Disclaimer: JK Rowling owns the Potterverse for good. I own only the plot.


Hermione mempercepat langkahnya menuju Ruang Rekreasi Ketua Murid. Ia benar-benar lupa membebaskan Draco dari kutukan Ikat Tubuh Sempurna yang dilancarkannya pagi itu. Bulu roma Hermione mendadak berdiri. Tanpa sadar ia memperlambat jalannya saat mencapai Ruang Rekreasi. Angin dingin menyeruak dari arah ruangan itu.

Ruang Rekreasi gelap dan dingin. Jendela-jendela yang dibuka Hermione tadi pagi masih terbuka lebar. Daun jendelanya terbanting-banting terkena tiupan angin yang membawa masuk setiap tetes air hujan. Perabotan dan tapestry yang tergantung di sekitar jendela sudah basah kuyup. Genangan air terbentuk di bawah setiap jendela. Tak ada satupun sumber penerangan di Ruang Rekreasi, perapian mati, dan samar-samar terlihat kabut mulai menyelusup masuk lewat jendela yang terbuka, angin malam yang membekukan berdesir membuat Hermione merinding.

Hermione merapatkan jubahnya karena kedinginan. Dengan sekali lambaian tongkat sihir, ditutupnya semua jendela. Hermione mendaraskan mantra untuk membersihkan lantai, perabot, dan tapestry yang basah. Setelah ia tak merasakan lagi hembusan angin, Hermione memutuskan untuk menyalakan penerangan.

"Incendio" gumamnya sambil menyabetkan tongkat sihirnya ke segala arah yang diingatnya merupakan tempat lampu dinding tergantung. Tak lupa ia menyalakan api di perapian besar yang terletak berhadapan dengan meja dan sofa besar di tengah ruangan. Dalam sekejap Ruang Rekreasi menjadi terang benderang. Api perapian berkobar menyebarkan kehangatan ke seluruh ruangan, menerangi sosok yang terbaring di sofa. Hermione menjerit tertahan begitu mendapati keadaan sang Ketua Murid laki-laki.

Draco Malfoy masih dalam keadaan terbujur kaku. Kedua matanya terkatup rapat. Poninya yang tak tersisir menjuntai menutupi hampir separuh wajahnya yang pucat pasi. Bibirnya membiru kedinginan. Kulit tubuhnya yang sudah pucat terlihat semakin memutih seakan tak dialiri darah. Draco yang hanya mengenakan celana tidur tentunya tak bisa berharap banyak dalam cuaca buruk dan keadaan tubuh terikat. Hermione berlari menuju sofa dan menjatuhkan diri berlutut di lantai tepat disamping Draco.

Hermione menyentuh lengan Draco. Dingin beku nyaris seperti es. Darah Hermione berdesir. Ia tahu Draco masih hidup karena dadanya yang telanjang masih naik turun memperlihatkan aktivitas paru-parunya masih bekerja. Sang Ketua Murid perempuan menyibakkan rambut dari wajah Draco dan memindahkan posisi kepalanya sedikit untuk mempermudahnya memeriksa keadaan Draco. Bibir sang Ketua Murid laki-laki sedikit bergetar. Ia menggigil kedinginan. Kedua matanya masih tertutup rapat.

Sang Ketua Murid perempuan benar-benar panik kali ini. Ia memanggil selimut dari kamar Draco dan menyelimuti tubuh sang Ketua Murid laki-laki, dan berikutnya ia mengangkat tongkat sihirnya untuk melepaskan kutukan Ikat Tubuh Sempurna dari tubuh Draco. Sesaat setelah Hermione melepaskan kutukannya, kedua mata Draco terbuka.

Hermione terlonjak kaget hingga jatuh terduduk. Kedua mata Draco menatapnya dengan sinar tajam penuh kemarahan. Sang Ketua Murid laki-laki mencoba untuk bangkit dengan gerakan yang sangat kaku, secara refleks Hermione mencoba membantunya, tetapi…

"Menjauh dariku, Darah Lumpur!!" desis Draco marah. Ia menepis lengan Hermione dengan kasar, menendang selimutnya menjauh, dan bangkit dari sofa. Dengan gerakan kaku dan sedikit menyeret kaki, ia berjalan tertatih-tatih menuju kamar mandi. Ia bahkan tak mau repot-repot menutup pintunya, Hermione terpaksa menutup telinganya karena jengah saat mendengar suara air yang mengucur di kloset. Draco pastilah sudah menahan urgensi buang air kecilnya habis-habisan seharian ini.

