Rubic Cube

.

.

NamJin

Chapter 2

.

.

Seokjin berbaring di atas sofa panjang di ruang keluarga, sesekali ia tampak mengusap kelopak matanya kasar, menandakan bahwa sudah seharusnya ia beristirahat. Namun sisa kesadarannya masih memaksa untuk bertahan, menyelesaikan separuh lebih bagian rubik yang masih belum terselesaikan.

Sejak satu setengah jam yang lalu, setelah kejadian "ramen pedas", Namjoon memilih meninggalkan Seokjin di ruang keluarga sendirian, memutuskan untuk masuk ke dalam kamar guna menghilangkan rasa penat, atau untuk tujuan lainnya. Tidak mau melihat Seokjin.

.

.

.

Hari kian larut, ditandakan dengan suara nyaring dari ruang tamu di lantai satu, dimana sebuah jam dinding dengan bahan kayu berpelitur mulai berdenteng sebanyak satu kali, menandakan bahwa kala itu sudah memasuki dini hari.

Namjoon sendiri sudah tertidur pulas, lebih tepatnya tertidur. Sebuah laptop berwarna hitam masih tampak terbuka, lampu indikator baterai pada laptop tersebut berkedip, menandakan bahwa laptop tersebut tak sengaja ditinggal hingga dayanya hampir habis.

Toh Namjoon juga tidak akan peduli kalau sudah tertidur seperti itu.

.

.

.

Seokjin masih setia pada tempatnya, kedua netra sewarna karamel miliknya terlihat sendu, tersirat rasa takut dan tidak nyaman, ketika menatap lampu pada langit-langit rumahnya semakin lama semakin meredup.

Sesungguhnya Seokjin hanya tidak pernah tahu, bahwa kedua orangtuanya memang sengaja mengatur lampu-lampu di rumahnya dapat meredup secara otomatis pada waktu-waktu yang telah ditentukan.

Jelas saja Seokjin tidak tahu perihal lampu tersebut. Karena seharusnya, pemuda itu sudah mendapat jam tidurnya beberapa waktu lalu. Bahkan sebelum ia memakan satu suap ramen yang dibuat Namjoon.

.

.

.

Seokjin ketakutan. Ia tidak berani meninggalkan sofa tempatnya duduk walau hanya sebentar, ia bahkan tidak berani menolehkan kepalanya ke arah manapun.

Seingat Seokjin, beberapa waktu lalu Namjoon sempat menakut-nakutinya dengan mengatakan bahwa rumah yang mereka huni berhantu. Kemudian Namjoon mematikan lampu kamar Seokjin dengan sengaja, lalu mengunci Seokjin dari luar. Hal itu membuat Seokjin berteriak ketakutan, hingga suaranya hampir habis. Namjoon tertawa terbahak, merasa sangat senang. Menurutnya Seokjin bisa berubah menjadi sosok yang menyenangkan jika sedang ketakutan. Tetapi setelah kejadian itu Namjoon menyesal, karena sang ibu tidak mau berbicara padanya selama beberap hari.

Dan tanpa Namjoon sadari, hal iseng yang ia lakukan pada Seokjin, justru membuat Seokjin trauma dengan tempat yang mendadak gelap.

Seokjin gusar, ia terduduk kaku dengan bulir-bulir keringat yang mulai menuruni pelipisnya.

Seokjin memaksakan diri untuk memeluk lututnya, kemudian giginya bergemeletuk. Ia takut, ia butuh seseorang untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, hingga ia dapat mengerti, dan menjadi tenang. Ia ingin berteriak, namun ia juga takut kalau Namjoon tiba-tiba muncul dan marah padanya.

.

.

.

Namjoon menggeliat malas, ia mengerang tak suka ketika bunyi ponsel terus saja mengusik tidurnya yang teramat nyaman.

Tangannya meraba meja nakas di samping tempat tidurnya guna meraih ponselnya yang terus berbunyi, dan tanpa melihat nama yang tertera, ia mengangkat panggilan tersebut secara malas.

"Ada apa? Kenapa pagi-pagi begini sudah menelepon?"

Dan dalam hitungan detik Namjoon mendapatkan kesadarannya secara utuh. Itu suara ibunya. Kini ibunya yang gantian mengerang kesal karena Namjoon tak kunjung menjawab panggilannya.

Namjoon sedikit gugup ketika ibunya bertanya macam-macam tentang Seokjin. Apakah Seokjin makan dengan baik, atau apakah Seokjin tidur di kamarnya, apakah Seokjin memakan kudapan malam harinya, dan lain sebagainya.

