Update lagi.. Ahaha... Ternyata fandom eyeshield 21 banyak yang gendrenya humor. Mantap polpolan. –telat nyadar-. Fave buat yang bikin humor. :DD
You are cute, nee... Update lagi. Hohoho. Gimana cerita chap sebelumnya? Gaje ya? –pundung-
Hiru : Emang gaje. Kasian deh lu
Aru : Huhuhu.. putus asa nee... DD:
Sena : Yah. Kalau aru putus asa, kita gak bisa tampil lagi dong
Hiru : Kekekek.. kan masih banyak author yang pasti pake kita buat ficnya
Aru : Diem lu semuaa! Gue cekek lu atu atu. Huhuh
Sena : Eh eh
Aru : Hah?
Sena : Chap kemarin lupa tulis TBC ya?
Aru : WOOOOTTT? OMG! Iyaaaa! Gomeeennnn.. DDD:
Hiru : Tuh kan ceroboh. Bodoh.
Aru : -pundung-
Disclaimer : Andai Eyeshield 21 punya saya, maka saya akan buat Kakei menikah dengan saya. #dihajar KakeiFC. Tapi takdir berkata lain karena Eyeshield 21 (C) milik Riichiro Inagaki & Yusuke Murata seutuhnya. Huhu. dan ide pikiran dari saya dan Nearkun. Hehe. Tq tq.
Pair : Akakei. Mizukakei. Dan pair hint yang lain. Hhoho. Hirusena minggat dulu. hahaha
OOC (sangat)
Shou-ai (mayan)
Typo (jaga – jaga)
Romance (umm)
bahasa semi formal (gitulah)
#ngejelasin sambil mewek
O.o.O.o.O
Tengah malam...
DRRTT
Handphone Akaba bergetar. Dengan malas, Akaba membuka pesan singkat yang masuk dan menyernyitkan kening. Hiruma? Tau darimana dia nomor handphoneku? Batin Akaba.
Hey Mata Merah sialan. Gue cuma mau ngasih tau. Ati – ati sama Kakei karena lama – lama sifatnya bisa berubah jadi yang anak SMP beneran. I'm swear! Kekekekek! Bawa aja dia ke panti asuhan kalo lu gak kuat ngerawatnya.
Akaba semakin tidak mengerti. Diliriknya Kakei yang masih tertidur pulas memeluk guling. Wajah tanpa dosa dan damai itu harus disia – siakan di panti asuhan yang tak jelas masa depannya? Akaba menggeleng pelan dan membalas pesan singkat Hiruma. Kemudian melanjutkan tidurnya.
Thanks. Tapi Kakei tak akan aku masukkan panti asuhan. Aku yang akan merawatnya.
O.o.O.o.O
Pagi yang cerah datang. Burung – burung bernyanyi bersahutan di atas ranting pohon besar. Embun membasahi daun yang merunduk. Cahaya matahari masih bersinar malu – malu di ufuk sana. Pukul 5 pagi di musim panas memang terasa seperti pukul 7 pagi. Terlalu cepat.
Di kamar Akaba, sinar matahari masuk malu – malu lewat hordeng yang terbuka sedikit, menyinari wajah Akaba yang masih tertidur kelelahan. Di sampingnya, Koutarou juga tertidur dengan posisi mengillfeelkan. Selimutnya entah kemana sudah Ia tendang. Dengan rambut berantakan dan baju yang tersingkap sampai perut.
Malam penuh sendirian menghadang. Aku sendirian di ruang gelap ini. Semua meninggalkanku, sendirian. Aku mungkin kesepian. Tapi aku menikmati kesendirianku. Meski kesepian dan kesendirian adalah dua hal yang berbeda.
"Akabaa.. Banguunn"
Akaba terjaga dari mimpi buruknya. Buruk? Entahlah itu benar atau tidak. Setengah tidak rela, Ia membuka mata. Masih menyipitkan mata karena tidak terbiasa oleh cahaya matahari yang masuk mengenai matanya, Akaba merasa ada sesuatu yang mengenai hidungnya.
"Hatchih!" Akaba sukses bersin – bersin. Benda itu terus bergerak menggelitiki hidungnya. Dengan sangat terpaksa, Akaba membuka matanya dan melihat sosok yang Ia kenal sedang duduk di atas perutnya sambil memegang bulu ayam. Anak itu nyengir tanpa dosa.