Hermione terduduk lemas di sofa dengan sedih. Draco memanggilnya Darah-Lumpur lagi. Sudah sangat lama sekali sejak Draco berhenti memanggilnya dengan makian itu. Semenjak jatuhnya Voldemort, segala perbedaan status darah dan keturunan sudah dihapuskan. Bahkan Lucius dan Narcissa Malfoy sekalipun sudah tidak lagi menggunakan istilah itu. Keluarga Malfoy mendapatkan ampunan dan rehabilitasi nama karena saat disidang di Wizengamot, kesaksian Harry Potter menguatkan mereka. Mereka berdua diampuni karena jasa Narcissa yang membantu Harry saat ia ditawan di Hutan Terlarang oleh Voldemort. Dan sejak itu sikap keluarga Malfoy, termasuk Draco, berubah drastis.

Tak hanya sampai disitu, Hogwarts dapat dibuka kembali. Para murid kelas tujuh tahun sebelumnya yang tidak tuntas mendapatkan pelajaran bisa mengikuti kembali kelas terakhir mereka di Hogwarts tahun ini. Draco dan Harry saling memaafkan dan mereka memulai hubungan dari awal lagi. Harry memiliki respek tersendiri terhadap Draco saat sang Pangeran Slytherin menghalangi niat kedua teman Slytherinnya membunuh Harry saat mereka berada di Kamar Kebutuhan setahun yang lalu. Sekarang ini perbedaan antar status antar asrama seharusnya sudah tidak ada.

Tapi kali ini ucapan Darah-Lumpur kembali terucap dari mulut Draco. Hermione tahu, Draco memakinya karena kesal. Tapi tak ayal pikiran itu tetap menghantui Hermione. Darah-Lumpur adalah kata yang sudah dilarang untuk diucapkan di muka publik, hukuman berat siap menimpa siapapun yang melanggar, ia bisa saja membuat Draco terkena detensi karena ini, tapi Hermione tak merasa Draco pantas mendapatkan detensi tambahan, setelah apa yang sudah ia alami seharian ini.

Terdengar suara kloset yang diguyur, diikuti suara lain yang mencurigakan dari kamar mandi. Suaranya seperti orang terjatuh. Secara refleks Hermione bangkit dan berjalan menuju kamar mandi yang ia gunakan bersama Draco, tetapi bayangan kemarahan Draco membuatnya berhenti di tempat. Draco sudah cukup marah, ia tak mau membuatnya lebih marah lagi dengan menerobos masuk kamar mandi yang sedang ia pakai.

Suara erangan memaksa Hermione untuk memutar arah dan kembali menuju kamar mandi. Dan ia terperangah.

Draco berpegangan di pinggiran kloset, sementara satu tangannya bertumpu pada lantai batu kamar mandi yang dingin. Kedua kakinya terjulur mengejang kaku. Hermione buru-buru menghampiri Draco dan mencoba memapahnya, tetapi Draco sudah membentaknya.

"Jangan sentuh tubuhku! Pergi!" usirnya kasar begitu melihat Hermione mendekat. Sang Ketua Murid perempuan hampir menangis melihat keadaan Draco. Ia tahu Draco sedang mengalami kram kaki yang cukup parah, setelah berada dalam keadaan terikat dan kedinginan cukup lama, tubuhnya masih kaku dan belum cukup lemas untuk diajak bergerak, Hermione tahu bahwa tubuh Draco mulai pinggang ke atas sedang mengalami kesemutan hebat. Terlihat dari tangan dan tubuh Draco yang mengejang dan gemetar.

