-UNTITLED BLOOD-

Cast © Each other band

Original Character, Story, Idea © Orihara

Genre: Friendship, Romance, Action,

Warning: Shonen Ai, OOC, typos


-chapter 1-


"Sudahlah, kita tidak perlu memikirkan manusia seperti mereka. kita hanya harus memikirkan bagaimana caranya agar perang ini berakhir. Aku bosan jika harus waspada setiap hari. Hidupku tidak tenang." Sergah Shin. Pemuda berambut cokelat itu berdiri dan beranjak dari bangku yang mereka duduki.

Ruki hanya mengangkat bahu dan ikut menyusul Shin. Begitu pula dengan Saga dan Teru. Sementara Akihide memandang punggung teman-temannya dengan pandangan yang tak bisa dijelaskan.


Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Entah mengapa kota Tokyo yang seharusnya tetap 'hidup' malah berubah menjadi sunyi dan mati. Namun di sudut taman kota yang luas dan lapang, beberapa pasang mata saling menatap sengit. Cakar-cakar mereka keluar, mata berubah menjadi merah darah, taring-taring siap untuk memangsa.

"Kiseki! Kita harus lari!" bisik gadis itu.

"Tidak Kotoha…. Tidak sekarang! Kita tidak bisa lari... Mereka menjebak kita…. Mereka lah yang menyulut api dan menjadikan kita sebagai umpan." Balas kakak kembarnya. Kotoha menatap lesu gadis yang sangat mirip dengannya itu.

"Kiseki…. Kumohon… Selamatkan dirimu. Kau ini lemah… Kumohon…. Aku tidak ingin kehilangan Kiseki.." ujar Kotoha lirih.

"Kotoha aku-"

'BLAAAARR!'

Entah siapa yang memulai, api biru meluncur mulus membakar perbatasan wilayah antara vampire dan werewolf itu. Kotoha menatap sangsi bayangan yang menyulut api itu. namun sebelum ia dapat melihat dengan jelas, sekelebat bayangan itu sudah menghilang. Vampire yang mengira werewolf menyatakan perang pun mulai menyerang.

"AKIHIDE! LAWAN MEREKA!" teriak Kamijo murka saat tahu Akihide hanya diam dan ragu.

"Akihide, kalau kau mau selamat ikuti perintah Kamijo-san…" ujar Ruki takut.

"Ruchan, apa kau mau melawan'nya' juga?..." balas Akihide hampir menangis.

"Tidak… Aku… Tidak tahu." Ruki melesat maju, menunjukkan taring dan cakar putihnya, menerjang kepada Rui, salah seorang werewolf yang ada di depannya.

Kotoha tersentak saat Rui terlempar. Namun pemuda silver itu bangkit beridir dan membalas Ruki. Reita menarik lengan Rui dan membisikan sesuatu padanya. Ruki menatap Reita tidak mengerti. Reita melirik Ruki dan membawa Rui menjauh dari Ruki.

"Bukan kami yang menyulut perang." Ucap Tora saat berhadapan dengan Teru, adik Hizaki. Teru sebenarnya ingin percaya akan apa yang dikatakan Tora, namun saat akan berucap Kamijo menariknya mundur.

"Apa seorang werewolf dapat dipercaya? Bagi kami tidak." Balas Kamijo sinis.

Tora mendecih kesal dan mengeluarkan api hitam dari tangannya dan mengarahkan bola api itu ke arah Hizaki. Hizaki yang sibuk bertahan dari serangan Kazuki, tidak sempat menghindar.

'DHUAAR!'

Ledakan kembali terjadi saat Teru berusaha melindungi kakaknya. Pemuda manis itu melontarkan api hijau sebagai balasannya dan mengenai bahu Tora. Melihat salah satu anak buahnya terluka, Yuki tidak terima dan menerjang Teru. Sontak Byou menghalau serangan Yuki.

"KKHH!"

Byou terkena imbasnya, lengan kirinya terluka parah dan meneteskan darah cukup banyak. Semua orang saling membalas, namun entah bagaimana caranya tetap berusaha untuk tidak melukai orang yang disayanginya. Dalam pandangan si kembar, tanah Tokyo sekarang menjadi medan pertempuran antar klan. Kedua gadis yang bersembunyi di balik semak-semak itu hanya bisa meringkuk ketakutan. Bukan karena tidak ada kekuatan, keduanya hanya tidak ingin membuat masalah runyam.

"SHINN! SHIIIIINNN!" Pekik Saga saat melihat tubuh Kakaknya tergeletak tidak bernyawa lagi.

Saga yang marah atas kematian Kakak-nya menyerang para werewolf dengan membabi buta. Beberapa werewolf terkena serangan dahsyat Saga yang berupa jarum-jarum darah. Tiba-tiba, sebuah jarum sepanjang lima belas sentimeter itu menancap mulus di kaki Kotoha.

"AKKKH!" pekik gadis itu.

"K, Kotoha!" Seru Kiseki panik. Matanya yang awalnya berwarna biru bening berubah menjadi merah darah penuh amarah.

