Tujuh hari kemudian, Miyuki mendapati dirinya berada di tengah-tengah acara makan malam formal sebagai pembuka Kompetisi Sembilan Sekolah. Seperti biasa, kakaknya Tatsuya tidak terlalu menyukai keramaian, Ichijou Masaki masih mencuri-curi pandang ke arahnya, dan semua orang berharap ia dapat bersosialisasi dengan baik di tahun terakhirnya mengikuti kompetisi.

Yang membuat makan malam kali ini berbeda adalah karena ada Kyubey yang duduk di atas bahunya—walaupun tidak berat sama sekali, malahan sepertinya makhluk itu tidak memiliki berat badan satu gram pun.

"Hei Miyuki-chan, coba lihat ke arah Ichijou di sana!" Amy menyikut lengan Miyuki sambil sesekali melirik ke arah Pangeran Marun yang menaruh seluruh fokusnya pada Miyuki secara intens. "Sudah tiga tahun ini dia mengincarmu, lho. Mengapa tidak kaudekati saja? Dengan demikian, masa depanmu sebagai anggota terhormat dari Sepuluh Klan Master akan terjamin!"

Semua gadis di sekitarnya tertawa mendengarnya. Memang benar, menjadi anggota keluarga dari salah satu Sepuluh Klan Master menjamin ketenaran, kekayaan, dan kehormatan yang luar biasa, namun sejujurnya Miyuki tidak membutuhkan itu semua—oh tolong, dirinya sebenarnya adalah kandidat utama pewaris tahta Yotsuba Maya, yang notabene merupakan ketua dari salah satu klan praktisi sihir terkuat di Jepang, jadi ia tidak butuh menikah dengan Ichijou hanya untuk menjadi anggota Sepuluh Klan Master.

Tawa mereka semakin meledak saat Shizuku berkomentar pelan, "Percuma saja Amy, mata Miyuki sudah terlanjur terpaku pada Tatsuya. Tidak bisa ke lain hati."

Miyuki hanya bisa menghembuskan napas panjang melihat dirinya dijadikan bahan tertawaan seperti ini. Mengabaikan Kyubey yang meminta disuapi potongan kue cokelat yang ada di atas piringnya, remaja tujuh belas tahun tersebut lagi-lagi melirik ke arah Tatsuya yang sedang berdiri dan memegang gelas sambil mengamati seluruh acara. Ada sedikit rasa kecewa di hatinya, karena sedari tadi pandangan Tatsuya tidak pernah terpaku pada ia seorang, walaupun Miyuki tahu sang kakak selalu mengamatinya melalui Penglihatan Elemental yang menjadi ciri khasnya.

"Miyuki, ayo menyendiri sebentar," Kyubey menegurnya secara mendadak dan mengarahkan ekornya ke meja minuman. "Aku akan memperkenalkan kau dengan gadis ajaib yang kumaksud."

Segera Miyuki menyelesaikan potongan terakhir kue cokelatnya, undur diri dari teman-temannya, dan pergi menuju tempat yang Kyubey maksud. Di meja minuman tersebut hanya ada seorang siswi dari SMA Sihir Delapan yang baru saja selesai menenggak teh hijau dingin yang tersedia. Gadis bertubuh mungil itu memiliki rambut berwarna strawberry blonde lurus sepunggung, iris mata sewarna dedaunan, dan mengenakan cincin perak bermata merah mungil di jari tengah kiri.

Tadinya Miyuki berniat untuk mengawali percakapan, namun ternyata gadis itu terlanjur menyadari kehadiran Kyubey yang duduk di atas pundak kirinya.

"Kyu—Kyubey!" ia berseru, namun agak tertahan. "Rupanya kau datang juga ke sini? Dan membawa Shiba Miyuki pula. Apa dia rekrut baru?" remaja seumurannya tersebut langsung melirik ke arah tangan kiri Miyuki yang tidak mengenakan perhiasan apa pun. "Oh, maksudku, calon gadis ajaib."

Kyubey melompat ke meja minuman yang kosong dari gelas-gelas dan mulai memperkenalkan kedua gadis yang ada. "Benar sekali, Akane. Aku sedang mengajak Miyuki untuk menjadi gadis ajaib, dan dia bilang dia ingin melihat bagaimana kehidupan seorang gadis ajaib yang sebenarnya."

Akane tersenyum mendengarnya, sementara Miyuki memutuskan untuk membungkukkan badan terlebih dahulu. "Salam kenal, namaku Shiba Miyuki dari SMA Sihir Pertama. Panggil saja aku Miyuki. Aku baru berkenalan dengan Kyubey sekitar satu minggu yang lalu, jadi aku belum mengerti apa-apa mengenai gadis ajaib. Mohon bantuannya."

