Disclaimer : Naruto dkk milik Masashi Kishimoto seorang. Aku hanya meminjam beberapa diantara mereka.

Genre : Romance, Drama

Warning : Typo every where. The plot is abstact. OOC, AU, etc. Membaca fic ini dapat menyebabkan pusing, meriang, gangguan kehamilan dan janin(?)

Courtesy of Married Without Dating © TvN

..PROPOSE..


Chapter 1, Berpisah dengan cara manusiawi.

"Yuhuuu... ini baru namanya kehidupan." Naruto menceburkan dirinya ke dalam kolam renang yang terbilang cukup mewah itu. Bahkan terlalu mewah untuk pelanggan seusia mereka.

Tehel dari keramik yang merupakan hasil bahan impor yang entah dari negara maju mana memenuhi lantai itu. Bukan hanya itu pemandangan yang disajikan tempat itu seakan tidak mengurangi keindahan dan kemewahan interior pemandian tersebut.

Pohon kelapa dan beberapa bunga buatan memenuhi sekitar kolam, membuat pengunjung dapat merasakan berada di pantai sungguhan.

Hal ini tentu tidak berbanding terbalik dengan berapa biaya yang dipasang untuk hanya sekali masuk di pemandian ini. Dengan mudah kita bisa menyimpulkan hanya orang-orang berdompet tebal 'lah yang bisa menikmati tempat ini.

"Hey Sasuke, coba lihat gadis-gadis itu. Kau tidak ingin satu diantara mereka hah?" Naruto keluar dari kolam. Air yang berasal dari rambutnya kini mengalir ke arah lehernya turun kedada dan entah berlambung hingga kemana. Celana renang yang ia pakai saat ini sukses melekat, menonjolkan bentuk bokong sang pemilik tubuh.

Naruto menghampiri Sasuke yang tengah berbaring dikursi sandar yang tak jauh dari kolam. Sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk dengan asal, beberapa kali dia bersuit dan melemparkan pandangan nakalnya ke arah para gadis berbikini yang lewat didepannya.

"Wah ini benar-benar surga. Kau yakin Sasuke tidak ingin satu diantara mereka?" Naruto ikut menyandarkan tubuhnyanya di kursi sandar tepat disebelah Sasuke. Dia sudah meminum habis wine yang ada ditangannya.

"Di bandingkan mereka aku lebih suka wanita yang bisa melamar." Sasuke memejamkan matanya diikuti oleh cengiran yang lebih tepat disebut seringai khasnya seakan baru saja tidak mengatakan hal apapun.

Tahu kalau sebentar lagi Naruto akan meledak mendengar ucapannya, Sasuke dengan sigap bangun dari posisinya lalu menceburkan diri kedalam kolam.

"Hei! Apa kau baru saja menyinggungku hah?" urat-urat sudah bertonjolan disekitar dahinya. Naruto tau kata-kata tadi barusan ditujukan untuk dirinya. Entah itu untuk menyindirnya atau Sasuke memang bersungguh-sungguh menyukai wanita yang bertipe seperti itu, tapi intinya dia tidak senang mendengar kalimat itu.

"Dasar laki-laki brengsek, aku sudah putus darinya. Pu-tus! Kalau kau mau, ambil saja dia." Saat ini puncak emosinya telah berada di ubun-ubun. Namun bukannya membalas Sasuke malah hanya melambaikan tangannya dari kejauhan lalu kembali berenang.

.

.


"Bagaimana caraku melamarnya lagi yah?" Sakura terduduk diruang ganti tempat kerjanya. Saat itu adalah waktu istirahat untuk makan siang setelah melayani pelanggan sejak pagi. Dahinya berkerut membentuk garis menandakan ia sedang berpikir keras. "Apa aku mengajaknya berlibur saja?"

