Stay
.
BTS fanfiction by soonshimie
BTS ARE GOD'S, THEIR PARENTS'S, BIGHIT'S, ARMIES, BUT THE STORY IS MINE
Taehyungxfem!Jungkook
(WARN! Bahasa non-baku untuk percakapan)
HOPE YOU LIKE IT!
.
.
"Friendship isn't about being inseparable, but about being separable and knowing nothing will change" (Ted, 2012)
14 tahun persahabatannya dengan Taehyung, hanya tiga kali dia dan pemuda itu tidak saling bicara. Yang pertama, ketika Taehyung dan Jungkook sama-sama terkena sariawan hebat dan mereka memang tidak saling bicara secara harfiah. Yang kedua, ketika Taehyung mengutarakan mimpinya untuk sekolah di Amerika dan Jungkook protes dengan cara mendiamkan Taehyung. Dan yang terakhir, adalah lima hari yang lalu, setelah Taehyung mengatakan bahwa Jungkook tidak perlu khawatir dengan kepergiannya ke Amerika. Selebihnya, mereka hanya bertengkar kecil dan quickly make up, paling lama setengah hari tidak berbicara.
Setelah acara Jungkook tidak mau bicara padanya, Taehyung berharap dia tidak lagi mengalami hal yang sama. Baginya, didiamkan Jungkook terasa sangat menyiksa; telepon tidak diangkat, pesan tidak dibalas, dikunjungi malah mengunci pintu.
Dan kemarin, hadiah Natal saja ditolak.
Sekolah libur dua hari setelah Natal sampai awal Februari. Taehyung tidak mau liburannya hanya diisi dirinya sendiri tanpa Jungkook. Gadis itu memang cerewet dan bawel, tapi dengan sifatnya yang suka bicara itu yang justru membuat Taehyung tidak merasa sepi. Apalagi sebentar lagi Taehyung ulang tahun. Kalau masalahnya dengan Jungkook belum kelar, bisa jadi tahun baru ini mereka merayakannya sendiri-sendiri.
"Jungkook tidak mau," Mama tersenyum penuh sesal pada Taehyung yang masih berdiri termangu di depan pagar, "Bibi sudah membujuknya, tapi Taehyungie sendiri kan tahu kalau Jungkook agak-agak keras kepala.
Taehyung menarik senyum kecil lalu menghela napas. Ini sudah usahanya yang keempat menemui Jungkook untuk diajaknya bicara, diselesaikan baik-baik dan mengakhiri program mogok bicara Jungkook yang menyiksanya. "Tidak apa-apa, Bibi. Jungkook sedang marah besar padaku jadi aku maklum kalau dia tidak mau kutemui," ujarnya menenangkan. Tubuhnya sedikit menggigil karena berdiri di luar selama lima belas menit sambil menunggu Mama membujuk anak gadisnya untuk mau bertemu Taehyung. "Terimakasih atas bantuannya, Bi," Taehyung membungkukkan badannya sopan, menyimpan kedua tangannya di dalam saku mantel kemudian melangkah pulang.
Satu yang tidak Taehyung ketahui; Jungkook mengintipnya dari jendela kamar.
Jungkook mendengus, menutup tirai kamarnya dan kembali bergelung dalam selimut. Ini sudah tiga kali Taehyung mencoba menemuinya, empat jika dihitung ketika Natal. Pemuda itu memberinya hadiah, terbungkus rapi dalam kotak persegi panjang dengan pita merah, lengkap dengan senyum ketika memberikannya pada Jungkook.
Tapi Jungkook justru melengos dan mengunci pintu kamarnya. Jelas-jelas menolak Taehyung dengan segenap perasaannya. Biar saja, batin Jungkook waktu itu, biar saja dan aku nggak peduli.
Jungkook mengunci pintu kamar, berada di dalamnya sampai malam. Dia tahu tidak mungkin Taehyung mau terus-terusan di depan pintu kamar yang dikunci. Kehidupan nyata bukan sinetron. Tidak ada dramatis-dramatisan.
"Taehyungie sudah pulang."
Suara Mama membuyarkan lamunan Jungkook. Dia menoleh dan mendapati Mamanya berjalan mendekat lalu duduk di tepi kasurnya.
"Jungkookie," Mama memanggil lembut, "Mama boleh tanya?"
Jungkook mengangguk, menarik selimutnya hingga sebatas hidung.
"Sebenarnya ada apa diantara kamu dan Taehyung?"
Jungkook terdiam. Tahu cepat atau lambat Mamanya pasti akan bertanya tentang hal ini. "Nggak ada apa-apa," jawab Jungkook pelan, "kita baik-baik aja."
"Baik-baik saja tapi kenapa Jungkook menolak untuk bertemu Taehyung?"
Jungkook terdiam lagi. Kini dia membalik tubuhnya membelakangi Mama. "Nggak apa-apa," kata Jungkook, "Jungkook lagi nyoba aja."
"Mencoba apa?"
"Nyoba nggak ketemu sama Taehyung," ujarnya lirih, "supaya Jungkook terbiasa waktu Taehyung nggak ada."
Mendengar jawaban putrinya, Mama tersenyum. Dielusnya rambut Jungkook yang tergerai lembut di atas bantal. "Cuma itu?"
Jungkook mengangguk ragu. "Iya."
"Jungkookie tahu kalau Taehyung kesini sehari berapa kali?" tanya Mama. Jungkook hanya diam tak bergeming dalam selimutnya. "Taehyung kesini sehari tiga kali. Pertanyaannya selalu sama: "Taehyungie bisa ketemu Jungkook?". Mama selalu tidak tahu harus menjawab bagaimana selain meminta maaf karena kamu memang tidak mau diajak bertemu. Taehyung selalu tersenyum maklum kalau Mama jawab begitu. Kalau Jungkookie memang mau mencoba terbiasa untuk tidak bertemu dengan Taehyung, dia tidak mungkin datang kesini berkali-kali."
"Jadi, kenapa?" Mama bertanya lagi, nadanya lembut dan menenangkan, "Jungkookie mau cerita pada Mama?"
Kepekaan seorang ibu tidak akan bisa dikalahkan oleh sensor paling canggih sekalipun. Hanya dengan melihat gelagat saja, seorang ibu akan tahu isi hati anaknya. Maka tidak ada gunanya bagi Jungkook untuk terus berbohong dan gadis itu bangkit, memeluk Mamanya dan mulai menangis.
"Jungkook nggak mau ditinggal Taengie, Ma," isaknya, "Jungkook nggak mau."
"Oguu... dinginnya..."
Taehyung menggosok-gosokkan kedua tangannya lalu dibenamkan ke dalam saku mantel. Dia berada di kios yang menjual bungeoppang di kompleksnya. Ketika dalam perjalanan pulang setelah gagal lagi mengajak Jungkook bicara, Taehyung melihat kios itu di tepi jalan dan tanpa pikir panjang langsung membeli tiga bungeoppang.
