SUMMARY :

Baekhyun awalnya tidak pernah mau menggubris pelajaran yang melibatkan makhluk Yunani kuno, namun kehadiran sosok di depannya membuatnya mau tidak mau harus mempercayainya. "Black pearl itu tertanam di dalam jantungku. Mutiara hitam itulah sumber kehidupanku—" —Chanyeol. BL/CHANBAEK.

.

"GRIFFIN"

BLACK PEARL

.

CHAPTER 2

[4.988 words]

Tiga hari berlalu semenjak kejadian di kamarku waktu itu. Dimana kami –aku & pemuda itu– berpelukan di balkon kamarku. Setelah Yixing hyung berteriak histeris waktu itu, pemuda itu langsung terbang meninggalkan balkonku bersamaan dengan datangnya beberapa orang ke kamarku. Mereka tampak menanyakan apa yang terjadi sedangkan Yixing hyung sudah menangis dan menggeleng – geleng pelan. Aku memilih bungkam waktu itu. Membiarkan Yixing hyung bercerita pada mereka semua termasuk nenek juga. Mereka mencoba bertanya padaku tapi aku memilih diam. Jika aku bercerita, aku takut kalau mereka akan menyakitinya. Apalagi sehari setelah Minseok hyung dan Jongdae memberitahu warga, mereka semua mencoba mencari keberadaan makhluk itu. Entah mengapa perasaanku mengatakan kalau mereka akan melakukan hal buruk padanya. Kami juga dilarang ke hutan selama tiga hari ini.

Dan di hari ke empat, kami baru diijinkan bermain lagi ke hutan. Alasannya? Karena warga tak dapat menemukan makhluk itu. Mungkin mereka berpikir kalau makhluk itu telah pergi. Yeah, semoga saja dia pergi daripada disakiti oleh penduduk desa. Gosh, aku merindukannya. Oh—Baekhyun, apa kau mulai mengakui kalau kau tertarik pada makhluk itu? Ck, kenapa nasib ku harus seperti ini? Melabuhkan cinta pertamaku pada manusia setengah hewan seperti itu. Hhh, mau bagaimana lagi, jantungku tak pernah mau diajak kompromi. Setiap membayangkan wajahnya, detakannya langsung tak normal. Yeah, kau tahulah rasanya orang jatuh cinta. Dan aku yakin kalau aku memang telah jatuh pada pesonanya. Baekhyun is fallin' in love. Kekeke.

"Baek-ie! Kita akan ke hutan lagi!" Luhan hyung berlari – lari kecil kearahku, membuatku mengulum senyum lebar. Hyung ku satu itu memang selalu terlihat lucu dan imut. Rasanya aku ingin mengigitnya. Dia menarik tanganku dan memintaku untuk bersiap – siap. Oh gosh, padahal aku baru saja bangun tidur sekitar lima menit yang lalu. "C'mon Baek, jangan malas. Yang lain sudah bersiap – siap. Ayo!"

"Iya hyung. Sebentar lagi." jawabku malas. Bukan karena malas ke hutan lagi –aku akui kalau pergi ke hutan akan mengembalikan semangatku, tapi yang membuatku malas adalah aku harus rela mempause mimpiku dengan pemuda asing itu. Ayolah—aku tadi hampir saja mencium pemuda itu kalau Luhan hyung tidak mendobrak pintu kamarku. Oops.

"C'mon honey!"

"Okay hyung, biarkan aku bangun dulu, baby Lu."

"Ofcourse." Luhan hyung mengacak rambutku sebelum akhirnya kakinya melangkah keluar dari kamarku. Aku menghela nafas dan melirik jam beker diatas nakas ku. Oh, jarum pendek baru saja menunjuk angka 6. Ini kan masih terlalu pagi? Huft. Segera saja Baekhyun yang imut ini memasuki kamar mandi. Membersihkan seluruh badanku dengan air hangat, menghabiskan beberapa menit untuk bercermin sembari menggosok gigi. Setelah semua kewajiban membersihkan diri selesai, aku mengobrak – abrik isi lemariku dan berharap menemukan baju yang cocok untukku. Sekitar setengah jam kemudian semua telah selesai. Tanganku terulur, memutar ranselku hingga menempel di punggung. Aku bercermin sekali lagi sebelum akhirnya beranjak keluar menemui teman – temanku.

"Baek, ingat! Jangan sampai terpisah dengan yang lain, okay?" Aku mengangguk mendengar penuturan Luhan hyung. Kami bersebelas memutuskan untuk mengisi perut kami dengan sarapan bersama. Aku melirik semua temanku tampak senang, mungkin karena kami akan berpetualang lagi. Tao dan Yixing hyung tampak tertawa karena pertengkaran kecil KrisHo hyung. Minseok hyung dan Jongdae saling menyuapi. Ada Sehun dan Kai yang tampak tenang. Tapi aku bisa melihat kalau Sehun selalu menyempatkan dirinya melirik kearah Luhan hyung yang tengah bergurau dengan Kyungsoo. Ah, mereka terlihat sangat menikmati. Walau hubungan mereka belum resmi sebagai sepasang kekasih tapi mereka sangat dekat, entah kenapa aku sangat iri melihat mereka.

