Tutu chan datang lagi dengan fic yang pasti aneh, alay , jadul , jelek dan typo.
maaf sebelumnya, apabila kurang menarik. tolong bantu saya agar bisa menulis yang bagus
warning!
straight jadi yaoi
rate M
pairing : sasukenaruto, sasuke x ...?, sakura sasuke, narutosasuke.
disclaim : masashi kishimotmot :D #PLak
OOC, IC, YAOI
ada lemon dan rape. belum di chap depan :D
chapter 2
Entah darimana aku berasal, tidakpun satu dari mereka mau menceritakannya padaku.
Misteri, masalalu, siapa, mengapa, dimana, kasih sayang.
Ayah, ibu, masa kecil, penyiksaan, ketakutan, kedinginan dan luka-luka lain yang terletak jauh direlung hatiku yang dalam dan terkunci rapat. Aku kembali menggelengkan kepala, lalu menitihkan air mataku. Hingga suara dayang terdengar menyeruak telingaku. "nona, sudah saatnya latihan menari balet, saya akan menyiapkan peralatan untuk anda dengan sebaik mungkin." Kata seorang dayang (maid berdedikasi tinggi ala kerajaan). Aku diam dan tidak menanggapinya, mencoba melengos dari pendengaranku sendiri
Hanya mendengak menjatuhkan kepalaku yang bersandar pada lemari besar berwarna coklat klasik.
Sejenak, terbangun dan tersenyum melihat sebuah goresan pada telapak tangan kiriku, lalu menutupinya dengan sumpalan kapas dan berdiri dari pojokan menuju pada sebuah kaca besar yang terdapat pada sisi kanan dari kamarku.
Aku memandangi tubuh mungilku yang telanjang tanpa mengenakan sebuah sutra, kimono, yukata ataupun gaun satin. Aku memegangi leherku dan pinggangku yang terasa sakit siksaan yang dibuat bibi Sizune kepadaku, atas korset yang ia paksa kenakan padaku. Sebuah korset, yang digunakan para bangsawan wanita semenjak dahulu kala, banyak yang mengatakan, apabila menggunakan korset, mereka mempunyai harga diri. Padahal, apakah kau tau? bagaimana rasanya, apabila tubuhmu dililit dan ti ikat sebuah tali tambang secara erat. Ya, sangat menyakitkan. Dan itulah yang terjadi pada hidupku selama ini, tidak peduli aku menolak atau menangis histeris, peraturan tetap peraturan. Terkadang bibi Rin dan paman Hatakelah yang menolongku dari penindasan ini, mereka yang melepaskan kaitan pada korset sialan ini.
Aku keluar kamar dan disambut para maid yang sudah menyiapkan perlengkapanku untuk menari balet yang sangat membosankan.
Dengan sigap, para maid, maksudku dayang terpelajar, memakaikan aku sebuah dress berwarna pink dengan sarung tangan sepanjang siku yang berwarna dengan koper kecil berisi tutu dan perlengkapan latihan. "anda terlihat begitu cantik, Puteri." Sapa Gaara, seorang laki-laki yang manis, ia adalah pengelola istana kediamanku.
"arigatou, Gaara kun." Jawabku sangat datar.
"Putri, mobil sudah disiapkan,dan berhati-hatilah dijalan. Kami berdoa untuk keselamatanmu." Serempak para dayang .
Aku perlahan-lahan berjalan keluar dari kediamanku dengan didampingi tga dayang dan empat bodyguard wanita yang berasal dari kuil, tentu saja sangat ahli karate dan selayaknya para pekerja kantoran yang serba hitam, dengan menggunakan kacamata dan earphone di telinga kanannya. Mengagumkan bukan?
Naruto pov
Saat berjalan menuju tempat yang penuh dengan keramainan dan selalu diliputi rasa bahagia, tawa dan semangat.
Dalam jejak kakiku,setiap langkahku. Entah mengapa semua terasa mudah dan sangat membuatku terus ingin melangkah pada level kehidupan selanjutnya. Rintangan bukan halangan, right?
