Kris menyukai Desa Pollux.
Dia juga suka segala macam pesona di sini. Dari mulai pemandangan alam, hingga sampai pada wajah-wajah menawan para gadis-gadis.
Pangeran Sulung dari tiga bersaudara itu, kini berjalan melewati pematang sawah. Berbicara akrabnya dengan salah satu gadis desa. Gadis itu sangat lugu, selalu menunduk malu-malu.
Kris adalah pria sejati. Pikiran mesum sudah menjadi mahkota otaknya. Tapi dia adalah pria bermartabat. Dia anti menyentuh perhiasan dunia, para gadis, tanpa izin dari gadis itu sendiri. Lagipula, dia selalu berlaku sopan dan lembut terhadap mereka.
Sang pangeran membayangkan gadis pemalu ini akan liar di atas ranjang.
Namun semua sirna saat kalimat gadis itu menyerang ulu hatinya yang terdalam.
Kris mendadak melankolis.
"Kalau begitu, saya lanjutkan pekerjaan saya, Tuan. Sekali lagi, selamat berlibur."
Ah sayang sekali... pemuda itu kecewa.
Dia mengangguk setelah mendengar kalimat kalem dari gadis itu.
"mungkin Sang Penguasa menegurku agar fokus dengan pekerjaanku," gerutu Kris. Tak lama kemudian dia menampilkan senyum tipisnya, lagi, yang menyorotkan aura nyaman dibalut tajamnya tatapan. Untuk kemudian berjalan lagi menikmati hamparan padi-padi keemasan siap panen.
Setelah sampai di jalan lebar, sebagai jalur transportasi, Kris dikejutkan dengan banyaknya ubi kayu yang menggelinding dari atas jalan menanjak. Pemuda itu mendongak, tepat saat dia mendengar langkah lari mendekat.
DEG...!
Kris terpaku untuk sesaat.
Seorang gadis berpakaian lusuh, tergopoh-gopoh mengejar para ubi kayu yang sibuk menggelinding. Gadis itu hanya melewati Kris bagai angin lalu.
"Oh tidak, ubi kayu kembalilah..."
DEG...!
Kris membelalakkan matanya. Dia meremas kain kemeja putih di bagian dadanya.
Hanya karena sebuah suara...
Sial, apa yang gadis itu lakukan padaku?
Kris menoleh panik. Dia kehilangan gadis itu. Sial baginya. Namun wajahnya berubah sumringah, yang kurang dari sedetik berubah datar, saat gadis itu kembali ke pandangannya—menaiki jalan menanjak. Dipelukannya terdapat beberapa biji ubi kayu.
Gadis itu tak peduli ubi-ubi itu dipenuhi tanah yang mengotori baju dan kulitnya. Dia menikmati tanjakan curam itu dengan kakinya yang telanjang. Kadang bersenandung. Suaranya begitu merdu. Kris suka.
Tanpa bisa dicegah, gerak refleks Pangeran Kris menuntun kakinya menyamai langkah gadis tersebut.
"Permisi... Boleh saya bertanya sesuatu pada anda, Nona?"
Gadis itu menghentikan langkah. Dia memalingkan wajah. Rambut hitam yang dia kuncir kuda dengan kain sobekan sampai bergerak kecil karenanya. Senyumnya pun terbit.
Kris melongo.
Buru-buru dia merapatkan bibirnya.
Dia takjub.
Pemuda itu merasa ada sebuah paduan suara tengah menyanyikan lagu romantis di sekitarnya.
Senyum gadis itu bagai bencana baginya.
SIALAN!! Erang Kris murka dalam hati.
"Ya?"
Suaranya merdu sekali...
Kris berdeham, "begini. Saya Rion. Salah satu penduduk dari kota Asterian. Saya ingin mengunjungi teman saya yang tinggal di sini."
"Oh..." Gadis itu mengangguk paham, "nama saya Luhan." Tanpa curiga, Luhan membiarkan pria asing mengikuti langkahnya ke keranjang ubi dari anyaman bambu. "siapa teman anda? Mungkin saya mengenalnya dan bisa menunjukkan rumahnya pada anda."
"Ah... Ehm, itu..."
Setelah berada di tempat di mana keranjang ubi tadi ia letakkan, Luhan membungkuk untuk memasukkan ubi-ubi yang tadi menggelinding.
