Gadis Air
Chapter 2
"Hoahm…." Gray menguap, dia baru saja bangun. Dibukanya jendela kamar, "Lagi-lagi aku bangun kesiangan" batinnya. Gray melihat pemandangan di luar. Orang-orang sudah ramai berlalu-lalang menjalankan aktifitas masing-masing.
Setelah membereskan kamar, Gray mandi, berpakaian, dan menuju ruang makan. Tentu saja tidak ada siapa-siapa disana. Ultear, kakak Gray, muncul dari dapur, "Lama sekali kamu tidur."
"Ohayou, Ul-nee." sapa Gray. Sapaan Gray dibalas pukulan di kepala oleh Ultear. "Ittai…" Gray mengelus kepalanya. "Sudah kubilang, jangan panggil aku dengan nama ibu." kata Ultear agak ketus.
"Gomen…"
"Ini, aku baru saja membuat sarapanmu." Ultear menyodorkan sepiring roti panggang dengan selai stroberi dan secangkir teh hangat. Gray menerima dan melahapnya. "Hewima Hahih(Terima kasih)"ucap Gray tidak jelas. "Bicara atau makan, pilih salah satu."
Gray mengabaikan teguran Ultear. Selesai sarapan, Gray membawa piring dan cangkir kosongnya ke dapur. Disana Ultear sedang mencuci piring-piring kotor.
"Gray!" panggil Ultear sebelum Gray meninggalkan dapur. "Ada apa?"
"Bisakah kamu bersihkan kaca jendela rumah?" pinta Ultear sambil mengelap piring.
"Hm, baiklah." Gray mengambil ember kecil berisi air dan kain lap. Tak lupa, ia menuangkan sedikit cairan pembersih.
"Dimana ibu?" tanya Gray disela-sela membersihkan kaca jendela dapur. "Ibu pergi ke pasar. Sebentar lagi pasti pulang." jawab Ultear.
Selama beberapa menit, Gray membersihkan jendela sesuai perintah Ultear. Sekarang hanya jendela ruang tamu saja yang belum dibersihkan. Gray mencelupkan lap ke ember lalu memerasnya agar air yang terserap tidak terlalu banyak.
Saat Gray sedang melakukan tugasnya, dia melihat Lyon melintas di depan rumah. "Gray!" panggil Lyon.
"Apa?"
"Ayo kita jalan-jalan! Belakangan kamu jarang jalan pagi." ajak Lyon bersemangat.
"Tapi, aku sedang bersih-bersih."
"Kalau begitu cepat selesaikan. Lalu kita berangkat."
"Baiklah, sebentar lagi aku selesai." Gray mempercepat pekerjaannya. Setelah itu kembali ke dapur untuk meletakkan ember beserta lapnya dan meminta izin kepada Ultear. "Ultear-nee, bolehkah aku jalan-jalan dengan Lyon?"
"Kamu boleh pergi setelah menyapu halaman." tukas Ultear.
Gray melangkah ke halaman menemui Lyon, "Kata Ultear-nee, aku boleh pergi kalau sudah menyapu halaman."
"Biar kubantu." Lyon mengambil sapu lidi di dekatnya.
"Arigatou, Lyon."
Kedua anak itu pun bekerja sama membersihkan halaman. Mereka menyapu daun-daun kering dan membuangnya ke tempat sampah basah untuk dijadikan pupuk tanaman.
"Selesai!"
Baik Gray maupun Lyon melihat hasil pekerjaan mereka. Halaman tampak bersih dan indah. Mereka puas dengan hasilnya. "Sudah selesai? Cepat sekali." Ultear muncul di ambang pintu.
"Kami membersihkannya bersama-sama." jelas Lyon. "Karena halaman sudah disapu, kami boleh pergi, kan?" Gray menagih janji. Ultear hanya mengangguk.
"Kami pergi dulu." pamit Gray dan Lyon sambil menutup pagar.
"Akhirnya aku bebas." kata Gray. "Jarang-jarang aku melihatmu menyapu halaman, Gray. Biasanya ibu atau kakakmu yang menyapu." sindir Lyon.
