.
Pair : Konohamaru x Hanabi
Genre : Adventure, Friendship—mungkin ada Romance-nya sedikit
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Kaze no Hana 風の花 © Izumi Nairi
Rating : K
.
Kaze no Hana 風の花
Chapter 2
"Aku…" ujar Hanabi. Dia kembali menghadapkan wajahnya ke arah Tsunade. "Aku lebih setuju kalau Sarato—Konohamaru-san yang jadi taichou."
Hening.
Sampai Tsunade akhirnya angkat bicara karena tak betah dengan suasana yang canggung itu. "Baiklah kalau begitu. Sudah diputuskan, benar? Konohamaru, kau kuberi misi untuk memimpin Hanabi, Moegi, dn Udon, untuk mengawal tamu kita dari Desa Tamue sampai ke tempat tinggalnya dengan selamat. Mengerti?"
"Mengerti!" ujar mereka serempak.
"Sekarang, pergi!" perintah Tsunade. Sedetik kemudian, "Hanabi-chan, kau tetap di sini."
Hanabi yang sudah berbalik, menoleh. Tatapannya bingung. "Baiklah, Hokage-sama."
Sementara Konohamaru, Moegi, dan Udon, tetap berjalan menuju pintu. Konohamaru membiarkan kedua temannya untuk keluar dulu. Setelah itu, dia baru menutup pintu. Sebelum pintu ruang Hokage itu benar-benar tertutup, telinganya sempat menangkap sebuah suara kecil menyebut namanya.
—"—
Mata Moegi menyipit saat melihat sesosok gadis berambut panjang berlari ke arah mereka. Rambut hitamnya yang berkilau diterpa cahaya matahari pagi, sempat membuatnya iri. Tapi saat dia melihat Konohamaru, rasa irinya langsung hilang.
"Maaf, aku terlambat," kata gadis itu sembari tersenyum kecil. Dia mengusap peluh di keningnya, "Ayo, kita berangkat sekarang."
Tak perlu berbasa-basi, mereka berjalan melewati gerbang Konoha menuju Desa Tamue. Moegi dan Udon saling bercanda dengan Konohamaru. Kadang-kadang mereka bertengkar, tapi lebih sering terlihat tertawa satu sama lain. Laki-laki yang paling tua di antara mereka, menoleh ke arah Hanabi.
"Kau tak ikut bermain dengan mereka, nak?" tanyanya. "Kelihatannya mereka asyik sekali."
Mata Hanabi sama sekali tak melirik ketiga remaja yang sedang bermain itu. Konohamaru melemparkan lelucon dan disambut tawa kedua teman-temannya. Moegi tampak ingin Konohamaru bercanda lagi, tapi cucu Hokage ketiga itu malah menguap malas. Udon hanya tersenyum kecil, berada di belakang kedua temannya yang mulai ribut.
"Aku tak terlalu akrab dengan mereka," jawab Hanabi sambil tersenyum hampa. "Oh, kita belum berkenalan."
"Aku Akioto Takamura. Kalau kau?" tanya lelaki itu lagi.
"Hyuuga Hanabi," jawab gadis bermata pucat itu. Dia menatap awan yang berarak di sepanjang hamparan biru langit pagi. "Aku… sebetulnya memang tidak akrab dengan banyak orang. Kecuali dengan teman satu timku."
Takamura hanya terdiam. Dia menatap Konohamaru dan kedua temannya yang kini sedang tertawa-tawa. Sebenarnya hanya Konohamaru dan Moegi saja yang tertawa. Sedangkan Udon hanya senyam-senyum.
"Aku ada masalah dengan seorang di antara mereka," kata Hanabi lagi. Matanya menangkap sepasang burung putih melintasi langit. "Aku tahu dia sebenarnya juga merasa tidak enak sekarang."
Kakek di sebelahnya masih tak berkata apa-apa. Wajah tuanya masih mengarah ke tiga sekawan itu. Kemudian, dia menoleh ke arah Hanabi.
"Padahal, saat sebelum dia masuk ke akademi... dia cukup kenal—dekat—denganku." Matanya yang pucat menerawang langit. "Aku tak mempermasalahkannya, tapi aku merasa tak enak dengan tatapan teman-temannya."