"Semuanya enam won," ucapan paman penjual bungeoppang itu menyadarkan Taehyung dari kegiatannya mengamati sekitar. Taehyung menyerahkan enam lembar satu won—bukti kalau Taehyung sedang kere bulan ini, tidak peduli sudah Natal atau tidak—kemudian membawa tiga bungkus bungeoppang itu ke rumah.
Satu bungeoppang ludes dalam waktu tidak kurang dari lima belas detik dan Taehyung mangap-mangap kepanasan. Bungeoppang ini baru matang tapi Taehyung langsung memakannya tanpa ditiup. Sebenarnya cukup ampuh membuat Taehyung merasa lebih hangat meskipun lidah dan kerongkongannya jadi korban.
Kalau ada Jungkook, mungkin gadis itu sudah menegurnya duluan. Bilang "tiup dulu ih! Jangan langsung dimakan!" dan lidah serta kerongkongannya tidak perlu terbakar.
Taehyung mendesah, menatap dua bungeoppang di tangannya. "Kasih Jeongie nggak ya?" gumam Taehyung, "dikasih nanti nggak dimakan. Nggak dikasih siapa yang mau makan."
Di keluarganya, hanya Taehyung penyuka bungeoppang. Ayah, ibu dan adiknya tidak terlalu suka. Tidak tahu kenapa, padahal bagi Taehyung bungeoppang adalah makanan paling murah sekaligus paling enak sedunia. Kalau ibunya yang agak centil itu—ini Taehyung sendiri yang bilang—katanya punya penyakit CFA. Cheap Food Allergic.
"Ya udah kasih aja deh," Taehyung berbalik menuju rumah Jungkook, "dimakan syukur, nggak dimakan ya udah."
Sebenarnya Taehyung tahu jawaban yang sebenarnya apa; Jungkook tidak akan mau memakan bungeoppang darinya karena bayangkan saja, hadiah Natal saja ditolak. Hadiah Natal dari Taehyung untuk Jungkook jelas lebih mahal dari bungeoppang di tangannya ini, tapi Taehyung tidak peduli karena—well, he already missed his Jeongie.
Kedengaran menye-menye, ya? Taehyung mana peduli.
Yang dia pedulikan adalah bagaimana cara agar Jungkook mau bertatap muka dengannya dan berhenti mogok bicara. Lima hari tidak bicara dengan Jungkook setelah 'pengusiran mendadak' itu, Taehyung berpikir siang-malam tentang penyebab kenapa tiba-tiba Jungkook mendadak dingin bahkan menyuruhnya pulang.
"Pulang, Tae. Please."
Taehyung mana mungkin lupa dengan sorot memohon Jungkook ketika memintanya untuk pulang. Jungkook satu kali pernah menatapnya dengan sorot yang seperti itu. Sorot yang menunjukkan bahwa Taehyung harus cepat pergi karena Jungkook kecewa padanya.
Eh? Apa? Kecewa?
Langkah kaki Taehyung mendadak terhenti. Apa tadi kata suara di dalam kepalanya? Jungkook kecewa?
"Ah, dasar mulut ceroboh," gerutu Taehyung sambil menepuk mulutnya. Tahu apa penyebab Jungkook begitu marah padanya dan tidak mau bertatap muka. Alasan yang sama ketika Jungkook protes dengan cara mendiamkannya.
Ini semua gara-gara Amerika-Amerika itu.
Taehyung berlari, memeluk dua bungkus bungeoppang di dadanya. Apa saja yang dia pikirkan lima hari yang lalu? Kenapa baru ingat sekarang?
Napas Taehyung putus-putus ketika pemuda itu sampai di depan rumah Jungkook. Bungeoppang hampir melorot dalam pelukannya; Taehyung menekan bel di dekat pintu dan tidak lama kemudian pintu dibuka.
"Bibi—" Taehyung berusaha bicara, uap mengepul di depan mulutnya, "Taehyungie boleh ketemu Jungkook?"
Mama Jungkook tersenyum. "Temui saja di kamarnya," ujar beliau lembut, "selesaikan masalah kalian, ya. Bibi yakin Jungkook akan baik-baik saja setelah ini."
Taehyung mengangguk, melesat menuju kamar Jungkook yang berada di lantai dua. Pintunya tertutup. Taehyung bisa mendengar degup jantungnya memenuhi gendang telinganya sendiri. Lakukan, Kim Taehyung. Minta maaf dan lakukan. "Jeongie, ini Taehyung. Boleh masuk?"
Tidak ada jawaban.
"Jungkook, kamu di dalam kan?"
"N-ne. Masuk saja."
Jantungnya hampir copot rasanya mendengar suara gemetar Jungkook menjawab dari dalam kamar. Pelan-pelan, Taehyung mendorong pintu itu membuka dan melihat sosok Jungkook tenggelam dalam gulungan selimut tebal, berbaring memunggunginya.
Taehyung berjalan mendekat, meletakkan dua bungkus bungeoppang di meja nakas. Dalam jarak sedekat ini, Taehyung bisa mendengar Jungkook sesenggukan. "Jungkook, aku minta maaf," mulainya pelan. Kedua tangannya bertautan di depan tubuh, bergerak-gerak gugup. "Well, aku emang kedengaran menye dan banci banget tapi—" Taehyung menelan ludah, "I miss you already. Lima hari nggak ngomong sama kamu bikin lidahku gatal."
"Kupikir kamu biasa aja."
Taehyung menatap Jungkook yang kini bangkit dan duduk bersandar di headboard. Hidung bangirnya memerah dan kedua matanya dipenuhi air mata; Taehyung tidak tahu Jungkook sudah menangis seberapa lama. "Kupikir kamu biasa aja nggak ngomong sama aku selama lima hari. Waktu di Amerika nanti, kamu nggak akan ngomong sama aku lebih dari itu. Kupikir kamu biasa aja, sama kayak kamu nyuruh aku bersikap sebiasa mungkin kalau keberangkatanmu ke Amerika itu bukan apa-apa."
"Itu... aku salah omong," Taehyung memberanikan diri duduk di tepi kasur Jungkook, "maksudku, aku mencoba bikin kamu nggak khawatir tapi ternyata kamu nangkepnya beda. Kita salah paham."
"14 tahun masih bisa bikin salah paham, ya?" Jungkook tertawa kecil, nadanya terdengar menerawang, "aku pikir setelah sahabatan 14 tahun ini kamu tahu kalau aku sama sekali nggak suka setiap kamu ngungkit-ungkit tentang Amerika."
Taehyung menarik napas panjang. Mengulurkan tangan untuk mengusap air mata di pipi Jungkook. "Tapi kamu bilang kamu udah maklum dan mendukungku," kata Taehyung pelan.
