We Love Our Lil' Family!
Story by C.C
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Cover Fanart © pindanglicious
.
I don't take any profit from this fict!
.
Future-Canon, Some OC & A Lil' bit OOC.
Family
.
Hope you can enjoy it and give me your feedback? :)
.
Chapter 2
Uchiha Ryuu dan Uchiha Ryou
.
Seorang wanita muda bermahkotakan surai serupa bunga sakura tampak berjalan santai sambil menjinjing dua kantong plastik di kedua tangannya. Raut wajahnya terlihat bersemangat hari itu, terbukti dari senandung kecil yang keluar dari bibir ranumnya. Ia juga selalu menyapa ramah setiap orang yang berpapasan dengannya.
"Sebenarnya Kaa-san ingin masak apa, sih? Kenapa kita belanja banyak sekali hari ini?"
Suara mengeluh seorang anak laki-laki memecah indera pendengaran wanita muda itu. Ia menghentikan langkahnya dan menghadap ke belakang; ke arah dua bocah laki-laki berwajah serupa yang sedang kewalahan membawa beberapa kantong plastik, yang sebagian besarnya berisi tomat-tomat segar.
Uchiha Sakura menaikkan sebelah alisnya menatap kedua putra kembarnya, Uchiha Ryou dan Uchiha Ryuu, yang ia mintai tolong untuk menemaninya berbelanja hari itu. "Kaa-san berbelanja sebanyak ini juga untuk memenuhi kebutuham tomat kalian yang di atas rata-rata orang biasa, Ryou-kun," jawab Sakura santai.
"Kalian? Jangan menghitungku juga!" protes Ryou yang membuang mukanya ke samping.
"Ha'i, ha'i ... tapi ingatlah kalau masih ada empat orang Uchiha lagi yang sangat menggilai tomat, Ryou-kun," jelas Sakura sambil terkekeh pelan. Ia lalu berbalik dan kembali melangkah.
Sebenarnya, hanya Ryou yang merasa keberatan menemani Sakura berbelanja hari itu. Bukan karena ia merasa berat untuk membawa kantong-kantong belanjaan ibunya. Hanya saja, dari empat kantong besar yang ia dan kakak kembarnya bawa, tiga kantong di antaranya berisi tomat merah segar— buah yang sangat ia benci. Ryou memang berbeda dari keempat Uchiha yang lain, sejak kecil ia memang sudah tidak menyukai tomat.
"Sudahlah, jangan mengeluh begitu. Lagipula bahan-bahan untuk membuat ramen kesukaanmu juga sudah dibeli oleh Kaa-san, 'kan?" sahut Ryuu yang berjalan di sampingnya. Ryou hanya mendengus mendengar perkataan Ryuu.
Ryou tak mengacuhkan perkataan Ryuu. Ia hanya melangkahkan kakinya lebih cepat daripada Ryuu.
Ryuu mengangkat sebelah alisnya, heran dengan sikap Ryou yang sejak kemarin sore terlihat dingin padanya. "Dia kenapa?" tanya Ryuu heran. Ia lalu buru-buru menyamai langkah Ryou dan ibunya.
"Oi, Saki!"
Sakura yang mendengar nama panggilan kecilnya dipanggil, kembali menghentikan langkahnya, diikuti oleh Ryou dan Ryuu. Ia lalu menoleh ke sumber suara dan tersenyum kecil melihat sosok wanita muda berambut pirang panjang yang menggendong seorang bayi laki-laki, berjalan mendekat ke arahnya.
"Wah, wah, kalian baru saja pulang berbelanja?" tanya Ino saat ia telah berada di hadapan Sakura.
"Hmm ... belanja bulanan," angguk Sakura. "Kau dari mana, Ino? Dan, hai tampan..." tanya Sakura yang diakhiri dengan sapaan kecil pada bayi laki-laki berambut hitam yang berada di gendongan Ino.
"Hoo ... pantas saja banyak sekali. Aku hanya berkeliling sebentar karena Sho-chan yang tiba-tiba rewel," ucap Ino santai. Ia lalu menoleh ke arah Ryou dan Ryuu yang setia berdiri di belakang Sakura. "Jadi, hari ini Ryou-kun dan Ryuu-kun yang menjadi pengawalmu, Saki?" tanya Ino dengan nada bercanda.
Sakura tertawa pelan mendengar pertanyaan Ino. "Yah, begitulah. Sasuke-kun sedang sangat sibuk di markas anbu, begitu juga dengan Ichi-kun yang sedang fokus bersiap-siap menghadapi ujian chunin."
"Ah, benar juga. Yumi-chan juga sedang sibuk mempersiapkan diri," sahut Ino. Ia kembali memperhatikan kedua putra kembar Sakura yang terlihat sedikit tidak akur. "Kalian kenapa saling diam seperti itu, Ryou-kun? Dan err ... Ryuu-kun?" Ino terlihat ragu saat ia menyebut nama mereka. Ino selalu tidak bisa membedakan yang mana Ryou dan yang mana Ryuu dengan pasti, mengingat betapa identiknya kembar Uchiha itu.
"Aku bukan Ryuu, Ba-san. Aku Ryou!"
"Hee? Go-gomen ... lagi-lagi aku salah mengenali kalian," ucap Ino dengan wajah bersalah.
"Tch!" Ryou terlihat kesal mendengar perkataan Ino, namun ia tak berkata apa-apa.
Ryuu lagi-lagi heran dengan ekspresi Ryou yang terlihat kesal. "Kau kenapa, sih?" bisiknya sambil menyikut pelan tulang rusuk Ryou.
Ryou tak menanggapi pertanyaan Ryuu. "Aku duluan, Kaa-san, Ino Ba-san," ucapnya sambil membungkuk sejenak ke arah Ino, lalu berjalan mendahului Sakura dan Ryuu.
"O-oi, Ryou!" Ryuu yang tak mengerti dengan sikap Ryou hanya menampilkan ekspresi bingungnya. Ia pun pamit terlebih dahulu pada Sakura dan Ino untuk mengejar Ryou.
Ino yang merasa dirinyalah penyebab kekesalan Ryou hanya menampilkan raut wajah bersalah pada Sakura. "Sepertinya aku membuat Ryou-kun kesal," ucapnya dengan nada bersalah.
"Bukan salahmu, Ino. Mood Ryou-kun sepertinya memang sudah buruk sejak aku memintanya menemaniku belanja kebutuhan tomat di rumah," ujar Sakura. "Kalau begitu aku duluan, ya. Sampaikan salamku pada Sai-kun. Sudah lama tidak bertemu dengannya," sambung Sakura. Ia lalu kembali melanjutkan langkahnya, menyusul Ryou dan Ryuu yang sudah berjalan lebih dulu.
"Oi, Ryou! Sebenarnya kau ada masalah apa, sih? Sejak kemarin kau seperti menghindariku dan marah-marah tidak jelas seperti tadi," Ryuu bertanya saat ia telah menyamai langkah Ryou.
"Perasaanmu saja!" ketus Ryou. Ia tak mengalihkan pandangannya sedikitpun pada Ryuu yang berada di sampingnya.
"Kalau kau memang marah padaku, katakan apa masalahnya. Jangan diam seperti ini!" sahut Ryuu lagi.
"Jangan berjalan bersamaku," ucap Ryou ambigu. Ia lalu mempercepat langkahnya hingga meninggalkan Ryuu yang terpaku di belakang.
Ryuu mengernyitkan alisnya melihat sikap aneh sang adik. "Kenapa hari ini dia selalu meninggalkanku?" gerutunya. Ia lalu melanjutkan langkahnya menyusul Ryou –lagi— saat ia melihat seorang wanita tua mendekati Ryou. Sayup-sayup ia bisa mendengar apa yang dibicarakan wanita tua itu pada Ryou.
"Ohayou, Ryuu-kun. Hari ini kau membantu ibumu berbelanja, ya? Wah, kau memang anak yang baik, ya," ujar wanita tua itu, "aku benar-benar sangat terbantu saat kau menolongku kemarin lusa," sambungnya dengan senyum tulus yang terpatri di wajah tuanya. Wanita tua itu sedikit merasa heran karena melihat sosok pemuda di depannya tak juga membalas perkataannya, sampai sebuah suara ramah menyapa telinganya.
"Ohayou, Kaoru baa-san," sapa Ryuu yang telah berada di antara wanita tua itu dan Ryou yang membisu.