Sekitar setengah jam kemudian kami semua berangkat dengan berjalan kaki seperti biasa. Melewati jalan setapak yang semakin lama semakin menanjak dan bebatuan gunung mulai terlihat. Beberapa warga desa juga sudah nampak naik− turun gunung, menjalani aktivitas sehari – hari mereka. Kris hyung sudah tak pernah mengeluh lagi karena ada Tao disampingnya, sedangkan Suho hyung sibuk sendiri bersama Yixing hyung. Aku menghela nafas melihat beberapa pasangan di sekelilingku ini. Apalagi Kai yang setia menuntun Kyungsoo, jaga – jaga kalau teman cerobohku itu terjatuh. Walau wajahnya tampak dingin, tapi aku bisa melihat kekhawatiran di matanya. Wah, sepertinya diam−diam dia membalas perasaan Kyungsoo. I got you, Jongin. Hhoho.

Kami memasuki hutan lebih dalam. Sedikit lebih gelap karena pohon−pohon yang menjulang tinggi. Bahkan aku tak bisa menerka − nerka seberapa tingginya −yang bahkan puncak pohon−pohon itu tak terlihat. Kami berencana untuk bermain di air terjun lagi. Memancing dan berenang seperti beberapa hari yang lalu. Sekalian menemani Luhan hyung membidik beberapa objek di hutan untuk koleksinya. Kali ini mataku menatap sekitar. Jalanan sudah lebih datar dan tidak menanjak seperti sebelumnya. Tiba−tiba mataku menatap takjub kearah pohok oak yang sangat sangat sangat besar berada di tengah hutan. Sayang suasananya terlihat menyeramkan. Gelap dan dikelilingi oleh rawa berlumpur, itu kata nenekku. Entahlah, aku juga tidak mengerti kenapa bisa ada rawa di tengah−tengah gunung. Yang pasti, rawa itu seolah menjadi pagar agar tak ada yang berani mendekati pohon raksasa itu. Iih, mengerikan. Jangan−jangan itu rumah para werewolf dulu.

"Yixing−ie, kau lelah?" Samar−samar aku mendengar suara lembut Suho hyung. Oh tidak! Berhenti membuatku iri!

"Hhhh" Aku menghela nafas kembali. Entah keberapa kalinya. Melihat moment mereka, membuatku semakin iri saja. Aku dapat melihat Suho hyung yang menyeka peluh Yixing hyung dengan sangat lembut dan Yixing hyung yang tersenyum sangat manis, menampilkan single dimple yang membuatnya tampak mengagumkan. Disisi lain, ada Kris hyung yang bercerita banyak hal pada Tao, dan mereka tertawa bersama. Argh! Aku juga ingin diperhatikan seperti itu!

Puk.

"Kau kenapa, Baek?" Luhan hyung bertanya dengan nada khawatir. Mungkin karena dia melihatku menghela nafas sedari tadi. Aku hanya menggeleng pelan dan memberikan senyuman kecil seolah berkata 'aku baik−baik saja hyung'. Ia pun menepuk pundakku beberapa kali sebelum akhirnya menghampiri Sehun yang memanggilnya sedari tadi. Huh, kau cemburu eoh, Hun?! Menyebalkan sekali anak itu. Awas saja kau nanti! Akan aku balas. Ia menunjukkan cengiran lebarnya dan kubalas dengan kepalan tangan di udara, seolah tengah memukulnya. Ia tersenyum mengejek dan merangkul pundak Luhan hyung, membuatku cemberut kesal karenanya. Mengalihkan perhatian hyungku eoh? Sialan!

Black Pearl

Kami telah sampai dan menyiapkan semua barang−barang kami. Kai dan Luhan hyung membantu Kyungsoo menyiapkan peralatan memasak. Sedangkan Yixing hyung, Suho hyung, Kris hyung,Tao dan Sehun memutuskan untuk memancing ikan atau mencari buah−buahan di sekitar. Kami memang membawa bekal, tapi kami hanya membawa sedikit karena kami memutuskan untuk bermalam disini selama satu hari. Ingin menikmati suasana malam di hutan selama satu malam penuh hingga esok pagi. Mau tak mau kami harus mencari tambahan makanan bukan?

Aku merenggangkan otot−ototku yang kaku. Pundakku rasanya sakit dan kaku karena terlalu lama memikul ranselku yang berat. Aku mungkin mudah lelah, namun entahlah... hutan ini seolah membuatku lupa akan rasa lelah dan laparku. Apalagi jika mengingat pemuda itu. Pelukannya... ciumannya, semua membuatku terhanyut. Oh oh oh tidak, pipiku terasa memanas dengan sendirinya. Jantungku juga, berdetak dengan ritme cepat dan berat. Dadaku terasa sedikit sesak, namun menyenangkan. Aku sangat menikmati perasaan ini. Secara tidak sadar, aku tersenyum lebar. Aku yakin, mungkin teman−temanku akan mengatakan aku gila. Tapi sungguh, aku merasa perasaan ini sangat nyaman. Aku menginginkan perasaan ini menetap disini, dan terjaga hingga aku menemukan pemuda itu lagi. Aku harap kita bertemu, Griffin .