Berbalik ke arah Kris, Luhan memandangnya menuntut jawaban sambil tersenyum ramah. Namun pria yang mengaku sebagai Rion itu berkata, "namanya... Hans. Ya, Hans!!"
Luhan mengerutkan dahi, tampak berfikir keras sambil memeluk lengannya sendiri, "hm...kurasa... saya tak pernah mendengar nama teman anda sebagai penduduk di desa ini," gumamnya. Melihat pria di depannya menghela nafas kecewa, buru-buru Luhan berseru karena tak enak hati, "saya tetap akan membantu anda, anda tenang saja!"
"Kupikir kau mengenal seluruh penduduk di desa ini," pemuda itu terlihat lesu.
"Seingatku, aku mengenal semua penduduk desa ini. Hahh..." Luhan jadi tak enak hati, "mungkin tidak semuanya ya, maaf Tuan Rion," Sesal Luhan sambil membungkuk dalam.
Kris tersenyum, "tak apa," pria itu melirik keranjang ubi kayu di dekat kaki Luhan, "mau kubantu?"
"Ah...tidak perlu, Tuan."
Semenjak perkenalan singkat yang bisa dikatakan 'modus', keduanya menjadi lebih akrab.
Selama perjalanan menuju ke rumah Luhan, Kris lebih banyak bertanya mengenai desa ini, seakan-akan seperti baru datang kemari. Padahal, sebagai Putra Mahkota, dia sudah belajar segalanya mengenai kerajaannya dan daerah-daerah di bawah kekuasaannya. Luhan dengan lugas menjawab, sambil berjalan menggotong sekeranjang ubi di atas kepala. Senyum tak pernah luntur dari wajah cantik penuh noda tanah itu.
Sesekali Kris menyinggung sedikit tentang keluarga gadis itu. Pemuda itu sungguh penasaran. Nyaris seperti manusia kehausan di padang pasir.
Entah mengapa aku merasa, Luhan itu gadis misterius...
Pikir Kris.
Setelah sampai di rumahnya, Luhan mempersilahkan pemuda itu bertamu. Namun Kris menolaknya dengan halus.
"Aku menginap di penginapan yang yah... Tak jauh dari daerah ini. Jadi aku bisa mampir kapan-kapan," Kris meneliti area sekitarnya. Luhan memiliki beberapa tetangga yang rumahnya agak berjauhan dengan rumahnya. Ada banyak pohon besar di sini, namun satu yang digantung ayunan sederhana, dan beberapa yang batangnya digores-gores membentuk gambar-gambar aneh. Rumah reyot ini tampak hidup.
Kris bisa merasakannya.
"KAK LUHAN...!!!"
"Kak Zitao, haci-haci...!"
Gadis mungil yang dipanggil Zitao melirik salah satu adiknya, "yang benar tuh, 'hati-hati'!"
"Ish! Bisakah kalian diam?" Gerutu lucu dari Kyungsoo.
"Ah... Cetelah kalian deh, HUEEEE... Baekki ANGEN KAK LULU...!"
Baekhyun berlari terlebih dahulu untuk menghampiri sang kakak. Kyungsoo berbuat curang dengan menarik kerah pakaian kembarannya. Mencegah Baekhyun mendekati sang kakak. Setiap Baekhyun berlari lagi, Kyungsoo akan menarik kerah kaos kakak kembarnya lagi. Terus saja begitu sampai Zitao yang berhasil memeluk kakaknya duluan.
"Kak Luhan, ayo makan!!"
"Baik, Zizi. Kedua adikmu sudah menyelesaikan makannya kan?"
Gadis berusia delapan tahun itu mengangguk cepat.
"HUEEEE ! Kak Lulu, Kyungie ajar kurang!" Baekhyun menggembungkan pipinya sementara Kyungsoo sok bersiul (walau suaranya tak muncul), sembari terus menggenggam erat kerah belakang baju Baekhyun.
Dua bocah lima tahun itu ada saja tingkahnya.
"Dasar tukang adu," balas Kyungsoo acuh tak acuh.
Luhan selalu tertawa karena tingkah si kembar.
"Hahahaha, si kembar peluk kakak dong, kalau gitu..." Katanya sambil melebarkan lengan.