Kebiasanku terhadap ceriaku memanglah sangat istimewa,k eluargaku dengan keceriaan dan selayaknya keluarga utuh seperti biasanya, saling bantu membantu dan selalu menampilkan apa adanya, mereka adalah seorang bangsawan di negara Konoha ini. "wah, aku suka seperti ini, ramai dan menyenangkan." Ya,setiap ku berjalan, dengan sorot pandang yang sebisa mungkin tidak menyakiti siapapun yang ada di sekitarku.
Pada usiaku kali ini yang baru menginjak 16 tahun, yang memimpikan bisa menggapai cinta pertamaku, itu memang entah siapa orangnya, tetapi, cinta bagiku memang sangat penting dan nomer satu.
Aku terus memandangi jam pada tanganku,dan mulai berlari, karena aku takut bila pulang telat, akan ber akibat dimarahi oleh Deidara. Ya, ia adalah anikiku, yang ber usia 4 tahun di atasku.
Karena, orang tuaku kini sedang ada dinas diluar kota, jadi aku hanya tinggal bersama aniki saja.
Aku terus berjalan menuju katana street,dimana rumahku terletak pada utama jalan itu.
*BRUG*
"ah." Seorang wanita, ber rambut pink pendek sebahu dengan mata green terjatuh karena tertabrak olehku.
"Wah, maaf, maaf, apa kau tidak apa-apa?" sambil aku mengambil payungnya yang senada dengan warna rambutnya. "perhatikan pandanganmu kalo berjalan." Wanita itu tampak kesal,karena bajunya kotor dan basah olehku.
Terlihat, ia nampak cantik, dengan wajah marahnya itu. Tak terasa dengan cepat, ia lari dariku dengan sangat tergopoh dan tidak elegan. Sesaat aku akan menapakkan kakiku, aku melihat ada sebuah sapu tangan pink, tadinya sih, mau aku biarkan saja.
Entah mengapa, aku tiba-tiba memungutnya. Tertera coretan tinta pada saputangan cantik itu.
Lady H. sakura.
"Wah,nama gadis tadi adalah sakura. Indahnya seperti bunga sakura." Pipi naruto memerah
Aku berjalan lagi menuju rumahku,dengan menggenggam erat saputangan milik Sakura yang tadi terjatuh.
Semoga, aku bisa bertemu lagi dengan gadis itu.
Dalam hatiku terus berkata sesaat sesudah masuk ke dalam memarahiku dengan gaya manjanya sangat tidak peduli apa lagi berdebad dengannya,mendengar ocehannya saja tidak. Sejenak, ku tutup pintu kamarku, dan aku melempar diriku pada kasur king size, dengan cover bad berwarna orange.
"H. sakura, namanya indah." Aku terus saja menyebut namanya dan berharap bisa bertemu kembali dengan sesosok wanita itu, hingga tak sadar, aku terlelap dalam tidurku hingga membuat aniki takjub padaku.
-Well, aku yang berskap aneh pada hari ini, yang tidak seperti Naruto yang biasanya.
Sasuke pov
Takut dan bersalah. Itulah sisi lain dariku yang kelam.
Menjadikanku sesosok arogan dengan segala ke egoisan sangat tinggi. Mungkin tidak layak di panggil manusia, diriku sendiri sampai menghakimi seperti ini, apa lagi orang lain.
Kesalahan terbesar yang membuat semua anggota keluargak, kakek dan beberapa kakakku yang lain dalam sebuah kebakaran besar yang bermula dari korek api kuno, sebuah kunai dan kodacihi dari kerajaan yang berada di negeri yang entah dimana. Ku temukan benda laknat itu di samping tempat sembahyang mendiang nenek buyutku. Aku memaksa anikiku yang bernama Itachi untuk menceritakan asalmula benda ini, dan juga mengapa berada dekat disisi tempat abu milik nenek. Pasti hal bersejarah dan memiliki cerita.