Semua tampak sibuk, membuatku bingung. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kuputuskan untuk mendekati Minseok hyung, dan Jongdae yang tampak bermain air. Ah, bukan mereka, melainkan Jongdae yang menganggu Minseok hyung yang tampak sibuk dengan kamera Luhan hyung. Mencipratkan air kearah Minseok hyung dan Minseok hyung akan mengomel setelahnya. Lucu sekali couple ini. Pasti Luhan hyung memintanya untuk memotret. Minseok hyung memang mempunyai hobi yang sama dengan Luhan hyung. Mereka kompak sekali sebagai sahabat.

"Umin hyung..."

"Ah hai, Baek! Kau tampak bosan, kenapa?—YAAA! KIM JONGDAE BERHENTI MENCIPRATKAN AIR KEARAHKU! Kau akan merusakkan kameranya, bodoh!" Minseok hyung mengumpat dan mengelap wajahnya dengan lengan jaketnya. Jongdae hanya tertawa nista seolah mengejeknya. Aku pun hanya terkekeh kecil menanggapi. Mereka ini, dari dulu tidak berubah. Walau pun mereka sudah menjadi sepasang kekasih, kejahilan Jongdae ternyata tak hilang−hilang juga. Dasar pasangan aneh. Mungkin jika Luhan hyung dan Sehun jadian, hasilnya sama saja dengan mereka. Troublemaker couple.

Beberapa jam tak terasa berlalu begitu cepat. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Kami sudah bergelung dengan selimut. Bukan dalam artian ingin tidur. Hawa yang sangat dingin mengharuskan kami untuk melakukan hal apapun untuk menghangatkan badan kami. Seperti aku, HunHan, dan KaiSoo memilih untuk menyelimuti tubuh kami dengan selimut tebal yang kami bawa. Tao serta Minseok hyung sibuk membuat teh hangat dan menyiapkan makan malam kami. Suho hyung dan Kris hyung sibuk membenahi api unggun, sedang Yixing hyung tampak duduk dibelakang Suho hyung sambil memetik gitar kesayangannya.

"Kau kedinginan hyung?" Sehun bertanya pada Luhan hyung yang masih menggosok−gosokkan tangannya dan menempelkannya di seluruh wajahnya, mencoba membuat rasa hangat untuknya sendiri. Luhan hyung mengangguk imut. Sehun pun merapatkan tubuhnya pada Luhan hyung, tangannya melingkar posesif di pundak hyungku. Samar−samar aku dapat melihat rona merah muda menjalar di kedua pipi Luhan hyung. Kekeke. Sehun romantis juga, membuatku terkekeh tanpa sadar. "Kenapa kau tertawa, pendek?" Sehun bertanya dengan nada ketus. Aku memutar bola mataku dan menjulurkan lidahku, pose mengejek. "Bilang saja kau iri." Dan Sehun tertawa lebar lalu diiringi tawa kecil Luhan hyung. Membuatku cemberut kesal.

"Dasar magnae sialan!" umpatku kesal.

Aku lebih memilih mengalihkan wajahku kearah lain dan sukses membuat mataku membulat saat melihat KaiSoo moment di depanku. Hey, hey! Aku tidak salah lihat kan? Aku mengucek kedua mataku, dan hampir saja menjerit senang karena melihat mereka berdua tampak mesra. Astaga! Apa yang kulewatkan beberapa hari ini? Kai dan Kyungsoo berada dalam satu selimut dengan posisi Kai yang melingkarkan selimut itu pada mereka, memeluk tubuh kecil Kyungsoo dari belakang. Kyungsoo sendiri tampak bersandar pada dada Kai dan melantunkan lagu−lagu menyenangkan bersama Yixing hyung. OH−MY−GOD! Rasanya aku ingin menjerit ala fangirl melihat adegan di depanku. Tampaknya ideku untuk mendekatkan mereka berdua telah berhasil. Aku bisa bernafas lega sekarang. Wah, kalian sangat cocok. Aku bisa menjadi KaiSoo shipper setelah ini. Diam−diam aku mengambil kamera Luhan hyung yang sengaja diletakkan disampingku. Dan klik...klik...klik. secepat kilat aku mengambil gambar mereka berdua.

"YA! Byun Baekhyun, apa yang kau lakukan?!" teriak Kyungsoo dengan wajah yang memerah. Entah kesal atau malu. Aku abaikan saja dan memilih untuk melihat hasil jepretanku. Ini bagus sekali. Sekalian saja untuk pajangan di mading sekolah. Heh. Aku tak mendengar pemuda bermata bulat itu mengomel lagi. Ah, pasti dia sudah tenang dan mungkin Kai yang menenangkannya, ah molla.

"Hyung, aku pinjam kameramu ya? Aku ingin memotret kunang−kunang itu!" Aku berteriak kecil kearah Luhan hyung yang tengah mencicipi teh hangat Sehun.

"Jangan pergi sendirian, Baek!"

"Tenang saja, aku tidak akan jauh kok!" Tanpa mendengar protesnya, aku kembali melangkahkan kakiku masuk ke dalam hutan. Dengan bermodalkan senter, cahaya bulan yang remang−remang dan kamera DSLR yang terkalung di leherku. Untung saja udara sudah tak sedingin tadi. Aku jadi tidak ragu untuk meninggalkan api unggun yang hangat itu. Okay, Baekhyun, sesuai janjimu kau hanya akan memotret kunang−kunang itu dan kembali secepatnya. Hutan cukup menyeramkan di malam hari.

Black Pearl

Klik... klik... klik.