'Tring'

Sakura menjentikkan jarinya. "Ya, benar! Dengan begitu tidak akan ada lagi yang mengganggu kita. Di pulau kecil yang indah, hanya berdua..." Senyum merekah diwajahnya. Hanya membayangkannya saja Sakura sudah bahagia, terlihat jelas dari semburat di pipinya yang sudah membentuk warna kemerahan.

Hanya berdua dengan Naruto tentunya akan sangat menyenangkan. Sakura yakin kali ini tidak akan gagal lagi.

.

.

.

Sakura mengecek handphonenya, menekan tombol fast dial berulang kali. Hal ini telah ia lakukan dan hampir menjadi rutinitasnya akhir-akhir ini, namun sang pemilik nomor seakan tak menghiraukannya dan hilang entah kemana.

Bekerja dari pagi hingga malam memang sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang pelayan. Banyaknya pelanggan yang keluar masuk memilih barang-barang bermerek mahal kadang membuatnya kewalahan. Namun seiring berjalannya waktu dia sudah terbiasa dengan banyaknya kemauan pelanggan yang harus ia turuti.

Tingginya selera mereka kadang membuat Sakura pusing sendiri, dia juga kadang bertanya-tanya dimana mereka mendapatkan uang sebanyak itu sehingga mampu membeli selembar pakaian yang harganya hampir menyamai cicilan kontrakannya selama setahun. Gila, pikirnya.

"Selamat datang. Kami siap melayani" Sakura membungkuk memberikan senyuman terbaiknya kemudian mengecek kembali handphonenya.

'nomor yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan'

"Kenapa dia tidak mengangkat telponnya?" Sakura menggit bibir bawahnya. Dia benar-benar sangat kesal. Mungkin sudah beratus kali ia memandang layar handphone-nya namun tidak ada balasan sama sekali.

Saat ini pikirinnya sedang terbagi sampai ia lupa bahwa mestinya dia sudah harus melayani pelanggan yang baru saja masuk tadi.

"Ehem Sakura Haruno, apa ada masalah?" Gadis berseragam yang hampir mirip dengannya menghampiri dengan raut wajah yang tidak enak.

"Ah ti-tidak ada manajer." Sakura membungkuk.

"Fokus lah dengan pekerjaanmu atau kau akan kehilangannya."

"Ba-baik."


Bagian 1, Menghilang.

Bunyi dentungan musik dari bar yang ada di pusat kota terdengar memenuhi ruangan. Lampu kerlap kerlip dan goyangan orang-orang mengikuti irama musik yang dimainkan oleh dj seakan menambah kemeriahan tempat itu.

Tidak terkecuali dua pria yang menghabiskan malamnya duduk sambil memesan beberapa minuman.

"Dia masih terus menelponmu sepanjang malam?" Sasuke meminum tegukan terakhirnya. "..satu botol lagi."

"Ya begitulah." Naruto menopang dagunya diatas meja. "Ini sudah hari ke-3. Dia benar-benar gila." Naruto memijit pelipisnya mencoba menenangkan pikirannya.

"Baiklah!" Naruto merenggangkan badannya, berusaha merileks-kan tubuhnya, sudah banyak yang ia minum. "Ayo naruto kau tinggal menghilang beberapa hari lagi dan ini akan benar-benar selesai." dia meyakinkan dirinya.

Naruto mengaktifkan handphone nya, mencoba mengecek isinya. Melarikan diri dari wanita itu memang benar-benar menyiksanya. Dia terpaksa harus memutuskan segala hubungannya sementara dengan orang-orang disekitarnya. Hanya Sasuke lah satu-satunya orang yang tahu dimana keberadaannya.

Tidak berapa lama setelah handphonennya menyala dengan sempurna, deringan terdengar datang bertubi-tubi.

300 panggilan tak terjawab,

102 pesan baru

Naruto memijat pelipisnya lagi. Oh ayolah aku bahkan bukan seorang artis.

Tiba-tiba hapenya bergetar.

Panggilan masuk...

Sakura-chan.

