Tittle :
Secret of My Heart
Cast :
Byun Baek Hyun, Park Chan Yeol, And Other
Genre :
Romance, Friendship, Hurt/comfort
Recomended Song:
Secret of My Heart - Kuraki Mai
Author:
Me & Dobi
ChanBaek, Don't Like Don't Read
Kata-kata apa yang tepat sebelum aku dapat memberitahumu?
Tak terhitung musim telah berlalu sejak saat itu
Tapi kau selalu tersenyum di sisiku
Namun, masih ada satu hal lagi yang bahkan aku tidak bisa mengatakannya
Angin dingin menerpa wajah tampan pemuda bermarga Park itu. Ia masih berlomba dengan waktu, memutari kompleks apartemen yang mulai sepi karena hari beranjak malam. Jalanan hanya dilalui beberapa orang yang berlalu lalang. Ia berlari hingga menuju kompleks perumahan elit yang berada tak jauh dari sana. Dengan memakai jaket denim warna biru, kaos hitam, dan topi yang menutupi penampilannya ia yakin takkan ada yang mengenali bahwa dia adalah Park Chan Yeol.
"Kemana dia?"
Chan Yeol memilih jalan memutar agar lebih cepat dan tidak berpapasan dengan para fans anarkis tadi. Sungguh, pemuda jangkung itu tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Baek Hyun. Meski mereka tengah bertengkar, tapi rasa cemas cukup membuat Chan Yeol tak bisa tenang sebelum menemukan teman sekamarnya itu.
Chan Yeol sudah mencium gelagat tidak baik ketika melihat yeoja-yeoja itu datang, berjalan ke arah Baek Hyun, lalu mulai mengejar dan meneriakinya. Mereka tidak tahu sopan santun.
Chan Yeol kini melewati sebuah gang sempit. Matanya menatap sekeliling mencari sosok yang ia cari sejak tadi. Seperti mendapat bonus, mata bulatnya langsung berbinar.
Baek Hyun dari arah berlawanan berlari ke arahnya. Namun,sepertinya Baek Hyun tak menyadari jika di sana ada Chan Yeol.
"Ah fans itu lagi~" gumam Chan Yeol geram.
Tangannya terkepal penuh amarah. Dengan cepat ia menarik lengan Baek Hyun tanpa menunggu respon dari pemuda mungil yang terkejut itu. Mereka masuk ke sebuah celah rumah yang sempit, tempat yang pas untuk bersembunyi. Chan Yeol mendekap Baek Hyun sangat erat. Ia tidak mau yeoja-yeoja anarkis itu mengetahui keberadaan Baek Hyun.
Ketika yeoja-yeoja itu mulai lewat, Chan Yeol tampak waspada dan Baek Hyun yang menyembunyikan wajahnya di dada Chan Yeol langsung menahan nafas. Aura ketegangan menyertai mereka. Mati saja jika yeoja-yeoja gila itu berhasil menemukan tempat ini
~XXX~
"Kemana dia?"tanya seorang yeoja berkuncir dua masih dengan seragam sekolah dan tas ransel lengkap.
Gadis dengan rambut hitam digerai yang berdiri di sampingnya tampak menggeleng.
"Mungkin ke arah sana," tunjuk yeoja lain menuju lurus ke depan. Ia tadi melihat Baek Hyun berlari lurus ke sana. Ia masih merasa sakit hati dengan berita-berita yang beredar.
"Ayo! Kita harus memberi Oppa kita itu pelajaran." Perintah gadis berkuncir kuda yang tampak menyeringai. Akhirnya mereka kembali berlari diiringi anggukan dari yeoja yang lain. Mereka benar-benar berniat memburu Baek Hyun. Sungguh, ekspresi mereka seperti orang gila saja. Beruntungnya, yeoja-yeoja itu benar-benar tidak menyadari ada dua makhluk yang sedang bersembunyi di sudut celah gelap, tepat di sisi kiri mereka. Bodoh.
~XXX~
Setelah kepergian para yeoja itu –yang bisa didengar dari langkah kaki yang menjauh– Chan Yeol segera melonggarkan dekapannya. Ada sedikit rasa aman karena berhasil melindungi Baek Hyun.