Gray cemberut, "Sekali-kali aku membantu tidak ada salahnya, kan."
Lyon tertawa melihat ekspresi Gray. "Hei, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
"Kemana?"
"Lihat saja nanti."
Mereka melewati rumah-rumah, lapangan, kantor kepala desa, dan pasar. Gray berhenti berjalan. Lyon menatapnya bingung, "Kenapa kau berhenti?"
Gray tidak langsung menjawab, matanya mencari sosok ibunya. "Apa ibu masih disini?" tanya Gray dalam hati. "Gray?" Lyon menyadarkan Gray.
"Oh…tidak apa-apa. Aku hanya mencari ibuku. Siapa tahu masih ada disini."
Kedua anak itu berhenti selama beberapa menit. Mengamati pasar untuk mencari seseorang. Setelah hampir 15 menit menunggu, orang yang dicari tidak kunjung datang. "Mungkin ibu sudah ada di rumah," ucap Gray akhirnya, "Ayo, kita jalan lagi."
"Hei, Gray. Kemarin aku menemukan tempat yang indah." cerita Lyon sambil berjalan.
"Tempat yang indah? Dimana?"
"Makanya aku mengajakmu jalan-jalan. Aku ingin menunjukkannya. Meski tempatnya agak jauh."
Mereka berjalan sampai tiba di padang rumput.
"Lihat, itu Paman Wakaba!" seru Gray. Dia menunjuk Wakaba yang sedang menggembalakan domba-dombanya.
"Ayo, kita hampiri dia." ajak Lyon. "Selamat pagi, Paman." sapa Lyon dan Gray ketika sampai di dekat Wakaba.
"Yo, selamat pagi, anak-anak. Kalian mau kemana?"
"Hanya jalan-jalan. Lyon yang mengajak," jawab Gray, "sepertinya kita sudah jauh berjalan."
"Hahaha, kalian bersemangat sekali. Itu bagus." tanggap Wakaba sambil tertawa. Ia menghisap rokoknya sejenak.
"Emm…Lyon, apa ini tempat yang ingin kau tunjukkan?" tanya Gray sambil mengamati sekitarnya. Gray tahu tempat ini, dan pernah kesini beberapa kali sebelumnya.
Lyon menggeleng, "Tentu saja bukan."
"Lalu dimana?"
"Kamu benar-benar tidak sabar, ya. Lebih baik kita cepat kesana," Lyon beralih ke Wakaba, "Kami permisi dulu, Paman."
Wakaba mengangguk, "Baiklah. Jangan pergi terlalu jauh, gadis air bisa datang tiba-tiba dan menculikmu."
Gray mengangkat alisnya, bingung. "Paman Wakaba mengatakan hal yang sama dengan ibu."
"Hh, paman percaya pada cerita itu? Gadis air itu tidak ada." bantah Lyon.
"Aku tahu kamu tidak percaya. Tapi sebaiknya kamu tetap berhati-hati."
Lyon merengut. Dia mengajak Gray untuk pergi, "Ayo, Gray. Saatnya mengajakmu ke tempat yang kumaksud."
Gray hanya diam dan mengikutinya. "Apa Lyon juga tahu tentang gadis air?" Gray bertanya-tanya. Mereka kembali berjalan cukup lama.
"Hei, sebenarnya dimana tempat yang kau maksud, Lyon?" Gray mulai buka suara. Lyon tidak menjawab. "Jangan-jangan tempat itu ada diluar wilayah desa?" tanya Gray lagi.
"Mm…mungkin." jawab Lyon ragu. "Setelah melewati kebun tanaman obat, kamu akan melihat tempat yang kumaksud."
Akhirnya kebun yang dimaksud Lyon terlihat. Mereka melewati kebun tanaman obat dan sampailah mereka di tempat yang belum pernah Gray lihat. Sebuah tempat yang dipenuhi bunga matahari. Gray memandang takjub pemandangan di depannya, "Waaaah, sejak kapan ada tempat seperti ini?"
"Entahlah, aku baru menemukan tempat ini beberapa hari yang lalu." jawab Lyon, terdengar bangga.
