My Math's Teacher

Xiluxiolu

Cast :

*Lu Han

*Oh Se Hun

*Kim Hyun Ah

Cameo

*Jang Hyun Seung

*Someone

Genre : Drama, Romance, School life, Mystery

NB : I owned the story and Sehun min xD Don't claim something that's not yours

Tuk Tuk Tuk

Luhan mengetukan sepatunya di tahan beraspal. Duduk di bangku taman dengan sedikit mencondongkan tubuhnya dan memainkan jari-jarinya, ya begitulah Luhan jika sedang kalut, pakaian yang tak bisa di bilang rapih dan juga tatapan mata yang kosong. Entah berada di mana kesadarannya kini.

Ia masih memikirkan kejadian tadi, kejadian yang seharusnya tidak boleh mnimpa dirinya. Ia jadi berpikir bagamana dengan hari esok? Ia akan bertemu dengan saemnya itu lagi. Mungkinkah Luhan sudah terlalu kasar? Tapi... Itu tidak sengaja itu hanya bentuk perlawanan yang reflek ketika tubuynya dalam keadaan bahaya.

FLASHBACK ON

"Tidak saemhhh jangan lakukan inihh a-akh~"

"Aku tak bisa menahannya lagi, kau begitu menggairahkan Xi Lu Han" desis Sehun tepat di telinga Luhan ketika menyebutkan nama Luhan, sungguh Sehun tidak serius mengatakannya.

"Hiksss kenapa kau melakukan ini?! Aku muridmu!" bentak Luhan dengan nada yang bergetar karena tengah menangis. Sehun menghentikan kegiatannya menatap tajam mata Luhan yang berair.

"Kau tidak akan mengerti" ucapnya dingin dan kembali menjilati lehernya. Sehun mulai menyesap leher Luhan dan beberapa lenguhan meluncur dengan lancar dari bibir mungil Luhan, ini adalah pertama kalinya ia merasakan hal ini.

Luhan merasa risih karena belum terbiasa berusaha mendorong pundak Sehun, namun Sehun cukup kuat menahan rontaan Luhan, tapi tak di sangka ia lengah akan reflek dari tubuh Luhan.

DUG

"ARRRRGHHHHH"

Tidak, itu bukan sura Luhan yang kesakitan karena terhempas ke dinding lagi. Itu suara teriakan Sehun. Dapat di lihat Luhan terengah dengan posisi menyandar pada tembok dan Sehun kini berjongkok memegangi sesuatu yang baru saja jadi sasarqan tendang Luhan.

Melihat kesempatan untuk lari, Luhan membenarkan letak tas selempangnya dan berlari pergi meninggalkan Sehun yang masih merintih kesakitan.

"YAK! JANGAN LARI KAU LUHAN!" Teriak Sehun yang melihat Luhan melarikan diri, dapat di lihat wajah kesakitan Sehun yang kentara.

Luhan mengintuisi dirinya sendiri untuk melangkahkan kakinya lebih cepat menjauh entah kemanapun itu langkah kakinya membawanya pergi yang penting tidak di sekitar sekolah tak lupa mengancing bajunya yang tadi sempat di buka Sehun. Dia trauma, dia takut... Dia takut pada Oh Se Hun guru matematika barunya di SM Senior High School.

FLASHBACK OFF

Di sinin lah Luhan merenungi apa yang terjadi, banyak orang beralu lalang menatap dengan berbagai ragam pandangan ketika melihat Luhan.

Bagaimana tidak, keadaan Luhan berantakan dengan seragamnya, rambutnya tak rapi, dan matanyapun membengkak karena ia habis menangis.

Tanpa Luhan sadari, pipinya kini di aliri airmata kembali.

"LUHAN!" Luhan seperti tersambar petir mendengar suara yang baru saja ia hindari kini memanggil namanya.