"Ya bego! Aku memang maklum, tapi kalau belum waktunya—" Jungkook berseru tertahan, dia terisak lagi, "—kalau belum waktunya, bisa nggak sih nggak ngomongin atau nunjukin apapun tentang Amerikamu itu?"
"Kita udah bareng dari kecil, Tae. Memangnya kamu pikir gampang bilang pisah dan pergi gitu aja?" Jungkook mengusap kedua ujung matanya, "kamu mungkin enak, ada lingkungan baru disana, teman baru, pengalaman baru, dan akhirnya kamu menganggap semuanya menyenangkan. Aku disini? Stuck sama keadaan yang gitu-gitu aja, setelah terbiasa apa-apa ada kamu, tiba-tiba kamu nggak ada."
"Dan jauh-jauh dari orang yang aku sayang itu bukan yang aku harapkan," lanjutnya lirih, "tapi karena jadi pilot itu impianmu, aku nggak mungkin menahanmu cuma gara-gara aku nggak ingin ditinggal. Aku sedang berusaha memaklumi, tapi kamu bilang kalau aku harus biasa aja ketika kamu pergi ke Amerika, it hurts me somehow."
Taehyung terdiam. Jungkook memang sering mengomel, bahkan lebih panjang dari yang barusan, tapi Taehyung tidak pernah merasa dia begitu tahu, begitu paham dengan isi hati Jungkook.
Sisa-sisa Jungkook menangis masih ada. Tisu di tangannya digenggam erat hingga kusut. Taehyung bisa melihat hidung bangir Jungkook memerah dan pipinya dipenuhi bekas air mata; melihatnya, Taehyung tahu dia sudah membuat Jungkook benar-benar kecewa. "Maaf egois," kata Jungkook dengan nada sengau setelah menangis, "kalau aku nggak egois, aku nggak bisa bilang yang sejujurnya."
Taehyung mengangguk. Pelan, ditariknya tubuh Jungkook untuk didekap erat, mengelus kepala gadis itu seperti yang biasa dia lakukan ketika Jungkook menangis. "Makasih udah nyadarin Kim Taehyung yang bego ini ya," Taehyung berujar lembut, "udahan marahnya. Sebentar lagi tahun baru, nggak enak kan kalau udah ganti tahun masih jengkel aja sama orang."
Mendengarnya, Jungkook tertawa. "Halah!" gadis itu memukul bahu Taehyung main-main, menjauhkan diri dari pelukan pemuda itu, "bilang aja kalau besok pengen dikasih hadiah! Nggak usah bawa-bawa tahun baru deh!"
Tawa Jungkook terdengar sumbang karena hidungnya mampet. Tapi tetap saja; tawa Jungkook adalah tawa favorit Taehyung di dunia ini. Yang dia sadari betul, tawa itu akan dirindukannya satu menit setelah pesawat lepas landas.
Kalau Taehyung adalah movie goers, maka Jungkook adalah TV series-freak.
Jungkook suka menghabiskan waktunya berjam-jam duduk di depan televisi yang menayangkan channel E! atau NBC atau HBO. Menonton Gossip Girl, Keeping Up with The Kardashians, Modern Family, sampai sitcom The Big Bang Theory.
Blair Waldorf, si "Queen B"-nya Gossip Girl punya satu kutipan yang tidak pernah Jungkook lupakan. Bahwa perasaan itu tidak pernah masuk akal. They get you all confused. Then they drive you around for hours before they drop you right back where you started. Exactly what all girls in the world's feeling. Begitu pula dengan Jungkook.
Jungkook tidak pernah bisa marah dalam jangka waktu yang lama dengan Taehyung. Disamping bahwa Taehyung adalah sahabat baiknya sejak kecil, ada faktor X yang Jungkook tidak tahu kenapa dia tidak pernah bisa terlalu lama merasa marah pada pemuda itu. Sekuat apapun usaha Jungkook untuk marah dan tidak mau bertatap muka dengan Taehyung, ada satu bagian dari dirinya yang merasa kehilangan. Selalu ingin kembali dan melupakan bahwa mereka pernah bertengkar. Jungkook dan Taehyung bisa jadi lebih manis daripada sepasang kekasih, tapi itulah esensi murni dari persahabatan.
Dan juga, melihat senyum bahagia Taehyung yang belakangan ini Jungkook tahu menariknya dimana.
"Jeongie makasih banyaaaak!" anak laki-laki itu memekik kegirangan setelah membuka kado dari Jungkook, mengeluarkan sebuah bomber jacket bergambar Deadpool dan sweater biru dongker dengan lambang Steve Rogers-nya Captain America. Mata Taehyung berbinar-binar senang dan ketika melihat merk-nya. Taehyung menjerit lagi. "Gila! Ini original! Jeongie, ini keren banget!"
Jungkook tersenyum sambil mengamati Taehyung yang mencoba bomber jacket itu dan mematut-matut di kaca. Sweater-nya sudah dicoba lebih dulu dan Jungkook tidak bisa mengalihkan matanya dari pemuda itu; Taehyung kecilnya tumbuh dengan baik dan menjadi pemuda yang sangat tampan.
"Ganteng nggak, ganteng nggak?" tanya Taehyung semangat, berbalik menghadap Jungkook yang duduk di tepi kasurnya.
"Ganteng kok," Jungkook mengangguk-angguk, kedua tangannya dilipat di depan dada. "Ganteng banget."
Hidung Taehyung rasanya ingin memanjang saking bangganya. "Iyalah, Kim Taehyung," ujarnya bangga, "Jeongie, kalau kamu pacarku nih, udah aku serang kali dari tadi. Udah dower bibirnya aku cium terus."
"Idih mesum!" pekik Jungkook, tertawa, "mana ada yang mau punya pacar sukanya ngebokep terus kayak kamu gini? Aku sih ogah banget, lah."
Taehyung nyengir, melepas bomber jacket-nya untuk dilipat ke dalam lemari. "Ya kan kamu. Kalau pacarku nanti, banggalah punya pacar ganteng kayak aku gini."
"Ganteng terus yang dibanggain," Jungkook menggerutu main-main, "bonyok itu muka baru sadar kalau ganteng juga bisa ilang."
"Ya ampun didoain bonyok," Taehyung memonyongkan bibirnya, namun sekejap menghilang dan digantikan senyum lebar. Dipeluknya Jungkook erat-erat sampai gadis itu memekik minta dilepaskan. "Makasih ya, Jeongie sayang. Makasih banget."
"Iya! Makasih terus dari tadi hih!" Jungkook meronta-ronta, "peluknya biasa aja dong! Sesak ini!"
Taehyung tertawa, melepas pelukannya pada Jungkook yang kini menghirup udara banyak-banyak. "Peluk-peluk kamu enak sih. Wangi juga, jadinya betah," katanya polos, "yuk, turun. Ibu bikin makan enak-enak."
