"Apa aku sudah melewatkan banyak hal?"

Suara seorang laki-laki dewasa.

.

.

.

`Ameru's Fiction`

Disclaimer : All of Character belong to J.K Rowling. This Fiction is mine. :)

Warning : Still OOC, OC, Typo


Chapter 2.

Sontak aku menoleh, melihat siapa yang berbicara dan terdiam. Menyembunyikan senyumku dari pandangannya. Retina mataku menunjukkan bayangan seorang pria dengan surai pirang platina dan kulit pucat mengenakan setelan senada berwarna hitam dengan kancing jasnya dibiarkan terbuka. Tak ada kata selain Tampan yang bisa dilukiskan untuknya saat ini. Pria itu menyunggingkan senyumnya, senyum yang kontras dengan raut wajahnya, membuatnya semakin mempesona dan membuatku membatu untuk beberapa saat. Aku tak mendengar deru mobil, aku juga tak mendengar suara kendaraan lain yang baru saja berhenti untuk—mungkin—mengantarkannya sampai ketempat ini. Aku percaya Ia bukanlah seseorang yang selama ini tinggal berdampingan denganku di sini. Jika memang benar seperti itu aku akan merutuk diriku sendiri yang selama ini tak menyadari punya tetangga yang teramat sangat tampan! Namun samar-samar aku mendengar bunyi Ploop bersamaan dengan suara pekikan Rose yang memamerkan Cake—ku pada seseorang bernama Al beberapa menit yang lalu, entah apa, dan memangnya siapa yang peduli? Tanpa sadar aku mengeluarkan kurva pada bibirku yang mungkin dianggap bodoh oleh mereka.

"Sudahlah, Drake! Jangan berbasa-basi. Ayo masuk!" Ucap Hermione pada lelaki itu yang sontak membuatku tersadar dari lamunan bodohku. Hermione akan melangkahkan tungkainya masuk kedalam rumah sebelum suara Pria itu menghentikannya, "Hei! Penyambutan macam apa itu?" Ia mencoba mengeluarkan argumennya yang hanya dibalas dengan putaran bola mata oleh Hermione.

"Lalu aku harus berbuat apa, Mr. Malfoy?" Hermione sedikit memberi penekanan pada kata-kata terakhirnya. Mereka melakukan conversation dalam beberapa menit seperti menganggap bahwa aku adalah patung taman yang tak bisa bergerak. Oh! Baiklah.

Pria itu mendengus sebentar sebelum Ia memberikan sebuah kantung berisikan tiga botol minuman yang hampir tak kusadari keberadaannya. Aku menebak kantung itu berisikan Wine atau mungkin Gin. Woow! Pesta yang sangat meriah. Pikirku.

"Firewhiskey? Mau meracuni anak-anak, hah?" Ucap Hermione yang terkejut saat melihat isi di dalam kantung yang diberikan Pria yang ia panggil dengan Mr. Malfoy tersebut. Apa itu Firewhiskey? varian Wine terbaru? Berapa lama aku mengurung diri dengan kertas-kertas hingga tak mengikuti pekembangan zaman?

"Aku tak tahu bahwa ada variasi Wine terbaru. Ho! Berapa lama aku berada di dalam gua—ku?" Ucapku lirih yang sepertinya didengar dengan jelas oleh mereka. Terbukti dengan tatapan tajam Mr. Malfoy yang seperti sedang melihat ada sesosok manusia purba dalam diriku. "Aku hanya bergurau. Ya bergurau. Kalian tahu?" Aku mencoba mengeluarkan tawa renyah yang hanya membuat diriku tampak lebih bodoh. Dan mereka masih menatapku tajam, terutama Mr. Malfoy dengan iris kelabu yang sama seperti yang aku miliki.

"Baiklah, hmm 'Mione, mengapa kau harus memasang anti apparate? Kau tahu? Aku harus berjalan 8 mil untuk sampai ketempatmu." Ucap Mr. Malfoy sedetik setelah ia memalingkan tatapannya pada diriku. Dan apa yang dimaksud? Tuhan! Selama itukah aku mengurung diri?