Baek Hyun mendongakkan wajah menatap siapa penyelamatnya itu.
"Dobi?"
Mulut mungil Baek Hyun terbuka. Ia terkejut. Bagaimana bisa Chan Yeol berada di sini? Baek Hyun sangat heran dengan kejutan yang hadir di depan matanya. Terlebih nafas Baek Hyun masih belum teratur akibat maraton dengan gadis-gadis itu, jadi ia masih terengah-engah sehingga matanya terkesan melotot tidak santai.
"Iya, aku. Kenapa?" Chan Yeol menatap aneh.
"Bukankah kau bilang akan dating dengan Nana?" Baek Hyun menyipitkan mata.
Chan Yeol tak mempedulikan pertanyaan Baek Hyun, geram juga melihat anak ini terlalu polos atau malah bodoh. Bisa-bisanya membahayakan diri sendiri di saat kondisi sedang gawat.
"Jika kau ingin pergi, pakailah penyamaran, hyung!"
"Maaf..aku lupa..." Baek Hyun tampak menyesal. Benar juga, ia merasa bersalah membawa mereka dalam situasi kejar-kejaran ini.
Chan Yeol terkesiap, namun ia masih menyadari, ada beberapa yeoja yang berkeliaran di luar sana. Lagi-lagi Chan Yeol menarik Baek Hyun ke dalam dekapan hangatnya tanpa aba-aba, membuat pria mungil itu terkejut bukan main.
Baek Hyun hanya bisa pasrah, dan entah kenapa ia merasa oksigen di sini semakin menipis, ia sesak nafas secara mendadak. Namun yang mengherankan, saat ini ia dapat merasakan debaran. Entahlah, debaran siapa ini ia masih belum pasti.
Chan Yeol kemudian sedikit merenggangkan pelukan setelah yakin di luar sana tidak ada siapa pun. Pemuda tampan itu menatap Baek Hyun yang kini berusaha menghirup oksigen lebih banyak. Baek Hyun tampak lucu dengan wajah seperti itu. Bibirnya terlihat benar-benar seksi. Oh, apa yang kau pikirkan Park Chan Yeol?
Baek Hyun kini kembali menyipitkan mata ke arah Chan Yeol. Ia masih menyimpan sedikit amarah dan pertanyaan.
"Bagaimana datingmu dengan Nana!?" pertanyaan yang sama, lebih tegas dari Baek Hyun.
"Nana? Hmm.." Chan Yeol menyandarkan tubuh jangkungnya ke tembok. Ia tidak suka jika harus membahas topik seperti ini. "Hah~ aku tidak tega."
Baek Hyun mengerutkan alis. Ia tidak paham maksud Chan Yeol. Pria mungil ini mengambil jarak dari si happy virus sambil menunggu jawaban. Terlalu sering berdekatan dengan Chan Yeol seperti ini entah mengapa rasanya tidak sehat. Tidak lucu kan jika Baek Hyun tiba-tiba kena asma hanya gara-gara menempel dengan Chan Yeol? Bahkan sebelumnya tak sekalipun riwayat hidup Baek Hyun menderita penyakit itu.
"Kenapa hem?"
"Aku akan memperburuk keadaan ini dan fans akan berfikir aku membalas perbuatanmu." Chan Yeol menatap Baek Hyun, namun ia segera mengalihkannya ke arah lain. Ke jalanan kota Seoul yang lengang.
"Padahal kalian kan dekat, bisa saja kalian berjodoh. Daripada kau terlihat patah hati karenaku/?" Baek Hyun mencoba melemparkan candaan untuk menggoda Chan Yeol, mencairkan suasana tegang yang masih tersisa tidak masalah bukan?
Chan Yeol menghela nafas panjang. Bukan itu yang ia harapkan. "Ya ya.. terserah katamu itu, hyung." Ia memutar bola mata, jengah.
Baek Hyun hendak membalas kata-kata Chan Yeol namun mulutnya tiba-tiba dibekap lagi oleh pemuda jangkung itu.
"Stt..." Chan Yeol berbisik agar Baek Hyun diam. Pemuda jangkung itu mungkin mendengar langkah mendekat. Namun, ia tidak tahu siapa, dan saat seperti ini seharusnya mereka dalam posisi waspada kapan pun juga, bukan?