Jungkook mengangguk, mengikuti Taehyung turun menuju ruang keluarga yang sudah dipenuhi dua keluarga. Kue tar cokelat hasil kerja keras Jungkook setelah menangis kemarin sudah dipotong rapi di atas meja. Jungkook mencomot sepotong, mengunyahnya lalu duduk di sebelah Taehyung.
"Taehyungie dikasih kado apa, Nak?"
Taehyung tersenyum lebar, melirik Jungkook yang duduk di sebelahnya. "Kadonya keren banget, Bu. Bomber jacket sama sweater, asli merk Marvel!" jawabnya semangat, "tambah sayang aja ini aku."
"Halah, sayang cuma gara-gara baju doang," nyinyir Jungkook, menyikut rusuk Taehyung dan pemuda itu mengaduh-aduh berlebihan.
Ibu Taehyung tertawa, meletakkan semangkuk sup rumput laut yang biasa dihidangkan untuk orang yang berulang tahun. "Berarti sayangnya Jungkook beneran ini," kata Ibu, tersenyum lalu lembut mengusap rambut Taehyung, "selamat ulang tahun, Taehyung-ah. Jadi anak kebanggan Ibu dan Ayah, ya."
Taehyung mengangguk lalu memeluk ibunya. "Makasih, Bu. Makasih udah mau Taehyung repotin dari kecil sampe segede gini."
Ibunya tertawa. Bergantian dengan sang ayah mengucapkan selamat ulang tahun pada putra sulung mereka. "Udah besar si Kakak, jangan suka nonton yang nggak bener, ya."
Wajah Taehyung kontan memucat. "E-eh, nggak kok, Yah. Nggak pernah nonton yang aneh-aneh."
Kalau saja Jungkook tidak ingat tempat dan tidak punya rasa kasihan pada Taehyung, pasti dia sudah berteriak sambil mengayunkan majalah-majalah dewasa milik sahabatnya itu. Jadi Jungkook hanya menyeringai melihat Taehyung yang kelihatan gugup karena hampir ketahuan.
Setiap tahun, ulang tahun Taehyung dirayakan bersama dengan tahun baru. Keluarga Jeon dan Kim akan berkumpul bersama secara bergiliran, tahun kemarin di rumah Jungkook dan sekarang di rumah Taehyung. Ada banyak makanan yang dihidangkan di ruang keluarga, hasil masakan Mama dan ibu Taehyung.
"Jeongie."
"Hm?" Jungkook mendongak dari piring kuenya.
"Nanti waktu tahun barunya udah lewat, ikut aku sebentar, yuk."
"Ha? Kemana?"
Taehyung mengedipkan mata. "Ada, deh."
Kening Jungkook dikerutkan heran. "Nggak usah sok main rahasia ih."
"Heh memangnya kamu nggak?" balas Taehyung, "yang buku sketsamu itu kamu main rahasia juga sama aku."
Jungkook mendengus, kembali melahap kue tarnya yang entah keberapa—sekalian merasa puas dengan hasil kerjanya. Tapi Taehyung benar juga, sih. Buku sketsa yang berisi artworks tentang Taehyung yang dia rahasiakan dari pemuda itu. Dan sudah terbengkalai selama hampir seminggu. Jungkook bahkan tidak menyentuhnya sekalipun.
"Kookie noona."
"Iya, Haejun-ie?" Jungkook tersenyum, mengulurkan tangan pada adik laki-laki Taehyung yang tampak mengantuk itu, "Haejun-ie sudah ngantuk, ya?"
Haejun mengangguk, mendekat pada Jungkook untuk rebahan di pahanya. "Haejun-ie tidur sini ya, noona."
Jungkook tersenyum lagi, membiarkan Haejun tidur berbantalkan pahanya. Haejun sudah sama seperti adiknya sendiri. Hidup sebagai anak tunggal, hanya dengan Taehyung dan Haejun-lah Jungkook tahu rasanya memiliki seorang adik dan saudara.
"Aku juga ngantuk kalau gitu. Sini, mana pahamu."
"Hah?" Jungkook melongo ketika Taehyung menarik satu kakinya yang lain dan menjadikan pahanya sebagai bantal, lalu tidur menghadap perut Jungkook. "Heh apa! Jangan gini ih, geli tahu!"
"Diam," potong Taehyung, memejamkan mata dan bersedekap.
Jungkook menggerutu, menyandarkan punggungnya di dinding sambil menatap dua anak laki-laki yang tiduran berbantalkan pahanya. Haejun sudah tertidur pulas sementara Taehyung hanya sok-sok tidur. Kadang Jungkook kesal juga kalau pahanya dijadikan bantal. Memangnya seempuk itu sampai nggak mau pakai bantal beneran?
"Nggak ngantuk gitu. Ngapain sok-sok tidur," celetuk Jungkook.
"Memangnya kalau nggak ngantuk nggak boleh ya tiduran gini?"
"Iyalah. Kakiku kesemutan. Lagian ada banyak bantal di pojokan, males banget sih buat ngambil," Jungkook menggerutu, berusaha membetulkan posisi kakinya tanpa membuat Haejun yang sudah tidur terbangun.
"Pahamu lebih empuk dari bantal," jawab Taehyung, membuka mata lalu menyeringai iseng.
"Heh kurang ajar," desis Jungkook tidak suka, menyentil kening Taehyung cukup keras hingga pemuda itu mengaduh, "pergi sana. Pergi pergi," usirnya, mengguncang kaki kirinya yang dipakai bantal oleh Taehyung.
"Aaa Jeongie... jangan gitu," Taehyung merengek, masih mempertahankan paha kiri Jungkook dengan merangkulnya, "beneran ngantuk ini aku."
"Katanya mau ngajak aku ke suatu tempat. Lima belas menit lagi tahun baru ini."
Taehyung hanya mendengung-dengung tidak jelas, menyamankan posisinya dan tahu-tahu sudah tertidur. Meninggalkan Jungkook yang menggerung kesal karena dua kakinya dijadikan bantal dan membuatnya hanya bisa duduk tegak sambil bersandar di dinding. Namun akhirnya, dia tersenyum juga.
"Dasar nyebelin," gumam Jungkook, mengusap rambut Taehyung yang dicat cokelat gelap, "selamat ulang tahun dan tahun baru juga, Kim Taengie."
Setiap manusia memiliki, paling tidak, satu momen yang tidak ingin cepat berakhir. Seumpama, momen dimana ada sale Furla yang membuat perempuan-perempuan sosialita belingsatan dengan harga-harganya, momen dimana kamu sedang pergi ke sebuah tempat yang keren dan tidak ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu, momen dimana kamu selalu ingin mengabadikannya agar terus tersimpan dalam memori.
