Chapter Two

.

.

.

Keadaan hening senyap itu tiba-tiba berubah menjadi riuh dan penuh bisik-bisik hanya karena rendahnya daya ingat seorang Uzumaki Naruto. Mereka tahu bahwa Naruto itu bodoh, tapi bukankah mengingat nama rivalmu sendiri itu mudah apalagi nama yang pendek, seperti-

"Uchiha Sasuke," pemuda yang berdiri angkuh menggerakkan mulutnya. Menatap tajam Naruto tepat dimata. "Julukan Dobe memang pantas untukmu." Dia mendengus menahan amarahnya yang meluap. Dia tidak akan membuang image Uchihanya hanya karena kecelakaan kecil macam ini.

Naruto membuka tutup mulutnya, shock mendengar panggilan (yang sebenarnya tidak) baru untuknya. Pemuda berambut cepak itu memang seenaknya saja kalau bicara, mulutnya pedas walaupun jarang digunakan

"Kau!" ia menunjuk hidung Sasuke dengan jemarinya. Sasuke menepisnya dengan kasar lalu mengolesi tisu pada hidungnya seakan di jari Naruto yang menyentuh benda itu terdapat kuman penyebar penyakit.

"Brengsek Uchiha! tanganku steril tahu!" teriaknya, tidak ingat jika beberapa menit lalu ia menggunakan tangannya untuk meremas kain pel yang sangat kotor.

Seorang pemuda dengan rambut hitam dikuncir rendah menggeram dan berdiri sejajar dengan Sasuke lalu mendecih tepat di depan wajah Naruto, membuatnya berjengit karena kaget.

"Jaga mulutmu bocah! apa kau tidak pernah diajarkan sopan santun?"

Cuih!

Nekat...

Naruto meludahi ujung sepatu pria kuncir rendah, ia tersenyum mengangkat sudut bibir kanannya, dia mengabaikan teriakan itu. "Yak, Teme. Jadi sekarang kau punya bodyguard, eh?" Naruto mendengus sarkas, "Dasar manja!"

Pria kuncir rendah, Uchiha Itachi. Semakin marah, dia merah, tidak terima dikatai bodyguard dan diludahi bocah pirang rendah dan miskin di depannya.

Sedangkan Sasuke yang mendapat kesialan dua kali (disiram air pel dan diejek anak manja) sudah tidak kuat menahan emosi yang bercongkol di kepalanya. Tanpa aba-aba dia melayangkan pukulan kewajah Naruto.

Tapi tidak berhasil karena Itachi lebih dulu menahan tangannya dan menendang pelipis Naruto hingga pemuda pirang itu tersungkur dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah.

"Apa-apaan kau Itachi! dia bagianku!"

Itachi mengabaikan teriakan adiknya, dia melangkah kedekat Naruto yang berusaha bangun dan mundur ke belakang lalu memasang kuda-kuda siap bertarung.

Tendangan Itachi sangat kuat hingga bisa membunuhnya jika merasakannya sekali lagi. Tapi jika menyerah dan bersikap seperti kucing penakut bukan Naruto namanya. Dia mengangkat tinjunya, satu tinju dibuka, jari telunjuknya ditekuk-tekuk ke belakang, menantang Itachi.

"Hajar aku kalau kau mampu kakek tua!"

"Grr, berani-beraninya kau memanggilku kakek tua..." Itachi mempercepat langkahnya dan meninju Naruto. Si pemilik rambut pirang menangkap tinjuannya. Kemudian membenturkan dahinya keras ke dahi Itachi.

Mata onyx Itachi menajam bersamaan dengan mengembangnya seringai di bibirnya menatap wajah kesakitan Naruto dengan jarak sedekat ini. Dasar, dia pikir keningnya itu lebih keras dari milik Itachi? salah besar. Menyadari cengkeraman si pirang pada tinjunya melemah. Itachi menarik mundur kepalanya kemudian mencekal pergelangan tangan si pirang, memelintirnya kebelakang. Mengunci gerakannya.

"Lepas sialan!"

Naruto meronta dan berusaha menginjak kaki Itachi yang berada di belakang tubuhnya dan Itachi segera menjauhkan kakinya, sedikit kehilangan fokus dan mabuk mencium aroma yang berasal dari tengkuk Naruto walaupun akhirnya dia mendapatkan kesadaran kembali dan mengikat kedua tangan si pirang di belakang punggungnya, membuatnya memekik kesakitan lantaran Itachi mengikatnya terlalu kencang.