Chan Yeol terlihat mengawasi ke celah itu, siluet mulai terlihat. Benar saja ada yang berjalan ke arah mereka. Makin mendekat, sangat dekat bahkan langkahnya memelan tepat di celah mereka berdua. Tak lama seorang pria dengan tas kerja dan kacamata yang bertengger di hidungnya berhenti.
SETTT
Ia menengok sesaat ke samping, melihat dua makhluk yang berdiri kaku di sudut gelap itu. Chan Yeol mengerjap dengan mata besarnya, sedangkan Baek Hyun masih terbekap dalam dekapan Chan Yeol. Posisi yang intim sekali.
"Ah anak muda jaman sekarang, suka sekali gelap-gelapan dan tempat sempit." Ia pun berlalu tanpa mempedulikan ChanBaek yang tampak bengong.
Setidaknya Chan Yeol dapat bernafas lega sekarang. Bukan yeoja-yeoja gila itu yang lewat.
"Hmmphhh!" Sebuah gumaman terlontar dari balik bekapan mulut Baek Hyun meminta Chan Yeol melepaskannya. Pemuda mungil itu mengerjap kesal karena bekapan itu cukup kuat. Lantas Baek Hyun segera menggigit tangan Chan Yeol –yang masih terlihat bersyukur– saking kesalnya. Tidak sopan!
KRAUK!
"Aww..." rintih Chan Yeol langsung melepaskan bekapannya, lalu mengibas-kibaskan tangannya yang menjadi korban. Salah siapa dia menyiksa Baek Hyun begitu lama.
"Kenapa kau seenaknya!?" teriak Baek Hyun. Ia melotot meminta penjelasan pada Chan Yeol. Ia tidak suka dengan perlakuan Chan Yeol yang tanpa komando, membuatnya seperti idiot saja di sini.
"Aish hyung! Pelankan suaramu atau aku akan menciummu!" Chan Yeol mengancam dengan melemparkan deathglare pada Baek Hyun, namun disambut cibiran dari pria mungil itu.
"Huh! Cium saja kalau berani!" Baek Hyun memberikan tatapan mengejek lalu menjulurkan lidahnya khas anak kecil. Di mata Chan Yeol itu terlihat imut.
Chan Yeol membalas cibiran Baek Hyun sengit, tapi pria mungil itu hanya bisa mendengus kesal..
"Aish.. Kalau sekumpulan yeoja itu kembali bagaimana?" Chan Yeol yang masih waswas memilih untuk mengintip keadaan sekitar. Ia melemparkan tatapan ke kanan kiri gang itu.
"Kita bisa main kejar-kejaran lagi. Itu kan seru," sahut Baek Hyun ketus. Baek Hyun yang penasaran ikut mengintip keluar.
"Sepertinya sudah aman...!" Pemuda mungil itu keluar dari persembunyian tanpa memperhitungkan perbuatannya. Ternyata memang sudah tak ada seorang pun. Namja mungil itu segera melangkahkan kaki santai.
Chan Yeol mengikuti Baek Hyun keluar dari persembunyian. Benar, keadaan sudah sepi. "Ya! Bagaimana jika mereka melempari telur? Itu akan parah hyung aish..!" Pemuda jangkung itu mengacak rambut Baek Hyun gemas. Hyungnya ini terlalu santai saat menghadapi sesuatu. Ia selalu bisa menyembunyikan semuanya sendiri tanpa kekhawatiran.
"Setidaknya itu lebih baik daripada aku dilempari pisau," jawab Baek Hyun asal. "Ah rambutku, Dobi!" Baek Hyun mencoba merapikan rambutnya yang tiba-tiba berantakan akibat ulah raksasa di sisinya ini.
"Itu tidak mungkin!" Chan Yeol menyela.
"Siapa tahu..." gumam Baek Hyun pada diri sendiri.
Chan Yeol berinisiatif mengejar Baek Hyun dan berjalan di sampingnya. Keheningan menyelimuti langkah mereka. Alih-alih terperangkap dalam kecanggungan yang tidak enak ini, Chan Yeol mencoba membandingkan tinggi badannya dengan Baek Hyun. Ia mulai iseng.