Karl Lagerfeld pernah bilang, "What I like about photographs is that they capture moment that's gone forever, impossible to reduce." Cara untuk mengabadikan setiap momen paling ampuh memang dengan kamera, tapi setiap orang punya cara untuk mengabadikan momen berharga mereka. Karl Lagerfeld melakukannya dengan fotografi. Charles Bukowski menuliskannya dalam bentuk buku. Frank Sinatra bercerita tentang masa mudanya, all about girls and wine, di lagu It Was A Very Good Year dan menjadi lagu yang paling banyak dikover. There's million ways to you capturing the moments you don't want to fade easily. Jungkook melakukannya dengan membuat artworks untuk Taehyung.
Buku sketsa itu sudah nyaris penuh. Gambar-gambarnya disitu memang bukan gambar yang rumit, simply aesthetically pleasing, a Tumblr artworks every girls gonna love a lot. Hanya tinggal 22 halaman lagi dan buku artworks itu akhirnya jadi.
Satu-satunya masalah kenapa sampai minggu ketiga bulan Januari ini buku itu belum selesai adalah jadwal bimbel yang mengharuskan murid kelas tiga untuk hadir.
Liburan musim dingin dimulai sejak bulan Desember hingga Februari. Begitu masuk, murid kelas tiga akan dihadapkan dengan berbagai ujian-ujian kelulusan. Murid-murid kelas satu dan dua bisa menghabiskan waktu liburan mereka dengan bersantai di kamar atau jalan-jalan ke negara tropis agar terhindar dari menggilanya hawa musim dingin. Tapi untuk murid kelas tiga seperti Jungkook dan Taehyung, mereka tidak punya alasan untuk tidak belajar.
"Aduh, aku lupa trigonometri."
Taehyung sedang asyik berbaring dengan satu tangan menyangga kepala sambil menonton Arrows di televisi dan sebungkus raksasa popcorn di dekatnya sementara Jungkook pusing tujuh keliling dengan soal-soal matematika di hadapannya. "Istirahat bentar," kata Taehyung, "jangan dibuat mikir terus gitu. Bisa botak kamu lama-lama."
"Ya gimana nggak dibuat mikir kalau aku nggak hapal rumus gini," keluh Jungkook, membuka buku catatan matematikanya untuk mencari rumus trigonometri.
Taehyung mendengus, meraup segenggam popcorn dengan tangannya. "Serius banget sih. Nanti juga inget-inget sendiri kok."
"Mending diem deh daripada komentar yang nggak membantu gitu," kata Jungkook kesal, "tahu kok yang pinter matematika. Sebentar lagi jadi pilot, ngehitung nggak pakai jari tapi pakai awang-awang."
"Mulai lagi, kan."
"Apa?" sergah Jungkook sewot. Taehyung hanya menghela napas, tetap berbaring di posisinya. Masih asyik menonton televisi. "Taengie, Jimin nggak jadi kesini?"
"Nggak tahu. Paling juga udah ketimbun salju di tengah jalan."
"Heh!" Jungkook tergelak keras, melempar plushie Ryan di pelukannya ke arah Taehyung, "seenak jidat kalau ngomong! Kedengaran sama Yoongi mati dipiting kamu."
"Ya dipiting balik lah. Cewek kurus kayak dia mana kuat ngelawan cowok."
"Jangan salah lho. Kemarin dia berhasil bikin tiga tulang kering memar-memar."
"Oh, yang gerombolannya Jooheon itu ya? Gila emang Min Yoongi. Anak segede Jooheon bisa aja dibuat takluk."
Jungkook tersenyum, memilih untuk menutup buku matematikanya dan berbaring telungkup di depan Taehyung. "Makanya, kalau Jooheon aja bisa tumbang apalagi Kim Taehyung yang kurang gizi ini kan?"
"Kurang gizi tapi tetep ganteng," Taehyung menoleh, seringai lebarnya muncul.
"Narsismu kapan sih berkurang?"
"Kayaknya nggak bisa deh. Selama aku masih ganteng, ya aku masih tetep narsis."
"Nggak ada manfaatnya ngomong sama kamu," gelak Jungkook, ikut mengunyah popcorn asin di pelukan Taehyung. Taehyung hanya tersenyum, membetulkan posisi sanggahan tangannya dan kembali asyik menonton televisi.
Jungkook tidak punya interest dengan serial televisi yang ditonton Taehyung sekarang di rumahnya. Yang dia sukai jelas serial televisi sekelas Modern Family dan bukannya heroes seperti yang disetel sekarang. Tapi karena Taehyung yang menguasai televisi lebih dulu dan Jungkook sedang tidak ingin menonton suatu serial, jadi gadis itu mengikut saja.
Lagipula, dia jauh lebih interest dengan penonton Arrows satu ini.
Teman-teman di sekolah bilang kalau Taehyung terlalu tampan untuk jadi anak sekolahan biasa. Seharusnya dia ada di sekolah elit, atau sekolah seni sekelas SOPA dan menjadi salah satu trainee di agensi musik besar. Dulu Jungkook sering tertawa kalau Taehyung dibilang ganteng dan nyaris immortal.
"Kalian bilang anak kayak gini ganteng?" Jungkook menunjuk hidung Taehyung sebelum tertawa terpingkal-pingkal, "kayaknya kalian harus operasi lasik deh. Spesies monyet gini bisa-bisanya dibilang ganteng."
Kalau Jungkook sudah bilang begitu, Taehyung tidak akan segan-segan melingkarkan lengannya di sekitar leher Jungkook untuk mencekiknya.
Dan sekarang, Jungkook tahu alasan kenapa Taehyung selalu banjir cokelat dan gadis-gadis di sekolah mereka scraving for his attention.
"Taengie, kenapa kok kamu dari dulu nggak pernah cari pacar?"
Taehyung hampir tersedak popcorn karena pertanyaan popped up Jungkook barusan. "Hah? Maksudmu?"
"Iya," Jungkook mengangguk-angguk, "dari dulu kan kamu sering dikasih cokelat, surat-surat juga menuh-menuhin lokermu. Tapi kamu nggak pernah keliatan kasih cokelat atau kasih surat ke seseorang. Kenapa kamu nggak niat cari pacar?"
Taehyung mengernyitkan keningnya heran sambil menatap Jungkook. "Kenapa kok tiba-tiba nanya begitu?"
"Iseng. Tiba-tiba aja kepikiran."
Taehyung hanya mengedikkan bahunya, kelihatan acuh tak acuh. Jungkook pikir gestur tadi sudah jadi jawaban Taehyung; pada dasarnya, Taehyung adalah pemuda yang kelewat cuek. Tapi ternyata masih ada jawaban asli dari mulutnya. "Karena kalau aku punya pacar, ada yang cemburu karena perhatianku kebagi ke dua orang."