Rasa ingin tahuku yang mendorong api itu melahap habis setengah bangunan dari Uchiha Mansion.
Rasa kecewa pada aniki, karena tidak mau menceritakan apapun yang berkaitan dengan ini, malah dia bicara yang membuatku penasaran. "Itu, untukmu Sasuke, masa depanmu ada disitu."
Aku hanya menggaruki rambutku, sewaktu dulu usiaku masih 8 tahun. Aku kembali berlari menuju tempat sakral itu tadi, dengan menyalakan korek api itu dengan paksa dan,membakar sebuah kertas di samping abu nenek. Disadari, aku menemukan benda berkilau mengkilat, itu adalah sebuah kodachi. Tak sengaja, kunai disebelahnya ikut jatuh, hampir saja mengenai tubuhku. Untung aku bisa menghindar. Tapi, aku menyenggol lilin-lilin disitu dan menjadikannya kebakaran yang sangat hebat dibuat olehku. Hampir Semuanya musnah.
Kematian kakek dan kakak-kakakku yang lain, menimbulkan rasa benci ayah dan ibu padaku. "Pergilah kau persetan!" ayah selalu membentakku seperti itu, bila ia sedang berdekatan denganku
Terlihat sekali, aku hanya dikucilkan tanpa adanya rasa kasih dan sayang untuk anak yang belum mengerti apapun kala itu.
Seandainya aku mengerti,aku yang akan mengganti nyawa mereka semua.
Mereka yang aku miliki dan aku sayangi, meninggalkan aku dengan cara seperti ini. tidak lah dibayangkan, bagaimana mereka merasakan terbakar?
Panas dan panas .. bagaimana menyesalnya ayah dan ibu melahirkan seorang anak yang menjadi penyebab kematian semuanya. Keluargaku menyebutku pembawa sial dan pembawa malapetaka.
Luka ini selalu terngiang dalam pikiran kecilku hingga sekarang.
Mereka masih dalam ingatanku dan membayangiku bagaimana rasa sakit yang mereka rasakan.
"Sasuke,panas sekali. Tolonglah aku."
"Dasar, kau biadab!"
"Sasuke,sakit. Panas sekali disini, Keluarkan aku!"
"Aku sangat menyesal sekali, mempunyai keturunan sepertimu,sasuke!"
"Aku tidak bisa bernafas,tolong aku. Sakit sekali, tubuhku terbakar!"
"Tolong aku!"
"hentikan ahh, hentiakan. Hentikan itu!" aku terbangun dengan paksa dari tidurku, lagi-lagi aku bermimpi tentang kakak dan kakek
Seketika mataku memerah dengan keringat yang mengucur deras pada wajah dan tubuhku. Aku membelalakkan mata dan terus berusaha menyakinkan diri bahwa ini hanya halusinasi efek dari insomnia dan Enosimania yang aku miliki sejak dulu kecil. Kini, di usiaku yang baru beranjak 16 tahun ini aku bisa merasakan betapa berat tekanan dari semua kenangan-kenangan menyakitkan dan memilukan, membayangi dan menakuti diriku sejak dulu. Setiap saat dan setiap waktu.
*TOK ..TOK..TOK*
Terasa pintu kamarku diketuk oleh seseorang. Kepalaku masih sangat pening dan berat untuk di angkat.
"Sasuke, apa kau tidak apa-apa?" terdengar suara anikiku. Satu-satunya oarang yang masih menganggapku sebagai bagian dari Uchiha. Kakak yang sangat menyayangiku dan mengasihiku selayaknya ayah dan ibu yang sudah tidak mau menganggapku ada. Aku hanya duduk diam dan mengeap kerinagat.
Aku berjalan menuju ke dalam kamar mandi, menatap diriku yang kacau di depan kaca. Aku membuka kran air pada wastafel biru pada kamar mencuci mukaku dengan perlahan-lahan. Memandangi setiap detil pada wajahku yang pucat dan mata yang melambangkan seorang insomnia. Ku nyalakan kran air hangat pada bath up, langsung ku berendam, dengan sedikit lega pada perasaan masa laluku yang sangat menakutiku dan mengejarku.