Aku tersenyum saat melihat bidikanku tepat sasaran. Aku menoleh kebelakang dan mendesah lega saat mataku masih bisa melihat kepulan asap dan cahaya dari api unggun kami. Itu berarti aku tak begitu jauh dari mereka. Aku kembali memusatkan kameraku saat ribuan kunang−kunang berterbangan di sekitarku. Yeah, mereka menyukai cahaya. Mungkin itu menjadi alasan makhluk kecil itu berterbangan di sekitar tempat kami camping. Aku juga menghidupkan senterku berharap mereka akan mendekati cahaya yang dihasilkan senter ini.

"Ayo, kemarilah makhluk kecil." ucapku yang terdengar seperti bisikan.

Beberapa detik setelahnya, aku tertegun dan menjauhkan kamera itu dari mataku. Dikejauhan sana, tepatnya di sekitar pohon oak raksasa itu, aku dapat melihat sesuatu terbang dan mengelilingi pohon besar itu lalu menghilang di tengah−tengah rimbunan daunnya. Aku tidak salah, mataku masih bisa melihat dengan jelas. Aku tahu kalau itu... pemuda itu, dalam mode griffin. Tak lama kemudian, aku melihat cahaya seperti api berasal dari dalam rimbunan pohon itu. Hanya beberapa menit sampai api itu menghilang. Apa terjadi kebakaran disana? Tapi kenapa pemuda itu tak muncul juga? Dan kenapa tak ada kepulan asap disana?

Setelah menimang−nimang, akhirnya kuputuskan untuk menghampiri pohon itu. Walau jaraknya lumayan jauh, aku yakin aku hanya membutuhkan sekitar satu jam untuk sampai disana. Ini masih jam delapan, aku rasa Luhan hyung takkan mencariku jika aku nanti kembali sebelum waktu tengah malam. Aku menghembuskan nafas dan mulai melangkahkan kakiku. Dengan cahaya senter yang minim dan pegangan erat di kamera Luhan hyung, aku memupuk keberanian untuk mendekati rawa itu. Semoga aku tidak berakhir disana malam ini juga. Tuhan, tolong lindungi makhluk ciptaanmu yang imut ini.

.

Khhuukk... kkhuukk..

Bau saja aku melangkah mendekati rawa itu, sudah terdengar suara burung hantu yang bersahutan. Astaga, kenapa suasananya menjadi horror begini. Ayo Byun Baekhyun, kau laki−laki. Kau tak boleh menjadi penakut hanya karena suara burung hantu atau apapun. Tinggal beberapa meter sampai akhirnya kakiku sampai di pinggir rawa itu. Oh sungguh pemandangan yang mencekam. Rawa itu penuh dengan tumbuhan mangrove yang khas dan menjuntai tinggi keatas. Akar−akarnya juga lebih besar dan kokoh. Berbeda dengan tumbuhan mangrove di rawa sekitar pantai. Yang jelas rawa ini memang aneh. Ayolah, mana ada rawa diatas gunung. Ini pertama kalinya aku melihat rawa berada diatas gunung dan bukan di dekat laut seperti yang aku ketahui. Rawa itu terlihat tak berdasar, sungguh. Hitam pekat dan membuat letupan−letupan kecil diatasnya. Aku rasa itu ulah belut atau kepiting penghuni rawa lumpur ini.

Bluuup.

Aku tersentak saat menyadari seekor makhluk mirip buaya memasuki rawa lumpur itu dan menghilang ke dalamnya. Eh? Apa tadi itu memang buaya? Oh God, aku ini dimana? Kenapa tempat ini seperti dihuni makhluk−makhluk yang aneh semua. Aku kembali mendengar suara−suara burung hantu yang tampak lebih berisik dari sebelumnya. Aku juga dapat merasakan sesuatu tengah mengintaiku. Aku mundur beberapa langkah dengan keringat dingin yang mengucur dari pelipisku. Aku mengarahkan senterku kearah lumpur rawa di depanku. Terdengar bunyi 'bluupp' dan gesekan seperti orang berenang kearahku. Aku juga dapat melihat letupan−letupan tadi berubah menjadi lebih besar dan semakin mendekatiku. Aku ingin berlari, namun sekali lagi rasa penasaranku mengalahkan segalanya. Dengan tangan gemetar, aku mencengkeram senterku. Masih menyoroti makhluk –yang entah apa, tengah mendekatiku. Mataku terbelalak saat mendapati seekor buaya sebesar mobil dihadapanku. Matanya merah menyala dan mulutnya mengeluarkan liur atau air, entahlah. Tapi itu sangat mengerikan, juga... menjijikkan.

Dengan tubuh yang kaku dan gemetar, aku perlahan mundur. Bibirku bergetar dan tubuhku semakin kaku karena ketakutan. Sungguh, inikah alasannya kenapa tak ada yang mendekati rawa ini? Disini ada makhluk buas yang tidak bisa dikatakan makhluk normal. Iya, mereka pasti monster. Makhluk itu memiliki mata semerah darah dan menyala. Mendekatiku dengan keempat kaki yang merangkak perlahan. Geraman menyeramkan keluar dari mulut besarnya. Aku ingin menjerit tapi suaraku seolah menghilang. Apa yang harus kulakukan? Suara−suara burung yang menggepakkan sayap dan berterbangan diatasku membuatku semakin takut. Makhluk itu menggeram keras dan merangkak cepat kearahku. Saat makhluk itu mulai menyerangku, aku segera ambruk, dan berguling ke kiri, menghindari serangannya.