"Kau pendek sekali hyung hahaha.." ledeknya sambil tergelak.
"Jangan mengejekku, mentang-mentang kau tinggi!" Baek Hyun mendengus kesal, ia berjalan lebih cepat. "Kalau kau mau kembali ke dorm kembalilah, aku ingin menenangkan pikiran dengan secangkir kopi."
Chan Yeol tidak suka kopi, 'kan? Baek Hyun berharap pemuda itu pulang dan tak mengusiknya lagi saat ini. Baek Hyun perlu menenangkan diri untuk sejenak.
"Aku ikut. Kau itu kecil hyung jadi harus dilindungi hahaha!" Tanpa diduga respon Chan Yeol membuat Baek Hyun membulatkan mata. Terlebih ketika pemuda itu merangkul pundaknya akrab. Benar-benar seenaknya.
"Jangan bicarakan tinggi badan lagi!" Baek Hyun terlihat kesal.
Mereka berdua lalu segera berjalan masuk ke sebuah cafe dengan ocehan Chan Yeol yang mengatakan pendek sambil tertawa dan deathglare dari Baek Hyun yang cukup kesal. Chan Yeol terus mengekori Baek Hyun mencari tempat terbaik untuk duduk. Ia akhirnya menghentikan langkahnya di meja nomor 9 yang berada di dekat jendela. Chan Yeol duduk tepat di depan Baek Hyun.
Baek Hyun masih terlihat sewot karena cibiran Chan Yeol. Chan Yeol juga masih asyik tergelak karenanya. Namun, pria mungil itu segera mengangkat tangannya memberi kode pada pelayan. Tidak perlu melihat buku menu lagi, cafe Pandora ini merupakan cafe langganan Baek Hyun.
"Baek Hyun-ah!"
Bahkan pelayan di cafe ini pun memanggil Baek Hyun akrab tanpa embel-embel. Apakah mereka dekat?
"Hai..." Baek Hyun mengulum senyum ke arah gadis itu. Chan Yeol mencuri pandang, sedikit mengerutkan alis.
"Apakah kau baik-baik saja? Aku membaca beritanya dan itu tidak terlihat baik, Baek." Gadis itu melempar tatapan prihatin.
"Seperti yang kau lihat." Baek Hyun mencoba tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa, padahal di luar sungguh semua terlihat kacau.
"Baiklah."Gadis bername tag Kim Nam Joo itu mulai menjalankan tugasnya setelah berbasa-basi dengan Baek Hyun. "Mau pesan apa?"
"Moccachino dan wafel ..." Gadis itu mencatatnya.
"Kau apa, Dobi?" tanya Baek Hyun, disusul dengan posisi siap Nam Joo.
"Hm?" Chan Yeol melihat ke arah pelayan itu. "Aniyo. Aku tidak pesan." Ia segera memalingkan muka ke jendela, menatap jalanan kota Seoul di waktu malam.
Baek Hyun mengerutkan alis. "Kau yakin?" Chan Yeol mengangguk.
Baek Hyun tak bisa memaksanya, toh Chan Yeol memang tidak doyan minum kopi.
"Tolong segera ya, Nam Joo." Baek Hyun tersenyum ramah. Gadis yang bernama Nam Joo itu segera mundur. Ia sepertinya ingin mengobrol sesuatu dengan Baek Hyun tapi glare dari Chan Yeol tadi tidak mengizinkannya untuk berbicara lebih. Setelah diusut ternyata pelayan cafe bernama Kim Nam Joo itu adalah teman semasa SMA Baek Hyun dan kebetulan bekerja part time di cafe ini.
"Hahhh..." Baek Hyun segera merebahkan kepalanya di meja cafe. Ia terlihat memijit-mijit pelipisnya. Pusing dan lelah luar biasa terasa di seluruh persendiannya. Insiden yang menggemparkan seluruh Korea itu tak main-main, membuat tubuh mungilnya yang rapuh harus menahan beban yang lebih berat.
"Akhiri hubunganmu dengan Tae Yeon nuna." Chan Yeol menatap Baek Hyun, sorot matanya tajam menusuk.