Another Side

Setelah dirasa sakitnya mereda Sehun bergegas ke parkiran sekolah memasuki mobilnya mencoba mencari keberadaan Luhan. Ia sudah berkeliling sekitar sekolah tak menemukan Luhan, ia berpikir kemana Luhan pergi. Ia ingin meminta maaf.

Entah apa yang membawanya ke taman, ia merasa ia harus ke taman. Dan sepertinya dewi fortuna berpihak pada Sehun, ia melihat Luhan yang duduk di bangku taman. Smrik setan terpampang di wajah Sehun.

"LUHAN!" panggil Sehun, ah lebih tepatnya berteriak. Sehun berlari ke arah Luhan, namnun sayang hanya tinggal berapa langkah lagi tapi Luhan sudah terlebih dahulu melarikan diri setelah mencerna keadaan.

Luhan berlari ke arah jalan raya dan sampai di penyebrangan jalan yang dilalui banyak orang sesekali ia menoleh kebelakang untuk melihat keberadaan Sehun yang masih lumayan jauh bagaimana pun Luhan adalah pemain sepak bola andalan di sekolahnya.

Waktu tersisa untuk menyebrang sisa lima detik. Luhan kalut namun dengan mengambil keputusan cepat ia menerobos orang orang yang juga melewati zebra cross tersebut, beberapa kali ia mendapat makian dari pejalan lain karena menabrak mereka. Tanpa meminta maaf Luhan terus menyebrangi zebra cross.

TING

Pergantian waktu pun terdengar tepat setelah Luhan sampai di seberang jalan, Luhan terus berlari sedangkan Sehun terpaksa berhenti karena ia harus menunggu selama 20 detik untuk kembali menyebrang.

Sehun memukul tiang rambulalu lintas di sebelah kanannya, perbuatannya tadi menjadikannya bahan perhatian orang yang berlalu lalang, dan detik itujuga kembali fokus memperhatikan Luhan yang berlari ke arah kiri di seberang jalan Sehun menajamkan pengelihatannya melihat Luhan memasuki sebuah mall yang lumayan besar di seberang.

TING

Sehun bergegas menyusul Luhan mendengar bunyi tersebut dengan berlari untuk sampai ke seberang. Ia memasuki gedung yang Luhan masuki tadi. Banyak yang memperhatikan Sehun, wajahnya terlihat guratan kelelahan, rambutnya berantakan dan keringat mulai mengucur.

Ada beberapa orang juga yang berbisik-bisik mengenai penampilan Sehun. Tapi tak Sehun hiraukan ia memilih memperhatikan sekelili sampai matanyamenatap objek yang kini juga menatapnya di lantai tiga.

Tidak terlalu lama karena Luhan kembali berlari.

.

.

.

.

.

Luhan memasuki sebuah bilik toilet ia teringat tadi pagi Baekhyun mengembalikan jaket baseball dan jeans miliknya yang dipinjam ketika di pantai untuk refreshing minggu lalu.

Luhan dengan terburu mengganti celana seragamnya dengan cepat, tanpa membuang waktu segera memakai jaketnya, merangkap kaus seragam yangtak ia lepas.

Sepertinya dewi fortuna berpihak padanya, jaketnya memiliki tudung yang cukup lebar untuk menyembunyikan sebagian wajah Luhan.

Luhan membereskan celana seragamnya dan bergegas keluar. Ia tak punya banyak waktu.

.

.

.

.

.

Langkah Sehun terhenti di tempat terakhir ia melihat Luhan. Sehun menatap sekeliling tak menemukan keberadaan Luhan, ia membalikan tubuhnya menemukan ruang yang bertuliskan Toilet.

Baru saja Sehun akan melangkahkan kakinya untuk masuk tapi terhenti ketika ia melihat seseorang keluar dari dalam sana dengan kepala tertutup tudung jaket abu-abunya.

.

.

.

.

.

Luhan kini menegang di balik tembok ketika dirinya hendak keluar melihat Sehun berdiri di depan pintu toilet.