Takamura melihat syal panjang Konohamaru tersangkut di bebatuan. Lalu matanya menangkap Moegi yang tengah menertawakannya, sementara Udon hanya menahan senyum. Hanabi yang mendengar tawa kencang milik Moegi pun kembali ke alam sadarnya. Dengan cepat dia menepuk-nepuk kedua pipinya yang mulus.
"Hehehe… maafkan aku, Takamura-jii-sama. Saat melihat langit, penyakit curhatku memang kambuh. Yah… hari ini aku bukan seperti diriku," ujarnya sambil tersenyum. Kali ini, senyumnya jauh lebih murung dari sebelumnya. "Nee-chan juga kadang-kadang begitu. Tapi dia selalu tersenyum saat bercerita."
"Aku maklum denganmu, Hanabi-chan—boleh aku memanggilmu begitu?—terkadang memang kita perlu meengutarakan apa yang kita pikirkan," kata Takamura akhirnya.
"Anda sangat baik. Tapi… kuharap anda mau menyimpan ini dari orang lain," pinta gadis Hyuuga itu.
Takamura tersenyum lembut. "Mau dengar saran dari jii-san?"
Hanabi menoleh.
"Selain perlu mengatakan apa yang dipikirkan, orang juga perlu mencoba hal-hal yang baik pada akhirnya—meskipun awalnya memang tak sebaik yang kita harap."
Gadis Hyuuga itu terdiam. Namun matanya—tak ada yang tak bisa melihat bahwa kini mata keperakan miliknya sedikit berbinar.
"Siapapun dia, dia pasti merasakan bahwa kau adalah teman yang selama ini dia harapkan kembali padanya. Jadilah seperti yang dia mau, karena jii-san yakin, kau pasti juga begitu, Hanabi-chan."
"Terima kasih banyak, jii-sa—"
"Hanabi-san," panggil Udon.
Hanabi menoleh cepat, tanpa memperhatikan bahwa remaja berkacamata itu tepat berada di depannya. Kening mereka saling berbenturan, namun untungnya tak satupun dari mereka jatuh. Gadis berambut gelap itu mengelus keningnya pelan sambil meminta maaf pada Udon.
"Tidak apa-apa, Hanabi-san," kata Udon maklum. "Oh, kau tampak asyik sekali berbincang dengan Takamura-sama."
Hanabi tersenyum kecil. "Kau bisa ikut bergabung dengan kami, Udon-san. Bagaimana dengan kedua temanmu?"
"Mereka sedang enak-enakkan bertengkar. Aku sebenarnya sudah malas melerai," desah Udon. Matanya melirik Moegi sejenak. "Suara gadis itu benar-benar keras, ya?"
"Tidak juga. Perempuan memang kadang-kadang bersuara nyaring—bukan keras," ujar Hanabi meluruskan. Dia menatap Udon. "Oh, sebelum aku datang ke ruangan Hokage, apa Tsunade-sama berkata sesuatu? Tentang misi ini, misalnya."
"Kurasa tidak ada. Dia hanya memberitahu kami bahwa nanti kita akan melewati danau dan kau yang akan menjadi pengganti Ebisu-sensei," jawab laki-laki itu. "Dan perlu beberapa hari untuk bisa sampai ke Desa Tamue, benar, kan, Takamura-sama?"
Takamura mengangguk. "Memang agak lama. Saat aku datang ke sini, perlu waktu sehari penuh untuk ke Konoha. Kalau kalian mengantarkanku, lalu kembali ke desa… mungkin dua sampai tiga hari."
"Lama sekali?" tanya Hanabi sembari mengerutkan kening. "Kupikir Desa Tamue cukup dekat."
"Memang, tapi kalau kita berjalan seperti ini, pasti akan lama," kata Takamura tertawa.
Udon ikut tertawa lebar, sedangkan sang gadis Hyuuga hanya tersenyum manis. Melihat itu, mereka berdua, Takamura dan Udon, bersyukur. Mereka yakin, Hanabi sudah tidak kelihatan semurung tadi.
"Ti-TIDAAAAAKKK!"