"Apa?" Baek Hyun menegakkan badannya, lalu menatap lurus ke arah Chan Yeol meminta penjelasan.
Di tatap seperti itu entah mengapa nyali Chan Yeol menciut. "Tidak... Err, maksudku semoga kalian um..longlast." Lantas pemuda itu tersenyum idiot, seperti biasa. Bodoh sekali kau Park Chan Yeol?
"Aku tak percaya kau berkata seperti itu. Padahal aku sedang berpikir untuk mengakhiri drama ini..." Baek Hyun melemparkan tatapan sendu. Belum sehari semua berlalu, ia sudah penuh dalam tekanan. Chan Yeol bahkan sepertinya menerima dengan senang hati? Huh, ini tidak baik.
"Kau kan mengaguminya hyung." Chan Yeol menatap Baek Hyun, ia lalu mengarahkan tangan ke pipi putih pemuda itu.
Kagum bukan berarti cinta. Dobi. Jika bukan karena demi kalian pun aku tak ingin melakukannya, ucap Baek Hyun dalam hati. "Aku lelah seperti ini..." Pemuda bermanik hazel itu terlihat berkaca-kaca. Ia menggenggam tangan Chan Yeol yang masih memegang pipinya.
"H..hyung uljima.." Chan Yeol mengusap pipi Baek Hyun. "Maaf... Bukan maksudku... Argh!" Chan Yeol terlihat mengacak rambutnya frustasi. Ia membuat Baek Hyun hampir menangis. Ini di luar yang ia harapkan.
Nam Joo terlihat datang menuju meja mereka membawa pesanan Baek Hyun. Baek Hyun buru-buru melepas tangan Chan Yeol lantas memandang ke arah lain sambil membiasakan matanya yang hampir luruh.
"Terima kasih." Terpaksa Chan Yeol yang harus mengucapkannya karena keadaan Baek Hyun yang tak memungkinkan.
Nam Joo hanya tersenyum, namun sedikit khawatir akan keadaan Baek Hyun, tapi ia memilih pamit dari tempat itu.
Chan Yeol langsung mengalihkan pandangan lagi. Ia menatap kosong ke jendela, sedangkan Baek Hyun tampak diam. Ia menyesap kopinya pelan-pelan, sambil melirik pria jangkung di depannya. Apa yang sebenarnya Chan Yeol pikirkan sekarang?
Chan Yeol sendiri tidak tahu, banyak hal berkecamuk dalam benaknya. Namun, fokusnya berubah. Matanya membulat begitu melihat fans-fans anarkis yang mengejar Baek Hyun tadi berada di luar, sedikit jauh dari cafe yang mereka singgahi ini. Namun, tak menutup kemungkinan mereka akan mampir.
Baek Hyun meletakkan kopinya dengan anggun. Ia kaget ketiga Chan Yeol menarik tengkuknya, mendekatkan wajah mereka, dan menutupi dengan buku menu dari samping.
"Ke..kenapa, Dobi?" Baek Hyun terlihat gugup. Ia menatap mata Chan Yeol dari dekat. Indah. Bersinar, dan sangat memikat. Lagi-lagi Baek Hyun mulai sesak napas oleh ulah Chan Yeol yang mendadak.
"Diamlah sebentar hyung nanti keta– Eh hyung kau kenapa?" Chan Yeol baru sadar Baek Hyun tampak bengong. Ia mencoba menepuk pipi Baek Hyun.
Baek Hyun tersadar, lantas ia mengerjap-kerjapkan matanya. Masih setengah sadar ia menatap Chan Yeol lekat. "Aku butuh oksigen..." ucapnya spontan.
"A..apa?" Chan Yeol tampak salah tingkah. Ia mengatur nafasnya yang tidak teratur. Entah setan darimana yang merasukinya, ia segera mencium bibir ranum Baek Hyun, memberikan nafas buatan.
