Suatu siang yang cerah, terlihat empat balita dengan kesibukannya masing-masing membuat hidup suasana di Ruang Penitipan Anak SMA Aoba Johsai. Keempat makhluk unyu itu sibuk melakukan hal yang mereka sukai walaupun saat itu mereka tidak ditemani oleh pengasuh mereka, karena memang saat itu jam belum menunjukkan bel pulang sekolah.

Di suatu sudut ruangan, balita dengan rambut hitam jabrik duduk sendirian ditemani boneka godzila yang dia dapatkan dari Iwaizumi. Sebenarnya Iwaizumi tidak benar-benar berniat untuk memberikan boneka itu pada Kindaichi, hanya saja saat dia membawa boneka itu ke tempat penitipan untuk mendongeng, Kindaichi menjadi tertarik dengan boneka godzila itu. Hingga akhirnya dia merengek untuk memiliki boneka milik Iwaizumi.

Setelah mendapatkan boneka godzila tersebut, kini setiap hari Kindaichi selalu membawa boneka itu kemanapun dia pergi, kecuali saat ke kamar mandi. Pernah sebelumnya dia membawa boneka itu ke kamar mandi dan diajak mandi bersama, alhasil saat ingin keluar dari bak mandi dia kesulitan membawa boneka yang sudah menyerap banyak air. Akhirnya dia kapok membawa bonekanya ke tempat yang banyak air.

"Yuu, apa yang kamu lakukan?" Kunimi Akira yang awalnya berada di sudut ruangan yang berlawanan dengan Kidaichi kini sudah berada di sebelah saudara sepupunya.

"HUWAA!" Kindaichi yang terkejut dengan kedatangan Kunimi yang tiba-tiba membuatnya melempar kotak krayon yang dia pegang. "Akira, jangan mengagetkanku seperti itu." Kindaichi yang dibantu Kunimi mengumpulkan kembali krayon-krayon yang berserakan.

"Aku baru saja menggambar godzila." Jelas Kindaichi sambil memamerkan hasil lukisannya.

"Wah, itu bagus."

Di sisi lain, Kyoutani yang sedang asik bermain robot mainan merasa tertarik dengan apa yang dibawa oleh Kindaichi. Meninggalkan mainannya berserakan, dengan langkah kecilnya dia menghampiri Kindaichi dan Kunimi.

"Apa itu?"

"Kyo-chan?!" Melihat Kyoutani mendekat, Kindaichi segera menyembunyikan lukisannya. "Ini bukan apa-apa, jadi kau tidak usah melihatnya."

"Tapi aku ingin lihat. Sini lihat!" Kyoutani berusaha merebut lukisan milik Kindaichi sedangkan si kecil berambut jabrik tetap bertahan tidak ingin lukisannya diambil oleh Kyoutani.

Kunimi yang melihat kekacauan itu segera berlari menghampiri Yahaba. Ditariknya kaos biru Yahaba, "Itu, Kyoutani... Kindaichi!"

"Ada apa Kunimi?" Yahaba merasa bingung dengan kalimat Kunimi yang tidak jelas.

"Itu!!!" Kunimi berusaha menarik Yahaba ke tempat dua anak yang sedang bertengkar.

"Berikan padaku!" "Tidak mau! Ini milikku!" Kindaichi masih berusaha menyembunyikan lukisan itu di belakan tubuhnya. Satu tangan dia gunakan untuk mencegah Kyoutani untuk mendekatinya. Tidak ingin kalah, Kyoutani menarik tangan Kindaichi yang memegang lukisan itu, dan dengan sigap dia berhasil merebut lukisan godzila dari tangan Kindaichi.

"Kembalikan!" Kindaichi berteriak meminta Kyoutani mengembalikan barang milikknya.

"Gambar apa ini, tidak jelas. Aku robek saja!"

"Jangaaan!!" Kindaichi menarik satu sisi kertas dan berusaha merebutnya dari tangan Kyoutani.

"Hentikan kalian berdua. Kyoutani, kembalikan lukisan itu pada Kindaichi."Yahaba mencoba menghentikan pertengkaran antara Kindaichi dan Kyoutani.

"Tidak mau!" Tarikan Kyoutani dan Kindaichi semakin kuat.

*SREET*

Keempat anak itu kompak berhenti berbicara, mereka terkejut melihat lukisan godzila milik Kindaichi sudah robek menjadi 2 bagian. Kyoutani segera membuang kertas robek di tangannya setelah terdengar tangisan keras dari Kindaichi. Kunimi menghampiri Kindaichi untuk menyerahkan potongan kertas satunya dan menenangkan Kindaichi. Sedangkan Yahaba memarahi dan menyuruh Kyoutani untuk minta maaf.

Tak lama kemudian Oikawa, Hanamaki, Matsukawa dan Iwaizumi tiba di ruang penitipan anak.

"Ada apa ini? Kenapa Kindaichi menangis?" tanya Oikawa sembari menghampiri Kunimi dan Kindaichi diikuti oleh Iwaizumi, sedangkan dua orang lain menghampiri Yahaba dan Kyoutani.

Kunimi dengan terbata-bata karena dia ikut menangis, menjelaskan semuanya pada Oikawa. Tiga remaja terkejut dengan cerita Kunimi, sedangkan Iwaizumi hanya menghela nafas dan duduk di depan Kindaichi.

"Hei, kau ingat kan kalau jagoan itu tidak mudah menangis, Kindaichi ingin menjadi seorang jagoan kan?" Tanya Iwaizumi sambil mengusap kepala Kindaichi.

"Un, aku mau jadi jagoan." jawab Kindaichi sambil terisak.

"Kalau begitu berhentilah menangis." Kindaichi menghentikan tangisannya dan menatap Iwaizumi. "Nah, seperti itu baru namanya jagoan." Iwaizumi tersenyum sambil mengambil kedua potongan kertas.

"Wah bukan kah ini Godzila, apa Kindaichi yang menggambarnya?" pertanyaan Iwaizumi dijawab dengan anggukan oleh Kindaichi.

"Aku membuatnya untuk Hajime. Tapi... Tapi... " Kindaichi terlihat ingin menangis lagi.

"Shhh, sudah sudah. Lihatlah.." Iwaizumi mengambil plester perekat dan merekatkan kertas hinga menjadi bentuk semula, "lukisan ini sudah tidak apa-apa. Ini untukku kan? Terima kasih ya Kindaichi. Aku suka sekali."

"Un!" Kindaichi merasa sangat senang hadiah pertamanya untuk Iwaizumi berhasil diberikan, walaupun robek tetapi Iwaizumi tetap menyukainya. Kindaichi segera memeluk Iwaizumi dan melupakan rasa sedihnya akibat ulah Kyoutani dan dia sudah bisa tertawa lagi.

-TBC-