"JANGAN!" cegah Kotoha secepatnya saat tahu kakaknya mengeluarkan cakarnya.

"Aku tidak suka…. Melihatmu seperti ini…" ujar Kotoha menenangkan Kiseki yang kalap. Kiseki diam dalam pelukan Kotoha.

"Aku baik-baik saja. Kau tahu kan kalau kita special. Lukaku bisa sembuh dengan mudah. Jangan terlibat…" Kotoha terisak pelan dan Kiseki terlihat mulai tenang. Matanya kembali berwarna biru seperti sedia kala.

"Gomenasai…." Ucapnya. Kotoha hanya tersenyum lembut.

Back to Field….

"Daigo!" panggil seorang werewolf berambut hitam. Akihide yang mendengar teriakan itu menoleh secara reflek kearah Daigo berada. Matanya membulat sempurna saat tahu lovers-nya tertusuk di perut oleh salah satu anak panah Hizaki.

Akihide tanpa sadar berlari menuju kekasihnya, tidak peduli teriakan kawanannya yang mencegahnya pergi. Dengan panik Akihide menghampiri Daigo yang sekarat. Mata onxy-nya mulai berlinangan air mata.

"D, Daigo… Daigo!" panggil Akihide miris. Kazuki yang kaget hanya membiarkan Akihide memeluk erat Daigo. Kazuki pun akhirnya tahu kalau Daigo menjalin hubungan dengan vampire cantik itu.

"Biarkan mereka…" desis Aoi dan mengajak Kazuki pergi.

"PENGKHIANAT!" Kamijo yang terbutakan amarah menghajar Akihide yang masih mencoba menyembuhkan luka Daigo.

'BRAAAKK!'

Akihide menghantam pohon yang ada di belakangnya. Daigo yang masih setengah sadar tak kuasa menahan tangis saat tubuh Akihide di hajar oleh Kamijo. Namun matanya terbelalak saat Kamijo mengarahkan telapak tangannya kearahnya dan Akihide. Telapak tangan Kamijo mengeluarkan Api biru yang disebut-sebut sebagai api legenda itu.

Waktu terasa berhenti seketika saat Kamijo mengucap mantra untuk melepas serangan penghabisan. Akihide yang terkapar tersenyum lemah. tanpa suara ia membentuk bibirnya dan mengucapkan sepatah kata. Daigo menangis bisu dan mencoba tersenyum, membalas perkataan hampa kekasihnya…

'I love you, Daigo.'

'I love you too, Aki'

Ruki berteriak, menangis saat melihat Kamijo menghabisi kedua 'temannya'. Reita yang melihat ekspresi Ruki saat itu hanya bisa diam. Ia sangat ingin, benar-benar ingin memeluk dan menenangkan pemuda mungil itu. Tetapi, keinginan itu dipendamnya dalam-dalam. Ia tidak ingin membuat Kamijo lebih marah lagi bahkan membunuhnya dan Ruki. Kai membawa Ruki yang shock keluar dari pertempuran.

"Kamijo, ia tidak mampu bertarung lagi." Lapor Kai.

"KENAPA KAMIJO? KENAPA? AKIHIDE ADALAH KELUARGA KITA!" teriak Ruki pilu.

"DIA ADALAH PENGKIHANAT RUKI! TAHU APA KAU? SEMUA PENGKHIANAT HARUS MUSNAH!" balas Kamijo tidak kalah marah.

Kai membawa Ruki pergi agar ia tidak makin kalut. Yuki yang menjadi pemimpin werewolf berjalan perlahan menuju abu Daigo. Pria itu menyentuh pelan abu itu dan menatap sendu 'bekas' tempat Daigo dan Akihide.

"Semoga kalian lebih bahagia di lain dunia." Ucapnya lirih.

"Yuki-san…" panggil Rui.

"Daijobu. Aku tidak akan gegabah Rui. Tenang saja, kita tidak salah…. Jangan balas dendam atas kematian Daigo." Balas Yuki. Rui mengangguk patuh.

Sementara itu, di semak-semak tempat Kotoha dan Kiseki bersembunyi..

"Kotoha, ayo kita pergi.." ajak Kiseki. Kotoha mengangguk dan mencoba berdiri. Kakinya bergetar saat menahan rasa sakit yang luar biasa di telapak yang sempat tertembus jarum.

Dengan mengendap-endap mereka kabur dari pertempuran itu. Tetapi, takdir berkata lain. Kotoha yang terhambat jalannya akhirnya jatuh ke tanah, mengundang perhatian Saga yang saat itu masih dalam keadaan kalap. Tatapan mata dingin itu bertemu dengan tatapan takut Kotoha.

Rui menoleh saat merasakan aura kekasihnya itu dan mendapati Saga memasang kuda-kudanya untuk mengeluarkan jarum darah itu lagi. Rui berlari secepat yang ia bisa untuk melindungi Kotoha. Mata gadis itu memancarkan ketakutan yang luar biasa.

'Heartless Pain' ucap Saga melancarkan serangannya.

'CRAASHH!'

.

.

.

.

.

.

TBC