"Eh? Kenapa kalian ada dua?" tanya wanita tua yang bernama Kaoru itu.
Ryuu terkekeh pelan mendengarnya. "Kausalah mengenaliku, obaa-san. Dia Uchiha Ryou, adik kembarku," sahut Ryuu ramah.
"Ah, ya! Aku baru ingat kalau keluarga Uchiha memiliki anak kembar. Tidak kusangka kalau kalianlah kembar Uchiha itu," jawab Kaoru sambil tersenyum tipis.
Ryuu dapat melihat raut wajah adiknya kembali kesal dan kali ini tanpa berkata apa-apa, Ryou menyerahkan dua kantong yang sedari tadi dipegangnya pada Ryuu dan pergi begitu saja. "Oi, Ryou!" panggil Ryuu kesal. Sekarang ia ikut merasa kesal dengan tingkah Ryou yang seenaknya saja meninggalkan kantong belanjaan yang tadi ia bawa padanya dan pergi begitu saja. "Ah, baa-san, gomenasai ... aku tidak bisa menemani baa-san berbicara lebih lama. Aku harus segera pulang membawa belanjaan Kaa-san," ujarnya pada Kaoru.
"Ha'i ... hati-hati di jalan, Ryuu-kun," balas Kaoru sambil melambaikan tangan kanannya pada Ryuu.
Ryuu berjalan dengan susah payah karena harus membawa empat kantong belanjaan sekaligus. Ia lalu berhenti sejenak saat sebuah pikiran melintas di kepalanya, "Jangan bilang kalau dia marah padaku hanya karena masalah seperti itu?" gumam Ryuu pelan.
.
.
.
Uchiha Ichigo— putra pertama Uchiha Sasuke dan Uchiha Sakura— tampak sedang menikmati sarapannya dengan wajah gugup. Bagaimana ia tidak merasa gugup ketika merasakan sepasang emerald cantik terus mengawasinya dari seberang meja makan, di saat ia sedang menikmati sepiring nasi goreng tomat di hadapannya.
"Kaa-san, berhentilah menatapku seperti itu!" Akhirnya setelah sekian lama ditatap secara intense oleh sang ibu, Ichigo angkat bicara.
"Ne, Ichi-kun. Kau benar-benar tidak tahu apa yang terjadi pada Ryuu-kun dan Ryou-kun?" Entah sudah berapa kali Sakura menanyakan pertanyaan yang sama sejak Ichigo berada di meja makan. Sasuke tidak ikut sarapan bersama mereka pagi itu karena dia harus pergi ke kantor Hokage pagi-pagi sekali, dan si kembar Uchiha juga melewatkan sarapan karena harus menjalani latihan pagi di akademi.
"Aku tidak tahu, Kaa-san," jawab Ichigo lagi dengan jawaban yang sama.
Sakura melipat kedua tangannya di depan dada. Kedua emerald-nya kini beralih menatap si bungsu Ren yang sedang mengaduk makanannya dengan lucu. "Sudah dua hari mereka tampak tidak akur. Saat menemani Kaa-san belanja kemarin juga mereka tidak berisik seperti biasanya, dan tadi pagi mereka berangkat secara terpisah. Sudah pasti ada sesuatu di antara mereka, 'kan?"
Ichigo menyuapkan sendok terakhir nasi goreng tomat kesukaannya ke dalam mulut. "Entahlah, Ryou tidak mau memberitahuku saat kutanyai kenapa dia tidur di kamarku semalam," jawab Ichigo santai. Ia bangkit dari tempat duduk dan membawa piring bekas makannya ke tumpukan piring kotor. Sedetik kemudian ia memulai kegiatan mencuci piringnya. Hari ini memang jatahnya untuk mencuci piring bekas sarapan.
"Hee? Tadi malam Ryou-kun tidur di kamarmu?" Perkataan Ichigo sebelumnya cukup menarik Sakura untuk menghampiri putra sulungnya itu.
Tampak Ichigo mengangguk pelan. "Hmm, kalau dipikir-pikir sudah dua malam, sih. Tapi malam pertama dia mengendap masuk ke kamarku saat tengah malam. Saat itu kupikir mungkin dia terganggu dengan posisi tidur Ryuu," jelas Ichigo.
"Berarti memang ada masalah di antara mereka," simpul Sakura, "mereka memang biasa bertengkar, tapi kalau yang seperti ini baru pertama kali terjadi. Dan Kaa-san rasa masalah kali ini sedikit lebih serius," pikir Sakura. Ia membantu Ichigo untuk meletakkan piring dan gelas yang sudah dicuci ke rak piring.
"Kaa-san tenang saja, paling lama besok juga mereka akan baikan," tukas Ichigo santai. "Baiklah, tugasku sudah selesai. Aku berangkat, Kaa-san," sambungnya. Ia menghampiri Ren yang masih sibuk dengan sarapannya dan mengacak-acak rambut sang adik. Setelah itu ia keluar dari ruang makan dan menuju pintu rumah.
Sakura tampak terpaku sejenak, sebuah ide tiba-tiba melintas di kepalanya. Seperti apa yang dikatakannya tadi, Ryou dan Ryuu memang biasa bertengkar. Tapi tetap saja naluri Sakura sebagai seorang ibu terusik karena pertengkaran mereka kali ini yang terlihat serius. Ia lalu bergegas bersiap-siap untuk melaksanakan ide yang tadi melintas di kepalanya.
...
"Ryuu-kun, maukah kau mengajariku bagaimana caranya melempar kunai seperti yg kau lakukan tadi?"
"Iya, iya, Ryuu-kun ... ajari aku juga bagaimana caranya, ne?"
"Etto..." Uchiha Ryuu tampak kelimpungan menghadapi kerumunan dari teman-teman seangkatannya. Setelah ia berhasil melemparkan beberapa kunai sekaligus pada papan sasaran yang tersebar di beberapa pohon dengan sempurna, hampir seluruh teman-temannya mengerubungi Ryuu, baik yang laki-laki ataupun yang perempuan.
"Tidak heran kau bisa melakukannya dengan sempurna seperti itu, Ryuu. Kau 'kan keturunan Uchiha yang jenius itu," ucap seorang bocah laki-laki berambut hitam jabrik dan berkulit pucat yang menghampiri Ryuu di tengah-tengah kerumunan para gadis.
"Padahal kita selalu berlatih bersama, tapi kenapa hanya Ryuu saja yang bisa melakukannya dengan sempurna?" protes bocah laki-laki lainnya yang bertubuh agak tambun.
"Ah, kalian terlalu berlebihan, teman-teman. Kalian juga hebat karena bisa mengenai beberapa sasaran, Chozu, Ryuji," puji Ryuu dengan nada memberi semangat. "Lagipula kalian juga bisa mengenai semua sasaran dengan sempurna kalau terus berlatih, tenang saja," sambungnya, diiringi dengan tepukan pada pundak kedua temannya.
"Tapi aku heran, kenapa hanya Ryuu-kun saja yang bisa melakukannya secara sempurna? Kenapa Ryou-kun tidak bisa? Kalian 'kan bersaudara. Saudara kembar lagi," celetuk salah seorang teman perempuannya yang berambut coklat muda.
"Ah, Ryou juga bisa melakukannya, tapi dia tidak ingin menunjukkannya pada kalian," bantah Ryuu. Perkataan temannya mengingatkan Ryuu bahwa ia tidak melihat sosok Ryou sejak jam istirahat latihan mereka. "Minna, apa kalian tahu di mana Ryou?"
"Hmm, kalau aku tidak salah lihat, tadi dia pergi ke arah pepohonan di sana," jawab temannya yang bertubuh tambun, Akimichi Chozu, sambil menunjuk ke arah yang dibicarakannya. "Omong-omong, sebenarnya dari tadi aku ingin menanyakannya padamu, Ryuu. Kenapa tadi pagi kau dan Ryou tidak datang bersama?"
"Ah, sankyu, Chozu. Untuk pertanyaanmu akan kujawab lain waktu, ya?" ucap Ryuu sambil memamerkan senyum lima jarinya dan mulai melangkah ke arah yang ditunjuk Chozu tadi.
"Mou, Ryuu-kun! Kapan kau akan mengajari kami?" protes gadis berambut coklat muda tadi.
"Lain kali aku akan mengajarimu, Arisa-chan," jawab Ryuu dari kejauhan. Ia mulai mempercepat langkah kakinya. 'Kali ini aku harus memaksanya,' batin Ryuu.
