BROKEN HEART?
Chara selalu milik Masashi Kishimoto Sensei, tapi fict ini tulisan Sao.
Warning : AU, OOC, FemNaru, Typo's yang selalu nyelip dengan bandelnya, cerita monoton, alur cepat dan maju mundur , dll.
Pairing : SasuFemNaru, slight other.
Fict ini Sao dedikasikan untuk my birthday dan semua yang berkenan dengan fict ini. Tak ada keuntungan materil yang Sao peroleh dari fict ini. Adapun chara yang OOC, itu hanya untuk berjalannya cerita dan sama sekali tidak ada niat untuk menyinggung fihak manapun, serta sama sekali tak ada niatan untuk membuat jelek suatu chara atau karya aslinya.
Don't like, don't read. Pilihlah bahan bacaan dengan bijak. Flame dipersilakan selama membangun.
Happy reading and happy birthday to me...
Chapter 2
.
.
.
.
.
.
Meraih benda tipis berbentuk persegi panjang yang terasa bergetar di dalam saku celananya, Uchiha Sasuke mengangkat naik beberapa mili sebelah alisnya. Menengok ke arah belakangnya, di mana terdapat seorang wanita cantik berambut panjang yang tengah terbaring dengan mata terpejam di atas tempat tidur, Sasuke pun melangkahkan kakinya keluar ruangan bercat putih tersebut dan kemudian baru lah dirinya menyentuh layar penerima telpon.
Menempelkan benda tipis tersebut ke depan telinganya, Sasuke mendengar suara penuh kepanikan dari seberang sana. "Hn."
"..."
"Hn."
"..."
Melebarkan kedua bola matanya, Sasuke terdiam cukup lama. Ekspresi pada wajahnya nampak tak terbaca, "Hubungan kami sudah berakhir. bagaimana pun keadaannya, aku sama sekali tidak peduli. Jangan pernah mengusik kehidupanku lagi."
Memutuskan sambungan telpon secara sepihak, Sasuke kembali memasukan smartphone-nya ke dalam saku celananya. Menatap kosong ke depan, pemuda bermarga Uchiha itu pun mengeraskan ekspresi pada wajahnya.
Ceklek...
Membalik badannya ke belakang, Sasuke melihat sesosok wanita hamil berambut pirang pucat yang tengah berdiri di ambang pintu.
"Sasuke-kun, ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu?"
Tersenyum tipis, Sasuke melangkah mendekati wanita tersebut dan kemudian meraih tangannya, "Sebaiknya wanita hamil sepertimu kembali beristirahat. Kekurangan istirahat akan membawa dampak buruk pada bayi Uchiha di dalam kandunganmu."
Terkekeh pelan, wanita cantik tersebut mencubit lengan Sasuke. "Kau cerewet sekali, seperti bukan Sasuke Uchiha yang kukenal saja."
"Hn. Aku hanya mengkhawatirkan dirimu dan kandunganmu, Shion."
Merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, wanita bernama Shion tersebut tersenyum penuh terima kasih ketika pemuda raven tersebut menyelimuti tubuhnya dengan selimut. "Arigatou, Sasuke-kun. Kami sangat beruntung karena memilikimu."
"Hn. Sudah kewajibanku, Shion." Sasuke mengelus rambut pirang pucat tersebut lembut. "Tidurlah."
Menganggukan kepalanya pelan, Shion pun mulai memejamkan kedua matanya.
Sasuke menghela napas pelan, sebuah senyum getir tersungging pada wajahnya.
'Naruto... Maafkan, aku.'
Melangkahkan kakinya ke arah pintu keluar, Sasuke menekan sakelar lampu yang terdapat di dinding. Menoleh sejenak ke arah wanita tersebut terbaring, pemuda raven itu pun berlalu dari ruangan tersebut.
Sementara itu, Shion membuka matanya setelah merasa yakin dirinya telah benar-benar sendiri. Menatap nanar pintu yang telah kembali tertutup rapat, tetesan air mata mengalir membasahi pipinya. "Hontouni gomenasai, Sasuke-kun."
.
.
.
.
Tut... Tut... Tut...
Menatap tak percaya ke arah layar smartphone-nya, Sasori terkekeh pahit.
Demi Tuhan, apa ini semua lelucon?
Sebenarnya apa yang telah terjadi? Sasori sama sekali tak mengerti.
Meremat rambutnya frustasi. Pemuda berambut merah tersebut menatap Adik sepupu pirangnya yang tengah memejamkan matanya. Naruto memang berhasil diselamatkan, namun gadis beriris sapphire tersebut belum juga tersadar dari masa kritisnya. Sasori masih ingat ketika sang dokter mengatakan bahwa Naruto hampir saja benar-benar meninggal dunia karena mengalami kekurangan darah, akibat luka sayatan pada pergelangan kirinya yang terlalu dalam.
Menatap miris kantung darah dan cairan infus yang mengalir secara perlahan dari selang infusan, Sasori meraih sebelah tangan sang adik sepupu dan kemudian mengecupnya. "Kenapa kau begitu bodoh, Naruto? Kenapa kau begitu nekad hingga ingin mengakhiri hidupmu? Apakah hatimu benar-benar hancur, Naruto?"
'...'
