o-o-o-o-o-o-o-o-o-o
Hetalia Axis Powers © Hidekaz Himaruya
ALFRED RIANG
France x fem!UK and US x Fem!UK
Warning : OOC, parody absurd tentang Sangkuriang dan segala keabalannya, keaslian sejarah cerita ini patut dipertanyakan (?)
o-o-o-o-o-o-o-o-o-o
Alfred pulang ke rumahnya membawa potongan daging si kodok yang telah dibungkus dengan selembar daun pisang, yang nantinya akan diberikan kepada ibunya. Di sepanjang perjalanan, Alfred Riang diliputi perasaan bersalah. Bagaimana jadinya kalau si ibu sampai tahu kalau Alfred telah mengganti buruannya dengan kodok kesayangan ibunya? Tidak, semuanya akan baik-baik saja. Lagipula, kodok itu hanyalah seekor binatang peliharaan, si ibu pasti akan memaklumi dan memaafkan perbuatan Alfred. Alfred Riang terus meyakinkan kepada dirinya sendiri kalau semuanya akan baik-baik saja.
DEG.
Untuk pertama kalinya Alfred Riang merasa sangat takut, takut sekali. Berbagai lauk-pauk dan sayuran tertata rapi di atas meja makan, termasuk burung-coret-kodok goreng saus bolognese(?) yang menggugah selera, tetapi tidak untuk Alfred.
"Frog mana?"
"Sudah, mama makan dulu sana," balas Alfred Riang sedikit gugup.
Suasana meja makan begitu sunyi, hanya bunyi sendok , garpu dan gelas, bahkan Alfred Riang belum menyentuh kentangnya sedikitpun. (di Eropa dan Amerika nggak ada nasi )
"Dear, kau sakit?" tanya Princess Alice khawatir. Si Alfred menggelengkan kepala sambil menunduk, wajahnya pucat pasi.
"Ya sudah, nanti mama telepon 14045," ujar si ibu paham, mana mau si Alfred makan masakannya.
"Ti-tidak perlu, mama,"
Ketika Alice hendak menyentuh burung goreng itu, ada sesuatu dalam diri Alfred yang mendorongnya mencegah sang ibu memakan kodok kesayangannya itu. Alfred sudah tidak tahan lagi, tiba-tiba si bocah menggebrak meja, membuat si ibu terkejut dan sedikit marah.
"Jangan mama, jangan makan burung itu!" teriak Alfred parau.
"Apa-apaan, git!"
Alice tersentak melihat keadaan putranya, bocah berahoge bulan sabit itu berlinangan air mata, ingusnya meleleh(?) kemana-mana sambil terisak-isak. Tidak pernah sekalipun Alice melihat si buah hati tercinta begitu… hancur. Darahnya ikut berdesir merasakan pilu.
"Bur…bur…rung itu sesungguhnya adalah Frog, tolong maafkan aku, mama!"
Bagaikan digulung ombak di malam badai, Alice diam terpaku menatap seonggok daging tak bertulang di piringnya. Princess berwajah cantik itu menunduk dalam, tak sanggup menahan tangisnya, tubuhnya bergetar hebat, perasaan marah pun berkobar di dalam dada.
"KENAPA KAU MEMBUNUH FROG, ALFRED!" ujar sang ibu menatap garang si anak penuh kebencian.
"A…ku…" suara Alfred Riang tiba-tiba tercekat, hatinya hancur berkeping-keping mendapatkan tatapan seperti itu dari ibunya.
Tanpa pikir panjang, Alice memukul Alfred menggunakan tanduk banteng pajangan sekeras mungkin.
"DASAR ANAK DURHAKA!"
Ketakutan Alfred Riang mengalahkan rasa sakitnya. Malam itu, si bocah pergi dari rumah, menerobos hutan rimba, menyebrangi lautan, apapun itu asalkan bisa menjauh sejauh mungkin dari sang ibu. Pricess Alice menyesal telah mengusir Alfred. Beliau bertapa di sebuah gua, memohon kepada para dewa agar suatu saat bisa dipertemukan kembali dengan Alfred Riang.
"Maaf… maafkan aku, mama!" tiba-tiba semuanya menjadi gelap.
Di sebuah desa, Alfred Riang ditemukan pingsan oleh seorang guru dan dua muridnya.
o-o-o-o-o-o-o-o-o-o
"Jadi, siapa namamu, aru?"
Alfred Riang terkejut mendapati dirinya di sebuah rumah yang sangat asing baginya, ya, sebuah rumah tua bergaya cina, lalu siapakah dua pria dewasa berwajah Asia dan seorang anak kecil berwajah Eropa ini? Apakah mereka yang menolongnya?
"Saya, uhmm… nama saya Jones," jawab Alfred Riang sekenanya.
Alfred memutuskan untuk mengubur masa lalu dan nama pemberian ibunya. Lagipula, Alfred tahu kalau si ibu sangat membencinya saat ini, bahkan tega melukainya. Alfred kecewa, bagaimana mungkin si ibu lebih membela si kodok daripada anak kandungnya sendiri? sungguh tak masuk akal. Alfred membatin semakin kesal.