"KAK LUHAN...!!" Teriak si kembar, menyambut rentangan tangan gadis itu.
Kris merasa hangat kala melihat Luhan mendapat serangan pelukan dari ketiga adiknya, sementara yang dipeluk semakin tertawa. Dia iri. Dia tidak sedekat itu dengan kedua adiknya, walau usia mereka hanya terpaut 2 dan 4 tahun. Jadi pemandangan ini betul-betul mempengaruhinya.
Semenjak pertemuan pertama mereka, Kris mengawasi gadis itu.
Termasuk hari-hari berikutnya.
"Bisa kau hentikan kebiasaanmu membawa laki-laki sembarangan, Jalang?!"
"Tapi saya tidak menyuruh mereka kemari, Bibi Marta."
"Halah! Kemarin ada seorang pria masuk ke rumah ini dan kau tidak mengusirnya. Jangan bawa-bawa sumber malapetaka dengan berzina, pelacur! Kau dan ibumu yang mati itu sama saja, huhh!"
"Tapi kemarin adalah teman saya, memangnya saya tidak boleh berteman?!" Kedua tangan Luhan terkepal.
PLAKK..!
Suara tamparan keras memekakkan telinga penerimanya.
Luhan mengelus pipi kanannya. Menyembunyikan kepalan tangan lainnya di balik punggung.
"JALANG BUSUK! KAU TIDAK BISA BERHENTI—BENAR-BENAR WANITA TERKUTUK KAU! SAMA SEPERTI IBUMU! BISANYA MEMPERBURUK NAMA DESA INI!!"
Luhan membentengi wajahnya dengan lengan, menghindari serangan tangan bibi itu. Tangan yang hendak mencakar dan ingin menjambaknya dengan brutal. Nyaris gadis itu ambruk, kepala belakangnya membentur ambang pintu, namun ditahannya walau dia meringis.
Dia tak bisa mendorong ibu ini, atau Luhan akan mendapat lebih banyak masalah.
Kris melihat bagaimana tetangga-tetangga Luhan salah paham dengan keadaan. Dia yakin yang ibu-ibu gemuk bertahilalat besar di pipi, dengan dandanan menor itu, melihatnya kemarin tengah mengunjungi rumah Luhan.
Karena itulah pemuda itu berinisiatif menghampiri kedua wanita beda usia itu.
Namun belum selangkah Kris maju, seorang pria baya menarik ibu-ibu gemuk itu pergi. Pria yang ternyata adalah suaminya. Sebelum meninggalkan rumah Luhan, pria itu memberikan tatapan mesum dan seringai ke gadis itu. Kris bisa melihat aliran keringat dan gerakan naik turun dari dada Luhan.
Luhan ketakutan.
Kehidupan macam apa yang kau jalani, Luhan...?
Mengapa gadis secantik dirimu bernasib seburuk ini..?
"Bibi Marta keterlaluan, kak Leonna!! hueeeeee...!!"
Tangisan itu hanya Kris pandangi sendu.
Si gadis kecil, Zitao, menangis saat melihat sang kakak. Baekhyun dan Kyungsoo ikut memeluk kaki kakak sulung mereka. Ketiga adiknya menangis karena sedari tadi, mereka melihat perlakuan kasar yang ditujukan untuk sang kakak.
Kakak mereka, Luhan Xaviera, sambil setengah berdiri memeluk ketiganya, dan membisikkan kata-kata penenang dengan suara lembutnya.
Luhan tak tahan lagi.
Tangisnya ikut pecah.
Lututnya bagai jeli, lemas, membuatnya berlutut memeluk ketiga adiknya. Bukan karena siksaan fisik dari orang-orang di sini. Melainkan hinaan dan caci maki. Lingkungan di sini tidak kondusif untuk tumbuh kembang ketiga adik mungilnya.
Kris melihat itu semua dengan hati miris di balik pohon besar.
Aku akan melindungimu dengan caraku sendiri, Luhan...
Semoga kali ini kau tidak menolak.
Aku akan datang padamu sebagai diriku yang sebenarnya.
Memintamu...
Dan,
Menjagamu...
