ONE GO, ONE GET
Pairing : Ino x Gaara
slight Ino x Shikamaru, slight Shikamaru x Temari
Rate : T ( Maybe M jaga-jaga jika ada hal yang tidak diinginkan)
NO BASHING CHARA
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : Alay, nyinetron banget, typos, abal, OOC dkk
Ini cerita pertama saya, saya nih masih belajar dan belum tau apa-apa soal dunia FFN , jadi jika ada yang mau mampir yaa monggo dibaca dan meninggalkan jejak kritik dan saran ( Flame yo aku rapopo ).
Dan jika ada yang merasa alur cerita , konsep dan inti cerita sama. Mohon untuk saya diberitahu yaa.. karena cerita ini murni inspirasi sendiri.
Kalau yang tidak suka, tidak mau baca ataupun mengintip yaa saya tidak melarang monggo tekan BACK.
CHAPTER 2
Ino berjalan gontai ke meja kerjanya, dia masih terlihat shock mendengar keputusan bosnya atau yang akan menjadi mantan bosnya. Tepat dimejanya ia tertunduk lesu sambil menyanggah dagunya dengan tangan kanan dan menghela nafas berkali-kali.
"Sudahlah Ino, bukankah harusnya kau senang bisa menjadi sekretaris pribadi Sabaku-sama yang tampan itu? aku saja iri pada mu," kata Sakura yang berada disebelahnya dengan memanyunkan bibir.
"Kalau begitu kau saja Sakura. Aku sih terpaksa. Apa kau tak lihat bagaimana sikapnya tadi saat rapat ? sangat cuek!" ucap Ino dengan memutarkan bola matanya.
Sakura mendekatkan kursi mendekati Ino. " Kau kan hanya melihat hanya saat itu saja kan ? belum tentu dia memang seperti itu. Siapa tau dia jodohmu, Ino ? hehe" goda Sakura pada temannya.
"Ah.. aku tak tahu Sakura, sebaiknya aku harus segera berkemas. Kalau tidak, mungkin dia tidak hanya menyiksaku tapi juga segera membunuhku," ucap Ino sambil dengan tangan telunjuk menarik lurus diperpotongan leher seperti orang yang memenggal lehernya.
Ino kemudian berdiri dan berjongkok dibawah meja untuk mengambil sebuah kardus dan meletakkannya diatas meja, dia mulai memasukkan barang-barang pribadinya seperti foto keluarga Ino, foto Sakura dan Ino saat berlibur serta beberapa file-file penting.
"Hah.. kau seperti baru dipecat saja Ino. Jadi tidak ada yang bisa ku ajak bicara gossip dan tayangan TV terbaru" hela Sakura menyiratkan kesedihan dan langsung saja Ino yang melihat ekspresi temannya itu langsung memeluk Sakura. "Tenang saja, kita kan masih bisa istirahat bersama," ucap Ino sambil melepaskan pelukannya dan mematap Sakura.
"Oh ya! Kalau kau tak betah dengan Sabaku-sama, kau bisa merekomendasikan aku untuk menggantikan mu," Kata Sakura dengan wajah yang ceria, seperti dia lupa baru saja bersedih.
"Hei, Sasuke mau kau kemanakan , Jidat? Apa untuk ku saja ?" Ia tau Sasuke dan Sakura sudah lama berpacaran sejak dibangku SMP. Sudah lama bukan ? entah alasan apa yang membuat Sakura belum juga mengubah status KTPnya.
"Hehe, aku kan hanya bilang kalau kau tidak betah dengannya, aku rela menggantikanmu, bukankah aku baik hati ?"
Mendengar ocehan temannya itu Ino hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan." Ya.. ya.. Kau memang baik hati Jidat. Membuatku sungguh terharu. Ya sudah aku ke ruangan Sabaku-sama dulu. Bye Sakura-chan" Lambai Ino pada Sakura.
.
.
.
.
Sekarang Ino telah berada didepan pintu ruangan Bosnya -emm maksudnya ruangan yang akan menjadi miliknya dan bosnya atau kantor serasa milik berdua. Antara gugup dan tidak mau menjadi alasan yang tipis untuk mengetuk pintu dan masuk kedalam. Tapi dia sudah sejauh ini untuk mencapai kariernya, dia tidak akan menyerah dan akan melawan apapun walau halangan, rintangan membentang tak jadi masalah dan beban pikiran ahaa… ( kog lagunya kera sakti muncul ?)
