Naruto©Mr Masashi Kishimoto

You're Beautiful

SASUHINA

Rate T

Romance

Happy reading.

Matahariku bersinar mempesona, aku melihatnya dekat pepohonan bunga Sakura, seorang diri, tak adakah yang menemaninya, walaupun sebenarnya dirinya seperti malam yang gelap namun tatapanya begitu hangat.

Pertemuan pertama di stasiun kereta bawah tanah, dia duduk di hadapanku, untuk pertama kali terasa aneh di dadaku, mata ini selalu ingin melirik ke arahnya.

"Hinata apa yang kau lihat?" teman lelakiku, Toneri, membuatku tersadar, pertemuan ini akan segera berakhir.

Rasa tidak rela ku rasakan saat bayangannya semakin menghilang, aku masih ingin menatapnya.

Aku melihatnya lagi, seragam sekolahnya sama denganku, rasa ini kembali terasa, jatuh cinta.

'I'm fallin in love, with him'

Segala tingkah bodoh kulakukan untuk mendapat perhatiannya, lewat di depannya, melewati kelasnya hanya demi melihatnya, aku rindu, selalu merindukanya, bayangannya harus selalu kulihat.

Hal yang tak terduga terjadi, membuat hati ini semakin mengharap.

"Sulit sekali, rak bukunya terlalu tinggi."

"Ini..." oh my God, aku tak bisa bernapas, dia sedekat ini, suaraku tercekat.

"Thank u." suaraku hampir hilang.

"Hn,...any time." suaranya seperti air yang menyegarkan, kutatap punggung tegapnya saat dia berlalu.

Kucari tahu tentangnya, semua sahabat membantuku, pemuda dengan pribadi yang mandiri itu bekerja.

"Hinata kita ke tempatnya saja, kau merindukanya kan?" temanku si cantik Sakura menarik tubuhku, Ino dan Tenten juga.

Hatiku berdebar kencang tak karuan saat netraku yang haus akan kehadirannya tiba-tiba melihat keberadaannya yang semakin kurindukan.

"Hinata kau saja yang pesan, mumpung dia yang sedang berjaga." teman barbieku Ino, mendorong tubuhku lebih mendekat padanya, kukumpulkan keberanianku untuk menyapanya.

"Permisi, aku mau pesan 4 minuman dingin, 2 eskrim, 2 stobery cake dan cinamon roll." kulihat dia sedikit terkejut, matanya yang menatapku membuatku semakin gugup.

"H-Hai...kau bekerja di sini? A-aku dan teman-temanku baru pertama kali ke sini, emm..s-senang bertemu denganmu." ya ampun aku gugup sekali, apa dia menyadarinya?

"Hn..." dia hanya mengguman tak jelas, apa aku mengganggunya? mungkin dia tidak suka aku menyapanya, hatiku terasa sakit.

"S-sampai jumpa." dia mengangguk, rasanya air mataku akan segera tumpah.

Waktu semakin berjalan, bagaimana caranya mengungkapkan perasaanku padanya, rinduku semakin menyiksa, aku menyukainya, sangat menyukainya, diantara banyak pemuda hanya dia yang kutunggu.

Ungkapan cinta datang dari sahabatku sendiri, Toneri, pemuda itu menarikku ke lapangan basket, Toneri yang populer, pujaan para gadis, menyatakan cinta padaku.

"Toneri, maafkan aku punya orang yang kusukai, aku masih menunggunya." dan aku melihatnya, dia menatapku, mengenakan seragam olahraga, pemuda pujaanku sedang mengumpulkan bola, rasanya aku ingin berlari ke arahnya dan menumpahkan rasa rinduku dengan memeluknya.

"Jadi kau tidak menerima cintaku, Hinata?" Toneri bertanya lagi, sungguh aku tidak bisa melihat pemuda lain selain dia, pemuda yang sedang mendorong keranjang bola.

"Maafkan aku...Toneri" temanku Toneri pergi dan aku masih menatap pemuda itu, air mata ini tak bisa kutahan, aku sudah membulatkan tekad untuk menyatakan cintaku sekarang juga, kulangkahkan kaki dan mendekat padanya, dia terlihat gelisah, kusentuh keranjang bola yang sedang dia pegang dan reaksinya membuatku semakin sakit, dia pergi begitu saja, dia tidak menyukaiku, dia membenciku.

Setiap hari kucari keberadaanya, dia tidak ada, kemana dia, aku mencari tau tempat tinggalnya, sebuah rumah sederhana di depannya terdapat sebuah papan nama usaha rumahan, pesanan kue, senyumku mengembang.