Gray mulai memetik beberapa bunga matahari, "Kenapa kau tidak mengajak Sherry? Dia pasti sangat senang."
Lyon mengangkat bahu, "Tadi aku berniat mengajaknya. Tapi kemarin dia bilang mau main dengan Flare."
"Benar juga. Sherry pasti iri kalau tahu kita pergi ke tempat seindah ini." Gray masih memetik bunga dihadapannya.
"Jangan petik bunganya terlalu banyak, Gray." tegur Lyon. "Sedikit saja, kok. Aku ingin membawa beberapa tangkai untuk ibu dan Ul-nee. Mereka pasti senang." Terbayang dalam benak Gray, ibu dan kakaknya menerima bunga pemberiannya dengan ekspresi bahagia.
"Hei, kenapa kau tidak memetik bunga juga? Bawakan untuk Sherry, dia pasti kesal karena kita tidak mengajaknya."
"Eh, tidak perlu." jawab Lyon buru-buru. "Kita bisa mengajaknya kesini lain kali."
Setelah puas memetik bunga, Gray merebahkan dirinya di atas permukaan rumput. Tangan kanannya menggenggam beberapa tangkai bunga matahari. Lyon juga melakukan hal yang sama dengan Gray.
Keduanya terdiam, memandang langit cerah tak berawan dan menikmati angin yang berhembus pelan. Lyon memejamkan mata, Gray melirik bunga di genggamannya. Dia tersenyum membayangkan reaksi keluarganya nanti.
"Nanti bisa diculik gadis air."
Tiba-tiba Gray teringat percakapan dengan ibunya kemarin sore. Bayangan tentang gadis air itu kembali muncul di kepalanya. "Lyon,"panggil Gray. Lyon membuka mata, menoleh kearah Gray tanpa mengucapkan apapun. "Kau pernah dengar tentang gadis air?"
"Bisa dibilang begitu."
"Apa yang kau dengar?"
"Gadis air itu suka menculik anak-anak. Tak tahu untuk apa. Penduduk desa sering menebak-nebak. Entah mana yang benar. Aku juga tak tahu."
Lyon tampak mengingat-ingat, "Ada yang bilang anak-anak diculik sebagai bayaran. Yah, kau tahu sendiri setiap kali gadis air datang, selalu membawa hujan. Ada yang mengatakan gadis air balas dendam, ada juga yang bilang dia sedang meneror kita."
"Sejak kapan kamu dengar rumor gadis air?"
Lyon bangkit, mengubah posisinya menjadi duduk. "Sudah lama. Tapi hanya itu yang kutahu. Aku sering mendengar penduduk desa menyebut gadis air jika hujan turun."
"Apakah gadis air nyata?" Volume suara Gray pelan ketika bertanya. Dia sedikit meragukan keberadaan gadis air. Meskipun ia telah melihat 'gadis air' itu kemarin.
Lyon terkikik, "Apa maksudmu 'nyata'? Gadis air hanya cerita bohong. Hanya cerita yang dikarang untuk menakuti anak-anak supaya mereka tidak bermain hujan."
Gray tampak ragu, "Tapi…"
"Jangan meremehkan cerita itu, nak." Suara seseorang menyela ucapan Gray. Gray dan Lyon tampak kaget dan melihat ke sumber suara. Seorang wanita paruh baya berambut merah muda telah berdiri di hadapan mereka. Tampaknya ia mendengar percakapan mereka.
"Ne…nenek siapa?" tanya Gray gugup. Rasa terkejutnya belum hilang.
"Namaku Porlyusica. Tabib desa, dan pemilik kebun tanaman obat di samping padang bunga ini." Nenek itu memperkenalkan diri. "Aku melihat kalian melewati kebunku. Apa yang kalian lakukan disini? Belum pernah kulihat kalian sebelumnya."
"Eh…kami sedang jalan-jalan. Dan kebetulan beristirahat disini." jawab Lyon cepat.
"Sebaiknya kalian jangan berlama-lama. Aku tidak suka melihat orang lain disekitar rumahku."