Dengan gelagapan Naruto memegangi handphonennya. Tangannya tiba-tiba juga ikut bergetar akibat panik. Dengan cepat dia membuka casing hapenya lalu dengan tergesa-gesa mencoba mengeluarkan baterai dari dalam isinya.

Handphonennya kemudian berhenti bergetar.

Naruto menarik napas panjang kemudian meneguk habis minuman Sasuke yang masih penuh. Dia mencoba mengatur napasnya.

"Aku benar-benar akan mati."


'Nomor yang anda tuju sedang sibuk silahkan tinggalkan pesan atau...'

"Apa kalian sedang bertengkar?" sedari tadi gadis itu yang juga merupakan teman dekat Sakura sudah memerhatikannya mengecek handphone berulang kali dan karena rasa ingin tahunya yang begitu besar ia pun mencoba bertanya.

"Entah 'lah Hinata, hubungan kami terakhir kali memang sedang tidak baik, tapi biasanya Naruto tidak akan mudah marah karena hal sepele."

"A-anu apa kau sudah mengungkit soal pernikahan dengannya?" Hinata bertanya dengan penuh hati-hati.

"Aku sudah mengatakannya." Mencoba mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, dengan pandangan serius Sakura menceritakannya, "Baru-baru saja setelah aku mengungkapkan nya, tapi...dia malah ingin ke kamar kecil." Wajah Sakura kembali cemberut.

"D-dia tidak ingin menikah."

"Ayolah, tidak mungkin." Sakura menyela dengan yakin. "Dia marah karena aku mengusir temannya."

"Kau masih tidak mengerti?" Hinata mencoba menjelaskan. "Dia menghilang agar bisa putus darimu." Hinata memperbaiki posisinya menghadap ke arah Sakura, "Sudah sejak kapan dia menghindari mu?"

"Sekitar seminggu?"

Hinata menghela napasnya, "Semuanya sudah berakhir."

Sakura tampak berfikir sebentar. "Tidak, tidak! Tidak mungkin." Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.

.

.

.


Cafe dengan tulisan 'Resttime' terpasang cantik didepan pintu utama tempat itu. Dengan tulisan Italic dan bold memberikan kesan yang mendalam bahwa Cafe itu sedikir ber-ala prancis.

Bukan kebetulan tapi sang empunya cafe memang sengaja membuat desain serta interior cafe tersebut berkesan western. Bukan hanya itu, menu yang disediakan juga memberi ciri khas yang khusus sehingga membuat siapapun yang datang ke sana bisa merasa bagaikan sedang berlibur ke negeri bagian eropa sana.

Yah, itu semua adalah ide dari pemilik cafe itu.

"Kurasa hidupku akan mulai tenang sekarang."

"Apa kau yakin?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya, "Kurasa tidak juga, karena sekarang aku melihat gadis yang sedang berapi-api menaiki sepeda sedang menuju ke arah sini dan..."

"Mana? Dimana?" Naruto mengedarkan pandangannya dengan panik, dia menengok ke arah jendela dan mendapati gadis itu memarkirkan sepedanya menuju ke arah cafe. "Oh tidak! Persetan dengan kata-kataku." Naruto meremas rambutnya frustasi.

"Aku pergi dulu, kurasa urusanku sudah selesai disini" Sasuke berdiri hendak meninggalkan tempat duduknya.

Naruto memegang lengan Sasuke, berniat menahannya dan berusaha memasang muka memelas. "Kau sudah lupa kesepakatan kita ya?"

"Kesepakatan apa? Aku sudah menyelamatkan mu saat di hotel." Sasuke melepaskan genggaman Naruto dengan malas.

"Bujuk dia pergi! Kumohon Sasuke...!" tanpa menunggu persetujuan dari lawannya bicaranya, Naruto sudah berlalu pergi dengan secepat kilat menuju belakang meja kasir untuk bersembunyi. Sasuke memejamkan matanya kesal.

"Lagi?!"

.

.

