Chapter 01
Love on IOI
Mysterious Problem
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuHina, ShikaTema
Rated : T
Sasuke's POV
Tik...! Tik...! Tik...!
Suara ketikan itu bergema diseluruh ruangan yang dipenuhi dengan komputer tersebut. Kulihat seseorang dengan rambut nanas disebelahku sedang mengetik dengan sangat cepat, secepat yang aku bisa.
Kuketikkan beberapa kode yang cukup rumituntuk dipahami oleh orang-orang awam. Beberapa saat kemudian aku langsung menekan tombol compile yang ada pada interface yang ada dilayar laptopku.
"Selesai" Kataku begitu melihat barisan bilangan yang ada pada jendela. Shikamaru yang tampaknya terkejut dengan ucapanku langsung menoleh kearahku. Dia memperhatikan jendela di layar komputerku dengan seksama.
"Hebat...! Kau pake apa, Sasuke ?" Tanya Shikamaru dengan nada yang penasaran sekaligus senang melihatku.
"Cuma ad-hoc biasa. Pahami aja soalnya" Kataku dengan seulas senyuman lembut kearah Shikamaru.
Aku sedang mencoba mengerjakan sebuah soal programming yang ada pada sebuah situs online judge. Aku suka dengan situs SPOJ, mungkin situs ini adalah situs yang paling lama aku kunjungi saat ini.
"Bentar-bentar, aku ngerti sekarang" Kata Shikamaru dengan girang sambil mengetik dengan cepat di layar komputernya.
Namaku Sasuke, Uchiha Sasuke. Aku seorang siswa kelas sebelas di SMA Konohagakure. Dan aku akan mengikuti Olimpiade Sains tingkat Jepang bidang TIK. Ini adalah kali pertama aku ikut Olimpiade TIK dan aku sangat terkejut bisa masuk sampai tingkat nasional.
Disebelahku ini adalah peserta yang sama-sama dari sekolahku. Konohagakure mengirimkan duta sebanyak sembilan orang (termasuk aku dan Shikamaru). Shikamaru adalah senpaiku. Dia pernah masuk tingkat nasional tapi tidak pernah ikut IOI.
"Eh...! Kok gak berhenti ?" Ucap Shikamaru yang terdengar heran dengan soal tersebut.
"Ini seharusnya tidak dimasukkan dalam loop. Coba keluarkan dan ulangi lagi" Kataku sambil menunjuk sebuah perintah. Shikamaru dengan cepat langsung memindah perintah tersebut dan kembali menjalankan programnya.
"Keren" Gumamnya begitu melihat programnya berhasil.
"Submit aja, punyaku sudah AC kok" Kataku sambil menunjukkan layar laptopku yang telah menampilkan layar submission dimana programku sudah AC.
"Baiklah" Kata Shikamaru sambil men-submit source code nya. Aku kembali mencari soal baru yang pastinya lebih menantang untuk dikerjakan.
"Aku tadi coba pake greedy, tapi tampaknya gak berhasil" Kata Sikamaru ketika men-submit hasilnya.
"Eh, kok TLE" Kata Shikamaru dengan heran. Aku pun bergegas mengecek apakah source codenya benar-benar sama dengan punyaku.
"Kamu pake pascal sih. Coba aja pake C++" Kataku sambil bersandar pada bangkuku, sekedar untuk melepaskan pegal-pegal yang menyerang tulang belakangku.
"Kamu mulai kapan sih belajar ngoding ? Kok kayaknya cepet banget" Kata Shikamaru dengan nada penasaran.
"Sejak kelas 8 sih. Tapi waktu itu aku cuman tertarik ama software dan aplikasi" Kataku sambil kembali mengutak-atik komputer yang berada di eja depanku tersebut.
"Pantes aja" Kata Shikamaru sambil mengutak-atik komputer didepannya.
Selama beberapa menit aku dan Shikamaru tenggelam dalam ngoding soal yang ada dilayar komputer kami masing-masing.
"Hei...! Shikamaru" Panggilku pada senpaiku yang berada disampingku tersebut. Shikamaru menoleh kearahku dengan tatapan malas yang biasanya dia tatapkan pada gurunya.
"Apa kau yakin bisa masuk IOI kali ini ?" Kataku dengan nada yakin kearah Shikamaru yang hanya dijawab dengan senyuman sinis olehnya.
"Aku mempunyai cukup motivasi untuk memenangkan Olimpiade tingkat nasional ini. Aku akan mewakili Jepang dalam IOI. Aku yakin itu" Kata Shikamaru dengan semangat berapi-api dan juga keyakinan yang teguh tentang kemenangannya di event IOI ini.