"Salam kenal juga," ujar Akane yang ikut membungkukkan badannya, "namaku Ichigasai Akane dari SMA Sihir Delapan, panggil saja Akane. Aku sudah menjadi gadis ajaib sejak setahun yang lalu, dan ini tahun terakhirku mengikuti Kompetisi Sembilan Sekolah, jadi sama sepertimu. Tentu saja, aku akan menjelaskan padamu bagaimana kehidupan sebagai gadis ajaib berjalan."

Mereka berdua kembali berdiri tegak, sementara Akane bersiap-siap untuk meninggalkan meja. "Ah, sepertinya jika kita terlalu lama berbicara di sini, orang-orang akan mulai curiga," gadis itu memberi saran dan menggaruk telinga Kyubey dengan penuh rasa sayang. "Aku akan mengirim pesan melalui Kyubey mengenai kapan kita bisa bertemu. Bagaimana kalau malam ini juga, aku menunjukkan semuanya padamu?"

"Tentu saja boleh," Miyuki tersenyum mendengarnya. "Kalau begitu, sampai jumpa nanti malam, Akane."

Kyubey kali ini melompat ke pundak Akane dan mereka berdua pun melangkah pergi. "Sampai jumpa!"


sing me a sugar-coated auld lang syne #2: Salve, Terrae Magicae

Mahouka Koukou no Rettousei owned by Satou Tsutomu
Puella Magi Madoka Magica owned by Magica Quartet
An alternate reality by Chocochino
The author does not take any financial profit


.

Ketika jam di dinding selesai berdentang dua belas kali, tubuh Miyuki sudah diserbu oleh serangan angin malam yang membekukan tulang di halaman belakang hotel tempat penginapan peserta Kompetisi Sembilan Sekolah. Memang sekarang ini masih musim panas, namun bukan berarti udara tidak menjadi dingin saat tengah malam menjelang. Untungnya Miyuki sudah bersiap-siap dengan mengenakan jaket paling tebal yang bisa ditemukannya (alias jaket Tatsuya, tapi jangan bilang siapa-siapa) sehingga seharusnya tidak ada masalah.

Dari belakang, seseorang melontarkan celetukan, "Jaketmu itu sepertinya terlalu besar, Miyuki-chan," ujarnya sambil tertawa dan memegang lengan jaket Miyuki yang kebesaran. "Apa ini punya kakakmu? Siapa itu namanya ... Tatsuka-san?"

"Ah, ternyata kau, Akane-san," Miyuki hanya membalas dengan berbalik badan dan tersenyum lembut. Ugh, enaknya jadi penduduk asli Hokkaido, Akane jadi sudah terbiasa dengan iklim dingin sehingga tidak memerlukan jaket di udara seperti ini, sementara Miyuki masih harus mengenakan jaket yang terlalu besar sampai-sampai sesekali ia harus menggulung lengannya yang merosot beberapa menit sekali. "Iya, ini jaket kakakku. Namanya itu Tatsuya, bukan Tatsuka."

"Hei, jangan pakai embel-embel '-san' seperti itu, dong!" Akane mengerutkan bibir selama beberapa saat tanpa memedulikan kesalahan penyebutan nama yang baru saja dilakukannya. "Aku ini gadis ajaib yang ditugaskan untuk menemanimu, jadi sudah seharusnya kita berteman dengan akrab layaknya sahabat. Lagi pula, kalau bukan dengan sesama gadis ajaib, siapa lagi yang mau mengerti apa yang kita rasakan?"

Miyuki mengangguk. "Kau benar, Akane. Baiklah, kalau begitu, bisa kita mulai saja penjelasannya?"

"Oke, oke," Akane mengacungkan ibu jarinya. "Tapi mulai dari mana ya ..."

"Dari sumber kekuatan kalian saja dahulu."

"Oh, iya! Kalau begitu, aku tahu! Ini namanya Soul Gem," Akane mengusap cincin bermata merah di jari tengah kirinya dan mengubahnya menjadi sebuah ornamen permata berbentuk telur merah rubi dengan garis-garis emas. Pendaran permata itu sangat terang, sampai-sampai mereka tidak butuh senter lagi untuk melihat jalan. "Setelah melakukan kontrak dengan Kyubey, dia akan memberikanmu sebuah Soul Gem, sumber dari kekuatan sihir seorang gadis ajaib dan ciri khas utama seorang gadis ajaib."

Akane menyerahkan Soul Gem-nya pada Miyuki. "Nih, kalau kaumau memegangnya. Tapi jangan bawa jauh-jauh, ya."