"Anti Apparate?" Ucapku dengan wajah—yang aku yakini—benar-benar bodoh. Dan sepertinya keyakinanku benar. Mr. Malfoy kembali menatapku tajam. Sekilas aku melirik ke arah Hermione yang sudah pucat pasi. Lagi-lagi ia menyiratkan sebuah kekhawatiran yang sebelumnya ia tunjukan saat Rose berurusan dengan Cake—ku. Ada apa sebenarnya? Apa aku salah bicara? Tapi aku benar-benar tidak mengerti.

"Merlin! Mione, dia?" Mr. Malfoy kembali mengeluarkan kata-katanya. Sekarang aku menyimpulkan bahwa dia benar-benar banyak bicara. Ia menatap Hermione dengan tatapan penuh arti seraya sesekali menatap ke arahku bergantian.

"Well, ya, baiklah Draco, sebaiknya kalian masuk karna yang lain pasti sudah menunggu. Dan kau Emely, anggap saja rumah sendiri." Ucap Hermione gugup seraya menyeret tungkainya masuk ke dalam rumah yang segera kubuntuti sebelum sesuatu terjadi pada diriku—tak ada yang dapat menjaminnya, bukan?

"Baiklah," Ucap Mr. Malfoy seraya mendengus sebal dan ikut melangkahkan tungkainya masuk ke dalam rumah.

"Ada apa Love? Terjadi sesuatu di luar sana?" Ucap seorang Pria dewasa lain dengan iris matanya menatap curiga pada sosok Mr. Malfoy yang berjalan tepat di belakangku saat kami tiba pada—mungkin—ruang tamu mereka. "Tidak Dear, semuanya baik-baik saja," ucap Hermione penuh senyum yang langsung melingkarkan tangannya pada tubuh Pria itu.

Aku mengamati ruangan ini dengan seksama, sedikit tertarik dengan yang apa yang tertata di sini. Ruang dengan desain sangat klasik. Dengan stiker dinding bercorak bunga berwarna cokelat muda, beberapa lukisan berlatar kerajaan yang sangat kuno, perabot yang semuanya terbuat dari kayu, tak ada teknologi—Oh Tuhan! Bagaimana mereka bisa hidup tanpa teknologi? Jejeran kue-kue dan banyak sekali gelas piala yang berbeda di atas meja panjang pada sudut ruangan. Dari semua barang yang ada, gelas piala yang mereka gunakan berhasil menarik perhatianku. Maksudku, sebagian orang memakai gelas piala berbahan kristal atas setidaknya terbuat bahan sebening kaca dan bukannya dari timah atau perunggu seperti ini. Aku menyukai konsep rumah mereka. Klasik yang terkesan mewah.

Hermione memperkenalkan aku dengan Pria—dewasa—lain yang ternyata adalah suaminya. "Senang berkenalan denganmu, Mr Weasley. Dan terima kasih atas undangannya." Ucapku ramah sedikit berbasa-basi.

"Ron. Kau bisa memanggilku dengan itu. dan nikmatilah hidangan yang ada." Ucapnya ramah.

"Oh, tentu."

Aku meminta izin untuk melihat-lihat interior ruang tamu mereka sekaligus mengambil segelas air guna membasuh tenggorokkanku yang sedari tadi mengering. Melangkahkan tungkaiku menuju deretan gelas piala seraya mengamati sekitar serta memperhatikan langkahku—banyak sekali orang di tempat ini yang sama sekali asing untukku. Aku mengambil sebuah gelas piala berisi cairan kuning dengan buih di atasnya. Semula aku mengira gelas-gelas itu berisi softdrink yang layaknya dijual di supermarket, namun aku salah. Sepertinya aku harus berhenti menebak-nebak, karena berapa kalipun aku menebak apa yang ada di sini, hasilnya akan tetap jauh berbeda dengan apa yang aku duga. Keluarga ini mempunyai banyak sekali keunikan, banyak sekali kejutan yang diberikan.

"Hallo teman baru Mione." Ucap seorang wanita yang sepertinya ditujukan kepadaku. Aku menoleh, melihat kepada lawan bicaraku. Wanita dengan surai putih berkilau menyapaku dengan wajah berseri. "Oh. Hai."

"Kau pasti gadis si—penunggu—rumah—sebelah. Aku melihatmu mengendarai mobil tadi siang. Dan tidak sengaja memasuki halaman belakang rumahmu. Aku suka bunga Dandelionmu." Ucapnya dengan masih tersenyum dan dengan aksen yang sedikit berbeda.