...
"Sakura-chan?" suara merdu milik Namikaze Hinata terdengar di telinga Sakura saat ia menyambangi akademi ninja di mana putra-putranya menuntut ilmu.
"Hinata-chan? Hisashiburi~" ucap Sakura senang. Ia memang sudah lama tidak bertemu dengan Hinata dan belum sempat berterima kasih karena sudah menjaga anak-anaknya selama ia pergi misi beberapa minggu yang lalu.
"Ne, hisashiburi," balas Hinata ramah. "Kau mau menemui Ryou-kun dan Ryuu-kun?" tanya Hinata.
"Ah, ya! Aku ingin melihat latihan mereka," jawab Sakura, "tapi sepertinya mereka tidak berlatih di sekitar sini," sambungnya.
"Oh, mereka berlatih di training field yang dulu biasa kalian —tim tujuh— pakai untuk latihan," tukas Hinata lembut.
"Hee? Mereka berlatih di sana?"
"Hmm, Kotobuki-sensei membawa mereka ke sana untuk berlatih," jawab Hinata.
"Kalau begitu aku akan melihat-lihat latihan mereka di sana. Kau mau ikut, Hinata-chan?"
"Maaf, tapi aku harus ke kantor Hokage untuk menyerahkan file yang diminta Naruto-kun," tolak Hinata halus.
"Hah ... si bodoh itu tidak bisa sebentar saja berpisah denganmu, ya? Bahkan saat bekerja pun dia menyuruhmu datang," ucap Sakura dengan nada bercanda. "Kalau begitu aku pergi dulu. Jaa ne, Hinata-chan." Sakura lalu pergi meninggalkan Hinata yang bersemu merah akibat perkataannya, setelah melambaikan tangannya padanya. Ia segera bergegas menuju tempat latihannya dulu bersama tim tujuh.
Beberapa menit berjalan, akhirnya Sakura sampai di sebuah training field yang diapit oleh sungai dan pepohonan lebat. Dari balik pepohonan, ia bisa melihat beberapa anak yang sebaya dengan Ryou dan Ryuu sedang beristirahat di tengah lapangan. Sakura mengernyitkan dahi lebarnya saat ia tak mendapati sosok kedua putranya berkumpul bersama teman-temannya di tengah lapangan.
"Apa mereka tidak ikut latihan?" gumam Sakura. Ia sudah berjalan mendekati kerumunan teman-teman Ryou dan Ryuu saat merasakan cakra seseorang yang sangat ia kenal. "Ini kan..." Sakura segera berjalan menghampiri sumber cakra yang dirasakannya. "Sasuke-kun? Kenapa kau bisa ada di sini?" Sakura sedikit terkejut saat melihat sosok suaminya sedang berdiri di salah satu dahan pohon yang ada di sana.
"Sakura?" Sasuke yang mendengar suara sang istri langsung memandang ke bawah pohon dan mendapati Sakura yang menatapnya dengan tatapan heran. Tanpa pikir panjang, Sakura menyusulnya ke atas pohon.
"Apa yang sedang kau lakukan, Sasuke-kun? Mengintai musuh?" tanya Sakura tanpa mengecilkan suaranya.
"Sst, jangan berisik!" Refleks, Sasuke menutup mulut Sakura dan memberi isyarat untuk melihat ke arah yang ditunjuknya.
"Hee? Bukankah itu Ryou-kun dan Naruhi-chan?" tanya Sakura dengan nada berbisik.
"Hn."
"... Eh, bukannya itu—" Lagi-lagi kalimat Sakura terpotong karena tangan besar Sasuke membekap mulutnya.
"Sudah kukatakan jangan berisik! Perhatikan saja," bisik Sasuke. Sebenarnya Sakura merasa kesal dengan sikap Sasuke, tapi pemandangan aneh yang berada beberapa meter di hadapan mereka lebih menarik perhatian Sakura daripada memprotes tindakan suaminya itu.
...
Ryou sedang menatap dedaunan di atas pohon yang bergoyang karena tiupan angin, saat sebuah langkah kaki kecil menganggu ketenangannya itu. Ia menoleh ke arah langkah kaki itu dan onyx-nya sedikit melebar saat melihat siapa yang sedang menghampirinya. "Kenapa kau ke sini?"
"A-anou ... apa aku mengganggu kegiatanmu, Ryou-kun?" tanya seorang gadis kecil berambut biru tua panjang. Kedua manik serupa permata amethyst miliknya menatap Ryou gugup.
"Hn, tidak," jawab Ryou pelan.
Beberapa saat berselang dalam keadaan diam. Gadis berambut biru tua bernama Namikaze Naruhi itu hanya bisa terpaku sambil menatap tanah yang ia pijak tanpa berani mendekat ke arah Ryou.
"Kenapa diam di situ? Duduklah di sini," ucap Ryou sambil menepuk permukaan tanah di sampingnya.
Dengan ragu, Naruhi mendekat ke arah Ryou. "Aku ... tidak mengganggumu?" tanya Naruhi pelan.
"Kalau kau mengganggu, aku tidak akan menyuruhmu duduk di sampingku," jawabnya pelan. Ucapan Ryou yang terdengar polos itu membuat semburat merah bersarang di kedua pipi putri Rokudaime Hokage itu.
Naruhi tampak menghirup napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan, berusaha menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba melandanya. "Anou ... kenapa beberapa hari ini kau tidak terlihat bersama Ryuu-kun? Kalian ... sedang bertengkar?" tanyanya dengan hati-hati.
Ryou yang mendengar pertanyaan Naruhi, refleks menatap kedua bola mata serupa ametyhst itu. "Apa ada yang salah kalau aku tak bersamanya?" Ryou balik bertanya.
"E-eh..." Naruhi tampak terkejut dengan pertanyaan Ryou. "Ti-tidak, hanya saja ... kalian selalu terlihat bersama, akan sedikit janggal jika kalian terlihat tidak bersama. Apalagi kalian itu saudara kembar..."
"Tch! Aku tidak pernah meminta untuk menjadi saudara kembarnya! Akan lebih baik kalau aku tidak terlahir sebagai saudara kembarnya," ketus Ryou.
"E-eh? Kenapa kau bicara seperti itu, Ryou-kun?" tanya Naruhi heran. Ia merasa tidak enak pada Ryou karena sepertinya ia sudah memancing emosi si bungsu kembar Uchiha itu.
Ryou mengembuskan napasnya kasar. "Aku tidak suka dibanding-bandingkan dengannya! Memangnya kenapa kalau kami kembar? Apa aku harus terlihat sama dengannya? Apa aku juga harus selalu memamerkan senyum menyebalkannya itu setiap bertemu dengan orang-orang? Apa aku harus sejenius dia baru aku pantas menjadi seorang Uchiha dan semua orang mengenalku sebagai Uchiha Ryou?!" Dalam satu tarikan napas, Ryou mengeluarkan semua hal yang dipendamnya selama ini.
Naruhi tidak tahu harus berkata apa setelah mendengar apa yang dikatakan Ryou. Ternyata selama ini Ryou merasa cemburu dengan saudara kembarnya itu yang lebih dikenal orang karna keramahannya dan kejeniusannya. "A-aku—"
"Yappari! Sudah kuduga memang itu masalahnya," potong suara anak laki-laki yang terdengar familiar di telinga Naruhi dan Ryou.
"Tch!" Ryou mendecih kasar saat melihat sosok Ryuu yang keluar dari balik pepohonan. Ia langsung berdiri dan sudah akan beranjak meninggalkan tempat itu saat pergelangan tangan kanannya ditahan oleh Ryuu.
"Chotto! Kita harus menyelesaikan kesalahpahaman ini," ujar Ryuu. Ia terkejut saat Ryou menepis tangannya kasar. 'Apa Ryou semarah itu padaku?' lirih Ryuu dalam hati.
"Ka-kalau begitu aku akan meninggalkan kalian berdua di—"
"Tidak perlu! Aku sudah akan pergi," potong Ryou.
"Apa kau sebegitu marahnya padaku, heh? Jangan seperti ini, Ryou! Jika ada yang salah, kau bisa katakan padaku. Kita ini saudara ... saudara kembar," ucap Ryuu penuh penekanan.
"Karena itulah aku membencimu!" Ryou mengakhiri perbincangan itu dengan satu kalimat yang begitu tajam. Melihat Ryuu yang tidak bereaksi pada kata-katanya, ia langsung beranjak pergi dari tempat itu.