Tentu saja hal itu hanya diiyakan oleh Namjoon. Mana berani ia mengatakan bahwa Seokjin memakan sesuap ramen pedas yang ia buat, atau mengatakan bahwa ia tidak tahu menahu masalah jam tidur Seokjin, bahkan ia tidak tahu kalau Seokjin memiliki kudapan malam.

Bisa habis dipenggal kepalanya, jika ia berkata jujur.

.

.

.

Namjoon berjalan keluar kamarnya secara malas, sesaat setelah ibunya menelepon, beberapa menit kemudian Yoongi yang menghubunginya, memaksanya untuk ikut mencari earphone baru untuknya. Tentu saja Namjoon tidak bisa menolak, karena Min Yoongi yang terlihat lemah lembut sebenarnya beringas.

Langkah Namjoon berhenti sesaat, ketika kedua bola matanya mengamati sosok yang meringkuk di atas sofa ruang keluarga.

Namjoon mendekat, mengamati sosok itu lebih jeli dengan kedua alis yang saling bertaut.

Itu Seokjin. Namjoon menghela nafas panjang. Entahlah, ada sesuatu yang aneh dengan perasaannya. Terlalu campur aduk. Ia kesal, ingin marah, sekaligus ada rasa sedikit iba ketika mengamati Seokjin yang bergelung dalam posisi fetal untuk menghalau rasa dingin. Namjoon hanya tidak habis pikir, bahwa saudara tirinya itu benar-benar butuh dibimbing. Termasuk dalam urusan tidurnya sendiri.

"Seokjin, bangun! Pindah sana! Jangan tidur disini, nanti ada Yoongi mau datang, jangan tidur disini."

Namjoon mencoba membangunkan Seokjin dengan mengguncang-guncang pelan bahu pemuda itu. Seokjin melenguh pelan, tangan kanannya perlahan mengusap kedua matanya yang terasa lengket karena masih mengantuk.

Dan tanpa Namjoon sadari, ia reflek memalingkan wajahnya dari Seokjin. Lebih memilih untuk meninggalkan Seokjin, lalu berjalan menuju dapur untuk membuat susu hangat yang biasa ia minum di pagi hari.

"Jangan sok manis. Dasar menyebalkan."

.

.

.

Namjoon terduduk malas di ruang makan, tangan kanannya sibuk mengoperasikan ponsel, sedangkan tangan kirinya menggenggam gelas susu vanilla kesukaannya.

Sudut alis Namjoon memicing, ketika Seokjin berdiri mematung di hadapannya tanpa mengutarakan apapun.

"Kau mau apa?" tanya Namjoon singkat.

Seokjin tampak berpikir, kedua bola matanya terlihat menerawang, serta kedua tangannya sibuk memilin ujung sweater yang ia kenakan.

Namjoon meletakan susu yang ia pegang, kemudian mengamati Seokjin yang ternyata memandangi gelas susunya.

"Kau lapar?" tanya Namjoon.

Seokjin tidak berani menjawab. Ia takut kalau Namjoon akan memarahinya jika ia meminta makanan. Sama seperti tadi malam.

Namjoon sedikit emosi karena Seokjin terlalu diam. Namjoon berdecak malas. Entah apa yang Seokjin pikirkan, Namjoon tidak tahu. Dan tidak suka karena Seokjin benar-benar sulit diajak berkomunikasi.

"Duduklah, akan aku buatkan sesuatu."

Seokjin menurut. Ia tidak melontarkan satu-pun kalimat untuk membalas Namjoon.

Sedangkan Namjoon? Pemuda itu sibuk menyiapkan sebuah mangkuk yang ia isi dengan sereal rasa gandum cokelat kesukaannya, lalu menuangkan susu vanilla hangat yang sebelumnya sudah ia siapkan untuk Seokjin ke dalam mangkuk.

Namjoon menghentikan kegiatannya. "Untuk apa aku lakukan semua ini?" ujarnya sembari mengacak rambut frustasi.

"Yak! Kalau mau makan buat sendiri, jangan minta padaku. Kau paham?!" Namjoon tanpa sadar berteriak kepada Seokjin. Pemuda itu kembali mengacak rambutnya. Kemudian membawa semangkuk sereal ke hadapan Seokjin, meletakannya dengan sedikit keras, lalu berlalu meninggalkan Seokjin begitu saja.

Seokjin tercengang, ia menatap semangkuk sereal di hadapannya dengan senyum mengembang. Pemuda itu bangkit dari duduknya untuk mencari sendok yang akan ia kenakan. Hingga akhirnya kedua netranya menatap satu lemari berisi alat-alat makan yang biasa ibunya tunjukan. Seokjin tersenyum, ia meraih satu buah sendok alumunium dengan gagang berwarna biru muda bergambar Doraemon yang sering ia gunakan.