Jantung Baek Hyun berdetak lebih kencang dari biasanya. Ia memejamkan mata. Ia sesap bibir lembut Chan Yeol. Demikian pula Chan Yeol, ia juga mulai menutup matanya, memperdalam ciuman, dan sedikit memberikan kuluman pada bibir bawah Baek Hyun. Tak disangka Baek Hyun membalas ciuman yang Chan Yeol berikan. Merasa mendapat respon, Chan Yeol meraih tangan Baek Hyun, dengan tangannya yang bebas lantas menggenggamnya erat. Baek Hyun segera meremas tangan Chan Yeol karena ciuman lembut itu membawanya melayang. Namun, Baek Hyun segera sadar. Ia melepaskan tautan mereka, wajahnya seketika memerah, sambil menunduk ia berkata, "Maaf.."
Chan Yeol terlihat mengusap bibirnya, sambil menggaruk tengkuk salah tingkah. "Um..i..iya." Saking gugupnya ia jadi tergagap. Suasana menjadi canggung, detik jam di cafe itu dan suara seduhan kopi terdengar jelas. Mesin kasir yang menghitung bon dari pelanggan pun terdengar memekakkan telinga.
"Sudah malam. Waktunya pulang..!" Baek Hyun buru-buru bangkit. Ia meninggalkan uang di meja lalu berjalan cepat keluar. Ia tak sanggup melihat Chan Yeol saat ini. Pikirannya bisa terpacu pada kejadian beberapa menit yang lalu tanpa ia duga.
"Ah, bibirnya manis." Baek Hyun menepuk-nepuk pipinya setelah keluar dari cafe. "Ahhh wajahkuuu." Ia terlihat malu saat ini, karena pipi putihnya tampak memerah seperti tomat.
Chan Yeol melihat Baek Hyun yang pergi meninggalkannya. Ia memegang bibirnya sekilas. "First kiss..." Ia lalu tersenyum-senyum sambil mengucapkan terima kasih, hampir ke seluruh pelayan cafe itu dan Nam Joo yang melihatnya membalas tersenyum. Perlu diketahui, Nam Joo itu ChanBaek shipper, jadi saat tadi mereka datang bersama ia tampak senang. Namun, saat melihat ekspresi Chan Yeol yang tidak enak dia bahkan sama sekali tidak membahas ke shipper-annya di depan ChanBaek.
Chan Yeol segera keluar dari cafe. Ia buru-buru mengejar Baek Hyun yang telah mendahuluinya.
"Cepatlah! Atau kau kutinggal!" teriak Baek Hyun.
Pemuda mungil itu terus berjalan ke dorm sambil menyembunyikan wajah dibalik tudung jaketnya. Wajahnya masih berseri merah.
"Iya..iya bawel sekali!" Chan Yeol juga tak kalah malu mengingat hal tadi. Ia langsung merangkul bahu sempit Baek Hyun. Meski suasana tampak canggung tapi Chan Yeol merasa bahagia, karena Baek Hyun membalasnya dengan melingkarkan tangan mungilnya ke pinggang pria jangkung itu.
"Hey itu Baek Hyun!" Terdengar teriakan wanita-wanita tadi.
"Dengan siapa dia?"
"Sepertinya Chan Yeol Oppa!"
O..o. Baek Hyun dan Chan Yeol tampak menatap satu sama lain. Mengapa orang-orang itu masih mengejar mereka di saat seperti ini! Apa mereka besok tidak sekolah?
"Hyung dalam hitungan ke-3 kita lari." Chan Yeol memberi Hyun mendesah frustasi kenapa harus menghitung sih? Chan Yeol terlalu lama.
"Satu..."
"TIGA!" Baek Hyun segera memacu langkahnya menarik genggaman tangan Chan Yeol. Sedangkan pria jangkung itu terlihat senang mengikuti di belakang.
Semua hal pasti akan indah pada waktunya nanti, tapi Chan Yeol masih ingin melewati saat-saat seperti ini. Bahkan berlari seperti ini bersama Baek Hyun tetap membuat hatinya gembira.
Chan Yeol mengubah posisi, ia berlari di depan dan memacu langkah besarnya menuntun Baek Hyun di belakang agar mengikuti. "Ayo kita lari bersama."
Baek Hyun hanya tersenyum kecil. Seandainya segala masalah ini dihadapi dengan Chan Yeol, semua pasti akan menjadi lebih mudah.
