Mulai dari sini Grimmjow ada perubahan.

Langsung saja.

Normal atau Enggak, sih?

Disclaimer : TITE KUBO

Warning : Gaje, Yaoi, shonen-ai, typo, abal-abal, dan sebagainya

Happy reading, everyone!

Chapter 2

Summary:

Hitsugaya membuat Hinamori dan Grimmjow syok hanya dengan perkataannya.

"Grimm.. aku... ingin putus denganmu..."

Grimmjow yang mengerti itu hanya menghela napas. Saat Grimmjow nyaris menutup pintunya, Ia berkata, "Terimakasih..." seketika Hitsugaya meneteskan air matanya.

"Sial..." Keluh Grimmjow sambil meninggalkan lorong itu.

"Shiro-chan.. Kau tak apa?" Hinamori mengelus rambut Hitsugaya. Hitsugaya masih dalam diamnya. Tangis tanpa suara. Firasatnya benar, ini akan jadi hari terakhir dia bersama Grimmjow.

"Maaf... Hinamori.. Aku mengingkarinya.. aku berhubungan dengan seorang lelaki.. Aku.. Enggak normal.. uh.. Aku mohon.. tinggalkan aku.." Hinamori hanya diam sambil berjalan menuju pintu dan menutupnya.

"Maafkan Aku.. Shiro-chan.. Aku belum bisa menerimanya.. " Hinamori pun mulai meneteskan air matanya.

Didalam kamar rumah sakit itu, Hitsugaya terus menangis dalam diam. Sebenarnya dia masih tak bisa lepas dari Grimmjow. Dadanya sakit, namun dia tak akan menarik kembali kata-katanya, demi Hinamori saudaranya. Ia tak mau kehilangan orang lebih banyak lagi. Hinamori adalah sepupu atau bahkan saudara yang sekarang hanya Hitsugaya miliki sekarang.

...

..

.

"Shiro-chan! Kau sudah boleh pulang! Pagi ini aku akan memasak makanan yang enak dirumah!" Hinamori menarik tangan Hitsugaya sambil melangkah kecil keluar rumah sakit.

"Er.. Hinamori.. Kau sudah membayar administrasi nya kan?" tanya Hitsugaya sambil mengernyutkan alisnya.

"Bukan kita yang membayar kok! Itu sudah dibayarkan oleh Grimm—maaf.." Hinamori keceplosan menyebutkan sesuatu yang membuat Hitsugaya sedih.

"Sudahlah.. Tak apa kok.. ayo.." Hitsugaya berjalan lurus kedepan. Irisnya memburam. Mata sembab serta lingkar hitam dibawah matanya itu sungguh membuat Hitsugaya seperti orang yang sakit-sakitan. Hinamori kecewa dengan dirinya sendiri. Apa yang dia lakukan telah membuat Hitsugaya dan Grimmjow putus.

Sampai dirumah Hitsugaya terduduk dan diam di sofa depan TV nya.

"Shiro-chan.. kau disini dulu ya.. aku mau masak sarapan buat kita." Hinamori sudah seperti kakak bagi Hitsugaya. Hinamori adalah orang terbaik bagi Hitsugaya, saat ini.

Sekitar satu jam lebih akhirnya Hinamori menyelesaikan masakannya. Dilepasnya celemek pink yang dipakainya dan digantungkan rapi. Hinamori menyeka keringatnya. Hinamori membenarkan rambutnya lalu menghampiri Hitsugaya.

"Shiro-chan! Makanannya sudah siap." Hinamori menghampiri sofa tempat Hitsugaya terduduk tadi. Dilihatnya Hitsugaya memejamkan matanya, tapi mengapa napasnya tersenggal-senggal dan keringat terus mengucur. Hinamori sentuh dahi Hitsugaya dengan punggung tangannya. Hinamori terbelalak.

"Panas sekali!" Hinamori segera mengambil termometer dan mengukur suhu tubuh Hitsugaya. Setelah dilihatnya, suhu tubuh Hitsugaya mencapai 40 derajat, tinggi.

Hinamori menyelimuti Hitsugaya dan segera kedapur sambil memasak air. setelah dikiranya cukup hangat, ia matikan api, lalu memindah air hangat itu ke sebuah baskom, lalu dibawanya dengan handuk. Hinamori duduk disebelah Hitsugaya lalu mengompres Hitsugaya. Menyeka keringat-keringat Hitsugaya. Hinamori pun menyiapkan baskom berisi es dan untuk keadaan apapun. Hinamori melamun. Hinamori menyalahkan dirinya. Seandainya Hinamori tidak trauma dengan masalah nya dahulu dengan orang yang disukainya, tak akan jadi begini Hitsugaya. Oh iya! Kenapa dokternya bilang Hitsugaya boleh pulang padahal pulang-pulang malah sakit lagi? Hyah.