"T-tuhan tolong aku..." gumam Luhan dengan suara bergetar. Ia berusaha meredam detak jantungnya yang tak karuan.

Setelah dirasa dirinya sedikit tenang ia melangkahkan kakinya keluar, Luhan menundukan kepalanya agar dirinya tak terlihat.

Luhan semakin berdebar ketika dirinya akan melewati Sehun, baru saja ia melangkah satu kali menjauh dari Sehun. Luhan seperti kembali tersambar petir ketika Sehun mencengkram lengannya. Luhan gelagapan, tubuhnya jadi menegang.

Tak tahukah kau Luhan kini Sehun kembali memasang smirk ketika tebakannya benar melihatmu menegang.

Sehun menarikanya masuk kemabali ke dalam toilet dan menghempaskannya ke dinding.

"Kau pikir bisa lari dariku? Lu...han" desis Sehun sarat akan bahaya.

"Kenapa kau bisa mengenaliku? S-sebenarnya apa-apa maumu?!" ucap Luhan terdengar frustasi, ia lelah. Sungguh sangat lelah dan rasa takutnya membuatnya merasakan lelah berkali-kali lipat.

"Tentu aku mengenalimu-" Sehun menjeda kalimatnya dan melirik tas selempang Luhan. Luhan yang tau maksud Sehun pun merutuki dirinya, lebih tepatnye menyumoah serapahi tas sekolahnya.

"Dan kau bertanya apa mauku? Tentu saja aku mau kau, aku mau kau untuk bertanggung jawab atas apa yang telah kau lakukan pada juniorku"

"Itu bukan masalahku!"

"La-lagi pula kau yang berniat memperkosaku!" maki Luhan tepat di hadapan wajah Sehun. Sekali lagi kali ini Luhan merutuki dirinya yang bertindak gegabah, ia jadi semakin takut ketika melihat rahang Sehun mengeras.

Menahan emosinya. Luhan berpikir cepat Sehun, ia tidak mungkin menendang adik kecil Sehun lagi pasti Sehun sudah mengantisipasinya, sepertinya otak Luhan berjalan kali ini.

DUUG

Lagi sebuah tendangan Luhan layangkan, tapi tidak pada objek yang sama kali ini adalah tulang kering .milik Sehun yang dijadikan Luhan sasaran. Sehun mengerang, untuk sekian kalinya ia merasakan nyeri yang teramat sangat di dua tempat berbeda.

Luhan hendak berlari ketika tiba-tiba saja ia merasakan cengkraman pada kaki kanannya, tanpa melihat pun Luhan tau pelakunya.

Beruntung toilet sepi jika tidak mungkin Sehun akan dikira om-om pedofilia yang sedang melancarkan aksinya. Tapi nyatanya memang begitu.

Dengan sekuat tenaga dia menarik kakinya agar terlepas dari cengkraman Sehun. Dan usahanya membuahkan hasil kini ia berhasil lolos dari Sehun, Luhan bertemu seorang salah seorang office boy di ketika berlari tadi.

Sehun melangkah tertatih karen kakinya begitu ngilu. Sehun berjanji pada dirinya sendiri yang bisa-bisanya di permalukan oleh Luhan.

Luhan mengedarkan pandangannya kembali mencari keberadaan Luhan, Sehun berdecak kesal melihat Luhan dengan seorang office boy di seberang sana.

Sehun meyakini dirinya Luhan pasti akan kabur melalui tangga pun bergegas menyusul Luhan.

~My Math's Teacher~

Luhan bergegas masuk ke ruangan yang ditunjukan penjaga kebersihan tadi. Dugaan Sehun tepat sekali Luhan menggunakan jalur tangga darurat, Luhan berdecak kesal jika berjalan menuruni tangga akan memakan waktu, namun ide gila terlintas ia melepaskan tas selempangnya, ia menjadikan tasnya sebagai alas untuknya duduk di besi penyangga tangga tersebut.

