.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Crime/Psychology/Mystery/Less Humor/Contain bullying/Contain gore
Warn : Sementara T rate/Typo(s)/OOC/Death Chara/Twist
NO PAIR
Story by DarkGrinSmile2
...
Two Faces
Chapter 1
...
Pagi Harinya
Kedua bersaudara yang khas dengan rambut merahnya itu, Gaara dan Sasori berangkat dari rumah menuju ke Konoha High School. Pagi ini mereka memang berniat untuk mendaftar di sekolah tersebut karena sekolah di Konoha jauh lebih lengkap daripada di Sunagakure. Gaara dan Sasori pergi ke tempat tujuan dengan bersepeda karena jarak rumah mereka yang baru (rumah selama di Konoha) tidak terlalu jauh dari sekolahan dan mini market 24 jam yang tempatnya sengaja dipilihkan oleh ayah mereka dengan strategis.
Sepanjang jalan mereka dapat melihat anak-anak sekolah Konoha sedang berjalan menuju ke sebuah gedung yang cukup besar dan pada temboknya terdapat lambang Konoha. Sebuah pintu gerbang berwarna biru gelap yang senada dengan blazer seragam Konoha yang dipakai oleh murid-murid sekolah Konoha terbuka dengan lebar.
Dari balik pintu gerbang Konoha, Gaara dan Sasori dapat melihat suasana di dalam gedung sekolah tersebut yang begitu ramai tapi tetap tertib. Kelihatannya Konoha adalah sekolah yang cocok untuk mereka. Tanpa berlama-lama lagi di luar, keduanya bergegas masuk ke dalam.
"Kira-kira di mana tempat pendaftarannya, ya?" Sasori celingukan mencari-cari ruang pendaftaraan.
"Kita tanya saja mereka." Gaara menunjuk kerumunan murid di halaman sekolah.
"Boleh juga," balas Sasori yang menyetujui usulan Gaara.
.
Kedua pemuda itu mendekati kerumunan tersebut. Tampaknya sedang terjadi sesuatu sehingga murid-murid yang didominasi oleh perempuan itu berkumpul di sana. Selain itu juga terdengar teriakan-teriakan yang terlontar dengan kata-kata yang kurang baik.
"Kau itu benar-benar tidak tahu diri!"
"Dasar penghasut!"
"Mulut ember!"
"Seharusnya kau berterima kasih pada Sakura! Masih bagus dia mau memaafkanmu!"
"Dasar perempuan tidak tahu diuntung! Teman makan teman!"
Kata-kata makian itu terlontar begitu lantang dan tajam. Sepertinya memang sedang terjadi pertengkaran kala pagi itu. Sasori dan Gaara yang awalnya hanya berniat untuk menanyakan letak ruang pendaftaran masuk sekolah malah jadi terbawa rasa penasaran untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Apa yang kalian semua inginkan? Kenapa kalian selalu menyudutkanku? Bukankah aku sudah minta maaf pada kalian?!"
Di tengah-tengah kerumunan gadis-gadis itu ada seorang gadis lain. Bersurai panjang dengan warna rambut indigo. Dilihat dari roman wajahnya, gadis itu tampak begitu tertekan.
"Wah, ini tidak bercanda 'kan? Ada seseorang yang di-bully di sini tapi semuanya hanya diam saja?" Sasori benar-benar tak habis pikir dengan apa yang dilihatnya Sekarang. Seorang murid perempuan tampak jelas sedang disudutkan oleh beberapa orang, tapi kenapa yang lain hanya diam saja melihat hal tersebut.
"Kita harus melakukan sesuatu!" ucap pemuda itu yang berniat untuk maju dan membantu gadis tersebut.
"Sasori jangan macam-macam! Jangan cari masalah di sini!" Gaara segera menghentikan niat Sasori. Dia tak ingin mereka berdua terlibat masalah. Masuk sekolah saja belum, masa mereka sudah harus berurusan dengan masalah?