Dengan sigap, sang gadis berambut hitam itu memperhatikan permata telur rubi tersebut erat-erat. "Kelihatannya bukan rubi biasa. Ah, tidak mungkin kalau ini sekadar permata biasa. Soul Gem itu sangat spesial, ya." Miyuki memutuskan untuk mengembalikan benda tersebut ke tangan Akane. "Cantik sekali, sesuai dengan namamu, Akane—suara merah."

"Dulu, saat aku baru direkrut sebagai gadis ajaib, aku suka menghabiskan malam sebelum tidur sambil mengamati Soul Gem ini saking cantiknya," Akane bercerita sambil menaruh permata tersebut di atas telapak tangan kanannya yang terbuka. "Jika di dekat kita ada penyihir, atau jika sempat ada penyihir di sini, Soul Gem akan berpendar dengan sangat terang. Dilihat dari cahayanya sekarang, seharusnya sebentar lagi kita akan menemukan labirin penyihir."

"Jadi, sekarang kita akan mencari penyihir, Akane?" Miyuki menggulung jaketnya sekali lagi, sedikit merasa terganggu karenanya.

"Bukankah ini kesempatan yang kautunggu dari tadi, Miyuki-chan?" Akane malah balas bertanya, lalu mulai berjalan meninggalkan halaman belakang hotel. "Ayo, ikut aku. Pencarian penyihir ini takkan memakan waktu lama."


.

Saat Akane berkata bahwa pencarian penyihir tersebut tidak memakan waktu lama, gadis itu tidak berbohong.

Miyuki agak kaget saat ia melihat lokasi labirin penyihir tersebut berada, yakni di lapangan parkir hotel yang lumayan gelap ketika tengah malam menjelang, seperti saat ini. Walaupun ada beberapa lampu jalan yang menyala, cahayanya tidak cukup untuk menerangi seluruh lapangan, terutama di beberapa bagian yang dibayangi oleh pohon-pohon besar.

Tidak heran, di bawah salah satu pohon rindang di sudut lapangan, Miyuki dapat melihat dua orang siswa peserta kompetisi—sekolah asalnya tidak bisa diidentifikasi, sayangnya—yang sepertinya sedang membuat strategi untuk dipakai dalam perlombaan. Dilihat dari lokasi dan waktu perencanaan, ada kemungkinan bahwa mereka akan bertindak curang, namun sekarang bukan waktunya bagi Miyuki untuk mengganggu mereka. Ada hal yang lebih penting saat ini.

Namun setelah diamati lagi, rupanya kedua murid itu berjalan ke arah mereka. Langkah kaki mereka begitu lemas, dan mata mereka terlihat kosong; seakan-akan mereka berjalan sambil tidur ke tempat ini, atau dikendalikan oleh sesuatu. Di dekat tengkuk mereka, ada sebuah stempel dengan logo kepala beruang teddy.

"Itu namanya ciuman penyihir, Miyuki-chan," Akane menepuk bahunya perlahan. "Ketika keputusasaan terdeteksi oleh seorang penyihir, ia akan memangsa jiwanya dengan tanda ciuman penyihir. Biasanya, manusia yang terkena ciuman itu akan terdorong untuk bunuh diri. Sampai penyihir itu dikalahkan, mereka tidak bisa dihentikan."

Saat itu, lampu penerang jalan yang ada di lapangan parkir memantulkan cahaya tepat pada botol yang mereka genggam di tangan kanan masing-masing—mungkin itu racun untuk bunuh diri, sesuai dengan kata Akane barusan. Sang gadis ajaib langsung menghampiri kedua pemuda yang terkena ciuman penyihir tersebut dan mengikat tubuh mereka berdua menggunakan pita hijau yang sedari tadi mengikat rambut strawberry blonde-nya dan dapat memanjang menggunakan sihir dari Soul Gem. Setelah menggunakan sihir tersebut, muncul bintik hitam kecil di Soul Gem Akane tersebut.

"Nah, Miyuki-chan, kita sudah sampai!" seru Akane sambil menunjuk ke arah sebuah papan tanda besar bertuliskan 'Lapangan Parkir' yang kelihatannya tidak wajar, karena tulisannya bercahaya merah menyala dan melayang-layang di depan mereka. "Ini adalah pintu masuk menuju labirin penyihir. Mulai dari sini, semuanya sangat berbahaya, jadi jangan macam-macam, ya!"

"Um!" Miyuki mengangguk, lalu melontarkan sebuah pertanyaan yang sudah mengganggunya sejak tujuh hari lalu. "Tapi mengapa orang-orang tidak memperhatikan keberadaan labirin penyihir ini?"