"Draco… Draco… aku minta maaf… tapi tolonglah… biarkan aku membantumu kali ini…" Hermione berlutut di samping Draco. Ia tak berani menyentuh tubuh Draco. Tetapi sang Pangeran Slytherin hanya menggelengkan kepalanya. Dan berikutnya lengan yang dijadikan tumpuan oleh Draco kehilangan kekuatannya dan tubuh sang Ketua Murid laki-laki terbanting di lantai batu. Wajahnya menyiratkan kesakitan yang luar biasa.

"Mobilicorpus!" jerit Hermione panik, diangkatnya Draco setinggi hampir setengah meter di atas lantai, ia menyambar selimut yang ditendang Draco di sofa Ruang Rekreasi, membungkuskannya ke seluruh tubuh Draco, Hermione memindahkan Draco ke kamarnya, lalu ia berlari secepat yang ia bisa menuju Rumah Sakit untuk memanggil Madam Pomfrey.


Madam Pomfrey menggelengkan kepalanya saat memeriksa keadaan Draco di kamar Ketua Murid laki-laki. Ia langsung menuju ruang Ketua Murid setelah Hermione mendobrak masuk Rumah Sakit, hampir menangis, dan langsung menyeretnya kesana.

Draco sendiri sekarang sedang tertidur setelah dicekoki ramuan Tidur Tanpa Mimpi. Sebuah kompres es menempel di kepalanya. Draco demam. Madam Pomfrey melirik ke arah Hermione yang terduduk lesu di ujung kaki tempat tidur Draco. Sang Ketua Murid mengelus-elus kaki Draco yang terbungkus selimut dengan pandangan kosong.

"Bagaimana bisa begini, Miss Granger? Mr Malfoy terkena dehidrasi parah, mengalami malnutrisi karena seharian penuh dia tidak makan apa-apa, otot-ototnya begitu kaku seolah-olah ia dipaksa berada di satu posisi yang sama selama lebih dari dua belas jam ('nyaris dua puluh' Hermione menambahkan dalam hati) masuk angin parah, terkena gejala flu, demam tinggi, dan sedikit lagi dia bisa mati karena hypothermia!" cecar Madam Pomfrey tajam. Hermione mendesah pelan. Begitu parahnya…

"Tapi dia akan sembuh kan? Maksudnya… ini tidak membahayakan nyawanya kan?" tanya Hermione lemah. Pandangan Madam Pomfrey melunak. Ia mengeluarkan beberapa botol ramuan obat dan dijejerkannya di meja samping tempat tidur Draco.

"Dia akan sembuh, tapi dia harus beristirahat total setidaknya tiga hari, Miss Granger." Madam Pomfrey mengangkat salah satu botol obat dan menunjukkannya kepada Hermione, "berikan obat ini saat ia bangun nanti," lalu Madam Pomfrey menunjukkan dua botol obat yang berbeda, "lalu yang ini saat dia hendak makan, dan yang ini setelah dia selesai makan. Yang ini harus dihabiskan, dan yang ini…." Hermione sudah tidak bisa lagi mencerna kata-kata Madam Pomfrey.

Draco harus beristirahat total… tiga hari… Ujian Ramuan dari Professor Slughorn besok lusa… Tugas berpasangan… Draco masih sakit… Belum belajar… Teori Ramuan Gelitik…dan Hermione merasa pusing seketika.


Kedua mata Draco perlahan membuka. Sinar matahari pagi menerobos jendelanya yang tak bertirai dan menyilaukan matanya yang masih sensitif terhadap cahaya. Draco mengerang pelan. Tubuhnya terasa luar biasa pegal, kepalanya berdenyut-denyut pusing, dan ia sulit bernapas karena hidungnya tersumbat. Keningnya basah kuyup karena air yang menetes dari kompres es yang sudah meleleh. Pikiran Draco melayang ke sehari sebelumnya, hingga pada akhirnya dia teringat apa yang sudah menimpanya seharian kemarin. 'Sialan…' rutuk Draco dalam hati begitu ia mengingat semuanya.