'Baiklah, saatnya perjuangan hidup! Semangat!' gumam Ino sambil mengepalkan tangan kanan didepan dada.
'1.. 2.. 3..' hitung Ino dalam hati seperti menghitung detik-detik mulainya perang dunia shinobi.
'Tok.. tok.. tok' ketukan pintu terdengar berima namun tak seirama dengan detak jantungnya kali ini. Tak ada jawaban ataupun sahutan. Dia mengetuk pintu untuk kedua kalinya tapi tetap saja tak ada timpalan. Ino mulai memberanikan diri untuk mendorong pintu secara perlahan. Di lihatnya sekilas didalam ruangan kerja barunya itu, terlihat luas menghadap ke arah jendela memperlihatkan pemandangan kota dari atas langit. Sofa-sofa kulit nan mewah tertata secara rapi dan elegan disamping pintu masuk dan meja kerjanya tepat disebelah meja besar yang ia pastikan milik bos barunya itu. Meja miliknya terlihat lebih besar dari meja sebelumnya, mungkin ia akan menaruh lebih banyak foto yang dipajang diatas meja.
Dia masuk perlahan dengan mengendap-ngendap seperti seorang pencuri pakaian dalam, takut jika sang bos ada didalam. Dilihatnya keadaan aman, dia mulai berjalan santai menuju meja barunya. Dengan riang seperti baru saja dapat mainan baru. "Hore! Dapat meja baru, nanti akan ku taruh foto disitu dan.. "
"Ehm" deheman suara baritone seseorang yang khas.
Ino yang menyadari sesuatu hal yang mengerikan dibelakang sana dan ia yakini lebih menakutkan dari pada hantu yang bergentayangan. Ino yang membelakangi suara itu dengan gerakan slowmotion, menggerakkan kepalanya ke arah samping dan mulai memutar badannya seperti gerakan robot.
Setelah mendapati sebuah objek yang tak asing 5 meter dari arahnya, dia mengarahkan matanya yang tepat lurus didada sang objek perlahan menelusuri ke arah atas. Tepat matanya bertemu dengan sebuah mata berwarna turquoise, Ino membulatkan matanya dan ingin rasanya ia berkata 'Bolehkah aku pingsan saat ini juga?' tapi nyatanya ia tak bisa pingsan saat itu juga hanya saja kakinya begitu lemas untuk berdiri. Dengan senyuman-tepatnya cengiran- Ino mengucapkan pemilihan kata yang salah- Ya tentu saja karena ia tak bisa berfikir saat ini. "Hallo Bos~" dengan lambaian tangan kanannya yang begitu lunglai tak bertulang.
Ino tau siapa yang ada dihadapannya sekarang yaitu Sabaku no Gaara. Bosnya saat ini. OMG! Ingin rasanya Ino membuang mukanya ke arah jendela karena malu atas kelakuannya tadi.
Sang objek pun terlihat biasa tanpa harus memunculkan berbagai ekspresi seperti sekretarisnya.
"Apa jadwal hari ini?" Tanya Gaara santai. Tanpa rasa kasihan akan keadaan Ino saat ini.
Ino yang berdiri disana yang masih dengan membawa sekardus penuh barang- menahan beratnya tepatnya. Terlihat membuka mulutnya-tak lebar, tapi memperliahtkan dia sedang 'cengo'
'What? Aku bahkan baru saja masuk!'
'Whatt? Aku bahkan belum menaruh barang-barangku!'
'Whattt? Aku bahkan belum menata meja baruku!'
'And double WHAT? aku ingin menangis rasanya..' terlalu banyak yang Ino gumamkan dalam hati, tapi tetap saja ia tak mampu mengekpresikan di raut wajahnya.
"Eee.. se-sebentar Sabaku-sama," ucap Ino hati-hati.
Ino menaruh barangnya diatas meja dan mengambil sebuah agenda didalam kardus itu. Ino membalikan badannya kearah Gaara tapi tak ada ditempat semula.
"Bacakan," ucap Gaara yang ternyata sudah duduk manis dikursi kerjanya.
"Pukul 10.00 akan ada pertemuan dengan Pemilik Perusahaan Namikaze Information Corp membahas tentang kerjasama lauching produk yang baru kita buat. Pukul 01.00 Siang anda harus menghadiri rapat besar seluruh pimpinan Direksi dan Pukul 4.00 sore anda harus datang ke acara jumpa pers untuk memgumumkan anda sebagai pimpinan direksi yang baru-ya mungkin anda akan menjadi headline news diberbagai media," jelas panjang lebar Ino.