"Akabaa.. Sudah kubilang, banguunnn... Atau aku jahili lagi dengan ini" Kakei tersenyum sambil memainkan bulu ayam di tangannya. Akaba setengah bengong melihat Kakei di depannya.
"Kakei-kun? Sedang apa kamu?" Akaba akhirnya bangun. Ia duduk dan memangku Kakei sambil tersenyum tipis.
"Membangunkan tuan rumah yang bangun kesiangan" dengan wajah polos ala anak SD, Kakei kembali menggelitik hidung Akaba, jahil.
"Hei. Geli, Kakei-kun" Akaba merampas bulu ayam itu dari tangan Kakei. Kakei manyun karena merasa mainannya dirampas. Akaba menyernyitkan keningnya. Apa yang dikatakan Hiruma itu benar? Kakei benar – benar terlihat seperti anak SD yang polos. Meski tinggi tubuhnya seperti anak SMP.
"Kok diambil sih" Kakei tersungut – sungut sebal. Ia membuang muka dan berbalik badan, ngambek.
"Bulu ayam ini bukan mainan, Kakei-kun. Fuuu."
"Kenapa? Aneh ya? Aku hanya ingin berakting karena dengan tubuh seperti ini, tak mungkin aku bersikap seperti anak SMU kan, Akaba-sama?" Kakei mencuri pandang kearah Akaba. Karena Ia enggan melihat ke depan. Pemandangannya jauh lebih mengillfeelkan. Memang Kakei terlihat sangat OOC. Tapi, demi kepentingan fic ini dan karena terbawa suasana tubuhnya, Kakei memang jadi sedikit bawel manja dan imut. Lanjut.
"Hmfh. Fuuuu" Akaba menahan tawanya. Ada – ada saja pikiran anak ini. Tapi cocok sekali. Karena bagi siapapun yang melihat, Kakei memang sosok anak manis berwajah imut. Siapapun pasti merasa gemas melihatnya, minus Koutarou, Hiruma dan Sena yang tau sosok aslinya.
"Tak perlu pakai –sama. Terdengar aneh" Akaba menurunkan Kakei dari pangku dan berdiri membereskan kasur lipatnya. Dilihatnya Koutarou yang masih tidur dengan jijaynya. Akaba tersenyum dan memberi isyarat pada Kakei untuk menjahili Koutarou. Kakei mengangguk dan melakukan hal yang sama pada Koutarou.
"Koutaroouu.. Banguunn"
"Haaa? WAAAA!" Koutarou menjerit. Dan Akaba hanya ber-fuu ria dan segera beranjak ke kamar mandi untuk bersiap – siap ke sekolah. Kakei berjalan mengikuti setelah melakukan aksi serangan pada Koutarou yang sukses membuat Koutarou bengek – bengek .
"Akaba, bagaimana dengan sekolahku?" Kakei berdiri di samping Akaba yang sedang mencuci muka dan menyikat gigi. Ia ikutan mencuci muka dan menyikat gigi. Akaba melirik sekilas dan kembali sibuk dengan rutinitas paginya.
"Apa selamanya aku tak bisa kembali ke sosok asliku dan akhirnya aku kembali bersekolah di SMP? Mengulang?" Kakei masih menceracau. Kumur – kumur dan selesai. Mendapati Akaba tak menanggapinya, Kakei ngambek dan berlari ke kamar Akaba. Akaba hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.
Akaba jadi berpikir, bagaimana jika Kakei sudah kembali ke wujud asalnya? Kehidupannya yang membosankan di rumah akan kembali lagi? Akaba menghela nafas dan mengambil handuk. Masuk ke kamar mandi dan mandi sampai bersih. Setelah selesai mandi, Akaba masuk ke kamarnya. Koutarou sudah tak ada di sana. Sepertinya Ia pulang dengan sebal dan ikut bersiap – siap untuk berangkat sekolah di rumahnya sendiri.
Akaba mengedarkan pandangannya ke seisi kamarnya yang sudah rapi. Siapa yang membereskan? Dilihatnya Kakei sedang duduk menghadap tembok di ranjangnya. Dulu, tak mungkin seorang Kakei akan hadir di rumahnya hanya untuk menginap untuk waktu lama. Dan tak mungkin Akaba mengenal sosok Kakei semasa kecilnya. Namun kini, Akaba merasa bahwa Kakei semakin manis dengan tingkah ala anak SMP baru lulus yang tidak dibuat – buat itu.