"Oh, sebenarnya semuanya bisa terlihat kok, kalau kau memperhatikannya dengan baik," Akane memandang ke arah langit yang tidak berbintang akibat polusi cahaya. "Dunia penyihir dan gadis ajaib itu seperti orang-orang yang kaulewati di jalan. Apa Miyuki-chan pernah memperhatikan mereka? Tidak, bukan? Kalaupun kau melihatnya, kau akan segera melupakan mereka, karena mereka tidak penting. Seperti itu juga penyihir dan gadis ajaib."

Ditambah dengan fakta bahwa makhluk-makhluk ini tidak dapat dideteksi oleh Penglihatan Elemental Tatsuya, pantas saja dunia ini dapat tersembunyi dari orang awam. Kalau seperti ini, sihir kakaknya tidak akan berguna sama sekali.

"Ayo masuk, Miyuki-chan." Akane mulai menarik-narik ujung jaket Miyuki yang kebesaran. "Aku takut nanti mereka terbangun dan jadi mangsa penyihir itu."

Jika mengesampingkan dunia gadis ajaib, Miyuki jauh lebih kuat daripada Akane akibat kemampuan sihirnya yang luar biasa, namun kali ini Akane lebih kuat karena dapat memanfaatkan keberadaannya sebagai gadis ajaib. Toh sekuat apa pun sihir Miyuki, semuanya tidak akan dapat digunakan kalau sudah masuk ke dalam daerah kekuasaan penyihir.

"Ya!"

Jadi kedua gadis itu melangkah masuk melalui pintu labirin yang telah menyimpan seribu kejutan untuk mereka.


.

Kesan pertama Miyuki mengenai labirin adalah: berantakan.

Ia tidak menyangka bahwa dunia penyihir akan berbentuk seperti tumpukan kolase tidak beraturan dengan begitu banyak benda yang melayang mengitari mereka. Di sekitar dinding dan langit-langit labirin, ada banyak gambaran mobil dan bus yang berusaha untuk parkir, serta siluet orang-orang yang melangkah keluar dari kendaraan mereka masing-masing. Jalanannya seakan-akan terbuat dari batu bata yang digarisi dengan cat putih seperti pola lapangan parkir pada umumnya. Di kejauhan, ada dua siluet petugas parkir yang mengayunkan lightstick sebagai penunjuk jalan.

Akane menepuk bahu Miyuki pelan. "Jangan takut. Labirin penyihir memang seperti ini: tidak beraturan. Bagian luarnya menyerupai lokasi labirin tersebut berada. Namun semakin kita menjelajah ke dalam, tema labirin akan mulai melambangkan ciri khas sang penyihir. Baru di bagian terdalam, kita akan menemukan penyihir itu sendiri. Di sepanjang jalan, kita juga akan bertemu dengan pasukan-pasukannya yang akan berusaha menyakiti kita, karena kita adalah penyusup di sini."

Setelah berkata demikian, Soul Gem Akane mulai memudar dan mengubah pakaian santai Akane menjadi kostum yang berbeda. Akane mengenakan terusan setengah paha berwarna merah dengan lengan pendek, sementara tangannya dilapisi oleh sarung tangan putih sesiku dan kakinya dibalut oleh sepasang stocking hijau tua panjang. Kedua pasang sepatu mary-jane-nya berwarna putih bersih, sama seperti sarung tangannya. Kancing dan pita di pinggangnya berwarna hijau tua, sedangkan rambutnya dihiasi oleh bando hijau dengan hiasan stroberi yang cukup besar. Jika diperhatikan dengan baik, sebenarnya hiasan stroberi di kepala Akane tersebut adalah Soul Gem yang menyatu dengan atribut gadis ajaib Akane.

Sementara perubahan tersebut berjalan, Miyuki hanya bisa melongo. "Akane, bagaimana bisa ..."

Hal itu tentu saja memancing gelombang suara tawa Akane untuk bergetar di udara. "Astaga, Miyuki-chan, memangnya kau tidak pernah menonton serial gadis ajaib di televisi? Perubahan wujud seperti ini normal, tahu! Kehidupan gadis ajaib yang sesungguhnya memang tidak berbeda jauh dengan cerita-cerita di komik atau kartun, hanya berbeda musuh dan teori saja."

Miyuki menjawabnya dengan gelengan kuat. "Aku tidak pernah tahu apa-apa mengenai gadis ajaib sebelumnya. Kalau ditanya mengenai gadis ajaib, aku pasti berpikir tentang diriku sendiri sebagai praktisi sihir modern."