...

..

.

Keesokan harinya Hitsugaya dan Hinamori sudah bertengkar. Hitsugaya dengan tubuh yang masih belum sembuh benar dari demamnya dan juga luka benturan itu ngeyel ingin tetap masuk kuliah. Tapi akhirnya Hinamori kalah dengan Hitsugaya. Hinamori mengijinkan Hitsugaya pergi kuliah asalkan bila tubuhnya sudah semakin lemah, segera menghubungi Hinamori. Hitsugaya tersenyum tipis.

...

..

.

Hitsugaya berjalan gontai sambil memasuki kampus. Baru saja berjalan sekitar 10 menit dari rumahnya tubuhnya sudah melemah. Pusingnya semakin menjadi-jadi. Tubuhnya serasa berat untuk digerakkan. Keringat mengucur deras keluar dari pori-pori tubuhnya. Ternyata Hitsugaya tidak mengindahkan pesan Hinamori. Tetap ditempuhnya dan dibawanya tubuh yang sudah melemah itu menuju ruangan kampus.

"Hai! Toushiro! Tumben banget kamu lemes gini, habis ngapain sih? Pasti kemarin habis 'bermain' ya sama Grimmjow?" kata cewek berdada super besar itu sambil berjalan mengiringi Hitsugaya. Kata bermain dia beri penekanan. Hitsugaya sedikit terbelalak dengan ucapan cewek bernama Matsumoto Rangiku itu. Sekilas kata-kata terakhir Grimmjow melintas dipikirannya.

'terimakasih.'

Hitsugaya berhenti berjalan. Matsumoto bingung melihat sahabatnya ini terdiam. Dilihatnya tubuh Hitsugaya menggigil.

"Kau tak apa kan? Toushiro?" Seketika Hitsugaya jatuh ketanah. Matsumoto kaget lalu melihat keadaan Hitsugaya. Pucat pasi. Muka Hitsugaya pucat pasi. Bibirnya membiru. Dia menggigil. Keringat dingin mengucur. Tubuhnya panas sekali. Napasnya tersenggal-senggal. Dadanya naik turun saking cepatnya, napasnya memburu. Matsumoto berteriak minta tolong.

"Hei, apaan sih?" suara cowok berambut aqua sambil berjalan santai membawa tasnya. Detik berikutnya cowok itu terbelalak. Toushiro! Batinnya.

"Grimmjow! Bagaimana ini! Toushiro terus menggigil.. tubuhnya panas sekali.." Grimmjow tanpa pikir panjang lagi segera menggendong Hitsugaya dan membawanya ke UKS kampus.

...

..

.

In dream of Hitsugaya... Hitsugaya POV

"Hahaha! Toushiro! Kau ga normal ya? Masak pacaran dengan cowok? Padahal kamu cowok, kan?" ledek seseorang. Wajahnya masih samar-samar.

"Iya, tuh! Anak cebol ga normal! Huuu! Kasihan ya, Grimmjow-san.. pacaran sama anak ga normal ini.. pasti dirujuk dan diancam tuh si Grimmjow-san.." teriak cewek yang bernama Inoue. Aku tak tahu. Ada apa ini?

"Kucilkan saja anak ini! sekalian kita bunuh juga boleh!" teriak Tatsuki, seorang cewek tomboy. Bersama teman-temannya sekarang aku dikucilkan dan diledek. Apa yang salah denganku? Aku tak berbuat apapun pada mereka? Kenal pun tidak? Padahal mereka sahabat-sahabatku, ada apa dengan mereka?

"Nih.. mumpung aku bawa silet nih.. pertama kita potong rambut nya itu!" cewek bernama Rukia itu tertawa seraya mengeluarkan silet dari balik kantong rok nya. Aku bergeridik ngeri. Bagaimana bisa sahabat-sahabat ku membunuhku tanpa alasan yang jelas.

"Hei! Rukia? Inoue? Tatsuki? Kalian kenapa? Dimana Grimmjow?" tanyaku. Kakiku serasa lemas.

"Hei, berhenti.." teriak seseorang dari tikungan gang yang gelap itu. Suaranya aku kenal sekali. Grimmjow!