Sore ini aku bersantai di rumah, salah satu pengurus rumah mendatatangi kamarku.

"Permisi nona, diluar ada yang mengantar pesanan anda"

"Oh iya,... apa dia perempuan?"

"Bukan dia seorang pemuda seumuran anda"

Aku membuka pintu, kulihat dia yang membelakangiku, kutatap punggung tegapnya, sempurna, di mataku dialah yang paling sempurna, tak ada cacat pada tubuhnya, maupun kepribadianya, mandiri dan menyayangi keluarganya.

"Permisi..."

"Apa anda mengantarkan pesanan ibuku?" dia berbalik dan terdiam menatapku, dia enggan menerima bayaran dariku, dia pergi lagi, selalu seperti itu, aku hanya mampu menatap punggungnya yang menjauh.

Ayah, ibu ingin aku melanjutkan pendidikan di negri orang, lalu bagaimana dengan kisah cintaku ini, aku tak sanggup jika harus jauh darinya, aku tak bisa jika tak melihatnya.

"Hinata sudahlah jangan menangis, mungkin itu yang terbaik" Sakura, Ino dan Tenten selalu ada untuk menghiburku.

"Dia tidak peka, dia tidak bisa merasakan cintamu." air mata ini tak bisa ku bendung lagi, harapanku sia-sia, aku tak bisa menggapai cintaku.

Sudah kuputuskan, aku akan pergi meninggalkanya, tapi sebelum pergi aku ingin melihatnya setiap hari, maka setiap hari itu pula aku datang bersama temanku untuk makan siang, hanya sekedar mengobati rasa rindu.

"Hinata, apa benar kau akan melanjutkan kuliahmu di London?"

"Y-ya.." aku menjawab singkat.

"Lalu kapan kau berangkat?"

"Dua hari lagi, karena aku menunggu seseorang" aku yakin dia mendengar ucapanku, tak bisakah kau rasakan cintaku...Sasuke...

"Bagaimana kalau dia tidak datang?"

"Aku akan menunggunya, dan jika memang dia tidak datang aku akan menyerah." ya aku harus menyerah pada cinta ini, cinta pertama yang tak bisa kumiliki.

Apa yang bisa dilakukan seorang gadis sepertiku selain menangis, bahkan temanku pun tak bisa mengobati lukaku ini.

"Sayang, jika dia tidak mengatakan cinta padamu, maka kau yang harus mengatakan cinta padanya." sosok ibu adalah sosok bijaksana yang patut di jadikan panutan.

"Ya, sayang jangan sampai kau menyesal." sosok ayah yang penuh wibawa membuat anak-anak mereka merasa aman.

"Ayah, ibu tidak keberatan?"

"Orang tua akan melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya." tak bisa kutahan senyum ini, harapanku bolehkah ku dapatkan kembali, demi cintamu, demi dirimu, aku tidak akan menyerah.

Dengan yakin dan sepenuh hati, lewat selembar kertas akan kubuat dia mengerti tentang perasaanku yang selalu mendamba dirinya.

"Permisi, aku ingin menitipkan sesuatu untuk Uchiha Sasuke." pemuda blonde berwajah ceria itu tersenyum.

"Baiklah, dia akan datang sebentar lagi." pemuda ramah yang menyenangkan.

"Terima kasih." senyumanku mengembang, rasa lega di dada begitu terasa, selesai sudah kuungkapkan rasa di hati ini.

'Aku mencintaimu'

Lalu lalang orang-orang yang berada di tempat ini, Bandara, aku masih melapalkan do'a, kabulkan harapanku yang tinggal setitik ini.

Air mataku menetes, yang ingin kulakukan adalah berlari kearahnya, dia berdiri di sana, tatapanya penuh dengan kerinduan, napas yang terputus-putus, dia merentangkan kedua tanganya, mengharap diriku berada di pelukanya.

Aku berlari tak ingin membuang waktu, jarak sepuluh meter terasa satu kilometer.

Hangat, dekapan tubuhnya terasa hangat aku bahagia, penantianku berbuah manis pada akhirnya.

"Kau lama..." usapan tanganya lembut di pipiku.

"Maaf, aku tak seberani dirimu." suara yang selalu ingin kudengar.

"Aku juga mencintaimu, i love u too, i love u so much, Hyuuga Hinata."

"Sasuke, will always love u"

Tak ada yang bisa kugambarkan dalam kebahagiaan ini.