Mendesah lelah, Sasori menyenderkan punggungnya pada senderan kursi tunggu pasien. Menerwang jauh, pemuda berambut merah tersebut tersenyum getir. "Sebenarnya apa yang terjadi diantara kalian?"
.
.
.
.
Melemparkan tatapannya tajam, Fugaku Uchiha tersenyum dingin. "Terlalu cepat seratus tahun untukku memberikan restu pada kalian."
"Tou-san..." Sasuke menatap sang Ayah meminta penjelasan.
"Sampai kapan pun aku tak akan pernah sudi menjalin hubungan dengan Klan Namikaze." Ucapnya penuh penekanan, sebelum akhirnya melangkahkan kakinya pergi meninggalkan dua sosok yang nampak diam terpaku di halaman luas kediaman Uchiha.
Menolehkan pandangannya ke arah samping, Sasuke menatap sang kekasih yang masih setia menundukan kepalanya. "Naruto..." Menyunggingkan senyuman ketika Naruto akhirnya mendongakkan kepalanya dan menatap ke arahnya, Sasuke menghapus air mata yang mengalir dengan jemarinya. "Tak apa, mereka pasti akan mengerti."
"Entahlah, Suke." Terisak, gadis tersebut menatap sendu pemuda raven yang kini tengah menangkup wajahnya, "Orangtua kita saling membenci, Suke. Arogansi mereka tak mudah untuk ditembus. Mereka akan selamanya bersaing satu sama lain untuk membuktikan diri bahwa mereka yang terbaik."
"Hey... Kenapa Naruto-ku menjadi gadis pesimis seperti ini?" Sasuke membawa gadis tersebut ke dalam pelukannya, "Bertahun-tahun kita bertahan, bahkan kau sampai meninggalkan rumahmu untukku. Aku tak akan membiarkan semuanya berakhir begitu saja. Kita pasti bisa, Naruto. Bertahanlah sedikit lagi."
"Hiks... Maafkan aku, Suke."
Mengeratkan pelukannya, Sasuke mengelus surai pirang panjang sang kekasih. "Aku mencintaimu, selalu hanya akan mencintaimu. Kita pasti bisa melalui semua ini, Naruto."
.
.
.
.
"Sasuke?"
Tersentak pelan, Sasuke meluruskan pandangannya ke depan. "Hn?"
"Kau melamun?"
Menatap wanita berambut pirang pucat yang kini tampak berdiri di hadapannya dengan gaun putih khas pengantin, Sasuke mengulum senyum simpul. "Kau cantik, Shion."
Merona malu, Shion memutar-mutar tubuhnya. "Benarkah? Aku ragu, Sasuke-kun. Bukankah justru aku tampak gemuk?"
"Hn." Sasuke bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah wanita tersebut berdiri. Menatap bayangan mereka berdua yang terpantul di dalam cermin besar, Sasuke menepuk pundak Shion. "Lihatlah."
Shion meluruskan pandangannya, sebuah senyuman disunggingkannya ketika melihat bayangan mereka yang tengah mengenakan pakaian pengantin nampak serasi di dalam pantulan cermin. Bukankah Sasuke nampak memukau dengan jas pengantin yang tengah dikenakannya? Namun tak lama senyumnya kemudian memudar, wanita tersebut mengelus perutnya yang nampak tak rata.
"Gomen, Sasuke-kun."
Terdiam. Sasuke menatap datar bayangan mereka, "Berhentilah meminta maaf, Shion. Permintaan maafmu hanya akan membuatku terbebani."
"Ta—"
Tak memberi kesempatan untuk Shion kembali berbicara, Sasuke menatap wanita tersebut tajam. "Ini semua kulakukan untuk dia."
"Sasu—"
"Aku akan mengurus pembayaran. Kau bergantilah pakaian." Sasuke pun berlalu pergi setelah kembali menyela ucapan wanita tersebut.
Sementara Shion nampak terpaku untuk sejenak. Tersenyum getir, dielusnya perut membuncitnya dengan perlahan. "Tapi kau tak menginginkan pernikahan ini, Sasuke-kun. Kau sama sekali tak mencintaiku."
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
A/N.
Ehehe... gak jadi 2shoot, minna-san. Sao mau nyicil aja updatenya walau pendek-pendek, maklum lagi terbatas kuota. Tapi beneran tamat kok pas hari jadi Sao tanggal 28 ini. Maafkan Sao yang emang plinplan ini.
Banyak yang dibuat bingung dengan alur yang Sao gunakan. Sao pakai alur mundur, minna. Scene MinaNaru itu scene masa mendatang, bisa dibilang ini cerita masa lalu Naruto. Dan yang diitalik adalah kenangan Sasu.
Untuk alasan Sasu udah mulai terkuak dong.
Sao ucapkan terima kasih untuk para reader, silent reader, reviewer, guest, follower dan yang untuk semua yang telah meluangkan waktunya untuk fict ini.
Sampai ketemu chap depan dan berkenankah untuk mereview?
Balasan review yang gak log. in
Kitsune : sudah dilanjut.
Guest : Ugh... apanya yang munafik, ya? Huaaa... Sao cuma plinplan, kok.
Retnoelf : Sudah dilanjut. Maaf karena pendek.
Arigatou telah mereview, untuk yang log. in akan Sao balas via PM.
