Chapter Sebelumnya: Pengenalan tokoh.

.

.

Chapter II: Nasi Goreng Terasi

.

.

"Daaauuun! Ayo turun!" teriak Gempa dari lantai bawah. "Nih abang dah masakkan nasi goreng terasi kesukaan kamu!"

Hening. Tak ada jawaban. Gempa melirik jam dinding sambil berkerut keningnya. Baru pukul 7 malam, mana mungkin Daun sudah tidur?

"Dauuunnnn!" teriak Gempa lagi. Tetap tak ada jawaban. Halilintar menoleh kesal dari arah dapur.

"Wei, jangan jerit-jerit!" protes Halilintar. "Daun dengar tapi tahu sendiri 'kan sejak hari "itu" dia gimana!"

Gempa menepuk dahinya—dia lupa. Kemudian dengan suara normal, ia berkata.

"Elsaaaa! Ayo turun, ada terasi nih!"

"Iyaaaa!" jawab Daun, ia segera turun dari lantai dua. Sejak tahu film "Frozen", Daun menolak dipanggil dengan namanya. Dia cuman mau dipanggil Elsa saja. Halilintar pernah teriak-teriak gaje di dapur minta bantuan Daun tapi Daun tetap keras kepala ga mau nyahut kalau dipanggil namanya. Sejak tahu itu, keduanya manggil Elsa saja bagi si Daun kalau Daun lagi kumat penyakit bendulnya itu. Sebagai abang yang baik, Halilintar dan Gempa hanya mahfum saja dengan kelakuan adiknya. Untung imut. Coba kalau enggak, sudah habis digundulin Halilintar pake goloknya.

Daun pun sampai di meja makan sudah pakai piyama warna hijau-putih bercorak tumbuhan. Ada topi kupluk lembut di kepala anak kucing itu. Piyamanya kebesaran—sengaja Gempa belikan yang ukuran besar dan pake topi kupluk biar keliatan lucu. Gempa suka pakaikan Daun atribut lucu, semacam "mama" ke anaknya. Jikalau pergi ke toko pakaian, Gempa pasti cari-cari baju imut buat Daun—selama ada bujetnya. Saking sukanya dandanin Daun lucu-lucu, kalau gak ditahan Halilintar, Gempa pasti beli dot susu dan ranjang bayi.

"Gem, sadar deh apa kata orang pas lihat dua lelaki dewasa beli peralatan bayi?" ujar Halilintar, ketus. "Kayak keluarga berencana aja!"

Gempa langsung istighfar. Dia 'kan imam shalat berjamaah kampung, masa' memupuk gosip yang tidak-tidak?

Kembali ke Keluarga Cemara ini. Daun yang sudah datang segera duduk di kursi dan bersiap, boneka dinosaurus dan Doraemi—si hp jadul—ada di sampingnya. Gempa segera memberikan sepiring nasi goreng ke Daun dan sepiring besar ke Halilintar.

"Ayo dimakan nasinya, terus cepat tidur ya besok jam 3 subuh kita sudah harus siap," kata Gempa sambil duduk di meja makan. Halilintar dan Daun menurut. Mereka lalu berdoa, yang dipimpin Halilintar sebagai kepala suku.

Halilintar itu yang tertua, dia umurnya 20 dan Gempa sudah 19 tahun. Meski bersaudara, sifat mereka beda sekali—satunya panasan, satunya adem. Satunya gampang kepancing, satunya kepala dingin. Sementara itu, Daun duduk kelas 1 SMP dan pergi sekolah saat siang hari setelah bantu abang-abangnya di pasar. Sejak ayah dan ibu mereka wafat mendadak, pengacara memberitahu mereka kalau orang tua mereka ada hutang besar hingga jumlahnya ratusan juta rupiah—hutang ke rentenir Bago Go. Maka kedua kembar itu memutuskan untuk tidak ke bangku kuliah dan kerja saja kumpulkan uang. Sudah habis harta mereka, semuanya dijual untuk menutupi hutang. Yang tersisa hanya rumah warisan ini saja. Mereka cemas rumah masa kecil mereka ini akan diambil pihak Bago Go kalau tak cepat-cepat menyicil hutang mereka. Gempa memutuskan mereka menggunakan uang terakhir mereka sebagai modal usaha di pasar, dibantu oleh sepupu-sepupu mereka yang imut dan baik hati tentu saja, terutama Taufan. Meski Taufan itu seiseng jin ifrit, tapi dia baik hati, tak tegaan dan gampang tergugah. Ice, Blaze dan (minus Solar) juga turut membantu ketiga sepupu mereka untuk bangkit dari musibah bertubi-tubi itu. Lama-kelamaan Gempa dan Halilintar bisa memperbesar usaha mereka. Tepat 2 tahun setelah kematian kedua orang tua mereka, usaha mereka lebih stabil. Gempa banyak ditaksir emak-emak garis keras dan laris dagangannya, Daun bertindak seolah maskot imut-imut yang semakin mempermanis buah-buahan yang dia jual. Sementara Halilintar seperti mendapatkan tempat untuk menyalurkan minat dan bakatnya, yakni mencabut nyawa.