Sasuke and Hinata in sweet love forever.

The End

Sweet ga?...Sasuhina termanis, buat yang ga suka, udah tau pintu keluarnya kan?

Alasan fict ini update duluan dataku yang lain pada ilang g tau kenapa, jadi harus nulis ulang, jadi buat yg nungguin fict aku yang lain tolong sabar ea...plisss

sasuhina69: ga pisah ko, tuch mereka bersatu.

JojoAyuni: nich udh up chap 2, Lis bakalan telat..gomene...dataku pada hilang jadi harus ngetik ulsng..

hyacint uchiha: haha...gomene...ringan maksudku tuch..mm..confliknya gt...hehe..gomene..iya nich abang sasu ko gt yach... :D

Miyuchin2307: iya dech iya...apa sich yang ngga buat Miyuchin... :D

HipHipHuraHura: iya lagi nyoba :p, tenang aja Sasuhina ttap bersatu ko...oh ya km tuch cantik apa cakep sich?...

wangtta: silent love...hm...lanjut donk...2 shot aja..

sasuhina always: hai...cantik/cakep...udah kejawabkan pertanyaanya.

code: nah ketebak kan? Km pinter...

Ok...thank u for u'r review, another reader ..thank u so much.

Omake...

Sasuke berlari dan berlari, selembar kertas yang membuktikan cintanya terbalas masih di genggam erat, Sasuke tidak ingin terlambat.

'Aku memang bodoh, kenapa aku tidak peka?'

'Senyuman itu, tatapan itu, air mata itu, semua tertuju padaku'

'Bahkan kegugupan dan sikap pemalunya itu karena diriku'

'Tunggu aku...Hinata...'

'Jangan tinggalkan aku.'

Sementara itu di Bandara, Hinata dan orang tuanya juga sahabat tercintanya menunggu, gadis itu tampak gelisah, air matanya tak kunjung berhenti, sangat menyakitkan ketika kita harus meninggalkan orang yang sangat kita cintai.

'Aku masih menunggumu, sudahkah kau terima surat dariku?'

Harapan kian menipis saat sebuah panggilan di tujukan para penumpang pesawat.

"Hinata, sudah saatnya kau berangkat." ucap sang ibu, menyadarkan dirinya yang terus menatap pintu masuk bandara.

Pelukan dan salam perpisahan Hinata terima dari orang tua dan juga sahabatnya.

'Selamat tinggal...Sasuke...'

Hinata berbalik dan melangkah, hatinya terasa hampa, jiwanya terasa kosong.

Sasuke sudah sampai di bandara, pintu masuk tujuan utamanya, tidak peduli banyaknya orang yang mengumpat pada dirinya karena tak sengaja menabrak.

Sasuke melihatnya, gadis itu berjalan menjauh, membelakanginya, gadis yang selalu di rindukanya.

Tidak kali ini Sasuke tidak ingin membuat kesalahan kedua kali untuk melepas gadisnya.

'Hinata, aku datang.' ucap Sasuke dalam batinnya.

Gadis itu tiba-tiba berhenti berjalan sekolah mendengar panggilan Sasuke, berbalik secara perlahan, pandangan mereka bertemu, semua orang mengikuti arah pandang Hinata.

Disana seorang pemuda tampan, merentangkan kedua tangannya, keringat terlihat mengucur di pelipisnya, napasnya terlihat tersenggal.

'Datanglah padaku Hinata, peluklah aku'

Seolah mendengar suara batin Sasuke, Hinata menjatuhkan semua barangnya dan berlari pada sang pujaan.

Tubuh mungil Hinata tenggelam berbalut tubuh tegap Sasuke, begitu serasi, seolah keduanya di ciptakan untuk satu sama lain.

"Kau lama,..." ucap Hinata, di sertai air mata yang masih menetes, Sasuke mengusapnya dengan lembut.

"Maaf, aku tak seberani dirimu."

"Aku juga mencintaimu, i love u too, i love u so much, Hyuuga Hinata"

"Sasuke, will always love u" satu kecupan di bibir manis Hinata membuat semua orang melihat ke arah mereka.

"Kau yang sempurna, siapa diriku yang hanya seorang biasa." ucap Sasuke setengah berbisik.

"Karena itulah aku memilihmu."

Tak banyak yang menyukai hubungan mereka, hubungan yang di anggap mustahil bagi semua orang, tapi Tuhan punya rencana sendiri dengan kehidupan mereka.