Sang Pangeran Slytherin mencoba menggerakkan tangannya yang kaku. Dibuangnya kompres bekas yang sudah meleleh dari keningnya. Ia mencoba untuk bangkit, tangannya meraba-raba meja samping tempat tidurnya, mencari-cari tongkat sihir kayu Hawthorn-nya yang biasa dia letakkan disitu. Dengan tangan kaku, pada akhirnya yang Draco lakukan adalah menyenggol mangkuk logam tempat kompres yang berada di meja yang sama. Mangkuk itu jatuh berkelontangan di lantai batu. Ia memaki dalam hati saat mendengar suara derap langkah mendekati kamarnya.

"Ah, kau sudah bangun, Draco?" wajah sang Ketua Murid perempuan menyembul dari balik pintu kamarnya. Ia membawa sebuah baki besar. Hermione masuk dan meletakkan bakinya di meja kopi yang berada di dekat jendela. Draco bisa melihat banyak makanan di atas baki yang dibawa Hermione. Tanpa sadar perutnya berbunyi, Draco ingat ia tidak makan apa-apa seharian kemarin.

Hermione duduk di sisi tempat tidur Draco, ia membuka salah satu botol obat yang ditinggalkan Madam Pomfrey dan menyorongkannya pada Draco untuk diminum. Draco mengerutkan alisnya. "Kenapa?" tanya Hermione, "Madam Pomfrey mengatakan kau harus minum obat yang ini begitu bangun." Draco menaikkan alisnya sambil menyunggingkan gestur bibir mengejek.

"Oh ya, terima kasih, kukira kau sudah tahu bahwa tanganku tidak bisa memegang apapun sekarang ini." sindir Draco tajam. Wajah Hermione memerah sedikit. Disibaknya selimut Draco dan ditumpuknya bantal-bantal di bagian kepala tempat tidur, berikutnya Hermione membantu Draco supaya bisa duduk bersandar di tempat tidurnya.

Wajah Hermione semakin memerah. Pakaian Draco masih dalam keadaan yang sama dengan hari kemarin. Celana training panjang, tanpa atasan. Hermione berusaha dengan susah payah memalingkan fokus pandangan ke arah lain sementara Draco mencoba duduk tegak di kasurnya.

Suhu tubuh Draco masih tinggi. Hermione bisa merasakan dari tangannya yang bersentuhan langsung dengan punggung Draco yang telanjang. Hermione mengambilkan sebuah kemeja lengan panjang dari lemari baju Draco dan mencoba memakaikannya di tubuh Draco. Sang Pangeran Slytherin menaikkan salah satu alis matanya.

"Oh, nikmati saat-saat ini selagi bisa. Kau tahu, banyak sekali gadis-gadis yang siap membunuh untuk berada di posisimu sekarang." wajah Hermione memerah seketika. Sambil menggeretakkan gigi, ia tetap memakaikan baju Draco.

"Bukan waktunya untuk meledek, kau masih demam, dan sebaiknya untuk sementara jangan tidur telanjang dulu." balas Hermione. Ia sudah selesai memasukkan kedua lengan Draco ke lengan kemejanya, dan dengan jemari gemetar, ia mengancingkan satu persatu kancingnya dari bawah.

"Baiklah, sekarang aku harus minum apa?" tanya Draco. Hermione menepuk dahinya seolah teringat sesuatu. Ia mengambil kembali obat yang sudah dibuka, sebuah sendok, dan menyodorkannya pada Draco yang hanya diam menatap sendok dan obatnya. Seulas senyum licik tersungging di sudut bibir Draco. "kau lupa bahwa kedua tanganku masih belum bisa berfungsi dengan benar?" ia mengingatkan.

Wajah Hermione kembali memerah. Sambil mengeluh pelan, dituangnya obat ke sendok, dan disorongkannya ke depan wajah Draco yang tetap diam saja. Draco hanya mengangkat sebelah alisnya dan berkata santai

"Leherku masih kaku."