Tapi mereka tetap kompak kok, meski mereka tengah dirundung masalah besar. Mereka malah semakin rukun, seakan masalah ini justru malah mempererat persatuan mereka karena mereka sadar setelah kedua orang tua mereka tiada, mereka hanya memiliki satu sama lain. Meski dalam kesulitan dan kesempitan mereka tetap bergandeng bahu—sebab jika terpecah justru malah semakin melilit keadaannya.

Contoh kecil keakuran mereka adalah mereka selalu meluangkan waktu untuk duduk bersama saat makan, walau makan hanya dengan garam. Tak lupa berdoa biar semakin bersyukur. Seperti malam Rabu itu, mereka bersyukur Gempa bisa buatkan nasi goreng terasi dan telur dadar lalu berdoa seperti biasanya.

"Amiin," tutup Halilintar.

"Amiiin," ucap Daun dan Gempa sambil mengusapkan wajah.

Usai berdoa bersama, baru mereka mau menyuapkan nasi tiba-tiba mereka dikejutkan oleh sebuah suara familiar.

"Assalamualaikuum!" ketiga saudara dengar bunyi pintu diketuk keras. Gempa langsung berdiri.

"Walaikumsalaam! Sebentar."

"Pasti Kak Taufan!" tebak Daun ke Halilintar, usai Gempa pergi.

"Semoga bukan si kecap sachet itu," gerutu Halilintar. Ia menyuapkan nasi besar-besar ke mulut, berusaha menyumpal mulutnya biar tak berkata kasar. Ada Daun. Nanti takutnya pantatnya kena sebat lagi. Gempa pernah sebat pantat Halilintar pakai sapu lidi. Sakit fisik sih enggak, cuman sakit hati. Kakak tertua kok gak becus beri contoh baik.

Sementara itu di depan pintu, Gempa memutar kenop dan membukanya. Tampak wajah nyengir lebar Taufan di sana, ia berdiri sambil menenteng bungkusan kecil. Gempa balas tersenyum teduh. Hati Taufan langsung adem.

"Kak Taufan ayo masuk! Kebetulan kita lagi makan!" ajak Gempa. Taufan tanpa sungkan dan tanpa ragu-ragu langsung ngeloyor ke ruang makan. Bau masakan Gempa bikin mabuk kepayang rasanya.

Melihat sepupunya itu, wajah Halilintar langsung masam.

Melihat wajah masam Halilintar, Taufan makin nyengir.

"Pas banget ya kamu datang waktu makan? Terlalu tepat," nyinyir Halilintar.

"Eh enggak kok Hal, aku cuma bawain ini saja," ujar Taufan sambil memperlihatkan bungkusan plastik itu dan memberikannya ke Gempa. Gempa tersenyum manis, semanis gula aren dikasih gula lagi.

"Wah apa ini Kak?"

"Tempe mendoan."

"Daun suka mendoan!" jerit Daun, senang. "Mau doong!"

"Iya, sabar ya dek," balas Taufan gemes sambil ngelus kepala Daun.

"Wah, terimakasih Kak Taufan," ujar Gempa. "Silakan duduk, Gempa ambilkan makan ya," tawar Gempa sambil ke rak piring ambil pinggan baru.

"Ahahaha, tak usah sungkan-sungkan Gem, berikan aja semuanya Abang tak keberatan," kata Taufan tanpa tahu malu. Halilintar jengkel.

"Gem, Abang masih lapar, minta lagi nasinya!" ujar Halilintar sirik, berusaha sabotase rencana Taufan datang ke sini cuman mau numpang makan. Biar Taufan gak kebagian masakan Gempa yang sedap itu.