Kini ganti Jungkook yang mengernyit bingung. "Maksudnya?"
"Iya. Nanti ada yang marah-marah dan bilang aku lebih sering main sama pacarku," jelas Taehyung sambil tersenyum iseng, "karena waktu itu ada yang bilang ke aku, kalau orang sudah punya pacar, aku bakal lebih sering menghabiskan waktu dengan si pacar daripada sahabat sendiri. Ngomongnya pakai nada yang nyeremin, lagi. Ya takut lah aku."
Jungkook mendengus, mendorong wajah Taehyung dengan telapak tangannya. "Bales nih bales."
"Lho, apanya yang bales," Taehyung tergelak, "betul kan aku? Nanti kalau aku punya pacar, waktu aku ke bandara yang nangis malah dua orang. Kewalahan juga kan nanti aku kalau harus nenangin dua cewek yang lagi nangis."
Jungkook mendengus lagi, namun tidak dipungkiri juga kalau dia cukup senang dengan jawaban Taehyung. "Tapi maaf aja, ya. Aku nggak bakal nangis waktu nganter kamu ke bandara nanti."
Taehyung hanya tertawa, mengangguk, lalu menyingkirkan kepala Jungkook yang menghalangi pandangannya.
Jungkook tersenyum, meraup segenggam popcorn dan mengunyahnya sambil mengamati wajah Taehyung.
Inilah salah satu momen-momen terbaiknya dengan Taehyung yang Jungkook harap tidak akan cepat berakhir.
"Argh... satu minggu lagi..."
Jungkook membubuhkan tanda silang di tanggal 23. Hari Senin, salju turun tidak banyak meskipun berada di pertengahan musim dingin. Satu minggu lagi bulan Januari berganti dengan Februari; yang artinya ujian semakin dekat, kelulusan di depan mata, dan keberangkatan Taehyung ke Amerika hanya tinggal menghitung hari. Gadis itu menghela napas, beranjak dari kursi meja belajarnya untuk kembali bergelung di kasur.
Jungkook sengaja tidak ikut bimbel hari ini. Dia sedang malas dan suntuk belajar, jadi dia berencana untuk me-time dengan diri sendiri dan melupakan sejenak urusan ujian dan tetek bengeknya.
Dan oh, ya. Sudah tiga hari sejak belajar bersama di rumah dan Taehyung belum datang lagi. Dia sibuk mengurusi keperluannya untuk pergi ke Amerika, memasukkan nilai, dan terakhir hari ini, interview calon murid US Aviation Academy untuk kelas internasional dari Korea Selatan.
Jungkook menghela napas, memeluk bantal empuknya dan menatap ponselnya yang tergeletak di samping bantal. Waktunya dengan Taehyung semakin sedikit dan mengingatnya membuat Jungkook mau tidak mau jadi sedih. Membayangkan bagaimana dia selanjutnya setelah Taehyung berangkat ke Amerika, bagaimana dia selanjutnya tanpa Taehyung selama pemuda itu berada di negeri orang lain. Jauh darinya dengan perbedaan waktu yang drastis ditambah kesibukan kuliah yang pasti menggila.
Taehyung dengan sekolah pilotnya dan Jungkook dengan sekolah kedokterannya. Bisa dibayangkan bagaimana sibuknya mereka nanti?
Mendesah, Jungkook membenamkan wajah ke bantal. Jangan, jangan menangis lagi. Dia harus memahami dan mengerti juga mendukung semua mimpi Taehyung meskipun itu artinya harus mau mengesampingkan perasaan. Jungkook yakin Taehyung juga merasakan hal yang sama. Jungkook yakin sepenuh hati tentang hal itu.
Mungkin saja alasan Taehyung tidak menunjukkan perasaannya pada Jungkook adalah dia tidak ingin Jungkook jauh lebih sedih lagi. Sejak dulu, Taehyung selalu berperan dalam melindungi Jungkook, menjadi kekuatan ketika Jungkook merasa sedih. Karena laki-laki harus pandai menyembunyikan emosi, ya kan?
Jungkook selalu yakin tentang hal itu.
"Nama?"
"Kim Taehyung."
"Umur?"
"19 tahun."
"Sekolah?"
"SMA Hakwon. Kelas 12-2."
"Tidak berencana untuk melanjutkan ke universitas negeri?"
Taehyung menggeleng, menatap seorang laki-laki muda berpakaian konservatif di depannya. "Masuk sekolah penerbangan sudah jadi cita-cita saya sejak kecil."
"Pertanyaan ini mungkin umum dan sering kamu dengar," laki-laki itu mendongak dari kertas berisi daftar pertanyaan, "ah, sebelumnya, sudah tahu estimasi waktu selama flight training, kan?"
"Iya. Saya sudah lihat di website."
"Ambil degree di program pilot, ya?"
"Iya. Setelahnya saya melanjutkan di International Flight Training."
"Kalau sudah dikirim untuk magang, misalkan kamu ditempatkan di maskapai komersial Korea, kamu mau melamar pekerjaan dimana?"
"Korean Air," Taehyung menjawab lugas.
"Alasan?" si laki-laki bertanya taktis. Nadanya tegas dan terasa sangat formal.
Taehyung agak tergagap ketika menjawab. Dia tidak terbiasa di interview seperti ini. Sebelum masuk ruangan interview saja perutnya sudah mulas tidak karuan. "Eh... itu... sejak kecil saya sudah punya cita-cita untuk kerja di Korean Air. Iya. Cuma itu alasannya."
Si laki-laki interviewer tersenyum, menuliskan sesuatu di daftar pertanyaannya. "US Aviation Academy ada di Amerika. Akademi penerbangan kami adalah yang terbaik dan di sekolah terbaik tidak ada namanya istirahat dan waktu longgar. Tidak sedikit murid kelas internasional yang tidak pulang selama 4 sampai 5 tahun, melewatkan Natal dan liburan lainnya untuk belajar. Kamu siap untuk itu?"
Taehyung menelan ludah. Kedua tangannya terkepal di atas paha. Pertanyaan seperti ini jika dibayangkan memang terdengar mudah, tapi ketika berada dalam posisi yang sesungguhnya, menjawab saja terasa susah.
Taehyung sudah tahu apa saja resiko jika dia memilih untuk sekolah jauh dari keluarganya. Bisa saja dia tidak pulang selama bertahun-tahun karena menjadi pilot yang baik jelas bukan perkara yang gampang. US Aviation Academy memang terkenal dengan lulusannya yang bekerja sebagai pilot ternama di berbagai maskapai penerbangan komersial manapun di dunia. Mereka mencetak pilot yang berdedikasi dan berkualitas tinggi, yang sudah pasti dilalui dengan banyak hal yang tidak mudah, termasuk merelakan waktu istirahat dan santai-santai seperti halnya anak muda lainnya.