Menapaki kenyataan sekarang, dan bukan mimpi yang menakutkan. Ku rendamkan tubuhku yang kaku ini, merasakan sentuhan hangat selayaknya ibu sedang memelukku dulu, sebelum peristiwa itu.
Kasih sayang yang tidak pernah aku miliki lagi, untuk selama hidupku. "Aku, sayang ibu dan ayah." Kembali ku benamkan kepalaku pada air hangat.
"Hosh.. hosh,uhuk uhuk, percumah Sasuke." Aku menggerutu sendiri.
Sambil menikmati,air hangat dan perasaan yang damai untuk kali ini.
*zzz ... zzzz .. zzzz* Terdengar getar handphone Sasuke.
"Halo, Sasuke uchiha disini" suara datar.
"Cepatlah bergegas, Sasuke, pesawat akan berangkat dua jam lagi."
"hn."
-Well, karena pada hari ini, aku harus meninggalkan Chicago, Illinois. menuju ke Negara konoha. Karena, ayah dan ibu menyekolahkan aniki di universitas kedokteran di sunagakure, aku hanya bisa hidup dengan aniki, karena aku juga telah lulus junior school di Ursulla. aku memutuskan untuk melanjutkan seklolah ke jenjang berikutnya. Dengan terpaksa, aku ikut untuk untuk pindah ke negeri yang belum pernah aku jajaki sebelumnya.
Sebenarnya sih, bangsawan Uchiha berasal dari Konoha, tapi karena menurut sejarahnya, pada perang dunia dua dimulai, klan Uchiha di ungsikan sementara disini, agar tidak hilang atau punah.
Setelah, semuanya selesai, aku bersama aniki, ayah dan ibu menuju uchiha airpot di Chicago, untuk melakukan perjalanan pulang kampung halaman.
Hinata pov
"Aku berharap padamu tuhan, semoga semuanya lancar dan layak seperti biasanya amin. Untuk diriku, dan orang-orang yang menyayangiku. Semoga." Sebelum tidur ia tak lupa berdoa pada tuhannya dengan khusu.
Aku berjalan menuju meja riasku. Sejenak memandangi wajahku yang sangat lelah untuk hari ini. sesegera mungkin aku melepas kepangan pada rambutku yang panjang kira-kira sepunggung.
Menyisiri rambutku dengan perlahan-lahan dengan nafasku yang terlihat parau, Dan menyibakannya setelah selesai menyisir.
"Hinata, kini dirimu sudah lulus dari Junior School." Aku mengoceh sendiri sambil menarik baju tidurku yang berwarna hitam menuju ke tampat tidur yang berkelambu putih suci.
Aku memegangi boneka teddy coklat dan menciumnya. "Tidaklah, kau tau teddy? Dua hari lagi, Hinata kecilmu akan merambah dunia remaja. Aku takut teddy, aku sungguh takut." Hinata memandangi tedy kesayangannya itu.
Dan akhirnya, ia matikan lampu dan menarik selimut tebalnya, tak lupa dengan erat,ia memeluk satu-satunya boneka yang ia miliki.
Sakura pov
Duduk selayaknya seorang putri yang terhormat dengan dagu yang menjulang ke atas dan badan tegak. "Lady sakura, sehrusnya anda tidur, sebentar lagi anda akan masuk sekolah baru."
"Ya,aku mengerti. Lee, apa kau tau dimana saputanganku?"
"Apa? Aa-aku tidak"
"Aduh, kamu gimana sih Lee, kan aku bilang. Saputanganku tuh,pemberian dari mantan kekasihku tau." Sakura yang terlihat kesal, masuk kembali dalam rumahnya yang ber cat pink itu.
"Nona, Maafkan saya, saya benar-benar tidak tau." Lee bingung sendiri menghadapi nonanya itu.