Dia menendang Naruto kedepan. Tidak siap, si pirang hilang keseimbangan hingga tubuh bagian depannya mencium lantai. Itachi bergerak lagi, berusaha mengikat kaki Naruto. Ini tidak akan mudah jika dia hanya bekerja sendiri.

"Jangan berdiri saja, cepat bantu aku Sasuke, Gaara!" ujarnya. Merasa jengkel dengan dua rekannya yang hanya berdiri tanpa berniat membantu aksi Itachi. Benar-benar memuakkan wajah datar mereka itu. Terlebih Sabaku Gaara yang sejak tadi tidak bicara sedikitpun dan menyetel earphone keras-keras saat Itachi meneriaki si pemilik rambut merah itu. Sedangkan Sasuke malah menatapnya dengan muka datar.

Itachi mengakui dirinya seorang Uchiha, tapi tidak semua Uchiha memiliki wajah semenyebalkan itu.

"Itu hukuman untukmu baka Itachi. Karena kau yang menendangnya pertama kali, bukan aku. Jadi selesaikan sendiri urusanmu." Sasuke berujar, memasang ekspresi malas dan tidak tertarik yang minta ditonjok. Dia tidak peduli dengan para gadis yang mulai mendekatinya dan berkata akan mencuci seragam Sasuke. Itu tidak perlu karena ia bisa menggantinya dengan seragam lain diruangannya.

Dan untuk sekarang biarkan saja Itachi yang menyelesaikan masalahnya. Dia akan menunggu saat yang tepat hingga sampai waktunya dimana Sasuke tidak akan menyia-nyiakan mangsa yang lezat.

"Aku akan kembali ke ruang osis, cepat selesaikan itu dan kau menyusul."

"What?" Itachi mendelik kearah Sasuke, menatap tidak percaya pada saudara tunggalnya itu.

Sasuke mengacuhkannya lalu melirik Gaara dengan sudut matanya sebelum pergi dengan langkah santai menjauhi Itachi. Gaara mengekorinya, dia menatap sekilas pada si pirang dan mata jadenya bertemu dengan shappire yang indah itu.

Speachless. Dia kagum.

Sebelum Gaara mengalihkan perhatiannya kearah lain.

"Adik bodoh! kau tidak ingin membalas bocah tengik ini, hah?" Teriak Itachi frustasi. Dan Sasuke tetap mengabaikannya seolah dia mendapat penyakit tuli. Punggung pemuda cepak itu kemudian menghilang di belokan bersama si rambut merah, Gaara.

Itachi yang kehabisan akal mengerang seperti orang gila. Mata onyxnya memandang sengit murid-murid di sekitarnya, "Bantu aku, sialan. Kalian pikir ini bioskop?"

Salah seorang dari mereka menjawab, "B-baik Itachi-sama."

Dengan gugup dan gemetaran ia membantu Itachi yang berusaha mengikat kaki Naruto, pria itu sediri menahan pergerakan si pirang dengan menduduki pinggangnya, menimbulkan ringisan kesakitan darinya.

"Bawa dan ikat dia di tiang halaman belakang."

"Laksanakan Itachi-sama."

"Ap_ Kubalas kau nanti kakek tua!"

Beberapa murid langsung menarik tangan Naruto. Kakinya yang tidak bisa melangkah membuat tubuhnya terseret dan bergesekan panas dengan lantai.

Di pihak lain, bibir Itachi berkedut membentuk seringaian. Ini kali pertama dia mendapat mainan yang menarik di KAI. keh, lihat seberapa lama kau tahan disana bocah!
.

.

.

Ruangan itu lebih besar dan mewah daripada kantor para guru. Terletak di lantai paling atas. Di isi dengan peralatan yang dipastikan mahal. Tidak akan membosankan jika kau berlama-lama di dalamnya. Mereka memiliki sebuah TV LED yang menggantung di dinding, 3 buah sofa beludru putih yang melingkar di tengah-tengah ruangan dengan meja kaca. Kulkas dan mesin pembuat kopi otomatis. PS dan CD game yang bersusun pada tiga buah rak yang berjejer di sisi kanannya. Serta jendela kaca besar setinggi lima meter dengan gorden tebal berwarna biru tua.