"Kalau masih lapar, Kak Hali makan mendoan saja ya, biar Kak Taufan makan nasinya," putus Gempa, kalem. "Tak patut rasanya tamu disuguhi lagi buah tangannya. Kalau ada hidangan kita, harus hidangan kita, Kak."

Mendengar itu, Taufan cekikikan puas. Halilintar mengepalkan tangan—jadi itu alasan kenapa Taufan bawa mendoan? Biar mencegah Halilintar sabotase rencana liciknya merebut masakan Gempa?

Tanpa sadar genderang perang sudah berbunyi bertalu-talu, Gempa datang dari dapur sambil membawa satu piring nasi dan sepiring mendoan. Gempa lalu menyuguhkan nasi ke Taufan dan memberikan mendoan ke Halilintar serta Daun. Taufan duduk di sebelah Gempa dengan senyum penuh kemenangan. Meski cuman nasi goreng terasi, entah kenapa kalau Gempa yang masak terasa beda lah. Taufan pikir beruntung sekali si banteng merah itu makan masakan mama beruang tiap hari.

"Maaf Hal, aku gak bisa beri nasi goreng ini ke kamu. Soalnya jika aku tidak bertenaga, siapa nanti yang akan menjagamu?" kilah Taufan, mulai kumat sisi Dilan-nya.

"Kalo lu ngebacot enggak-enggak lagi, gua kuncir bibir lu pake karet gelang," geram Halilintar yang gak sebaper Milea.

"Sejauh ini masih saya pantau, nanti saya sleding kepala kalian satu-satu," ancam Gempa sambil tersenyum manis namun penuh aura gelap. Daun ketawa-ketiwi sementara Taufan dan Halilintar langsung kicep nyalinya.

"Nah ayo makan~" kata Daun sambil comot satu mendoan dan masukin semuanya ke mulut. Mulutnya langsung penuh gembung kayak hamster. Melihat pemandangan imut ilegal itu, Gempa meleleh dan lupa marahnya.

"Iya ayo teruskan makan," ajak Gempa.

"Okelah mulai makan. Itadakimasu!" ujar Taufan, sok-sokan bahasa Jepang, ngikutin Yaya yang lagi liburan ke sana.

"Wuah, itu apa artinya Kak Taufan?" tanya Daun, berbinar.

"Itu artinya "aku yang hebat ini mau makan"," jawab Taufan, asal bunyi. Halilintar mesti gigit taplak meja biar tak ucap sumpah-serapah di depan Daun.

"Baca doa makan Kak," tegur Gempa halus. Taufan hanya cengengesan.

"Ehehehe iya."

Taufan pun baca doa makan dan menyuapkan satu sendok nasi goreng ke mulutnya—seketika itu Taufan merasa langit terbelah dan memperlihatkan milyaran bintang bersinar kelap-kelip. Taufan seperti diangkat ruhnya ke langit, ketemu bidadari-bidadari cantik. Mereka melambai kepada si bujangan lapuk itu, tapi sayangnya senggolan Daun bikin Taufan balik ke bumi.

"Kak Taufan kenapa?" tanya Daun, rada takut lihat ekspresi serem Taufan abis nyuap nasi. Taufan langsung tersadar dari maboknya.

"Nasi goreng ini berat, kalian gak akan kuat. Biar aku saja habiskan demi kemashalatan umat."

Gempa tertawa geli. Halilintar gerah. Kolesterolnya berasa naik. Seolah lupa ia jejaka dewasa berusia 20 tahun, Halilintar ngambek karena Gempa kasih nasgor jatahnya ke Taufan.

Rupanya Hali dan Milea sama-sama baperan.

.

.

.

Sementara itu di kediaman Ice, Blaze, Solar dan Taufan.

Blaze baru saja selesai shalat pas dia ke ruang tengah melihat Solar sedang di meja kecil utak-atik hp dan Ice sedang nonton sinetron Upin-Ipin di TV. Blaze langsung sadar ada yang kurang, yaitu bacotan Taufan. Orangnya juga gak ada. Blaze heran, dia lalu duduk di sebelah Ice—setelah sepak kaki Ice yang selonjoran seenaknya. Hobi Ice ini memang suka ukur kasur dan mendengkur.

"Kemana Kak Taufan?" tanya Blaze ke Solar.

"Lagi caper," jawab Solar, asal bunyi.

"Sama siapa?"

"Gempa."

"Oooh," sahut Blaze. Caper sama Gempa itu berarti minta dimasakin yang enak. "Rasanya pengen makan masakan kak Gem juga deh."