Mendengar hal itu, tawa Akane menjadi semakin keras. "Miyuki-chan, tak kusangka masih ada gadis sepertimu yang tidak menikmati masa kecilnya! Padahal kau ini pasti pernah bersekolah di sekolah biasa, bukan? Di mana kau bertemu dengan banyak sekali gadis seusiamu yang hidup dengan normal? Seharusnya kau bergaul dengan mereka saat kecil, supaya kamu mengerti mengenai dunia anak perempuan. Ya misalnya tentang kartun gadis ajaib ini."

Selama Akane berkhotbah, Miyuki hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya, ya, aku memang tidak terlalu menikmati masa kecil, kok. Sudah kuterima nasibku seperti ini."

"Baiklah, baiklah, kita lanjut berjalan ke dalam saja, ya. Lihat, lapangan parkirnya mulai memudar. Dan semua boneka beruang teddy ini ..."

Kini, di hadapan mereka, ada begitu banyak boneka beruang teddy yang mengenakan seragam tentara angkatan darat Eropa abad ke-19 dan sedang melakukan baris-berbaris sambil membawa senapan lontak (tepatnya rifled musket, namun Miyuki tidak peduli). Kebanyakan di antara mereka telah rusak sampai isian kapas di dalamnya keluar, misalnya di bagian leher atau kaki. Menyadari ada penyusup yang berhasil menginfiltrasi daerah kekuasaan lawan, para boneka beruang tersebut mulai mengarahkan senapan lontak yang ada di bahu mereka ke arah Miyuki dan Akane.

"Eh, Akane, apa kalau kita tertembak oleh mereka, kita juga akan terluka?" Miyuki menanyakannya dengan agak ragu. Jujur saja, walau boneka-boneka teddy di hadapannya tersebut terlihat imut, tetap saja mereka adalah boneka teddy rusak yang membawa senapan. Membawa senjata api. Mereka tidak bisa dipandang sebelah mata, kan? Apalagi sihir Miyuki tidak bisa dipakai untuk membela diri.

"Ehm, sepertinya iya," Akane menjawab sambil tertawa kecil, membuat keraguan Miyuki berkembang menjadi rasa cemas—hal itu dapat dilihat dari perubahan raut wajahnya. "Tapi tenang saja, Miyuki-chan, karena aku akan mengalahkan penyihir itu dalam waktu sekejap! Ayo, kita masuk lagi ke dalam!"

Dengan sigap, Akane menarik pisau-pisau tajam dari ikat pinggangnya secara ajaib dan mulai melempari para penjaga labirin dengan keakuratan tingkat tinggi. Semua beruang mati dengan luka tusuk di dada karena pisau lemparan Akane, dan sementara itu sang pelempar belati sendiri sepertinya tidak pernah kehabisan pisau untuk dilemparkan.

Ah, indahnya sihir Soul Gem.

Semakin mereka masuk ke dalam labirin, Miyuki semakin sadar bahwa bentuk labirin ini sebenarnya adalah sebuah kamar tidur anak perempuan kecil. Di sudut-sudut labirin, ada banyak mainan dan pernak-pernik anak perempuan, sementara para tentara teddy sesekali menyerang mereka. Akane terus menyerang tanpa terlihat lelah, membuat Miyuki jadi ingin menolongnya. Tapi untuk apa menolong kalau gadis Hokkaido itu bisa melemparkan sepuluh pisau sekaligus sambil melakukan pirouette dengan akurat dan elegan?

Miyuki hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat semua keajaiban ini.


.

Saat jam berdentang satu kali, Tatsuya baru saja menyelesaikan semua urusannya mengenai kalibrasi CAD saat ia akhirnya memutuskan untuk mengecek keberadaan Miyuki menggunakan matanya.

(sedang apa Miyuki sekarang? Sudah tidurkah?)

Jadi siswa SMA Sihir Pertama kelas Teknik Sihir tersebut mengaktifkan Penglihatan Elementalnya dan mulai mencari keberadaan Miyuki dengan memeriksa Data Informasi adiknya tersebut. Di jam-jam seperti ini, seharusnya gadis itu sudah tertidur lelap, karena ia sudah memesankan padanya untuk mempersiapkan diri demi menghadapi pertandingan selama sebelas hari ke depan. Dalam benak, ia sudah menyusun rencana mengenai hukuman apa yang cocok jika Miyuki belum juga tertidur sesuai dengan perintahnya.

Namun sayangnya, sedari tadi ia mencari, hasilnya nihil.

(tidak mungkin ... sejak kapan Eidos Miyuki menghilang seperti ini?)