Naruhi yang merasa serba salah dengan situasi saat itu, tidak tahu harus melakukan apa. Ia hanya memandang simpati ke arah Ryuu yang hanya bisa menatap ke arah perginya Ryou dengan pandangan kosong.
...
"A-aku ... tidak salah dengar 'kan, Sasuke-kun? Ryou-kun ... dia mengatakan hal itu pada Ryuu-kun?" Sakura bertanya pada Sasuke setelah sedari tadi ia dan sang suami memperhatikan apa yang baru saja terjadi di antara kedua putra kembarnya.
"Hn. Sudah kuduga ada yang tidak beres dengan mereka," jawab Sasuke tanpa memalingkan wajahnya pada Sakura. Ia masih memandang Ryuu dan Naruhi yang berada di bawah sana.
"Hee? Kau juga menyadarinya, Sasuke-kun?"
Sasuke mengangguk pelan, "Aku tidak sengaja melihat Ryou berjalan sendirian menuju akademi. Aku hanya heran kenapa dia tidak bersama dengan Ryuu," jelas Sasuke pada Sakura. "Sekarang kita—"
Kreek
Sasuke membulatkan onyx-nya saat mendengar bunyi aneh dan merasakan tubuhnya jatuh mengikuti gravitasi. Pekikan kecil Sakura menyadarkannya bahwa saat ini mereka sedang terjun bebas ke permukaan tanah. Dengan sigap Sasuke menangkap Sakura sebelum tubuh istrinya itu menghantam kerasnya tanah di bawah mereka.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Sasuke dengan raut wajah sedikit khawatir karena melihat Sakura yang tak kunjung berbicara. Sakura hanya menjawab dengan gelengan kepala. Ia masih kaget karena tiba-tiba terjatuh dari pohon.
"Suara apa itu?" Terdengar suara Naruhi yang bertanya pada Ryuu. Mungkin ia mendengar pekikan Sakura saat terjatuh tadi. Sasuke segera membawa tubuh Sakura yang masih dalam gendongannya menjauh dari tempat itu. Tidak mungkin ia membiarkan bocah-bocah itu menangkap basah dirinya dan Sakura yang sedang mencuri dengar pembicaraan mereka.
"Baka! Apa kau tidak ingat kalau tubuhmu itu bukan lagi tubuh remaja berumur lima belas tahun?" Sasuke berkata setelah ia menurunkan Sakura dari gendongannya.
"Apa? Kau tidak protes saat aku naik tadi, kenapa sekarang kau marah-marah?" protes Sakura. Ia menggembungkan pipinya kesal dan melipat kedua tangannya di depan dada.
Sasuke hanya menghela napasnya pelan. Ia seperti melihat sosok Sakura saat remaja yang sedang cemberut karena Sasuke membuat kesalahan pada kencan mereka. "Aku tidak marah, Sakura. Hanya saja ... hah, sudahlah!" Sasuke menyerah untuk membuat alasan yang hanya akan membuat Sakura bertambah kesal. Ia lalu memilih berjalan mendahului Sakura.
Sakura yang menyadari Sasuke telah berjalan meninggalkannya, langsung menyusul sang suami dan menggandeng lengannya. "Ne, ne, Sasuke-kun. Bagaimana kita membuat Ryou-kun dan Ryuu-kun akur lagi? Aku tahu caranya membuat mereka akur jika mereka bertengkar seperti biasa. Tapi kali ini aku ... tidak tahu harus berbuat apa," lirih Sakura. Sasuke menatap Sakura yang tidak bersemangat dengan pandangan 'Apa maksudmu tidak bisa berbuat apa-apa?'.
"Kautahu 'kan kalau aku tidak punya saudara kandung? Jadi aku tidak pernah merasakan bertengkar dengan saudara sendiri, apalagi saudara kembar. Menurutmu, sebagai seorang ibu aku harus bagaimana?" tanya Sakura.
"Biar aku saja yang berbicara pada mereka," ucap Sasuke singkat.
"Ah, ya! Kau dan Itachi-nii pasti pernah menga ... laminya," Sakura memelankan suaranya saat menyadari apa yang baru saja ia katakan.
"Hn," tukas Sasuke datar.
"Sasuke-kun..." Sakura memandang Sasuke dengan tatapan sedih. Ia mengeratkan genggamannya saat mendengar Sasuke hanya bergumam tak jelas seperti biasanya.
"Jangan memandangku seperti itu, Sakura. Kau membuatku kesal!" ketus Sasuke tanpa memalingkan wajahnya pada Sakura.
Sakura yang melihat ekspresi kesal Sasuke hanya terkekeh pelan. Ia tahu bahwa sekarang Sasuke tidak akan bersedih lagi jika sedang membicarakan tentang keluarganya. "Gomen ne ... Baiklah, kalau begitu aku serahkan masalah ini padamu, Sasuke-kun," ucap Sakura dengan nada senang.
"Hn."
...
Ryuu memandang pantulan dirinya di permukaan air sungai di hadapannya yang tampak merah keemasan karena pantulan cahaya matahari yang sedang terbenam. Saat ini ia sedang berada di tepi sungai yang terletak di depan taman bermain di tengah desa. Ia terus berada di sana, merenungi kata-kata Ryou siang tadi yang entah kenapa membuat dadanya sesak.
"Karena itulah aku membencimu!"
Kata-kata itu terus berulang di kepala Ryuu tanpa bisa berhenti. Ia tidak tahu kalau selama ini ternyata Ryou benci terlahir sebagai kembarannya.
"Anou ... maaf mengganggumu." Suara halus milik seorang anak perempuan mengejutkan Ryuu yang sedari tadi hanya melamun memandangi permukaan sungai. "Ah, apa aku mengejutkanmu?" tanya anak perempuan itu lagi.
Ryuu tercengang untuk beberapa saat. Ia menatap seorang gadis kecil –yang sepertinya sebaya dengannya— berambut coklat caramel panjang sebahu dan memiliki manik mata yang hampir serupa dengan ibunya. Dalam pandangan Ryuu, gadis kecil itu terlihat sangat cantik karena efek cahaya matahari berwarna keemasan yang menerpa wajah mungilnya.
"Etto, kau tidak apa-apa?" tanya gadis itu lagi. Tampak sedikit garis khawatir di wajahnya melihat Ryuu yang tak juga bicara.
"Hee, aku tidak apa-apa," jawab Ryuu gugup. "Ada yang bisa kubantu, nona?" tanyanya.
"Hmm ... kalau kau tidak keberatan, bisa beritahu aku di mana kantor Hokage?"
"Kantor Hokage? Kau ... bukan penduduk Konoha?" Bukannya menjawab, Ryuu malah balik bertanya.
"Iya, aku memang bukan penduduk di sini. Aku berasal dari Sunagakure," jawab gadis kecil itu. "Ah, ya, namaku Hana. Rei Hana. Kau?" tanyanya lagi sambil menjulurkan tangan kanannya pada Ryuu.
"Ryuu. Uchiha Ryuu," jawab Ryuu sambil menyambut uluran tangan gadis kecil bernama Hana itu. "Kalau begitu aku akan mengantamu ke kantor Hokage," ucapnya kemudian. Ryuu bangkit dari posisi duduknya.
"Eh, apa tidak apa-apa? Kaubisa memberitahukan arahnya saja padaku, tidak perlu sampai mengantarku ke sana," tolak Hana halus. Ia takut merepotkan Ryuu, anak laki-laki yang baru saja ia temui itu.
"Tidak apa-apa. Aku juga sudah mau pulang. Ayo!" Ryuu kemudian berjalan mendahului Hana. Menyadari langkah Ryuu yang semakin menjauh, Hana pun berinisiatif untuk menyusul Ryuu dan berjalan beriringan dengannya.
Tidak ada yang berinisiatif untuk memulai kembali percakapan di antara mereka sampai suara kesal Ryuu memecah keheningan itu. "Kenapa kau terus menatapku? Ada yang salah dengan wajahku?" tanya Ryuu yang merasa jengah karena terus ditatap oleh Hana sejak mereka mulai berjalan beriringan.
"Tidak. Aku hanya merasa sepertinya kau sedang dalam masalah," jawab Hana santai. "Dari penilaianku, sepertinya kau bukanlah tipe orang yang pendiam dan penyendiri. Aku yakin kepribadianmu yang sesungguhnya itu lebih menyenangkan. Maka dari itu aku merasa kau sedang menghadapi masalah serius sampai memilih menyendiri seperti tadi," sambung Hana dengan nada ceria.