Hermione terduduk lemas di Ruang Rekreasi Ketua Murid. Draco benar-benar telah mengerjainya sepagian. Ia terpaksa harus menyuapkan obat satu persatu karena Draco tidak mau menggerakkan lehernya sesenti pun. Hal yang sama juga diulangi Draco saat Hermione menawarinya sarapan pagi. Draco mau susu hangat yang disediakan pagi itu dicampur dengan madu, dan saat Hermione menuang satu sendok teh madu, Draco ribut mengatakan bahwa itu terlalu banyak, dan pada akhirnya Hermione harus membuat segelas susu madu hangat yang baru, dan meminumkannya pada Draco pelan-pelan.

Draco juga dengan keras kepala mengatakan bahwa ia tak mau terlalu banyak mayones pada telur orak-arik yang tersedia hari itu. Ia bahkan memprotes olesan butter yang dianggapnya terlalu tebal diatas roti panggang yang dihidangkan (terlalu banyak butter membuat rasa otentik dari roti panggang jadi berkurang). Dengan ketabahan luar biasa, Hermione harus menyuapkan makanan sesendok demi sesendok ke mulut Draco karena sang Ketua Murid laki-laki bersikeras bahwa leher dan tangannya masih kaku sehingga belum bisa makan sendiri dengan baik.

Tidak cukup sampai disitu, Draco bolak-balik menyuruh Hermione melakukan segala hal termasuk yang paling remeh sekalipun. Draco menyuruh Hermione membalikkan setiap halaman buku yang ia baca. Menyuruh Hermione menggantikan celananya yang sudah dua hari ia pakai (pada akhirnya Hermione memilih untuk mendaraskan mantra pembersih berulang ulang ke seluruh tubuh Draco, termasuk gigi dan rongga mulutnya). Draco juga meminta Hermione menata rambutnya dengan gel sampai benar-benar licin tanpa sehelai rambutpun keluar jalur. Hermione tak tahu harus menangis atau bersyukur, selama ini ia memang ingin sesekali menyentuh rambut halus Draco, tapi tidak dengan cara seperti ini. Ia tahu Draco marah, dan dengan kelakuan seperti ini, Draco seolah ingin membalas dendam.

Hermione melirik jam besar di salah satu sudut ruangan. Pukul setengah satu. Hampir waktunya makan siang. Ia sudah tidak turun untuk sarapan pagi, karenanya Hermione memutuskan untuk makan siang di Aula Besar bersama anak-anak Gryffindor yang lainnya. Harry dan Ron pasti sudah bertanya-tanya kemana dirinya pagi ini. Draco sedang tidur setelah minum obat. Hermione memastikannya sekali lagi sebelum pada akhirnya ia turun ke Aula Besar untuk makan siang.

Kedua pipi Ron Weasley terlihat menggembung berisi makanan saat ia melambaikan tangan kepada Hermione. Harry dan Ginny juga sudah berada di tempat yang sama, meja Gryffindor, menikmati makan siang mereka. Hermione berjalan cepat menuju meja. Menu siang ini tampak menggugah selera. Sang Ketua Murid mengambil tempat disamping Harry dan mulai mengisi piringnya dengan makanan penuh-penuh.

"Hermione," Harry memulai percakapan. Ia sudah selesai makan dan kini tengah menghabiskan makanan penutupnya. Hermione menengok sambil mengangkat sebelah alis. Pertanda siap mendengarkan. Harry melanjutkan, "sejak kemarin Draco sama sekali tidak terlihat, dia kemana sih?" tanyanya sambil melempar pandangan ke meja Slytherin yang hanya terisi beberapa orang. Gregory Goyle dan Pansy ada disitu, begitu pula dengan beberapa orang anak kelas tujuh Slytherin yang lain, tanpa Draco tentunya.

Hermione menelan makanannya baru menjawab "Draco… er… dia agak kurang enak badan… jadi sejak kemarin ia beristirahat saja di kamarnya…" Harry menaikkan alisnya dan menelengkan kepalanya sedikit, nampaknya ia percaya pada penjelasan Hermione. Berikutnya Harry mengeluarkan beberapa lembar perkamen, dan buku Ramuan Tingkat Lanjut milik Snape yang masih disimpannya dengan baik.