Demi memeriksa keberadaan Miyuki, ia mulai mencari semakin jauh dan semakin jauh, sampai titik apabila ia terus mencari, maka kemampuan self-restoration yang dimilikinya tidak akan bisa dipakai. Tatsuya sendiri tidak peduli, karena bagaimana mungkin sang Ratu Es tidak bisa ditemukan seperti ini?

Mengapa Data Informasi Miyuki menghilang begitu saja dari Penglihatan Elemental miliknya dan tidak juga terdeteksi sampai sekarang?

Tatsuya memutuskan untuk menjelajahi kompleks hotel untuk mencari jejak Miyuki, karena tentu saja ia tidak bisa duduk diam dalam kondisi seperti ini. Namun ke manapun ia mencari, mata fisik dan mata elementalnya sama-sama tidak bisa mendeteksi Data Informasi Miyuki. Hal ini menyebabkan perasaan panik mulai melandanya, dan logika mulai memikirkan apa yang bisa terjadi pada Miyuki. Apa ada yang menculiknya? Melakukan sihir tertentu untuk menutupi Data Informasi adiknya? Atau memang ada yang salah?

Bagaimana kalau ada hal buruk yang terjadi pada Miyuki hanya karena ia tidak menjaganya dengan baik dan penuh kewaspadaan? Ah, andai saja Tatsuya terus mengamatinya sejak awal, mungkin ia akan sadar saat Miyuki pergi dan menghilang.

Pemuda delapan belas tahun itu menghentikan langkahnya di lapangan parkir hotel yang sepi. Tidak ada siapa-siapa di sana selain desah suara gerombolan jangkrik musim panas yang bercengkerama seirama dengan detak jantungnya yang diselimuti perasaan bernama 'ketakutan' mendalam.

"Miyuki," ia berbisik pada hembusan angin malam, "kembalilah."

Dengan langkah gontai, Shiba Tatsuya kembali ke kamarnya sendiri dan duduk di sana, menggunakan Penglihatan Elemental untuk mendeteksi Data Informasi Miyuki, menanti kapan sang adik tercinta akan kembali—yakni tiga puluh menit penuh siksa neraka kemudian.

Dalam hati, Tatsuya bersumpah bahwa hal ini tidak akan pernah terjadi lagi.

(namun dirinya tidak sebanding dengan rayuan labirin penyihir, bukan?)


.

Akhirnya setelah berlari mendalami labirin selama beberapa menit (lima belas menit kah? Tiga puluh? Satu jam?) mereka menemukan pusat labirin yang berbentuk seperti tempat tidur ukuran super-king. Di atasnya, bantal serta guling bertebaran di semua tempat, sementara sesosok kolase anak perempuan berusia sekitar sepuluh tahun sedang asyik mengacak-acak tumpukan yang sudah dirapikan oleh prajurit beruang teddy-nya. Kesannya seakan-akan gadis hitam-putih bermuka cacat tersebut habis menangis dan disakiti oleh seorang dewasa, dan kini sedang mencari orang lain untuk diajak bermain perang bantal.

Teriakan kepedihannya dapat terdengar dengan keras dan jelas, sama seperti abjad rune aneh yang ada di atas tempat tidurnya—mungkin itu adalah namanya.

Gadis itu memeluk sebuah boneka beruang yang sebesar tubuhnya sendiri, namun sudah rusak di mana-mana. Hampir seluruh bagian tubuh sang teddy robek sehingga isian kapasnya mencuat. Pita merah muda yang ada di dada boneka cokelat itu sangat panjang dan bergerak-gerak bagaikan sedang mencari mangsa malang.

"Nah, mulai dari sini, ini adalah pertempuranku seorang diri," Akane tersenyum manis sambil melepaskan sarung tangan kirinya. Dalam sekejap, sarung tangan itu langsung melindungi Miyuki dengan membentuk sebuah tutupan kain yang tidak dapat ditembus musuh. "Maaf, Miyuki-chan, tapi aku tidak ingin kau terluka. Penyihir itu suka memangsa manusia yang depresi, tahu. Itu cara mereka menambah kekuatan."

Miyuki mengangguk, dan mulai menyaksikan semuanya sambil mengetatkan jaket Tatsuya ke dadanya. Akane memulai serangannya terhadap sang penyihir dengan melemparkan pisaunya ke arah tubuh sang penyihir sambil berusaha memanjati tempat tidurnya. Ah, yang dilemparnya bukan pisau lagi, melainkan selusin smallsword sekali lempar. Saat Akane mengayunkan tangan kanannya, pedang-pedang runcing tersebut terduplikat menjadi puluhan dan berterbangan untuk menembus fisik lawannya.