"Kakei-kun. Mau ikut aku ke sekolah?" Kakei yang duduk memunggungi Akaba, menoleh dan terkejut.
"Kenapa tidak pakai baju dan hanya pakai handuk?" Dengan wajah merona, Kakei kembali memalingkan wajahnya. Ia hanya mengangguk pelan sambil memainkan sesuatu.
"Aku habis mandi. Lagipula kau kan laki – laki. Kenapa harus malu?" Akaba cuek membuka lemari dan mengambil seragamnya. Kakei hanya diam. Tak tanggap juga ternyata.
Kakei masih asyik memainkan sesuatu sampai Ia mendengar Akaba bicara sendiri. "Dimana kacamataku?" Akaba sibuk mencari kacamata hitam kesayangannya di laci, meja, tas, dan di kolong ranjang. Bajunya yang sudah rapi itu mulai basah karena keringat. Tanpa kacamata itu, Akaba merasa sedikit minder dengan mata merahnya yang seolah ingin menelan orang yang ada di depannya bulat – bulat. Kakei tertawa kecil.
"Ka-kei-kuunn" Akaba mendekati Kakei yang duduk menghadap tembok dan mencubit pipi Kakei. Kakei meringis.
"Aduuh! Tak akan kukembalikan. Ayo ambil kalau bisa" Kakei memakai kacamata itu dan kabur dari Akaba. Akaba mengejarnya.
"Spider web!"
"Mobi Dick Anchor!"
"Hayatoo. Sarapan sudah siap. Dan ada apa ribut – ribut di atas?" Ibu Akaba memanggilnya dari lantai bawah sambil menyernyitkan kening. Ribut sekali di atas. Dasar anak – anak.
"Kakei-kun, kembalikan" Akaba masih mengejar Kakei yang kabur sambil memakai kacamata hitamnya. "Oh? Kakei-kun, awas!" Akaba berusaha memanggil namun terlambat. Kening Kakei sukses terbentur pintu lemari yang lupa Akaba tutup. Kakei jatuh terduduk dan meringis.
"Aduuhh.." Kakei mengelus keningnya yang memar. Akaba segera mendekatinya dan duduk di sampingnya. Ia melepas kacamata yang dikenakan Kakei. Kakei setengah menangis. Airmatanya Ia coba tahan di pelupuk matanya. Mungkin sakit sekali ya terbentur ujung pintu lemari sampai memar begitu.
"Fuu. Makanya jangan nakal. Terbentur kan jadinya" Kakei tak menghiraukannya. Masih sibuk mengelus keningnya yang sakit. Akaba menghela nafas dan mendekap tubuh Kakei. Kakei kaget dan segera mendorong Akaba, menjauh.
"Apa?" Kakei jutek. Kepalanya agak pusing dan Ia oleng. Akaba sigap menahan Kakei agar tak terjatuh. Dan Kakei kembali mendorong tubuh Akaba dengan teknik tangannya. Namun karena tubuhnya menyusut, tenaganya pun jadi tak seberapa.
"Diamlah, Kakei-kun. Pasang plester dulu" Akaba menggendong Kakei di depan dan mengambil kotak P3K. Kakei menyilangkan tangannya di dada, sebal. Selalu saja diperlakukan seperti anak kecil.
"Kakei-kun. Jangan tersinggung. Kau manis sekali" Akaba mengecup kening Kakei yang memar dan tersenyum. Ia memakaikan plester di kening Kakei agar memarnya cepat hilang. Kakei salting. Pura – pura ngambek padahal jantungnya berdegup kencang.
"Nah, sudah. Yuk turun. Kita sarapan" Akaba mengambil tasnya dan menyampirkan di bahu. Kakei akhirnya pasrah saat Ia digendong Akaba turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama. Kakei makan dengan sopan. Membuat ayah dan ibu Akaba saling pandang heran. Akaba cuek sambil menyeruput kopi panasnya. Sarapan kali ini terasa berbeda.
O.o.O.o.O
"Ah? Akaba, siapa anak itu?"