Kalian pasti tahu apa yang Luhan lakukan. Dan dalam hitungan ketiga Luhan meluncur dengan cepatnya, beruntunglah tangga tersebut melingkar jika tidak bisa di pastikan adik Luhan akan menjadi korban ketika mendarat.

Beberapa kali Luhan oleng namun ia masih bisa mempertahankan keseimbangannya.

Tap

Luhan sampai di lantai satu dengan selamat. Wajahnya pucat dan dahinya berkeringat. Itu efek takut jika saja dirinya jatuh mungkin.

Kini Luhan membuka pintu darurat mall tersebut baru saja ia melangkahkan kakinya keluar.

GREPP

"Emmppphhh!"

~My Math's Teacher~

Sehun terdiam di dalam mobilnya, wajahnya lesu rambutnya semakin berantakan karena beberapa menit yang lalu ia menjambaknya.

Kini ia tengah memikirkan murid manisnya itu, setelah keluar dari pintu darurat ia terus mencari Luhan, namun nihil, ia tak menemukan jejak Luhan.

Padahal ia yakin mana mungkin Luhan secepat itu melarikan diri. Sehun terdiam melirik jam di tangannya yang menunjukkan pukul lima sore, dengan perasaan dongkolnya yang tak bisa mendapatkan Luhan pun mulai mengendarai mobilnya menjauhi taman untuk pulang.

Ia ada janji makan malam. Mengingat orang yang mengajaknya makan malam membuat mood Sehun semakin buruk.

"Bahkan aku tak tertarik denganmu, dasar jalang" desis Sehun membayangkan wajah menjijikan orang yang mengajaknya makan malam.

.

.

.

.

.

'Dia tidak bermaksud buruk dan kurang ajar padamu, dia hanya sedang mencari tahu'

'Apa maksudmu? Siapa kau sebenarnya?'

'Bukan apa-apa, jika sudah waktunya kau akan mengerti, tentang siapa aku... kau tak perlu tahu'

'Kenapa kau menolongku?'

'Aku tidak bermaksud menolongmu hanya saja sepertinya aku harus berbicara tentang ini semua padamu agar kau tidak menghindari-nya'

'Apa?!'

'Cepatlah masuk, ini sudah sore , kau pasti lelah.. Istirahatlah'

'...'

'Maaf, karena aku kau harus mengalami ini semua'

Luhan memejamkan matanya, kini ia terbaring di ranjangnya setelah sebelumnya ia membersihkan dirinya dengan berendam air hangat sekaligus menenangkan pikiran dan juga hatinya dan sekarang ia mencoba mengingat semua kejadian yang menimpanya dalam satu hari ini.

Tapi ia lebih memfokuskan pada kejadian dimana ia dia di bawa seorang pria tampan dengan kemeja putih dan jas hitam yang sengaja di sangkutkan di pundak tegapnya, celana yang senada dengan jas, dengan potongan rambut warga western kuno sungguh berkarisma. Dan jangan lupa tatapannya yang tajam tapi memancarkan kelembutan.

Tatapan matanya mirip seseorang, seseorang yang tadi siang terus mengejarnya. Luhan menggelengkan kepalanya mencoba untuk tidak memikirkan guru brengseknya itu. Bagaimana bisa kejadian ini menimpa Luhan.

Luhan hanya siswa biasa yang besekolah di SM Senior High School, dirinya tinggal sebatang kara di korea sebelum seorang pengusaha terpandang di korea mengangkatnya menjadi keluarga mereka, ya itu saja yang Luhan tahu setelah dirinya pulang ke panti asuhan sekembalinya ia dari rumah sakit.