"Akh!" Aku merasakan perih yang luar biasa di daerah pipiku. Saat aku menempelkan tanganku ke bagian itu, noda merah pekat melekat di telapak tanganku. Aku berdarah, pasti dia berhasil mencakarku. Mataku berputar mencari alat yang mungkin bisa kugunakan untuk melawan, walau aku tak yakin apa aku akan selamat setelah ini. Mungkin aku masih bisa mengulur waktu matiku? Kau terdengar putus asa, Byun. Ah biarlah. Baru saja aku ingin meraih sebuah kayu besar, makhluk itu sudah menggeram di belakang leherku, hingga aku dapat merasakan hawa nafasnya yang sangat dingin di tengkukku. Aku menutup mataku takut. Namun beberapa detik tak ada apapun selain suara geraman lain dan suara−suara seperti sesuatu yang berguling−guling dengan keras. Aku membalikkan badan dan mataku membulat saat melihat makhluk yang kuketahui bernama griffin itu tengah bergelut dengan buaya besar itu. Mereka saling mencakar, mengigit, dan kutahu ini akan seimbang. Aku hanya terpaku tanpa bisa mengalihkan pandanganku dari pertarungan sengit itu. Sampai aku hanya bisa memekik tertahan ketika griffin terhempas kearah pohon besar di samping kananku.

Makhluk besar seperti buaya itu kembali ingin menyerangku, namun griffin segera terbang dan mencengkram leher buaya itu. Geraman sakit keluar dari mulut makhluk buas itu saat griffin mengigit kepalanya dengan paruh besarnya, meninggalkan jejak kemerahan yang aku yakin adalah darah buaya itu. Buaya itu akhirnya menggoyangkan tubuhnya dengan keras hingga griffin terpelanting ke depanku dengan keras. Mereka saling menggeram memekakkan telinga. Burung−burung tampak terbang ketakutan mendengarnya. Griffin memijakkan kakinya di tanah dengan keras beserta geraman yang membuat angin berhembus kencang kearah buaya itu. Sampai akhirnya aku bisa melihat buaya itu beringsut mundur dan akhirnya menghilang di kedalaman rawa.

Griffin itu berbalik dan menatapku dengan kepala yang dimiringkan lucu. Ia tampak melihat ke sekujur tubuhku, seolah mencari luka disana sini. Akhirnya makhluk itu mendekatiku dan mengosokkan kepalanya pada leherku. Aku sedikit terkekeh saat merasakan bulu−bulu halus itu mengusap – usap leher dan tengkukku. Hey, itu daerah paling sensitifku. Aku ingin memeluk lehernya, namun aku dapat merasakan lengan kiriku mati rasa. Sial! Sepertinya lenganku terkilir. Aku meringis kecil saat merasakan pipiku perih. Ah, mana mungkin aku pergi dengan keadaan seperti ini. Aku menatap griffin itu. Dia terdiam sampai beberapa detik kemudian tubuhnya mengeluarkan cahaya yang sedikit demi sedikit aku bisa melihatnya berubah menjadi manusia, masih dengan sepasang sayap di punggungnya. Pemuda itu berjongkok dan langsung memelukku. Sungguh, aku senang. Jantungku kembali berdebar dan jutaan dandelion langsung berterbangan dalam perutku. Aku sangat−sangat merindukan perasaan nyaman ini.

Pelan tapi pasti pemuda itu mengangkatku dengan bridal style yang otomatis membuatku memeluk lehernya dengan erat. Ia menatapku dengan pandangan sendu dan khawatir. Aku hanya tersenyum kecil dan berubah menjadi ringisan saat merasakan perih di bagian pipiku. Ia mendekatkan wajahnya dan mengecup luka di pipiku yang berhasil membuat wajahku memanas. Aku membenamkan wajahku pada ceruk lehernya saat aku mendengar suara sayap yang melebar dengan gerakan anggun. Semakin lama aku dapat merasakan tubuhku terangkat ke udara. Dan dengan sedikit lirikan di sudut mataku, aku sadar, dia telah membawaku terbang melewati rawa−rawa itu menuju pohon oak besar itu.

Black Pearl

"Eungh~" Aku tersadar saat merasakan hangat di sekujur tubuhku. Saat aku mulai membuka mata, aku langsung berjingkat kaget melihat seekor burung dengan api yang menyelubungi tubuhnya, tengah mengusap lukaku dengan sayapnya. Tapi, aku tak merasakan panas, aku hanya merasakan hangat. Dan saat aku meraba luka di pipiku, semua menghilang tak berbekas. Tanganku pun sudah bergerak normal tanpa rasa sakit. Aku masih memandangi burung yang berada di pangkuanku itu. Saat aku ingin meraihnya, kudengar teriakan −yang lebih mirip geraman dari arah pintu. Yang kusadari dia adalah pemuda yang kukagumi itu. Ia meraih burung itu dan meletaknya di peraduannya yang terbuat dari besi. Pemuda itu menghampiriku dan menggeleng − gelengkan kepalanya. Aku mengerti, dia melarangku untuk menyentuh burung api itu, yang seingatku mirip dengan Fawkes, burung phoenix milik Albus Dumbledore dalam film Harry Potter. Ia tersenyum saat menyadari aku telah mengerti. Ia mengusak rambutku sebelum akhirnya memberikan beberapa roti diatas pangkuanku. Aku tertegun.