Tapi ini impiannya. Ini impian Taehyung sejak kecil. Dan dia hampir sampai di pintu gerbang. Tidak mungkin dia memilih untuk memutar dan melupakan cita-citanya, kan?
Menelan ludah lagi, dengan kedua tangan yang masih terkepal di atas paha, Taehyung mengangguk.
Sekelebat wajah Jungkook melintas cepat dalam pikirannya.
"Ya. Saya siap."
Pengumuman diterimanya Taehyung di US Aviation Academy bertepatan dengan selesainya ujian Matematika.
"Soalnya mantep banget nggak sih?" cerocos Yoongi setelah bel dibunyikan tanda ujian hari ini selesai, "aku nggak habis pikir kenapa sekolah bikin soal sesulit itu. Kepalaku jadi mau pecah."
Jungkook mengangguk setuju sambil membereskan alat tulisnya. "Kayaknya itu belum seberapa sama ujian masuk universitas nanti," kata Jungkook sambil meringis, "orang-orang bilang CSAT susah banget. Aku jadi takut."
"Iya. Sampai ada orangtua yang berdoa nggak selesai-selesai ya di depan pagar universitas," tambah Yoongi, "yang enak si Taehyung tuh, nggak pakai CSAT tapi udah dapet sekolah."
Jungkook tertawa, lagi-lagi mengangguk setuju. Gadis itu melangkah keluar kelas, beriringan dengan Yoongi.
"Pengumumannya kapan?"
"Eh? Pengumuman apa?"
"Itu, sekolahnya Taehyung."
"Oh," Jungkook manggut-manggut namun kemudian menggeleng, "aku nggak tahu. Taengie nggak pernah bilang apa-apa soal kapan pengumuman dia diterima di AA."
"Kalau berhasil diterima, kapan berangkat ke Amerika?"
Jungkook pikir dia sudah memahami dan maklum. Tapi satu denyutan nyeri di ulu hatinya menunjukkan dengan jelas bahwa dia masih belum bisa melakukannya. "17 Februari. Sehari sebelum wisuda."
"Ah," Yoongi tersenyum tipis, merasa tidak enak tiba-tiba. Meskipun Jungkook terlihat baik-baik saja, tapi bagi Yoongi jelas terasa kalau gadis itu masih berusaha. "Wisuda tanpa Taehyung, ya. Pasti penggemarnya bakal banyak yang sedih."
Jungkook tertawa pelan, berjalan menyusuri lorong dengan buku di pelukannya. "Nggak ada yang bisa diajak foto, ya," tambah Jungkook, tersenyum kecil, "Yoongi harus mau tahan cemburu ya. Jimin pasti banyak yang minta foto bareng."
Yoongi mendengus. "Biarin. Aku juga nggak peduli. Apa bagusnya bisa foto bareng sama Jimin. Nggak ada keren-kerennya."
Love-hate relationship antara Jimin dan Yoongi ini memang sudah santer ke seluruh sekolah. Siapapun tahu kalau dua sahabat yang jadi pacar ini—cliche banget sampai Jungkook dan Taehyung tidak bisa berhenti tertawa waktu tahu Jimin dan Yoongi pacaran—punya hubungan yang tidak biasa. Suka saling mengejek, menertawakan satu sama lain, tapi juga saling suka—sebagai kekasih.
"Jeongiee!"
Berbeda dengan Jungkook dan Taehyung yang bilang hubungan mereka murni persahabatan—meskipun Yoongi sebenarnya juga curiga dengan rasa suka berkedok sahabat. Karena baginya, kalau cuma sahabat antara laki-laki dan perempuan, tidak ada yang namanya merangkul dari belakang sambil melingkarkan lengan di leher.
"Ada apa, Taengie?"
Dan panggilan semanis Taengie-Jeongie itu, is that normal for "pure friendship"?
"Jeongie lihat deh!" Taehyung berseru kegirangan, menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan sebuah e-mail pada Jungkook. Jungkook mengernyit, namun sedetik kemudian dia menahan napas melihat dua kalimat yang diberi efek bold itu.
Congratulations, Mr. Taehyung Kim. You are accepted to be our US Aviation Academy's student.
"T-Taehyung kamu—" Jungkook mencicit, tidak sadar memanggil Taehyung bukan dengan that-Taengie-things, "—kamu diterima?"
Taehyung mengangguk riang. Rangkulannya di leher Jungkook semakin mengerat. "Ini semua berkat dukungan Jeongie!" kata Taehyung senang, "makasih karena sudah mau mendukung mimpiku sampai bisa diterima kayak sekarang."
Jungkook terpana. Mata Taehyung berkilat-kilat bahagia. Begitu senang dan lega hingga Jungkook lupa kalau dia sedang berusaha memahami keadaan Taehyung.
Kalau saja ini bukan koridor sekolah, Jungkook akan langsung memeluk Taehyung seerat mungkin.
Kalau saja ini bukan koridor sekolah, Jungkook akan langsung menangis di bahu Taehyung.
Dan kalau saja ini bukan koridor sekolah, Jungkook akan langsung memberi satu kecupan ringan di pipi Taehyung, as she realized she loves him more than any-friendship-things.
Lois Lowry, penulis novel The Giver pernah berkata, "The worst part of holding memories is not the pain. It's the loneliness of it. Memories need to be shared." Dan hal itu juga yang menjadi dasar Jungkook untuk membuat buku artworks yang berisi kenangannya dengan Taehyung dan hal-hal yang Taehyung bagi bersamanya.
Buku artworks itu berupa sekumpulan kecil dari banyak memori paling penting untuk Jungkook yang ingin dia bagi lagi dengan Taehyung, jika saja pemuda itu lupa. Jungkook tidak ingin hanya dia sendiri yang mengingatnya. Karena itulah Jungkook membuat artworks ini. Bukan hanya sebagai sesuatu darinya yang harus dibawa Taehyung ke Amerika.
"Ini," kata Jungkook sambil menyerahkan buku sketsa pada Taehyung ketika dia membantu pemuda itu berkemas-kemas malam harinya sebelum berangkat.
Taehyung menerima buku sketsa itu dengan dahi dikerutkan. "Apa ini?" tanyanya, "ooooh... ini buku sketsa yang isinya gambar kamasutra itu kan ya?"
"Hih!" Jungkook memekik kesal, memukul lengan Taehyung tanpa ampun, "bisa nggak sih nggak mikirin mesum-mesum gitu sehari aja?"
"Ya mana bisa. Teori membuktikan kalau laki-laki normal mikirin seks tiap empat detik sekali," jawab Taehyung sambil menyeringai iseng.
"Teori nenekmu," dengus Jungkook, kembali memasukkan baju-baju Taehyung ke dalam koper, "mana ada ilmuwan yang bilang kayak gitu. Kalau ada paling-paling cuma mau menambahkan men's dignity waktu dibilang mesum."