Ya, kini Luhan menjadi seorang putra konglomerat korea. Choi Si Won dan Kim Hee Chul adalah orang tua angkat Luhan, Siwon adalah putra tunggal keluarga Choi yang sangat berpengaruh di korea karena ayah Siwon mempimpin perusahaan terbesar korea Shinhwa grup, Siwon yang merupakan pewaris harta kekayaan keluarganya memutuskan menikah ketika ia lulu dari universitas, dan Siwon memilih Hee Chul sebagai tambatan hatinya Hee Chul sendiri adalah pria sebab itu keluarganya tak dikaruniai seorang anak dalam tahun tahun awal setelah pernikahan mereka namun dua tahun kemudian mereka memutuskan untuk mengangkat anak laki-laki.

Bertemulah Heechul dan Siwon dengan Luhan seorang anak panti yang menarik perhatian mereka, waktu itu Luhan berumur 13 tahun, kelas dua JHS. Dan memutuskan memilih Luhan, alasannya klise.

Mereka memperhatikan Luhan selama beberapa hari dan mereka menganggap tingkah laku Luhan sehari-hari di panti begitu sopan, baik, dan penurut. Jadilah Luhan yang mereka angkat.

Dua tahun menjadi bagian dari keluarga Choi membuat Luhan merasa senang karena orang tua angkatnya begitu baik, dirinya pun dimanja olah ayah dan ibunya, hidupnya serba kecukupan.

Halmeoni dan Harabeojinya pun menyayangi Luhan karena Luhan anak yang baik tidak menyusahkan keluarganya. Ketika dirinya telah menginjak di kelas dua SHS Luhan minta pada appa dan eommanya, ia ingin tinggal sendiri.

Ia ingin belajar mandiri dan berusaha untuk menjadi seperti appanya dengan fokus belajar. Awalnya Heechul menolak namun melihat Luhan yang bersungguh-sungguh dan mengeluarkan jurus puppy eyes andalannya, mau tak mau Heechul dan Siwon mengijinkan dengan Syarat, Luhan tinggal di apartemen yang Siwon belikan. Luhan hanya meng-iyakan.

Tak apalah jika dibantu 'sedikit' pikir Luhan.

Biaya sekolah appanya yang menanggung, namun untuk makan ia menggunakan uangnya sendiri, padahal Siwon memberinya kartu canggih yang dapat ia pakai untuk membeli keperluan sehari-hari dan Siwon menjajikan akan mengisi ATM Luhan setiap minggunya tapi sampai saat ini ia tidak pernah membawa benda persegi itu ia lebih memilih bekerja part time di sebuah cafe terdekat dengan sekolahnya jadi ia akan bekerja setelahpulang sekolah.

Namun hari ini ia terpaksa membolos karena harus berurusan dengan 'guru matematika' baru yang menyebalkan. Karena guru idiot itu pula Luhan merasakan nyeri pada kakinya, ia terlalu banyak berlari hari ini.

Luhan kembali menggelengkan kepalanya ketika ia meyadari dirinya memikirkan guru idiot 'lagi' tadi.

Tiba-tiba saja matanya terasa berat, Luhan memiringkan kepalanya menatap tas yang berada di meja belajarnya.

Sepertinya ia akan membolos karena ia malas dan trauma jika bertemu guru idiotnya itu di sekolah. Luhan pun memutuskan untuk memejamkan matanya yang telah sangat mengantuk. tak lama pun ia mulai menyelami dunia mimpinya.

~ My Math's Teacher ~

TRINGG

Bell berbunyi ketika pintu rumah makan berbintang itu terbuka menampakkan tubuh tegap Sehun yang terbalut rapi dengan jas berwarna hitam miliknya.

Seorang pelayan menghampirinya dan membungkuk hormat. Sehun memberi tahukan tempat pertemuannya dan pelayan itu mulai membimbing Sehun, mengantarkan Sehun ke tempat vip di restaurant itu.

Sang pelayan berhenti di depan sebuah ruangan bercat putih terlihat elegan. Pelayan tersebut membukakan pintu untuk Sehun, tanpa menunggu lebih lama Sehun memasuki ruangan vip tersebut. Pintu kembali di tutup.