Itu semua keinginan dari bungsu Uchiha. Sasuke. Dia membuat ruangan Osis senyaman mungkin agar tidak bosan jika berlama-lama di dalamnya. Kalau bisa dia juga ingin membuat ruangan kelas sama halnya dengan ini. Itu sangat mudah, mengingat kekayaan Uchiha bisa membeli Sekolah milik Mito beserta seluruh murid-muridnya. Berlebihan memang, tapi itulah kenyataan. Dan kau harus menerimanya walaupun dengan berat hati.

"Ya loose!"

Suara Ps besar itu menggema di sisi ruangan. Lagi-lagi Gaara kalah dalam gamenya. Dia tidak suka ini. Salahkan seorang pembuat game tidak berguna yang membuat game tidak bisa dikalahkan. Bagaimana bisa sejak dari lima belas menit yang lalu dia hanya memainkan level terendah, lama-lama ini mulai membosankan.

Gaara melemparkan joystick nya sembarang arah. Tidak ada gunanya jika dia terus bermain, lagipula ia tidak akan menang. Memilih merebahkan diri di sofa dan mengutak-atik ponselnya disana sebelum perhatiannya teralihkan oleh bunyi pintu kamar mandi yang terbuka.

Itu Sasuke.

"Mana Itachi?" Tanyanya pada Gaara, melangkah ke arah sofa dan duduk berseberangan dengan pemuda jade itu.

"Dia belum ke-"

"Heya, Sasuke and Gaara bastard!"

Itachi datang dengan cengiran yang lebar dan baju yang acak-acakan. Gaara dan Sasuke memberikan tatapan aneh padanya, satu detik setelahnya keduanya menutup hidung.

"Amis," celetuk Gaara, Sasuke meng-iyakan.

Refleks Itachi mencium bau badannya sendiri. Bau amis menguar dari tubuhnya. Bukannya segera pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya, Itachi malah mendekat ke Gaara dan Sasuke, membuat keduanya semakin memencet hidung dengan dahi yang berkerut dalam.

"Fuck ya, Itachi. Bersihkan dulu tubuhmu!" meski Itachi adalah kakaknya Sasuke tidak pernah memanggilnya dengan sebutan kakak. Selamanya. Tidak akan pernah. Dan dia sudah bersumpah untuk itu.

"Kalian tidak ingin tahu apa yang kulakukan pada bocah tengik menyebalkan tadi?" tanya Itachi mengabaikan teriakan dan sarapahan Sasuke.

Mendengar itu, keduanya mengangkat alis -sedikit- tertarik

Dan tiba-tiba, Itachi dengan muka menyebalkan berkata, "Rahasia..." Lalu segera berlari ke kamar mandi dan menutup pintunya dengan debum keras sebelum Sasuke dan Gaara mengamuk dan mengeroyok Itachi hingga merusak wajah tampannya.

"Awas kau nanti, Itachi..."

Sesaat setelah itu, Gaara berdiri dari duduknya. Tangannya yang hendak meraih handel pintu dihentikan oleh suara Sasuke.

"Kemana?"

"Keluar," jawabnya pendek, meninggalkan kerutan di kening Sasuke.

Tepat setelah pintu tertutup dan keadaan kembali sunyi, dia berpikir dengan otaknya sendiri. Tingkah-tingkah kedua temannya menjadi aneh sejak pertemuan dengan Uzumaki tadi.

Itachi yang kelewat ceria. Dan Gaara nyaris seperti orang yang dibebani banyak masalah. Sedangkan Sasuke sendiri juga merasa (sedikit) berbeda.

Dia mendapat kagum atau perasaan bullshit entah apa itu...

Uzumaki yang dikenalnya dulu tidak seperti sekarang. Dua tahun sejak mereka berpisah (menetap sementara di Rusia dan sekolah disana) Sasuke masih menganggapnya bocah ingusan yang jorok. Tapi tadi itu_

Sejak kapan Uzumaki memiliki wajah seimut itu?

Astaga, apa yang kau pikirkan? otakmu tidak damage 'kan, Sasuke?

Dia mengusap wajahnya kasar, menghela napas. Sepertinya pelajaran hari ini membuat otaknya terlalu lelah hingga memikirkan hal yang tidak wajar.
.

.

.

Seperti biasa, jika tidak sedang bersama Itachi dan Sasuke, Gaara akan pergi ke tempat favoritnya.