"Eh tapi serius. Ini isinya apa?" tanya Taehyung, "aku nggak berani buka. Waktu itu kan kamu bilang kalau buku ini rahasia."
Jungkook mendongak, menatap Taehyung tepat di mata. "Pokoknya bawa aja itu ke Amerika. Jangan diilangin. Jangan dirusak. Jaga bener-bener."
Taehyung manggut-manggut, membolak-balikkan buku sketsa di tangannya. Dibukanya satu halaman namun langsung ditutup cepat oleh Jungkook. "Lho? Kok malah nggak boleh lihat isinya?"
"Besok aja waktu udah sampai di Amerika baru kamu buka," kata Jungkook, mengambil buku artworks-nya di tangan Taehyung untuk disimpan di kantung koper. "Nah, baju apalagi yang mau dibawa?"
Taehyung hanya menggaruk-garuk kepalanya, tidak mengerti dengan jalan pikiran Jungkook. Tapi daripada ribut di kamar karena Taehyung memaksa untuk melihat isinya sekarang, jadi dia menurut saja.
Bandara Incheon tetap ramai seperti biasa. Sekarang hari Jum'at dan Jungkook membolos latihan wisuda untuk mengantar Taehyung berangkat ke Amerika. Ada Mama dan Papanya juga ayah dan ibu Taehyung serta Haejun yang ikut mengantar.
"Sudah lengkap semua?" tanya ibu Taehyung, memastikan semua kesiapan dokumen Taehyung tidak ada yang ketinggalan.
"Sudah, Bu. Disini semua," Taehyung menunjuk tas ranselnya, "ini boarding pass sama paspornya," lanjutnya sambil mengacungkan dua benda di tangannya, "visa-nya di dalam tas."
Ibu Taehyung mengangguk-angguk. "Tidak ada teman berangkat?"
"Ada, kok. Tapi baru kumpul pas di ruang tunggu nanti, sekarang kan masih sama keluarga sendiri-sendiri," jawab Taehyung, membetulkan tali tas ranselnya yang mengait melingkari dadanya. Tersenyum pada Jungkook yang sejak tadi memperhatikannya tanpa berkedip.
"Eh, eh, lihat aku pakai apa," Taehyung berujar semangat sambil melepas ransel dan syalnya.
Jungkook mengernyit heran. "Ngapain lepas syal? Dingin lho."
Taehyung menggeleng, tersenyum lalu melepas mantelnya. Sweater biru dongker bergambar logo Steve Rogers terlihat di baliknya. Senyumnya tampak kekanakan. "Anget banget ini sweater-nya. Makasih ya, Jeongie."
Mau tidak mau, Jungkook tersenyum gemas dengan tingkah Taehyung.
"Aku ke Amerika lho."
"Iya, nggak usah pamer."
"Ih beneran nggak nangis."
"Apa sih," Jungkook menyergah cepat, menoleh ke arah papan jadwal penerbangan, "lima belas menit lagi. Beneran udah siap semua kan?"
"Iya, Ratu," kata Taehyung dengan nada menggoda, "semua udah siap sesiap-siapnya. Nggak ada yang ketinggalan satu undercut pun. Hehehe."
Jungkook mendengus, memutar bola matanya malas. "Nggak penting," gumamnya lalu maju memeluk Taehyung. "Baik-baik ya, disana."
"Iya, Taehyungie janji."
"Belajar yang bener biar jadi pilot beneran."
"Iya, Taehyungie janji."
"Jangan ngebokep terus."
"Wah, kalau itu sih aku nggak janji—aduh!" Taehyung memekik kesakitan, "ini apaan sukanya nyubit perut! Sakit tahu!"
"Makanya dikurangi! Mentang-mentang disana banyak bule seksi akhirnya makin liar," kata Jungkook kesal.
"Iya, iya! Cuma bercanda doang," gerutu Taehyung sambil mengusap-usap bekas cubitan Jungkook di perutnya.
"Hm, bagus."
"Lagian kamu nggak suka cowok yang sering ngebokep kan."
"Hah?" kening Jungkook mengerut heran.
"Iya. Kamu pasti nggak mau punya suami yang bodoh gara-gara sering nonton bokep."
Kening Jungkook mengerut makin dalam. "Bicara apa sih?"
Taehyung tersenyum, menatap Mama dan Papa. "Paman, Bibi, Jungkooknya tolong dijaga ya. Saya aja yang ambil dia jadi istri."
Pipi Jungkook memanas dengan cepat. "Heh!" serunya menahan malu. Dibelakangnya, Mama dan Papanya serta ayah dan ibu Taehyung justru tertawa dan membuat telinga Jungkook serasa terbakar.
Taehyung tertawa. Ditepuknya kepala Jungkook, menatap gadis itu tepat di mata. Dan baru sekarang Jungkook melihat Taehyung menatapnya dengan sorot mata selembut ini. "4 tahun nggak lama, kok. Jaga hati, ya."
Jungkook terpaku. Apa yang Taehyung bilang barusan?
"Ah, sudah dipanggil," Taehyung beranjak setelah nama penerbangannya disebutkan dalam speaker, memeluk ayah dan ibunya. "Taehyungie berangkat ya," pamitnya, tersenyum, mengusak rambut Haejun yang merengek tidak ingin ditinggal, juga memberi kedua orangtua Jungkook pelukan.
"4 tahun," Taehyung mengacungkan empat jarinya di depan wajah Jungkook, mengusap lembut rambut gadis itu sebelum menyeret kopernya dan melangkah pergi.
Jungkook terdiam, menatap punggung Taehyung hingga menghilang di balik gerbang keberangkatan dan meninggalkan empat jari yang kembali teracung.
Tersenyum, Jungkook merasakan pipinya kembali basah.
Benar. Dia hanya harus menunggu Taehyung selama 4 tahun dan pemuda itu akan kembali padanya.
Karena sejauh apapun Taehyung pergi, tempatnya yang sesungguhnya adalah berada di sisi Jungkook.
FIN
author's note: ini dia part 2-nya Stay! Hehehe, maaf ya update-nya lama. Real life nggak bisa ditinggal bro :') alhamdulillah akhirnya selesai hehe
terimakasih buat semua masukan dan review dari kalian yaa readers. masukan kalian selalu banget aku terima dengan senang hati, supaya kedepannya aku bisa lebih baik lagi :) dan untuk yang ngerasa kurang nge-feel atau nggak cocok dengan bahasa non-baku untuk percakapan dan bahasa baku untuk narasi tapi nyempetin untuk baca sampai akhir, terimakasih banget :) aku mikirnya karena jk-taehyung sahabatan udah lama jadi ya enakan pake bahasa non baku. dan untuk yang suka, dan nge-follow, THANKYOUVERYMUCH!
Lastly, reviews? :)
