You are Comeback Again

.

.

Disclaimer : Starry Sky © HoneyBee

Halo Minna apa kabar baikkah? Semoga kalian baik semua, Oh ya Maaf ya Author Yuka tidak lama update gara gara banyak tugas plus tambah harus ngerjakin UN kemarin Huhuhuhu. Nah, sekarang Yuka bebas dari kekangan dan aku bisa buat Fanfic deh lagi buat kalian. Yeeeee

Semoga kalian menikmati kelanjutan ceritaku ini ya Minna

Salam Sakyong

Peringatan : TYPO, Cerita Karakter Gaje, Salah Kata, OOC, Salah EYD

.

.

.

Good Reading

.

.

"Apakah kau dengar itu, Miyaji-kun?"

"Hah, dengar apa maksudmu?"

"Itu loh, kayaknya suaranya seperti anak burung sedang berkicau di luar"

"Daripada kau membahas soal itu, seharusnya ada yang ingin aku tanyakan..., KENAPA KAU MASUK KE KAMAR TIDURKU TANPA PERMISI?"

Miyaji langsung menghindar dari Suzuya yang duduk di samping tempat tidurnya. Dengan wajah blushing dan juga bingung Miyaji berusaha mempertahankan harga dirinya dan bangkit dari tempat tidurnya sambil melirik wajah Suzuya yang berwajah polos.

"Sebaiknya kita bicarakan di ruang TV daripada disini"

"Baiklah Miyajiku-kun, Maafkan aku jika tiba tiba aku masuk disini, ada hal penting yang harus kita bicarakan" ucap Suzuya dengan wajah yang sebelumnya ceria menjadi serius

Miyaji menaikkan satu alisnya memandangnya heran dan menghela nafasnya. Berjalan menuju lemarinya mengambil sejumlah uang dan memberikannya pada Suzuya, "adanya cuman segini, jika kau mau" ucap Miyaji polos

"Eeeh, bukan Miyaji-kun, aku disini bukan untuk meminjam uangmu" Suzuya mengembalikan uang Miyaji sedangkan Miyaji di dalam hatinya lega karena uangnya masih aman dari tangan peminjam utang seperti Suzuya.

Meskipun mereka saling membantu namun kadang Miyaji juga jengkel dengan kebiasaan Suzuya meminjam uangnya. Ia berpikir apakah orang tuanya tidak memberikan uang saku padanya

"Lah, apa biasanya kau kesini pasti tidak ada alasan lain selain meminjam uangku?" tanya Miyaji penasaran setelah meletakkan kembali uangnya di lemari.

"Aah, tidak disini aku benar benar butuh dirimu bukan uangmu" jawab Suzuya yakin

"Apa maksudmu?"

"Jadi gini, kamu masih ingat tidak kalo aku dan Kanata akan menghadiri pesta ulang tahun adiknya Yahisa?" Suzuya mulai menjelaskan setelah mereka berdua duduk di ruang TV dan yang jelas setelah Miyaji menyelesaikan mandinya.

"Ingat, memang kenapa?" ucap Miyaji sambil tiduran di sofanya. Saat itu Miyaji berpikir kenapa dia tidak diajak, ada rasa jengkel juga namun ia pasrah karena merasa ia bukan siapa siapa diantara mereka bertiga jadi ia tidak ingin imagenya rusak di hadapan teman teman barunya.

"Kebetulan lusa besok aku ada acara penting, ada permakaman kakekku dan aku harus membantu keluargaku mempersiapkan permakaman" jawab Suzuya dengan muka menunduk.

Miyaji segera bangkit duduk, "Benarkah? Kalau begitu saya turut berduka Suzuya"

"Terima kasih Miyaji, jadi aku besok lusa tidak bisa menghadiri pesta ulang tahun adiknya Yahisa, padahal aku sudah janji pada Yahisa aku akan datang, aku makin bingung apalagi aku baru diberitahu kabar ini tadi pagi"

"Ehm..., benar benar kasus yang rumit ya" ujar Miyaji sambil melipat keduanya tangannya di dadanya.