Seorang pria dengan postur sempurna, tinggi badan dan senyum yang senantiasa menghiasi wajahnya telah berdiri didepan pintu hendak menyambut para pelanggan.

"Selamat Datang." Jika bukan karena seragam yang dikenakannya bertuliskan 'Resttime' maka tidak ada yang bisa mengira jika ia adalah pelayan dari cafe itu.

"Permisi, apa manager-mu ada disini?"

Senyum pria itu hilang sejenak, digantikan dengan semburat kecewa. "Kau kesini ingin mencari manajer ku?"

"Me-memangnya kenapa?" Sakura tampak bingung.

"Ah itu, semua orang biasanya kesini untuk mencariku." Senyum kini telah menghiasi wajahnya kembali.

Mencoba mencerna kata-kata pria itu Sakura kemudian kembali fokus dan mengingat apa tujuan awalnya ke tempat itu. "Apa dia baik-baik saja? Maksudku manajer-mu, apa terjadi sesuatu dengannya?"

"Dia baik-baik saja. Dia tidak berkerja apapun, tapi dia selalu terlihat sibuk." Cengiran muncul di wajahnya.

Naruto yang mendengar percakapan itu merasa pegawainya baru saja menyingungnya dan dia tidak bisa menerimanya. "Dasar anak itu!" belum hendak berdiri, kepalanya sudah terbentur dengan suatu gumpalan yang ada didasar meja kasir itu. "Auh! Shit!"

Sakura memfokuskan pendengarannya dan merasa ada yang ganjil dari balik meja yang ada didepannya. Seperti ada bayangan yang bergerak, dan suara yang baru saja ia dengar seperti tidak asing lagi ditelinganya.

Karena penasaran ia mencoba mendekati meja itu, tidak menghiraukan pandangan pelayan tampan itu yang menatap bingung padanya.

Belum sampai kebelakang meja, Sasuke sudah muncul tepat dihadapannya, berusaha menghalangi pandangan Sakura. "Aku ingin pesan jus jeruk-nya, Sai."

"Ah baik." Setelah memberikan senyuman terindahnya kepada Sakura, Sai kemudian berlalu menuju kebelakang dapur.

Dari balik meja Naruto menghela napasnya lega. Hampir saja, pikirnya.

Dia sempat mengepalkan tangan ke arah Sai yang baru saja lewat untuk mengambilkan pesanan Sasuke, namun seperti biasa Sai hanya membalasnya dengan senyuman khasnya.

Merasa sesuatu akan terjadi dengan kedua orang itu, Naruto kembali memusatkan perhatiannya dengan mereka.

"Ka-kau kan pria yang di hotel waktu itu?" Sakura mencoba berpikir sejenak, "..benarkan?!" Sakura mencoba menggenggam lengan Sasuke, "Ah soal waktu itu..." lanjutnya, "aku benar-benar minta maaf. Kau tahu, kau hanya datang disaat waktu yang kurang tepat..."

Drrt..Drrt

Dengan ekspresi yang merasa terganggu Sasuke berusaha melepaskan genggaman Sakura di lengannya. "Tunggu sebentar, aku ada telepon."

"Ya, bu?"

"Apa kau sudah siap dengan kencan butamu sebentar malam?"

Sasuke memijit pelipisnya pelan, shit dia baru ingat tentang hal itu.

Bagi Sasike bukan hal yang asing lagi jika mendengar kata kencan buta atau blind date dan apapun namanya itu. Untuk seorang lajang sepertinya dan orang tua yang sangat menginginkannya untuk menikah, itu sudah menjadi salah satu aktivitas mingguan yang harus ia lakukan, tentunya dengan terpaksa.

Bukannya tidak ingin menikah, hanya saja Sasuke lebih menyukai hidup sendiri selamanya dibanding harus mencari seseorang untuk mengisi hari-harinya. Baginya itu hanya malah menambah beban hidupnya.

Tidak normal?

