmin hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Jadi kenapa kau menyebutnya mantan kekasihmu?" Seokmin bertanya dengan hati-hati, tidak ingin menyinggung ataupun melukai perasaan sepupu hitamnya itu.
"Kau pikir saja sendiri apa ada wanita yang mau mengakui pria yang 5 tahun pergi tanpa kabar dan tanpa kejelasan akan hubungan mereka?".
"Bukankah kau mencintainya lalu kenapa kau meninggalkannya? Kau tidak meninggalkannya karna adiknya seorang pemakai obat-obatan terlarang,bukan?" Tanya seokmin bingung
"Tentu saja tidak kuda"
"Lalu?"
"Itu kare..."
"yak! Apanya yang urusan penting dan tidak boleh di ganggu?!"
"Na.."
"tapi nona presdir kim bilang tidak boleh ada yang menganggunya saat ini".
Ucapan mingyu di potong oleh seorang wanita cantik dengan pakaian minim tersebut berjalan penuh percaya diri masuk kedalam ruangan mingyu diikuti oleh wanita lainnya yang bukan lain adalah sekretaris mingyu menarik-narik tangan wanita itu.
"Maaf presdir saya sudah melarang nona ini untuk masuk tapi dia terus memaksa"
"Maafkan saya presdir" sesal wanita itu membungkuk penuh hormat pada mingyu, takut-takut bosnya itu akan marah karna kelalaiannya. Mingyu hanya diam seraya menggerakkan tangannya memberi tanda bahwa sekretarisnya itu boleh keluar lalu melirik seokmin.
pria itu mengangguk tanda mengerti akan keadaan sepupunya sekarang, seokmin berdiri berjalan keluar sambil mengedikkan kedua bahunya pada mingyu.
"Yayaya, sana pergilah dasar kuda jelek" wanita cantik tersebut mengibaskan tangannya bergerak mengusir seokmin dan menatapnya remeh, seokmin hanya menggeleng melihat tingkah angkuh wanita tersebut.
"Ada apa? Kenapa kau kesini?" Tanya mingyu malas melihat tingkah menyebalkan wanita cantik yang berjalan kearahnya, tangan wanita itu menyusuri meja kerja mingyu. Ia berdiri di depan hadapan mingyu, duduk di atas meja kerjanya sembari menyilangkan kakinya yang ditutupi rok ketat pendek, memperlihatkan setengah paha mulusnya kepada mingyu namun di tanggapi dengusan oleh pria itu. " kenapa kau jutek sekali padaku sayang?" Wanita itu justru balik bertanya, tangannya bergerak liar mengelus dada bidang mingyu, mencoba tuk menggodanya tapi ditepis kasar oleh mingyu. Wanita itu mengelus pipi mingyu lalu tersenyum miring menatap mingyu penuh minat.
"Kau tidak boleh bersikap kasar pada tunanganmu sayang".
Done for chp2
Hai ppl'-')/
Balik lagi nih bawain ayah sama bunda.
Makasih banyak loh buat yang udah kasih review, aku ga nyangka kalo banyak yang suka. Sekali lagi makasih ya~ Bow
Maaf yah kalo feelnya kurang dapet ato ceritanya ga menarik, alesannya bunda kerja gajelas dan banyak typonya, aku udah usaha sebaik mungkin jadi mohon di maklumi saja.
Seperti biasa mohon tinggalkan review yah readers sekalian dan mohon jangan jadi pembaca rahasia yah (cukup pengagum rahasia saja kkk~) karna dukungan kalian itu menyemangati saya buat cerita nista yang gajelas dan ga berfaedah ini. Jadi tolong berikan review yaa~
Thnks for your support and your time
Be good ppl '-')/
Btw kalian suka mana?
Yein lovelyz atau Eunha Gf
Nayoung Pristin atau Sohye ex-ioi
Mohon di pilih yaaa :)).