"Kan kau dah makan tadi," sahut Solar.

"Nasi sama ikan goreng aja mah kurang greget," ujar Blaze. "Mau pergi minta makan ah ke kak Gem."

"Siap mental gak ketemu Halilintar? Ntar nangis kayak tempo hari," ledek Solar.

"Aku gak nangis!" seru Blaze, marah. "Aku cuma... alergi sama omongan pedes Kak Hali yang singgung masalah tinggi badan aja!"

"Nangis juga gak apa-apa Kak, gak maskulin ini," sambar Ice yang lagi santai nonton TV. Blaze melotot jengkel ke arah adiknya.

"Bacot."

Ice dan Solar menyeringai. Di antara mereka bertujuh sebenarnya Daun yang badannya paling mungil, tapi menempati posisi kedua terkecil adalah Blaze. Memang sih Blaze lebih tua daripada Daun tapi cuma beda setahun—Blaze duduk di kelas 2 SMP dan Ice juga sama karena mereka kembar. Solar duduk di kelas 1 SMP, satu sekolah dengan Daun, Blaze dan Ice. Taufan sendiri sudah berumur 20 tahun, sebaya dengan Halilintar tapi Halilintar lebih tua beberapa bulan. Awalnya Taufan kuliah di jurusan penyiaran, tapi dia berhenti dan malah jualan ikan.

"Kenapa Kakak stop kuliah?" tanya Blaze pada hari itu. Taufan hanya ketawa lebar.

"Biar duitnya bisa disimpan dan bantu si banteng merah dan adik-adiknya. Aku tak tega lihat mereka kepayahan bayar hutang sebesar itu," jawab Taufan.

"Tapi kakak 'kan dah niat kuliah di sana. Tabungan emak dan bapak buat kuliah kakak, nanti kakak tak sekolah," ujar Ice, tampak sedih. Taufan usap kepala adiknya itu.

"Biarlah Allah yang atur gimana, kita mah berbuat baik dan berusaha saja," jawab Taufan sambil nyengir. "Lagipun mereka 'kan saudara kita. Dah patut kita tolong 'kan?"

Blaze dan Ice langsung menghambur ke pelukan Taufan. Mereka membenamkan wajah di dada abangnya. Taufan ketawa geli.

"Kenapa nih?"

"Aku bantu kakak ya," pinta Blaze.

"Iya aku juga mau ikut bantu," ujar Ice. Bagi dia yang pemalas, ini kalimat yang ajaib. Taufan terkejut.

"Eeeeh jangan! Kalian 'kan sekolah!"

"Kita bisa bantu pagi saja kok. Biar sedikit tapi ada bantuan," ujar Ice. "Gak apa-apa ya Kak?"

"Gak boleh nanti kalian capek!

"Gak kok, gak capek!" sangkal Blaze.

"Pokoknya enggak!"

Meskipun sudah dilarang Taufan, tetap saja Ice dan Blaze ngotot. Terutama Blaze yang pemberontak dan malah semakin ngompor-ngomporin Ice. Akhirnya Blaze mengajak Ice diam-diam kabur ke Pasar Pulau Rintis mencari pekerjaan ketika libur hari Sabtu—Taufan sampe panik dan langsung ngabarin Ketua RT kalo kedua adeknya diculik dan pergi nangis-nangis lapor di kantor polisi. Biar iseng naudzubillah, Taufan sayang banget sama ketiga adiknya. Halilintar aja sampai ikutan baper lihat Taufan nangis kejer sambil goler-goleran di depan kantor polisi apalagi Gempa yang gak tegaan. Tapi akhirnya dua kembar itu ditemukan oleh Daun secara gak sengaja pas si ijo imut itu lagi jaga warung di pasar. Taufan bingung antara mau marah atau nangis bahagia sambil sujud syukur. Jadi dia melakukan keduanya aja.

Selama misi kabur mereka, Blaze rupanya ketemu Sai, si juru parkir dan malah langsung akrab—akibatnya ia pun ikut jaga parkir. Ice tak langsung dapat pekerjaan sampingan, tapi seminggu kemudian ada kedai es baru yang mau buka dan Blaze segera memberitahu adiknya itu. Mereka akhirnya dapat juga pekerjaan bersama-sama, terlebih lagi tempat parkir dan kedai es letaknya berdekatan. Si kembar ini pun senang juga gak terlalu berpisah. Taufan pun akhirnya meluluskan keinginan mereka daripada dia kena serangan jantung lagi adeknya minggat. Takut minggat selamanya soalnya.