"Grimmjow..." aku terpana. Disebelahnya ada seorang cewek berambut Tosca, tinggi, manis.

"Neliel-san? Grimmjow-san? Kenapa kemari? Ini kan suruhan Grimmjow-san? Kenapa malah mau turun tangan sendiri?" tanya Inoue. Grimmjow tersenyum.

"Nggak.. hanya ingin memastikan.. bunuh dia.. anak ga normal itu harus mati karena mutusin Gue dan Gue jadi dipermalukan teman-teman Gue.." aku terbelalak. Tak percaya dengan kata-katanya. Kakiku melemas. Rasanya hatiku sakit. Dadaku berdetak tak beraturan. Keringat dingin mengucur. Tubuhku lemas sekali.

"Yay! Kita lanjutkan saja penderitaan ini! ayo!" teriak Inoue kegirangan.

"Selamat menikmati, Toushiro. Dan selamat tinggal.." punggung Grimmjow yang kulihat mulai menjauhi ku yang sudah tak berdaya dengan perlakuan sahabat-sahabatku sendiri. Mereka mulai menyayat-nyayat tubuhku. Keadaan tragis ini benar-benar membuatku bisa mati..

...

..

.

End of dream... Normal POV

"Toushiro. Maafin Gue, ya. Gue janji.. maksudku.. Aku janji, aku tak akan menemuimu lagi.." Grimmjow mengelus-elus rambut Hitsugaya.

"Ungh.. akh! Pergi! Pergi!" Grimmjow kaget. Dilihatnya Hitsugaya mengigau tak jelas. Hitsugaya terlihat seperti kesakitan. Grimmjow makin khawatir dengan keadaan ini, namun tak bisa berbuat apa-apa.

"Hah!" Hitsugaya terbangun dari pingsan serta mimpi buruknya. Grimmjow sedikit menjauh dari Hitsugaya.

"Syukurlah Elo.. maksudku Kamu sudah bangun. Aku tinggal dulu, ya." Grimmjow meninggalkan Hitsugaya yang masih bingung dibuatnya. Bangun-bangun malah main tinggal. Tapi apa daya, mereka sudah tak memiliki hubungan sama sekali. Hitsugaya yang masih tersenggal-senggal karena mimpi yang dialaminya, menatap punggung Grimmjow yang mulai menghilang.

"Sori, ya. Mulai sekarang Aku tak akan menemuimu lagi. Aku tak akan berada dihadapanmu lagi. Itu obatnya sudah ada di meja. Minumlah. Aku sudah panggil wakil kesehatan untuk merawatmu. Jaa Nee.. Selamat Tinggal.. Toushiro.." Grimmjow pergi meninggalkan Hitsugaya yang mulai menangis lagi dengan kata-kata terakhir yang diucapkan Grimmjow.

'Selamat Tinggal.. Toushiro..'

Seketika air mata kembali bergulir dari iris emeraldnya yang sendu, tak bercahaya, redup, tanpa harapan pasti. kegagalan.

Tiba-tiba darah keluar dari Hidungnya. Hitsugaya berjalan keluar ruangan kesehatan. Darah menetes jatuh ketanah mengikuti perjalannya.

...

..

.

"Moshi-moshi. Hinamori. Ini Grimmjow. Maaf kalau aku menelponmu. Toushiro tadi pingsan. Jadi aku membawanya ke ruang kesehatan. Jemputlah dia. Terimakasih." TUT

Tak sempat dijawabnya Grimmjow langsung menutup teleponnya. Hinamori kaget sekali. Sudah dibilang jangan kekampus gara-gara masih sakit, eh, malah ngeyel, bandel. Hinamori segera menuju ke kampus Hitsugaya.

...

..

.

Toushiro berjalan keluar dari ruang kesehatan. Setelah dilihatnya tak ada orang, Hitsugaya segera berjalan sekuat yang dia bisa kebelakang kampus, ada danau disitu.

Darah dari hidungnya membuat jejak perjalanan Hitsugaya ditanah, tapi itupun tak terpikir oleh Hitsugaya sendiri.

Tempat pertama Hitsugaya dan Grimmjow menjalin cinta. Hitsugaya tersenyum singkat. Pikirannya melayang pada memoriam lalu. Dia berpikir, betapa bahagianya Hitsugaya bersama dengan kekasih sejatinya Grimmjow. Tapi, betapa menyakitkan, hubungan yang mereka jalin sudah renggang begitu cepat pula.