Sehun memasang wajah datar menatap seorang yeoja dengan rambut bergelombang dan menggunakan dress yang begitu aneh -pikir sehun- hanya untuk menghadiri acara makan malam.

Sehun menarik bangku dan duduk berhadapan dengan 'jalang' di hadapannya.

"Ada apa? Cepat ke inti" ketus di hadapannya tersenyum miring.

"Begitu kah kau memperlakukan yeoja yang dengan suka rela menunggu makan malam?"

"Apa peduliku?" sahut Sehun cuek, membuat wanita dihadapannya menggeram kesal. Namun setelahnya ia menahan rasa kesalnya dan kembali memasang senyum 'menyebalkan' -menurut Sehun-.

"Baiklah, aku tak akan membuang waktu, besok aku akan pergi ke LA untuk setahun kedepan tapi sebelum pergi aku ingin.." wanita dihadapannya menggantungkan kalimatnya membuat Sehun mengernyit tidak mengerti.

"Aku ingin menghabiskan malam ini dengan kau yang menunggangiku Sehun-ah" lanjutnya dengan tegas.

Sehun terkekeh, wajahnya menampilakan garis tawa yang mencemooh.

"Jadi, kau kesini hanya untuk memintaku menggenjotmu semalaman sebelum kau pergi? Dan hal itu pula yang akan kai jadikan alasan agar tetap bertahan disini, begitu nona Kim?, haha sungguh lucu seorang Kim Hyun Ah menyerehkan dirinya untukku, bagaikan jalang" ujar Sehun panjang lebar dan mendesis dingin ketika menyebut yeoja cantik yang ternyata bernama Hyuna sebagai jalang.

BRAKK

Suara gebrakan meja terdengar, pelakunya tak lain adalah Hyuna. Sehun sempat terkejut namun ia tetap memasang wajah datar.

"Apa maksudmu mengataiku jalang?!" bentak Hyuna yang emosinya tersulutkarena Sehun mengatainya jalang.

"Salah kah aku? Kau mengajakku bertemu dengan alasan makan malam dan ketika aku sampai kau menawarkan dirimu? Tidakkah kau berpikir mulut dan tindakkanmu seperti jalang? menyerahkan dirinya pada seorang pria yang bahakn tidak menginginkannya" sindir Sehun begitu tajam. Hyuna termenung.

"Hanya itu kah yang ingin kau katakan? Kau membuang waktuku, aku pergi" Sehun melangkahkan kakinya menjauhi meja makan, tepat ketika Sehun akan meraih kenop pintu, gerakannya terhenti saat ia merasakan sebuah tangan melingkar di melihat pun Sehun tau pemilik tangan itu.

"Kumohon jangan pergi" gumam Hyuna.

"Baiklah jika itu maumu, aku akan menjadi jalangmu untuk malam ini, kau boleh melakukan apapun padaku." tawar Hyuna. Lebih terdengar seperti pernyataan.

Hyuna membalikan tubuh Sehun dengan paksa dan dengan terpaksa ia berhadapan dengan Hyuna. Hyuna menatapnya dengan pandangan layaknya jalang sungguhan.

Perlahan tapi pasti Hyuna meraih resleting dress yang berada tepat di tengah belahan dadanya yang terpampang.

Ia pun menarik resleting itu turun, Sehun tetap memasang wajah datarnya memperhatikan Hyuna yang kini melepas dressnya.

Sehun kembali terkejut dengan wajah datarnya melihat Hyuna menggunakan lingerie tanpa bawahannya. Hyuna juga tak memakai celana dalam atau apapun itu. Vagina polos tanpa bulunya itu terapit kaki miliknya.

Hyuna mengedipkan matanya nakal.

"Masih bisakah kau menolakku?" tanya Hyun percaya diri.