"Kau mau menunjukkan kebolehanmu pada Temari ya ?" Kataku sambil mengalihkan perhatianku pada soal berikutnya yang merupakan soal yang rupanya cukup sulit.
Number divisibility. Intinya mencari beberapa banyak bilangan yang habis dibagi bilangan tertentu. Contohnya, angka satu sebanyak tiga kali (111) bisa habis dibagi tiga. Kita disuruh untuk mencari banyaknya bilangan pertama yang bisa dibagi bilangan kedua. Bila contoh diatas, inputnya satu dan tiga lalu outputnya tiga. Cukup sulit, apalagi kalo bilangan pertama merupakan bilangan lebih dari satu angka.
"Maksudmu ? Aku gak suka sama Temari" Kata Shikamaru sambil membaca soal tersebut dengan teliti sambil berpikir gimana caranya kira-kira dia bisa memecahkan soal tersebut.
"Terserahlah. Kau punya ide tentang soal ini ?" Tanyaku pasrah. Shikamaru suka pada Temari, itu sudah menjadi gosip utama di sekolah saat ini.
Temari, teman sekelas Shikamaru yang otomatis menjadi senpaiku juga. Aku dengar dia mempunyai nilai yang melejit kuat. Tapi sepertinya Shikamaru hanya kalah dibagian kerajinannya saja.
"Coba aja inputin bilangan satu persatu. Lihat aja batas waktunya hanya satu detik. Inputin aja satu persatu, bila hasilnya salah tinggal lewatin aja" Kata Shikamaru dengan entengnya menghadapi persoalan tersebut.
"Tidak, bilangan int64 hanya bisa menampung delapan belas digit. Itu tidak akan cukup" Kataku sambil mencari solusi tentang soal tersebut.
"Mau pake DP ?" Tanya Shikamaru dengan nada tidak tahu sambil tetap menguap malas.
"Tidak mungkin. Terlalu banyak yang harus diperiksa. Pasti ada rahasia disini" Kataku sambil berpikir sejenak kearah soal tersebut.
"Kau tau, bila soal begini saja kau sudah kesulitan, mungkin IOI hanya mimpi" Kata Shikamaru sambil mematikan komputernya. Kulihat kearah pintu dimana penjaga lab sudah berdiri sambil melipat tangannya. Aku pun bergegas mematikan komputerku dan berjalan menuju ke pintu lalu mempersilahkan penjaga tersebut untuk menutup pintunya.
"Mau berlomba siapa yang bisa memecahkanya lebih dulu ?" Kataku sambil berjalan dengan tas yang kutaruh dibelakangku dengan hanya satu pegangan di bahu kananku.
"Boleh saja" Kata Shikamaru sambil berjalan dengan tenang menuju ke koridor dimana terdapat banyak sekali kelas yang telah sepi, hanya beberapa anak yang masih terlihat sibuk di ruang sekretariat OSIS. Termasuk Temari.
Kulihat hapeku yang masih jadul tersebut untuk melihat waktu. Setengah tiga, kelas sudah bubar satu setengah jam yang lalu. Saat ngoding, waktu benar-benar gak terasa berat.
"Baiklah, kita berlomba. Apa hadiah buat pemenangnya ?" Tanyaku dengan semangat kearah Shikamaru yang hanya dibalas dengan cengiran malas.
"Bakso aja dech" Usul Shikamaru sambil menguap malas. Aku tau, dia pastinya tidak begitu peduli dengan hadiah yang ditawarkan.
"Baiklah, besok kita lihat sama-sama. Submission siapa yang AC duluan" Kataku sambil berjalan menjauhi Shikamaru dari tempat parkir yang ada di samping koridor.
Aku bergegas menuju parkiran yang berada di depan sekolah untuk mengambil sepeda balapku dan membayar biaya titip kendaraan pada sang pemilik penitipan.
"Arigatou, Izumo-san" Kataku sambil mengayuh sepeda tersebut dengan kecepatan sedang melewati lalu lintas jalan raya yang cukup padat di jalanan Konohagakure.
Kurasakan semilir angin berhembus melalui helaian raven milikku yang terbang ditiup angin. Kubelokkan sepedaku dengan sangat tajam ke kanan jalan untuk memasuki sebuah jalan setapak yang hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki. Tapi karena sebegitu biasanya aku melewati jalan ini bersama dengan dobe sehingga aku tidak begitu merasa kesulitan melalui jalan yang berada ditepi ladang yang menurun tersebut.
"Kau kemana saja, Teme ?" Tanya seseorang dengan rambut jabrik pirang sambil bergegas menaiki sepedanya yang berada di sampingnya.