"MINGGIR KALIAN SEMUAAA!"
Tiba-tiba saja terdengar suara teriakan yang begitu lantang dengan diiringi oleh derap langkah kaki yang berlari ke arah gadis itu dengan tergesa. Seorang pemuda berambut pirang merangsek masuk ke dalam kerumunan gadis-gadis itu.
"Apa yang kalian semua lakukan pada Hinata? Cepat pergi, jangan ganggu dia!"
Pemuda itu berdiri di tengah sambil melindungi gadis yang bernama Hinata itu. Dia mencoba untuk mengusir gadis-gadis itu dari Hinata. Sementara Hinata tampak bersembunyi di balik punggung sang pemuda dengan tubuh gemetar.
"Kau juga sama Naruto! Kau lebih memilih perempuan licik seperti Hinata dan memutuskan hubungan pertemananmu dengan Sakura! Benar-benar tidak tahu diri!" seorang gadis berambut pirang dengan bagian poni yang menutupi bagian samping wajahnya menghardik pemuda tersebut dengan sengit.
"Hentikan! Kalian semua hentikan semua ini!" muncul satu orang lagi yang menerobos kerumunan itu dan langsung menempatkan diri di depan Naruto dan Hinata. Gadis merah muda itu berdiri dan menatap ke arah gadis-gadis yang mengelilingi Naruto dan Hinata.
"Tolong jangan begini pada Naruto dan Hinata. Mereka berdua adalah teman-temanku," ucapnya setengah memohon agar gadis-gadis itu membiarkan Naruto dan Hinata pergi.
"Teman katamu?" sambar Naruto yang mendadak menjadi emosi. Matanya menatap sengit pada gadis merah muda berambut pendek itu, "semua ini salahmu, Sakura. Kalau bukan karena kau, Hinata tidak akan pernah mengalami semua ini dan kami tidak akan mengalami kesulitan seperti sekarang ini!" bentaknya dengan kasar.
"Naruto? Kenapa kau bisa bilang begitu? Aku padahal berusaha untuk membelamu di sini, tapi kenapa kau menyalahkanku?" Sakura terlihat begitu tersakiti dengan ucapan yang dilontarkan Naruto barusan.
"Dia itu melodrama sekali," cibir Gaara secara tiba-tiba dengan suara pelan.
"Siapa yang kau maksud melodrama?" lirik Sasori ke arah Gaara yang tumben-tumbenan sifat sarkastiknya bisa keluar sepagi ini.
"Gadis pink itu. Terlihat sekali dia itu sedang over acting!" cetus Gaara tampak terusik dengan kepura-puraan yang sedang terjadi di depan matanya.
"Bagiku mereka semua sama saja," balas Sasori cuek. "Sudahlah, lebih baik kita pergi dari sini dan segera mencari tempat pendaftaran." Sasori menarik adik kembarnya menjauhi kerumunan.
...
Kedua pemuda kembar itu berjalan menelusuri tiap-tiap ruang yang mereka lalui sampai pada akhirnya mereka bertemu dengan seorang wanita berpakaian kimono Hitam dengan high heels tinggi yang dengan amat senang hati bersedia mengantar keduanya ke ruang pendaftaran. Sambil menyelam minum air, sambil mengantar dia juga bisa flirting-flirting kepada dua orang calon murid Konoha. Guru wanita itu juga sempat berkenalan dengan dua calon murid baru itu (juga calon muridnya tentunya).
"Di sini ruangannya. Kalian bisa mengajukan pendaftaran pada Genma-sensei," ucapnya sambil menunjuk seorang laki-laki berambut coklat muda yang sedang merokok.
"Terima kasih, Shizune-sensei." Keduanya mengucapkan terima kasih pada Shizune karena sudah bersedia untuk mengantar mereka.