Lyon terdiam. Gray mengabaikan ucapan Porlyusica."Nek, apa maksudnya 'jangan meremehkan cerita itu' tadi?"
"Wah, wah, kelihatannya kamu belum diberi tahu orang tuamu." Porlyusica menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sepertinya seseorang harus memberitahukan kalian."
Gray dan Lyon tampak penasaran. Porlyusica menghela nafas, "Baiklah, aku akan menceritakannya. Tapi setelah itu, kalian harus pulang. Mengerti?"
Lyon mengangguk, begitu juga dengan Gray.
Porlyusica mulai bercerita, "Jadi…rumor gadis air ini sudah beredar di desa kita kira-kira 6 tahun yang lalu. Belum lama, bukan? Tidak heran kalau ada penduduk yang belum mengetahuinya. Kalaupun sudah mendengarnya, banyak yang tidak percaya." Kedua anak di hadapannya mendengarkan dengan seksama.
"Rumor ini diawali dengan hilangnya seorang anak. Aku yakin dia korban pertama gadis air. Penduduk desa berusaha mencarinya kemana-mana. Tapi hasilnya nihil. Berminggu-minggu kemudian, anak itu ditemukan di pinggir Hutan Berkabut. Namun…"
"Namun?"
"Gadis air telah menghilangkan emosi anak itu. Berubah menjadi tak berperasaan. Padahal sebelumnya dia anak yang ceria. Penduduk desa mencoba berbagai cara agar dia kembali seperti semula. Tapi tak ada hasilnya. Lalu, anak itu menghilang lagi entah kemana. Orang-orang menduga dia kembali diculik gadis air, yang sering menampakkan diri di desa. Sejak saat itu, banyak penduduk menghilang. Kemungkinan mereka dibawa gadis air ke Hutan Berkabut, tempat gadis air berada. "
"Penduduk? Kukira hanya anak-anak saja yang diculik." komentar Gray. "Memang, tapi awalnya gadis air menculik banyak penduduk. Akhirnya banyak di antara mereka yang pindah ke tempat lain karena takut dengan gadis air."
"Darimana nenek tahu gadis air tinggal di Hutan Berkabut?" tanya Lyon.
"Banyak penduduk mengatakan gadis air sering berada di sekitar sana. Lalu, gadis air menghilang begitu saja dibalik kabut."
"Memangnya ada yang pernah melihat gadis air?" tanya Lyon lagi, masih tidak percaya.
"Beberapa orang mengaku pernah melihatnya. Termasuk aku, meski hanya sekilas. Karena setelah itu, gadis air langsung menghilang. Dia muncul beberapa kali di desa. Aku lupa bilang, gadis air punya sebutan lain. 'Gadis Hujan'. Disebut begitu karena dia membawa hujan. Setiap kali gadis air datang, hujan turun sangat deras. Itulah sebabnya orang tua melarang anak-anak bermain hujan. Aku juga sudah memperingatkan mereka. Kalau kalian tetap nekat, bersiaplah untuk ikut dengan gadis air."
"Aku tak ingin diculik gadis air," celetuk Gray. "Lebih baik kita tetap diam di rumah kalau hujan turun."
"Baguslah kalau kalian sudah mengerti. Nah, sesuai janji sekarang kalian harus pulang. Kita tidak tahu kapan gadis air datang."
Tanpa disuruh dua kali, Gray dan Lyon langsung berlari menuju rumah. Mereka tidak ingin terperangkap di tengah hujan seperti kemarin sore. Mengingat mereka berada cukup jauh dari rumah. Gray melihat awan kelabu tebal menghiasi langit di sebelah timur, arah menuju Hutan Berkabut. Gray berhenti sejenak untuk melihatnya lebih lama."Apakah gadis air mulai mencari mangsa lagi?"
"Gray, jangan diam saja disitu. Kita harus segera pulang!" teriakan Lyon menyadarkan Gray. Gray berlari secepat yang ia bisa menyusul Lyon yang sudah jauh didepannya.
To be continue
Author berterima kasih buat yang mau baca dan review fic ini
Semoga chapter ini lebih baik daripada yang sebelumnya
RnR?