"Oke Jones, sekarang kau akan kuangkat menjadi muridku, aru," ujar sang guru.
"Terima kasih, guru," balas Alfred gembira.
"Panggil aku Guru Wang, aru!"
"Terima kasih, Guru Wang!"
"Nah, sekarang kau obati dulu luka di kepalamu, aku dan Kiku akan menyiapkan malam, aru,"
"Eh?"
"Aku yang akan mengobati lukamu, da,"
Di samping Alfred, seorang bocah seusia Alfred tengah meracik obat-obatan cina dengan gesit, tak lupa senyumnya yang kelewat inosen itu (atau mengerikan). Seorang remaja bersurai hitam datang menghampiri Alfred dan bocah pirang yang satunya lagi, pemuda itu duduk di antara mereka berdua.
"Apa obatnya sudah siap, Ivan?" Ivan mengangguk.
"Kau bahkan belum berkenalan dengan kami, Jones-kun," ujar Kiku.
"Iya, da," sahut pemuda yang dipanggil Ivan.
Alfred tersenyum kikuk. Sungguh menyenangkan memiliki keluarga baru yang baik seperti Guru Wang, Kiku dan Ivan. Alfred Riang senang bisa cepat akrab dengan kakak senior dan bocah yang sebaya dengannya itu.
o-o-o-o-o-o-o-o-o-o
Selama tiga belas tahun, Alfred Riang menimba ilmu dari Guru Wang. Kini Alfred yang sudah berusia 23 tahun memutuskan untuk mengembara. Sang guru besar menyetujuinya, tidak baik juga menahan murid kesayangannya lebih lama lagi di padepokan. Guru Wang percaya Alfred bisa menggunakan kekuatannya dengan bijak.
"Jadi, kau akan pergi meninggalkan padepokan, da?" tanya Ivan sedih.
"Iya, ikutlah bersamaku, Ivan," Alfred menggenggam tangan Ivan sambil menatap mata violetnya dalam, (kurang lebih) mirip adegan di film-film telenovela.
"Tidak, da, aku harus menemani Guru Wang, da,"
"Baiklah kalau itu maumu, kau tahu Ivan? aku akan mengelilingi dunia, menguasai banyak wilayah dan… mungkin saja aku akan bertemu jodohku, hehehe,"
"Jones, aku tahu kita sering bertengkar, tapi percayalah, aku akan merindukanmu, da, jaga dirimu baik-baik, da!" Alfred membalasnya dengan senyuman.
o-o-o-o-o-o-o-o-o-o
Perjalanan yang dilakukan Alfred Riang sangatlah panjang, tibalah ia di sebuah hutan. Ditemani seekor kuda putih, si pemuda beristirahat di sebuah gua. Tiba-tiba matanya melihat sesuatu yang menarik, sepertinya sebuah patung tua. Alfred Riang pun mendekati benda yang dikiranya sebuah patung berlumut. Betapa terkejutnya dia, tenyata benda tersebut bukanlah patung, melainkan seorang wanita yang… cantik?
"Nona?" si Alfred Riang mencoba membangunkan si pertapa cantik.
Alfred Riang mulai khawatir karena tubuh si pertapa sangatlah dingin sedingin es negaranya Ivan. 'Jangan-jangan sudah mati' pikir si Alfred. Karena Alfred memiliki hati yang mulia, pemuda itu merasa memiliki kewajiban untuk menguburkan wanita cantik ini. Sebuah lubang telah siap, Alfred telah bersiap menguburkan si wanita. Namun, alangkah terkejutnya Alfred Riang ketika si wanita cantik terbangun dari tidurnya dan menatap marah si Alfred. Sontak saja si pertapa langsung melayangkan bogem mentah ke perut si pemuda yang tak lain dan tak bukan adalah anak kandungnya sendiri.
"KAU MAU MEMBUNUHKU, GIT!" Alfred Riang tertegun, rasa-rasanya dia sering mendengar kata 'git' saat dia masih kecil, tapi… ah sudahlah, Alfred Riang tidak ingat.
"Saya kira anda sudah mati, nona, hehehe," balas si pemuda nyengir lebar.
Si pertapa mendesah pelan. Dia sebenarnya tak perlu menyalahkan pemuda ini, siapapun yang menemuinya pasti menganggapnya sudah mati. Ditatapnya langit-langit gua yang penuh dengan sarang laba-laba. Dia pasti telah bertapa lama sekali.
"Ah… aku tidak ingat sudah berapa tahun aku bertapa, dan… aku juga sudah lupa tujuanku melakukan semedi, ah… apa ya?" si nona mencoba mengingat-ingat. (ini anak dan emak sama-sama pikun) #gaploked
"Sudahlah nona, untuk menebus kesalahan saya, saya bersedia mengantarkan nona kemanapun,"
"Baiklah, aku ingin kembali ke hutan,"
Alfred Riang dan Alice menuju ke sebuah hutan. Di tengah hutan itu terdapat sebuah gubuk. Alfred Riang terpana dengan tempat itu, rasa-rasanya gubuk tersebut sangatlah familiar, namun si pemuda lagi-lagi tidak ingat.