"Oleh sebab itu aku ingin meminta bantuanmu"

"Kau mau aku berbuat apa?"

.

.

.

"Apa, Kenapa harus aku, Baka!?" emosi Miyaji setelah mendengar permintaan Suzuya

"Ayolah Miyaji, cuman kau satu satunya harapan yang kau punya dari masalah ini" Suzuya memohon pada Miyaji sampai ia sujud di tanah. Hal ini membuat Miyaji sedikit kasian dan juga risih

Miyaji merasa takut akan berbuat salah di pesta yang banyak orang, pernah sewaktu kecil ia membuat masalah di pesta pernikahan kakaknya dulu, sejak saat itulah Miyaji tidak berani bahkan trauma datang ke suatu pesta. Apalagi ia berpikir nanti ia harus berinteraksi dengan wanita wanita yang menggodanya bagaimana ia harus berkata pada mereka.

"Tapi'kan warna rambut kita tak sama" ujar Miyaji sambil melipat tangan tidak yakin dengan rencana Suzuya

"Tenang saja, sudah kubawa cat rambut cokelat sebagai antisipasi dan agar mereka semakin yakin bahwa kau adalah aku" ucap Suzuya sambil menunjuk plastik berlanjaan berisi cat rambut cokelat seperti yang dia katakan.

"Kenapa kau sampai membelikan ini dan melakukan ini padaku, Suzuya" tanya Miyaji heran

"Itu karena kita ini saudara kembar, sebagai kakakmu aku akan melindungimu" jawab Suzuya dengan wajah watados.

"Memang kamu kira ini kayak lagu 'Servant of Evil' Hah?" Miyaji emosi lagi karena perilaku Suzuya yang kadang menyenangkan dan menyebalkan.

"Yaa, kurang lebih gitu, jadi aku ingin kamu menjadi diriku di pesta besok lusa" Suzuya mengulang permintaan untuk meyakinkan Miyaji lagi.

"Ehm, bagaimana ya?" Miyaji berusaha menimbang jawabaan yang tepat karena hal ini juga mempengaruhi harga dirinya. Miyaji duduk di sofa dan berpikir diikuti Suzuya yang juga duduk di dekatnya. Kebetulan Suzuya tidak tau masalah masa lalu Miyaji saat di pesta. Miyaji melihat kemungkinan jika ia menerima permintaan Suzuya pasti ia akan lebih akrab dengan Suzuya dan Kanata plus ia juga akan bertemu dengan Yahisa pertama kali dan kondisinya besok ia menjadi Suzuya jadi banyak orang mengira bahwa ia adalah Suzuya jadi aman jika ia berbuat kesalahan.

Namun, jika ia menolak pasti Suzuya akan jengkel dan memutus tali pertemanan dengan dirinya padahal Suzuya masih punya utang sama dia.

"Sudah Miyaji jika kau tidak ingin, aku bisa bilang ke Kanata nanti jika aku tidak bisa hadir besok lusa" raut muka sedih terpancar di wajah tampan Suzuya yang bangkit dan hampir mau meninggalkan aparterment Miyaji.

"Tunggu Suzuya" Miyaji menghentikan langkah Suzuya

Dengan wajah jengkel yang ditahannya, Miyaji berusaha agar terlihat cool di depan Suzuya

"Yaaa, mau gimana lagi, kurasa aku bisa membantumu, tapi dengan dua syarat" ucap Miyaji dengan senyum licik. Miyaji merasa jika ia akan melakukan sesuatu yang diminta orang lain mau tak mau orang itu harus memberikannya hadiah atau suatu hal. Bisa disebut Gak Iklas. Ia akan tidak melakukan suatu hal yang tidak menguntungkan baginya.

"Benarkah? Terima kasih Miyaji-kun. Apa dua syarat itu?" tanya Suzuya senang Miyaji mau memenuhi permintaanya.

"Syarat pertama kau harus membelikanku kue kue yang manis setelah pesta dan yang kedua kamu harus membayar semua utang utangmu" jawab Miyaji dengan muka serius. Bukannya mukanya dia selalu serius setiap saat.