~•~•~•~
Main Genre :
Romance, Fantasy
Main Chara :
-Lu Han as Luhan Xaviera and Luna Demonia
-Oh Sehun as Willis Demonia / Sehun Xavier
Other Chara :
-Kim Jongin as Kai Asterian
-Park Chanyeol as Chanyeol Asterian
-Wu Yifan as Kris Asterian
-Do Kyungsoo as Kyungsoo Xavier
-Byun Baekhyun as Baekhyun Xavier
-Huang Zitao as Zitao Xaviera
and others
Main Couple :
HUNHAN
Other Couple :
Kailu, Chanlu, Krislu, and others
Note : GS for uke (kecuali Baekhyun dan Kyungsoo), RATE M, TYPO, HAREM
Note [2] : Sebenarnya ini adalah tema novel buatanku sendiri. Tapi dengan nama tokoh yang berbeda, alias karakter buatanku sendiri. Jadi istilahnya, aku nge-remake karyaku sendiri. SEMOGA SUKA YA :D
SUMMARY : Gadis itu adalah Luhan Xaviera. Dia adalah Sang Perhiasan Istana. Aturan mengatakan bahwa dia tak boleh disentuh siapapun. Luhan harus suci tak terjamah kaum pria. Suatu ketika cermin dunia, dengan dua sisi yang bertolak belakang, retak lalu pecah. Saat itulah dia bertemu dirinya yang lain, Willis Demonia dan Luna Demonia.
~•~•~•~
Chapter 01 : Kecantikan yang Malang
"Kuharap kecantikanku tidak menghancurkan siapapun, atau apapun, Pangeran Kris."
—Luhan Xaviera—
~•~•~•~
Ada sesuatu yang membuat seorang pria merasa kehilangan, sangat kehilangan, hingga dia berpikir bahwa dia adalah seorang pengecut dan gagal.
"Aku akan membawamu menjadi ratuku, dan membahagiakanmu. Hanya tunggu aku menyelesaikan segala urusanku, Jae."
Pria baya di balik meja kerjanya, hanya merenung tanpa memperdulikan Penasihat Raja yang tengah melaporkan sesuatu. Penasihatnya pun terdiam. Menciptakan keheningan di ruang kerja sang Raja.
Pria baya itu memiliki postur tinggi tegap, sedikit kerutan akibat usia pada wajah tampannya, rambut putih di atas telinga seakan membentuk garis di kanvas hitam, tatapan tajam manik biru layaknya serigala, dan bibir tipis merah yang membentuk sebuah senyuman.
Jubah kebesaran dengan warna dasar merah, simbol kuasa di suatu wilayah, membalut tubuh itu tanpa lelah. Semua yang ada di diri pria itu adalah kemewahan.
Hanya saja, dia tak memiliki satu yang paling mewah di dunia ini.
Seorang wanita yang dicintainya.
"Yang Mulia."
Sang Raja bertopang dagu sambil menandatangani berbagai macam perkamen. Wajahnya lesu, kerutan di dahinya semakin menjadi-jadi kala membaca beberapa kalimat di salah satu perkamen.
"Yang Mulia."
"Kurasa Kris berbuat sesuatu, ya?"
Panggilan Penasihat Raja, Hangeng Zeer, sama sekali tidak digubris. Membuat pria baya yang sepuluh tahun lebih tua dari sang raja itu, melongo bodoh. Lalu kemudian mendengus, "Yang Mulia Pangeran Kris hanya berkunjung di Desa Pollux. Kalau anda lupa di mana letak desa tersebut, desa itu berada di perbatasan utara Kerajaan Asteria dengan Kerajaan Roxie. Memangnya ada apa, Yang Mulia? Itu sudah rutinitas beliau, kan? Berkeliling di desa-desa untuk mengetahui kondisi calon rakyatnya. Tak ada yang salah."
Tatapan tajam sang Raja, Yunho Asterian, menabrak tatapan santai Hangeng, "kau sahabatku, Hangeng. Jadi katakan saja dengan jujur, apa yang dilakukan anak itu sampai—"
"Yang Mulia," kata Hangeng dengan nada menahan geram, "anda sendiri yang memerintahkannya mencari Sang Perhiasan Istana, mengingat 'yang sebelumnya' sudah meninggal. Tolong jangan ragukan anak anda."
Mata Raja Yunho menyipit, meneliti apakah ada kebohongan di sana. Dia berdecih sebelum melempar botol tinta yang kosong ke kepala sahabatnya. Alhasil, suara gedebuk dan ringisan si Penasihat Raja terdengar sampai ke Pengawal Penjaga Pintu.