"Batalkan semua!" Hanya 2 kata itu saja yang diucapkan oleh pewaris terakhir keluarga Sabaku ini.
"Ma-maaf Sabaku-sama, apa anda yakin ?" Tanya Ino takut-takut kalau dia salah bicara.
"Kenapa tidak? Pertama kau belum membuat laporan yang harus ku baca saat pertemuan nanti. Kedua aku malas bertemu dengan tetua-tetua. Ketiga aku tak suka keramaian," ucap gaara dengan santai. Sedangkan Ino malah terlihat takjub mendengarkan kata-kata yang keluar dari Gaara, bukan karena suara Gaara yang indah tapi karena pertama kali mendengarkan kata yang dikeluarkan Gaara cukup panjang -ya sejauh ini sih.
Tiba-tiba Gaara berdiri dan berjalan menuju pintu. Hendak keluar. "Anda mau kemana Sabaku-sama ?" Tanya Ino.
"Pulang." Seperti biasa kata yang singkat- ya walau tak sesingkat kata SMS (Short Message Service), pasti hanya akan tetulis 'plg'
'Aiish, dasar cowok aneh' ejek Ino dengan menjulurkan lidahnya kearah pintu, ia berani kali ini karena bosnya sudah menghilang. "Baiklah. Saatnya menata meja kerja ku!" seru Ino pada dirinya sendiri dengan ceria.
Ino mulai mengeluarkan barang-barang pribadinya, dia mulai mengeluarkan sebuah foto ayah dan ibunya, walaupun ia tak pernah melihat ataupun mendapatkan kasih sayang Ibunya, ia yakin kalau sang Ibu menyayanginya lebih dari apapun. Dia mengecup foto keluarganya itu dan menaruhnya disisi kiri meja bersebelahan dengan foto Sakura dan Ino saat berlibur ke pantai. Untung saja saat mereka berfoto tak memakai bikini, kalau tidak sudah pasti foto itu telah banyak beredar dikalangan teman-teman untuk dijadikan album kenangan.
Sudah sekitar 1 jam Ino merapikan meja kerjanya dan tidak bisa dipungkiri ada rasa penasaran saat ia melihat meja kerja bosnya itu. Tak ada yang istimewa dimeja Gaara, hanya ada papan nama lengkap dan jabatan Gaara, beberapa file tertumpuk rapi tapi sayang tidak ada satu pun foto disana. 'Apa dia tidak suka narsis ya?' pikir Ino dengan mengerutkan keningnya.
Saat dia melihat kursi empuk berada tepat disebelahnya, tiba-tiba melintas hal jail yang ingin lakukan. Apalagi kalau bukan mencoba sebuah kursi pimpinan direksi. "Hehe, jadi ini begini rasanya jadi seorang pemilik perusahaan? Keren juga," kata Ino sambil menyamankan duduknya dan memutar-mutarkan kursi geraknya itu.
Setelah merasa cukup menjalankan ide jahilnya, Ino merasa ada sesuatu suara yang bergemuruh tapi tak terlihat wujudnya seperti orang yang sedang berdemo meminta kenaikan gaji. Ino memejamkan matanya sejenak dan ia tersenyum dengan cerianya, "Saatnya makan siang!" sambil menepuk perutnya.
=KANTIN KANTOR=
"Hai Sakura-chan," seru Ino sambil melambaikan tangannya ke arah Sakura yang telah duduk dimeja kantin. Ino mendaratkan tubuhnya tepat dikursi depan sakura.
"Hai Ino, kenapa kau lama sekali sih? Kau tidak sedang bermesraan dengan Sabaku-sama kan?" ucap Sakura dengan mengerlingkan matanya.
"Apa ? Yang benar saja Sakura! Kau ingin tau apa yang terjadi tadi ?" Tanya Ino yang sepertinya memaksa temannya itu untuk harus tau.
"Kau ceritanya nanti saja. Kita pesan makanan dulu saja." Sakura sudah hendak ingin mengangkat tangannya untuk memanggil waiters, tapi urung dilakukan karena tangannya sudah ditarik oleh Ino.