"Manis sekalii"
"Kyaa.. Mau gendong dong"
Teriakan anak – anak perempuan terdengar nyaring. Bagaimana tidak. Tiba – tiba saja Akaba yang terkenal itu datang ke sekolah dengan membawa anak laki – laki kecil dan bertampang imut. Kakei salting juga mendengarnya.
"Akaba, siapa itu?" Julie mendekati Akaba yang menggandeng tangan Kakei. Meski daritadi Kakei berusaha melepas genggaman tangan Akaba, gengsi.
"Hm? Ini? Ini Kakei" Akaba masih berjalan ke kelasnya. Ia sudah meminta izin via telepon tadi pagi bahwa hati ini Ia akan membawa seorang anak. Dan kepala sekolah menyetujuinya asal hari ini anak itu jadi model untuk pelajaran seni lukis. Kakei hanya mengangguk pasrah.
"Kakei? Kenapa mirip dengan Kakei dari Poseidon? Apalagi matanya" Julie berhenti dan mendekatkan wajahnya ke wajah Kakei. Memerhatikan. Kakei memalingkan wajahnya, risih. Ia menarik – narik tangan Akaba, memberi isyarat agar lekas jalan. Akaba mengangguk.
"Tidak. Berbeda. Lagipula Kakei Poseidon tingginya 2 meter. Anak ini kurang lebih hanya 120 cm" Akaba masuk ke kelas. Koutarou sudah duduk di bangkunya. Ketika Ia melihat Akaba sedang menggandeng Kakei masuk ke kelas, Ia segera mengacungkan sisir lipatnya dan mencak – mencak.
"Akaba! Apa – apaan kau! Ngebawa anak kecil ke sekolah kita. Wah parah banget lu. Pedophil ulung!"
"Koutarou, hentikan berbicara yang membuat salah paham" Akaba berjalan ke arah Koutarou, siap – siap memberi serangan Spider Webnya. Koutarou mundur sambil memasang tampang sok galaknya. Kakei hanya duduk di bangku Akaba, memperhatikan mereka berdua bertengkar sambil senyum.
"Akaba, ini anak yang kamu ceritakan tadi pagi?" Kepala Sekolah masuk ke kelas sambil manggut – manggut. "Manis juga. Baiklah, anak ini boleh keluar masuk sekolah. Asal tidak membuat rusuh"
"Baik, Pak"
"Haa?" Koutarou membuka mulutnya lebar. Kaget. Apa hari ini telinganya mengalami gangguan atau matanya mengalami katarak? Akaba menatap Koutarou dengan senyum kemenangannya.
Sementara di SMU Kyoshin nun jau di sana...
"Nhaaa! Kakei kemana? Tumben – tumbenan hari ini gak masuk" Mizumachi celingukan mencari Kakei. Diikuti oleh Onishi dan Ohira yang masih saja bertengkar memperebutkan siapa murid yang paling baik untuk Kakei.
"Tak tau. Tak ada kabar" Kobanzame hanya mengangkat bahu. Heran juga. Setelah kalah dari Deimon, Kakei hilang secara misterius. Tak ada jejak. Tak ada kabar. Hanya ada pecahan gelas di bangku ruang ganti yang mencurigakan. Banyak kabar seperti Kakei frustasi dan mengisolasikan diri, Kakei diculik, atau Kakei pergi ke Amerika lagi untuk belajar Amefuto lebih mendalam. Tak ada yang jelas.
"Gak biasanya. Hmmm" Mizumachi berpikir dan memutuskan akan mencari Kakei sepulang sekolah.
Kembali lagi ke SMU Bandou...
Kakei duduk di samping Akaba yang serius memperhatikan pelajaran. Karena pelajaran seni lukis terdapat pada pelajaran ke 5, jadi Kakei harus sabar menunggu di kelas, di samping Akaba. Kakei memainkan kakinya dan menguap, agak bosan. Pelajaran yang sudah dipelajari. Dan Kakei menguasainya. Makanya Kakei bosan.
"Anak – anak, sekarang ulangan"
"HAAAHH?" mendapati akan ulangan mendadak, semua siswa memasang tampang malas dan kaget. Bahkan Akaba menyernyitkan keningnya. Apalagi Koutarou. Frekuensi menyisirnya semakin cepat. Semua panik.