Di luar pintu, dua pengawal tersebut hanya mengendikkan bahu tak peduli. Toh ya, Raja dan Penasihatnya memang bersahabat. Kalau ada suara desahan penuh kenikmatan, baru mereka bergidik ngeri.
Eh?
"Bisakah kau hilangkan kebiasaan memotong ucapan orang lain, sahabatku?"
Hangeng hanya mengelus kepala dengan ekspresi datarnya.
"Konyol."
"Hah?"
Dan percakapan mereka pun dilanjutkan dengan topik-topik tak penting seperti beradu argumen tentang: siapa yang paling tampan dan perkasa di usia 40-an.
Oh Sang Penguasa!!
Setelah hening kembali menyelimuti, Hangeng berdeham lalu melanjutkan perkamen yang berisikan kondisi terkini desa dan kota di Kerajaan Asteria.
"Kota Phobos mengalami kekeringan akhir bulan ini, Yang Mulia. Terjadi penurunan hasil panen di sektor pertanian."
"Bagaimana dengan perkebunan mereka?"
"Anda ini kelewat bodoh atau apa, Kota Phobos termasuk wilayah dataran rendah, jauh dari pegunungan," kata Hangeng, merasa geli dengan candaan—atau memang bukan—Rajanya yang agung.
"Cih! Aku kan hanya bertanya."
"Bisakah lebih berbobot?"
"Argh! Sudahlah..."
Hangeng menggelengkan kepala memaklumi, "memikirkan Nona Jaejoong?"
Sang Raja tersadar dari acara mari-merenungi-kebodohannya. Tatapannya menerawang ke langit-langit berlukiskan malaikat-malaikat yang berterbangan di awan. Beliau tersenyum bodoh sambil bergumam, "aku mencintaimu."
Bolehkah Hangeng durhaka pada Rajanya?
"Ya. Kota Phobos terdengar seperti Desa Pollux. Demi Sang Penguasa! Aku pikir kita masih membahas desa yang sama," lalu Raja Yunho mencibir anaknya tanpa sadar, "dan Kris pasti akan mencari gadis-gadis muda untuk digauli. Mengingat, desa itu terkenal dengan gadis-gadisnya yang cantik."
"Masih bagus Pangeran Kris, Yang Mulia."
Alis Raja Yunho terangkat sebelah, "kau bilang menggauli gadis dengan bayaran uang itu bagus?"
"Yah... Setidaknya tidak dengan Pangeran Kai."
Raut muka Raja Yunho berubah kelam, dia memijat pelipisnya, "memangnya apa lagi yang dilakukan anak hitam itu?"
Bagaimanapun juga, Pangeran Kai adalah salah satu anakmu, Yang Mulia. Batin Penasihat Raja.
Sebelum menjawab, Hangeng membungkuk dalam-dalam. Lalu melihat ekspresi bingung Sang Raja yang dikenal begitu kekanak-kanakan, namun bijaksana dan cerdik dalam mengatur strategi perang.
Jawaban Hangeng selanjutnya membuat Sang Raja terperangah.
"Pangeran Kai menghamili salah satu gadis di Kota Asterian. Ibukota kerajaan kita yang tercinta ini."
Bolehkah Raja Yunho menebas kepala penis anaknya sekarang juga?
.
.
.
.
.
Sehabis mandi lalu berpakaian, dengan setelan gaun selutut lusuh berwarna putih tulang dari bahan katun, Luhan langsung menghampiri teras rumahnya. Dia bersitatap dengan Pangeran Sulung. Seperti biasa, gadis itu sudah dipenuhi tekad hanya untuk menjawab 'tidak' pada pertanyaan yang sama.
"Adikmu sangat menggemaskan, Luhan. Dia menawariku air putih walau itu bergelaskan bambu. Keluarga kalian benar-benar berbaur dengan alam, hm?" ucap ramah sang pangeran.
Luhan melirik alas tikar di mana terdapat seonggok bambu hijau. Gadis itu ingat seseorang yang sukarela menebang salah satu batang bambu di hutan untuknya, bahkan dijadikan gelas dengan pinggiran diperhalus, agar bisa digunakan sebagai gelas. Sungguh tidak masuk akal bagaimana pria asing mau membantu Luhan. Sayang sekali, pria itu tak dapat ditemui lagi di pinggir Hutan Alpha Pollux. Dia ingat bagaimana obrolan hangat keduanya, bagaikan ayah dan anak.