"Nanti saja Sakura, dengarkan aku dulu!" Mau tak mau Sakura pun harus membuka lebar-lebar telinganya untuk mendengarkan curhatan Ino. "Cepat! Apa yang kau mau ceritakan? Tapi Ingat! Jangan lama-lama, karena perutku sudah lapar!" Kata sakura dengan menyanggah dagunya dengan tangan sudah siap mendengarkan.
"Kau tau Sakura? saat pertama masuk ke ruangan Gaara. Ku pikir dia sudah ada didalam tapi ternyata dia berada dibelakang ku saat aku merasa senang bisa mendapatkan meja kerja baru, dia mengagetkan ku dan dia membuatku malu karena dia memergokiku seperti anak yang baru dapat mainan saja!" cerita panjang lebar Ino dengan menggerakkan kedua tangannya mempratekkan segala hal yang ia ceritakan dan terkadang merubah mimik wajahnya dari senang lalu sedih dan sebaliknya. Sakura pikir curhatan Ino sampai disini, ternyata masih to be countinued.
"Kau tau.. kau tahu Sakura?! Saat aku masih membawa barangku, tiba-tiba dia menyuruhku membacakan agendanya hari ini. Memang apa dia tak lihat aku sedang memikul beban penderitaan barang yang ku bawa, Sakura!" Ino menceritakannya dengan ekspresi sedih dan melebih-lebihkan apa yang ia ceritakan.
"Dan kau tau lagi Sakura, tadi dia dengan seenakknya membatalkan semua agendanya hari ini dan pulang begitu saja!" Sekarang Ino mulai meninggikan suaranya dan melotot ke arah Sakura seperti orang yang benar-benar jengkel.
"Ada lagi Sakura! Dia… " ucapan Ino terhenti tiba-tiba karena merasakan ada yang bergetar dibawah sana. Dia memasukkan tangannya ke saku blazernya dan melihat mengapa Handphone nya bergetar, ternyata ada telepon masuk dari nomor yang tidak dikenal. Ingin rasanya Ino tidak menggubris panggilan itu, tapi karena penasaran siapa yang menelepon akhirnya pun dia mengangkatnya juga.
"Halo, dengan siapa ini ?" Kata Ino dengan suara yang dibuat sesopan mungkin.
'Hei kau! Cepat buat laporan untuk pertemuan besok dan buatkan pidoto pers untuk nanti sore!' Ino menjauhkan handphone dari telinganya karena suaranya benar-benar membuat telinganya berdengung.
"Hei! Siapa kau? Berani-beraninya kau menyuruhku!" Ino berteriak ke arah handphonenya dengan nada jengkel.
'Kau mau ku pecat? Lakukan sekarang !' terdengar nada perintah dari lawan bicaranya.
Ino mulai berfikir cepat siapa yang barusan meneleponnya.
Loading 10 %. Dia tau tentang agendanya hari ini?
Loading 30 %. Dia tau kalau dia belum membuat laporan ?
Loading 50 %. Dia bisa memecatnya. Dan siapa lagi kalau bukan ?
Loading 100 %. "Sa.. Sabaku-sama ? andakah itu ?" ucap Ino dengan terbata-bata. Keringat dingin mulai menetes dipelipisnya saat ini.
'Jadwalkan pers sore nanti dan segera buat pidato persnya!' ucapan terakhir yang terlontar dari sang lawan bicara. Ino mungkin tak melihat jika Gaara tengah tersenyum disana-tersenyum? Benar kalau gaara memang tersenyum saat ini, tapi seperti biasa tak ada yang tau.
"Ba.. Baik sabaku-sama." Ino tau ia sedang berbicara sendiri karena nada teleponnya sudah terdengar 'tut.. tut.. tut'.
"ARRRGGGHHH! Wahttt the Helll" Ino mencoba meluapkan semua rasa kesalnya. Dia berteriak-walau tak keras dan mungkin cuma Sakura saja yang mendengarnya. Dia mengepalkan ke tangannya dengan sekuat tenaga, tapi ia tersadar bahwa baru saja akan meremukkan Handphonenya. Dia pun akhirnya hanya bisa menghela nafas saja untuk menenangkan emosinya.
"Ada apa Ino ? aku dengar kau tadi menyebut Sabaku-sama?" Tanya Sakura penasaran.
"Dasar orang batu bata aneh! Dia baru saja menyuruhku dengan seenaknya. Bukankah tadi yang membatalkan semua agendanya tapi tiba-tiba dia mengubahnya lagi. Aku tak tahan Sakura.. " rengek Ino sambil merebahkan kepalanya ke arah meja.