"Aku ada bimbingan olimpiade" Jawabku singkat sambil terus mengayuh. Mungkin karena sempitnya jalan sehingga aku harus berulang kali mengerem agar tidak menabrak si duren busuk itu.
-0-
"Tadaima" Teriakku sambil memasukkan sepeda balapku kearah garasi yang berada di samping rumahku. Disana tergeletak juga seonggok sepeda motor fiction punya kakakku dan juga mobil punya Otou-chan.
Aku pun berjalan dengan peluh yang membasahi dahiku dan juga kepalaku. Untung saja tidak membasahi bajuku. Kulihat Kaa-chan yang sepertinya sedang menikmati acara sinetron siang sambil mengerjakan tugas memasaknya.
"Okaeri" Sapanya sambil tetap memperhatikan layar televisi. Aku langsung berjalan menuju kamarku dan menutup pintunya.
Segera kulucuti pakaianku untuk mengusir kepenatan yang aku rasakan setelah mengayuh sepeda. Kupejamkan mataku sejenak sebelum akhirnya aku bangkit duduk sambil menatap sekeliling.
"Aku harus cepat" Kataku sambil mengambil sebuah tablet PC yang berada di meja belajarku dan mengaktifkan koneksi internetnya untuk segera mengerjakan soal yang tadi sempat mempersulitku.
"Enak pake wi-fi aja dech" Kataku sambil mengaktifkan koneksi hotspot portable yang dimiliki oleh sistem operasi android untuk berbagi koneksi melalui wi-fi.
Setelah kuaktifkan koneksi wi-fi, segera kunyalakan laptopku yang berada dalam mode sleep dan mulai menyambungkan diri ke internet melalui tablet yang sudah terpasang koneksi wi-fi.
"Tapi, sebelum itu..." Kulirik kembali tablet PC ku yang tergeletak di samping laptop. Kuambil tablet tersebut dan memutar sebuah video klip.
Terlihat sosok berambut indigo panjang dengan mata lavendernya yang lembut, menyanyi dengan sepenuh hati dengan suaranya yang lembut dan tinggi.
Yups...! Dia adalah personil band Four Season. Seseorang wanita bagaikan bunga sakura yang mekar di musim semi. Hyuuga Hinata yang memegang cincin seiryuu. Aku menyukainya sejak aku kenal dengan band-band luar negeri dan dia adalah band pertama yang benar-benar kusukai.
Bukan apa-apa sih, tapi aku menyukainya lebih dari aku menyukainya sebagai idola.
Tapi, aku tersenyum miris melihat kenyataan ini. Itu semua pasti hanya mimpi jika aku memang bisa memilikinya. Aku saja belum pernah bertatap muka langsung dengan Hinata.
Tapi, kudengar IOI kali ini akan diadakan di Amerika. Itu yang akan membuat motivasiku naik dan aku yakin IOI kali ini akan menang.
Dan aku akan bertemu dengan idola yang sudah kuimpikan tersebut.
Aku terus menikmati nyanyian yang sangat cantik tersebut. Tapi bila kulihat dari empat orang personilnya tersebut, mereka semua berpasangan, aku tau itu.
Mereka menjadi dua pasang karena memiliki hobi dan kegemaran yang sama. Tak mungkin orang yang tidak memiliki latar belakang apapun tiba-tiba saja bertemu dan membentuk sebuah band musik. Kedengarannya sangat mustahil, tapi entahlah dengan siapa, Sai atau Kiba.
Jarang sekali aku browsing hanya untuk melihat foto Hinata atau untuk melihat biodata tentang para personilnya yang mungkin banyak tersebar di internet.
Seusai aku menonton video tersebut dan menemukan motivasi yang tersimpan dalam hatiku, aku langsung bergegas membaca kembali soal tersebut dengan harapan aku bisa langsung mengerjakannya. Tapi tampaknya aku sudah buntu untuk mencoba menyelesaikan soal yang kayaknya cukup rumit tersebut.
Bila aku mengenumerasi dengan menambahkan setiap digit dalam pengurangannya, pastinya tidak ada tipe yang mampu menghandlenya. Tapi bila aku mencoba mencari cara lain, mungkin tidak akan bisa ketemu cara tersebut. Aku yakin kalo itu menggunakan ad-hoc, tapi gimana ?
Tunggu dulu, aku pernah mempelajari ini ketika di SD waktu itu. Eh...! Di SMP sih, prinsip modullo yang ada pada buku yang kupinjam di perpustakaan.
Benar juga...! Aku harus mengalahkannya.
TBC
Soal number divisibility memang ada di situs SPOJ. Coba aja cari, soalnya mudah kok.
Happy Read