"Jadi, siapa namamu, git?" tanya Alice membuyarkan lamunan Alfred.
"Nama saya Jones, nona,"
o-o-o-o-o-o-o-o-o-o
Selama beberapa bulan, Alfred Riang alias Jones tinggal di gubuk bersama Alice. Semakin lama, rasa cinta mulai tumbuh di hati keduanya. Alice dan Jones saling mencintai, bahkan mereka berencana akan menikah beberapa minggu lagi. Di halaman depan gubuk, Alice dan Jones sedang bermesra-mesraan. Si pemuda bermata biru tengah bersandar di pangkuan sang kekasih, namun, betapa terkejutnya Alice ketika menemukan sebuah bekas luka di kepala Jones. Memori tiga belas tahun yang lalu berputar kembali di kepalanya. Mungkinkah… mungkinkah orang yang dicintainya ini adalah anak kandungnya sendiri? Namun Alice tak lekas bertindak gegabah, dia harus mencari bukti lain kalau pemuda yang bernama Jones ini adalah Alfred Riang, buah hati yang selama ini ia nantikan.
"Jones, aku ingin bertanya sesuatu, bolehkah?"
"Tentu sayang, apapun itu aku akan menjawabnya," tanggap Jones sambil nyengir lebar.
"Darimana kau dapatkan luka di kepalamu ini?"
Jones mulai meraba-raba kepalanya. Wajah si pemuda mendadak sedih.
"Ibuku… ibuku yang melukaiku, sudahlah Alice, aku malas membahasnya,"
"Al…"
Tidak salah lagi, TIDAK SALAH LAGI saudara-saudara sekalian! Pemuda berahoge bulan sabit ini adalah anak kandung Alice Kirkland. Tapi si Alice masih belum percaya seratus persen, dia harus mencari bukti-bukti yang lain.
"Makanan kesukaanmu?"
"Hamburger," mata Alice membulat 'TIDAK SALAH LAGI' teriak Alice dalam hati.
"Terus… hal yang paling menarik, menurutmu?"
"Superhero dan…" Jones menatap Alice dalam, membuat wajah wanita itu merah semerah tomat.
"Kau… kaulah hal yang paling menarik dalam hidupku," Alfred melanjutkan kata-katanya.
Darah Alice berdesir semakin cepat. Wanita itu menggeleng cepat, dia harus secepatnya mengubur perasaan terlarangnya terhadap anak kandungnya, sebelum terjadi hal buruk semacam incest.
"Cukup git! Aku akan membatalkan rencana pernikahan kita!" teriak Alice penuh kemarahan.
"Ke-kenapa?" ujar si Jones bingung tiada tara.
"Karena kau adalah…"
o-o-o-o-o-o-o-o-o-o
Matahari menyembul dari ufuk timur, Alfred tengah berjuang seorang diri membuat sebuah kapal berukuran raksasa. Peluh bercucuran dimana-mana. Pikirannya sedang kacau sekarang, gadis yang dicintainya tanpa alasan yang jelas mengaku-aku sebagai ibunya. Sungguh tidak masuk akal jika gadis cantik dan masih muda itu adalah ibunya. Apakah ini adalah siasat Alice untuk menghindarinya? Tapi, Alfred Riang sudah bertekad untuk menikahi pujaan hatinya itu. Jika dia berhasil membuat sebuah kapal induk dan sebuah bendungan sebelum matahari terbit, maka dia boleh menikahi Alice, namun jika yang terjadi adalah sebaliknya, maka Alfred Riang tidak bisa menikah dengan Alice dan harus mengakui wanita itu sebagai ibunya.
Menit demi menit, jam demi jam berlalu dengan cepat. Matahari telah terbenam di ufuk barat, menggantikan cerahnya langit biru menjadi kegelapan, namun si pemuda belum menyelesaikan bahkan setengahnya. Si pemuda menggeram frustasi, tiba-tiba bohlam lampu di kepalanya menyala sangat terang.
"Aku akan memanggil para jin untuk membantuku!"
Alfred Riang bersemedi sejenak di atas sebuah batu, satu persatu jin mulai berdatangan. Jendral jin(?) yang bernama Matthew mulai membangunkan tuannya.
"Tuan Jones, saya telah datang bersama para bala tentara jin," ujar si Matthew sambil menoel-noel pipi Alfred Riang.
"Baguslah, suruh pasukanmu untuk membantuku membuat kapal induk dan sebuah bendungan," si Jendral Jin mengangguk mengerti.
Alfred Riang berkacak pinggang, dia yakin sekali kalau kapal induk dan bendungan akan selesai sebelum matahari terbit. Alfred yakin akan hal itu. 'Kau tak bisa lari dariku, Alice Kirkland!' bisiknya dalam hati.
o-o-o-o-o-o-o-o-o-o
Thankyou buat teman-teman yang sudah mereview fic saya ini #terharu
Maaf buat para Matthew fans, jangan gebukin saya! (puppy eyes~) Saya terpaksa jadiin dia jin soalnya dia kan invisible ^_^
Sekali lagi thankyou, sethankyou-thankyounya(?) See you in the next chappie ^_^
Mind to review again, vee~