Wanita berusia 23 tahun itu tersenyum dan menyerahkan semua urusan Gaara dan Sasori kepada Genma. Setelah itu ia berpamitan untuk pergi ke kelas yang akan diajarnya hari ini. Melihat Sasori dan Gaara, Genma sudah bisa menebak apa yang diinginkan oleh keduanya. Laki-laki yang memiliki mata sayu itu mengeluarkan sesuatu dari dalam laci.
"Baiklah, kalian isi pendaftaraan di sini. Tulis yang lengkap." Genma menyerahkan dua lembar formulir yang harus diisi kepada Sabaku bersaudara.
"Boleh pinjam pulpennya, sensei?" tanya Sasori yang saat itu tidak membawa alat tulis, begitu pula dengan Gaara.
"Pakailah." Genma meminjamkan dua buah pulpen miliknya kepada dua calon murid Konoha tersebut, "kalau sudah selesai letakkan saja formulirnya di sini. saya mau keluar sebentar bikin kopi," ucapnya yang kemudian keluar dari ruangan sambil membawa-bawa sebuah cangkir dengan ukuran besar.
Sepeninggal Genma, kedua pemuda itu langsung mengisi apa-apa saja yang harus mereka tulis di dalam formulir dan mereka tulis dengan lengkap agar tidak adanya kesalahpahaman nantinya.
.
.
.
Kelas II-A
Sementara itu di dalam kelas II-A, Hinata terlihat sedang duduk dengan tubuh yang gemetar. Di depannya ada Naruto yang sedang berlutut sambil menggenggam erat kedua tangan mungil gadis itu.
"Aku tidak mengerti, kenapa... Kenapa mereka masih saja memperlakukanku seperti ini... Bukankah aku sudah minta maaf pada mereka? Kenapa mereka masih menyakitiku seperti ini... " Hinata tak bisa lagi membendung kesedihan juga kekecewaannya yang tercampur menjadi satu. Air mata gadis itu akhirnya tumpah juga.
"Mereka sangat keterlaluan... !" desis Naruto emosi.
Ia sungguh tak bisa menerima melihat orang yang dicintainya mendapat perlakuan yang sedemikian buruknya. Salah apa sebenarnya Hinata hingga gadis-gadis itu tega melukainya. Naruto semakin memperkuat genggaman tangannya pada Hinata. Isakan tangis gadis itu membuatnya merasa teriris perih. Gejolak amarah berkobar dalam dadanya. Ingin rasanya ia memberi pelajaran pada gadis-gadis binal bermulut kurang ajar itu untuk membalas semua rasa sakit yang dirasakan Hinata sekarang.
"Su-sudahlah, Na-Naruto-kun... " Menyadari kemarahan yang berkecamuk di dalam hati kekasihnya, Hinata langsung membelai lembut tangan pemuda itu. "Kau tidak perlu berbuat apa-apa... A-aku tidak ingin membuat keadaannya se-semakin buruk... " Ucapnya yang meskipun sebenarnya ia masih merasa sedih dan sakit hati, tapi ia masih mampu untuk menenangkan perasaan hati Naruto.
"Tapi, Hinata... " Naruto menatap sayang ke arah Hinata dan semakin merasa kagum pada gadis yang baru sebulan ini menjadi kekasihnya. Hinata masih bisa memberi pengertian pada Naruto meski sebenarnya dia sendiri sedang mengalami kegundahan.
"Hinara aku berjanji akan melindungimu dari orang-orang seperti mereka!" ucap Naruto dengan serius.
"Terima kasih, Naruto-kun... " Hinata tersenyum, merasa begitu bahagia dengan kesungguhan yang ditunjukkan Naruto kepadanya. Dalam lubuk hatinya ia berterima kasih karena disaat seperti ini ia memiliki orang yang begitu ia kasihi untuk mendampinginya melewati semua ini.
'Aku harus kuat dan tidak boleh menyusahkan Naruto-kun!' ucapnya dalam hati.
TBC
A/N : Buat Nohara-senpai maaf ya kalau ada kesamaan judul fic, tapi itu murni hanya judul yang agak mirip, cerita kita total beda :)
T
H
A
N
K
S
for review