Luhan rindu ayahnya.
"Alam memang terlalu baik pada keluarga kami," ucap halus Luhan. Rambut hitamnya dia sampirkan di belakang daun telinga.
Kris gemas, ingin sekali menggusak-gusak rambut itu menjadi lebih berantakan.
"Oh ya, Pangeran. Siapa di antara ketiga adik saya yang begitu ramah menyambut Anda?"
"Zitao," pangeran Vernon melambaikan tangannya sambil tersenyum tipis, pada gadis mungil di balik kaki Luhan. Tatapan gadis itu malu-malu imut. Seperti anak kucing, walau memiliki mata panda yang cantik.
"Kau hebat, sayang," ucap Luhan sambil menunduk pada Zitao. Tak lupa mengelus rambutnya.
"Terima kasih sudah bersikap ramah pada ketiga adikku," kata Luhan. Dia membungkuk dalam, bangkit lagi, untuk kemudian berkata, "anda boleh pergi jika masih menginginkan saya menjadi Perhiasan Istana."
Tatapan Kris berubah kesal,
"Sayangnya, aku masih menginginkanmu."
Luhan tersenyum sinis.
"Kenapa anda menginginkan saya berada pada posisi tersebut? Saya tidak perlu semua jaminan-jaminan itu, terima kasih."
Kris menahan diri, mengepal kedua tangan, untuk tidak menyeret pergi gadis yang semakin hari, semakin merendahkan martabatnya sebagai Putra Mahkota.
Ini hari ketujuh Luhan dimintai, dan kali ketujuh pula Luhan menolak permintaannya.
"Kau yakin kau menolak?"
Kerutan halus menaungi dahi Luhan. Suara Pangeran di depannya terdengar tak ramah.
Disusul seringai dari Kris, "ini demi ketiga adikmu, Luhan. Demi menciptakan masa depan cerah untuk ketiga adikmu. Kau tak mungkin membiarkan mereka hidup di tempat yang penuh cercaan ini kan? Percayalah, jika kau tidak mau menuruti perintahku, adikmu..." Ucapan pemuda itu menggantung sambil melirik Zitao. Refleks Luhan menyembunyikan adik gadisnya di belakang kakinya.
"...kau tahu apa yang ada di pikiranku, cantik," desis pemuda itu.
Tangan Luhan terkepal. Dia menaikkan dagunya hanya untuk menatap pongah pria di depannya.
Senyum yang menjadi senjata andalan seorang gadis, terbit tanpa penghalang.
Kris mematung melihatnya.
"Aku tahu aku gadis yang dapat menarik hati siapapun."
Seringai licik Kris memudar. Dia tak menyangka kalau Luhan adalah gadis yang bisa berlaku angkuh. Pangeran itu akui, Luhan punya cara tersendiri untuk memperlihatkan keangkuhannya.
Itu sangat elegan.
Gadis itu maju selangkah mendekati pemuda itu. Berbisik lirih yang mampu didengar oleh Kris seorang.
"Kuharap kecantikanku tidak menghancurkan siapapun, atau apapun, Pangeran Kris."
Aku akan menggunakan kecantikanku dengan bijak, semisterius mungkin, hingga kudapati bahwa pesonaku memuliakanku dan adik-adikku.
Ini adalah kesempatanku.
Mungkin Sang Penguasa mengirim Pangeran Kris kemari untuk menjawab doa-doaku pada-Nya.
Luhan tersenyum penuh tekad.
"Ya, itu pilihan yang tepat, Luhan."
Luhan bersumpah, dia mendengar sebuah suara. Jaraknya begitu dekat. Seakan suara itu tengah merangkul tubuhnya dari belakang, berbisik lirih di samping telinga kanannya.
Padahal gadis itu tak tahu, bahwa ada sebuah entitas tengah merangkul pinggangnya dengan sebelah tangan, dan tangan lain membelai pipinya penuh rasa obsesi.
Entitas itu membuat Luhan berdiri di antara dua makhluk mempesona.