Dia menghampiri Sehun menarik Sehun ke tengah ruangan. Hyuna tak perlu takut jika ia terekam cctv, karena ia membayar mahal untuk ruang ini dan meminta pemilik restauran ini tak memakaikan ruangan tersebut cctv.

Hyuna berhenti menuntun Sehun tepat di tengah ruangan. Ia meraih tangan Sehun untuk merangkul pinggang rampingnya itu.

Sehun hanya diam dan keterdiaman Sehun membuat Hyuna merasa banggapada dirinya, karena ia berpikir Sehun mulai tergoda pada tubuh Sexynya.

Hyuna pun mulai melancarkan aksinya menggoda Sehun, ia mencondongakn tubuhnya, dan membuat posisi menungging. Digeseknya vagina miliknya pada kejantanan Sehun yang masih terbungkus kain tersebut.

Hyuna terbelalak kaget ketika merasakan milik Sehun yang lumayan tahukah kau Hyuna, Sehun kini menekan emosinya melihat kelakuan jalang di depannya.

Dengan cepat Sehun menarik pergelangan tangan Hyuna membuat Hyuna menyandar pada dada bidangnya. Hyuna sempat terkjut namun wajah terkejutnya berubah menjadi seringaian puas.

"Ahhh" tiba-tiba saja Hyuna mendesah, dadanya kini tengah di remas Sehun. Sehun semakin jadi meremas dada Hyuna.

SREEEK

Sehun merobek lingerie yang bertengger di dada Hyuna, Hyuna semakin tersenyum senang. Hyuna berpikir Sehun begitu bernafsu padanya.

"Ahhh ohh Seh-sehunnahhh" Desah Hyuna. Sehun merasa jijik namanya dilantunkan dalam desahan Hyuna.

Sehun kini memelintir nipple pink Hyuna dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya membuat mengepal membuat lingerie yang sebelumnya telah ia robek jadi menggulung.

Tangan kanannya ia arahkan ke vagina Hyuna.

"Ouhhhh ahhh Sehunnn Sehunnnhhhh inihh enakkk" pekik Hyuna ketika Sehun menggesekkan gumpalan lingerie Hyuna pada vaginanya begitu keras dan cepat.

Beberapa kali menggesek klitoris Hyuna dengan kasar. Sedikit perih namun rasa nikmat lebih dominan. Hyuna terus mengeluarkan desahan-desahan laknat dari bibir jalangnya.

"Ah ah ahh sampaihh Sehun anghhhhhhh" Hyuna mendesah keras ketika mencapai puncaknya. Matanya terpejam nafasnya menderu.

Hyuna lemas, dirinya membaringkan tubuhnya di lantai. Dadanya naik turun. Tiba tiba saja Sehun mendapatkan ide gila, ia mengeluarkan smartphonenya kemudian mengarahkan kamera smartphonenya pada Hyuna.

Klik

Klik

Sehun mendapatkan gambar Hyuna dalam keadaan 'mengenaskan' menurutSehun dengan mengganti kata menggairahkan menjadi mengenaskan.

Ia kemnali memasukan smartphone ke saku jasnya. Sehun memperhatikan lingerie yang telah ia robek, meraihnya. Kemudian meraih tangan Hyuna dan mengikatnya.

Hyuna yang masih merasa lemas akibat orgasme pertamanya tak memperdulikan Sehun karna ia berpikir sebentar lagi Sehun akan memasukan kejantanannya kedalam vagina becek miliknya, tak sedikit pun berpikiran bahwa Sehun menjebaknya.

Sehun merasa jijik ketika mengikat kain tipis itu pada kedua tangan Hyuna, pasalnya di kain tersebut terdapat cairan milik Hyuna.

Setelah dirasa cukup kuat Sehun beranjak berdiri. Hyuna yang tak merasakan pergerakan Sehun lagi mulai membuka matanya. Betapa kagetnya kini Sehun meraih kenop pintu.