Halaman belakang.

Tempat itu nyaman dan senyap. Tidak berisik ataupun penuh teriakan cempreng perempuan jika mendapati diri mereka bertemu Gaara. Dia akan menempatkan bokongnya di bangku di bawah pohon Sakura. Memandang langit, langit yang biru_

Cantik. Seperti shappire seseorang.

Gaara tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Dia merasa tertarik atau_ terpesona dengan keindahan itu.

Sadar atau tidak sebuah senyuman mengambang di wajahnya. Hingga dia sampai di tempat tujuan dan merasa gelombang shock menghantam tepat di jantungnya saat pandangannya menangkap sesuatu yang berada tidak jauh didepannya.

Mendadak Gaara merasa dunianya berhenti, lagi-lagi mendapati shappire yang sama menatap kearahnya. Tapi kali ini dia tidak mengalihkan pandangan. Gaara terpaku.

Si pirang berjarak tiga meter darinya dengan tubuh terikat, penuh luka lecet dan memar. Seragamnya dibasahi oleh telur becampur tepung yang menguarkan bau amis.

Apa ini penyebab Itachi menguarkan bau yang sama?

Si pirang nampak kepayahan menggeliatkan tubuhnya. Mulutnya ditutupi dengan lakban.

Gaara memberanikan diri melangkah dengan wajah datarnya (walaupun dibaliknya emosi sedang berkecamuk) mendekati si pirang. Dia tampak kepanikan, berusaha melepaskan ikatan ditubuhnya yang dia tahu itu akan sia-sia. Gaara mengangkat tangannya dan si pirang menutup mata.

Tidak ada tamparan atau pukulan didapatinya, lakban yang semula menutup mulutnya ditarik dengan hati-hati.

Si pirang mengerjap-ngerjap bingung sebelum giginya bergemelatuk dan berujar,

"Apa kau datang kesini untuk membully-ku juga? seperti teman keriputmu itu."

Jadi benar ini ulah Itachi, eh? Gaara tidak habis pikir.

Dia memilih diam, tidak berniat juga menjawab. Lagipula dia datang hanya untuk menenangkan pikiran dan menyendiri bukan menyakiti si pirang.

"Hei, aku tidak sedang bicara dengan manekin, ya."

"Berisik."

"Eh? m-mau apa kau?" teriaknya saat Gaara melepas ikatan ditubuhnya dan si pirang merosot ke bawah karena pegal yang dirasakanya di sekujur tubuhnya. Menatapnya sebentar lalu Gaara berbalik tanpa sepatah kata yang keluar dari mulutnya.

Sedangkan Naruto kebingungan dengan tingkah aneh si pemuda berambut merah. Berpikir sebentar dia menyadari bahwa si merah tidak sama dengan yang lain.

"Tunggu dulu..." Naruto berusaha bangkit menyusulnya. Meraih tangan si merah, menariknya hingga dia berbalik menghadapnya. Dan setelahnya Naruto salah tingkah, menggaruk pipinya dengan kikuk.

"Anou sa, aku hanya ingin bilang terima kasih sudah menolongku." Dia membungkukkan badan sedikit, "Mm.. tadinya kupikir kau ingin menambah penyiksaanku tapi ternyata tidak, kau orang baik."

"Gaara mengangkat sebelah alisnya. "Orang baik tidak pernah ada di dunia."

"Kalaupun mereka dilahirkan, satu-satu orang baik itu adalah kau."

Sungguh Naif...

"Sekali lagi terima kasih sudah menolongku Gaara-san."

Untuk pertama kali ada orang yang memanggilnya tanpa embel-embel sama. Gaara sedikit terkejut mendapati si pirang yang ternyata mengenalnya. Dia cukup terkenal juga selain Sasuke dan Itachi.

Dia tersenyum. Gaara juga ingin tahu nama si pirang, tapi dia tidak tahu harus menanyakannya dengan cara apa, yang keluar dari mulutnya hanya,

"Kau seperti sarang lebah." Dia menyeringai, "Si berisik."

Naruto mengerucutkan bibirnya. "Aku punya nama, dattebayo! namaku Uzumaki Naruto," ujarnya, menunjuk dirinya dengan ibu jari, bangga.

"Aku tidak menanyakan namamu," ujar Gaara mendengus geli.