Hanabi, Udon, dan Takamura menoleh. Moegi sedang terduduk menghadap semak-semak. Matanya basah, tangannya menunjuk semak-semak itu dan berkata, "K-Konohamaru—"
"Apa yang kau lakukan?" teriak Hanabi detik itu juga. Bukan pada Moegi, melainkan sesosok tubuh yang berdiri di atas pohon dekat semak-semak yang ditunjuk gadis berambut oranye itu
"Maafkan aku."
.
.
Lima tahun lalu…
Brak!
Cucu Hokage saat itu berbalik. Matanya mendapati seorang gadis kecil tengah tersungkur di belakangnya. Heran, dia mendekati gadis itu dan berjongkok di depannya. Keningnya sedikit berkerut saat melihat mata gadis itu.
"Kau dari klan Hyuuga?" tanyanya.
Gadis kecil itu masih mengusap-usap keningnya. Sedikit memerah, sama seperti kornea matanya yang basah. Sedetik kemudian, air matanya bergulir. Tak ada isak, yang ada hanyalah air mata yang jatuh ke pipi kemerahannya. Di depannya, anak laki-laki yang sedari tadi menatapnya sedikit bingung.
"Kenapa menangis?" tanya anak laki-laki itu tadi. Dia memberanikan diri menyentuh kening gadis itu. Dielusnya pelan. "Tidak apa-apa. Aku juga pernah jatuh seperti itu."
Tak ada sahutan.
"Kau tidak perlu menangis… karena menangis hanya boleh dilakukan kalau mata kita sakit. Apa matamu sakit?" tanyanya polos. Wajahnya mendekati mata pucat sang perempuan kecil, lalu mengamatinya sebentar. "Merah. Tapi aku tetap melarangmu menangis!"
"Aku tidak apa-apa," kata gadis itu. matanya yang keperakan masih terus mengeluarkan air mata. "Aku minta maaf karena menabrakmu tadi."
Anak itu tersenyum lebar. "Tidak apa-apa! Aku tidak kesakitan, lihat?"
Saat melihat senyumnya, sang perempuan kecil itu juga ikut tersenyum kecil. Pipinya mulai memerah.
"Nah, begitu! Tersenyum, karena kalau tersenyum… kau terlihat sangat manis," puji lelaki itu. "Bukankah semua orang akan menyukaimu kalau kau tersenyum semanis ini?"
"Terima kasih," kata sang perempuan. Tangan mungilnya mencoba menghapus air mata yang mengalir di pipi halusnya."Aku benar-benar minta maaf."
Bocah laki-laki itu berdiri, lalu mengulurkan tangannya pada sang gadis kecil. "Sini, aku bantu!"
Anak perempuan itu menerima uluran tangan dari orang yang baru saja dikenalnya. Matanya berbinar, terlihat makin indah dalam cahaya matahari senja. Dia berhadapan dengan anak itu sebentar, lalu membungkukkan badan.
"Selamat tinggal. Sekali lagi, terima kasih banyak."
"E—"
Langit yang mulai gelap membuatnya segera meninggalkan bocah lelaki yang masih berdiri mematung di tempatnya. Tak mendengar kata-kata anak yang baru dikenalnya, dia hanya berlari. Meski demikian, ingin sekali dia bertemu dengan lelaki itu. Entah kapan.
Sementara gadis itu berlari membelakanginya, pipi bocah laki-laki itu mulai memerah. Disentuh pipinya yang gembul. Bisiknya pelan, "Pipiku panas sekali. Aku pasti sakit."
.
To be continue…
.
Author's note: Hallo (^^) saya datang lagi… maaf agak lama, tapi saya harap karakternya sudah lebih IC dari di chap sebelumnya… meskipun harus sedikit-sedikit
Saya masih belum tahu karakter Moegi dan Udon di sini… jadi kalau ada yang tahu (^^), mohon dengan sangat, ya, untuk segera memberitahukan saya, hehehe…
Saya dan chap ini masih banyak kekurangan, karena itu mohon bantuannya, serta kritik dan saran supaya bisa lebih baik dari sebelumnya… (^_^)
Arigato gozaimashu… (^^)
.
Balasan review:
narusaku20: terima kasih atas masukan sifat Konohamaru & Hanabi-nya… (^,^) saya sangat terbantu, semoga di chap ini sudah agak IC
Hwang Energy: arigato… saya sangat terbantu (^^) dan terima kasih karena sudah suka dengan fic ini, dan salam kenal juga…
.