"Tidak apa apa Miyaji-kun, tapi untuk syarat yang kedua, bisa aku bayar setengah dulu ya" mohon Suzuya

Miyaji menghela nafas tapi setidaknya dia mau mengembalikan uangnya meskipun baru setengahnya, "Baiklah, kupotong setengah untuk"

"Terima kasih banyak, Miyaji. Ini cat rambutnya kutinggalkan disini ya, Bye bye" pamit Suzuya kemudian kembali ke apartementnya

Miyaji menghela nafas panjang lagi, ia merasa baru bangun dari mimpi malam yang panjang langsung ditimpa masalah tetapi ia juga penasaran dengan wajah sahabat perempuan Suzuya. Ia merasa ini juga kesempatan bagus untuk mengenal Yahisa lebih banyak. Miyaji pergi ke tempat tidur dan langsung berbaring di atas tempat tidur hitamnya.

"Jika aku harus menjadi Suzuya, berarti aku harus bersikap sepertinya ya, APAA!?" kaget Miyaji mengetahui fakta tersebut

"Mau tak mau aku harus bersikap ramah dan sering tersenyum sepertinya, Sialan, ini tidak sesuai dengan kepribadianku" Miyaji tidak bisa membayangkan ia akan menjadi sosok Suzuya ( *Author saja juga gak bisa bayangin ) seutuhnya yang bertolak belakang dengan dirinya yang jarang tersenyum, agak judes, dan cuek. Ia belom pernah sekali bersikap ramah, jangankan pada orang orang yang ia temui, keluarganya sendiri saja ia belom pernah bersikap ramah.

"Apakah aku harus latihan ya?" tanya Miyaji pada dirinya sendiri

Miyaji bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju cermin melihat pantulan bayangan dari dirinya. Ia mencoba berlatih mulai dengan hal mudah seperti tersenyum, lalu ia mulai tersenyum di depan cermin. Melihat dirinya tersenyum membuat dirinya tertawa terpingkal pingkal.

"Hahahaha, aku tidak percaya bahwa mukaku selucu ini" kata Miyaji sambil memegang perutnya melihat mukanya yang aneh saat ia tersenyum

Lalu muka Miyaji kembali serius setelah lama tertawa "Kurasa ini bukan pekerjaan yang ringan, tapi demi kue dan uangku kembali, aku akan berusaha ramah" teguh Miyaji lalu kembali berlatih.

.

.

.

.

Tidak terasa sudah dua hari berlalu, akhirnya hari pesta sudah tiba. Di kamarnya, Miyaji bersiap siap akan berangkat ke pesta, tidak lupa ia mengecat rambut pirangnya menjadi cokelat seperti Suzuya. Setelah rambutnya kering, Ia melihat dirinya di cermin.

"Ehm, ternyata Suzuya benar, aku memang agak mirip dengannya" batin Miyaji sambil membelokkan poninya ke kiri.

"Baiklah, aku berangkat sekarang" siap Miyaji lalu pergi meninggalkan apartementnya

Di lorong kamar, ia melihat Kanata sedang menunggu di depan Apartement Suzuya sambil memencet bel pintu terus menerus.

"Hey, Suzuya-kun, kau masih di kamar, ayo buka pintu, kita harus segera berangkat ke pesta itu" teriak Kanata namun tidak ada jawaban dari balik pintu tersebut. Suzuya sudah pergi ke rumah keluarga pagi tadi. Miyaji yang melihatnya cuman bisa pasrah, ia pasrah karena ia harus berpura pura juga di depan Kanata padahal ia pikir Kanata dapat membantunya saat ia tertimpa masalah tiba tiba disana.

"Apa Suzuya tidak memberitahu rencananya ke Kanata ya?" batinnya kesal. Namun mau tak mau ia harus bersandiwara di depan Kanata.

"Hai Kanata-kun, maaf tadi aku harus pergi dulu sebentar" sapa Miyaji sekaligus ia mulai merasa mual dalam hati setelah ia menyapanya dengan menggunakan kata –kun pada Kanata.