Sang guru membagikan soal. Para siswa dengan malas mengerjakan. Ada yang menyontek. Ada yang menjadikannya alas untuk tidur. Ada yang menjadikannya pesawat kertas dan menerbangkannya. Sang guru duduk di bangku dan mengambil posisi duduk paling nyaman untuk tidur.
"Fuuu... Guru itu hanya mau tidur saja ternyata" Akaba mengisi soal, masih dengan alis menyernyit. Pusing.
Kakei melirik soal – soal itu. Dan tersenyum dengan amat manis. Ia menarik – narik tangan Akaba, meminta kertas buram dan pensil. Dengan bingung, Akaba memberinya. Koutarou? Ia mengerjakan soal sambil menyisir. Kadang Ia salah antara pulpen dan sisir hingga Ia menyisir dengan pulpen dan mengisi soal dengan sisir.
Akaba memperhatikan Kakei yang mencoret – coret kertas buram dengan semangat. Satu soal, dua soal, tiga soal... hampir semua soal Kakei tulis cara dan jawabannnya. Kakei memberikannya pada Akaba dengan wajah polos. Akaba tersenyum dan mengelus rambut Kakei, menggeleng. Menolak halus.
Koutarou yang daritadi melihat tingkah mereka berdua, segera menadah minta contekan. Kakei mau tak mau memberikannya. Namun sebelum sampai ke tangan Koutarou, sang guru sudah berdiri di samping meja mereka, menatap tajam.
"Apa – apaan ini? Akaba! Koutarou!" dengan kasar sang guru merampas kertas contekan itu dan membaca isinya. Bergantian menatap Koutarou dan Akaba dengan tatapan ingin membunuh. "Siapa yang menulis ini dan menyuruh bocah ini untuk mengirim contekan ini?"
"Sa..." Akaba siap – siap membuka mulut dan dengan cepat Kakei mendorong meja Akaba hingga jatuh. Semua mata tertuju. Bengong. Heran.
"Hehehe. Maaf, Pak. Tidak sengaja. Maafin saya, ya Pak" Kakei memasang wajah lucu dan polosnya sambil memainkan ujung bajunya. Baju pinjaman dari tetangga.
Sang guru tersenyum dan mengangguk. Lupa akan marahnya dan membawa contekan itu ke depan. Waktu ulangan habis. Semua mengumpulkan jawaban ke meja sang guru. Setelah diperiksa, sang guru menyernyitkan keningnya. Nilai semua siswa hancur. Namun kenapa ada contekan yang jawabannya benar semua.
Bel berbunyi. Dengan cepat Akaba membawa Kakei ke atap sekolah, kabur dari sang guru yang masih menggaruk – garukkan kepalanya heran.
"Hampir saja" Akaba menyeka keringat di keningnya. Ia duduk lemas di lantai atap sekolah. Angin bertiup sejuk.
"Maaf, gara – gara aku..." Kakei mengucek bajunya, murung.
"Fuu.. Tak apa. Anak pintar" Akaba mengelus rambut Kakei lembut. Kakei salting. Ia pura – pura sibuk mengucek rambut sambil menunduk.
"Cih! Harusnya tadi gue dapet contekan itu! Nilai gue jadi cuma 2 kan. Gak smart banget" Koutarou membuka pintu dengan kakinya, mangkel.
"Koutarou?" Kakei dan Akaba berbicara bersamaan. Kaget. Koutarou ikut kaget. Ternyata si Mr. Pedopil ulung ini sedang berduaan dengan pasangan pedopilnya ya. Batin Koutarou, illfeel.
O.o.O.o.O
"Sudah kutelepon, handphonenya tidak aktif" Kobanzame menggaruk kepalanya yang tak gatal. Lebih tepatnya bingung. Sedangkan Mizumachi sudah tak ada di tempat. Sibuk mencari kemana perginya Kakei.
Mizumachi mencarinya hampir seluruh pelosok sekolah. Ia mengira Kakei menjauhi dirinya karena merasa kekalahan Poseidon itu gara – gara Kakei. Namun yang dicari Mizumachi tak ada hasil. Mizumachi sama sekali tak menemukan Kakei dimanapun.
"Kakei, kemana sih lu" Mizumachi bergumam.
Sementara di SMU Bandou, ruang seni rupa...