"Gah! kau ini menyebalkan, ya." Naruto menggembungkan pipinya dan membuang muka. Pengalaman pertama bicara dengan Gaara membuatnya merasa kesal.

Gaara terkekeh. Tapi tunggu dulu_Ada apa denganmu Gaara? ini sangat tidak biasa. Dia tidak pernah menampakkan seyumnya pada orang lain bahkan keluarganya sendiri. Tapi sejak bertemu dengan Naruto, sudah berapa kali dia mengangkat sudut bibirnya? Gaara merasa ini bukan dirinya. Dia merasa seperti orang lain.

Pandangan Gaara teralih pada wajah Naruto. Dia punya mata biru yang besar, hidung yang mungil, bibir cerry dan juga tiga pasang kumis kucing yang lucu. Pipi Naruto terlihat gembil, Gaara jadi ingin mencubitnya. Bagaimana ya, rasanya?

"...ra, Gaara? kau melamun?

Gaara menggeleng kecil masih dengan senyum terpasang di wajahnya. "Tidak. Kupikir kucing manis berbulu kuning terlalu menarik."

Sekali lagi, Naruto dibuat bingung oleh Gaara.

.
.

TBC
.

Balesan repiu:

666-charnof'uck' ene
Ngemeng epe koe? kesurupan setan abnormal bang, sampe ripiu kayak orang ngedemo gitu? ane tau ente mau ngedakwah 'kan itung-itung pahala di bulan puasa, tapi gak gitu caranya. pakailah bahasa yang baik dan jangan bawa nama hewan najis, dong. pernah dengar seorang syekh ceramah gak? coba kayak gitu, kalau gini caranya ente lebih laknat dari pada ane jadinya.

Ido nakemi
hehe gapapa kok, apakah ini udah cukup menantang? btw, makasih pujiannyaXD

Akino aoi
Iya. Ini dah lanjut
Kay juga suka harem uke Naru...
Btw umur kamu berapa, kalo Kay baru 16 duapuluhmeikemarin. *Siapa yang nanya?

Aan817
Pendukung ipullovers? paantuh? sejenis makanan seperti kue lemper 'kah? *lapar...

Nadeasn27
silahkan...Makasih ripiunya^^

aka-chan
Tengkiu. Yeps, i have up!

V
Ini udah next..makasih dah ripiu.

Hanazawa kay
mereka gak tau kalo Naruto cucu pemilik sekolah, kalo tau gak bakal dibully dong. hehe..

Hime
ini dah lanjut.

Kino-chan dan koko : makasih dukungannya.

Makasih buat kalian yang udah ripiu, pap, and polow cerita ini. Dan juga buat dukungannya Big hug foya guys.. ternyata masih ada temen yang seperjuangan. Hehe...

Kay cuma mo bilang kalo Kay bikin fic Bl cuma buat kita, sesama penyuka Bl. Sekaligus melestarikan fic SN yang makin kurang akhir-akhir ini. Mungkin udah gak banyak peminatnya lagi, ya?

Oh ya, satu lagi, kalo ditanya apa suka bl didunia nyata, jujur Kay kurang suka dan sedikit ngerasa jj dan gimanaaa gitu, jadi cuma suka yang animenya doang. (Khususnya Naruto) alih-alih K-pop.

sering nonton anime shou-ai juga sih, tapi sekarang udah kurang. Kay merasa kayak denial gitu. Dibilang fujo, hati ngebantah tapi kalo ga dibilang fujo, Kay nya sering donlot gambar shou ai Naruto. Hhh.. Entahlah...

Tapi yang penting sekarang itu bagi Kay nikmatin hidup aja dulu, and be myself. Trus juga rajin belajar, walau sering bolos sekolah *bongkaraib. Kay cuma punya ayah buat penyemangat meraih cita-cita. Dan juga berusaha buat rajin ibadah dan selalu mengingat Tuhan Yang Maha Esa.

Terserah kalian mau berpendapat bagaimana tentang Kay. Mau dibilang muna*** ato apa kek, terserah... Intinya Kay nikmatin hidup apa adanya... ga ada yang lebih mengenal diri kita selain kita sendiri.

Aduh.. Jadi curcol begini *lol Gomen ya minna..

Adakah yang mo ngasih kritik dan saran ato pujian *dilempar.. Buat mood ngetik chap 3 nanti?

Gimme review minnaaaaa~

Khaciaou!

...Chapter ini mengalami sedikit perbaikan...