"Oh, kau melihatku? Benarkah? Dandelion? Ah. Sebenarnya mereka tumbuh secara liar di sana." Ucapku dengan canggung seraya tangan kananku memegang gelas piala yang belum sempat aku minum.

"Ya, beruntung kau bisa memilikinya. Aku ingin memilikinya di rumah tetapi sepertinya tidak mungkin." Ucapnya dengan nada kecewa.

"Mengapa?"

"Aku berkeyakinan bahwa jembalang selalu hidup pada batang-batangnya. Aku tak mau binatang itu merusaknya."

"Jembalang? Serangga, maksudmu?" Satu lagi keanehan yang dibicarakan oleh orang-orang di sini. Sudahlah, aku harus membiasakan dengan ini.

"Yeah, semacam hama pengganggu. Aku Longbottom, Luna Longbottom by the way. Kau?" Ia mengulurkan pergelagan tangannya.

"March, Emely March." Memindahkan gelas piala yang aku pegang pada tangan kiriku, dan menyambut uluran pergelangan tangannya, menyambut jabatan tangannya. Setelah kami melepaskannya aku segera menyesap habis isi gelas piala yang sedari tadi hanya menjadi hiasan di telapak tanganku. Merasa aneh dengan rasa hangat yang baru saja menjalar pada tubuhku setelah aku menelan habis cairan pada gelas piala ini, namun aku menyukainya. "Hmm, mau memberiku informasi tentang minuman apa ini?"

"Butterbeer. Kau menyukainya? Aku lebih suka Pumpkin Juice."

"Is it a butter?" Mencoba memastikannya, aku menghirup aroma yang keluar dari dalam gelas, "—dan maksudmu mereka labu?" Ucapku terkejut dengan penjelasannya. Mengamati cairan-cairan itu dengan seksama, persis seperti seorang gadis yang selalu mengurung dirinya di dalam gua dan baru menampakkan diri untuk datang pada Pesta Glamor.

"Ya, hmm, Emely, sepertinya aku harus mencari Neville. Sampai jumpa lagi."

"Oh ya, terima kasih penjelasannya." Ucapku yang bahkan belum berhenti terkejut. Dan siapa Neville?

Menyadari waktu berjalan dengan sangat cepat malam ini. Melirik sekilas pada jam tangan kecil berwarna kuning yang terikat pada pergelangan tanganku, pukul 10.09 P.M. Tak terasa sudah dua jam aku berada di tempat ini. Berbincang banyak hal dengan Hermione—tentang aku yang menjadi penulis, tentang aku yang tinggal jauh dari keluargaku, tentang perbedaan usia kami yang terpaut enam tahun tetapi Ia masih terlihat sangat muda, terlalu banyak tentang diriku dan sedikit sekali tentang dirinya. Yang aku tahu darinya hanya ia lahir di kota yang sama denganku, Paris—dan sesekali dengan teman-temannya yang juga datang menghadiri acara ini, kecuali Mr Malfoy. Aku tak melihatnya lagi sejak peristiwa dua jam lalu. Aku tak tahu kemana ia pergi, dan aku tak mungkin menanyakannya pada Hermione atau dengan yang lain. Akan ada banyak perlakuan aneh bila aku melakukannya.

"Mungkin aku harus segera kembali kerumah. Aku masih mempunyai tugas yang harus segera diselesaikan." Tiba-tiba aku teringat dengan Harland dan semua ucapannya tentang tulisanku yang tak akan terbit bila aku terlambat menyelesaikan.

"Sayang sekali, tapi yeah, tugasmu lebih penting, 'kan? Mainlah sesekali kerumahku." Ucap Hermione dengan nada yang lembut.

"Oh, Ayolah, rumahku hanya berjarak beberapa meter dari sini. Datanglah jika kau membutuhkan sesuatu," Aku mengembangkan senyumku semanis yang aku bisa, "—dan selamat datang di Spinix Hills, by the way."

"Terima kasih. Semoga harimu menyenangkan."

Memeluknya sebentar serta berpamitan dengan yang lainnya, aku melangkahkan tungkaiku meninggalkan ruang tamu mereka dan melangkah pulang ke rumahku yang nyaman tanpa siapapun.