Tentu saja, sang penyihir juga tidak mau kalah tanpa perlawanan. Pita merah muda yang tadinya ada di dada beruang teddy mulai mengikat tubuh Akane dan membawanya ke arah mulut sang beruang. Rupanya anak perempuan di atas tempat tidur itu hanya menggerakkan tubuh bonekanya seakan-akan sedang berpura-pura menjadi boneka itu, sehingga pita menarik Akane ke arah mulut sang boneka.

"Akane, awas!" teriak Miyuki yang mulai panik. Jika hal ini terus berlanjut, mungkin gadis itu akan dimakan oleh sang boneka beruang yang sudah membuka mulutnya lebar-lebar, dan Miyuki akan kehilangan teman yang baru ditemuinya enam jam lalu. Hal itu sama sekali tidak terdengar menyenangkan.

Tetapi, memangnya Miyuki dapat melakukan sesuatu? Pemilik rambut kebiruan tersebut hanya bisa menghirup aroma sang kakak yang tertinggal di serat-serat jaket untuk menenangkan diri dan menonton pertarungan Akane dan sang penyihir berlangsung. Bagaimanapun juga, ini tidak sama dengan pertempuran antara Shiba Tatsuya melawan musuh-musuhnya, ketika kemenangan sudah ditentukan sejak awal pelatuk CAD ditekan.

"Tenang saja, Miyuki-chan," sang gadis ajaib menyempatkan diri untuk mengedipkan sebelah mata. "Aku tidak akan kalah semudah itu."

Dengan sigap, beberapa pisau kecil mulai memutuskan ikatan pita merah muda tersebut dari bagian dalam, sehingga tubuh Akane terbebas dan melayang di udara. Objek kecemasan Miyuki pun berganti, karena saat ini gravitasi menjadi penentu apakah Akane akan jatuh ke dalam mulut sang boneka beruang teddy yang sudah menganga lebar atau malah terjun bebas ke tanah yang dapat menyebabkan benturan keras pada kepalanya.

"Akane!"

Namun bagi sang musuh penyihir yang masih melayang, waktu sepanjang satu kedipan mata sudah cukup baginya untuk membuat keputusan. Justru kesempatan inilah yang dinantikannya sedari tadi. Mengincar pusat tempelan pita di badan sang beruang yang kebetulan sejajar dengan dada sebelah kiri sang anak perempuan, ia mengambil sebuah pisau dari ikat pinggangnya dan melemparnya tepat di jantung.

"Ultima ..."

Pisau tersebut, seiring dengan kejatuhannya yang tepat sasaran, berubah bentuk menjadi begitu besar dan begitu tajam, sampai-sampai tidak ada benda yang tidak dapat ditembus oleh kedua bilahnya.

"... Coltelatta!"

Bersamaan dengan teriakan penghabisan Akane, belati yang dilemparnya merobek fisik sang penyihir hingga mencapai ajal. Sebuah teriakan pedih pun bergema di telinga, sementara dinding-dinding labirin bergelombang bagai air tenang yang dilempari batu, sebelum memudar dan menghilang dalam kegelapan malam.

Kemudian suara tepuk tangan berkembang bersamaan dengan senyum penuh kebanggaan.


.

"Akane hebat sekali!" seru Miyuki sambil bertepuk tangan dengan penuh kebanggaan. "Aku nyaris berpikir bahwa kau akan ditelan oleh penyihir itu, tapi ternyata kau malah mengeluarkan jurus penghabisanmu. Keren sekali!"

Yang dipuji hanya berpura-pura memberi hormat dan tersenyum malu-malu. "Ah, aku juga melakukannya hampir setiap malam, kok, di Hokkaido. Itu bukan apa-apa, Miyuki-chan; bukannya sudah tugas kami sebagai gadis-gadis ajaib untuk mengalahkan para penyihir?"

Mendengar balasan seperti demikian, Miyuki jadi tertawa kecil. "Ah, Akane ini merendah saja. Eh, omong-omong, memangnya di Hokkaido ada banyak penyihir?"

Akane mengangguk dan mengubah penampilannya kembali menjadi gadis biasa dalam sekejap. "Begitulah. Makanya aku tidak sendirian menjaga kotaku—di Hokkaido saja, ada dua gadis ajaib. Setiap kota memiliki minimal satu gadis ajaib. Jika tidak ada, pasti ada gadis ajaib lain yang ingin menempati kota itu. Aku dan partnerku sering bekerja sama untuk mengalahkan penyihir, kecuali jika ada kendala. Misalnya seperti malam ini, ketika hanya ada aku di sini, jadi aku mengalahkannya seorang diri."

Kedua peserta kompetisi yang terkena ciuman penyihir rupanya sudah mulai meraih kesadarannya. Miyuki dan Akane memutuskan untuk menghampiri mereka berdua.