~XXX~
Chan Yeol memencet kode dorm dengan Baek Hyun terlelap di punggungnya. Baek Hyun kelelahan setelah berlari dari kejaran fans, dan ia hampir ambruk di tengah jalan. Chan Yeol berinisiatif menggendongnya ke dorm. Baek Hyun sempat menolak karena mereka terlihat sama-sama lelah. Namun, Chan Yeol memaksa, dan tak lama setelah itu tumbanglah si kurcaci di punggung sang raksasa.
Chan Yeol melepas sepatu miliknya dan membenarkan posisi tidur Baek Hyun. Ia melangkahkan kaki perlahan memasuki ruangan gelap itu. Lampu semua ruangan telah dimatikan, sepertinya member yang lain telah terlelap. Arloji milik Chan Yeol menunjukkan pukul 11 KST. Pantas saja suasana terlihat sepi, hari ternyata sudah larut.
Baek Hyun bersandar di punggung Chan Yeol. Wajahnya yang kelelahan tampak teduh. Pria mungil itu sesekali mengigau membisikkan es krim strawberry, jangan-jangan dia sedang bermimpi memakannya? Chan Yeol hanya tersenyum mendengar itu.
Chan Yeol melangkah pelan menuju pintu kamar mereka. Ia meletakkan tubuh ramping Baek Hyun hati-hati ke ranjangnya, melepas sepatu dan jaketnya dengan telaten, lalu menutupi tubuh Baek Hyun dengan selimut. Damai sekali tidur bocah di hadapannya ini. Bukankah wajah Baek Hyun memang terlihat seperti anak kecil?
Chan Yeol mengusap poni yang menutupi dahi pemuda itu. Ia tersenyum tatkala Baek Hyun menggumamkan namanya, "Dobi..."
Saat itulah Chan Yeol melihat ponsel Baek Hyun bergetar. Sebelumnya Chan Yeol ingin mengabaikan itu, tapi getaran yang membuatnya terusik itu akhirnya mengalihkan perhatian Chan Yeol. Ia memilih mengangkatnya.
Tae Yeon Nuna
"Baek Hyun-ah! Akhirnya kau mengangkatnya! Kau baik-baik saja, bukan? Aku mengkhawatirkanmu..." Dan bla bla bla. Entah mengapa Chan Yeol langsung lemas, ia tak ingin lagi mendengarkan ocehan merdu gadis di seberang sana. Ia menutup panggilan itu tanpa menjawabnya.
Jadi, mereka benar-benar sedekat itu? Chan Yeol sempat lupa jika Baek Hyun sekarang adalah kekasih orang lain. Ia kira dengan semua yang terjadi hari ini Baek Hyun akan bisa ia dapatkan, tapi itu tidak mungkin.
Entah mengapa Chan Yeol tetap menginginkannya, menginginkan pria mungil yang kini tertidur di hadapannya ini. Ia melupakan fakta bahwa Baek Hyun ternyata straight dan telah menjadi milik orang lain.
"Bagaimana ini, Park Chan Yeol?" Ia bergumam pada dirinya sendiri lalu mengacak rambutnya frustasi. Entah mengapa ia juga merasakan sudut hatinya berkedut nyeri. Haruskah ia menjauhi Baek Hyun?
~To Be Continued~
Akhirnya chapter dua update juga ^^
Thanks to devrina, ViviPExotic46, Lady Unicorn, dandelionleon, EXO Love EXO, bebe fujo, meliarisky7, dimasdobi, indry
Ini balasan review untuk yang belum ke PM:
~Lady Unicorn: Iya unn romantis :3 hahaha ini khayalan dibalik layar skandal byuntae, dan bukankah chanyeol lebih intens menemani baekhyun.. tenang saja unn. Romantisnya akan makin banyak lol gomawo unnie ^^
~dimasdobi: keren dong.. siapa dulu yang main :p
~Indry: nyeremin banget unn~ haha semuanya jadi rusak :v ini udah update thanks unnie
Jadi bagaimana kelanjutannya? Apakah Chan Yeol harus menyerah atau melanjutkan apa yang ia yakini untuk tetap stay di sisi Baek Hyun? Nantikan kelanjutannya di chapter depan! ._. Jangan lupa reviewnya~ Author sangat menghargai jika kalian bersedia meninggalkan jejak untuk kelanjutan FF ini ^^