"Hallo, Suzuya, akhirnya kau datang juga, aku kira kau pergi meninggalkanku, aku benci ke pesta sendirian nanti" ujar Kanata, sekarang Miyaji tahu salah satu alasan Suzuya tidak bisa menolak hadir di pesta nanti.

"Maaf Kanata-kun, membuatmu kuatir" jawab Miyaji selembut mungkin, ia harus membuang jauh jauh sifat dinginnya selama ini untuk hari ini.

"Tidak apa apa, okay, sekarang ayo kita berangkat sekarang"

"Yaa" jawab Miyaji dan tersenyum. Doanya agar senyumnya tidak terlihat aneh di pesta nanti dan semuanya curiga padanya.

Kanata mengajak Miyaji bareng naik mobil dengannya karena tempat cukup dari tempat aparterment Miyaji.

.

.

Sampai disana, banyak tamu tamu anak muda sedang menikmati pesta tersebut, Miyaji melihat banyak balon dan bunga bunga dipajang disana dan sangat ramai disana. Lampu lampu disana tidak menyaingi cahaya bintang bintang di langit menambah indahnya suasana pesta.

"Waah, banyak makanan disini, Suzuya" ujar Kanata antusias melihat banyak kue, cemilan, dan buah yang menggoda orang orang untuk memakannya. Miyaji juga tergoda melihat banyak sekali makanan manis favoritnya terjejer rapi di meja putih tersebut. Namun, ia ingat bahwa Suzuya makannya tidak sebanyak dirinya mau tak mau ia harus menahan nafsunya.

"Iya, Kanata-kun, kelihatannya semuanya lezat dan manis" jawab Miyaji sambil tersenyum, saat itu senyum Miyaji sempat terlihat aneh namun hampir saja Kanata melihatnnya karena ia fokus melihat makanan makanan yang terjejer.

"Tunggu apa lagi, ayo kita serbu Suzuya" semangat Kanata langsung mengambil piring.

Miyaji tersenyum kecil dan mengangguk. Ia sangat senang karena ia dapat makan gratis disini apalagi belom ada kiriman uang dari orang tuanya jadi ia bisa menghemat tabungan yang ada ditambah Suzuya akan membayar setengah utangnya. Benar benar minggu ini ia beruntung soal keuangan.

Namun, saat Kanata dan Miyaji mendekati meja berisi penuh dengan makanan tiba tiba ada yang menyegat mereka di dari depan. Seorang gadis berambut cokelat panjang mengenakan baju long dress berwarna pink muda panjang, dan bersepatu hak putih tinggi.

"Hey, Apa kalian sudah diberitahu jangan makan dulu sampai acara peniupan lilin dan pemotongan kue ulang tahun selesai!" marah gadis itu membuat Kanata hampir jatuh dan Miyaji terdiam di tempat

"Dia, dia, dia..." batin Miyaji terperangak kaget melihat gadis itu dan ia tidak percaya akan bertemu dengan gadis yang membuatnya terpesona di cafe tempo hari kemarin.

"Hehehehe, maafkan kami Yahisa-chan, lagipula makanannya kelihatannya enak enak semua" ucap Kanata minta maaf, sekarang Miyaji semakin kaget lagi karena gadis di depannya ini adalah sahabat Suzuya dan Kanata yang sering dibicarakan mereka di apartement. Namun, Miyaji tidak bisa terus merasa kaget dan bingung karena ia tetap harus melaksanakan sandiwaranya

"Huh, kurasa kalian nanti akan kuberi hukuman lho"

"Jangan dong, ini'kan lagi suasana senang, jangan buat bikin ruyam, lagipula kami baru datang dan kita baru tahu ada aturan itu, ya'kan Suzuya?" tanya Kanata sambil menyenggol lengan Miyaji yang masih terdiam memandangi wajah Yahisa

"Eeh, iya kami juga baru saja datang, maafkan kami Yahisa-chan" kata Miyaji berusaha bersikap seramah mungkin di depan Yahisa.

Yahisa melipat tangannya sambil menggembungkan kedua pipinya kesal membuat Miyaji makin gemas dalam hatinya. Beberapa menit kemudian...