"Hey, bagaimana kau mendapatkan ini semua?"

Ia tersenyum dan menunjuk kearah hutan. Lebih tepatnya kearah tempatku camping. Aku mengintip dari jendela disamping tempat tidur ini, dan aku mengangguk mengerti saat melihat setitik cahaya seperti api unggun disana. Hey, jam berapa ini? Aku mengecek jam di tanganku dan mendapati angka dua disana. Ini sudah menjelang pagi, lebih tepatnya jam dua pagi. Aku ingin kembali karena mereka pasti mencariku, namun disisi lain, aku tak ingin meninggalkan pemuda ini disini sendiri. Aku... masih merindukannya. Aku tersenyum kecil kearah pemuda itu.

"Kau mencurinya dari teman−temanku ya?" Ia mengangguk membuatku terkekeh kecil. Dia duduk di pinggir ranjang kayu ini dan mengusap rambutku. Aku memejamkan mataku menikmati kelembutan dan kehangatan yang membuat hatiku tenang dan merasa aman. "Gomawo." ucapku lirih hampir tak terdengar. Ia mengangguk lembut, mengerti akan maksudku. Aku mendesah kecewa, pemuda ini belum berbicara sama sekali padaku. Kenapa? "Hey, kau bisa berbicara dengan bahasa manusia?" tanyaku lembut, berusaha untuk tak membuatnya kecewa karena mungkin akan terdengar seperti ejekan. Ia menggeleng dan membuatku menghela nafas kecewa. "Hm, tapi kau mengerti dengan apa yang kukatakan, kan?" Ia mengangguk membuatku mengulum senyuman.

Aku melihat ke sekelilingku, mengamati keadaan rumah pohon yang sepertinya dibangun olehnya sendiri. Walau tampak kacau dan kecil, namun sangat nyaman. Aku bisa melihat kearah hutan lebat yang mengelilinginya, rumah−rumah penduduk, juga tempat kami camping. Itu sangat indah. Dan aku yakin mereka tak bisa melihat rumah ini karena tertutupi oleh rimbunan daun. Dia cukup cerdas menyembunyikan dirinya selama ini. Pantas penduduk desa tak menemukannya beberapa hari ini. Ini membuatku lega. Setidaknya mereka takkan bisa menyakitinya.

"Kau punya nama?" Ia mengangguk dan menunjukkan kalung putih di lehernya. Aku mengamati bandul berwarna bening di dalamnya dan mendapati sebaris tulisan China disana. Juga ada lambang XII di belakang tulisannya. Walau aku payah dalam bahasa China, tapi aku dapat membaca dua kata ini. "Chan... Lie?" Ejaku lalu memandangnya dan ia tersenyum. Membuatku mau tak mau juga mengulum senyum lebar. Aku tahu namanya. Chan Lie, nama yang indah. Dan huruf XII ini sepertinya menunjukkan kalau dia keturunan kedua belas. "Apa kau sendirian? Maksudku... apa tak ada makhluk lain yang sama denganmu?" Wajahnya berubah sendu, ia berdiri dan melangkah kearah jendela, ia mencengkeram sisi jendela. Aku dapat merasakan kesedihan yang ditunjukkannya. Sepertinya aku mengerti. Ia sendiri, tak ada yang lain sepertinya. Seperti yang dikatakan nenek, mereka punah.

Dengan susah payah, aku bangkit dari tempat tidurku dan menghampirinya. Entah dorongan darimana, tanganku mulai terulur dan memeluknya dari belakang. Menempatkan kepalaku di punggungnya, menghirup aroma mint yang memabukkan. Aku ingin ia membagi kesedihannya denganku. Aku mendekapnya erat, berusaha memberikan kekuatan dan kehangatan untuknya. Aku ingin dia tahu kalau masih ada aku. Ia masih memilikiku. Setidaknya untuk sekarang, di waktu singkat yang kami miliki. Dengan perlahan, tanpa melepaskan pelukanku, ia berbalik dan membalas pelukanku dengan erat.

"Kau masih memilikiku, Chan Lie. Aku menyayangimu." ujarku tulus.

Black Pearl

Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Aku tertidur beberapa jam dalam pelukan Chan Lie semalam. Mengingatnya, membuatku tersenyum lebar seperti orang gila. Walau hanya tertidur selama 4 jam, namun itu tak membuatku mengantuk dan malas seperti biasanya. Entahlah, aku rasa Chan Lie membawa pengaruh yang baik untukku. Aku sedang duduk mengamati burung phoenix milik Chan Lie yang bertengger sempurna di besi itu. Aku terus mengamatinya dalam diam karena dia sangat cantik, dan suara kicauannya juga merdu. Ia seolah menyambut pagi dengan perasaan bahagia sepertiku. Lucu.