"Akaba, aku pegal" sudah 10 menit Kakei berdiri tanpa bergerak sedikitpun. Ia menjadi pusat perhatian satu kelas Akaba. Dengan wajah merona, Kakei berdiri agak salting. Membuat seluruh siswa gemas dan ingin membawanya pulang untuk dijadikan pajangan.
"Tahan, Kakei-kun" Akaba tersenyum dan kembali menggambar sketsa. Menggunakan roti untuk menghapus dan menggunakan pensil runcing untuk menggambar di atas kanvas.
"Kalau gambarnya tidak bagus, aku gigit ya" canda Kakei. Semua tertawa dan mengangguk. Guru kesenian ikutan mengangguk. Padahal canda itu hanya ditujukan pada Akaba. Namun Kakei tak sanggup bilang. Wajahnya semakin merona, panas.
Tiba – tiba Kakei oleng dan terjatuh. Semua kaget dan Akaba sigap mengangkat Kakei dan membawanya ke ruang UKS. Kakei pingsan. Tubuhnya panas. Semua riuh. Sang guru langsung menetralisir keadaan dengan menyuruhnya mereka memberi warna pada lukisan masing – masing setelah selesai.
Kakei diperiksa di ruang UKS. Demam. Hanya itu yang dikatakan dokter UKSnya. Selebihnya Ia tak tau apa yang menyebabkan Kakei pingsan. Akaba perlahan menyelimuti tubuh Kakei dan meletakkan saputangan basah miliknya di kening Kakei. Cukup panik.
"Akaba, tugasmu juga harus selesai ya" sang guru seni masuk hanya untuk melihat keadaan Kakei dan memperingati tugasnya. Kemudian keluar lagi untuk mengawasi anak – anak yang lain.
"Fuuu... Baik. Baik" Akaba mengambil kanvasnya dari ruang seni.
Tidak adil. Setelah kalah dari Deimon, kini tubuhku menyusut. Aku tak tau harus bagaimana lagi. Aku paling malang sedunia! Ah? Akaba? Akaba yang tertidur dengan wajah letih. Setiap hari selalu berada di ruang penuh data seorang diri. Apakah Kamu kesepian? Atau kamu sengaja menyendiri? Dua kalimat itu memang mempunyai arti mirip, namun sebenarnya berbeda jauh. Tidak kesepian di dalam kesendirian. Benarkah? Jangan tinggalkan aku. Tolong. Hanya kamu...
"Ergh..." Kakei membuka mata dengan berat. Kepalanya pusing. Pandangannya serasa berputar. Saputangan terjatuh dari keningnya setelah Ia berusaha untuk duduk.
"Sudah sadar, Kakei-kun?" Akaba tersenyum. Kanvas cukup besar itu menutupi tubuh Akaba yang berdiri menghadap Kakei.
"Sedang apa kau, Akaba?" Kakei duduk. Diamatinya Akaba yang masih sibuk entah menggambar atau memberi warna. Akaba menggeser duduknya agar bisa melihat Kakei dengan jelas. Ia tersenyum.
"Sedang menggambar dirimu"
"Eh?" wajah Kakei kembali memerah. Ia menutupi wajahnya dengan bantal, salah tingkah. Akaba kembali tersenyum. Bel pulang sudah daritadi berbunyi.
"Selesai"
"Lihat" Kakei turun dari ranjang dan mendekati Akaba. Ia terkejut. Di kanvas itu tergambar sosoknya yang tertidur dengan wajah damai. Kakei setengah menyernyitkan kening melihat warna rambutnya. Ungu!
"Akaba, kenapa warnanya ungu? Rambutku kan biru gelap" Kakei menatap penasaran. Padahal di kotak cat minyak Akaba, ada warna biru tua. Tapi kenapa Akaba tidak memakainya?
"Ra-ha-sia" Akaba tersenyum dan membereskan peralatannya. Kakei manyun. Ngambek. Sekali lagi Akaba tersenyum memandangi hasil karyanya. Merah dan biru terpagut satu menjadi ungu bukan?
O.o.O.o.O
"Akaba, malam ini boleh aku jalan – jalan sendirian?" malam hari di rumah Akaba, Kakei menarik – narik baju Akaba dengan wajah memohonnya. Akaba menghela nafas dan mengangguk. Meski sedikit khawatir.
"Mau kemana?" Akaba akhirnya bertanya setelah Kakei memakai sepatu. Ia memberi handphonenya pada Kakei untuk jaga – jaga. "Kalau ada apa – apa, telepon rumahku, oke Kakei?"