"Aku bersedia menjadi Sang Perhiasan Istana, Yang Mulia Putra Mahkota."
Bisik entitas tersebut pada Luhan.
Gadis itu memantapkan hatinya, tatapannya berubah tajam.
Luhan akan memberikan jawaban berbeda dari sebelum-sebelumnya.
"Aku bersedia menjadi Sang Perhiasan Istana, Yang Mulia Putra Mahkota."
Ucapan itu membuat Kris senang bukan main. Tapi dia tahan dengan senyum sinis.
Tanpa Luhan ketahui,
Entitas yang kini memeluknya menatap tajam pada pangeran di depan gadis itu.
Seringai itupun muncul, untuk kemudian mengecup daun telinga Luhan dengan samar.
Membuat Luhan merinding tanpa dia sadari apa alasannya.
.
.
.
.
.
Suara burung hantu dan jangkrik seakan saling berlomba-lomba malam ini. Suasana sunyi dengan pemandangan pohon besar, dan pematang sawah di seberang, akan sangat Luhan rindukan.
Gadis itu memutuskan untuk menutup jendela rumahnya, pelan-pelan, agar pintu jendela tak kembali macet.
Dia lalu berbalik untuk kemudian berbaring di atas tikar.
Luhan tidur menyamping memandangi dinding, merenung tentang bagaimana dia akan menjalani hidupnya setelah ini. Tangannya terkepal di depan wajahnya. Kepalanya semakin dia tekan dalam tumpukan kain yang dijadikannya bantal. Luhan berusaha untuk tidak menangis.
"Kau akan memisahkan diri dari ketiga adikmu. Hidupmu adalah untuk istana. Untuk kerajaan."
"Lalu di mana adik-adikku akan tinggal?"
"Di rumah yang lebih layak, di ibukota kerajaan ini."
"Kota Asterian?"
"Ya. Kau akan mendapat banyak aturan mengenai bertemu dengan keluargamu. Jangan khawatir, pihak istana tidak benar-benar memisahkan kalian."
"Aku pasti bisa menghadapinya. Ya kan, ayah... Ibu?" Tanyanya nanar.
Beberapa menit setelah menenangkan pikirannya, Luhan tertidur. Dia bisa merasakan betapa nyamannya kamar kedua orang tuanya ini. Dia pasti akan merindukan rumah beribu kenangan ini. Apalagi malamnya selalu gelap tanpa penerangan kecuali lampu minyak. Meski begitu, rumah ini selalu membuat gadis itu damai.
Lama keheningan menemani tidur Luhan, seseorang datang menghampirinya. Dia datang entah darimana. Muncul begitu saja. Langkah kakinya tak bersuara. Terus mendekat, untuk kemudian berlutut. Kegelapan kamar inipun tak menyurutkan pandangannya pada gadis di hadapannya kini. Cahaya perak bulan yang berdesakan dari celah sempit jendela, menyinari sedikit bagian wajahnya.
Seorang pemuda berkulit pucat, rambut pirang, dan mata merah menyala yang berkilat disertai senyum yang menyembulkan sebelah taringnya. Pahatan rupa sempurna itu mendekati si cantik, hidung mancungnya membelai ringan pipi gadis yang kini tidur telentang dengan anggun.
"Aku bersamamu, Luhan..."
Kecupan ringan dari bibir merah darahnya dia berikan untuk si gadis berbibir pucat.
Tangan gadis itu tanpa sadar terkepal di depan dadanya sendiri. Pemuda misterius itu tersenyum simpul melihatnya.
Dibelainya belah pipi kanan gadisnya, untuk kemudian dikecup lagi bibir yang membuatnya ketagihan. Sedetik kemudian, pemuda itu menjauhkan diri. Dia harus menahan diri atau gadis itu bangun.
Entah mengapa setiap pemuda itu memberikan sihirnya pada gadis itu, hanya agar dia bisa menjamah gadis itu secara leluasa, sihir itu selalu saja terpental. Bahkan berbalik menyerang dirinya. Contohnya, sihir membius. Yang sialnya malah membuatnya kembali ke kamarnya sendiri, dan tertidur selama beberapa jam.
Konyol memang.
Pemuda itu tak mengerti apa alasannya.
Kecuali satu fakta yang sangat. Amat. Dia. Benci.