Aku tak berani menyentuhnya. Aku kapok. Saat aku tak sengaja menyentuh besi yang menjadi tempatnya bertengger, itu terasa sangat panas dan membuat tanganku memerah dan perih. Barulah aku sadar kalau aku memang tak boleh menyentuh burung yang telah menyembuhkanku itu. Aku mengerti. Burung phoenix ini bisa menyentuhku, dan aku takkan merasakan panas justru aku merasa hangat. Namun sebaliknya, jika aku menyentuhnya, tanganku pasti akan terbakar. Sungguh menakjubkan. Tapi, kurasa itu tak berlaku untuk Chan Lie, karena dia bisa menyentuh burung itu semaunya. Bahkan aku baru sadar, kalau Chan Lie membantuku membuat masakan dari api yang keluar dari tangannya. Ini luar biasa.

Pagi ini aku memaksanya untuk memakan masakanku, karena kutahu dia memakan daging mentah selama ini. Yah, hasil berburunya. Tadi ia sempat pergi mencari buruan dan memberikannya padaku. Ia pun membawaku ke sungai dan aku pun dengan telaten membersihkan daging ayam itu, mengulitinya dan membuang isi perutnya. Aku juga menyuruh Chan Lie untuk memotongnya dalam ukuran kecil, tentu dengan cakarnya yang tajam itu. Kami sempat bermain−main di sungai sebelum akhirnya kembali ke pohon oak raksasa itu. Dan akhirnya aku memasakkannya daging ayam ini dengan bumbu seadanya yang kudapat di hutan. Aku melakukannya tepat di bawah rumah pohonnya. Untungnya masih ada tempat untuk membuat tungku memasak. Dan jarak tanahku berpijak ini dari bibir rawa itu cukup jauh, aku takkan khawatir kalau makhluk itu akan menyerang lagi.

"YAAA! Chan Lie! Jangan berlari! Cobalah... kau harus makan makanan matang dan bukan daging mentah!" Aku terus mengejarnya karena ia tak mau memakan masakanku. Aku yang lelah akhirnya memilih duduk di tanah dan cemberut kesal. Ia yang sibuk berlari mengelilingi pohon pun berhenti dan menghampiriku. Ia berjongkok di depanku dan akhirnya membuka mulutnya dengan ragu. Aku tersenyum lebar dan menyuapkan daging masakanku itu ke dalam mulutnya. Ia mengunyahnya perlahan dengan dahi berkerut. Aku terkekeh, dia pasti merasa asing dengan rasa itu. Dan yang pastinya lebih enak dari daging mentah yang dikonsumsinya.

"Bagaimana rasanya?" Ia masih menyerngit heran. Ia pun tersenyum, makin lama makin lebar dan akhirnya mengangguk cepat. Memberikan dua jempolnya padaku. Mau tak mau aku pun tersenyum. Ia mendekat dan memberikan kecupan di hidungku. Membuat wajahku memanas yang aku yakin pipiku sudah memerah. Ia tertawa dan terbang rendah mengelilingi pohon oak itu. Aku masih terpaku, menikmati detakan jantungku yang menggila. Sungguh, aku mencintainya. Bagaimana ini? Aku... tak mau berpisah darinya dan kehilangan moment bersamanya. Bolehkah? Bolehkah aku memilih untuk tetap bersamanya?

Black Pearl

Matahari sudah berganti bulan. Aku terus memandangi kearah hutan dimana aku melihat beberapa titik cahaya yang tengah berjalan. Aku tahu, itu obor dan senter. Pasti semua orang mencariku. Pasti nenek menangis sekarang, pasti hyung juga mengkhawatirkanku. Aku menghela nafas, aku merindukan mereka. Walau ini masih satu hari aku menghilang, tapi aku sudah merindukan suara mereka, guyonan mereka, tawa mereka, umpatan mereka, dan semuanya. Aku bingung. Aku takut mereka khawatir, tapi aku juga takut untuk meninggalkan Chan Lie. Kau tahu? Perasaanku sangat damai bersamanya. Perasaan ini juga makin besar tiap menitnya. Lalu aku harus bagaimana? Tak terasa mataku memanas, aku merindukan mereka, tapi aku tak bisa pergi begitu saja dari sini. Bagaimana dengan Chan Lie? Aku tahu, pemuda itu juga menyayangiku. Aku dapat merasakannya walau pun ia tak pernah mengatakannya. Tiba−tiba aku merasakan sentuhan lembut di puncak kepalaku. Aku memejamkan mataku menyebabkan tetesan liquid bening turun dari kelopak mataku. Aku berbalik dan memeluk pinggangnya, melesakkan wajahku di perutnya dan terisak pelan.

"Aku... merindukan mereka." Kurasakan tubuh yang kupeluk ini menegang, namun ia kembali mengusap rambutku. Aku mendongak dan menatapnya. Ia hanya tersenyum, dan aku dapat merasakan kesedihan di matanya. Aku menyakitinya, aku tahu itu. "Aku akan tetap disini jika kau mau." Ia mengangkat daguku dan mendekatkan wajahnya padaku. Aku merasakan kecupan kecil di bibirku dan refleks aku memejamkan mata walau sebentar. Saat aku kembali membuka mata, ia menggeleng pelan lalu menunjuk kumpulan cahaya itu. Ia mengijinkanku untuk kembali pada mereka. Aku memeluknya lagi.