Mungkin itu yang akan dipikirkan oleh kebanyakan orang jika mendengar alasannya. Tapi apapun yang dikatakan orang itu bukan masalah besar baginya, karena apa yang benar-benar dia inginkan hanya 'lah sendiri...

"Jika kau berani mengacaukan kencanmu lagi kali ini maka ibu tidak akan sungkan-sungkan menutup klinik bedah plastik-mu!" Sasuke spontan menjauhkan gagang handphone dari telinganya.

Sakura yang dari tadi memerhatikan Sasuke mencoba bertanya 'ada apa' dengan tidak mengeluarkan suara.

Tanpa memberi respon apapun Sasuke hanya berbalik memunggungi nya.

"Sudah berapa kali ku katakan kalau aku tidak ingin menikah. Tidak akan pernah!"

Sakura terhenyak mendengar perkataan Sasuke. Apa pria ini ingin menjadi perjaka tua untuk selamanya? Hanya itu yang ada dipikirannya saat ini.

Seakan tau apa yang sedang dipikirkan wanita ini, Sasuke berbalik menghadap ke arah Sakura, tepat dihadapannya. "Aku beci berurusan dengan wanita, apa lagi dengan wanita mata duitan." Seakan menyetujui, Sakura mengangguk membenarkan perkataan Sasuke.

"...aku juga benci dengan wanita yang sangat tergila-gila dengan pernikahan." Perkataan itu diucapkan Sasuke dengan jelas sambil menatap Sakura lekat-lekat.

Merasa perkataan itu ditujukan padanya, Sakura mengarahkan jari telunjuknya ke arah wajahnya, "Aku?"

Sasuke menjauhkan telponnya sebentar, "Aku berbicara tentang calon tunanganku."

"Ah, iya iya." Sakura kembali memfokusnya perhatiannya pada sekitar restaurant.

"Itu bukan urusan ibu, malam ini kau sudah harus ada disana tepat jam 5. Dan jangan pernah berpikir untuk terlambat."

Sasuke menghela napas berat, "Kumohon, sudah berulang kali kukatakan aku tidak ingin menikah dan tidak akan per-..."

tuut tuut..

Sasuke menghela napasnya berat. Dia melihat ke arah arloji, "Oh tidak 30 menit lagi."

Sasuke lantas berlari dengan terburu-buru ke arah pintu cafe tanpa memerhatikan Sakura yang mengejarnya dari belakang.

"Hei! Tunggu!" Sakura menarik lengan baju Sasuke, hendak menahannya. "Aku tidak bisa menghubungi Naruto, dan aku tahu kalian berteman. Aku perlu memberitahunya sesuatu yang penting."

Sasuke berbalik sebentar lalu menatap Sakura lekat, "Hentikan 'lah. Kau ini meyedih kan sekali."

"Eh?" Sakura terdiam sebentar, berusah mencerna perkataan pria ini.

Sasuke mengedarkan pandangannya, berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk gadis yang satu ini. "Semuanya sudah berakhir."

Sasuke kemudian berlalu pergi meninggalkan Sakura yang masih terdiam ditempatnya.

Bagian 2, Ucapkan 'Selamat tinggal' melalu orang ke-3

.

.

.


A/N : This story was inspired from a K-Drama. Doesn't mean to do a Plagiat, just want to make the reader interest in K-Drama and try to watch the original one.

Cerita ini emang udah berapa kali aku update, tapi selalu ada revisi dan perbaikannya. Aku harap kalian tidak bertanya lagi tentang kenapa cerita ini mirip dengan sebuah drama, karena aku memang mengambil drama itu menjadi sebuah cerita.

Terima kasih untuk yang sudah me-review:

Anka-Chan : Untuk soal dipengadilan penjelasannya akan ada di chap selanjutnya, tetap nantikan ya

Rainy de : Gomen, cerita ini memang re-update

So, please enjoy the drama and the fanfiction also.

.Dewlen.