Mata merahnya menyala kala gadis itu menggigil kedinginan. Tersirat kekhawatiran di sana.
Dasar!
Pemuda itu memperbaiki posisi selimut yang tadi tersingkap. Senyumnya tak pernah luntur untuk mengawasi bagaimana tubuh rapuh itu tertidur.
Keanehan menaungi kepalanya kala dia menyingkap sedikit selimut itu, hingga terpampanglah kaki mulus mengagumkan. Pemuda itu mengelusnya, dan tanpa tanggung, menciuminya ujung ibu jari kakinya.
Kau adalah manusia pertama yang membuatku mau melakukan hal rendah ini,
Luhan...
Ciuman itu tak hanya di ujung jari kaki kanan si gadis, tapi juga menjalar ke telapak kaki, mata kaki, tulang kering, lutut, hingga sampai paha dalam.
Erangan halus keluar dari bibir gadis itu. Sebelah kakinya tertekuk pelan. Pemuda itu terkekeh, sibuk mengelus dengan tatapan memuja pada paha dalam si gadis. Tangannya yang lain sibuk mengelus dahi gadis itu. Menghapus kerutan sementara di dahinya.
Pemandangan di mana tangannya memasuki rok gaun seorang gadis, sungguh cabul dan menggairahkan bagi pemuda itu. Padahal dia tak seperti ini sebelumnya. Dia bahkan lebih ekstrim lagi.
Menyetubuhi para gadis untuk energi kehidupannya.
Memenuhi nafsu kotornya yang menggebu-gebu.
Hanya dengan pemandangan sederhana, gadis itu sudah memantik gairah di dalam dirinya.
Ini gila!!
Pemuda itu kembali memperbaiki posisi rok gaun dan selimut gadis itu.
Sungguh iblis yang sopan.
Dikecupnya dahi itu begitu lama. Menyiratkan keinginan terpendam untuk berada di sana lebih lama.
Aku dan kamu adalah satu, gadisku...
Sejujurnya, aku benci fakta itu
"Aku pergi," bisiknya tepat di depan wajah sang gadis.
GREBB...!
Tangan gadis yang dia klaim sebagai gadis-nya, meremas lembut tangan yang bertengger di samping wajahnya. Gadis itu tidur dalam posisi menyamping. Menikmati tangan besar pemuda itu digenggamannya tanpa sadar.
Pemuda itu membalas genggaman tersebut, lalu mengecup ringan punggung tangan si gadis. Kemudian menyampirkan rambut gadis itu, hingga leher jenjang yang mulus itu terekspos.
Dikatakan,
Dunia itu layaknya dua sisi cermin.
Ada sisi baik dan sisi buruk.
Setiap manusia memilikinya,
tak terkecuali Luhan Xaviera.
Pemuda itu kembali mengecup ringan bibir manis gadis itu. Disusul ciuman ringan di lehernya.
Setiap iblis memilikinya,
Tak terkecuali aku, Willis Demonia.
Aku adalah sisi lain dari seorang Luhan Xaviera.
Lihatlah betapa gilanya aku.
Menggilai bayanganku sendiri?
Bayanganku di depan cermin?
Sungguh sialan kau, Sang Pencipta!!
Mengapa kau menciptakan makhluk seindah ini sebagai sisiku yang lain?
Oh tidak!
Aku tak tahan untuk segera bernafsu dengannya...
"Aku harus benar-benar pergi, aku akan kembali lagi seperti malam-malam sebelumnya."
Jadi jangan rindukan aku. Pemuda itu tersenyum geli karena ucapannya sendiri.
Lalu pemuda itu menghilang, tanpa jejak seperti debu atau asap.
Benar-benar lenyap.
Mengembalikan kesunyian di kamar gelap itu.
.
.
.
AUTHOR NOTE :
Apa itu Sang Perhiasan Istana?
Chap depan akan dijelaskan.
Makasih ya udah meninggalkan jejak :)) itu benar-benar penyemangat buat aku yang masih newbie di dunia FF, apalagi FF HUNHAN.
Terus dukung FF HUNHAN. Moga semakin lestari, hehehe :D
Jangan lupa mampir di ceritaku yang lain. Judulnya 'You are My Lord'.
Salam hangat,
IA2403
Surabaya, 11 Desember 2018
•~•~•~•