"Okay, akan kumaafkan kalian, aku senang kalian mau datang" senang Yahisa lalu memeluk kedua sahabat kecilnya. Membuat Miyaji blushing di tempat.

"Yeee, Yahisa mau memaafkan kita, untung saja ada Suzuya disini kalo nggak pasti aku akan dibakar olehnya, Hehehehe" ujar Kanata yang hanya dibalas dengan senyum Miyaji dan pukulan dari Yahisa

"Kalian ini, sudah sebaiknya kalian menikmati pestanya, dan aku senang sekali Kanata-kun dapat datang di pesta ulang tahun Yahiko. Juga Suzuya, aku senang kamu menepati janjimu" ucap Yahisa sambil mengembunyikan muka malunya

"Iya, Yahisa" jawab Miyaji sambil tersenyum kecil karena ia takut jika ia tersenyum agak lebar maka akan terlihat aneh

"Baiklah daripada kita menunggu disini ayo kita duduk disana sambil minum minuman yang tersedia disana" ajak Yahisa menunjuk tempat duduk kosong

"Ayok, aku sudah haus nih" semangat Kanata. Lalu ketiga genk sahabat tersebut duduk sambil menikmati pesta malam di halaman rumah hijau tersebut

"Hey Suzuya, besok jangan lupa ya, seperti janji kita minggu lalu" bisik Yahisa di dekat telinga Miyaji. Hal itu membuat wajah Miyaji sedikit merah malu karena Yahisa berbisik di dekatnya. Miyaji bingung apa yang dimaksud Yahisa tentang janji namun ia tidak bisa menjawab apa apa selain dengan senyum kecil dan jawaban ya. Lalu mereka berdua mengobrol dan Miyaji merasa Yahisa selain cantik ia juga ramah dan lembut selain sifat tegasnya tadi. Mulailah tumbuh cinta di hatinya.

Setelah acara peniupan lilin dan pemotongan akhirnya acara makanan bersama tiba. Karena tidak bisa menahan rasa lapar, Kanata langsung pertama menyerbu makanan lezat di meja tersebut. Diikuti Miyaji dan Yahisa di belakangnya yang hanya tertawa kecil melihat kelakuan Kanata.

Tiga sahabat itu makan bersama di meja sebelumnya, kemudian setelah selesai makan Yahisa mengajak Miyaji ke taman rumahnya meninggalkan Kanata yang masih makan. Tentu saja Miyaji tidak bisa menolaknya. Dua pemuda pemudi tersebut berjalan berdua sendirian dan terlihat seperti pasangan kekasih.

Sampai di taman yang memiliki banyak bunga berwarna terutama bunga mawar putih dan satu air mancur besar di tengah taman. Tidak lupa bangku taman lalu mereka berdua duduk di sana.

"Ada sesuatu yang harus kuberitahu, Suzuya-kun" ucap Yahisa membuka pembicaraan setelah diam sesaat

Karena Miyaji belom pernah berinteraksi dengan perempuan sebelumnya dan ia juga belom pernah melihat Suzuya bersikap di depan gadis. Ia memutuskan untuk tetap bersikap ramah seperti Suzuya di depan Yahisa.

"Apa itu, Yahisa-chan?" tanya Miyaji

"Begini Suzuya-kun, jadi, ..."

.

.

.

.

Ho ho ho, akhirnya chapter 2 selesai deh.

Akhirnya Miyaji bertemu dengan Yahisa pertama kali, meskipun ia berperan sebagai Suzuya di pesta. Namun, disini Miyaji mulai muncul perasaan cintanya maupun cuman sedikit bahkan mungkin ia baru saja menyadarinya nanti.

Oh ya Yuka sebetulnya ingin Miyaji datang ke pesta menggantikan Suzuya, namun Yuka mungkin akan membuat pertemuan antara Miyaji dan Yahisa lebih spesial besok daripada ini, Hehehehe.

Yaudah sekian dari kesimpulan gaje ini. Oke tunggu chapter gaje gaje selanjutnya yak

Jangan lupa review dan favorite yak