"Ih,pokoknya harus katemu ,kalo enggak awas loh." Sakura menunjuk wajah lee. Dan berhasil membuatnya merah terpaku oleh ladynya itu.
Sakura terlihat duduk di pinggiran kolam renangnya yang indah,memandangi langit sehabis hujan tadi.
"huh, beginilah kehidupan bangsawan yang kesepian sepertiku." Sakura mendengus. Dan memutuskan untuk pergi ke dalam kamarnya dan tidur.
Normal pov
Pada keesokan harinya, tibalah hari pertama masuk sekolah, pada sekolah yang bernama Konohagakure itu, sekolah yang mempunyai integritas tinggi dan prestasi yang sungguh membanggakan bagi negara ini. Para alumni-alumni dari Konohagakure biasanya, diminta untuk bersekolah dengan beasiswa tinggi, banyak penawaran yang dilakukan seperti dari universitas terkemuka Amerika yang bernama Harvard University dan banyak Universitas yang lainnya. Terlihat, banyak sekali calon siswa pada sekolah menengah atas, atau bisa disebut SMA. kebanyakan memang anak-anak dari pejabat daerah, dan anak-anak pintar yang mendapatkan beasiswa langsung, untuk bersekolah disini.
Setelah, semuanya calon peserta mos berkumpul dan berbaris pada tempatnya masing-masing, tibalah kepala sekolah untuk berpidato, dan menjelaskan bagaimana dan apa saja peraturan-peraturan yang harus dilakukan didalam sekolah ini. setelah kepala sekolah berpidato, sekarang giliran ketua osis, yang bermana Kiba, yang melanjutkan berpidato, menerangkan tentang kegiatan mos, yang harus dilakukan sebelum menjadi siswa Konohagakure school. Tetapi, terlihatlah seorang guru wanita, ia berlari mendekati kiba yang sedang menerangkan, apa saja yang harus dipersiapkan peserta mos. Kiba mundur dari altar, dan kepala sekolah maju lagi. entah apa yang terjadi disitu, terlihatlah para calon murid terbingung-bingung melihat keanehan itu, dan mulai menggerenyam satu sama lain. Begitu pula dengan Naruto, Sasuke dan Sakura.
chapter 2 selesai.
apa yang terjadi sebenarnya? dan, apakah naruto bakal menemui gadisnya itu?
ada hubungan apa, antara dua kodachi itu?
dan siapakah puteri?
tunggu kelanjutannya..
review pleasee! :D
sankyu
REviewers :
cuchan clyn : hehehee, wah, saya jadi nggak enak nih , soalnya saya anak baru #plak plak wkwkwkw
yap .. anda betul ,, diantara dua itu .. tapi ,, siapa yaa? hehehehe .. tunggu kelanjutannya. ia tenang aja, ini fic bakal panjang kok , saya juga lagi bingung mau gimana lanjutnya. tapi tenang saja, saya update kok :D,, hehehehe .. hehehe .. semoga itu tidak terjadi pada kta aminn # sok ceramah wkwkw.. hehehe .. biar ooc gimana gityuu .. hihihihi..
saya malah senang ada yang suka .. dukung saya ia :D .. jangan lupa ripiunya.. sankyuu
just ryu : heheheheh .. siapa yaa :D wkkwkw .. hihihihi .. nantikan lanjutannya , ini sudah chap 2 .. pasti tau deh :D.. jelas dong naru sasu.. mereka kan cinta abadi, walaupun awalnya straight dulu .. snkyu .. jangan lupa ripiu lagi :D
orange naru : waaaaaaaah .. terimakasih sangat banyak ya naru :D .. terimakasih atas masukkannya , saya senang sekali .. sip , konfliknya agak beda dari biasanya .. jangan lupa riview yaa :D
arisa : ada hinata, sakura .dukung saya terus ya,, saya minta maaf ficnya masih jelek :D
akirra : waaaaaaaah .. terimakasih sangat yaa .. please dukung saya :D ya cill :*