Dia jatuhkan tas yang dibawanya dipinggir danau. Dia mulai berjalan kearah danau.

Hitsugaya berjalan dengan tatapan dan pikiran kosong. Danau didepannya tidak terlalu besar, namun cukup dalam untuk menenggelamkannya. Pesisir danau yang tidak terjal membuatnya mudah untuk terus berjalan sampai ketengah danau.

Hitsugaya terus berjalan kearah danau. Separuh badannya sudah terendam air danau. Semakin susah untuknya berjalan, namun itu tetap dijalaninya.

Sekarang tinggal bagian tubuh teratasnya yang masih berada diatas permukaan air. sebentar dia berhenti, memikirkan betapa berharapnya dia semoga Grimmjow mendapat kekasih yang lebih pantas untuknya daripada Hitsugaya. Dia mulai melangkahkan kakinya lagi sampai seluruh tubuhnya sudah terendam air danau.

Lima menit telah berlalu, tubuh Hitsugaya mulai tenggelam seperti tanpa nyawa.

...

..

.

"Grimmjow! Dimana Shiro-chan? Aku tak menemukannya di ruang kesehatan!" Hinamori berteriak sambil mengguncang-guncangkan tubuh Grimmjow. Grimmjow bingung sendiri. Tadi dia yang membawa Hitsugaya sampai kesini, tapi sekarang? Nihil. Hitsugaya tidak ada diruang kesehatan.

Grimmjow tertunduk. Tiba-tiba matanya tidak sengaja melihat ceceran darah bertebaran ditanah. Grimmjow tanpa pikir panjang lagi langsung mengikuti jejak itu disambut protes dari Hinamori yang tak digubrisnya.

...

..

.

"Hinamori. Darahnya menuju ke danau belakang kampus. Sepertinya Toushiro menuju kesini.. aku yakin.." Grimmjow terus mengikuti jejak darah itu. Hinamori terus diam sambil memohon keselamatan untuk orang yang dia anggap adiknya sendiri.

Grimmjow melihat keganjilan. Dipinggir danau itu ada tas yang dia kenal hanya seorang Hitsugaya yang memilikinya. Jejak darah berhenti dipinggir danau. Perasaan Grimmjow tak enak.

Grimmjow langsung menceburkan dirinya kedanau itu. Hinamori shock. Pikirannya sama dengan Grimmjow. Jangan-jangan Hitsugaya bunuh diri.

Grimmjow terus mencari-cari tubuh mungil itu. Dia mencari lebih kedalam danau, dilihatnya ada darah yang bercampur dengan air danau yang berasal dari dasar danau.

'Itu Toushiro!' batin Grimmjow. Segera Grimmjow menarik Hitsugaya kedaratan. Dia angkat Hitsugaya yang tubuhnya lemas itu. Hidung Hitsugaya mulai mengeluarkan darah lagi setelah mereka mencapai permukaan danau. Dia tidurkan Hitsugaya dipinggir danau itu. Hinamori berteriak histeris.

Grimmjow memeriksa denyut nadi Hitsugaya. Namun hasilnya nihil. Dia coba untuk memberi napas buatan pada Hitsugaya. Namun hasilnya tetap nihil. Tak ada denyut nadi sama sekali. Bibir Grimmjow terhias darah dari Hitsugaya. Bibir Hitsugaya sudah dingin. Tubuhnya sudah dingin. Grimmjow berteriak sejadi-jadinya. Dia terus mencoba untuk menekan dada Hitsugaya, memberinya napas buatan. Itu terus dia lakukan, namun hasilnya nihil. Grimmjow tak kuasa menahan ini.

"TOUSHIROOOOO!" Grimmjow berteriak kencang sambil terus memeluk tubuh yang ringan itu. Tubuh mungil yang hangat, dulu. Sekarang telah dingin sedingin es.

Hinamori yang masih shock dibawah pohon dekat danau itu menangis histeris. Seseorang yang dia sayangi telah pergi dari muka bumi.

...

..

.

Hitsugaya POV

Dimana aku?ah. sudahlah. Aku membunuh diriku didanau tempat aku dan Grimmjow pertama kali menjalin hubungan.

Aku tak berpikir kalau aku tidak normal? Ahaha. YAOI ya.. aku mencintai Grimmjow. Jadi untuk apa aku hidup bila tak bisa bersamanya, lebih baik aku tak ada.