"Kalau begitu, Hermione, maukah kamu membantuku untuk…" ucapan Harry terhenti saat ia melihat kedua mata Hermione membelalak dengan ekspresi ketakutan. "aa… ada apa? Aku hanya ingin bertanya mengenai bahan ujian besok…" Harry menjadi lebih panik saat wajah Hermione makin memperlihatkan ekspresi ketakutan luar biasa yang tak bisa dijelaskan. Harry menarik-narik lengan baju Ginny, yang ikut kaget.

Ginny melambaikan tangan di depan wajah sang Ketua Murid perempuan, "Hermione? Kamu baik-baik sajakah?" tanyanya cemas. Hermione nampak sudah mengumpulkan kembali kewarasannya. Ia menggelengkan kepala sedikit, lalu dengan lemah bertanya balik kepada Harry.

"Ada apa Harry?" Si Anak Yang Bertahan Hidup melanjutkan dengan agak ragu-ragu.

"Yah, besok siang ujian Ramuan, dan kau tahu kita diharuskan untuk mengikuti ujian berpasangan, jadi untuk jaga-jaga, sebaiknya persiapan apa yang kita…." Harry tak jadi menyelesaikan kalimatnya. Ia menatap ngeri pada Hermione yang sudah membenturkan kepalanya ke meja makan dengan frustrasi.


Hermione kembali ke ruang Ketua Murid dengan sedikit terburu-buru. Setumpuk buku-buku penunjang teori Ramuan memenuhi tasnya. Ia hanya punya sedikit waktu lagi untuk belajar. Dan jika mungkin, Hermione tidak berniat untuk tidur malam ini. Ia harus bisa lulus ujian Ramuan, dengan ataupun tanpa Draco.

Baru saja Hermione meletakkan buku-bukunya, ia mendengar suara benda porselen yang pecah, dan teriakan seseorang yang terdengar sangat familiar. Hermione mendesah. Ia langsung mendatangi kamar Draco, tempat asal suara.

Draco meringis. Ia mencoba menuang susu ke cangkir tehnya, tetapi tangannya masih lemah dan tak kuat mengangkat teko susu, pada akhirnya ia menjatuhkan dan menumpahkan semua yang ada, cangkir teh, tatakan cangkir, teko susu, dan dengan sukses mengubah semuanya menjadi puluhan keping porselen yang berserakan di lantai.

"Reparo. Scourgify." Dua lambaian tongkat Hermione membereskan kekacauan yang dibuat Draco. Berikutnya Hermione mengambilkan lagi teh panas dan susu dari pantry, lalu menyiapkan teh susu yang baru untuk Draco. Sang Ketua Murid laki-laki tak berkata apa-apa, ia mencoba memegang sendiri cangkirnya, tapi tangannya begitu gemetar sehingga teh susu yang ada menetes-netes mengotori selimutnya. Hermione kembali membersihkan noda kotor, dan mengambil cangkir dari tangan Draco.

"Sini, biar aku membantumu." Draco hanya melirik. Sang Ketua Murid perempuan mendekatkan cangkir teh ke bibir Draco, dan membiarkannya menghirup isinya, sedikit demi sedikit, secara berkala Hermione menambah kemiringan cangkirnya dengan lembut, sehingga Draco tidak tersedak. "Ada lagi yang kau inginkan?" tanya Hermione.

"Makan siang." Ujar Draco. Hermione mengeluh dalam hati. Ia benar-benar merasa sedang mengurus seorang bayi raksasa.

Satu jam penuh Hermione melayani keperluan makan Draco. Ia melirik jam dengan cemas. Semakin sempit waktu yang tersisa untuk belajar. Hermione tak tahan lagi. Draco terus menerus memanggilnya kembali setiap sepuluh menit, dan pada akhirnya Hermione memutuskan untuk memboyong semua buku buku dan perkamennya ke kamar Draco. Sang Ketua Murid laki-laki hanya melempar pandangan mencela saat melihat Hermione membanting setumpukan buku di meja tulis yang berada di seberang tempat tidurnya.

"Yang benar saja, memangnya kau akan benar-benar ikut ujian Ramuan besok?" Tanyanya. Hermione melirik. Sang Ketua Murid perempuan berjalan menuju tempat tidur Draco, dan meletakkan beberapa gulung perkamen di pangkuan Draco.