"Apa kau selalu berkata seperti itu pada setiap orang yang baru pertama kali kautemui?" tanya Ryuu heran. Ia melipat kedua tangannya di belakang kepala dan menatap kedua manik hijau milik Hana.
"Tidak. Hanya pada orang-orang tertentu saja," sahut Hana sambil tersenyum manis. "Nah, sekarang ayo ceritakan masalahmu."
"Hah?" Ryuu menatap Hana bingung.
"Kau sedang ada masalah, 'kan? Ceritakan saja padaku. Sebagai balasan karena kau sudah berbaik hati mau mengantarku ke kantor Hokage, aku akan menjadi pendengar yang baik," ucap Hana penuh semangat.
"Hn, terima kasih atas tawarannya. Tapi aku tidak apa-apa," balas Ryuu datar.
"Hee? Kata ibuku, kita tidak boleh menolak kebaikan dari orang yang sudah kita tolong. Nanti kau kena sial," ucap Hana dengan wajah yang dibuat seram. Ryuu terkekeh pelan mendengar ucapan Hana yang polos itu. "Kenapa tertawa? Aku tidak bohong! Ayo, ceritakan saja," tuntutnya lagi.
"Kau ini orangnya penasaran sekali, ya? Dan pemaksa..." tukas Ryuu santai. Hana tidak menjawab apa-apa, ia malah sedang menatap Ryuu dengan wajah penasaran. "Baiklah, akan kuceritakan." Tampak perubahan wajah Hana yang berbinar mendengar ucapan Ryuu. "Apa kau punya saudara, Rei?" tanya Ryuu.
"Ah, panggil aku Hana saja," potong Hana, "hmm ... saudara? Tentu saja! Aku punya seorang adik. Kami kembar," jawab Hana senang.
Mendengar ucapan Hana, Ryuu menoleh ke arah Hana tanpa melepas lipatan tangannya. "Kembar?"
Hana mengangguk. "Dia lebih muda dua menit dariku," jawab Hana sambil terkekeh pelan. "Tapi melihat sikapnya, seperti dia saja yang menjadi sulung kembar Rei. Dia itu jenius seperti ayahku. Kalau dia tidak menungguku, mungkin sekarang dia sudah menjadi salah satu peserta ujian chunin termuda. Sedangkan aku? Meskipun aku ini kakak kembarnya, aku tidak lebih dari seorang kakak yang hanya bisa ditolong oleh adiknya," jelas Hana panjang lebar. Ia menghela napas panjang di akhir kalimat.
"Oh, ternyata begitu..." tanggap Ryuu sambil menatap lurus ke depan.
Hana dapat melihat raut wajah Ryuu yang tiba-tiba sendu, mengingatkan ia pada ekspresi seseorang. "Ah! Jangan-jangan, kau juga sedang bertengkar dengan saudara kembarmu, ya?" tanya Hana to the point.
Ryuu tersentak mendengar pertanyaan Hana. "Bagaimana kaubisa tahu?" Kali ini Ryuu melepaskan lipatan tangan di belakang kepalanya dan fokus menatap Hana.
"Yappari! Ekspresimu tadi mirip sekali dengan adikku saat dulu kami bertengkar hebat," jawab Hana, "dan kurasa masalahmu tidak jauh berbeda denganku dulu. Siapa yang cemburu? Kau atau kembaranmu?"
Ryuu merasa sedikit aneh karena Hana, gadis kecil yang baru saja ia temui itu bisa membaca semua masalahnya dalam sekejap. "Kurasa adikku," jawab Ryuu lirih. "Aku tidak tahu pasti dari segi mana dia cemburu padaku. Satu hal yang pasti, ternyata selama ini dia membenciku. Dia benci melihat tingkah konyolku yang katanya membuatku menjadi pusat perhatian dan dia tidak berharap terlahir sebagai saudara kembarku karena orang-orang selalu membandingkannya denganku. Padahal ... selama ini aku selalu menganguminya," sambungnya lirih.
Hana mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar perkataan lawan bicaranya itu. "Aku mengerti perasaan adikmu itu, karena kami berada di posisi yang sama," ucap Hana. Ia melemparkan sebuah senyum tipis pada Ryuu. "Apa kelebihanmu?" Pertanyaan Hana membuat sebelah alis Ryuu terangkat. "Ya ... apa kelebihanmu dibanding adik kembarmu itu?" tanya Hana lagi.
"Hmm, mungkin ... aku lebih cepat menguasai jurus baru," jawab Ryuu ragu, "tapi, dia sangat ahli dalam bidang ninjutsu medis seperti ibuku dan aku sangat mengaguminya," sambung Ryuu dengan nada yakin.
"Yap! Itu dia jawabannya," tukas Hana sambil menjentikkan jari tengah dan ibu jarinya.
"Hee? Bisakah kau tidak mengucapkan kata-kata yang membuatku bingung?" tuntut Ryuu kesal.
"Jelaskan padanya," saran Hana. "Jelaskan padanya kalau kau mengaguminya sebagai dirinya sendiri, tidak peduli apa kata orang lain. Kauharus meyakinkan dia kalau setiap orang itu punya kemampuan yang berbeda-beda. Tapi bukankah jika kalian bersama kalian akan menjadi partner yang sangat kuat? Kau lebih ahli menguasai ninjutsu untuk bertarung, sedangkan dia lebih ahli menguasai ninjutsu medis. Bukankah itu sempurna?"
"Aku sering mengatakan itu padanya, tapi dia tetap merasa tidak puas. Katanya dia tidak punya kemampuan yang pantas untuk menjadi bagian dari klan Uchiha," sahut Ryuu.
"Tidak pantas katanya? Adikmu itu mau melangkahi kuasa Kami-sama?" tuding Hana dengan nada sedikit kesal. "Kalau dia tidak pantas, Kami-sama tidak akan mungkin menurunkan dia ke bumi sebagai anggota keluarga Uchiha," ucap Hana dengan nada menggebu-gebu.
"Ke-kenapa kau yang marah?" tanya Ryuu takut-takut.
"Sudah kubilang 'kan, kalau aku itu dulu juga berada di posisi adikmu. Karena kecemburuanku pada adikku, aku membuatnya dan ibu menangis karena mendengarku mengatakan bahwa aku tidak pantas menjadi anggota keluarga Rei. Setelah itu, karena perkataan bijak ayah aku mengetahui bahwa setiap orang di dunia ini punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing," jelas Hana panjang lebar. "Tenang saja, kalau kau menjelaskannya dengan hati, maka dia akan mengerti perasaanmu terhadapnya. Ikatan batin saudara kembar itu lebih kuat, 'kan?" Hana tersenyum manis pada Ryuu yang memasang wajah ragu.
"Hn. Akan kucoba," ucap Ryuu.
"Hana!"
Ryuu dan Hana serentak mengalihkan pandangan pada suara seseorang yang memanggil nama Hana. "Daichi-kun~" Begitu mengetahui siapa yang memanggil namanya, Hana sontak memanggil orang itu dan melambaikan tangan padanya. Sosok anak laki-laki berambut merah yang berada lima puluh meter di depan mereka, berjalan mendekat dengan ekspresi kesal.
"Kau ke mana saja, hah? Sudah kubilang 'kan jangan berjalan terlalu jauh! Kita ini pendatang!" cecar sosok anak laki-laki itu saat ia sudah berada di hadapan Ryuu dan Hana. Setelah diperhatikan lebih dekat, anak laki-laki bernama Daichi itu memiliki onyx yang sama seperti milik Ryuu.
Hana hanya menampilkan cengiran lima jarinya. "Gomen ne, Dai-kun. Aku bosan berada di kantor Hokage, jadi aku keluar untuk berjalan-jalan sebentar. Tapi aku lupa jalan pulang," jawab Hana yang disertai dengan cengiran khasnya.
"Siapa dia?" tuding Daichi. Kedua onyx-nya menatap tajam onyx milik Ryuu.
"Ah, dia Uchiha Ryuu. Tadi aku bertemu dengannya saat sedang mencari jalan pulang. Dan dia dengan senang hati mengantarku ke kantor Hokage," sahut Hana. Ia lalu mengalihkan pandangannya pada Ryuu. "Ne, Ryuu-kun, kenalkan dia adik kembarku, Rei Daichi," sambungnya.