Tiba-tiba Ino menegakkan kepalanya lagi dan berkata, "Lihat saja Panda baka! Bukan kau yang akan membunuhku tapi aku dulu yang akan membunuh mu!" Ino benar-benar kesal hari ini. Emosinya seperti sudah sampai diubun-ubun kepalanya.
Ino ingin terus saja berkoar mengungkapkan amarahnya pada Bos nya itu. Tapi sakura selalu saja menunjuk ke arah belakang punggungnya.
"Apa sih Sakura ? kau tidak tau hari ini aku sedang kesal!"
"Ssst.. lihat belakang, Ino" bisik Sakura sambil tetap menunjuk kearah belakang.
Sontak Ino yang penasaran pun langsung menolehkan kepalanya dengan santai.
'Ohh Tidak, jangan lagi!' gumam Ino sambil menepuk dahinya. Dia membuat dirinya malu untuk ke dua kalinya.
"Kau mau membunuhku Yamanaka-san ? sebelum itu lakukan dulu tugas mu!" suara baritone itu yang terdengar menindas.
"Sabaku-sama ? bukankah anda tadi bilang akan pulang ?"
"Aku sedang menghadiri rapat Direksi tadi dan kau malah bersantai disini?" kata Gaara sambil berjalan mendekat ke arah Ino.
"Ti.. tidak Sabaku-sama. Saya hanya sedang istirahat sebentar" elak Ino memberi pembelaan apalagi dirinya yang sudah merasa terpojok.
"Kalau begitu cepat keruangan ku sekarang!" lagi-lagi perintah.
"Maaf Sabaku-sama, kenapa anda menelepon saya tadi ? Bukankan anda bisa menyuruh orang memanggil saya jika anda tidak jadi pulang ?"
"Hanya mengetes Handphone mu saja," ucap Gaara santai dan berjalan menjauhi Ino dan Sakura menuju lift.
Ino hanya mampu membuka mata dan mulut lebar-lebar. Merasa cengo dengan kelakuan jail bos barunya ini. Sepertinya dia harus kuat mental untuk menghadapi setiap derita yang akan diberikan majikannya. Tak ingin merasa lemah, dengan reflek Ino mengacungkan tangannya membentuk sebuah pistol dan beracting menembak punggung Gaara ynag belum jauh terlihat itu.
'Dorr' satu tembakan suara Ino yang tak akan terdengar oleh Gaara. ' Lihat saja kau Panda-baka! Kau akan benar-benar menyerah' gumam Ino dengan senyuman penuh dibibirnya.
Ino berbalik ke arah Sakura yang sedari tadi melihat adegan konyolnya."Aku menyesal Sakura tak mendengarkan mu untuk pesan makanan dulu, mungkin aku akan segera mati kelaparan."
"Ha.. Kau ini dasar. Cepat makan roti ini! Dan segera lakukan hukumanmu diruang Sabaku-sama," kata Sakura memberi roti lapis miliknya yang belum sempat dimakan.
"Thankyou Sakura, bye." Ino melambaikan tangannya kearah Sakura sambil memajukan bibir bawahnya. Bukan karena Ino sedang sariawan, tapi karena ia sedih harus melakukan episode tantangan uji nyali berikutnya dan Ino tak tau siksaan apa yang Gaara berikan padanya nanti.
Sungguh tidak ada yang bisa menduga masa depan bukan ?
-TBC-
Maafkan sayaaa jika kelanjutan Fict ini jauh dari kata kesempurnaan. Gomenn…:(
Dan maafkan jika Fict ini terlalu banyak bergelimpangan typos, abal, alay dan bahasa-bahasa alien yang aneh.
Saya terus belajar dan berusaha karena saya memang tidak ditakdirkan untuk menjadi penulis ( Ini saja bikin cerita hanya dalam 1 hari ditempat kerja, makanya mungkin tidak ada koreksi ). Maklum juga waktu saya sekolah nilai pelajaran Bahasa Indonesia saya jelekk-lek ( keseringan bolos ), makanya tidak bisa mencari pemilihan diksi dan tanda baca yang benar, hehehe… J
Sekian dulu dari saya, jika ada yang tidak berkenan akan cerita ini.. monggo di review saja ya.. Bye-bye.
Love you All 3