"Tentunya, dan sebaiknya kau juga belajar. Ingat, kau belum menguasai teori Dasar Ramuan Gelitik sedikitpun, Draco." Sang Pangeran Slytherin melirik balik pada Hermione. Dengan gerakan sedikit kaku, dibukanya perkamen yang disodorkan Hermione, dan (diiringi pandangan takjub Hermione) ia mulai belajar.

Selama sepuluh menit.

Berikutnya gulungan perkamen-perkamennya berjatuhan di lantai. Draco membuang semuanya dengan tampang luar biasa bosan. Hermione menggelengkan kepalanya dengan sedih. Ia memunguti perkamen-perkamen yang dibuang Draco ke lantai. "Ayolah Draco, " keluhnya, "ini tahun terakhir kita di Hogwarts, aku ingin semuanya berjalan dengan lancar…" Draco melengos. "ini untuk masa depan kita juga kan…" sambung Hermione sambil berpindah ke meja tulis.

"Masa depan ya… Apa memangnya fungsi nilai O pada Ramuan untukku yang jelas tak perlu repot-repot menulis CV nanti setelah lulus?" tanya Draco tajam. Hermione hanya bisa menghela napas panjang. Ia lupa. Ia sedang berhadapan dengan seorang Draco Malfoy, pewaris tunggal kekayaan keluarga Malfoy. Ayah Draco adalah petinggi di Kementrian Sihir, dan kerajaan keluarga Malfoy di dunia bisnis sudah berakar kuat sejak ratusan tahun yang lalu.

Draco tak memerlukan nilai bagus untuk ditulis dalam CV. Ia tinggal menunggu usianya cukup, dan ia akan diwarisi seluruh harta kekayaan keluarga Malfoy yang tak akan habis tujuh turunan. Jauh berbeda dengan Hermione. Yang meskipun sudah ditawari langsung karier di Departemen Penegakan Hukum Sihir oleh Mantan Menteri Sihir Scrimgeour, ia masih merasa perlu untuk meraih nilai-nilai tinggi di setiap pelajaran.

"Yah, jika itu maumu. Awas saja jika kau menghambat pelajaranKU!" balas Hermione kesal sambil berbalik ke meja tulis, menyambar beberapa catatan dan buku Ramuan, ia pergi ke Ruang Rekreasi dan melanjutkan belajar disitu. Anehnya, Draco sama sekali tidak mengganggunya sampai tiga jam berikutnya.


Hari sudah mulai gelap saat Hermione memutuskan untuk beristirahat. Ia menyalakan semua lampu di setiap kamar di Ruang Ketua Murid. Sambil menggeliat melemaskan otot, ia berjalan menuju pantry untuk mengambil segelas air. Waktu menunjukkan hampir pukul setengah tujuh, waktunya makan malam. Kamar Ketua Murid laki-laki masih gelap gulita. Hermione beranjak ke kamar Draco untuk menyalakan lampu kamarnya. Dan ia terperanjat melihat Draco saat lampu kamarnya menyala.

Draco meringkuk bergelung di kasurnya, satu tangan terlipat di depan dadanya dengan gestur memeluk diri sendiri, tangan yang satu lagi mencengkeram selimut sampai buku-buku jarinya memutih, wajahnya yang pucat diwarnai semburat kemerahan. Peluh membasahi seluruh tubuhnya yang mengejang kaku, kedua matanya terkatup rapat, dan Draco menggigit bibir bawahnya hingga pecah. Ia tampak sangat kesakitan.

tbc


Notes:

Tipe klasik, Head Boy-Head Girl berbagi asrama.
Timelinenya normal, Voldemort, Dumbledore, Snape, Crabbe, dan yang meninggal di buku, tak akan muncul lagi.
Tongkat sihir Hawthorn Draco dikembalikan oleh Harry setelah tongkat Holly Harry diperbaiki (Nggak tahu pada kenyataannya bisa atau tidak, namanya juga fanfic)

Tanggal 15 Juni gw upload chapter berikutnya. Atau bisa lebih cepat jika review memuaskan.