Aku mendorong pintu rumahku, membuat sedikit ruang untuk diriku masuk ke dalamnya. Mengerjap beberapa saat karna merasa berbeda. Aku merasa rumahku terlihat mengecil, maksudku, rumahku dan rumah keluarga Weasley memiliki luas yang sama namun aku merasa ruangan mereka berkali-kali lebih luas dari ruang tamuku. Entahlah, mungkin aku hanya merasa pusing karna banyaknya orang yang hadir. Melangkahkan tungkaiku masuk lebih dalam menuju dapur, membuka lemari pendinginku dan mengambil segelas besar Banana Ice Cream sebelum aku melanjutkan tulisanku. Menekan tombol 'Turn On' pada media playerku yang segera mengeluarkan alunan musik jazz yang mengalun lembut. Menggeser pintu kaca yang menghubungkan ruang makanku dengan halaman belakang—tempat benih-benih Dandelion tersebar secara asal oleh hembusan angin yang membuatnya tumbuh begitu saja di sana. Aku dapat mendengar suara hiruk-pikuk dari rumah di sebelah rumahku. Tentu saja, halaman belakang rumah kami hanya dibatasi oleh pagar kayu yang tidak tinggi.

Menghempaskan tubuhku pada kursi ayun seraya di temani dengan segelas besar Banana Ice Cream dan semilir angin yang menerbangkan anak rambut yang tak terbawa dalam kepangan rambutku. Dengan alunan musik jazz yang terdengar samar akibat beradunya dengan keriuhan pesta keluarga Weasley. Aku sangat menikmati saat-saat seperti ini, aku mencintai ketenangan. Dan itulah sebabnya aku mengasingkan diriku pada tempat sejauh ini dari rumahku.

Kedua orang tuaku hidup dan tinggal di Paris, Perancis. Tempat yang jauh untuk menjangkauku di Inggris. Aku melarikan diri dari mereka—tidak! Tidak seperti yang kalian pikirkan. Aku selalu menghubungi Mum setiap akhir pekan. Sekedar memberinya kabar bahwa anak gadisnya baik-baik saja. Mereka selalu saja menyuruhku untuk pulang, hidup bersama mereka dan meninggalkan dunia menulis ini. Mum adalah seorang Designer interior yang sangat profesional, meski usianya sudah menginjak empat puluh tahun Ia tetaplah seoarang yang dapat memunculkan ide-ide baru. Dan Dad adalah seoarang pemusik. Ia sangat mencintai Jazz—dan sepertinya itulah yang ia turunkan padaku. Mereka tak ingin aku menjadi penulis cerita fiksi seperti saat ini, mereka tak ingin aku banyak berimajinasi tentang hal-hal yang tidak nyata. Mereka ingin aku menjadi seseorang yang bergelut pada dunia nyata. Entahlah, aku sangat mencintai pekerjaanku saat ini. Aku mencintai karya-karyaku—walau mereka hanya hidup dalam imajinasiku—dan aku mencintai Mum dan Dad, meski aku tak bisa melepas pekerjaanku begitu saja.

Menyesap Banana Ice Cream yang menjadi teman setiaku sambil sesekali iris kelabuku mengamati sekitar. Mengawasi jalannya acara keluarga Weasley seperti singa betina mengawasi mangsanya. Lagi-lagi retina mataku mengangkap bayangan seorang Pria. Bersandar pada pagar kayu yang hanya sebatas pinggang, terlihat mengasingkan diri. Aku bangkit dari dudukku, melangkahkan tungkaiku menuju Pria itu bersandar. Aku tak mengerti mengapa aku melakukannya. Namun aku merasa ada sesuatu yang menarikku untuk menghampirinya. Sedikit banyak aku mengenali sosoknya. Pria dengan surai platina yang ku temui sebelumnya. Mr. Malfoy.

"Mengasingkan diri, eh?" Ucapku yang sudah berdiri di sebelahnya—tidak, tidak benar-benar disebelahnya, aku berdiri di balik pagar yang menjadi batas antara aku dan dia. Ia terlihat terkejut dengan kehadiranku yang sangat tiba-tiba. Memutar tubuhnya, membuatnya berdiri menghadapku dengan tatapan yang tak berubah. "Kau." Hanya itu yang diucapkannya sebelum Ia memutar kembali tubuhnya pada posisi semula—membelakangiku.