Kakei mengangguk dan berjanji hanya pergi sebentar. "Aku ingin menenangkan diri saja" dan Akaba hanya melepas kepergian Kakei dengan helaan nafas.
SMU Kyoshin. Pukul 7 malam.
"Hhhh.. Dulu aku bisa menopang tanganku di jeruji paling atas. Sekarang hanya bisa menggenggam jerujinya. Seperti di penjara saja" Kakei merasakan angin kencang berhembus memainkan rambut dan bajunya. Ia ingat janji yang Ia katakan di sini. Di tempat ini. Malam ini. Dengan Mizumachi. Untuk maju ke babak berikutnya dan menjadi yang teratas. Ternyata semua itu hanya tinggal kenangan. Kakei mencengkeram jeruji dengan tangan gemetar.
"Ouch!" terdengar pintu terbuka dan suara dari belakang Kakei. Kakei menoleh. Dan terkejut. Orang itu datang, masuk (atau keluar?) atap sambil mengelus keningnya yang terbentur pintu yang hanya setinggi 2 meter itu. Orang itu yang baru beberapa hari yang lalu meyakinkan dirinya untuk menang. Dia...
"Nhaa? Ada siapa itu? Malam – malam begini?" Mizumachi mendekat. Ia berjongkok di depan Kakei dan memerhatikan Kakei yang bersandar di jeruji, keringat dingin. Mizumachi menggaruk – garuk kepalanya sambil memonyongkan bibirnya, bingung.
"E.. Eh? Aku.. Aku hanya.." Kakei bingung untuk menjelaskan. Mizumachi masih menatap mata Kakei tajam. Dia tak mengenaliku?
"Kau jangan ke luar malam – malam. Nanti sakit... Hmm" Mizumachi berdiri tegak. Perbedaan tinggi itu sangat terasa oleh Kakei. 203 cm dengan 120 cm. Perbedaan yang sangat jauh. Kakei menghela nafas.
Mizumachi menengadahkan kepala, menatap langit yang dipenuhi bintang – bintang. Ia tersenyum. "Kau tau, tempat ini adalah tempat favorit temanku. Dia biasa kesini. Entah untuk bengong, berpikir, atau apalah. Jadi kau jangan seenaknya kesini"
Kakei mengangguk pelan. Ia melangkahkan kakinya, meninggalkan Mizumachi yang sebenarnya masih memerhatikannya lewat ekor matanya. Baru beberapa langkah, Kakei terkejut karena Mizumachi meloncat dan berdiri tegak di atas jeruji besi yang tinggi. Angin malam meniup rambutnya yang gondong.
"Mizumachi! Apa yang kau lakukan! Itu baha...ya..." Kakei menutup mulutnya. Sebenarnya kalimat itu reflek keluar karena kemarin, Mizumachipun melakukan hal yang sama. Dan Ia khawatir.
"Hmm... Apa yang selama ini terjadi... Kakei?" Mizumachi masih menatap lurus ke depan.
"Ah? Hhh.. Ceritanya sangat panjang, Mizumachi" Kakei menunduk. Ia menengadah menatap Mizumachi dalam. Akhirnya sahabatnya tau. Lama – lama, semua orangpun tau. Dan Kakei hanya bisa pastah.
"Kau tau, tadi aku mencarimu kemana – mana" Mizumachi duduk di atas jeruji. Ia juga memandangi Kakei tajam. Kakei hanya tersenyum tipis. "Terima kasih"
Dan malam itu, meski tanpa dijelaskan dengan kata – kata, Kakei dan Mizumachi mengerti satu sama lain. Dan Mizumachi berjanji untuk berbuat sesuatu untuk mengembalikan sahabatnya itu. Apapun caranya. Apapun akibatnya.
O.o.O.o.O
TBC! :DDDD
Gimana gimana? Ada ide tambahan? Saran? Kritik? Ayo ayo. Give it to me. Yeaahhh! #dihajar
Ide warna ungu itu saya ambil dari review yang dikasih heyitschechenky. Thanks. Padaha cuma ngegerundel. Tapi saya ambil juga. :D
Kakei OOC? Sangat. –dibahas lagi-. Tapi chap depan gak kok.
Repiew plis. ( ^n^)/