Seokjin duduk kembali, mengamati sereal di hadapannya dengan seksama. Kemudian melahapnya dengan senyum mengembang.

"Te- terimakasih Namjoon."

.

.

.

Namjoon kini terduduk di sofa ruang keluarga, ia sudah nampak rapih karena Yoongi berulang kali mengatakan bahwa ia dan Hoseok sudah hampir sampai ke rumahnya.

Namjoon mengamati Seokjin yang sedang telungkup di atas permadani tebal sembari memainkan rubik tak jauh dari hadapannya. Seokjin juga sudah mandi, tentu saja setelah Namjoon menyuruhnya. Dengan bentakan tentunya. Mengatakan bahwa Seokjin bau, menjijikan, jorok dan lain-lain sembari menyeret Seokjin ke kamar mandi.

Namjoon sendiri menyadari apa yang telah ia lakukan terhadap Seokjin sedikit kelewatan, namun itu semua terjadi tanpa pernah ia sadari. Ia selalu ingin berhenti berbuat kasar terhadap Seokjin, namun setelah ia melihat Seokjin, emosinya seperti meluap-luap tanpa bisa ia kendalikan.

Ia sendiri sebenarnya merasa bersalah pada kedua orang tuanya, mengingat mereka memperlakukan Seokjin dengan sangat halus, sedangkan ia memperlakukan Seokjin dengan sebaliknya.

.

.

.

Kini Namjoon sedang membahas mengenai tugas kuliahnya bersama Yoongi, mengabaikan Hoseok yang justru sibuk bermain bersama Seokjin.

Hoseok memang menyukai Seokjin, sebagai kakak. Seringkali ia berkunjung hanya untuk menemui Seokjin, membelikan Seokjin rubik baru atau puzzle dengan gambar Mr. Mario Bross kesukaan Seokjin.

Hoseok ikut telungkup di samping Seokjin, sibuk memperhatikan jemari Seokjin yang memutar-mutar ruas rubik demi menyamakan warna satu dengan yang lainnya.

Hoseok tersenyum, kemudian tangannya meraih pipi Seokjin untuk ia cubit, "kau imut sekali sih hyung!" ia berujar dengan nada dibuat se-imut mungkin. Dan tentu saja Seokjin tidak terlalu menggubris.

"Hentikan itu Hoseok, menjijikan sekali ewh!" cecar Namjoon.

Hoseok mana peduli dengan perkataan Namjoon, ia lebih memilih mengganggu Seokjin yang terlalu serius menyusun rubiknya.

"Sebaiknya kita pergi sekarang, aku tidak suka jika terlalu siang, karena jalanan pasti padat." Ujar Yoongi.

Hoseok bangkit dari posisi telungkup, kemudian meraih ranselnya yang ia letakan di atas sofa, bersiap untuk pergi, begitu pula dengan Yoongi dan Namjoon.

"Tunggu... Apa kita akan meninggalkan Seokjin hyung sendirian?" tanya Yoongi khawatir. Namjoon menggeleng, "tidak, nanti Ahn ahjumma datang. Biarkan saja."

Yoongi mengangguk, ia kemudian berpamitan pada Seokjin, mengatakan bahwa mereka tidak akan pergi terlalu lama. Hoseok juga tidak ingin ketinggalan, ia berpamitan pada Seokjin sembari menepuk-nepuk kepala Seokjin dengan lembut.

Sedangkan Namjoon. Ia berlalu begitu saja, meninggalkan Seokjin yang berdiri di belakangnya, menatapnya dengan tatapan sendu.

Seokjin paling tidak suka ditinggal sendirian, Seokjin takut. Namun ia tidak mampu mengungkapkannya. Apalagi mengungkapkan kepada Namjoon.

TBC

Yeay, akhirnya update. FF ini sebenernya bakalan tamat dengan cepat. Karena aku sendiri enggak kepikiran buat ff dengan banyak chapeter. Mungkin di chapter ke-4 ini sudah tamat. Atau mungkin di chapter selanjutnya? Atau mungkin lebih? Aku juga tidak tahu ㅋㅋㅋ

Terimakasih untuk kalian yang sudah berbaik hati mampir dan meninggalkan tanggapan, aku senang.

Ditunggu tanggapannya lagi ya di kolom review. Sampai jumpa di chapter selanjutnya

Salam cinta

- Eat Jinnie-

(Panggil aja Jinnie)