"K-kau mau kemana Sehun?!" teriak Hyuna. Dirinya mulai panik, ia hendak bangun. Namun ia baru menyadari barusan Sehun mengikat pergelangan mendecak marah. Dia merasa telah meinggalkan ruangan.

Hyuna terduduk dengan vagina terekspos menempel pada lantai. Hyuna begitu kesal dengan tingkah Sehun, ia harus memikirkan cara bagaimana caranya ia memakai bajunya.

Dalam ketermenungannya, Hyuna tak menyadari ada seorang pria memasuki ruangan itu, dan menyeringai mesum melihat mangsa yang dijanjikan seorang pemuda yang menemuinya beberapa menit lalu.

Hyuna tersentak kaget ketika merasakan sepasang tangan melingkari pinggangnya. Hyuna tersenyum. dan menolehkan kepalanya.

"Se-" ucapannya terhenti ketika ia melihat sang pemilik tangan. Bukan, pemilik tangan itu bukan Sehun. Dia berpakaian seragam restoran. Tiba-tiba ia merasakan firasat buruk yang akan menimpanya untuk beberapa jam kedepan.

"Hai cantik, kau tak perlu memasang wajah terkejut seperti itu" bisiknya tepat di telinga Hyuna. Hyuna bergidik ngeri mendengarnya. Barus aja ia akan protes. Tapi protesnya terpaksa terhenti.

"Ap-apa maumhhhhh!" pelayan itu meraup bibir Hyuna dengan bernafsu. Hyuna menggelengkan kepalanya berusaha melepaskan tautan bibirnya dengan sang pelayan.

Tiba-tiba pelayan itu melepaskan pagutannya dan berdiri. Hyuna terengah memperhatiakn sang pelayan. Perhatiannya terhenti menatap nametag di baju sang pelayan.

"Jang Hyun Seung" eja Hyuna tanpa sadar."Ada apa memanggilku nona?" tanya Sang pelayan tersenyum miring. Dia mulai menelanjangi dirinya.

Hyuna tersentak dari lamunannya. Mata itu terbelalak kegika melihat penis besar dihadapannya.

"Apa yang akan kau lakukan! Lepaskan aku!" bentak Hyuna, wajahnya memerah.

Pelayan bernama Hyunseung itu berjalan ke arah belakang Hyuna. Dan mendudukan dirinya di belakang Hyuna.

Dia kembali memeluk Hyuna. Hyuna memberontak.

"Yak! Lepaskan aku brengsek! Ahhh ak-aku mau pulang eunghhh" Desah Hyuna ketika payudaranya diremas Hyunseung dan tengkuknya dijilati.

"Nona, aku akan melepaskanmu asalkan kau mengizinkan aku menggesekan penisku pada vaginamu, bagaimana?" tawar Hyunseung sambil mengelus vagina Hyuna yang becek sejak tadi.

"Ahhh... Mhhhh Aku mhhh shhh tidak mau!"

"Gadis munafik" desis Hyunseung kesal. Tanpa Hyuna sadari Hyunseung mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang serta menjak orang disebrang ikut bermain.

Hyuna sepertinya kau akan menjadi jalang sungguhan ~

Dan tepat ketika orang yang di telepon Hyunseung sampai, mereka benar-benar menggagahi Hyuna semalaman.

~My Math's Teacher~

Sehun telah sampai di apartemennya, ia telah mengganti pakaian resminya menjadi pakaian tidur dan tengah merebahkan dirinya di ranjang menatap langit-langit kamarnya.

Emosinya masih tak dapat di kontrol untuk saat ini. Fisiknyapun lelah. Melihat wajah jalang bernama Kim Hyun Ah itu membuatnya teringat ke masalalu.

Gadis itu... Ya gadis itu yang membuat kakanya pergi meninggalkannya.

Tanpa Sehun sadari pipinya meneteskan airmatanya mengingat masalalu.

Dan malam itu dilewati Sehun dengan merenungkan masalalunya.

.

.

.

.

.

TBC~