Ryuu tercengang mendengar ucapan Hana. "Dia ... adik kembarmu?"
Hana mengangguk pelan. "Mm-hmm. Kenapa? Kaukira adikku itu memiliki wajah yang sama persis denganku? Oi, oi ... anak kembar itu 'kan tidak selamanya berwajah dan berjenis kelamin sama," jawab Hana tenang.
"O-oh. Aku Uchiha Ryuu. Salam kenal," ucap Ryuu pada Daichi yang masih menatapnya tajam.
"Dai-kun! Jangan menatap Ryuu-kun seperti itu, dia orang baik, kok," Hana berkata sambil menyikut Daichi. "Ah, karena Dai-kun sudah menemukanku, kau tidak perlu mengantarku sampai ke kantor Hokage. Terima kasih sudah mau mengantarku," ucap Hana pada Ryuu.
"Hn, tidak masalah," jawab Ryuu. "Kalau begitu aku pulang. Jaa ne." Ryuu berbalik dan mulai berjalan meninggalkan sosok Daichi dan Hana.
"Jaa ne, Ryuu-kun~ Ingat kata-kataku tadi, kau harus menjelaskannya pada adikmu, ne?" teriak Hana dari kejauhan.
Ryuu berhenti dan berbalik menghadap Hana. "Hn. Arigatou ne, Hana-chan," balas Ryuu sambil tersenyum manis. Hana terkejut melihat wajah Ryuu yang terlihat sangat tampan saat tersenyum. Perlahan semburat merah menjalar di kedua pipi chubby-nya.
"Oi, kenapa pipimu merah?" tanya Daichi heran saat melihat semburat merah di pipi kakaknya.
"E-eh, tidak apa-apa. Ayo kembali ke tempat Ayah! Matahari sudah tenggelam dan hari semakin gelap," ucap Hana dengan tergagap. Ia melangkah mendahului Daichi.
"Oi, kau mau ke mana? Kantor Hokage ada di sana." Daichi menunjuk arah kanannya.
Sontak semburat merah di kedua pipi Hana semakin menjadi karena malu. Tanpa menunggu lebih lama, ia berjalan cepat ke arah yang ditunjuk Daichi; tak memedulikan teriakan Daichi yang memanggil namanya.
...
Manik amethyst milik Namikaze Naruhi bergerak mengikuti gerakan seseorang yang berada tak jauh di hadapannya. Sosok itu sedang melempar beberapa kunai ke papan sasaran yang tersebar di beberapa batang pohon. Sejak siang hingga matahari terbenam, ia terus memperhatikan sosok anak laki-laki berambut dark blue yang tengah terduduk sambil mengusap banjir keringat yang mengalir di wajahnya; hasil latihannya sejak tadi.
"Ne, Ryou-kun, hari sudah mulai gelap. Apa kau tidak lelah?" Naruhi berkata pada Ryou saat ia telah berada di hadapannya.
"Kenapa kau masih di sini?" Memilih tidak menjawab, Ryou balik bertanya dengan nada dingin. Terdengar napasnya yang terputus-putus karena lelah.
"Ti-tidak apa-apa. Aku hanya ingin menemanimu saja," jawab Naruhi gugup. Kedua tangannya menggenggam erat ujung rok biru yang ia pakai.
"Ayo pulang," ucap Ryou pelan. Ia kemudian bangkit dan mulai berjalan meninggalkan Naruhi yang masih mematung.
"Ne, Ryou-kun, apa kau dan Ryuu-kun—"
"Aku tidak ingin membahasnya! Toh, apapun yang akan kukatakan pasti terdengar salah," potong Ryou.
"Aku tidak menyalahkanmu, Ryou-kun!" Ucapan Naruhi membuat langkah Ryou terhenti. Ia tidak berbalik, namun tak juga lanjut melangkah; mengisyaratkan bahwa ia ingin mendengar kelanjutan perkataan Naruhi.
"Ba-bagiku, bagaimanapun Ryou-kun, kau tetaplah Uchiha Ryou yang aku kenal. Uchiha Ryou yang selalau berlatih saat dia tidak bisa menguasai satu hal. Aku tidak pernah membanding-bandingkanmu dengan Ryuu-kun. Menurutku setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Jika kau mengatakan bahwa kau lebih lemah dari Ryuu-kun, kau salah besar. Kau mungkin memang tidak ahli dalam menguasai ninjutsu untuk bertarung, tapi kau adalah jenius di bidang ninjutsu medis. Apa itu tidak cukup untukmu?" Dengan segenap keberaniannya, Naruhi mengatakan semua hal yang sedari tadi ia simpan di kepalanya. Ia berharap kata-kata darinya bisa menyentuh hati Ryou untuk berbaikan dengan Ryuu.
Tidak ada tanggapan dari Ryou selama beberapa saat sampai Ryou berbalik dan menatap Naruhi. "Hn, arigatou ne, Naruhi-chan," tukas Ryou pelan, namun masih bisa didengar oleh Naruhi. "Gomen, aku tidak bisa mengantarmu pulang." Setelah berkata seperti itu, Ryou kembali melanjutkan langkahnya dan menghilang di balik pepohonan.
Naruhi hanya terpaku sambil menatap sendu ke arah perginya Ryou. 'Apa kata-kataku menyakiti Ryou-kun?' batinnya lirih.
...
Tidak seperti biasanya, suasana hening meliputi ruang makan keluarga Uchiha malam itu. Meskipun keenam kursi yang mengelilingi meja persegi panjang itu tampak diduduki oleh seluruh anggota keluarga, tapi tak terdengar sedikitpun keributan kecil yang biasanya disebabkan oleh si kembar Ryou dan Ryuu. Masing-masing anggota keluarga terlihat sedang tenggelam dalam pikirannya masing-masing, kecuali Ren tentunya.
'Sepertinya apa yang dikatakan Kaa-san tadi pagi benar. Ryou dan Ryuu sepertinya sedang bertengkar serius, mereka terlihat sangat aneh,' batin Ichigo yang melirik ke samping kanannya, di mana Ryou dan Ryuu berada. 'Tapi kenapa Tou-san dan Kaa-san juga terlihat aneh? Dari tadi mereka tidak berbicara.' Ichigo melirik kedua orangtuanya yang terlihat sedang tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
Sreek
"Gochisousama deshita," ucap Ryou dan Ryuu bersamaan. Mereka saling pandang saat menyadari baru saja bangkit dari tempat duduk dan berucap di saat bersamaan. Sontak Sasuke, Sakura dan Ichigo melihat ke arah mereka dengan pandangan 'kompak sekali mereka'.
Sakura yang menyadari Ryou dan Ryuu yang akan kembali ke kamarnya, segera menyikut tulang rusuk Sasuke. Kedua emerald-nya tampak seperti memberi isyarat 'Apalagi yang kautunggu, Sasuke-kun?' pada sang suami.
Sasuke yang menangkap sinyal dari Sakura hanya berdeham pelan. "Ryou, Ryuu." Jeda sejenak sebelum ia melanjutkan perkataannya. Ia memandang sekilas Ryou dan Ryuu yang masih berdiri mematung karena insiden yang baru saja terjadi. "Besok setelah latihan pagi di akademi, kalian datanglah ke training field keluarga Uchiha," ujar Sasuke dengan nada datar, tapi terdengar memerintah.
"Eh?" Ryou tampak terkejut mendengar perkataan Sasuke.
"Me-memangnya ada apa, Tou-san?" Ryuu ikut menimpali sang adik.
"Evaluasi," jawab Sasuke singkat.
Ryou dan Ryuu tampak menelan ludah mendengar ucapan Sasuke. Keduanya hanya bisa mengangguk singkat sebelum benar-benar beranjak dari meja makan.
Sakura yang sedari tadi memperhatikan kedua putra kembarnya keluar dari ruang makan, hanya bisa menghela napas pasrah. "Mereka memaksakan diri terlihat baik-baik saja di depan kita," gumamnya pelan.
"Ne, Kaa-san, mereka benar-benar bertengkar?" Ichigo yang dari tadi penasaran dengan tingkah kedua adiknya, akhirnya bertanya pada Sakura.
"Mm-hmm," jawab Sakura tidak semangat. "Tadi siang, Kaa-san dan Tou-san melihat mereka sedang bertengkar hebat."
"Hee? Mereka bertengkar hebat? Bagaimana bisa, Kaa-san?" tanya Ichigo penasaran.