"Aku memang baru mengenalmu, Oh! Bahkan aku tak mengenalmu. Tapi, aku tahu kau—" Aku berhenti sejenak, menahan diriku untuk tak bertindak terlalu jauh. Aku baru saja mengenalnya, aku tak ingin Ia menganggapku sebagai Nona—Yang—Ingin—Tahu—Segalanya. "—mengapa tak menikmati acaranya?" ucapku yang sudah mengganti arah bicaraku.

"Bukan urusanmu." Ucapnya dingin.

"Memang bukan, tapi kau mengganggu pandangan bersantaiku." Ucapku acuh seraya memasukkan suapan besar Banana Ice Cream ke dalam mulutku.

"Mengapa kau tidak menikmati pestanya?"

"Aku menikmatinya."

"Jika menikmati mengapa kau berada di rumahmu dan bukannya di dalam sana, bergosip tentang barang-barang baru. Menjijikan."

Kali ini aku tak dapat menjawab pertanyaannya. Apa yang akan aku katakan? Mengatakan tujuanku pulang ke rumah, tentang Harland dan tentang nasip tulisanku?

"Tak bisa menjawab? Sebaiknya kau segera menyelesaikan tulisanmu sebelum bapak tua dalam pikiranmu itu mengamuk." Ucapnya yang masih dengan wajah datar. Bagaimana Ia mengetahuinya? Dan bapak tua dalam pikiranku, apa yang Ia maksud adalah Harland? Bagaimana?

"Mengapa? Mengapa kau—"

"Mengetahuinya? Aku yakin kau tak akan percaya bila kukatakan bahwa aku bisa membaca pikiranmu." Ucapnya yang segera memotong pembicaraanku. Dan aku memang tidak percaya. Ia lebih mirip seperti penguntit, by the way.

Mencoba untuk tidak menunjukkan rasa keterkejutan yang sebenarnya sedang berputar-putar dalam pikiranku aku menjawabnya. "Baiklah, kau menang."

"Memang seharusnya." Ucapnya masih dengan sikap yang sama yang semakin lama semakin membuatku merasa kesal.

"Mengapa kau menyebalkan?"

"Mengapa kau bertanya seperti itu bodoh?"

"Mengapa kau menyebutku bodoh?"

"Kau memang bodoh."

"Aku tidak bodoh."

"Kau Bodoh."

Baiklah. Aku benar-benar kesal padanya. Ini pertemuan yang tak menyenangkan, aku tahu.

"Sebaiknya kau masuk ke dalam rumahmu. Bersihkan dirimu dan kemudian beristirahatlah. Tulis tulisanmu pagi nanti, karna jika kau memaksakannya malam ini, tak akan berhasil. Dan jangan lupa untuk mengunci pintu." Ucapnya kemudian sebelum ia melangkah masuk ke dalam rumah Hermione dan meninggalkanku dengan wajah bodoh yang ku miliki.

Dia mencoba menjilatku atau apa?

To Be Continue~


Nyaaaa~~ akhirnya chap kedua berhasil ku posting! #elapkeringet (?) terima kasih yang sudah mau membaca dan me review.~~ Di sini aku cuma mau ngasih tau pertemuan Emely sama Belahan Hidupnya #salah sama Draco. maaf yang sepertinya berbelit-belit. Saya sudah berusaha semampunya. orz

Saatnya balas Review ^o^)/

WatchFang : Ini Fict kedua ku :) Yang pertama Judulnya 'The Pain' mind review? :D Iya Rose namanya Typo D: Aduuuh! fatal banget! D: aku sudah berusaha buat yang lebih baik. Terima kasih masukkannya. Keep Read and review {}

Guest : Maaf atas keterlambatannya D: sudah di update :) Keep Read and Review :)

killuamalfoy : Sudah dapat jawabannya? :D Keep Read and Review :)

DarkBlueSong : Yeeeey! Cemuuunnguuudh! :D Keep Read and Review :)

driccha : Terima kasih :D Keep Read and Review :)

cla99 : Terima kasih :D iya, mohon bantuannya ^^ sudah di update :) Keep Read and Review :)

Akan diusahakan lebih cepat up date :)

Keep Read and Review :)

~Ameru~