Begitu tahu kedua kakaknya dapat kerjaan sampingan, Solar langsung iri dengki.

"Aku juga mau kerja dan dapat duit sendiri."

"Wei kita cari uang bukan mau dapat uang saku tambahan," sembur Blaze.

"Kita mau bantu Kak Taufan dan sepupu-sepupu kita," tambah Ice, kalem. Solar—yang biasanya paling pinter—tumben banget rada bolot. Dia malah bingung.

"Emang kita punya sepupu?"

Taufan, Blaze dan Ice kompak menepuk jidat mereka. Kadang batas antara jenius dan gila itu beda tipis.

"Makanya jadi makhluk jangan terlalu fokus ke diri sendiri," kata Taufan.

Solar jadi rada panas—dia, Blaze dan Halilintar ada kesamaan yaitu suka bersaing. Bedanya adalah:

1. Halilintar bersaing sambil menampilkan seringaian mengejek.

2. Blaze bersaing dengan rada kekanakan—kalau kalah, marahnya langsung meledak dan merajuk-rajuk sampai Upin-Ipin jadi gondrong.

3. Solar bersaing dengan tenang dan penuh strategi ahli perang militer. Dia bakal siasat sana-sini bak Vladimir Putin. Sejauh ini yang bisa menangkal rencana mastermind Solar hanya Daun... sebab Daun mustahil untuk diprediksi karena terlalu bendul.

Karena itu Solar ikutan kerja sampingan karena saingan saja, bukan mau bantu. Karena dia terlalu pinter, maka dia bisa pegang konter perbaikan hp dan jual pulsa. Karena anak busuk ini terlalu pinter sampai lupa moral, makanya dia kadang suka "nakalin" pelanggannya. Dia gak takut siapapun kecuali hilang follower Instagram dan amukan Gempa. Gempa itu kalau marah lebih ngeri daripada Halilintar. Halilintar saja yang tukang jagal kambing gak mau hadepin Gempa pas marah.

Begitulah cerita mengapa Taufan dan ketiga adiknya ada pekerjaan sampingan. Semuanya karena ingin menolong saudara-saudara mereka (minus Solar).

Kembali ke Blaze, Ice dan Solar. Begitu tahu Taufan pergi makan ke tempat Gempa, Blaze jadi iri. Bukannya tak ada makanan di rumah itu, tapi tak ada yang bisa masak seenak Gempa. Mereka ada piket rumah sih, termasuk piket masak dan tahu sendiri 'kan kalau tak ada dari mereka yang masaknya cermat nan teliti macam Gempa. Blaze sudah diblokir permanen dari dapur setelah insiden tabung elpiji meledak. Untung Ice dan Taufan ada saat itu, jadi bisa segera dipadamkan. Blaze juga tak terluka karena dapurnya ia tinggalkan seenaknya buat main bola. Hari ini Taufan yang masak dan itu masak ikan goreng saja. Taufan lebih pandai buat kue daripada masak makanan serius.

"Haaaa asyik kalau Kak Gem datang macam tempo hari," kata Ice, sambil selonjoran. "Kita dimasakin sama dia."

"Iya ya, Kak Gem asyik kalau datang sama Daun," keluh Blaze. "Tapi aku ogah kalo pikachu panas kuping itu ikutan juga."

"Emangnya Kak Blaze tak panas kuping?" timpal Ice.

"Diamlah kau," sungut Blaze.

"Oi itu ada tamu di depan tak dengar kah!" seru Solar. Kedua tangannya masih sibuk utak-atik hp.

"Ish adek ngelunjak lagi," kata Blaze.

"Tak apa biar aku bukakan," ujar Ice sambil bawa-bawa selimutnya. Blaze dan Solar gak ngerti buat apa bawa selimut pas terima tamu.

Ice lalu membukakan pintu dan ia bingung. Di depannya ada pria pendek berkumis bawa koper. Di belakang pria pendek itu ada 3 orang berbadan kekar kayak Ade Rai. Ice sampai merasa gimana gitu melihat mereka.

"Permisi, ini rumah Taufan ya? Dan saudara-saudaranya?" tanya pria pendek bermisai nanggung itu. Ice mengangguk kecil.

"Iya benar. Ada apa ya?"