Sementara Sakura bercerita pada Ichigo tentang apa yang terjadi tadi siang, Sasuke sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri tentang apa yang harus dilakukannya besok untuk menyelesaikan masalah di antara Ryou dan Ryuu.
.
.
.
Ryuu menatap sendu punggung Ryou yang berjalan di depannya. Sepulang dari latihan pagi di akademi, ia mengejar Ryou yang pulang terlebih dahulu. Ia tahu bahwa Ryou akan pergi ke training field keluarganya, karena perintah sang ayah tadi malam. Hanya saja, ia benar-benar tidak menyangka bahwa sikap Ryou kembali dingin padanya saat mereka sedang tidak di rumah. Bukan berarti Ryuu sudah berbicara padanya saat di rumah, hanya saja setidaknya tadi malam Ryou tidak lagi tidur di kamar Ichigo, meskipun Ryuu harus puas memandangi punggung Ryou semalaman.
"Ryou ... sampai kapan kau seperti ini terus?" tanya Ryuu hati-hati. Bukannya menjawab, Ryou malah mempercepat langkahnya. Ryuu hanya menghela napas pasrah. 'Bagaimana aku akan menjelaskan padanya seperti apa yang disarankan Hana kalau dia terus bersikap seperti itu?' batin Ryuu. Ia lalu mengambil sebuah gulungan kecil yang ia simpan di saku celananya. "Padahal aku ingin memberikan ini padanya," gumam Ryuu sedih sambil menatap gulungan hijau tersebut.
...
Kedua manik hitam milik Sasuke bergerak mengikuti pergerakan kedua putranya. Sejak sejam yang lalu, ia menyuruh Ryou dan Ryuu melakukan spooring untuk melihat sejauh mana perkembangan mereka. Tampak bulir-bulir keringat telah membasahi tubuh kedua putranya. Dari penglihatan Sasuke dalam latih tanding itu, Ryuu lah yang lebih banyak menyerang dibandingkan dengan Ryou yang lebih banyak bertahan. Namun pertahanan Ryou juga tidak bisa dianggap remeh.
Latih tanding itu mulai semakin menarik karena Ryuu dan Ryou sepertinya telah terpancing untuk tidak mengalah. Terbukti dengan pukulan dan tendangan yang mereka layangkan tampak serius ingin melukai lawannya. Saat Ryou lengah, Ryuu melompat ke belakangnya dan bersiap melakukan jurus katon saat sebelah tangannya ditangkap oleh Sasuke, membuat ia membatalkan serangannya.
"Cukup," ucap Sasuke. Ia mundur selangkah untuk memberi ruang pada Ryuu dan Ryou.
"Kenapa Tou-san menghentikanku?" tanya Ryuu yang masih bernapas terengah-engah. Sedangkan Ryou hanya mengusap keringat yang mengalir di wajahnya sambil menggertakkan gigi
"Kau yang menang dalam latih tanding ini," jawab Sasuke datar. Ia lalu berbalik dan berjalan meninggalkan Ryuu dan Ryou yang hanya bisa saling melemparkan pandangan bertanya. "Ikut Tou-san," perintahnya.
Tanpa bertanya lebih lanjut, Ryuu dan Ryou mengikuti Sasuke yang sedang memasuki sebuah hutan kecil di samping training field. Mereka terus berjalan sampai Sasuke berhenti di depan sebuah pohon yang tingginya kira-kira sepuluh meter.
"Cobalah panjat pohon ini dengan berjalan di batangnya," ucap Sasuke. Tidak lama kemudian Sasuke berjalan di batang pohon itu dan berhenti di dahan pertama yang tingginya sekitar lima meter dari permukaan tanah.
"Ba-bagaimana kami melakukannya, Tou-san?" tanya Ryuu dari bawah.
"Kalian hanya perlu memusatkan cakra di telapak kaki dan mulai berjalan seperti biasa secara vertikal. Tou-san tahu ini masih terlalu cepat untuk kalian pelajari, tapi dari penilaian Tou-san terhadap latih tanding kalian tadi, satu di antara kalian pasti bisa menyusul Tou-san ke sini," jelas Sasuke. Ia lalu memilih duduk di atas dahan pohon itu, menunggu salah satu dari putranya menyusul ke atas.
Ryou yang mendengar perkataan ayahnya hanya mendengus kasar. "Apa lagi yang kautunggu? Yang dikatakan Tou-san 'salah satu di antara kalian pasti bisa menyusul' itu 'kan kau," tukas Ryou dingin.
"Bagaimana kaubisa tahu?"
"Sudahlah, lakukan saja!" ketus Ryou.
Rasanya ingin sekali Ryuu menonjok wajah Ryou yang jutek itu. Ia merasa kesabarannya benar-benar diuji oleh adiknya itu. Tanpa membalas perkataan Ryou, Ryuu melakukan seperti apa yang dikatakan sang ayah. Ia berusaha memusatkan cakranya di telapak kaki, kemudian mulai berjalan di batang pohon secara vertikal. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, empat langkah, ia tapaki dengan mulus. Namun saat langkah kelima, Ryuu merasa keseimbangan tubuhnya mulai goyah dan ia terjun bebas ke permukaan tanah.
"Itte-tte!" ringisnya saat merasakan kerasnya tanah yang ia duduki. Ryuu terlihat jengkel saat mendengar tawa meremehkan yang keluar dari bibir Ryou. "Aku akan mencoba lagi," tekadnya. Ryuu lalu mencoba dan mencoba lagi agar ia sampai di tempat Sasuke. Namun ia hanya berhasil mencapai setengah dari jarak permukaan tanah dengan tempat Sasuke berada.
"Cukup. Sekarang giliranmu, Ryou," perintah Sasuke dari atas pohon.
"Eh? Aku?" tanya Ryou heran.
"Hn."
"Ryuu saja tidak bisa melakukannya, bagaimana aku bisa melakukannya, Tou-san?" tanya Ryou lagi.
"Lakukan saja!" perintah Sasuke lagi.
Mendengar nada suara ayahnya yang sedikit meninggi, mau tak mau Ryou segera fokus untuk memusatkan cakranya di telapak kaki. Setelah itu, ia mulai berjalan menapaki batang pohon seperti yang dilakukan Ryuu tadi.
"Eh?" Ryou terkejut saat menyadari dirinya begitu mudah berjalan secara vertikal di batang pohon itu. Semangatnya mulai timbul kembali saat ia telah melewati jarak maksimal yang bisa dipanjat oleh Ryuu tadi, sampai akhirnya ia berhasil menyusul Sasuke di dahan pertama. "Aku bisa melakukannya dengan mudah, Tou-san," ucap Ryou senang. Ia benar-benar senang karena bisa mengalahkan Ryuu dalam pelajaran berjalan di atas batang pohon.
"Hn. Apa sekarang kau mengerti letak kelebihanmu?" tanya Sasuke datar.
"Eh?" Ryou menaikkan sebelah alisnya mendengar pertanyaan sang ayah.
Sasuke hanya menghela napas pelan mendengar kelambanan sang putra dalam berpikir yang sedikit mirip dengan seseorang yang dicintainya. "Ayo turun," tukasnya.
Ryou lalu mengikuti Sasuke turun dari dahan pohon itu. Saat ia menginjakkan kaki di bawah, ia bisa melihat muka Ryuu yang menunjukkan ekspresi kesal.
"Dari latihan yang baru saja kalian lakukan, apa kalian mengerti maksud sebenarnya dari latihan ini?" Sasuke bertanya pada kedua putra kembarnya dengan nada datar.
"Tentu saja aku tahu! Tou-san ingin memperlihatkan kelebihan dan kekurangan kami masing-masing, 'kan?" jawab Ryuu dengan nada sedikit kesal. Baru kali ini ia merasa kesal karena Ryou dapat mengalahkannya. Namun kemudian ia seperti tersadar oleh perasaan kesal itu, 'mungkin perasaan inilah yang selalu dirasakan Ryou,' batin Ryuu.
"Hn. Dari latihan yang baru saja kalian lakukan tadi, Tou-san bisa melihat kelebihan kalian masing-masing," jawab Sasuke. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jounin-nya. "Ryuu, kau cepat dalam menguasai banyak jurus untuk menyerang, tapi kau lemah dalam mengontrol cakramu. Itu sebabnya kau lebih cepat menghabiskan cakramu. Dan Ryou, kau memang lemah dalam menguasai jurus tapi kau sangat ahli mengontrol cakramu. Itu sebabnya kau lebih ahli menguasai ninjutsu medis seperti Kaa-san-mu. Apa sekarang kalian mengerti kelebihan dan kekurangan kalian masing-masing?" jelas Sasuke yang diakhiri dengan pertanyaan pada kedua putranya.