"Shiro.. kembalilah.. Toushiro.. kembalilah.. aku tak sudi kehilangan kau.. aku sayang padamu. Aku cinta padamu. Aku tak ingin kehilangan mu.. kembalilah, Toushiro.." kulihat bayangan Grimmjow memeluk tubuhku yang sepertinya sudah tak bernyawa itu. Dia terus berkata ' kembalilah.. aku sayang padamu.." argh! Tak mungkin aku kembali. Aku sudah mati.

Kulihat cahaya putih, terang, silau dari arah langit. Pertanda aku harus kesana. Tapi, kenapa aku serasa didorong agar kembali ketubuhku? Ada apa ini?

...

..

.

Berjalannya waktu tak terasa. Grimmjow tertidur sambil terus memeluk cowok mungil itu. Mata Grimmjow sembab. Begitu pula Hinamori. Hinamori tertidur dibawah pohon dekat danau itu.

Grimmjow terbangun saat sesuatu serasa hangat ditubuhnya. Dilihatnya tubuh didekapannya. Pucat pasi. Grimmjow kembali menangis. Kehilangan orang yang berharga untuknya.

"Toushiro.. kembalilah.. aku mencintaimu.." Grimmjow menangis.

Tiba-tiba tubuh mungil itu terbatuk-batuk keras. Tubuh mungil itu memuntahkan air dari dalam mulutnya. Darah dari hidungnya kembali mengalir. Detak jantungnya serasa kembali berdetak. Napasnya mulai terasa. Grimmjow tak percaya. Hitsugaya hidup kembali.

"Toushiro! Maaff aku meninggalkanmu! Maaf! Aku tak pantas bersamamu! Aku bodoh! Aku bodoh!" Grimmjow memposisikan Hitsugaya tertidur. Grimmjow menatapkan kepalanya ketanah dengan keras. Grimmjow tak kuasa melihat wajah orang yang telah menjadi korban kesalahannya. Grimmjow terus-menerus membenturkan kepalanya ketanah. Tak peduli dahinya terluka dan mengeluarkan darah. Hitsugaya berusaha keras untuk bersuara.

"Grimmjow.." Grimmjow menghentikan perdebatan dirinya menghukum dirinya sendiri dan menatap cowok mungil yang tergeletak lemas didepannya.

".. men..cin..tai..mu..." Hitsugaya kembali menutup matanya. Napasnya mulai menipis dan perlahan-lahan.

Grimmjow memanggil Hinamori lalu segera membawanya kerumah sakit.

...

..

.

"Ungh.." Grimmjow menoleh. Orang yang disayanginya sudah sadar. Dia segera pergi dari situ. Grimmjow keluar dan memanggil Hinamori untuk menemani Hitsugaya.

"Hinamori. Aku mohon. Jangan katakan aku disini.." permintaan Grimmjow disambut anggukan dari Hinamori.

"Hinamori.. ada apa ini?" Hinamori tersenyum tipis. Airmata kembali menetes membasahi pipi Hinamori.

"Syukurlah! Kukira aku akan kehilangan kau!" Hinamori memeluk tangan Hitsugaya sambil menangis. Hitsugaya tersenyum tipis.

"Maaf.. Oh.. ya.. mana Grimmjow?" Hitsugaya bertanya mengenai penyelamatnya, namun Hinamori menggeleng pelan. Raut muka Hitsugaya kembali bersedih. Hinamori khawatir. Lalu Hinamori segera berlari keluar ruangan.

"Grimmjow! Hitsugaya mencarimu! Temuilah dia!" Hinamori mendorong Grimmjow yang sedari tadi menunggu didepan ruangan.

"Kenapa diberitahu!" Grimmjow menolak dengan keras.

"Tidak apa! Daripada dia melakukan hal-hal yang berbahaya lagi bagaimana?" Hinamori mendengus kesal. Grimmjow mendengus pasrah. Lalu masuk kedalam ruangan.

"Toushiro.. maaf.." Grimmjow terus menundukkan kepalanya. Hitsugaya tersenyum tipis.

"Maaf ya.. membuatmu repot.." Hitsugaya meraih tangan Grimmjow.

"Aku mencintaimu." Pernyataan itu disambut senyuman tulus Hitsugaya.

"Oh ya.. kita ini normal, kok. Lagipula Hinamori sudah merestui kita." Grimmjow tersenyum puas. Hitsugaya tersenyum.

...

..

.

OWARI

Akhirnya selesai juga! Ini cerita yang membuat Kiro sendiri yang buat dan baca nggak tega.

Langsung saja, review ya!

Present untuk fujoshi sekalian.