"Begini," kata si pria pendek itu sambil memberikan kartu nama. "Saya Bago Go dek, saya datang mau ambil rumah ini karena Taufan gak bayar biaya gadai sertifikat tepat waktu."

Ice mau pingsan rasanya.

.

.

.

Sementara itu, di kediaman Kaizo dan Fang.

Kaizo lagi duduk lesehan makan lalapan sama sambal terasi dengan lauk ikan goreng bareng adeknya. Mereka makan malem sambil nonton DVD. Kaizo males nonton Dilan tapi Fang malah ngotot.

"Ini pembohongan Pang, gak ada makhluk kayak dia di dunia nyata," ujar Kaizo. "Dia itu predator air tawar."

"Sssh udahlah Bang, Pang mau nonton," kata Fang sambil ngelap air mata, terharu lihat keromantisan sejoli itu. Kaizo langsung nyomot lauk dan lalapan lalu pergi dari sana sebelum dia banting DVD-nya. Dia mau makan di ruang depan sajalah daripada dengerin Fang nangis dan Dilan ngoceh-ngoceh.

Saat lagi asyik makan, tiba-tiba terdengar pintu depan diketok keras, seolah ngegedor. Kaizo jadi rada emosi. Apaan sih tamu malam-malam begini tapi malah ngegas ketok pintunya? Ketauan nilai pendidikan agamanya berapa, gerutu Kaizo dalam hati.

Dengan tangan masih belepotan sambal terasi dan nasi, Kaizo taro piringnya dan pergi ke pintu depan. Saat sampai di pintu, Kaizo menengok dari jendela. Dia agak kaget ada 3 orang berbadan kekar gedempol dan pria kecil berdiri di depan pintu. Kaizo gak kenal siapa mereka. Kaizo sadar dia punya banyak musuh tapi dia inget musuh dia yang badannya sebesar itu cuma Bora Ra sama Vargoba—dan Kaizo dah kirim mereka ke pondok pesantren terdekat biar insyaf. Terakhir Kaizo ingat, Bora Ra dah sadar dan jadi usahawan jangkrik sementara Vargoba jadi peternak lele.

Kaizo pun mengepalkan tangannya, lalu bersiap membuka pintu. Bau amis terasi kentara dari sela-sela jari. Biar khusyuk pas bogem mereka kalo mau lakuin aneh-aneh.

Pintu dibuka. Kaizo pasang muka sesuntuk mungkin biar nakutin.

"Ada apa?" tanya Kaizo, ketus. Pria kecil itu—Bago Go—hanya cengengesan.

"Perkenalkan, saya Bago Go. Wah Abang nih model ke apa? Saya bisa roketkan Abang jadi model! Nanti hasilnya kita bagi dua."

"Lu pikir dah berapa banyak yang tawarin gitu ke gua? Gua ogah. Pergi sono sebelum gua colok mata lu yang jelalatan liatin badan gua."

Bago Go langsung ketawa garing. Ketiga pria kekar itu mengerinyit jijik pas tau Bago Go gitu. Gak nyangka. Tapi Kaizo ada sejarah panjang bisa buat pria lurus jadi putar haluan, padahal Kaizo gak ngapa-ngapain cuma nafas doang mereka udah menggelinjang. Salah satunya si Bago Go ini.

"Ah Abang saya hanya menilai aset saja—"

"Gua bilang pergi sono sebelum lu gua jadiin sampul buku Yasin."

Bago Go lalu menyeringai licik. Kaizo mulai gak enak firasatnya.

"Ah tapi saya kesini mau beri kabar. Rumah dan usaha Abang dah kena gadai saya dan karena tidak ada itikad Abang untuk bayar maka saya harus ambil rumah dan jasa cuci kendaraan Abang. Semuanya saya ada dokumennya."

Kaizo terperanjat.

.

.

Bersambung

.

.

A/N

Ahaha kurang humornya ya? Iya sengaja. Saya ga bisa buat humor terus-terusan lebih capek daripada tema suspense... maaf kalau garing~ ni saya rubah genrenya jadi drama ya bukan humor lagi ahahaha. Cocok di drama.

Saya mau berterimakasih kepada anisaasti66, AishaZero9i18r, CheccellatteTruffels, sasharararara, Shaby-chan, nyankurothecat88, AnginTaufanGalaxy. Terimakasih sudah menyempatkan diri untuk baca, review, fave dan follow~!

Ada tanggapan, saran dan concrit? Silakan review~