Ryou tercengang mendengar penjelasan ayahnya. Kenapa selama ini ia hanya menganggap bahwa seseorang akan menjadi ninja yang hebat jika dia bisa menguasai banyak jurus dengan cepat? Seperti apa yang dikatakan ayahnya, meskipun ia sedikit lamban menguasai suatu jurus, tapi bukan berarti ia tidak memiliki keahlian yang lain.
"Seorang shinobi yang hebat bukan berarti dia harus menguasai banyak jurus, tapi seseorang yang bisa memanfaatkan kelebihannya dengan maksimal untuk dijadikannya senjata. Karena hal itulah Kaa-san kalian dan Rokudaime Hokage bisa menjadi seperti sekarang. Kalian mengerti?" sambung Sasuke saat tak seorang pun di antara Ryou dan Ryuu yang menjawab pertanyaannya. Ia lalu berbalik dan mulai berjalan meninggalkan Ryou dan Ryuu.
"Ha-ha'i, Otou-san," jawab Ryou dan Ryuu serempak. Mereka lalu saling berpandangan dan mengakhirinya dengan tertawa pelan.
"Ayo pulang," tukas Sasuke yang sudah berjalan terlebih dahulu. Jika ia tidak membelakangi Ryou dan Ryuu, kedua putranya itu pasti bisa melihat senyum tipis yang terukir di bibir Sasuke.
...
"Ryuu..."
Ryuu mengalihkan pandangannya pada Ryou yang berjalan di sampingnya saat mendengar sang adik memanggil. "Ada apa?" tanyanya dengan nada riang. Saat ini hatinya sedikit lega karena Ryou sudah tidak sedingin tadi.
"A-aku minta maaf," ucap Ryou pelan.
"Hah? Apa? Aku tidak dengar," sahut Ryuu dengan nada tinggi.
"Tch! Lupakan!" gerutu Ryou yang melangkahkan kakinya lebih cepat.
"Aish! Kau ini cepat sekali emosi," seru Ryuu. "Kalau kau memang mau meminta maaf, minta maaflah dengan benar," sambungnya dengan nada angkuh yang dibuat-buat.
"Tch!" Ryou kembali mendecih. Ia memalingkan wajahnya dari Ryuu untuk menutupi pipinya yang memanas karena malu. "A-aku minta maaf karena sikapku beberapa hari ini dan kata-kataku kemarin. Warui na," ucapnya pelan.
Ryuu tertawa keras melihat ekspresi malu-malu milik sang adik. Ia lalu merangkul pundak Ryou dan mengacak rambutnya dari belakang. "Tenang saja, aku sudah memaafkanmu, kok, otouto-chan," ucap Ryuu dengan nada menggoda.
"Tapi aku tidak menarik kata-kata kalau aku membencimu," ketus Ryou.
"Hee?"
"Aku selalu benci melihat tingkah konyolmu itu," jelas Ryou singkat.
"Kalau aku memberimu ini, apa kau masih membenciku?" tanya Ryuu sambil menyerahkan gulungan hijau yang sedari tadi ia bawa.
"Apa ini?" Sebelah alis Ryou terangkat, menandakan bahwa ia penasaran dengan isi dari gulungan itu.
Sebuah senyuman lebar terukir di bibir Ryuu. "Itu langkah-langkah yang kutulis sendiri bagaimana mempelajari jurus katon. Aku pikir hanya akulah yang bisa mengerti jalan pikiranmu yang lamban itu," ucapnya dengan nada bercanda.
"Tch! Besar kepala sekali kau," balas Ryou dengan nada kesal yang dibuat-buat.
"Dan lagi, kalau aku tidak bertingkah konyol seperti yang biasa aku lakukan, aku yakin Naruhi-chan pasti akan jatuh cinta padaku," goda Ryuu.
"Uruse!" Ryou menampik tangan Ryuu yang tadi merangkulnya.
"Ara ... ara, kenapa kau selalu kesal kalau aku mengatakan itu, otouto-chan? Aku benar, 'kan?" seru Ryuu lagi, tentunya dengan nada menggoda yang semakin menjadi.
"Uruse, baka! Dan jangan memanggilku dengan sebutan menggelikan itu!"
Ryuu hanya tertawa keras melihat eskpresi kesal sang adik karena godaannya. Setelah itu hanya terdengar suara pertengkaran kecil mereka yang bergaung di komplek perumahan klan Uchiha yang selalu lengang tersebut.
Dari depan halaman rumah utama keluarga Uchiha, tampak Sakura yang berdiri bersama Sasuke sedang melihat ke arah kedua putranya yang sedang berjalan pulang sambil bertengkar kecil.
"Bagaimana kau membuat mereka akur kembali, Sasuke-kun?" tanya sakura penasaran.
"Rahasia," jawab Sasuke datar. Ia lalu melangkah masuk ke dalam rumah tanpa memedulikan Sakura yang terus memberondong pertanyaan padanya. "Kau tidak akan mengerti meskipun aku menjelaskannya. Ini urusan para pria." Hanya itu jawaban dari Sasuke saat Sakura terus memaksanya menjawab.
"Tch! Kau menyebalkan, Sasuke-kun!" seru Sakura dengan nada tinggi. Ia lalu mendahului Sasuke memasuki rumah mereka dan menutup pintu rumah dengan keras.
Sasuke hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. "Kau benar-benar menurunkan sifatmu yang gampang emosi itu pada Ryou, Sakura," gumamnya pelan.
Kreek
Sasuke terkejut saat menyadari pintu rumah mereka yang rusak karena ditutup secara kasar oleh Sakura tadi.
"Are? Siapa yang merusak pintu rumah kita, Tou-san?" tanya Ryuu. Ternyata si kembar sudah memasuki halaman rumah mereka.
Sasuke berbalik dan menatap tajam ke arah si bungsu kembar. "Ryou, kau boleh mewarisi kemampuan jutsu medis ibumu, tapi jangan sampai kau mewarisi kekuatan monster ibumu, kau mengerti?" Bukannya menjawab pertanyaan Ryuu, Sasuke malah menuding Ryou secara tiba-tiba.
"Ha-ha'i, Tou-san," jawab Ryou bingung.
"Ini sudah yang kesepuluh dalam bulan ini," gumam Sasuke pasrah.
Ryuu dan Ryou yang mendengar gumaman Sasuke hanya terkekeh pelan saat menyadari maksud dari perkataan ayahnya. Ya, sekarang Ryou menyadari bahwa kecemburuannya pada Ryuu selama ini salah. Seharusnya ia bisa lihat sosok ayah dan ibunya yang memiliki perbedaan cukup signifikan, tapi bisa menjadi sepasang suami istri yang sangat serasi. Berkat ayahnya, ia tahu bahwa dirinya pantas menjadi bagian dari keluarga Uchiha dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dan ia bertekad akan menjadi partner terbaik yang pernah dimiliki oleh Ryuu, kakak kembarnya yang sangat ia sayangi.
-TBC-
Authors note :
Haloha, minna-tachi~~
Akhirnya aq bisa nge-update fict ini ... maafkan aku yang udah nelantarin fict ini selama li-lima bulan *sembunyi di balik tembok*
Karena fict-nya udah lama ga update, jadi aku bikinin yang panjang *lirik jumlah words* #ngeles o
Aq kena webe parah dan baru sekarang maksain diri buat bisa nulis lagi... #curhat
Semoga update-annya gak mengecewakan, ya?
Dan untuk chapter berikutnya rencananya bakal ngebahas tentang si unyu Ren, tapi jangan terlalu berharap ya bakal di update dalam waktu dekat , *nyrusuk ke dalam tanah*
Oh ya, bagi reader yg kemaren2 penasaran sama bentuk *?* para Second Generation Uchiha di fict ini, bisa ngeliat cover barunya~ Begitulah kira2 rupa mereka hohoho
Dan aq secara pribadi ngucapin makasih banget buat Rin a.k.a pindanglicious yg udah tulus ikhlas ngebuat cover request-an itu... makasih byk rin~~ #pelukciumRin
Akhir kata, mind to review? *o*
Sign,
C.C
17122013