"Apa kalian cemas menghadapi kompetisi besok?" Miyuki mencoba membangun percakapan dengan kedua murid perempuan yang rupanya berasal dari SMA Sihir Enam tersebut. "Jangan takut, semuanya akan baik-baik saja. Kalian kembali saja ke kamar sekarang dan tidur dengan nyenyak."

Mungkin karena masih belum mengerti apa yang terjadi dan mengapa mereka bisa tersesat sampai ke lapangan parkir hotel, kedua siswi tersebut langsung undur diri dan pergi meninggalkan mereka. Melihat kesempatan itu, Miyuki kembali bertanya, "Memangnya mengapa para gadis ajaib ingin membunuh penyihir? Bukankah itu berbahaya?"

Gadis bertubuh mungil itu mengiyakan dengan segera. "Memang berbahaya, sebenarnya," jawabnya sambil membungkuk dan mengambil sesuatu di tanah, "namun bayaran yang kami dapat juga setimpal."

Di tangan Akane sekarang ini, ada sebuah benda bulat hitam dengan ukiran pelindung tembaga. Di atasnya ada sebuah emblem boneka beruang, sementara bagian bawahnya disangga oleh perpanjangan dari ukiran tembaga berupa stik tipis. Bulatan bola tersebut diameternya sekitar satu inci, dan perpanjangannya baik atas maupun bawah juga sepanjang satu inci. Benar-benar mengagumkan untuk melihat bola yang cukup besar dapat dengan stabil berdiri tegak walau hanya disangga oleh sebuah stik tipis.

"Ini namanya Grief Seed. Kalau kau mengalahkan penyihir, inilah yang akan kaudapatkan."

"Fungsinya untuk apa?"

Akane menunjukkan Soul Gem merahnya yang kini memiliki banyak bintik hitam. "Kaulihat, Soul Gem-ku ternodai setiap kali aku memakai sihir. Untuk membersihkannya, aku cukup menempelkan Grief Seed dengan Soul Gem-ku ..." ia mulai memperagakan perkataannya, "... dan Soul Gem-ku akan kembali bersih. Siap dipakai untuk melakukan sihir lagi."

"Jadi kalau aku mengalahkan penyihir, aku bisa mendapatkan Grief Seed sehingga menggunakan sihir lebih sering lagi?" Miyuki mendekat untuk memegang Grief Seed, namun Akane langsung menghindar.

"Hati-hati! Grief Seed ini berasal dari penyihir. Kalau aku memakainya untuk membersihkan Soul Gem-ku terlalu sering, nanti penyihir di dalamnya akan bangkit lagi. Dan kalau ini sampai pecah ... aku tidak mau tahu apa yang akan terjadi nantinya."

Miyuki hanya bisa menarik kesimpulan. Menjadi gadis ajaib bukan hanya sekadar menjaga harapan umat manusia, namun juga bertarung dengan mempertaruhkan nyawa demi kesempatan untuk menggunakan sihir lagi dan lagi. Gadis ajaib tidak lagi ajaib tanpa sihir, bukan? Pantas saja mereka jadi ingin mencari tempat kekuasaannya sendiri, ataupun ... adakah di antara mereka yang seenaknya mencuri Grief Seed antara sesama gadis ajaib?

Dunia para gadis ajaib dan penyihir tidaklah semenyenangkan yang ia pikirkan, namun tanpa mereka, manusia tidak akan memiliki harapan lagi. Itulah makna menjadi gadis ajaib.

"Ah, sudah larut malam, Miyuki-chan," Akane melirik terminal informasinya dengan cepat. "Sudah nyaris dua jam kita ada di luar gedung hotel. Ayo, pulang. Kita bisa tidur sebentar untuk mengembalikan kesegaran tubuh, agar siap berlomba besok."

"Baiklah," Miyuki melambaikan tangan dan merapatkan jaket raksasa untuk persiapan menerobos angin malam. "Sampai jumpa besok, Akane," sahutnya sambil melangkah menuju kamarnya di lantai tiga.

"Sampai jumpa!"


A/N: Halo lagi dengan Chocochino di Chapter 2!

Iya, kali ini judulnya Salve, Terrae Magicae karena ingin memperkenalkan dunia gadis ajaib. Bagaimana? OC-nya oke, enggak? Witch barrier-nya gimana juga? Aku jarang banget nulis action, makanya aku takut witch fight kali ini agak aneh, tapi ya sudahlah-_-" kalau kalian punya saran, jangan ragu untuk memberi komentar, ya!

Chapter selanjutnya ... yah, mungkin akan mengingatkan kalian dengan Tomoe Mami. Siap-siap, ya!