"Tapi aku mencintaimu..." Ia melepaskan lingkaran tanganku di pinggangnya dan berjongkok di depanku. Kedua tangan besarnya mengusap lelehan airmataku dan mencium kedua mataku, seolah mengatakan kalau dia juga mencintaiku. Ia kemudian beranjak berdiri dan menggandengku menuju ranjang kayunya. Ia menyuruhku berbaring dan aku mengikutinya. Sebelah tangannya meraih jemariku dan menciumnya lembut. Setelah itu, ia mengangkatnya dan meletakkan tanganku di kalungnya. Tak lama kemudian kurasakan kalung itu bersinar. Tak menyilaukan namun cukup jelas dilihat.

"Chan Lie, kalungmu... bersinar?" Ia mengangguk. Ia menuntun tanganku seolah memintaku untuk menggenggamnya, dan aku pun menurutinya. Saat itulah aku merasakan tubuhku bergetar dan lama kelamaan aku seperti melihat bayangan−bayangan acak. Seperti ribuan orang berteriak ketakutan, darah, griffin, dan werewolf. Aku melihat seorang bayi dalam gendongan wanita yang berlarian menghindari serangan werewolf. Aku juga melihat seekor griffin menyelamatkannya, namun bayi itu terjatuh saat griffin membawa wanita itu terbang. Sang wanita menjerit saat bayi itu menangis keras ketika salah satu werewolf mengigitnya dengan sangat brutal. Sang Griffin meletakkan wanita itu di atas batang pohon dan bertarung dengan werewolf itu. Setelah kemenangan telak di dapatkannya, griffin itu membawa bayi sekarat itu kepada ibunya dan membawa keduanya melintasi hutan, masuk lebih dalam hingga sampai pohon oak raksasa ini.

Dari yang aku lihat, griffin itu mencintai sang wanita hingga rela melakukan segalanya. Saat melihat bayi itu menghembuskan nafas terakhir, sang ibu menjerit histeris dan menangis keras. Dengan penuh keyakinan, sang griffin membuka mulutnya dan perlahan tapi pasti keluarnya sebuah bola sebesar kelereng yang keluar dari mulutnya. Benda bulat yang bersinar ungu dan mengambang di telapak tangannya. Benda itulah yang disebut Black pearl, sumber kehidupan griffin. Sang Griffin memberikan bola bersinar itu dan memasukkannya ke dalam mulut sang bayi. Tak lama kemudian, sang bayi langsung menangis keras, hidup kembali. Namun, cahaya segera melingkupi tubuh mungil itu, dan tiba−tiba muncullah sayap kecil di balik punggungnya, membuat sang ibu membelalakkan matanya kaget. Anaknya hidup, namun dengan wujuh setengah monster. Sang Griffin yang terbatuk di sampingnya, membuat sang ibu tersadar dari keterkejutannya. Ia pun langsung menggendong anaknya dan menghampiri sosok yang lemah itu.

"Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau memberikan hidupmu pada anakku, Lie?" lirih wanita itu teredam oleh tangisnya. Sang Griffin menunggingkan senyuman dan meraih tangan wanita itu. Meletakkannya di dadanya yang berdebar dengan sangat keras. Disana wanita itu tahu, sang griffin mencintainya. Sampai akhirnya sang griffin menutup kedua matanya, mati dan hanya diiringi tangis pilu wanita itu. Perlahan tubuh griffin berubah menjadi debu, dan berterbangan di terpa angin. Wanita itu masih menangis dan menatap sang anak di gendongannya. Ia mengukir senyum kecil penuh luka dan mengecup dahi sang anak.

"Aku akan menamaimu Chan Lie..."

Bayangan atau gambaran itu mulai memudar dan berganti dengan kehidupan yang dijalani manusia setengah griffin yang masih kecil bersama ibunya. Sampai matinya sang ibu saat sang griffin kecil berusia sepuluh tahun. Setelah itu tak ada lagi yang memasakkan untuknya, tak ada yang menemaninya, tak ada yang memperhatikannya. Ia hidup apa adanya, mengubah tingkah dan pola hidupnya seperti griffin pada umumnya. Membuatnya terlihat buas, sehingga tak kan ada yang menyadari kalau darah manusia masih berada di dalam tubuhnya. Aku merasakan tubuhku terhempas ke dimensi lain sampai aku mengerjap dan menemukan Chan Lie yang menatapku sendu.

"Chan−Chan Lie..." lirihku dengan mata yang mulai memanas. Ia tersenyum lembut dan menatap dalam mataku, seolah menyampaikan sesuatu melalui tatapan itu. Entah darimana asalnya, aku seperti mendengar bisikan, walau dengan jelas aku melihat bibirnya terkatup rapat. "Black pearl itu tertanam di dalam jantungku. Mutiara hitam itulah sumber kehidupanku. Mungkin suatu saat aku akan kehilangannya, dan itu berarti aku takkan bisa menjagamu lebih lama. Jadi, kau harus kembali pada keluargamu dan memulai hidupmu kembali." Perlahan airmata di pelupukku turun dengan sendirinya. Aku langsung mendekapnya dan menangis kembali. Entah mengapa, aku merasakan dia akan meninggalkanku dalam waktu dekat ini. Bisakah aku melihatnya lebih lama? Apa benar ia akan kehilangan sumber kehidupannya? Tak bisakah aku ditakdirkan untuk bersamanya? Selamanya? Bolehkah?

.

"To be continued—"

Disini, Chan Lie itu Chanyeol.

.